Sweet Blood Red Crystal

Part 1 : Different World

Hoseok terdiam menatap hamparan hutan yang luas dihadapannya. Pepohonan yang mati dan bahkan binatang tak terlihat sama sekali. Alam di dunia ini kini terlihat mati mengenaskan parahnya Hoseok sendiri tidak bisa mengubah atau memperbaiki semuanya seperti sebelumnya. Hoseok merasa gagal menjadi pemimpin.

Nasib kehidupan ini ada ditangan pemuda yang bahkan tidak Hoseok kenal, yang ada di pikiran Hoseok saat ini adalah. Apakah pemuda itu bersedia membangkitkan lagi dunia Vampire? sepertinya tidak. Itu konyol sekali.

Hoseok melangkah terburu buru kearah sebuah ruangan yang terdapat banyak kertas mantra tertempel di pintu itu.

Dengan 1 gebrakkan, semua kertas yang tertempel disana menghilang dan dengan cepat Hoseok melangkah masuk kedalam ruangan itu lalu bergegas mengambil sebuah brangkas yang tersimpan disana.

Saat Hoseok berjalan keluar dari ruangan itu, Hoseok melihat Namjoon dan Yoongi sudah berada diambang pintu.

"Apa aku mengganggu kalian?" Hoseok tersenyum menatap kedua Vampire muda yang sekarang sudah menjadi temannya.

"Ehm ya sedikit" Namjoon terlihat mengusap tengkuknya, berusaha tidak menyinggung Hoseok

"Apa yang akan kau lakukan dengan benda itu?" Yoongi menautkan alisnya melihat benda yang dipegang Hoseok dengan erat.

"Aku hanya ingin memastikan sesuatu.. dan maaf aku membangunkan kalian semua" Hoseok melirik Seokjin dan Taehyung yang kini menghampiri mereka bertiga.

"Apa yang terjadi?" Hoseok menggelengkan kepalanya pelan saat mendengar pertanyaan dari Jin.

"Kukira rumah ini diserang" Taehyung menatap blank keempat temannya yang kini terlihat memutar bola matanya malas.

"Ada yang ingin aku bicarakan kepada kalian, tapi bisakah kita tidak bicara disini?" Hoseok menatap keempat temannya dengan raut wajah serius dan dibalas anggukan kepala dari mereka semua

.

.

Hoseok menatap keempat temannya yang saat ini sedang duduk mengelilingi meja bundar dan brangkas yang tadi Hoseok pegang ada di atas meja bundar ini.

Dengan perlahan Hoseok membuka brangkas itu dan betapa terkejutnya dia saat melihat benda yang berada di dalam brangkas itu.

"Astaga! kemana crystal itu, aku yakin sekali aku meletakkannya di dalam sini dan ruangan ini juga sudah aku beri mantra agar tak ada yang bisa memasuki ruangan ini tapi bagaimana bisa tidak ada!" Hoseok menggeram frustasi saat mengetahui Red Crystal yang dia simpan tidak ada di dalam brangkas melainkan hanya sebuah kertas hitam yang kosong.

"Apa maksudmu? Jangan bilang kalau Crystal itu hilang lagi" Hoseok menggeleng pasrah saat mendengar pertanyaan Yoongi. Kali ini Hoseok benar benar merasa gagal dan tidak berguna.

"Lalu ini maksudnya apa?" Namjoon mengambil dan menatap kertas hitam yang berada di dalam brangkas itu.

"Tunggu sebentar.. aku akan segera kembali" Semua mata kini menatap Jin yang terlihat berlari keluar ruangan lalu kembali lagi dengan membawa sebuah mangkuk besar berisikan air.

"Apa yang akan kau lakukan dengan air itu?" Taehyung menatap ragu air yang dibawa oleh Jin. Tanpa menjawab pertanyaan dan tatapan bingung dari keempat temannya, Jin mengambil alih kertas hitam dari tangan Namjoon lalu merendamnya ke dalam air. Semua mata kini menatap kertas hitam yang terendam didalam mangkuk besar berisikan air itu.

Perlahan warna hitam dari kertas itu terlarut dalam air dan kertas itu berubah menjadi kertas putih biasa, tetapi air itu tetap jernih dan tidak berubah jadi hitam seperti seharusnya. Dan dengan perlahan pula, muncul sebuah tulisan 'Park'.

"Park? Apa maksudnya?" Taehyung menatap bingung kertas itu. Keempat Vampire lainnya hanya diam menatap apa yang mereka lihat. Tiba tiba sebuah cahaya muncul dan keluar dari dalam mangkuk itu. Keempat Vampire muda itu terkejut melihat cahaya itu kecuali Hoseok yang terlihat biasa saja saat cahaya itu muncul.

"Crystal itu-"

"Crystal itu sudah ada ditempat yang aman" Suara dari cahaya itu memotong ucapan ucapan Hoseok, membuat semua yang berada disana menatap bingung cahaya itu.

"Bagaimana mungkin? Ruangan ini sudah aku mantrai dan tidak ada yang bisa masuk ke sini"

"Kau tidak perlu tau hal itu."

"Apa maksud dari tulisan ini? Park?" Yoongi tanpa tetapi pandangannya tetap menatap lekat kertas itu.

"Apakah tulisan ini ada hubungannya dengan pemuda yang diramalkan itu? seperti... marga dari pemuda itu?" Semua mata kini menatap Namjoon lalu mengalihkan pandangannya ke kertas itu.

"Kenapa tidak kalian pastikan sendiri?"

"Kami sudah mencarinya tapi hasilnya nihil kami tidak-"

"Pemuda itu tidak tinggal di dunia ini" Ucapan Namjoon terpotong dengan ucapan cahaya itu. Kini semua mata menatap Cahaya itu, sangat sulit untuk di mengerti.

"Apa maksudmu?" Hoseok kini menatap tajam cahaya itu, dia serasa dipermainkan dengan mudah oleh cahaya itu.

"Itu akan ku jelaskan besok, istirahatlah. Semuanya baru akan dimulai besok, jadi bersiaplah" Seketika cahaya itu menghilang di hadapan mereka begitu saja. Meninggalkan kelima Vampire tampan itu dengan segala pemikirannya.

"Aku merasa dipermainkan. cih" Hoseok berdecih kesal. Entah kenapa selama ini dia mau saja menurut dengan cahaya bodoh itu.

"Hanya dia satu satunya petunjuk yang bisa menuntun kita, jadi ikuti saja apa yang dia ucapkan" Yoongi menatap datar Hoseok dan teman temannya yang terlihat memikirkan sesuatu

"Kita harus bersiap, jadi cepat semuanya istirahat"

"Aku minta maaf... Seharusnya aku tidak melibatkan kalian dalam hal ini" Hoseok tertunduk, sungkan untuk menatap keempat temannya.

"Sudahlah, Ini juga adalah tanggung jawab kami, Crystal ini juga bagianbagian dari kami.." Namjoon menepuk pelan pundak Hoseok dan mengembangkan senyumnya untuk pemuda itu.

"Aku sangat berhutang kepada kalian" Hoseok menatap keempat temannya yang juga menatapnya sambil tersenyum menenangkan.

Hoseok dan teman temannya dengan cepat pergi ke kamar mereka masing masing. Kecuali Yoongi yang kembali duduk di tempat mereka tadi berkumpul sambil menatap kertas yang terendam di mangkuk itu. Yoongi sama sekali tidak ada niatan untuk kembali ke kamarnya.

Matanya mematai kertas itu yang kini sedikit bercahaya lalu memunculkan sebuah gambar seperti sebuah mata dengan sesuatu yang melingkar di bagian irisnya dengan Indah.

Karna penasaran Yoongi menyentuh kertas itu dan menenggelamkan kembali kertas itu ke air -karna tadi posisi kertas itu mengapung- dan secara perlahan gambar itu berubah menjadi gambar sebuah sketsa wajah yang manis dan senyum yang Indah dengan mata yang sama persis seperti gambar tadi.

Sketsa wajah itu seperti menatap Yoongi dengan hangat dan tersenyum kepada Vampire tampan itu. Tanpa Yoongi sadari bibirnya sedikit terangkat mengukir sebuah senyuman yang jarang atau bahkan tidak pernah dia tunjukan.

'manis' itulah kesan pertama Yoongi saat melihat gambar sketsa itu. Lalu Yoongi kembali menyentuh kertas itu dan menenggelamkan lagi kertas itu penasaran apa lagi yang akan muncul di kertas itu. Tetapi yang dia dapatkan hanya kertas kosong biasa.

Tak ada gambar ataupun cahaya yang keluar dari kertas itu. Dan itu membuat Vampire tampan itu kecewa lalu melangkah meninggalkan tempat itu dengan putus asa.

Tanpa dia sadari, cahaya yang tadi muncul di hadapan Yoongi dan keempat temannya itu tidak benar benar pergi. Dan sedari tadi cahaya itu memperhatikan Yoongi yang terlihat serius dengan kertas yang terendam itu.

"Sudah kuduga... ini akan semakin sulit.."

.

.

.

.

.

Saat ini Hoseok dan keempat Vampire lain terlihat berkumpul di kamar Hoseok seperti tadi malam. Memperhatikan cahaya itu yang menjelaskan panjang lebar kepada mereka.

"Tempelkan kertas itu di cermin" Hoseok menempelkan kertas itu di cermin sesuai dengan perintah cahaya itu. Cermin yang tertempel kertas itu tiba tiba bercahaya sangat terang menyilaukan dan seperti membentuk sebuah jalan.

"Ini adalah jalan tercepat untuk dapat sampai disana, sebenarnya ada dua jalan, Tetapi jalan yang satu itu mungkin sangat merepotkan jadi aku memberi kalian jalan yang termudah. Jangan membunuh siapapun. Jangan biarkan Vampire lain masuk ke dunia itu.

Kalian hanya punya waktu sampai Bulan Purnama merah sempurna muncul jika lewat dari itu maka semuanya terlambat, karna Sang pangeran-adik Hoseok- pasti tidak akan tinggal diam. Dan dia akan melakukan apapun saat waktu itu tiba" Kelima Vampire itu saling menatap lalu menatap cahaya itu seakan mereka mengerti.

"Bagaimana jika pemuda itu tidak mau.. atau ehm kalian pasti mengerti maksudku" Taehyung menatap mereka gelisah dan yang lainnya terlihat ikut gelisah, bisa diibaratkan mereka adalah predator dan pemuda itu adalah mangsa mereka, Mangsa mana yang mau membantu predator mengingat suatu saat Vampire itu bisa saja memangsa pemuda itu entah sadar atau tidak sadar.

"Rebut hatinya, luluhkan dia dan buat dia bersedia membantu kalian. Mungkin itu sulit tapi aku yakin kalian atau mungkin salah satu dari kalian... bisa meluluhkannya"

"Pergilah, waktu kalian tidak banyak"

Kelima Vampire itu terlihat memasuki sebuah jalan yang tercipta di cermin itu. Dan mulai memasuki dunia yang berbeda.

"Semoga berhasil"

.

.

.

.

.

.

10 Juni 2016

"Park Jimin! Cepat kesini!" Seorang wanita paruh baya terlihat meneriaki keponakannya dari Pekarangan rumah yang cukup besar itu.

"Iya bibi! ada apa?!" Tak lama setelah diteriaki, seorang pemuda manis bersuari silver terlihat muncul dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua.

"Kemari sayang, bantu bibimu ini Jiminie!"

"Bagaimana jika aku tidak mau?!" Dari jendela kamarnya Jimin terlihat menarik turunkan alisnya menjawab ucapan bibinya tercinta.

Wanita paruh baya itu terlihat memutar bola matanya malas melihat tingkah menyebalkan keponakannya. Dia berjanji jika Jimin ada di hadapannya saat ini dia akan langsung menjewer telinga anak itu.

"Cepat turun! atau bibi pulang sekarang!" Mendengar penuturan bibinya, dengan cepat Jimin turun ke bawah dan menghampiri bibinya yang berada di pekarangan rumahnya.

Jimin, pemuda manis bersurai silver itu tinggal seorang diri di rumah yang baru dia tempati sebulan yang lalu. Orang tua Jimin sudah meninggal ketika Jimin berusia 10 tahun dan sejak saat itu Jimin tinggal berdua dengan bibinya.

Belum lama ini ada seorang lelaki paruh baya yang mendatangi Jimin dan mengatakan jika orang tua Jimin sebelumnya membeli sebuah rumah dan belum ditempati cukup lama jadi Jimin lah yang menempati rumah itu, sendirian. Bayangkan! Sendirian dirumah yang sebesar itu kawan kawan.

Jimin sudah kesekian kalinya meminta bibinya untuk tinggal bersamanya tetapi bibinya menolak dengan alasan tidak bisa meninggalkan rumah lamanya dan juga kenangan yang tersimpan dirumah itu. Tetapi setiap pagi hingga sore hari bibinya selalu datang untuk menemui Jimin untuk memastikan keponakan kesayangannya ini baik baik saja.

Semenjak Jimin menempati rumah ini, Pemuda manis itu merasa seperti ada yang memperhatikannya ketika malam hari tapi tak ada siapapun disini. Bahkan hampir setiap malam ketika pemuda manis itu sedang tertidur, dia selalu merasakan keberadaan orang lain di kamarnya tapi selalu sulit untuknya bangun atau bahkan membuka mata. Hal itu cukup membuat Jimin terganggu.

.

..

.

Kauu tau hyung, Tetangga baru kita aromanya sangat kuat dan... hhh menyegarkan" Taehyung memejamkan matanya menikmati aroma menyegarkan yang menguar kuat di penciumannya

"Jika seperti ini terus aku tidak akan bisa bertahan" Jin ikut memejamkan matanya mencoba untuk bertahan sebelum jiwa liarnya menguasai dirinya.

Tidak hanya mereka berdua yang mengalaminya tetapi kedua temannya yang lain juga ikut mengalaminya, mencoba bertahan demi tujuan mereka datang kesini yang sudah mereka tentukan.

Kecuali salah satu pemuda yang terlihat biasa saja menatap datar keempat temannya. Sebenarnya terselip sedikit perasaan yang sama seperti keempat temannya tetapi ada satu hal yang membuatnya tidak ingin merasakan lebih jauh lagi. Dengan cepat pemuda itu meninggalkan teman temannya dan pergi ke kamarnya.

Dari jendela kamarnya pemuda itu dapat memperhatikan seorang pemuda manis yang terlihat berdebat dengan wanita paruh baya dan sesekali pemuda manis itu menggembungkan pipinya atau mempoutkan bibirnya yang membuatnya terlihat sangat imut dan menggemaskan di mata pemuda yang saat ini sedang memperhatikannya.

.

.

.

.

.

Hutan kebencian adalah hutan yang hanya berisikan pohon yang tak berdaun dan juga lumpur penghisap. Tak ada siapapun yang memasuki hutan itu dan keluar dengan selamat. Kekuatan ilusi yang ada di hutan itu sangat kuat.

Rasa ketakutan yang ada didalam diri orang yang memasuki hutan itu membuatnya merasakan hal yang dia takuti itu terasa seperti nyata.

Terdapat sebuah istana yang berada dibalik hutan itu. Istana yang di selimuti aura kegelapan membuat siapapun enggan untuk menempati atau bahkan mendekati istana itu. Dan disitulah Biang dari semua kekacauan ini berasal.

Didalam istana itu terlihat pemuda tampan memperhatikan cermin dihadapannya yang memunculkan bayangan sebuah pusaran air yang cukup kencang. Entah apa yang menarik dari bayangan itu tapi pemuda tampan itu terlihat sangat tertarik dengan bayangan yang terpantul di cermin itu.

"Sudah kalian temukan?"

"Sudah Tuan, ada sesuatu yang cukup menarik dan anda harus tau ini" Pemuda itu menyeringai saat salah satu anak buahnya membisikkan sesuatu ke telinganya. Matanya berkilat merah.

"Kalian, pergi kesana dan bawa dia padaku" beberapa Vampire itu dengan patuh pergi sesuai dengan perintah pemuda itu.

"Waktunya tinggal sebentar lagi... dan semuanya baru akan dimulai.. " Pemuda itu menatap cermin yang kini sudah berubah dan memunculkan sebuah bayangan Bulan Purnama merah sempurna yang akan terjadi sebentar lagi.

.

.

.

.

Jimin merebahkan dirinya dengan nyaman di ranjang miliknya dan segera pergi ke dunia mimpi karna saat ini sudah menunjukan pukul 11 malam dan besok dia harus bangun sangat pagi untuk membantu bibinya.

Angin berhembus kencang menyapu lembut kulit mulus pemuda manis yang sudah berada di alam mimpinya.

Bertepatan dengan hal itu, seorang pemuda terlihat berjalan perlahan mendekati ranjang Jimin, menatap pemuda manis itu dengan tajam. Tangannya bergerak untuk merapihkan selimut yang menutupi tubuh mungil pemuda manis itu.

Dengan perlahan pemuda itu merebahkan dirinya di samping Jimin yang tertidur nyenyak. Tangan pemuda itu bergerak perlahan untuk mengusap lembut surai silver Jimin.

Tanpa sadar Jimin menggeliat nyaman lalu memiringkan tubuhnya menghadap pemuda itu. Tangan pemuda itu masih bergerak untuk mengusap lembut surai Jimin membuat Jimin merasa nyaman lalu menenggelamkan wajahnya di dada pemuda itu.

Pemuda itu mengangkat sudut bibirnya mengukir sebuah senyuman dan matanya tak lepas menatap hangat wajah manis Jimin yang tertidur.

Ini sudah kebiasaannya, diam diam datang ke kamar Jimin dan pergi dari kamar Jimin saat pemuda manis itu sudah ada tanda tanda akan bangun. Tak ada yang lebih dilakukan pemuda itu selain memperhatikan wajah Jimin ketika tidur dan mengusap surai silver Jimin yang

selalu terasa lembut ditangannya dan juga sesekali mengecup kening Jimin atau pipi chubby Jimin.

Mata pemuda itu kini mematai bibir softpink yang terlihat menggoda di matanya. Ingin sekali pemuda itu menyicipi bibir menggoda itu tapi ada sesuatu hal yang membuatnya tidak melakukan itu.

'mungkin sedikit tidak masalah' itulah yang ada dipikiran pemuda itu.

Wajah pemuda itu kini mulai mendekat ke wajah manis Jimin. Jarak wajah mereka hanya tinggal 5 cm sedikit lagi bibir pemuda itu akan mendarat di bibir Jimin jika saja...

"ugh.." Jimin membuka matanya dan terkejut saat melihat orang asing berada di kamarnya terlebih lagi wajah orang itu saat ini sangat dekat dengan wajahnya.

Mata mereka bertemu, saling terpesona dengan tatapan masing masing. Pipi chubby Jimin merona saat pemuda dihadapannya ini menatapnya dengan tajam dengan jarak yang sangat dekat. Jantungnya berdetak kencang dan rasanya Jimin ingin sekali mendorong pemuda itu menjauh tetapi tatapan pemuda itu seakan membuat Jimin tidak bisa bergeming.

Dengan cepat pemuda itu melesat menjauh dari Jimin, bergegas pergi tetapi dengan cepat juga Jimin menahan lengannya.

"Apakah kau yang selalu bersamaku setiap malam ketika aku tertidur?" Pemuda itu kini kembali menatap Jimin dengan tajam sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan pemuda manis itu.

Pemuda itu menarik tubuh Jimin lalu menghimpitnya di dinding. Menatap lamat mata Jimin yang kini juga menatapnya takut.

Pemuda itu dapat melihat 3 benda berkilau yang melingkari kedua iris mata Indah Jimin. Pemuda itu tersenyum hangat melihat hal itu. Dengan perlahan pemuda itu mendekatkan wajahnya dengan wajah Jimin lalu mendaratkan bibirnya di bibir softpink Jimin.

Hal itu membuat Jimin terkejut bukan main. Jantungnya kembali berdetak kencang, nafasnya tercekat dan pikirannya blank tidak tau harus berbuat apa.

Jimin mulai memejamkan matanya, tangannya mencengkram erat lengan pemuda itu.

Pemuda itu menjauhkan kembali wajahnya dari wajah Jimin, terkekeh kecil melihat Jimin yang memejamkan matanya sangat erat dan ketakutan.

"Kau ingin aku menciummu lagi?" Jimin bergidik ngeri saat suara serak mengalun Indah di telinganya. Wajahnya merona merah untuk kesekian kalinya.

"Kau siapa?" Jimin menatap takut pemuda yang saat ini sedang tersenyum di hadapannya.

Pemuda itu hanya diam, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Jimin dan membisikkan sesuatu kepada Jimin.

.

.

.

Tbc

Makasih udah mampir wkwk

Maap klo ada yang typo atau semacamnya :'v

sesungguhnya aku hanya manusia biasa :'v

Di ff ini ada 2 latar tempat kejadian yang selang seling muncul, Istananya si pangeran/dunia vampire dunia manusia.

jadi nanti aku usahain untuk ga ngebingungin hehe :'v

.

.

btw selamat taun baruu :v

.

.

see you