Troublemaker

Semua chara yang ada di cerita ini punya Masashi. Kuu cuman pinjem doing -pundung- tapi ide cerita asli dari otakku yang…agak eror ini.

Oke, Kuu balik lagi dengan cerita yang baru. Kehehehe… -padahal cerita yang lain belum di lanjutin. cih-

Rate T

Pair: pilih mana? Ita-Naru atau Sasu-Naru?

Genre: Romance (?) Humor (?)

Awass! OOC, Fem!Naru. kalo nggak suka Naruto versi cewek harap tekan back ya. Cerita pasaran mungkin. Banya typo dah. RnR yaa..

Enjoy this and happy reading readers-san…

Last chap…

"uhmm… aku pulang dulu ya ma, pa." kata Naruto tiba-tiba.

"loh? Nggak ikut makan siang bareng?" Tanya Fugaku.

"ngg… tadi aku udah makan ramen buatan mama kok pa, banyak banget malah. Jadi masih kenyang." Jawab Naruto.

"hahh… padahal papa pengen banget makan siang bareng-bareng sama Naru-chan loh." Kata Fugaku, nadanya ia buat melas. Inilah cara Fugaku-Mikoto untuk membujuk putrii kesayangan mereka. Naruto mau nggak mau merasa nggak enak juga sama Fugaku.

"huft! Iya deh iya. Aku makan bareng." Putusnya, nggak lupa wajah cemberut yang membuat Fugaku tersenyum. Senyuman yang membuat Sakura iri dan makin benci ke Naruto. 'kenapa paman Fugaku bisa bersikap manis ke Naruto, sedangkan ke aku dingin banget. Dasar menyebalkan! ' batin Sakura, dongkol.

Chapter 2

"ittadakimasu…" seru mereka serempak. Naruto yang masih kenyang hanya makan sedikit. Bukannya ia nggak menghargai makanan yang di berikan oleh keluarga Uchiha. dan Mikoto juga memaklumi itu.

Sakura entah kenapa makannya juga sedikit, padahal dia kelaparan –dari pagi belum makan sih-. Mungkin mau jaga imej di hadapan Fuga-Miko kali yah? Saa. Tapi meskipun begitu, terlihat table maner-nya yang terlatih. Sasuke hanya diam selama makan siang, begitu juga dengan Itachi.

"hahh… kenapa putrii papa makannya sedikit sekali? Hm?" kata Fugaku, buka suara. Biasanya saat makan, keluarga Uchiha hanya diam. Tapi berbeda jika ada Naruto didalamnya, malah Fugaku yang selalu mengawali pembicaraan.

"maaf pa… Naru masih kenyang." Jawab Naruto murung. Dia merasa telah menghina pemberian 'papa-mama'nya itu.

"sudahlah anata, kasihan Naru-chan. Tadi dia makan ramen banyak." Terang Mikoto, yah kalo di bilang Fugaku negur sih, nggak juga. Hanya aja dia khawatir kalo Naruto nggak kenyang.

"hahaha… iya, tapi Naru kamu jangan kebanyakan makan ramen ya." Nasihat Fugaku, nggak mau 'putri' kesayangannya jatuh sakit –meski selama ini Naruto jarang sakit sih-

"kenapa pa?"

"biar asupan gizi kedalam tubuhmu nggak kurang." Jawab Fugaku, interaksi yang terjadi di depan matanya membuat Sakura mendidih di dalam. Pasalnya ia seperti nggak dianggap ada sama Fugaku. Sasuke yang melihat sang kekasih merasa terganggu akhirnya buka suara.

"pa, aku mau bertunangan sama Sakura." Cetuk Sasuke, yang sukses menuai tanggapan dari Fugaku. Naruto yang hendak menyuap suapan terakhirnyapun nggak jadi. Tangannya masih menggantung di depan mulut. Dia shock berat dengan keputusan Sasuke.

Sedangkan Sakura, langsung berubah cerah setelah mendapatkan perhatian dari calon papanya. Dia juga senang melihat Naruto yang shock berat seperti itu. Kata orang, perasaan wanita itu tajam, dan itu berlaku untuk Sakura yang menyadari perasaan Naruto pada Sasuke. Nggak salah kan kalo Sakura membenci Naruto? Jadi tadi ia dan Sasuke mendiskusikan pertunangan yang mereka rencanakan.

"hm… kalian ini masih belajar. Focus dulu sama kuliah." Jawab Fugaku dingin. Mikoto diam, Itachi yang ada disamping Naruto, menurunkan sendok yang ada di tangan Naruto. Dia cemas dengan perasaan Naruto.

"papa tenang aja. Suke jamin, pertunangan ini nggak akan ganggu kuliah kami." Jawab Sasuke mantab. Ia menggenggam erat tangan Sakura.

Greek…

Suara kursi yang di dorong mundur terdengar, Naruto tersenyum ceria, ah nggak. Tapi se'ceria' mungkin yang ia bisa dan menatap ke semua yang ada didepannya –kecuali Itachi-.

"selamat ya, teme, Sakura-chan. Anoo… Naru pamit dulu pa, ma. Lupa kalo hari ini Naru ada sesuatu yang harus dikerjakan." Kata Naruto, nadanya masih seperti biasa, meskipun hatinya hancur. Kau benar-benar cocok jadi aktris Naru!

"acara apa?" Tanya Fugaku.

"euhmmm… berantem sama anak US –Universitas Suna-. Kemaren dah janji mau adu kemampuan. Makasih makanannya." Dia segera berbalik dan pergi, tanpa member kecupan pada Mikoto, hal aneh. Fugaku maklum, karena itu emang hobi Naruto latih tading dengan mahasiswa lain. Sakura yang masih duduk manis di bangkunya bersorak gembira dalam hatinya. 'rasakan itu! Kau nggak akan pernah bisa merebut Sasuke dari tanganku, baka!'' batin Sakura

Greek…

Suara kursi di dorong lag, kali ini giliran Itachi.

"aku mau menyusulnya. Mau mengawasi jalannya pertarungan." Fugaku mengangguk, mereka maklum karena memang Itachi adalah guru Naruto. Nggak ada yang curiga kecuali Mikoto. Itu terlihat dari wajahnya yang cemas, ia tadi melihat degan jelas luka yang ada di dalam iris sapphire itu.

"jadi? Apa papa merestui?"

"terserah pada mamamu."

"ma?"

"terserah." Baru kali ini, Fugaku dan Sasuke mendengar nada dingin milik Mikoto. Mereka nggak pernah mendengarnya –kecuali Fugaku-. Dulu Fugaku pernah mendengarnya sekali, tanda bahwa sang istri tengah marah besar, atau apapun emosi yang tengah di pendamnya itu adalah emosi negative –cemas masuk negative kan?-

.

"Naru…" Itachi mengikuti Naruto sampai ke lapangan basball. Disana terdapat banyak sekali mahasiswa yang pernah berantem sama Naruto. Mungkin Naruto mengontak mereka.

BUGH!

BAK BUK!

DUAGH!

Dikeroyok. Naruto dikeroyok oleh orang-orang itu.

Bababk belur, seluruh tubuhnya terasa mati rasa, sakit semua, tapi nggak sesakit hatinya saat ini.

DUAGH! BRAK!

Mereka memukuli Naruto tanpa ampun. Benar-benar melampiaskan kekalahkan mereka yang lalu. Itachi ingin membantu, tapi nggak diberi ijin Naruto. Sebenarnya mereka yang memukuli Naruto juga merasa kasihan, tapi itu adalah permintaannya sendiri, jadi daripada mereka nanti diamuk, mending mereka yang mengamuk.

Brukh…

Setelah hamper 2 jam mereka memukuli Naruto, akhirnya Naruto rubuh. Tapi tubuhnya udah di tangkap lebih dulu oleh Itachi sebelum menyentuh tanah.

"kalian pulanglah." Ujar Itachi dingin. Dia nggak tau, apa yang akan ia lakukan andai saja mereka masih tetap bersikeras berada di lapangan itu. Dan para mahasiswa itu masih cukup sadar untuk segera mematuhi perintah Itachi.

"seharusnya nggak dengan cara seperti ini Naru." Gumam Itachi pelan, sedih melihat luka fisik dan luka hati gadis yang ia sayangi ini.

"hiks…hiks… aku.. aku nggak kuat Tachi-nii. Ini.. terlalu mendadak." Gumam Naruto disela isak tangisnya, Itachi segera membawa Naruto menuju ke mobilnya dengan bridal style. Nggak perduli dengan protesan Naruto.

"kau harus kuat. Naruto yang aku kenal itu kuat kan? Jadi jangan menyerah hanya karena berita seperti itu." Itachi mendudukan Naruto di kursi penumpang, lalu ia masuk ke kursi pengemudi dan mengobati luka-luka Naruto.

"…"

"kau tau, kau belum terlambat. Kau masih ada kesempatan Naru." Hibur Itachi. Padahal ini adalah kesempatannya untuk memasuki hati Naruto, tapi entah kenapa hatinya menolak untuk memanfaatkan kesempatan itu.

"…"

"selama mereka belum meni-"

"nggak! Semua udah terlambat Tachi-nii! Apa kau nggak lihat! Betapa Sasuke mencintai Sakura!" jeritnya histeris. Yah harus ia akui cinta yang ada dimata Sasuke, ia nggak sanggup jika harus selalu menunggu. Sudah seharusnya ia melupakan cintannya untuk Sasuke.

"Naruto! Kalo memang seperti itu, seharusnya kau luoakan semua perasaanmu, buka hatimu untukku!" tegas Itachi yang langsung memeluk Naruto erat, dia nggak peduli jika Naruto terkejut dengan pengakuan cintanya yang seolah memanfaatkan kesempatan.

"hiks..hiks.." hanya isak tangis yang Itachi dengar dari Naruto. Bukan seperti yang ia bayangkan, bahwa Naruto akan mengamuk padanya.

"shh… kau masih memilikiku Naru. Jangan bersedih lagi. Aku nggak tahan jika terus melihatmu bersedih seperti ini." Lirih Itachi, mencoba untuk menenangkan Naruto yang masih terisak di dekapannya. Naruto mencengkram kemeja depannya dengan kuat.

Mereka tetap dalam posisi seperti itu sampai Naruto tenang, kira-kira hamper satu jam Naruto terisak di dekapan Itachi. Dan dengan setiannya Itachi menusap lembut surai kuning cerah milik Naruto. Sesekali dikecupnya sayang puncak kepala si blonde. Setelah puas menangis dan menyisakan sesegukan, Naruto melepaskan pelukan Itachi.

"haus…" gumamnya dengan suara yang parau, Itachi yang mendengar itu bingung, mau tertawa atau prihatin. Untuk aja dia ada persediaan air mineral di mobilnya, lalu diberikannya air mineral itu ke Naruto.

"udah puas nangisnya?" Tanya Itachi lembut, yang disambut anggukan dari Naruto.

"euhm… Tachi-nii, beneran suka padaku?" Tanya Naruto, pertanyaan yang sebenarnya ingin ia tanyakan sedari tadi.

"iya. Aku menyukai… ah tidak, tapi aku mencintaimu Naruto. Udah sejak lama." Ungkap Itachi, menggenggam tangan Naruto lembut.

"eh? Eh?! Uuh.. maaf ya, aku nggak sadar." Kata Naruto menunduk, Itachi tersenyum dan mengankat dagu Naruto dengan tangan kirinya. Menatapnya lembut tepat di kedua manic sapphire itu.

"nggak masalah kok. Aku mencintaimu, meskipun hatimu masih terpatri kepadanya." Ucap Itachi jujur, ia tersenyum lembut yang membuat semburat merah terpampang jelas di kedua pipi tan milik Naruto, sehingga tanpa sadar Naruto memalingkan wajahnya.

"kenapa?" Tanya Itachi heran. Sebenarnya ia juga melihat semburat merah itu di wajah Naruto.

"ng-nggak kok."

"kenapa terbata? Aku ganteng ya?" Tanya Itachi, narsism. Naruto memukul pelan bahu depan Itachi sambil mengembungkan kedua pipinya.

"dasar narsis. Huft!"

"syukurlah kau kembali ceria."

"makasih Tachi-nii" Naruto kembali memeluk Itachi.

"iya, sama-sama Hime. Nah, sekarang kita pulang ya. Nanti mama Kushi cemas loh."

"iya." Naruto melepaskan pelukkannya dan duduk manis di samping Itachi, sedangkan Itachi mulai menjalankan mobil porche hitamnya. Melupakan sejenak ungkapan cinta yang tadi terjadi.

.

.

.

"tadaima…" seru Naruto, disambut para maid yang berbaris rapi di depan pintu.

"okaerinasai, Naruto-sama, Itachi-sama." Semua pelayan itu membungkuk hormat dan mempersilahkan Naruto serta Itachi memasuki mansion Namikaze.

"papa, mama ada?" Tanya Naruto pada Iruka, kepala pelayan di mansion itu.

"Tuan dan Nyonya sedang berada di rumah sakit pusat, Naruto-sama."

"mou… jangan formal begitu paman Iruka." Rengek Naruto. Itachi hanya tersenyum dan Iruka terlihat canggung.

"turuti aja apa maunya, Iruka-san. Daripada dia nanti ngambek."

"iya, Itachi-sama. Naruto-san, kenapa wajah anda babak belur begitu?" Tanya Iruka, terbersit rasa cemas yang sangat kentara di wajah Iruka, pasalnya nona muda-nya ini jarang sekali pulang dengan lembam yang hamper merata di tubuhnya.

"Ahahaha… ini tadi, habis latih tanding kok. Hehe, Tanya aja Tachi-nii kalo nggak percaya. Iya kan?" kata Naruto, mengedipkan sebelah matanya ke Itachi.

"hahh… iya. Sekarang ayo ke kamarmu, mandi dan istirahat. Besok pagi kujemput. Aku pamit dulu." Ujar Itachi panjang. Naruto hanya mengangguk pasrah tiap mendapatkan perintah dari sang Uchiha sulung.