FIFTY SHADES OF FREED
-TRILOGY OF FIFTY SHADES OF GREY karya EL James-
[REMAKE CHANBAEK VERSION – GS]
.
Chapter 2
Aku terbangun tiba-tiba, mimpi erotisku langsung terlupakan.
"Tadinya aku tengkurap. Aku pasti berbalik saat aku tidur tadi." Aku berbisik lemah sebagai pembelaan.
Di matanya berkobar kemarahan. Ia meraih ke bawah, memungut atasan bikiniku dari kursinya dan melemparkannya padaku.
"Pakai ini!" desisnya.
"Chanyeol, tak ada yang memperhatikan."
"Percayalah padaku. Mereka memperhatikan. Aku yakin Taylor dan anggota keamanan menikmati pertunjukkan ini!" geramnya.
Sial! Mengapa aku terus melupakan keberadaan mereka? Aku menyentuh payudaraku karena panik, menutupi mereka. Sejak terjadinya sabotase pada Charlie Tango, kami selalu dikuti keamanan sialan itu.
"Ya," Chanyeol menggeram. "Dan beberapa paparazzi brengsek bisa saja sudah mendapatkan fotomu juga. Apa kau ingin berada di sampul majalah Star? Tanpa pakaian untuk kali ini?"
Sial! Paparazzi! Brengsek! Saat aku terburu-buru mengenakan atasanku, wajahku memucat. Aku merinding. Memori tidak menyenangkan saat aku dikepung oleh paparazzi diluar SIP setelah pertunangan kami terbongkar datang tanpa diundang kedalam pikiranku - semua hal tentang Chanyeol Park.
"L'addition!" (bilnya!) Chanyeol membentak pelayan yang sedang lewat. "Kita pergi," katanya padaku.
"Sekarang?"
"Ya. Sekarang."
Oh sial, dia sedang tak bisa didebat.
Ia mengenakan lagi celana pendeknya, meskipun celana renangnya sangat basah, kemudian T-shirt abua - bunya. Pelayan kembali beberapa saat kemudian dengan kartu kreditnya dan bilnya.
Dengan malas, aku menggeliat kedalam gaun musim panasku yang berwarna turquoise dan melangkah kedalam sandalku. Setelah pelayan pergi, Chanyeol mengambil buku dan BlackBerry-nya dan menutupi kemarahannya dibelakang kacamata aviator miliknya. Ia meremang dengan tensi dan kemarahan. Hatiku ciut. Setiap wanita lain di pantai itu tidak mengenakan pakaian - hal itu bukanlah kejahatan besar.
Faktanya aku terlihat aneh dengan atasan bikini yang kukenakan. Aku mendesah dalam hati, jiwaku tenggelam. Aku pikir Chanyeol akan melihat sisi kelucuannya...sejenis itulah...mungkin akan terjadi jika aku tetap tengkurap, tapi selera humornya sudah menguap.
"Kumohon jangan marah padaku," Aku berbisik, mengambil buku dan BlackBerry-nya dan meletakkannya di ranselku.
"Terlambat untuk itu," katanya pelan—terlalu pelan. "Ayo." Ia mengambil tanganku, kemudian memberi sinyal ke Taylor dan dua pengikutnya, pihak keamanan Perancis Philippe dan Gaston.
Anehnya, mereka berdua kembar identik. Mereka sudah dengan sabar mengawasi kami dan orang lain yang berada di pantai dari beranda. Mengapa aku selalu melupakan keberadaan mereka? Bagaimana bisa? Taylor memasang tampang keras dibalik kacamatanya yang gelap. Sial, ia juga marah padaku. Aku masih belum terbiasa melihatnya berpakaian sangat santai dengan celana pendek dan polo shirt berwarna hitam.
Chanyeol membawaku menuju hotel, melewati lobby, dan keluar menuju jalanan. Ia tetap diam, geram dan bertempramen buruk, dan semua itu salahku. Taylor dan timnya membayangi kami.
"Mau kemana kita?" Aku bertanya cepat, menatap kearahnya.
"Kembali ke kapal." Ia tak melihat kearahku.
Aku tak tahu pukul berapa saat ini. Aku rasa sudah pukul lima atau enam sore. Saat kami sampai di pelabuhan, Chanyeol membawaku ke dermaga dimana motorboat dan Jet Ski milik "the Fair Lady" ditambatkan. Saat Chanyeol melepas ikatan Jet Ski, aku memberikan ranselku pada Taylor. Aku menatap gugup kearahnya, tapi seperti Chanyeol, ekspresinya tak menunjukkan apapun. Aku merona, memikirkan apa yang sudah ia lihat di pantai.
"Ini untukmu, Mrs. Park." Taylor memberikanku jaket pelampung dari motorboat, dan aku dengan patuh mengenakannya. Mengapa hanya aku seorang yang harus mengenakan jaket keselamatan?
Chanyeol dan Taylor saling bertukar pandangan yang aneh. Astaga, apakah ia marah pada Taylor juga?
Kemudian Chanyeol memeriksa pengikat jaket kesematanku, ingin mengencangkan tali bagian tengah. "Kau saja yang lakukan," Ia menggumam cemberut, masih tak mau menatapku. Sial.
Ia memanjat dengan anggun kedalam Jet Ski dan mengulurkan tangannya padaku agar aku bergabung dengannya. Kugenggam erat-erat, aku memutuskan untuk berjalan kearah kursi dibelakangnya tanpa terjatuh ke air saat Taylor dan si kembar naik ke motorboat. Chanyeol mendorong Jet Ski menjauh dari dermaga, dan benda itu mengapung dengan lembut.
"Pegangan," perintahnya, dan aku melingkarkan tanganku ditubuhnya. Ini adalah bagian favoritku dari berkelana menggunakan Jet Ski. Aku memeluknya erat, hidungku menghisap harum punggungnya, heran pada saat-saat ia tidak memberi toleransi padaku untuk memeluknya seperti ini. Ia beraroma...Chanyeol dan laut.
Maafkan aku, Chanyeol, please?
Ia menegang. "Jangan sampai jatuh," katanya, nadanya lebih lembut. Aku mencium punggungnya dan meletakkan pipiku di tubuhnya, menatap kearah dermaga dimana beberapa turis berkumpul untuk menonton pertunjukkan.
Chanyeol memutar kuncinya dan mesinnya meraung hidup. Dengan sekali putaran di akselerator, Jet
Ski berjalan maju dan cepat melintasi air dingin yang gelap, menjauhi dermaga dan kearah the Fair Lady. Aku memeluknya erat. Aku suka ini - begitu menyenangkan. Setiap otot di tubuh Chanyeol menjadi tegang saat aku berpegangan padanya.
Taylor mengikuti dengan motorboatnya. Chanyeol melirik kearahnya kemudian berakselerasi lagi, dan kami melaju dengan cepat, bergerak diatas permukaan air layaknya batu yang dilempar ke air dengan ahli. Taylor menggelengkan kepalanya saat mengundurkan diri dengan kesal dan bergerak kearah kapal pesiar, saat Chanyeol melaju melewati the Fair Lady dan bergerak kearah laut lepas.
Cipratan air laut mengenai kami, angin yang hangat menerpa wajahku dan menerbangkan rambut kuncirku. Ini sangat menyenangkan. Mungkin sensasi dari ini akan menjauhkan suasana buruk Chanyeol. Aku tak dapat melihat wajahnya, tapi aku tahu ia menikmati dirinya sendiri - bebas, berekspresi sesuai dengan umurnya.
Ia mengemudi dalam lingkaran besar dan aku memperhatikan garis pantai - kapal-kapal di dermaga, mosaik berwarna kuning, putih dan berwarna pasir dari kantor dan apartemen, dan gunung-gungung berkarang dibelakangnya. Semua itu terlihat berantakan - tidak seperti blok teratur yang biasa kulihat - tapi sangat indah seperti lukisan. Chanyeol melirik dari bahunya kearahku, dan ada senyum misterius bermain di bibirnya.
"Lagi?" ia berteriak melawan suara bising dari mesin.
Aku mengangguk antusias. Jawabannya berupa senyuman menawan, dan ia melepas rem dan meluncur disekitar Fair Lady dan kearah laut lepas sekali lagi...
dan aku pikir aku dimaafkan.
.
.
"Kau terbakar matahari," kata Chanyeol ditengah-tengah membukakan jaket keselamatanku. Aku gelisah saat mencoba menebak moodnya. Kami sudah berada di geladak kapal pesiar, dan salah satu pelayan berdiri diam didekat kami, menunggu jaket keselamatanku terlepas. Chanyeol memberikan itu padanya.
"Apa ada lagi, Tuan?" pria muda itu bertanya. Aku menyukai aksen Perancisnya. Chanyeol melirikku, membuka kacamatanya, dan menyelipkannya di leher T-shirtnya, membiarkannya menggantung. "Kau mau minum?" ia bertanya padaku.
"Apa aku membutuhkannya?"
Ia memiringkan kepalanya ke satu sisi. "Mengapa kau berkata seperti itu?" Suaranya lembut.
"Kau tahu mengapa."
Ia membeku seperti sedang menimbang sesuatu dipikirannya.
Oh, apa yang sedang ia pikirkan?
"Dua gin dan tonic, please. Dan beberapa kacang dan zaitun," katanya pada pelayan, yang langsung mengangguk dan secepat itu pula menghilang.
"Kau pikir aku akan menghukummu?" suara Chanyeol selembut sutra.
"Kau mau?"
"Ya."
"Bagaimana?"
"Aku akan memikirkan sesuatu. Mungkin saat kau meminum minumanmu." Dan itu adalah perlakuan yang sensual. Aku menelan ludah, dan dewi batinku berkedip genit dari kursi berjemurnya saat ia sedang menangkap cahaya dengan reflektor silver yang diarahkan kelehernya.
Chanyeol membeku sekali lagi.
"Apa kau mau dihukum?"
Bagaimana ia bisa tahu? "Tergantung," gumamku, memerah.
"Pada?" Ia menyembunyikan senyumannya.
"Tergantung kau ingin menyakitiku atau tidak."
Bibirnya menekan ke garis lurus yang kaku, lelucon terlupakan. Ia maju dan mencium keningku.
"Baekhyun, kau istriku, bukan sub-ku. Aku tak pernah ingin menyakitimu. Kau harus mengetahuinya. Hanya...hanya saja jangan pernah membuka pakaianmu di depan umum. Aku tak mau foto telanjangmu ada di seluruh majalah. Kau juga tak menginginkan itu, dan aku yakin ibumu dan Siwon tak menginginkannya juga."
Oh! Siwon. Sial, ia menderita serangan jantung. Apa yang aku pikirkan? Aku menghukum diriku sendiri secara mental.
Pelayan muncul dengan membawa minuman kami dan makanan ringan dan menempatkannya di meja jati.
"Duduk," Chanyeol memerintah. Aku menurut apa yang ia perintahkan dan duduk di kursi direktur. Chanyeol duduk disebelahku dan memberikanku gin dan tonic.
"Bersulang, Mrs. Park."
"Bersulang, Mr. Park." Aku meneguk untuk pertama kalinya. Minuman ini meredakan dahaga, dingin dan lezat.
Saat aku memandangnya, ia memerhatikan aku perlahan, moodnya tak dapat ditebak. Sangat membuat frustasi...Aku tak tahu apakah ia masih marah atau tidak padaku. Aku menggunakan teknik pengalihan perhatianku yang sudah paten.
"Siapa pemilik kapal ini?" Tanyaku.
"Seorang bangsawan Inggris. Sir—seseorang-atau-lainnya. Kakek buyutnya membangun toko bahan makanan. Anak perempuannya menikah dengan salah satu dari Putra Mahkota Eropa."
Oh. "Luar biasa kaya?"
Ekspresi Chanyeol tiba-tiba waspada.
"Ya."
"Seperti dirimu,"
Aku menggumam.
"Dan seperti dirimu," Chanyeol berbisik dan memasukkan salah satu zaitun kedalam mulutnya. Aku berkedip cepat...gambaran dari dirinya mengenakan tuksedo dan rompi silver melintasi pikiranku...matanya terbakar dengan ketulusan saat ia menatapku saat upacara pernikahan kami.
"Semua milikku kini juga milikmu," katanya, suaranya terdengar jelas mengembalikan memori saat ia mengucap janji.
Semua milikku? Sial. "Terasa aneh. Dari tidak punya apa-apa hingga-" aku menyapukan tanganku ke sekeliling kami yang mewah-"memiliki segalanya."
"Kau akan terbiasa."
"Kupikir aku takkan pernah terbiasa dengan hal ini."
Taylor muncul di geladak. "Sir, ada panggilan untuk anda." Chanyeol membeku tapi mengambil BlackBerry yang disodorkan padanya.
"Park," bentaknya dan berdiri dari kursinya untuk berdiri dipinggir pesiar.
Aku menatap ke laut, memutar kembali percakapannya dengan Ros-kurasa- tangan kanannya. Aku kaya...sangat kaya. Aku tak melakukan apapun untuk menghasilkan semua uang ini...hanya dengan menikahi seorang pria kaya. Aku merinding saat pikiranku kembali pada percakapan kami mengenai perjanjian pranikah.
.
.
Saat itu hari Minggu setelah ulang tahunnya, dan kami duduk di meja makan menikmati sarapan...kami semua. Sehun, Luhan, Nyonya Park, dan aku berdebat mengenai baik buruknya bacon versus sosis, sedangkan Tuan Park dan Chanyeol membaca koran hari Minggu...
"Lihat ini," pekik Kyungsoo saat ia menaruh netbooknya di meja makan di depan kami semua. "Ada gosip di Nooz website tentang kau yang sudah bertunangan, Chanyeol."
"Secepat itu?" kata Nyonya Park terkejut. Kemudian bibirnya berkerut saat beberapa pikiran buruk melintasi kepalanya. Chanyeol membeku.
Kyungsoo membaca berita itu keras-keras. "Berita sudah sampai disini di "The Nooz" bahwa bujangan terbaik di Seattle, si Chanyeol Park, akhirnya sudah memutuskan dan lonceng pernikahan sudah menggema diudara. Tapi siapa gadis yang sangat sangat beruntung itu? The Nooz sedang melakukan perburuan. Taruhan bahwa gadis itu sekarang sedang membaca satu perjanjian pranikah yang luar biasa."
Kyungsoo terkikik kemudian terdiam saat Chanyeol melotot padanya. Hening menjalar, dan suhu di dapur Park turun hingga dibawah nol.
Oh tidak! Sebuah perjanjian pranikah? Pikiran itu tak pernah melintas di kepalaku. Aku menelan ludah, merasakan darah surut dari kepalaku. Kumohon bumi, telan aku sekarang! Chanyeol bergerak tak nyaman di kursinya saat aku menatap khawatir padanya.
"Tidak," ia menggumam padaku.
"Chanyeol," ucap Tuan Park lembut.
"Aku tak akan mendiskusikan ini lagi," ia membentak Tuan Park yang sedang menatap gugup padaku dan membuka mulutnya untuk berkata sesuatu.
"Tidak ada perjanjian pranikah!" Chanyeol hampir berteriak padanya dan dengan geram kembali menekuni korannya, mengacuhkan siapapun yang ada di ruang makan. Mereka lebih memperhatikan diriku dari pada dirinya...kemudian mengalihkan pandangan ke hal lain selain kami berdua.
"Chanyeol," Aku menggumam. "Aku akan menandatangani apapun yang kau dan ayahmu inginkan." Astaga, ini bukan pertama kalinya ia membuatku menandatangani sesuatu. Chanyeol mendongak dan menatap tajam padaku.
"Tidak!" bentaknya. Aku pucat lagi.
"Ini untuk melindungimu."
"Chanyeol, Baekhyun - Kurasa kalian harus mendiskusikan ini secara pribadi," Nyonya Park menegur kami. Ia menatap pada Tuan Park dan Kyungsoo. Oh dear, sepertinya mereka dalam masalah juga.
"Baekhyun, ini bukan tentang dirimu," Tuan Park menggumam meyakinkan. "Dan kumohon panggil aku Tuan Park."
Chanyeol menatap dingin ayahnya dan hatiku menciut. Sial...ia benar-benar marah.
Semua orang membangun percakapan yang sangat komikal, dan Kyungsoo dan Kate membersihkan meja.
"Tentu saja aku memilih sosis," seru Sehun.
Aku menatap pada jemariku yang berkait. Sial. Aku harap Tuan dan Nyonya Park tidak berpikir bahwa aku adalah seorang gold digger (wanita yang menikahi pria hanya karena uangnya). Chanyeol menggapai dan menggenggam kedua tanganku dengan lembut dengan satu tangannya.
"Hentikan itu."
Bagaimana ia bisa tahu apa yang aku pikirkan?
"Abaikan ayahku," Chanyeol berkata pelan jadi hanya aku yang dapat mendengarnya. "Ia sangat kesal pada Elena. Semua hal itu tertuju padaku. Aku harap ibuku tetap menutup mulutnya."
Aku tahu Chanyeol masih merasakan kepedihan dari 'pembicaraannya' dengan Tuan Park mengenai Elena kemarin malam.
"Ia bermaksud baik, Chanyeol. Kau sangat kaya, dan aku tidak membawa apapun kedalam pernikahan kita selain pinjaman biaya kuliahku."
Chanyeol menatapku, matanya suram. "Baekhyun, jika kau meninggalkanku, kau mungkin akan mengambil segalanya. Kau sudah meninggalkanku sebelumnya. Aku tahu rasanya."
Sial! "Hal itu berbeda," aku berbisik, bergerak karena keintensitasan dirinya. "Tapi...kau yang mungkin mau meninggalkanku." Pikiran itu membuatku mual. Ia mendengus dan menggelengkan kepalanya dengan jijik.
"Chanyeol, kau tahu aku mungkin akan melakukan sesuatu yang sangat bodoh - dan kau..." Aku menatap kebawah pada jemariku yang berkait, rasa sakit menjalar ditubuhku, dan aku tak bisa menyelesaikan kalimatku. Kehilangan Chanyeol...sial.
"Hentikan. Hentikan sekarang. Topik ini selesai, Baekhyun. Kita takkan membicarakan ini lagi. Tidak ada perjanjian pranikah. Tidak sekarang - tidak selamanya." Ia memberikan tatapan menyerahlah-sekarang padaku, yang mana membuatku terdiam. Kemudian berbalik kearah Nyonya Park. "Mom," katanya.
"Bisakah kita mengadakan pernikahan disini?"
.
.
Dan ia tak pernah membicarakan itu lagi. Faktanya setiap ada kesempatan ia mencoba meyakinkanku tentang kekayaannya...adalah milikku juga. Aku merinding saat aku membayangkan acara berbelanja gila yang Chanyeol perintihkan untukku dan Caroline Acton - pakar belanja dari Niemans - sebagai persiapan untuk bulan madu ini. Bikiniku saja berharga lima ratus empat puluh dollar. Maksudku, bikininya bagus, tapi sungguh - hal itu sangat menggelikan karena uang sebanyak itu digunakan untuk membeli kain berbentuk segitiga.
"Kau akan terbiasa," Chanyeol menginterupsi lamunanku saat ia kembali ke kursinya.
"Terbiasa?"
"Uang," katanya, memutar matanya.
Oh, Fifty, mungkin seiring dengan berjalannya waktu. Aku mendorong hidangan kecil yang berisikan almond dan kacang mende yang dibumbui dengan garam kearahnya.
"Your nuts, sir," (denotasi: Kacang untuk anda, Tuan; konotasi: Anda gila, Tuan) Kataku dengan wajah setenang yang kubisa buat, mencoba membawa sedikit lelucon kedalam percakapan kami setelah pemikiranku yang kelam dan kecerobohanku memilih bikini.
Ia menyengir. "Aku gila tentangmu." Ia mengambik sebuah almond, matanya berbinar dengan humor nakal saat ia menikmati lelucon kecilku. Ia menjilat bibirnya. "Habiskan minumanmu. Kita akan pergi tidur."
Apa?
"Minum," ucapnya tanpa suara padaku, matanya gelap.
Oh my, tatapan yang ia berikan padaku bisa menjadi satu-satunya penyebab pemanasan global. Aku mengangkat ginku dan mengosongkan gelasnya, tidak mengalihkan pandanganku darinya. Mulutnya terbuka, dan aku melihat ujung lidahnya berada diantara giginya. Ia tersenyum cabul kearahku. Dalam satu tegukan, ia berdiri dan membungkuk diatasku, menaruh tangannya di lengan kursi yang kududuki.
"Aku akan memberikan contoh darimu. Ayo," ia berbisik di telingaku. Aku tersentak..
"Ini bukan seperti yang kau pikirkan." Chanyeol tersenyum, mengulurkan tangannya padaku.
"Percayalah padaku." Ia terlihat sangat seksi dan riang. Mana mungkin aku menolaknya?
"Okay." Aku menaruh tanganku ditangannya, karena alasannya simpel, aku mempercayainya sepenuh jiwaku. Apa yang sudah ia rencanakan? Jantungku berdetak kencang dalam antisipasi.
Ia membawaku melewati geladak dan melewati pintu masuk kedalam ruang utama yang menonjol, mewah dan indah, lewat koridor, melalui ruang makan dan menuruni tangga menuju kabin utama. Kabin itu sudah dibersihkan sejak pagi dan ranjangnya sudah dirapikan. Ini adalah ruangan yang indah. Dengan dua tingkapan, satu di bagian kanan dan satu lagi di sisi kiri, ruangan ini secara elegan didekorasikan dengan furnitur kayu walnut gelap dengan dinding berwarna krem dan perabot indah berwarna emas dan merah.
Chanyeol melepaskan tanganku, menaikkan T-shirtnya keluar dari kepalanya, dan melemparkannya ke kursi. Ia melepas sandalnya dan melepaskan celana pendek dan celana renangnya dalam satu gerakan anggun. Oh my. Apakah aku akan pernah lelah melihatnya telanjang? Dia sungguh anggun dan seluruhnya milikku. Kulitnya bercahaya - ia juga terbakar matahari, dan rambutnya lebih panjang, melewati dahinya. Aku adalah seorang gadis yang amat sangat beruntung.
Ia memegang daguku, menariknya perlahan jadi aku berhenti menggigit bibirku dan mengusapkan jempolnya di bibir bawahku.
"Itu lebih baik." Ia berbalik dan berjalan kearah lemari pakaian yang sangat mengesankan yang berisi pakaian miliknya. Ia mengeluarkan dua pasang borgol besi dan sebuah penutup mata dari laci paling bawah.
Borgol! Kami belum pernah menggunakan borgol sebelumnya. Aku melirik cepat dan gugup kearah tempat tidur. Dimana dia akan mengaitkan borgol-borgol sialan itu? Ia berbalik dan menatap intens padaku, matanya gelap dan berkilat.
"Ini bisa jadi cukup menyakitkan. Benda ini bisa menyakiti kulitmu bila kau menariknya terlalu keras." Ia mengangkat pasang. "Tapi aku benar-benar ingin menggunakannya padamu sekarang." Sial. Mulutku menjadi kering.
"Ini." Ia berjalan maju dengan anggun dan menyerahkan sepasang padaku. "Apa kau ingin mencobanya terlebih dahulu?"
Benda ini terasa kuat, besi yang dingin. Sejenak, aku berharap aku tak pernah mengenakan benda ini seumur hidupku.
Chanyeol menatapku dengan intens.
"Dimana kuncinya?" Suaraku bergetar.
Ia mengulurkan kepalan tangannya, menunjukkan kunci logam kecil. "Ini adalah kunci untuk dua pasang borgol itu. Faktanya, ini juga kunci untuk semua pasang borgol."
Berapa pasang borgol yang ia miliki? Aku tak ingat melihat satupun di peti museumnya.
Ia mengelus pipiku dengan jari telunjuknya, menjalarkannya turun kebibirku. Ia mendekat seakan ingin menciumku.
"Apa kau ingin bermain?" ia bertanya, suaranya rendah, dan seluruh tubuhku bergerak kearahnya saat gairah membuncah diperutku.
"Ya," aku mendesah.
Ia tersenyum. "Bagus." Ia menanamkan ciuman selembut bulu di keningku. "Kita membutuhkan kata aman."
Apa?
"Kata 'berhenti' tak akan cukup karena kau mungkin akan mengatakan itu, tapi bukan itu yang kau ingin dan maksudkan sebenarnya." Ia menurunkan hidungnya kearah hidungku - satu-satunya kontak yang terjadi diantara kami.
Hatiku mulai berdetak cepat. Sial...Bagaimana bisa ia melakukan ini hanya dengan kata-kata?
"Ini tak akan menyakitkan. Ini akan intens. Sangat intens, karena aku takkan membiarkanmu bergerak. Okay?"
Oh my. Ini terdengar sangat panas. Nafasku terlalu keras. Sial, aku sudah terengah. Dewi batinku mengenakan perhiasan yang berkilap miliknya dan sedang pemanasan untuk menari rumba. Aku amat bersyukur telah menikah dengan pria ini, jika tidak hal ini mungkin sangat memalukan. Mataku turun kearah miliknya yang bergairah. "Okay." Suaraku pelan. "Pilih satu kata, Baekhyun." Oh...
"Kata aman," katanya lembut.
"Es loli." kataku, terengah.
"Es loli?" katanya, terhibur.
Ia nyengir saat mundur untuk menatap kearahku. "Pilihan yang menarik. Angkat tanganmu."
Aku menurut, dan Chanyeol memegang lipatan jahitan gaun musim panasku, mengangkatnya melewati kepalaku, dan menjatuhkannya ke lantai. Ia mengulurkan tangannya, dan aku menyerahkan kembali borgol itu padanya. Ia meletakkan kedua pasang borgol itu di meja bersama penutup mata dan merenggut selimut dari tempat tidur, membiarkannya jatuh ke lantai.
"Berbalik."
Aku berbalik, dan ia membuka atasan bikiniku jadi benda itu jatuh ke lantai.
"Besok, aku akan merekatkan benda ini ditubuhmu," ia menggerutu dan melepaskan ikat rambutku, membebaskan rambutku. Ia mengumpulkannya kedalam satu tangan dan menariknya lembut jadi aku mundur satu langkah kearahnya. Kearah dadanya. Kearah ereksinya. Aku terkejut saat ia menarik kepalaku kesatu sisi dan menciumi leherku.
"Kau sangat nakal," ia menggumam di telingaku, mengirimkan getaran nikmat ketubuhku.
"Ya," Aku berbisik.
"Hmm. Apa yang akan kita lakukan tentang hal itu?"
"Mencoba belajar membiasakannya," Aku mendesah. Kecupan lembut nan lesu darinya membuatku hampir gila. Ia tersenyum di leherku.
"Ah, Mrs. Park. Kau adalah seseorang yang selalu optimis."
Ia berdiri tegak. Mengambil rambutku, ia dengan perlahan memisahkannya menjadi tiga untai, mengepangnya dengan perlahan, dan kemudian mengikatkan ikat rambutku di ujungnya. Ia menarik untaian rambutku lembut dan turun ke telingaku. "Aku akan memberikanmu pelajaran," ia menggumam.
Tiba-tiba ia bergerak, memegang pinggangku, duduk di tempat tidur, dan menarikku melintas di lututnya jadi aku merasakan ereksinya menekan perutku. Ia menampar pantatku sekali, keras. Aku mendengking, kemudian aku berada pada posisi terlentang di tempat tidur, dan ia menatap kearahku, matanya berwarna abu-abu cair. Aku hampir terbakar.
"Apa kau tau betapa cantiknya dirimu?" Ia memainkan ujung jemarinya di pahaku jadi aku merasakan geli... diseluruh tubuhku. Tanpa mengalihkan pandangannya dariku, ia bangun dari tempat tidur dan mengambil kedua pasang borgol. Ia memegang kaki kiriku dan memasang satu borgol di pergelangan kakiku.
Oh!
Mengangkat kaki kananku, ia mengulangi prosesnya jadi aku memiliki sepasang borgol terpasang di pergelangan kakiku. Aku masih tidak mengerti dimana ia akan memasang benda itu.
"Duduk," ia memerintah dan aku mematuhinya dengan segera.
"Sekarang peluk lututmu."
Aku berkedip padanya kemudian mengangkat kakiku keatas jadi mereka tertekuk di depanku dan aku membungkus tanganku disekelilingnya. Ia menggapai kebawah, mengangkat daguku, dan menanamkan ciuman lembut dan basah di bibirku sebelum memakaikan penutup mata padaku. Aku tak bisa melihat apapun, semua yang bisa aku dengar hanyalah nafasku yang cepat dan suara air yang menerpa sisi-sisi kapal saat benda ini bergerak naik dan turun dipermukaan laut.
Oh my. Aku sangat terangsang... sudah sangat terangsang.
"Apa kata amannya, Baekhyun?"
"Es loli."
"Bagus." Ia mengambil tangan kiriku, ia mengenakan satu borgol di pergelangan tanganku kemudian mengulangi prosesnya dengan yang kiri. Aku tak bisa meluruskan kakiku. Sial. "Sekarang," Chanyeol mendesah, "Aku akan menyetubuhimu hingga kau menjerit."
Apa? Dan semua udara menguap dari tubuhku.
Ia menggenggam kedua tumitku dan membalikkanku ke belakang jadi aku terjatuh ke tempat tidur. Aku tak punya pilihan lain selain menahan kakiku tertekuk. Borgolnya semakin kuat saat aku menarik tanganku. Ia benar... benda ini menekanku hingga hampir merasakan kesakitan... Perasaan ini aneh - aku yang terikat dan tak berdaya - di sebuah kapal. Ia menarik kedua kakiku terbuka, dan
Aku mengerang.
Ia mencium lipatan dalam pahaku, dan aku ingin menggeliat tapi aku tak bisa. Aku tak punya daya untuk menggerakkan pinggulku. Kakiku tertahan. Aku tak dapat bergerak. Sial.
"Kau akan menyerap semua kenikmatan, Baekhyun. Tanpa bergerak," gumamnya saat ia naik keatasku, menciumiku disepanjang pinggiran celana bikiniku. Ia menarik kedua talinya, dan bahan kecil itu terjatuh. Aku tahu kini aku telanjang dan berada dibawah belas kasihannya. Ia menciumi perutku, mengigiti pusarku dengan giginya.
"Ah," aku mendesah. Ini akan menjadi keras... Aku tak bisa membayangkannya. Ia membuat jejak ciuman lembut dan gigitan kecil di payudaraku. "Shhh...," ia menenangkanku. "Kau sangat cantik, Baekhyun."
Aku mengerang, frustasi. Biasanya aku akan menyentakkan pinggulku, merespon sentuhannya dengan ritme dari dalam diriku, tapi aku tak bisa bergerak. Aku merintih, menarik borgolku. Logamnya menyakiti kulitku.
"Argh!" Aku berteriak. Tapi aku benar-benar tidak memperdulikannya.
"Kau membuatku gila," bisiknya. "Jadi aku akan membuatmu gila." Ia berada diatasku sekarang, ia menumpukan berat tubuhnya ke sikutnya, dan ia mengalihkan perhatiannya ke payudaraku. Menggigit, menghisap, memutar putingku diantara jari telunjuk dan ibu jarinya, membuatku gila. Ia tak berhenti.
Ini sangat menjengkelkan. Oh. Please. Ereksinya menekan kearahku.
"Chanyeol," Aku memohon dan merasakan senyuman kemenangan darinya diatas kulitku. "Apakah aku harus membuatmu datang dengan cara seperti ini?" Ia menggumam di putingku, menyebabkannya semakin mengeras.
"Kau tahu aku bisa melakukan itu." Ia menghisapku dengan keras dan aku berteriak, kenikmatan membuncah dari dadaku langsung kearah lipatan pahaku. Aku menarik lemah borgolnya, tenggelam dalam sensasinya.
"Ya," aku merengek.
"Oh, sayang, itu akan menjadi terlalu mudah."
"Oh... kumohon."
"Shh." Giginya menyentuh daguku saat ia membuat jejak ke bibirku, dan aku tersentak. Lidahnya yang sangat mahir menginvasi mulutku, merasakan, mengeksplorasi, mendominasi, tapi lidahku menjawab tantangannya, menggeliat dimulutnya. Ia terasa seperti gin dingin dan Park Chanyeol, dan ia berbau seperti lautan. Ia menyentuh daguku, menahan kepalaku tetap diam.
"Diam, sayang. Aku ingin kau diam," bisiknya dimulutku.
"Aku ingin melihatmu."
"Oh tidak, Baekhyun. Kau akan merasakan yang lebih dengan cara seperti ini." Dan itu membuatku menderita perlahan saat ia mendorong pinggulnya dan menekan kedalam tubuhku. Normalnya aku akan mengangkat panggulku untuk merespon gerakannya tapi kini aku tak dapat bergerak. Ia menarik keluar.
"Ah! Chanyeol, kumohon!"
"Lagi?" godanya, suaranya sengau.
"Chanyeol!"
Ia mendorong kearahku lagi kemudian menariknya keluar saat menciumku, jemarinya memainkan putingku. Kenikmatan ini terlalu berlebihan.
"Tidak!"
"Kau menginginkanku,Baekhyun?"
"Ya" aku memohon.
"Katakan padaku," gumamnya, nafasnya keras, dan ia menggodaku sekali lagi - masuk... dan keluar. "Aku menginginkanmu," aku merengek. "Kumohon." Aku mendengar desahan lembutnya di telingaku.
"Dan kau akan mendapatkannya, Baekhyun."
Ia bangun dan menghentak kedalam tubuhku. Aku berteriak, mendongakkan kepalaku, menarik kekangan saat ia menyentuh titik manisku, dan aku berada dalam gempuran sensasi, disekujur tubuhku - manis, penderitaan yang manis, dan aku tak bisa bergerak. Ia diam kemudian memutar pinggulnya, dan gerakan itu menggetarkan bagian dalamku.
"Mengapa kau membantahku, Baekhyun?"
"Chanyeol, berhenti..."
Ia memutar lagi kedalam tubuhku, mengabaikan permintaanku, menarik keluar perlahan dan kemudian menghentak lagi kedalam tubuhku.
"Katakan padaku. Kenapa?" desisnya, dan aku sepenuhnya menyadari desisan itu berasal daari giginya yang terkatup.
Aku meneriakkan ratapan yang tidak jelas...ini terlalu berlebihan.
"Katakan padaku."
"Chanyeol..."
"Baekhyun, aku perlu mengetahuinya."
Ia menghentak kedalam tubuhku lagi, mendorong begitu dalam, dan aku membuncah... perasaan ini sangat intens - perasaan ini menenggelamkan diriku, keluar dari dalam perutku, menuju seluruh tubuhku, kearah pengekang logam yang menyakitiku.
"Aku tak tahu!" aku berteriak. "Karena aku bisa! Karena aku mencintaimu! Kumohon, Chanyeol." Ia mengerang keras dan menghentak dalam, lagi dan lagi, berulang-ulang, dan aku tersesat, mencoba untuk menyerap semua kenikmatan. Ini mengacaukan pikiranku... mengacaukan tubuhku... aku mencoba untuk meluruskan kakiku, mencoba mengontrol orgasmeku yang hampir sampai, tapi aku tak bisa... aku tak tertolong. Aku miliknya, hanya miliknya, melakukan seperti apa yang ia inginkan... Air mata menusuk mataku. Ini terlalu intens. Aku tak bisa menghentikannya. Aku tak ingin menghentikannya... Aku ingin... aku ingin.. oh tidak, oh tidak... ini terlalu...
"Ini dia," Chanyeol menggeram. "Rasakan, sayang!"
Aku meledak disekitarnya, lagi dan lagi, berulang-ulang, berteriak sekeras mungkin saat orgasmeku merobekku menjadi dua, membakar tubuhku layaknya kebakaran, menikmati segalanya. Aku kacau, airmata turun ke pipiku - tubuhku berdenyut dan bergetar.
Dan aku menyadari bahwa Chanyeol masih bersimpuh, masih didalam tubuhku, menarikku kearah pangkuannya. Ia menopang kepalaku dengan satu tangan dan punggungku dengan tangan yang lain, dan ia datang dengan keras didalamku saat dalam tubuhku masih bergetar. Ini sangat menguras, ini melelahkan, ini neraka... ini surga. Ini hedonisme yang menggila.
Chanyeol membuka penutup mataku dan menciumku. Ia mencium mataku, hidungku, pipiku. Ia mencium airmataku, memegang wajahku dengan kedua tangannya.
"Aku mencintaimu, Mrs. Park," desahnya. "Meskipun kau membuatku sangat marah - aku merasa sangat hidup bersamamu." Aku tak punya tenaga untuk membuka mata maupun bibirku untuk menjawab. Dengan sangat perlahan, ia menidurkanku kembali ke tempat tidur dan melepaskanku. Aku menggumamkan beberapa protes yang tidak jelas. Ia pergi dari tempar tidur dan membuka borgolnya. Saat aku terbebas, ia dengan lembut mengusap-usap pergelangan tangan dan kakiku, kemudian ikut tidur disampingku, menarikku kedalam pelukannya. Aku meluruskan kakiku. Oh my, rasanya sangat nikmat. Aku merasa baik. Itu adalah, tanpa keraguan, klimaks paling intens yang pernah kualami.
Hmm...Hukuman bersetubuh ala Chanyeol 'fifty-shades' Park. Aku benar-benar harus lebih sering melakukan kenakalan.
.
.
Tekanan dari kandung kemihku membangunkanku. Saat aku membuka mataku, aku bingung. Diluar gelap. Dimana aku? London? Paris? Oh - kapal. Aku merasakan pergerakannya, dan mendengar deraman lembut dari mesinnya. Kami sedang bergerak. Aneh. Chanyeol disampingku, bekerja di laptopnya, mengenakan kemeja linen putih yang kasual dan celana panjang chino, kakinya telanjang.
Rambutnya masih basah, dan aku bisa mencium sabun segar dari shower dan harum Chanyeolnya...
Hmm.
"Hai," gumamnya, menatapku, matanya hangat.
"Hai," aku tersenyum, tiba-tiba merasa malu. "Berapa lama aku tidur?"
"Hanya sekitar satu jam."
"Kita bergerak?"
"Aku pikir sejak kita sudah makan diluar dan pergi ke pertunjukkan balet dan Casino karenanya kita akan makan malam dalam perjalanan malam ini. Dua malam yang tenang."
Aku nyengir kearahnya. "Kemana kita akan pergi?"
"Cannes."
"Okay." Aku merenggang, merasa kaku. Tak ada sedikitpun latihan dengan Claude yang bisa mempersiapkan aku untuk aktivitas sore tadi.
Aku bangkit dengan hati-hati, membutuhkan kamar mandi. Kuambil jubah satinku, aku kenakan dengan tergesa-gesa. Mengapa aku merasa sangat malu? Aku merasakan mata Chanyeol menatap kearahku. Saat aku meliriknya, ia kembali menekuni laptopnya, alisnya berkerut.
Saat aku mencuci tanganku di meja wastafel, mengingat kemarin malam saat di Kasino, jubahku tersingkap. Aku menatap tubuhku sendiri di cermin, terkejut.
Sial! Apa yang sudah ia lakukan padaku?
