Judul : This Is My Life

Author : Luluknadhifah or Luluk Ziumi sasunaru

Editor : khoir al-jasri

Edit cover : Yuliana yeojamultifandom armyExo-L

Genre : brothership, family,sad, dll

Cast : all member BTS

~ kim seokjin

~ min yoongi

~ kim namjoon

~ kim haseok

~ park jimin

~ kim taehyung

~ jeon jungkook

#part2

"apakah kalian selamanya akan menjaga, mengawasi, dan melindungiku?" tanya jungkook yang masih memautkan bibirnya.

"ne.. tidak akan ku biarkan kau terlihat sakit didepan mataku. Hyungmu ini akan selalu menjaga dan melindungimu!" ucap jimin.

"meskipun kau sudah mempunyai keluarga sendiri?" tanya jungkook. Tidak ada jawaban dari jimin. Jimin hanya diam dan merenungi pertanyaan dari jungkook. Memang benar apa yang ditanyakan jungkook. Jimin harus menjawabnya. Apa nanti saat dirinya mempunyai keluarga sendiri akan tetap menjaga jungkook atau akan meninggalkanya? Sungguh pertanyaan yang sulit dijawab.

"menjaga atau mengawasimu itu tergantung dirimu sendiri kookie-ah.. jika kau bisa menjaga dirimu sendiri setidaknya beban hyung2mu akan terkurangi!" saut haseok tegas.

"berarti selama ini hyung merasa terbebani karna menjagaku? Baiklah hyung, mulai sekarang aku akan berusaha menjaga diriku sendiri dan tidak akan merepotkan hyung lagi." Ucap jungkook sembari keluar dari mobil. Yang ternyata mobilnya sudah berhenti didepan sekolahan.*jungkook ngambek. #prok_prok_prok*

"bukannya begitu jungkook-ah.." teriak namjoon

"dengarkan hyung dulu.."tambah haseok

"tunggu jungkookie.." panggil taehyung dan jimin serempak. Namun tetap saja jungkook tak menghiraukan mereka dan berjalan lebih cepat menuju kelasnya.

S

K

I

P

Jungkook selesai mengikuti les tambahan. Saat jungkook keluar kelas ia dapati kedua hyungnya yang setia menunggunya. Jungkook mengehela nafas panjang.

"sudah selesai pelajaranya? Ayo pulang!" ajak jimin. Jungkook hanya diam dan berjalan mengikuti kedua hyungnya, jimin dan taehyung.

"jin hyung dan namjoon hyung tidak bisa menjemput kita, jadi kita harus naik bus!" ucap jimin.

"tapi ini sudah jam 21.30 jimin-ah.. apa masih ada bus yang lewat?" tanya taehyung.

"setidaknya kita tunggu dihalte dulu! Kau tak apa kan kookie-ah..?" tanya jimin menatap jungkook.

"ne hyung!" jawab jungkook singkat.

"kenapa kau terlihat murung jungkookie? Apa kau merasa sakit? Pusing? Atau capek?" tanya taehyung. Namun dari sekian pertanyaan yang taehyung berikan kepada jungkook. Jungkook hanya menggelengkan kepala dan diam membisu.

"apa kau masih marah masalah tadi pagi?" tanya jimin. Jungkook menatap jimin sekilas.

"unni hyung.. hanya saja mood ku tiba2 buruk setelah masalah tadi pagi." Jawab jungkook lesu.

"tidak usah kau pikir. Tenang saja aku akan selalu menjaga dan melindungimu." Ucap taehyung.

"unnie hyung.. hanya saja aku tidak mau merepotkanmu." Ucap jungkook mantap.

"aku tak merasa direpotkan olehmu." Saut taehyung cepat. Sedangkan jimin hanya tersenyum mendengar percakapan kedua dongsaengnya itu.

"sekarang kita lari jika tidak mau tertinggal bus!" teriak taehyung sembari menggenggam tangan jungkook dan mengajaknya berlari, meninggalkan jimin.

"hay.. kalian tunggu aku! Taehyung-ah.. jungkook-ah..!" teriak jimin yang sempoyongan lari-lari mengejar taehyung dan jungkook.

"kau kan bantet jimin-ah.. Biasanya orang bantet itu larinya cepat! Ayo kejar kita jika kau mampu..!" teriak taehyung yang masih setia berlari dan menggeret jungkook dalam genggamanya.

"yakk! Kau alien gila..! jangan cepat-cepat larinya nanti jungkook kelelahan..!" teriak jimin yang khawatir akan keadaan jungkook jika terlalu lelah. Sedangkan yang diteriaki malah mempercepat larinya.

*** rumah

Jin pulang dari Rumah Sakit. Sebagai seorang dokter spesialis kanker menuntutnya untuk pulang malam. Seperti sekarang dengan wajah lesu dan badan terasa rapuh, jin melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah setelah memakirkan mobilnya. Saat didalam rumah jin mengangkat satu alisnya dan mengerutkan keningnya. Jin merasa antara bingung dan aneh. Aneh? Sepi sekali rumahnya. Sepi?. Jin meletakkan tas medisnya diatas meja. Ia berjalan menuju kamarnya yang juga kamar jungkook. Kosong!. Lalu ia melanjutkan ke kamar jimin dan taehyung. Kosong! Dan yang terakhir ia melangkah ke kamar yoongi, namjoon dan haseok. Kosong! Lalu dimana dongsaeng2nya? Jin masih berdiri didalam kamar yoongi. Jin memejamkan matanya. Mencoba mencari tau dimana keberadaan dongsaeng2nya. Jin membuka matanya dan menghela nafas pelan. Ia benar-benar tidak tau. Dimana?

"aku pulang..!" teriak seseorang yang membuat jin segera berlari ke siempunya suara itu.

"haseok-ah.. namjoon-ah..! kalian dari mana? Lalu dimana yang lain?" tanya jin saat menjumpai haseok dan namjoon diruang tamu. Sepertinya mereka tau apa yang dipikirkan oleh hyungnya itu.

"kita ada jam tambahan hyung. Minggu depan kita ada kunjungan industri. Jadi materinya tambah banyak. Dan miane kita pulang terlambat hyung!" jawab namjoon sembari duduk disofa dan diikuti haseok. Sedangkan jin masih berdiri dan beracak pinggang.

"apakah jimin, taehyung dan jungkook belum pulang?" tanya namjoon pada jin.

"memangnya mereka kemana?" tanya jin yang ikut duduk.

"kata jungkook dia ada jam tambahan, sedangkan jimin dan taehyung menunggu jungkook sampai pulang. Aku tak tau kapan pulangnya, yang jelas aku sudah bilang ke jimin kalo aku tidak bisa menjemput mereka." Jelas namjoon dan ditambah anggukan haseok. Jin mengangguk.

"mengapa sampai sekarang belum pulang?" tanya jin menatap kedua dongsaengnya mantap.

"tadi waktu jimin sms, katanya pulang jam 21.30.. mungkin mereka dalam perjalanan pulang hyung!" jawab namjoon lagi.

"sudahlah hyung, aku capek sekali. Aku mau makan dan istirahat dulu!" ucap haseok yang diikuti namjoon sembari pergi meninggalkan jin yang masih duduk disofa. Jin masih memikirkan keadaan ketiga dongsaengnya khususnya jungkook. Jungkook tidak kuat dengan angin malam. Jungkook takut kegelapan. Dan jungkook belum meminum obatnya. Terbesit rasa kekhawatiranya benar-benar memenuhi rongga dadanya. Jin sungguh cemas dan khawatir. Detak jantungnya berpacu melebihi maksimal. Desiran darahnya mengalir dan menyesakkan dada. Sangat khawatir!

"aku harus menghubungi jimin!" batin jin. Jin dengan segera mengambil Hp'nya dari dalam saku celananya.

Tuuttt..tuttt..tuttt..

"Hp'nya mati!" umpat jin. Jin benar2 kalut dalam kekhawatiranya. Rasa cemas, khawatir, takut tercampur aduk menjadi satu. Jin melihat jam yang melingkar ditanganya. Jam 22.20 batin jin. Sudah tidak bisa ditahan lagi. Jin segera keluar rumah dan menjemput ketiga dongsaengnya.

*** trio makane

Saat ini jimin, taehyung dan jungkook sedang menunggu bus di halte. Hampir 30 menit lebih mereka menunggu namun satu bus pun tidak ada yang mereka temui atau menghamprinya.

"hyung.. kenapa busnya lama sekali?" tanya jungkook yang duduk diampit jimin dan taehyung. Memang baru kali pertamanya jungkook menunggu bus dimalam hari.

"sebentar lagi kookie!" jawab jimin yang tidak tau pasti kenyataan dari jawabanya itu. Jungkook menghela nafas pelan. Setidaknya jimin sudah memberi jawaban.

"apa kau tak apa?" tanya taehyung.

"aku tak apa hyung!" jawab jungkook singkat.

Taehyung dan jimin menatap jungkook dari samping. Terbesit rasa bersalah dan kasihan terhadap jungkook. Wajah jungkook yang putih segar kini berubah menjadi pucat pasi. Bibirnya yang merah seksi kini berubah menjadi biru kering. Matanya yang hitam pekat kini berubah menjadi sayu dan layu. Tiba-tiba darah segar keluar dari dua lubang hidung jungkook. Darah itu keluar begitu derasnya.

"kau mimisan kookie-ah..!" ucap jimin dan taehyung serempak. Mereka tersentak. Baru saja taehyung menanyakan keadaan jungkook. Namun jungkook bilang tak apa? Sungguh apa yang ada dipikiran dongsaengnya ini!

"taehyung kau kan membawa sapu tangan, cepat ambil dan bersihkan darah jungkook!" perintah jimin yang sedang kebingungan sendiri. Jimin merasa pusing jika melihat darah. Jimin membantu jungkook untuk menghentikan darahnya. Jimin mendongakkan kepala jungkook agar darahnya tidak mengalir. Sedangkan jungkook hanya menangis dalam diamnya. Taehyung mengelap dan membersihkan darah jungkook yang sudah mengalir kemana-mana. Dengan sigap dan telaten tanpa sadar taehyung menitihkan air mata. Taehyung benar-benar merasa iba dan kasihan melihat dongsaeng satu-satunya itu terluka dan menangis. Itu membuat taehyung lemah dan melemas.

"mengapa kau menangis kookie? Apakah terasa sakit?" tanya jimin khawatir. Sedangkan taehyung sibuk membersihkan darah junngkook dan mengelap air matanya sendiri.

"ne hyung.. hidungku terasa panas. Sebenarnya tulangku sudah terasa nyeri saat lari tadi. Tubuhku lemas. Dan aku kedinginan.. hiks.. hiks!" jelas jungkook dengan suara bergetar. Darah dan air mata bercampur diwajah imut jungkook.

"wae? Wae kau baru bilang jungkookie?" bentak taehyung yang masih sibuk mengelap darah jungkook yang tidak ada habisnya. Dan jimin mengenakan jaket ke jungkook agar jungkook tidak kedinginan.

"a..aku hanya ingin terlihat kuat didepan kalian hyung!" lirih jungkook. Tubuhnya gemetar menahan tangis. Jimin pusing melihat darah. Jimin sudah frustasi.

"kau itu RAPUH dan LEMAH jungkookie! Sebaik apapun kau mencoba kuat didepan hyung2mu.. di mata kami kau itu butuh bantuan dan sandaran. Apalagi kau penyakitan seperti ini!" bentak jimin. Jimin berdiri. Jimin benar-benar frustasi. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Busnya tidak datang-datang. Sedangkan jungkook terus saja menangis dan menahan rasa sakitnya. Memang benar apa yang dikatan jimin. Jungkook itu rapuh dan lemah. Seharusnya tadi dia bilang saja apa yang dia rasakan. Pasti jimin dan taehyung akan mencegah dan mengatasinya sebelum terjadi apapun padanya. Dan sekarang jungkook merepotkan dan membuat khawatir hyungnya. Sungguh jungkook tidak kuat lagi.

"hyung aku merasa pusing!" keluh jungkook. Taehyung dan jimin menatap jungkook sendu. Tak mau ambil pusing. Jimin dengan segera menggendong jungkook dibelakang punggungnya. Jimin berjalan cepat untuk membawa jungkook agar mendapat pertolongan yang cepat dan tepat. Jimin tidak mau terjadi apa-apa pada jungkook. Taehyung membawa tas jungkook dan jimin. Taehyung berjalan sejajar dengan jimin, menatap wajah jungkook yang sudah melemah dan melemas.

"taehyung.. kenapa kau tidak berpikiran untuk menghubungi jin hyung?" tanya jimin dengan wajah masih khawatir. Sedangkan darah jungkook masih saja mengalir membasahi wajah dan seragamnya jimin.

"Hp'ku lowbatt dan bahkan sudah mati jimin-ah..tadi aku buat main game saat menunggu jungkook! Lalu dimana Hp'mu biar aku yang menghubungi jin hyung!" ucap taehyung yang masih tetap mencoba berjalan sejajar dengan jimin.

"Hp'ku juga mati!" saut jimin. Taehyung menatap jungkook yang sudah memejamkan matanya.

"apa kau bawa Hp jungkookie?" tanya taeyhung. Meskipun mata jungkook terpejam, dia masih bisa mendengar percakapan kedua hyungnya itu.

"aku tidak pernah bawa Hp di sekolah hyung!" lirih jungkook pelan. Jimin dan taehyung menghela nafas berat.

"aku sudah tidak kuat hyung. Miane hari ini aku merepotkanmu!" tambah jungkook. Jungkook meringis kesakitan. Darah dan air matanya berlomba-lomba keluar dan membasahi wajahnya. Meskipun dia berusaha untuk menghentikannya, tetap saja akan keluar terus menerus sebelum mendapat penanganan yang intensif. Seperti obat dan suntikan.

"apakah menahan rasa sakit akan terlihat lebih kuat daripada berpura-pura terlihat kuat, hyung? Padahal menahan rasa sakit ini salah satu cara untukku agar terlihat kuat didepanmu, tapi aku salah. Sebenarnya, Penyakit inilah yang membuatku lemah dan tidak terlihat kuat! Maksih hyung, sudah menjaga, mengawasi dan melindungiku!"ucap batin jungkook pilu.

"yakk.. jungkook kenapa kau berkata seperti itu!"

"kau harus bertahan jungkookie..!"

To Be Continue..

Ngelap iler.. **ehh maksudnya ngelap air mata! Padahal ceritanya kagak ngefeeell ngefeell bangettt** #yawdah deh ngelap keringet ajeehehehe..

Huaaaaa... kenapa ceritanya kayak ginihhh?

Ok dahh.. kalo koment yang baweellll yahhh jangan Cuma next, tag me, next.. kalo ceritanya jelek bilang aja jelek, ngga usah bohong! Aku ikhlas kok menerima konsekuensinya.

Thenkyuuu.. **eh gomawooooo... :D