Author: Athiya064/Kyung064
Title: A Pretty Boy
Cast: Lee Taeyong, Jung Jaehyun, Johnny Seo, Mark Lee, Ten Chittaphon
Other Cast: Kim Jaejoong(GS), Jung Yunho(Lee Yunho), Choi Siwon
(Jung Siwon), NCT, SM, YG artists & other.
Genre: Romance, hurt, androgini themed
Language: Indonesian.
Desclaimer: I do not own the characters.
Notes: Please sabar karena lebih banyak Johnyong di chapt ini^^
Words:
Contacts: athiya064 on line/twitter/ig
. . .
Mobil sedan BMW berwarna hitam itu berhenti tepat 100 meter sebelum gerbang SMtown University, sang penumpang yang duduk di bagian belakang langsung mengambil tasnya dan bersiap keluar. "Tuan muda yakin turun disini? Saya sudah survey kemarin kalau halamannya itu luas, tuan muda bisa kepanasan. Belum lagi, tuan muda pasti tidak tahu harus menuju kemana,"
"Aigoo, lihat bapak tua ini mengkhawatirkanku sampai sebegininya. Jangan meledek aku yang buta arah, aku yakin aku pasti akan bertemu teman-temanku secepatnya. Lagipula lumayan, sekaligus olahraga pagi." Jawab tuan mudanya santai, sang sopir yang lebih sering dianggap seperti paman sendiri itu menghela nafas pelan. "Bukan begitu tuan muda, nanti saya yang dimarahi nyonya—"
Tuan mudanya mengangkat sebelah tangan, "A-ha! Aku sudah bilang berhenti perlakukan aku seperti anak kecil, aku ini sudah dewasa paman! Bisa pingsan teman-temanku kalau mobil ayah ini masuk ke halaman kampus, aku kan sudah bilang bawa mobil biasa saja atau aku akan naik taksi," protesnya, mobil ayahnya ini terlalu mencolok. Biarpun warnanya hanya hitam polos saja, tapi lagi-lagi orangtuanya adalah penggemar barang limited edition. Ia tidak ingin dikenali sebagai anak dari Lee Yunho, salah satu pengusaha terkenal di Asia.
Jadi ia buru-buru turun, sang sopir buru-buru menurunkan kacanya. "Aku akan pulang bersama Ten atau Doyoung, jadi jangan dijemput ya. Manhi meokgo paman Gong! Jangan sampai sakit lagi, annyeong!" dengan riang Taeyong meninggalkan mobilnya, kemudian bergabung bersama mahasiswa lain yang akan masuk kampus, badannya yang kecil dan tidak terlalu tinggi membuatnya tidak mencolok dan langsung dengan mudah berbaur dengan gerombolan tadi.
Sopir keluarga Lee itu menggeleng-geleng, Lee Taeyong memang begitu sejak kecil. Dingin, sok kuat, tapi selalu ramah pada orang yang lebih tua. Sosok tuan muda yang sudah ia anggap seperti anak sendiri. Apalagi karena anak paman Gong jauh lebih dewasa dari Taeyong dan ia sudah bekerja untuk keluarga Lee dari kecil, jadi baginya Taeyong selalu seperti anak bungsu baginya.
Pria paruh baya itu memutar mobilnya dan perlahan-lahan meninggalkan area kampus Taeyong, hah, aneh sekali. Minta diturunkan sebelum gerbang supaya tidak dijadikan pusat perhatian.
Sementara itu Taeyong berjalan pelan-pelan memasuki gerbang kampusnya, pagi tadi ia sengaja tidak memakai make up apapun meskipun hanya berupa krim. Ia terlalu takut identitasnya sebagai Jennie dicurigai publik, apalagi di sepanjang jalan tadi ia baru sadar foto-foto Jennie dipasang di billboard. Duh, benar-benar memalukan.
Sesekali ia mengecek ponselnya, grup chatnya masih sepi seperti tidak ada tanda-tanda dari kedua teman karibnya itu. Memang sih Taeyong yang kepagian datangnya, tapi tidak mungkin kan kedua temannya itu ketiduran di hari pertama kuliah mereka? Apalagi hari ini adalah masa orientasi.
"Lee Taeyong?" Taeyong yang awalnya berjalan menunduk, mengalihkan pandangannya dari ponsel sebentar. Lalu ia mendongak, sepertinya laki-laki itu mahasiswa baru juga terbukti dari mereka yang mengenakan almamater universitas untuk mengikuti upacara penyambutan. Tapi sepertinya Taeyong tidak familiar dengan wajah lelaki bermata bulat dengan rambut hitam dan bibir ranum itu. Lelaki itu badannya manly—maksudnya berotot di sana sini— tapi figur wajahnya lembut dan imut. "Iya?" tanya Taeyong bimbang.
Pemuda itu mengulurkan tangannya, "Aku Choi Seungcheol, sahabat Yoon Jeonghan." Taeyong menggumamkan 'ah' pelan kemudian menerima jabat tangan pemuda itu, ia ingat dulu ketika menjadi wakil Korea di salah satu acara fashion di Paris ia berkenalan dengan model cantik bernama Jeonghan, ia sendiri tergabung dalam agensi Pledis, agensi model sekelas dengan Esteem dan YGK+ yang telah mengorbitkan model-model sekelas Nana dan Ren. Dan Taeyong baru tahu kalau Jeonghan itu juga androgini. Dan memiliki nama panggung 'Angel' tapi tetap lebih nyaman memanggilnya Jeonghan saja.
Bedanya, Jeonghan tidak menutupi identitasnya sebagai laki-laki tulen. Hal itu juga tidak mengurangi penggemarnya. Taeyong bercerita panjang lebar padanya, bagaimana hanya sedikit saja orang yang tahu identitasnya, ia yang hanya coba-coba jadi model dan tidak punya agensi, dan banyak hal lain. Satu nasihat Jeonghan yang masih dia ingat adalah,
"Bagiku tidak mudah juga ketika harus mengungkap identitas ke publik pertama kali, tapi ada seseorang yang menguatkanku. Dia bilang dia siap menemaniku meskipun karirku harus hancur, dan dia benar. Aku sempat down beberapa hari karena serangan netizen, tapi dia membantuku bangkit. Menurutku itu terserah kau akan menutupi atau mengungkap identitasmu, suatu saat pasti ada waktu yang tepat bagimu untuk mengungkapnya. Apalagi kalau ada orang yang benar-benar mendukungmu,"
Dan seusai acara, Taeyong baru tahu kalau sosok yang diceritakan Jeonghan adalah Seungcheol itu. Makanya ia tidak terlalu ingat, tapi Taeyong tetap menganggap Jeonghan inspiratif. "Apa kabar, Seungcheol-ssi?" sapanya ramah, untung sekali Seungcheol menjaga rahasia dan tidak memanggilnya 'Jennie'. Seungcheol tersenyum sampai lesung pipinya terlihat. "Baik, ah, Jeonghan sepertinya merindukanmu. Sempatkan waktu menghubunginya,"
Benar juga, sudah lama Taeyong tidak menghubungi Jeonghan. "Baiklah akan kuhubungi Jeonghan-ssi nanti, terima kasih infonya Seungcheol-ssi." Balasnya lembut, "Tentu. Senang mengetahui kita ada di kampus yang sama, ah aku duluan Taeyong-ssi. Sepertinya temanku menunggu," pemuda itu melambaikan tangannya dan berjalan lebih cepat.
Bodohnya Taeyong tidak menanyakan dimana aula besar yang dijadikan tempat upacara penyambutannya, dan kini Seungcheol sudah tidak ada lagi.
"Yak!" sebuah tepukan mendarat di pundak Taeyong, pemuda itu mengaduh pelan. Itu Ten dengan senyum lebarnya. "Kalian darimana saja?!" bentaknya kesal, kedua temannya sudah biasa diomeli Taeyong jadi tidak menjawab, mereka akui mereka tidak bisa selalu tepat waktu seperti Taeyong si tuan perfeksionis.
Doyoung yang paling tinggi di antara mereka bertiga berdiri di tengah lalu merangkulkan tangannya ke leher teman-temannya itu, "Mianhae jalannya macet tadi, kau pasti tidak tahu dimana aulanya. Ayo pergi bersama-sama!" dan ia buru-buru menggeret temannya itu untuk berjalan lebih cepat.
. . .
Suara musik klasik yang keluar dari pemutar mp3 diputar dengan volume di bawah normal, orang-orang bilang musik klasik akan membantu seseorang untuk berkonsentrasi. Jenis musik yang biasanya didengarkan oleh orang-orang yang tidak ingin diganggu ketika mengerjakan pekerjaannya dengan tekun.
Tapi itu sepertinya tidak berlaku untuk seseorang yang sedang duduk sambil menyangga kepalanya dengan tangan tersebut, sosok itu duduk di balik tulisan direktur utama dengan ukiran emas.
"Pantas saja ruangannya sunyi dan tidak ada jawaban," ada seseorang yang lain yang memasuki ruangan itu, "Gaya sekali mendengar musik klasik, biasanya juga mendengarkan musik hiphop," dengan gemas sosok itu mematikan pemutar musiknya.
Tokk tokk!
Sosok yang sedang menyangga kepala dengan tangan –alias tidur— itu langsung membuka mata terkejut, "S—Sayang?" sang istri bersedekap di dada, "Aku kan sudah bilang kalau kau lelah tidur di rumah, pegawaimu tidak akan kelabakan kalau kau izin sehari saja. Daripada berpura-pura kuat tapi ketiduran, dan apa-apaan itu? Musik klasik? Bukan kau sekali,"
Yunho diam, memandang ke sekeliling dengan mata yang masih buram karena bangun tidur. Oh iya, musiknya sudah mati rupanya. Pria paruh baya itu memandang kotak bekal di depannya, Jaejoong memang sering membawakannya makan siang kalau sempat. "Kudengar dari Changmin asistenmu itu ada agensi yang berniat mengontrak Taeyong?"
Mendengar pertanyaan itu Yunho langsung menelan telur gulungnya, "Ya, dari Esteem." Jawabnya singkat, tidak menyukai topik bahasan itu. Membayangkan anaknya terikat kontrak menjadi seorang model membuatnya bergidik, kehidupan entertainment termasuk modelling Korea itu tidak jauh beda dengan perbudakan modern. Jadi apa anaknya nanti. "Kau menolaknya kan yeobo?" tanya Jaejoong was-was, Yunho langsung mengiyakan.
Berbeda dengan Yunho, yang Jaejoong khawatirkan adalah bagaimana kalau identitas Taeyong ketahuan. Memang, mencurigakan kalau perusahaan Yunho—yang selama ini bertanggungjawab untuk Taeyong— tidak pernah melirik tawaran kontrak agensi manapun, dan berdalih Taeyong—Jennie maksudnya— hanya bekerja untuk mereka, padahal JJ's itu bukan sebuah agensi.
Bukannya Jaejoong egois dan tidak ingin menghentikan pekerjaan Taeyong sebagai model androgini tapi semua sudah terlambat, mereka sudah tercebur terlalu dalam. Akan mencurigakan bagi publik kalau seandainya Jennie tiba-tiba berhenti menjadi model tanpa alasan jelas. Mereka pasti mencari tahu keberadaannya, jadi mau tidak mau mereka harus mencari waktu yang tepat sebelum benar-benar menghentikan karir Jennie.
Itu yang dikhawatirkan oleh Jaejoong, keselamatan anaknya. Seandainya ia tahu akan susah melepaskan diri dari pekerjaan ini tentu dulu dia tidak akan menyarankan Taeyong menyamar jadi seorang model. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan Jaejoong tidak punya mesin waktu Doraemon untuk memperbaiki kesalahannya.
"Seo C&C corp. Kemarin menerima kerjasama denganku, tapi perwakilannya bilang ingin bertemu dengan Jennie, aku tidak tahu motifnya apa. Tapi sepertinya mereka tertarik, aku bilang saja Jennie sibuk." Yunho memaparkan bagaimana anak dari Seo Seunghyun yang memimpin meeting dengannya kemarin tiba-tiba menanyakan Jennie, dan Yunho tidak bisa untuk tidak menolaknya, seperti ayah yang tidak rela anak perawannya dikencani orang asing.
Yaampun, padahal kan pemuda bermarga Seo yang pintar itu tidak tahu kalau Jennie itu sebenarnya Taeyong anaknya. Lagipula, dia hanya ingin membicarakan urusan bisnis, menawarkan Jennie untuk mengiklankan salah satu produk mereka. Hah, Yunho yakin ada alasan lain di baliknya.
Jaejoong mengetukkan jarinya gusar di meja, "Hal yang aku takutkan sepertinya akan terjadi yeobo, orang-orang mulai tertarik pada Jennie. Dia mulai beranjak dewasa, mulai terlihat cantik. Bagaimana kalau mereka tahu kalau Jennie itu seorang laki-laki?"
Nah.. itu yang Yunho pikirkan, ia menyayangi anak laki-lakinya itu, tidak ingin Taeyong dijatuhkan pihak lain apalagi karena ketahuan menjadi model androgini. Dia takut Taeyong akan berdampak ketika nanti Taeyong menjadi pemimpin perusahaannya suatu saat nanti.
"Apa kita hentikan saja karir Jennie?"
. . .
Suasana kantin SMtown sedang sepi, hanya beberapa kelas saja yang tidak ada jadwal kuliah. Termasuk Taeyong dan kedua temannya, jadi mereka bisa menyantap makan siang dengan damai.
Sudah seminggu semenjak mereka duduk di bangku perkuliahan, sebenarnya tidak terlalu susah bagi Taeyong untuk menjalaninya. Di bangku kuliah orang-orang lebih individual, jadi ia tidak harus bersosialisasi untuk membentuk lingkaran pertemanan. Lagipula mengambil jurusan yang sama dengan Ten dan Doyoung juga memudahkannya.
"Eh, di grup Yerin bilang kelas Profesor Kim diganti dengan kuliah tamu. Jadi absensinya dihitung kalau kita datang ke kuliah tamu, hah, padahal sudah kufikirkan untuk bolos saja." Itu Doyoung, belum sebulan sudah punya niatan bolos. Ia menunjukkan grup chat jurusan mereka ke kedua temannya.
Ten menjitak ubun-ubun Doyoung dengan kejam, "Ya! Kau yakin melewatkan kuliah tamu ini? Aku sih sudah menunggunya dari lama, yang mengisi itu pengusaha muda yang sedang naik daun di Korea. Kudengar dekan kita susah payah mengundangnya, lihat saja nanti pasti aulanya sesak. Aku sih tidak mau telat, kau mau ikut dia bolos Tae? Ini Johnny loh, yang sering membahasmu di blognya,"
Untung kantin sedang sepi sehingga tidak banyak yang memperhatikan mereka, tapi Taeyong mencubit paha Ten. "Ya! Jangan membahas hal mengenai Jennie disini," peringatnya. Tapi diam-diam ia setuju dengan Ten, tidak akan mengikuti Doyoung untuk bolos. Kedua temannya memang tau kalau Johnny sering membahasnya maupun datang ke pagelarannya, tapi mereka tidak tahu kalau Taeyong juga tertarik pada Johnny.
Doyoung melongo, Yerin tidak bilang yang mengisi itu Johnny. "Aish, kalau dia yang mengisi aku sih mau datang. Kalian sudah selesai makan kan? Ayo segera ke aula sebelum diserbu anak-anak kecentilan selain jurusan kita yang tidak tahu bisnis," baik Ten maupun Taeyong pasrah-pasrah saja kembali digeret oleh Doyoung, pengaruh tinggi badan menjadikan Doyoung selalu menang adu fisik diantara mereka bertiga.
Benar saja beberapa bangku terdepan sudah diisi oleh anak-anak jurusan lain, padahal kuliah umum ini diperuntukkan untuk fakultas bisnis saja. Tapi juga tidak melarang anak fakultas lain untuk datang. Dasar perempuan-perempuan itu tidak tahu segan saja pada anak-anak bisnis.
Mereka harus pasrah duduk di tribun keempat dari depan, yang penting tidak terlalu kebelakang lah. Taeyong duduk di tengah di apit oleh Doyoung di kiri dan Ten di kanannya. "Belum datang ya?" gumam Doyoung sedikit sedih. Taeyong sendiri memilih menjaga jarak pandangnya, ia punya mata yang lebar seperti boneka sedikit berbeda dengan orang Korea pada umumnya. Ia takut Johnny mengenalinya walaupun ia tidak mengenakan make up. Tapi mungkin saja Taeyong yang kecil akan tenggelam di antara ratusan mahasiswa lain.
Tiba-tiba profesor Kim masuk aula diikuti pemuda tampan dengan tinggi badan di atas rata-rata di belakangnya, untung saja mahasiswa-mahasiswi yang ada di ruangan bisa menahan diri mereka untuk tidak menjerit seperti fangirl, karena sungguh, Johnny terlalu tampan. Profesor Kim mempersilahkan Johnny untuk memulai kuliahnya.
"Oh, halo, selamat siang. Err—mungkin akan sedikit canggung karena jujur saja ini pertama kali aku mengisi kuliah, aku bahkan masih tercatat sebagai mahasiswa saat ini. Jadi ini sebuah kebanggaan tersendiri bagiku, perkenalkan namaku Johnny Seo atau Seo Youngho. Senang bertemu kalian." Johnny tersenyum, tampan, seperti malaikat. Aduh, rasanya Taeyong bisa saja terbang melihatnya.
"Aku akan menggunakan metode sharing karena aku tidak ingin menggurui. Hmm, baiklah, pertama mengenai tema hari ini tentang 'Young Entrepreneur' aku akan menceritakan bagaimana awal aku berkecimpung di dunia bisnis. Melihat bagaimana ayahku setiap kali bekerja membuatku menjadi tertarik juga dan semenjak itu aku—"
Lelaki itu membagi pengalaman berikut tips-tips menjadi pengusaha muda yang sukses selama sembilan puluh menit. Dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, baik Ten maupun Doyoung sama-sama mengangkat tangannya untuk mendapat kesempatan bertanya. Tapi Taeyong tidak. Matanya malah sibuk memandangi laki-laki itu.
Lihatlah cara berpakaiannya, simple tapi elegan. Kemeja putih dibalut dengan blazer tidak dikancing dan celana kain, dasi yang rapi tersemat di kerah bajunya, rambut 50:50 yang biasanya terlihat aneh bagi sebagian orang malah terlihat cocok untuknya. Uh, coba dia duduk sedikit lebih dekat dengannya, mungkin Taeyong bisa membuktikan perkataan Seulgi noona tempo hari bagaimana aroma cologne Johnny, haha, aneh. Taeyong merasa seperti remaja dimabuk cinta sekarang.
Johnny mengulurkan tangannya, meminta mahasiswa yang duduk di tribun mengulurkan mic ke seseorang yang ia maksud. Masalahnya adalah.. kenapa tangan Johnny terarah padanya? Perasaan dari tadi Taeyong diam deh, masa Johnny mengenalinya? Tidak mungkin secepat ini kan? Dia kan sudah bersembunyi daritadi. Mau tak mau Taeyong membeku ketakutan, "Ya, anda yang mengenakan jaket denim, silahkan bertanya."
Eh tunggu..
Jaket Denim?
Perasaan Taeyong pakai kemeja garis-garis deh.
Taeyong menoleh, Ten menerima microphone dari mahasiswa lain. Astaga jadi Ten yang bertanya, sial, untung saja Taeyong belum bertingkah memalukan. Dia kira Johnny mengenalinya, padahal jelas-jelas tidak mungkin. "Bagaimana cara anda memanage waktu sebagai seorang mahasiswa, pengusaha, bloggers, dan kehidupan pribadi anda?"
Pertanyaan Ten mendapat sorotan lebih dari mahasiswa lain, termasuk Taeyong. Nah, itu yang ingin ia tanyakan. Bagaimana bisa lelaki itu melakukan semuanya tapi tetap berhasil. Satu aula mendengar Johnny yang terkekeh pelan,
"Well, aku sendiri juga tidak berambisi melakukan segala hal pada awalnya. Aku bukanlah perfeksionis, tapi motoku adalah 'lakukan hal yang kau sukai' sesederhana itu. Dan aku melakukannya bertahap, bukan terpaksa. Awalnya tentu aku sudah ikut ayahku bekerja di waktu senggang, kemudian kuliah adalah kewajibanku baru hal-hal lain menyusul. Jadi aku selalu memulai hariku dengan olahraga pagi—hobiku—, kemudian pergi ke universitas, seusai kuliah aku akan menyempatkan diri ke kantor ayah, dan malam kalau sempat aku juga membuka blogku." Jelas Johnny panjang lebar, para peserta kuliah umum ikut mengangguk-angguk.
Kemudian pria setinggi seratus delapan puluh sekian itu memegang micnya kembali, "Dan untuk kehidupan pribadi, ya begitulah. Tapi kalau yang kalian maksud adalah kehidupan asmara, aku belum punya pasangan. Jadi mungkin itu mengapa aku masih bisa menjalankan aktivitasku sehari-hari," jawaban Johny itu membuat beberapa peserta memekik, ternyata masih available.
Kuliah itu berakhir dengan kesimpulan dari lelaki itu sendiri, setelahnya pemuda berdarah campuran Amerika-Korea itu mengundurkan diri. "Ya! Kau dengar itu, Johnny Seo masih single. Ah, pasti akan menyenangkan kalau mendapat perhatiannya!" itu anak-anak dari jurusan komunikasi yang terkenal cantik sedang berkerumun, "Eyy, kau yakin? Rumor bilang, dia berkencan dengan Jennie Lee. Si model cantik itu,"
Taeyong merasa tidak nyaman dengan 'dirinya' yang dijadikan bahasan, jadi ia mengemasi barang-barangnya dan mengajak kedua temannya pergi. "Sepertinya belum berkencan, tapi Johnny benar-benar tertarik dengannya,"
. . .
"Johnny hyungg!"
Seorang bocah SMA berbadan tegap lari dari halaman sekolah menuju sebuah mobil mewah berwarna putih yang berhenti tepat di dekat gerbang sekolahnya, anak SMA itu berlari kelewat semangat, tidak memperdulikan blazer kuning sekolahnya sedikit berantakan dibawa berlari begitu. "Chill, Jae." Yang dipanggil Johnny terkekeh lalu memberikan sebotol air mineral dingin melalui jendela pada sepupunya itu.
Jaehyun masuk mobil dan meneguk air mineral itu dengan cepat, "How's school?" tanya Johnny basa-basi sambil memundurkan mobilnya sebelum putar balik dari sekolah Jaehyun. "Biasa saja, belum ada yang berbeda dalam seminggu ini. Berhenti bertanya bagaimana sekolahku terus hyung!" yang lebih tua tertawa, tapi kemudian alisnya bertautan sebal.
"Tapi kenapa kau selalu memintaku menjemputmu setiap hari, huh? Kau kan bisa bawa salah satu mobilku atau diantar sopir?" kakak sepupunya itu terlihat kesal, pasalnya Jaehyun itu laki-laki –hampir—dewasa bukannya anak elementary school yang harus diantar-jemput oleh Johnny. Kalaupun dia minta diantar jemput harusnya dengan sopir keluarga Seo saja, bukannya dengan sang kakak yang super sibuk.
Tapi Jaehyun santai saja kakaknya uring-uringan, "Aku belum punya surat izin mengemudi dan aku tidak suka bersama paman sopir, lebih enak bersamamu hyung ada teman bicara, lagipula paman Seunghyun setuju-setuju saja." Johnny menepuk dahinya kesal, Jaehyun itu sudah dianggap anak bungsu oleh ayahnya mungkin karena Johnny anak tunggal dan tingkah Jaehyun kekanakan, jadi ayahnya pasti menuruti segala keinginan keponakannya itu. Walaupun harus merepotkan anaknya sendiri.
Sang kakak hanya geleng-geleng kepala, kemudian meraih paper bag di bagian belakang ketika lampu merah. "Pakai itu, hari ini kita tidak langsung pulang," Jaehyun mengeluarkan isi tas kertas itu, kemeja dan celana jeans. Formal tapi santai, sangat Johnny sekali kalau saja ia tidak diwajibkan memakai suit kalau di kantor.
Jaehyun melipat blazer berlambang sekolah barunya itu, kemudian membuka kancing kemeja putihnya— "Ya! Ganti di belakang lah brat!" Johnny menaikkan nada bicaranya, Jaehyun memandang kakaknya polos. "Ah wae?! Kaca mobilmu ini gelap, tidak terlihat dari luar kan?" jelasnya masuk akal.
Membuat Johnny hampir saja menginjak rem secara mendadak, "Iya memang tidak terlihat, tapi kau yakin membuka seluruh pakaian disampingku?" bukannya bagaimana, memang sih mereka sesama lelaki dan sering bertelanjang dada di rumah, tapi ini kan di jalan! Hal itu sedikit mengganggu Johnny apalagi kalau sampai Jaehyun membuka celananya juga.
"Hooo hyung tertarik dengan badan seksiku ini ya?" dan Johnny benar-benar menghentikan mobilnya secara mendadak, adiknya ini biar sok polos tetap saja dia dibesarkan di Amerika, "Cepat ganti bajumu di belakang sebelum kutendang kau Jung,"
Suara tertawa yang keras sekali keluar dari mulut Jaehyun, Johnny memutuskan tidak membahasnya lagi dan menjalankan mobilnya.
Hampir sepuluh menit kemudian mereka sampai di sebuah bangunan yang tidak terlalu mewah seperti gedung pencakar langit, tapi juga tidak terlalu kecil pula. Menurut Jaehyun, bangunan itu mirip seperti sebuah gedung perkantoran biasa, tapi aneh, letaknya ada di daerah perumahan bukan di daerah perkantoran.
Dengan bingung Jaehyun mengekori Johnny saja, mencoba menyamai langkah kaki hyungnya yang panjang-panjang. Sementara sang kakak tampak sibuk dengan komputer tabletnya, beberapa pegawai menyapa sang kakak dan dibalas dengan anggukan singkat. Seingatnya Jaehyun tidak pernah tahu kalau paman Seo punya kantor disini.
"Tempat apa ini?" ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya, Jaehyun itu mudah sekali penasaran ngomong-ngomong. "Studio," heeh? Sejak kapan Johnny datang ke tempat studio foto seperti ini?
Tidak seperti di luar yang terlihat biasa saja, di dalam interiornya sungguh klasik. Tapi Jaehyun kaget menjumpai kolam ikan dengan air mancur di bagian lobi, yang memiliki tempat ini pasti bukan orang yang awam mengenai dunia desain. Mereka naik ke lantai tiga dengan elevator dan memasuki sebuah ruangan khusus.
Sorot pencahayaan terang menyambut mereka, sebenarnya ruangan itu serba putih, mengingatkan Jaehyun dengan acara Weekly Idol. Tapi lebih luas, dan ada berbagai macam penerangan sekaligus kamera disana. Sang penata background menggantinya dengan warna maroon, sepertinya Jaehyun tahu tempat apa ini.
Ini memang sebuah studio foto, sepertinya dikhususkan untuk tempat photoshoot majalah mode terkenal. Dan Jaehyun baru menyadari ketika membaca sebuah logo di dekat pintu masuk ruangan itu, NVQ magazine. Dan Johnny sepertinya memang menjalin kerjasama dilihat bagaimana kakaknya itu tampak aktif memandangi model-model yang sedang melakukan pemotretan.
"Yang ini boleh juga, kurasa ini yang paling baik Jungwoo-ssi." Johnny menunjuk ke arah PC yang menampilkan preview dari foto-foto yang telah diambil, "Aku juga berpikir seperti itu," Jungwoo nampaknya sependapat dengan Johnny.
Ketika sesi istirahat, Johnny mendekati Jaehyun. "Hyung, kenapa kita ada disini? Kau akan melakukan photoshoot juga?" Johnny yang akhirnya bisa duduk menggeleng pelan, "Tidak, tapi model-model disini memeragakan baju dari butik yang aku beli sebagian sahamnya, dan aku kenal baik dengan pemilik majalahnya," Jaehyun baru ingat memang Johnny memperluas perusahaannya hingga ke bidang fashion.
"She's here?!" Johnny tiba-tiba setengah memekik, matanya terpaku pada perempuan yang baru saja keluar dari pintu khusus model. Jaehyun tidak dapat melihat wajahnya secara jelas karena tertutup topi, tapi kakaknya itu langsung mengenali sosok tersebut. "Siapa sih hyung?" Jaehyun ikut-ikutan mendongakkan kepala. "Jennie, aku tidak tahu dia juga termasuk dalam photoshoot ini,"
Detik itu perempuan bertopi itu mengangkat sedikit topinya, hingga semua orang di ruangan tersebut bisa melihat wajahnya.
Cantik.
Jaehyun bukan tipe orang yang mudah memuji seorang wanita—tentu, apalagi sejak ia tahu orientasnya— tapi entah mengapa perempuan di hadapannya itu terlihat cantik, matanya seperti boneka, hidungnya mancung, bibirnya tipis tapi merah sehingga tetap terlihat menawan meskipun menggunakan lipstick berwarna netral, wajahnya memiliki bentuk rahang V yang sangat disukai orang Korea, benar-benar sempurna.
Dan ketika ia berpose untuk kamera, ada sebuah perasaan familiar yang menjalari badan Jaehyun. Tidak mungkin dia pernah bertemu sosok seperti Jennie sebelumnya, kalau pernah mungkin ia sudah sama gilanya seperti Johnny yang mengidolakan Jennie.
Astaga, Jaehyun merasa berdosa mengaguminya. Johnny tidak boleh tahu mengenai hal ini, kini ia percaya semua rumor mengenai Jennie yang cantik seperti malaikat namun wajahnya sedikit dingin itu benar. Hanya orang dengan selera dan penglihatan tidak cukup baik saja yang tidak mengaguminya.
"—Hyun?"
Selama beberapa saat eksistensi kakak sepupunya itu terlupakan, Jaehyun tersadar dari kebengongannya dan menoleh ke arah kakak sepupunya. "Kau tertarik padanya? Jennie benar-benar gorgeous bukan?" mendengar pertanyaan dari yang lebih tua, Jaehyun malah mendongak, 'Hyung tidak marah?' batinnya heran.
Jari-jari Johnny bermain di rambut hitam adiknya itu, "Aku akan mendekatinya, jadi doakan aku. Mungkin saja kalau kami dekat kau bisa dapat tanda tangannya secara gratis, ternyata kau bisa mengagumi perempuan juga, Jay."
Tapi sepertinya Johnny salah pengertian, ia tidak yakin dengan cinta pada pandangan pertama atau apapun itu sebelumnya. Cuma ia yakin yang ia rasakan sekarang, bukan sekedar perasaan kagum.
. . .
Suasana di ruang ganti itu sepi, hanya ada dua orang saja di dalam ruangan itu. "Kau selalu dapat ruangan khusus yang paling baik disini, Tae." Suara Seulgi menggema dalam ruang rias itu, "Baguslah, aku tidak perlu ganti baju di kamar mandi kan nuna. Tapi kadang memang bibi Qian terlalu berlebihan, diberi ruang kecil saja aku sudah bersyukur,"
"Tapi ini aneh, kenapa kau menerima pekerjaan ini Tae?" tanya Seulgi sambil melepas anting-anting dan kalung di badan modelnya tersebut, "Eomma minta tolong padaku, lagipula bibi Qian ini sudah dekat dengan keluarga kami mulai kecil nuna,"
Memang benar Victoria Song Qian wanita yang satu tahun lebih muda dari ibunya itu selalu baik kepadanya, makanya ketika wanita yang sudah ia anggap seperti bibi sendiri sekaligus ibu dari sahabat dekatnya Ten itu meminta tolong kepadanya untuk menjadi model di majalah yang ia pimpin Taeyong menerima hal itu.
Seulgi meraih resleting belakang gaun yang dikenakan oleh Taeyong dan berniat membantu melepaskannya, "Aish menunduk sedikit!" dengan high heels tubuh Taeyong memang jadi lebih tinggi daripada Seulgi, dan itu membuat asistennya sedikit kesusahan. Jadi Taeyong menunduk sedikit, "Nuna, cepatlah, aku kebelet."
Mendengar itu yang lebih tua terkekeh dan berusaha mempercepat gerakannya, "Astaga, maaf tapi sepertinya sedikit macet Tae." Seulgi tidak berbohong, gaun itu memang sedikit susah sampai ia harus menariknya. Tiba-tiba tanpa sengaja Seulgi memandangi brand pakaian yang dikenakan oleh Taeyong, mata sipit perempuan itu membulat sedikit, "O-omo! Bukankah ini dari butik Johnny Seo?"
Taeyong menoleh tiba-tiba, pantas saja tadi ia merasa seperti ada yang memandanginya ketika melakukan photoshoot. Hanya saja Johnny tidak di depan seperti ketika di fashion show, dan Taeyong tidak terlalu memperhatikan karena ia fokus pada kamera. Astaga! Tidak menyangka sekali, harusnya tadi Taeyong memperhatikan Johnny ketika disana. "N—nuna, nanti saja, aku butuh ke kamar mandi sekarang!"
Dan Taeyong langsung berlari keluar kamar rias itu, "Ya! Pelan-pelan! Kau itu masih mengenakan high heels!" tapi dasar Taeyong, mungkin panggilan alamnya lebih mendesak dari apapun.
.
..
"Hyung, masih lama tidak?"
Johnny yang sedang asyik berbincang dengan kru photoshoot itu menghentikan Jaehyun dengan gestur tangannya, sepertinya perbincangan mereka penting sampai adiknya diabaikan. "Err—aku keluar ya mau jalan-jalan,"
Dan Jaehyun tidak yakin apakah Johnny mendengarnya atau tidak yang jelas lelaki itu mengangguk, ia membawa kakinya keluar dari tempat photoshoot dan memutuskan mengitari gedung tersebut. Ada dua bendera Thailand dan China yang dipajang di sudut ruangan, menandakan kebangsaan pemilik gedung ini yang berbeda.
Ia juga melihat penghargaan-penghargaan di dinding dengan banyak bahasa, Inggris, China, Thailand, dan Korea. Sepertinya majalah fashion ini sedang naik daun. Jaehyun memandangi perumahan warga dari jendela kaca di depannya, sepi, tapi tidak membahayakan. Cocok sekali dijadikan sebagai sebuah studio.
Pemuda itu melihat mesin kopi otomatis disana, kebetulan sekali, haus rasanya menunggu selama hampir satu setengah jam. Jaehyun memasukkan uangnya dan menekan tombol untuk mendapatkan kopi kaleng favoritnya. Pemuda itu membuka penutup kalengnya yang sedikit susah, dan menariknya paksa. "Aishh! Kenapa pakai tumpah segala?" gerutunya, untung tidak kena baju, tapi sekarang tangannya lengket.
Mata Jaehyun memandang ke sekeliling mencari dimana kiranya letak toilet terdekat, dan memutuskan untuk naik satu lantai. Menemukan tulisan menarik dalam bahasa Inggris, 'Man on the left, because woman is always right' yang sengaja dipasang di dinding, Jaehyun tertawa kecil, cukup kreatif. Kemudian ia berbelok ke arah kiri.
Baru saja ia akan mencuci tangannya, Jaehyun terkejut mendapati sosok asing di hadapannya. Awalnya ia kira sosok tersebut hantu karena rambut panjang dan gaunnya, tapi ini masih siang dan Jaehyun sendiri tidak percaya dengan hal-hal mistis. Tapi.. sedang apa seorang wanita ada di toilet pria?! Sampai Jaehyun mengira ia salah masuk toilet, namun tulisan di depan serta jejeran urinoir khusus laki-laki didepan bilik-bilik toilet itu mematahkan perkiraannya, jadi benar perempuan di depannya itu salah ruangan?
Ia hendak bertanya, tapi Jaehyun melihat perempuan itu memegangi kakinya. Sepertinya sedang memar, kenapa? "P—permisi.. sepertinya anda salah ruangan?" tanyanya ragu, sosok itu berhenti memegang kakinya, kemudian mendongak dengan raut wajah penuh kesakitan.
Astaga, Jennie Lee?
. . .
Sial, sial, sial!
Harusnya tadi ia mendengarkan perkataan Seulgi untuk berhati-hati, ia lupa tidak melepas sepatu berhak setinggi dua belas senti itu terlebih dahulu sebelum kemari. Akibatnya ia tergelincir di dalam toilet dan salah satu hak sepatunya patah. Untung saja ia berhasil menyelesaikan 'panggilan alamnya' dengan cepat. Karena sekarang kakinya terasa nyeri.
Perempuan memang hebat, bisa berlari dengan high heels sementara Taeyong melangkah di kamar mandi saja tergelincir, untung ia tidak pernah tergelincir ketika di runway stage. Well, sebenarnya dia sudah mulai mahir pakai heels, tapi beda lagi kalau di kamar mandi yang basah seperti ini.
Rasanya Taeyong tidak kuat untuk turun dan kembali ke ruang riasnya tadi, dan ia tidak membawa ponsel untuk menghubungi Seulgi. Jadi ia menunduk kemudian memijat kaki kanannya pelan-pelan. Ia menatap heels lancip yang telah patah itu kesal. Kakinya benar-benar terkilir rupanya.
"P—permisi.. sepertinya anda salah ruangan?" Taeyong mendongak, bingung. "Maksud anda?" suaranya mirip cicitan, efek menahan rasa sakit. "Ini toilet laki-laki," jawab pria itu sambil menggaruk tengkuknya.
"Lalu?" balas Taeyong lebih bingung, "A—anda kan perempuan,"
Taeyong mengerjap beberapa kali, astaga! Benar! Dia kan masih berdandan sebagai Jennie, lain kali ia harus menyesuaikan diri dan pergi ke kamar mandi perempuan. Tapi dia itu bukan orang cabul, tidak sopan sekali pergi ke toilet perempuan—ya walaupun dia berdandan sebagai perempuan sih—
Mungkin Taeyong dapat mengambil pesan moral, sepertinya jangan pernah ke kamar mandi sebelum berdandan sebagai laki-laki lagi. "Apa anda baik-baik saja, Jennie-ssi?"
Kok sepertinya Taeyong pernah bertemu sosok ini di suatu tempat dan di waktu yang lain ya? Sebentar biarkan ia berpikir—
—aha!
Sosok ini kan bocah dengan wajah ala direktur itu?! Bagaimana bisa bocah itu ada disini? Apa dia salah satu model? Tapi tidak mungkin, model-model hari ini seluruhnya wanita, apa jangan-jangan dia pegawai disini? Dan.. bagaimana bisa dia tahu nama panggung Taeyong? Apa dia salah satu penggemar Jennie juga?!
"Kakimu memar," dan tanpa berkata-kata Jaehyun—untung Taeyong ingat namanya— itu sudah duduk di hadapannya, "Pasti sakit, apa mau aku pijat? Kau harus mengompresnya dengan air dingin, Jennie-ssi." Jaehyun menyentuh pergelangan kaki di dekat mata kakinya, Taeyong mengernyit karena rasa sakit yang tiba-tiba menyengatnya.
Jaehyun terlihat merasa bersalah karena Jennie yang menahan rasa sakitnya, tapi perempuan itu malah memaksakan untuk berdiri. "A—aku baik-baik saja, terima kasih," biar begitu, Jaehyun tahu perempuan itu berbohong. Lihat ia hampir saja limbung dengan kaki yang terkilir, bahkan menopang berat badannya sendiri saja kesulitan.
Jadi karena tidak tega, Jaehyun menunduk lagi. Membuat Jennie mematung dan menyandarkan punggungnya di tembok dingin kamar mandi tersebut, "Kau akan semakin susah berjalan kalau begini, jadi bagaimana kalau patahkan saja kedua hak sepatumu?"
Sebelum Taeyong sempat memproses ia mendengar suara 'tak' agak keras, Jaehyun mematahkan heels sebelahnya, sampai Taeyong kini bisa berdiri dengan imbang kembali. "Apa kau akan kembali? Aku bisa menggendongmuu,"
Buru-buru Taeyong menggeleng, ia berusaha menyembunikan suaanya. Takut-takut sosok di depannya ini mengenalinya, ya walaupun pertemuan mereka hanya sekali saja. "Sudahlah, tidak apa-apa. Naik ke punggungku saja," tiba-tiba lelaki itu berjongkok di depannya, Taeyong ragu.
Terlalu banyak 'bagaimana' yang ada di otaknya, bagaimana kalau Jaehyun mengenalinya? Bagaimana kalau Jaehyun tahu ia bukan perempuan? Dan bagaimana-bagaimana yang lain. "Aku memaksa Jennie-ssi, kalau kau masih keberatan, aku akan menggendongmu bridal, bagaimana?"
Dan mendengar itu Taeyong buru-buru naik di punggung bidang Jaehyun, ya sudahlah, mungkin setelah ini Taeyong tidak akan bertemu dengan laki-laki ini lagi, kan?
.
..
Jaehyun meletakkan tangannya di bagian belakang paha Jennie, bukannya bermaksud kurangajar, tapi kalau tidak begitu bisa-bisa perempuan ini jatuh dari punggungnya. Apalagi sepertinya Jennie enggan sekali memeluk bahunya. Padahal, Jaehyun itu terkenal baik saat di Amerika dulu ataupun di sekolah barunya tidak mungkin ada orang yang menolak untuk memeluknya. Ya mungkin Jennie sudah terlewat cantik jadi ia tidak bisa mengagumi Jaehyun.
Sebenarnya Jaehyun sedikit kasihan dengan Jennie, badannya kurus sekali, ya mungkin tidak seringan kapas tapi dibanding dirinya dan Johnny tentu Jennie dikategorikan kerempeng. Jaehyun saja tidak keberatan sama sekali menggendongnya. Mungkin karena dia perempuan, tapi sungguh deh, biasanya perempuan-perempuan pasti punya badan yang berisi di tempat-tempat yang seharusnya, tapi Jennie datar, sedatar papan.
Bukannya perempuan biasanya terobsesi pergi ke dokter kecantikan dan melakukan implan di bokong dan dada supaya bisa seseksi Hyosung, Hyuna, atau Hyorin ya? Mungkin karena Jennie model, mungkin. "Kemana aku harus mengantarkanmu?" tanya Jaehyun setelah memutuskan berdiam dengan pikirannya. "Pintu bertuliskan model's room 1,"
Tuh kan, jawabannya singkat, sudah begitu dingin sekali. Tulang Jaehyun rasanya menggigil, benar-benar seperti elsa. Bahkan beberapa artis dengan image cold and chic saja sepertinya kalah dengan Jennie. Pasti bukan tipe yang cocok ada di acara variety show. Ngomong-ngomong sepertinya mereka sudah ditunggu, seorang perempuan yang mungkin lebih tua dari mereka melipat kedua tangannya di dada. Mata sipitnya hampir membelalak ketika Jaehyun berjalan mendekat. Jaehyun bersumpah ia merasa kalau Jennie tiba-tiba menegang.
"Tae!" Jaehyun menautkan alisnya, "Oh astaga, aku terlalu terkejut sampai salah mengucap nama. Maksudku Jennie, darimana saja kau?!" perempuan itu menyalak, seperti induk beruang yang tahu kalau anaknya dibawa pulang seekor singa. Buru-buru Jaehyun menurunan Jennie dengan pelan, takut masalah semakin runyam.
Jennie memegang dinding untuk menopang tubuhnya, "Kakiku terkilir, e—eonnie," raut wajah kekhawatiran perempuan di depan Jennie tiba-tiba berubah jadi sedikit konyol, ia menutup mulut dengan sebelah tangan. "Ah, masuklah. Aku akan mengobatimu, terima kasih sudah membantu Jennie kembali, tuan." Jaehyun hanya mengangguk sekilas. "Aku.. kembali dulu," pamitnya.
Kemudian Jaehyun meninggalkan kedua orang itu, dan kembali ke tempat photoshoot, mungkin ia menghilang terlalu lama. Johnny bisa saja mencarinya sedari tadi, ya kalau kakaknya masih perduli sih.
. . .
"Yang tadi siapa?"
Taeyong memejamkan mata sambil mengeluarkan ekspresi menahan sakit ketika Seulgi mengompres punggung kakinya dengan es batu, "Hanya orang asing, aku tadi tidak sadar masuk ke toilet laki-laki, kemudian tergelincir, dia datang dan menolongku. Mengira aku perempuan,"
"Makanya lain kali perhatikan keadaan, bisa-bisanya masuk ke toilet laki-laki dengan dandanan begini. Tapi, kau lucu juga ketika memanggilku eonnie, menggemaskan Tae!" Taeyong menatap Seulgi sebal, enak saja, "Yang itu tadi yang pertama sekaligus yang terakhir, noona."
Seulgi mengangkat kompresan es batu itu, mengambil sebotol cairan penghilang rasa sakit, biasanya digunakan untuk saat-saat mendadak. Kemudian Seulgi menyemprotkannya ke kaki Taeyong, "Kau sudah bisa jalan?" tanya Seulgi, Taeyong berdiri, mengganti heelsnya dengan sepatu biasa. "Kurasa sudah,"
Perempuan itu lantas menyerahkan sepasang baju ganti, "Ganti pakaianmu, tapi kita tidak bisa menghapus make upmu disini, aku baru sadar. Tempat ini sepi, dan penjaga pasti curiga kalau tiba-tiba ada lelaki asing yang keluar, kita hapus di mobil saja." Awalnya Taeyong menolak, tapi mau bagaimana lagi?
Jadi ia pergi mengganti bajunya dengan langkah tertatih, kemudian kembali lagi dengan Seulgi yang sudah membereskan seluruh barang bawaan mereka. "Ayo keluar Tae," mereka berjalan bersisian sampai di lobi, Seulgi menatap Taeyong khawatir. "Apa sebaiknya kita ke klinik? Kau terlihat sangat kesusahan?"
Hubungan mereka sudah lebih dekat daripada sekedar asisten dan modelnya, maka dari itu Seulgi selalu cemas apabila Taeyong sakit apalagi kalau disebabkan aktivitasnya sebagai model. "Kau tunggu disini ya, aku akan mengambil mobil," memang hari ini Taeyong pergi berdua saja dengan Seulgi, paman Gong mengantar ayahnya karena sopir sang ayah yang ada keperluan mendadak, jadi Seulgi yang bertanggung jawab. "Jangan lama-lama noona," rajuk Taeyong tentu saja dengan suara pelan supaya tidak ada yang mendengarnya.
Ia menunggu sambil menyandar pada dinding, ia memandangi ponselnya dan membaca chat dari teman-temannya.
"Hai!" suara ceria namun manly terdengar dari balik badannya, Taeyong langsung membalikkan badannya. "Ah, kebetulan sekali aku beruntung bisa menemuimu Jennie-ssi, biasanya kau sudah pulang,"
Demi Seulgi yang kadang lebih manly dari dirinya! Sedang apa Johnny Seo berdiri di hadapannya dan mengajaknya mengobrol? "Ini pertama kali kita mengobrol langsung ya? Aku Johnny Seo," denga gestur kaku Taeyong membalas jabat tangan Johnny, "Jennie Lee,"
Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya Johnny melepaskan tangan Jennie, "Kalau dilihat dari jarak sedekat ini, kau memang benar-benar cantik." Puji Johnny tulus, Taeyong menampilkan senyum tipis sambil merapal doa dalam hati supaya Seulgi cepat datang. Ia tidak boleh tertarik terlalu dalam pada Johnny, karena ia tahu lelaki itu straight dan perasaannya itu pasti tidak pernah terbalas kalau lelaki itu tahu identitas aslinya.
"Sebenarnya ada suatu hal yang sudah dari lama ingin aku lakukan, tapi aku selalu gagal menemuimu. Mengenai kerjasama dengan perusahaan dimana kau bekerja sekarang, aku ingin membicarakan hal penting bersamamu Jennie-ssi. Tolong jangan berprasangka buruk, hanya sekedar mengobrol saja, kau boleh mengajak asistenmu atau siapapun. Ini kartu namaku, silahkan menghubungiku bila kau berniat," Taeyong menerima kartu nama berwarna biru itu, "N—ne, akan aku pikirkan,"
Lawan bicaranya tersenyum puas, "Terima kasih, ah, sepertinya asistenmu sudah menunggu," Taeyong membalikkan badannya, benar, mobil Seulgi sudah berhenti di depan lobi. "A—aku duluan, Johnny-ssi," buru-buru ia berjalan dengan langkah sedikit dipercepat menuju luar lobi.
"Eoh, dia sudah bisa berjalan?" Johnny menoleh sedikit terkejut karena mendapati adiknya yang sekarang malah meminum sekaleng jus buah, entah darimana. "Astaga Jay, bukankah aku sudah bilang untuk menunggu? Dan apa maksudmu bisa berjalan? Siapa yang kau maksud?"
Jaehyun menatap lurus ke arah lobi, "Hyung terlalu lama membuatku menunggu, astaga memang urusan bisnis selalu membosankan seperti ini ya? Aku bahkan sudah memutari studio ini tapi hyung belum selesai, jadi aku susul saja." bocah itu merajuk, Johnny hanya menatapnya datar, sudah terlalu terbiasa dengan sikap adiknya yang kadang tidak sesuai muka dan ukuran badan. "Ah, itu tadi, Jennie tergelincir di toilet. Jadi kutolong saja, ternyata ia sudah bisa berjalan padahal tadi harus kugendong," jawab Jaehyun polos.
Dan entah mengapa jawaban itu membuat Johnny sedikit kesal, "Mwo?! Untuk apa kau menggendongnya?" tanpa sadar nada suaranya naik sedikit, Jaehyun berdecak kesal, "Lalu aku harus apa? Membiarkannya kesakitan begitu? Aish, aku bukan orang seperti itu. Sudah ayo pulang, hyung bilang akan pulang setelah mengobrol dengannya bukan? Kajja!"
Johnny tidak tahu mengapa ia begitu kesal dengan adiknya.
Dan Jaehyun juga tidak tahu mengapa ia benci fakta kalau kakaknya baru saja berbicara panjang lebar dengan Jennie.
TBC
Weeww cukup panjang chapt ini kkkk, makanya agak lama updatenya apalagi aku lagi uas ;_; oiya karena pairnya johnjaeyong jadi ya begitu, ngga Cuma jaeyong aja/johnyong aja disini kkkk XD
asdfghjkl sialan sekali comeback nct ilicil ini ya Allah, keterlaluan! seksi;_; good thing bajunya akhirnya waras ya Allah;_; menurut kalian lagu apa yang paling bagus? aku ngeplay back 2 u sampai rusak kali wkwk. dan baby don't like it, errrr lee taeyong mark lee kayanya kalian innocent deh kok jadi kaya gitu liriknya so kinky T_T wkwk. ayo share lagu apa yang paling kalian suka XD
anyway, give me feedback dong biar aku semangat lanjutinnya XD
Review?
