Omega's Alpha

Bagian Dua


Baekhyun terlelap dan memimpikan sesuatu.

Jauh sebelum itu, sebelum usianya adalah lima belas, Chanyeol merupakan alpha terbaik yang pernah ia temui selain ayahnya.

Walaupun dia adalah alpha dengan darah murni—seorang alpha yang lahir dari pernikahan alpha pria dan alpha wanita, Chanyeol tetap sangat menyayangi dirinya yang secara hierarki berada jauh di bawah kedudukan Chanyeol. Dominan itu juga jarang untuk memaksanya melakukan sesuatu, tidak memberitahunya apa yang harus omega itu lakukan atau tidak lakukan padanya.

Sejak kecil, keluarganya dan keluarga Chanyeol memang dekat. Mungkin karena faktor Kris dan Siwon yang mendirikan bisnis bersama-sama—biarpun Kris memilih undur diri dari jabatannya untuk sepenuh hati mengurus anggota pack. Chanyeol selalu menemaninya sejak kecil, karena dirinya sebelum bertemu Chanyeol adalah anak tunggal yang kesepian. Perlahan, entah sejak kapan, hidup Chanyeol menjadi hidupnya juga. Kemanapun alpha itu pergi, Baekhyun selalu memastikan untuk ikut bersamanya. Dimanapun dia berada, apapun yang dia lakukan, semua menjadikan Baekhyun memiliki rutinitas nyaris sama persis dengannya.

Hingga saat dimana alpha itu memutuskan untuk pergi ke dunia baru ; teritori baru dimana dia akan memulai hidupnya sendiri sebagai alpha yang dewasa. Baekhyun tidak terlalu ingat bagaimana rasanya melepas Chanyeol saat itu, yang ia tahu, dirinya hanyalah seorang berusia empat belas yang kala itu dihadapkan oleh ketakutan terbesarnya ; ditinggalkan.

"Kau harus berjanji untuk menulis surat..," Pinta si mungil dengan suara parau, "Kunjungi aku setiap hari liburmu juga.."

Chanyeol tersenyum geli, mengusap air mata yang deras terlihat di kedua pipi omega kesayangannya.

"Aku janji, Baekhyun. Jangan menangis, hm?"

Janji. Janji yang mungkin tak pernah alpha itu tepati. Baekhyun menunggu setiap waktu, musim panas, semi, gugur, dingin ; kembali menjadi musim panas lagi. Setahun terlewati sia-sia seperti uap kopi yang terembus angin. Figure alpha kesayangannya itu hilang dari dunianya yang menjadi senyap. Omega kecilnya yang haus kasih sayang memberontak di dalam dirinya ; Kau harus menemui dia! Desak jiwa di dalam dirinya.

Entahlah, Baekhyun-pun menyebrang tanpa diketahui siapapun. Menuju dunia baru yang Chanyeol tinggali. Menggunakan alibi mencari keluarganya pada penjaga dan baru menyadari ia tidak memiliki alamat dimana Chanyeol tinggal. Untungnya, bar dimana saat itu Chanyeol bekerja tidak terlalu jauh dari perbatasan, Chanyeol menemukannya dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam bar-nya.

Ia masih jelas mengingat apa yang alpha itu bicarakan dengannya hari itu.

"Aku akan mengantarmu pulang nanti," Chanyeol menaruh segelas air hangat ke depan si omega, "Bagaimana bisa kau pergi sendirian seperti ini?"

".. Aku sangat rindu padamu," Cicitnya kecil, terendam oleh mulut gelas yang ia kulum. Chanyeol menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar sebelum meraih jemari Baekhyun ke dalam genggamannya,

"Jangan lakukan ini lagi, kau bisa terluka." Ujarnya, sedikit mengeluarkan auranya yang mendominasi agar Baekhyun mengerti bahwa dia sangat khawatir, "Dan, daripada kesini sendirian, kau bisa pergi bersama Sehun. Atau Kai. Keduanya juga boleh. Jangan pergi kemanapun sendirian, bagaimana kalau tadi kau tersesat dan tidak bertemu denganku? Atau kau terjatuh—"

"Chanyeol!"

Baekhyun menoleh saat suara ringan itu memasuki pendengarannya. Chanyeol juga, bedanya, ia segera memeluk pemilik suara tersebut yang ternyata merupakan seorang beta wanita dengan rambut pirang yang dikuncir demi memperlihatkan lehernya yang jenjang. Baekhyun tertegun, nyaris seakan ia tidak mempercayai apa yang ia lihat ; Chanyeol mendekap pinggang si beta dengan posesif dan berbisik betapa alpha itu merindukannya, dibalas oleh pekikan manja si gadis ketika Chanyeol mencuri kecupan di pelipisnya.

".. Chan—yeol?" Baekhyun berbisik lirih, namun tampaknya ia terlalu sibuk untuk bisa mendengar. Pandang omega itu kemudian mengarah ke meja, dimana jemarinya yang sebelumnya hangat di genggaman Chanyeol dilepaskan begitu saja.

".. Aku kemari juga untuk sebuah pelukan.." Ia bergumam, pelan sekali. Melirik iri pada beta wanita itu yang melingkarkan lengannya nyaman ke pinggang sang alpha. Pembicaraan manis mereka yang entah mengapa membuatnya muak, Baekhyun membencinya. Seketika teringat bahwa dahulu, Chanyeol juga pernah berjanji ia tidak akan memeluk seorang lain selain dirinya. Lantas, sesuatu dari hatinya terbakar oleh rasa cemburu yang panas, ia bangkit dari duduknya dan memisahkan mereka berdua ; menahan sebisa mungkin untuk tidak menangis saat itu juga.

"Jangan memeluknya sesuka hatimu!" Baekhyun berujar marah diantara mereka berdua, menatap si beta dengan nyalang. Wanita yang sepertinya bahkan lebih tua dari Chanyeol itu terkejut, mengangkat alis ; "Siapa kau, Omega menjijikkan?!"

Baekhyun tersentak, tidak pernah membayangkan bahwa ia akan mendapatkan reaksi seperti itu. Secara naluri, ia mundur ke belakang sehingga punggungnya bertemu dengan dada Chanyeol—yang kini menggenggam tangannya, menariknya untuk mundur ke belakang. Baekhyun menurut, bersembunyi di balik punggung Chanyeol yang kokoh. Hatinya berdenyut sakit karena baru saja dihina di depan orang yang ia cintai, tapi ia tidak memiliki waktu untuk memikirkannya lebih jauh.

"Hyo, dia temanku dan—"

"Teman? Kau pernah bilang bahwa kau tidak akan berhubungan dengan omega-omega menjijikkan!"

"Ini bukan seperti itu, dengarkan aku."

"Apa?! Kau ingin bilang bahwa kau diam diam bersama omega ini 'kan?!"

"Berapa kali kubilang, aku tidak tertarik dengan omega! Tidak dia, tidak omega manapun!"

Deg.

"Aku dan dia tidak punya hubungan apapun, kurasa dia hanya terkejut karena aku tidak memberitahunya bahwa aku punya kekasih—"

Baekhyun mengerjap, menatap alpha itu tidak mengerti. Tapi sepanjang ia menatap, seluruh dunianya terasa hening. Seakan, seseorang telah menutup telinganya untuk tidak mendengar sesuatu. Baekhyun tidak pernah mendengar sebelumnya, ternyata Chanyeol tidak begitu menyukai dirinya sebagaimana ia menyukai Chanyeol. Ia tersenyum tipis kemudian, menarik dirinya menjauh untuk duduk di tempat dimana sebelumnya ia duduk—sementara dunianya masih hening, hanya terdengar patah patah tangisan sesuatu. Di dalam dirinya, jauh di dalam retakan jiwanya. Sesuatu yang merintih, sesuatu yang hancur. Baekhyun tidak tahu mengapa omega-nya bisa terluka, padahal Chanyeol bukanlah miliknya. Apa yang salah dengan alpha itu pergi untuk bersama yang lain..?

"Salah.." Ia perlahan bergumam, meremas jemarinya, "S—Seharusnya.. Ia bersamaku..."

.. Itu milikku.

.. Pelukan itu, dirinya, bukankah itu hanya milikku?

Baekhyun mendengar omeganya berbisik.

Perlu waktu lama untuk Chanyeol sebelum beta itu pergi. Ia duduk di hadapan Baekhyun untuk mengingatkannya bahwa dirinya harus pergi bekerja dan tidak bisa menemani dia lebih lama. Alpha itu tahu Baekhyun sedari tadi menatapnya tersirat, tapi ia tidak tahu bahwa omega itu sejujurnya menginginkan sebuah permintaan maaf, sebuah penarikan atas kata katanya. Alpha itu tidak akan pernah tahu, di dalam matanya yang lurus memandang, ada sepotong kecil hati yang terluka oleh perkataannya.

Chanyeol hanya tidak tahu.

"Hey, apa kau dengar aku?" Chanyeol melambaikan tangannya di depam wajah, "Ada apa?"

"C—Chanyeol.." Baekhyun mendongak padanya, patah patah berujar ; "Omega seperti apa.. Yang kau inginkan nanti?"

Chanyeol terdiam.

".. Tipe favoritmu atau—" Baekhyun memilin kedua jemarinya di bawah meja, "—seseorang yang mungkin akan kau sukai.."

"Uh," Alpha itu menatapnya. Entah mengapa, sorot hangatnya menghilang. Dingin tersisa disana sebagai gantinya. Baekhyun mengigil dalam tunduknya, ini pertama kalinya ia melihat sorot dingin semacam itu dari Chanyeol.

"Yah, yang jelas aku tidak akan berkencan dengan omega." Katanya tegas, nyaris seakan tidak memiliki intonasi—datar, "Beta lebih baik, atau seorang alpha wanita. Tipe favoritku? Kau tahu, yang dewasa dan liar. Aku tidak perlu seseorang yang bergantung padaku karena mereka merepotkan."

Manik omega kecil berair, memberanikan dirinya untuk bertanya lagi ;

"T—Tapi bagaimana jika mate-mu adalah seorang omega..?"

Chanyeol terdiam untuk kedua kali, jeda terasa lebih panjang kali ini. Alpha itu mengalihkan pandangannya dari Baekhyun yang masih menunduk, memilih untuk menaruh perhatian pada konter barista di depan. Ia akhirnya tertawa keras, begitu keras sampai meruntuhkan pertahanan Baekhyun untuk tidak menangis ;

"Kau naif sekali," Chanyeol, tertawa. "Memangnya jika kau memiliki seorang mate, itu artinya kau harus bersamanya sampai mati? Tidak, Baekhyun. Salah satu kekasihku adalah beta yang sudah memiliki mate, dan dia masih rela untuk bercumbu denganku dan kau tahu—sesuatu yang panas di malam Sabtu. Mate atau bukan, apa yang penting dari itu? Memiliki hubungan takdir seperti itu malah membuatku—"

Chanyeol menjeda, menatap sendu pada si omega yang terisak pelan, namun ia kembali mengalihkan pandangan dan dengan kejam melanjutkan perkataannya ;

"—Membuatku merasa ingin muntah."

Bagaimana rasanya patah hati? Ketika umurnya dua tahun, Baekhyun mendefinisikannya dengan rasa yang sama ketika ditolak oleh ayahnya saat ia sangat ingin berada di dalam lengan pria itu. Ketika umurnya sepuluh, mungkin rasa patah hati baginya adalah ketika Chanyeol berbohong tentang janjinya untuk menonton bersama esok hari. Tapi siapa tahu hari ini, hari dimana ia seharusnya bertemu alpha itu untuk melepas rindu, ia malah bertemu dengan rasa itu ; patah hati.

.. Mate, membuatnya merasa ingin muntah..?

.. Tidak menyukai seseorang yang bergantung padanya..

.. Apa yang penting dari menjadi sepasang mate..?

Baekhyun menghapus air matanya, "A—Aku mengerti." Ia mati-matian mengigit bibirnya agar isakan tidak meluncur bebas dari sana.

Di dunia masa kecilnya yang indah, Chanyeol adalah satu satunya harta terindah yang bisa ia genggam, walau berakhir hilang dengan tak indah—sekarang tidak lagi, yang tersisa di dalam kenangannya dengan lelaki itu adalah saat ia berkata dengan terang bahwa ia tidak tertarik dengan seorang omega manapun.


...


Baekhyun mengerjap pelan, menemukan dirinya berada di punggung Chanyeol alih alih bangku club tadi. Alpha itu menggendongnya sementara ia bersenandung pelan, seakan sedang bahagia. Baekhyun tersenyum sedih, menyandarkan kepalanya pada sisi leher alpha itu dan memejamkan mata kembali.

.. Kau bahagia, bisiknya dalam hati.

Menyadari bahwa ada pergerakan disana, Chanyeol menoleh sedikit dengan senyuman ; "Kau bangun?" Tanyanya lembut. Baekhyun mengangguk-angguk, masih dengan manik yang terpejam.

"Sepertinya kau dan Luhan mudah untuk akrab," Chanyeol terkekeh kecil, "Dia berkata kau sangat menggemaskan."

Baekhyun bergumam sebagai respon, lantas ia perlahan bertanya ;

"Apa Luhan.. Kekasihmu sekarang?"

Chanyeol tertawa, "Bukan. Mengapa kau bertanya seperti itu?"

Hening terdengar beberapa saat sebelum Baekhyun berdengung lirih, "Hanya penasaran."

Jadi, kau bercinta dengan siapapun. Bahkan selain kekasihmu.

"Apa tidurmu nyenyak? Aku mendengar kau bergumam beberapa kali disana," Alpha itu berhenti melangkah untuk membuka pintu apartemen miliknya.

"Aku menggumamkan apa?"

"Hm, namaku."

Baekhyun mengangguk lagi, "Itu karena aku memimpikan dirimu."

"Kau memang selalu memimpikan aku," Alpha itu tertawa kecil—entah mengapa merasa bangga, lalu menutup pintu di belakang mereka.


...


Pagi hari di Senin terakhir milik Desember, Chanyeol memastikan omega itu tidur dengan nyaman tanpa merasa kedinginan sebelum bangkit perlahan-lahan, lagi lagi ia bangun lebih awal daripada si mungil. Chanyeol terkekeh kecil lalu merendahkan tubuhnya agar ia dapat mengecup pipi hangatnya yang sedikit ditutupi rona, berbisik lembut ; "Selamat pagi."

Tubuh jakungnya ia arahkan untuk keluar dari kamar, meletakkan cangkir putih berisikan kopi pada balkon apartemen yang terletak jauh dari tempat omega itu jatuh lelap. Manik tajamnya menelisik kerumunan di bawah, kesibukan orang orang di minggu baru sebelum natal yang membuat kota dipenuhi mobil mobil serta pejalan kaki yang berjalan saling menyilang arah. Uap yang mengepul dari cangkirnya dibiarkan bergabung dengan kabut tipis di pagi hari. Perlu ia akui, rasa rindu yang membekapnya erat erat adalah alasan tunggal mengapa ia kerap kali bangun di pagi hari seperti ini. Terlebih, rindu pada aroma tanah dimana ia dilahirkan ; dan lebih lebih, pada omega mungil di masa kecilnya yang selalu tersenyum dengan matanya yang melengkung indah.

Tentu saja, Baekhyun.

Chanyeol tersenyum tipis, mengingat bahwa kini omega itu bersamanya. Ia tidak pernah memimpikan akan tiba hari dimana ia melihat lelaki itu menjadi dewasa ; walaupun wajahnya semakin manis dan jauh dari kata pendewasaan. Baekhyun masihlah si manis yang ia kenal, membuat Chanyeol bertanya-tanya, apakah luka yang ia torehkan disana juga masih kental di hatinya?

Pikiran itu ia singkirkan segera, secepat ia menyelesaikan tegukan terakhir dari dasar cangkirnya.

Beda dengan Chanyeol, begitupun dengan Baekhyun.

Siapa yang tahu bahwa omega itu terbangun dengan rasa hampa di seluruh dada, menatap pada sisi kosong di samping dirinya menyadarkannya bahwa mungkin alpha itu tidak menyukai keberadaannya sehingga ia memilih untuk tidak berlama lama disini. Baekhyun tahu berpikir akan sesuatu yang tidak ia ketahui dengan benar adalah cara yang buruk untuk memulai hari, tapi ia juga tidak bisa berpura pura bahwa bayangan alpha yang bercumbu dengan omega lain telah menghilang dari pikirannya.


...


"Xiumin-Hyung bilang aku bisa pergi kerja di jam sembilan," Baekhyun menguyah roti lapis yang Chanyeol berikan, "Kalau begitu, aku akan pergi ke sana sekarang."

"Aku akan mengantarmu," Chanyeol berujar, menyapu remah roti yang ada di sudut bibir merah itu, "Tidak usah terburu-buru, toko-nya hanya di seberang apartemen."

"Aku ingin memberi kesan yang baik."

Chanyeol tersenyum, "Baiklah. Aku akan menjemputmu saat jam kerjamu selesai, apa kau ingin makan siang bersamaku juga?"

Baekhyun mendongak, menatap alpha di seberang meja dengan sedikit sinar di matanya ; "Apakah aku boleh?"

"Tentu," Senyum lembut lagi lagi terpatri disana, "Aku akan menjemputmu saat itu juga, kalau begitu. "

"Terima kasih." Baekhyun mengulum senyum, menyelesaikan kunyahan terakhir roti miliknya dan bangkit. Ia merapikan mantel dari remahan roti sebelum menatap Chanyeol, "Ayo!"

Alpha itu tertawa, omega kecil yang begitu bersemangat tampak sangat menggemaskan. Mereka turun bersama ke lobby, bergandengan ke depan jalan. Orang orang yang melihat mungkin saja berasumsi bebas bahwa mereka adalah sepasang mate yang lama bersama ; sayangnya walau kenyataan itu tidak sepenuhnya salah, Baekhyun sadar hal-hal seperti ini tidak akan terjadi.

Chanyeol berhenti melangkah di depan pintu toko, membenahi topi dan syal milik Baekhyun sekali lagi dan memeluknya erat ; "Selamat bekerja."

Baekhyun mengangguk dan berjinjit untuk meraih sisi pipi Chanyeol—menghadiahi alpha itu sebuah kecupan singkat sebagai rasa terima kasih sebelum berjalan cepat ke dalam toko. Chanyeol tersenyum gemas, masih berdiri diam disana biarpun sebenarnya alpha itu sangat ingin menemaninya di hari pertama ia bekerja, ia tahu Xiumin pasti akan menolaknya mati matian—Beta itu memang sensitif dengan beberapa hal, kadang kadang. Sehingga ia harus menahan rasa khawatirnya sendirian saat punggung kecil milik si omega berjalan menjauh darinya dan masuk ke toko.

Butuh beberapa menit untuk meletakkan rasa khawatirnya, alpha itu berjalan kembali ke apartemen untuk bersiap pergi juga.


...


"Pesanan untuk meja tiga!"

"Meja dua ingin memesan!"

"Ambilkan gula untuk meja lima!"

"Bisakah kau bergerak lebih cepat?!" Xiumin berdecak, merebut nampan yang dipegang oleh Baekhyun. Nah, sebenarnya nampan itu adalah pesanan yang akan ia berikan untuk meja tiga. Baekhyun menunduk, menggumamkan maaf sementara beta itu sudah melenggang pergi untuk mengantarkan senampan kopi yang lain. Omega kecil merasa tidak nyaman dengan kesibukan ini, begitu banyak aroma yang keluar sana sini dan ia tidak pernah menyangka toko kecil seperti ini bisa memiliki pelanggan yang sangat banyak.

"Hey,"

Baekhyun menoleh pada Jongdae—salah satu rekan kerjanya yang merupakan seorang alpha, tersenyum lebar sembari memberikannya minuman, "Jangan sedih begitu, Xiumin-Hyung memang tidak suka membuat pelanggannya menunggu."

Baekhyun menerima kaleng soda itu dengan sebuah ucapan terima kasih, meringis kemudian ; "Tidak, kurasa memang aku tidak cukup baik untuk membantu mengantarkan mereka dengan cepat.."

"Itu wajar, pesanannya begitu banyak dan kita hanya bertiga disini." Jongdae tertawa keras, "Kalau begitu, kau jaga kasir. Aku akan menggantikanmu."

"S—Sungguh?" Baekhyun mendongak, seketika matanya berbinar-binar, "T—Tapi tugasku adalah melayani pesanan.." Seketika ia teringat, menambahkan dengan gumam sedih.

"Siapa peduli?" Alpha itu mengangkat bahu, tertawa. "Aku lebih peduli jika seorang omega pingsan disini karena melayani terlalu banyak tamu daripada tugasku yang menjaga kasir."

Baekhyun tersenyum, malu. Jongdae mengambil catatan pesanan yang ia selipkan pada papan dan tersenyum meyakinkan, "Daftar harganya otomatis, masukkan saja nama kopinya!" Seru alpha itu sebelum keluar dari konter kasir dan bergabung bersama Xiumin. Si beta tampak terganggu sedikit karena alpha itu merebut pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya tengah ia lakukan, tapi tertawa ketika alpha itu mendorongnya ke meja barista untuk membuat kopi baru.

Baekhyun tersenyum geli di tempatnya.

"Nona, aku mau bayar kopinya."

"E—Eh, baik." Baekhyun mengerutkan kening, mungkin ia salah mendengar, "Bisa kau sebutkan pesananmu?"

"Segelas americano hangat, lalu cappucino dengan whipped cream yang banyak!" Wanita itu tersenyum, "Berapa semuanya?"

"Semuanya menjadi 2700 Won, Nona." Baekhyun tersenyum, meraih sejumlah uang yang disodorkan padanya dan menyerahkan kembaliannya ; sedikit senyum, beserta struk pembelian.

"Silahkan datang kembali!"

Wanita itu melenggang pergi setelah melempar sebuah senyuman. Baekhyun balas tersenyum dan mendudukkan dirinya, menatap kerumunan di depannya yang mengisi semua meja. Ia sangat lelah dan mengantuk, mungkin sekarang akan sangat baik apabila Chanyeol datang dan mengajaknya untuk pergi makan siang. Baekhyun menggelengkan kepalanya, ia tidak mungkin pergi sekarang sementara toko mereka kebanjiran tamu. Jongdae berhenti di meja kasir untuk melihat si omega dan tersenyum geli.

"Permisi, aku mau membayar."

"Ah, baik!"

Baekhyun tidak tahu bahwa bekerja bisa se-melelahkan ini.


...


"Kalian harus kembali sebelum pukul satu." Xiumin mendengus, "Tidak ada tapi-tapian Chanyeol, seperti yang kau lihat ; kami sangat sibuk."

Alpha itu mengerutkan kening, "Baiklah, aku akan membawanya kembali sebelum itu. Sepertinya kau harus pergi mencari seseorang lagi untuk membantumu, kau tidak bermaksud untuk membuat omega kecilku kelelahan, bukan?"

"Aku akan memikirkannya nanti," Beta itu mendesah, "Lebih baik kalian pergi sekarang, sudah pukul dua belas."

"Oke," Alpha itu tersenyum pada Jongdae dan Xiumin, merangkul omega yang berada di sampingnya untuk masuk ke mobilnya. Baekhyun menghembuskan nafas lega begitu punggungnya menyentuh bantalan kursi, ia lalu memejamkan matanya sementara Chanyeol menatapnya dari samping dengan khawatir.

"Kau tahu, jika memang terlalu berat untukmu, aku punya kenalan lain yang bisa kukenalkan padamu," Chanyeol berujar, mengelus surai omega itu yang mana membuat di mungil mendengkur nyaman tanpa sadar, "Kau terlihat sangat lelah. Aku menyesal mengenalkanmu pada—"

Baekhyun membuka matanya, "Tidak apa, sungguh. Aku hanya belum terbiasa."

"Aku mengenalkan dia padamu bukan untuk melihatmu lelah seperti ini." Chanyeol, masih mengerutkan kening, berujar dengan nada menyesal bercampur khawatir. Baekhyun tersenyum kecil melihatnya, menyamankan dirinya di bangku samping pengemudi, "Tapi aku tak apa, sungguh."

"Sebenarnya gajiku lebih dari cukup untuk kita berdua—"

"Aku tidak ingin bergantung padamu." Tukas omega itu cepat, "Orang yang bergantung dengan orang yang lain adalah merepotkan, kau ingat?"

Alpha itu terbungkam. Secara mendadak mengingat percakapannya dengan omega itu dua tahun lalu—percakapan menyakitkan yang mana membuat dia menangis. Baekhyun tersenyum sedih dan memejamkan mata kembali, "Aku sudah sangat banyak bergantung padamu.." Gumam omega itu pelan.

Chanyeol berdehem, "Kau tidak pernah merepotkanku."

Baekhyun tidak menjawab. Ia hanya mengulas senyuman tipis sementara Chanyeol menyalakan mesin. Ia menggenggam setir dengan satu tangan sementara tangan yang lain memindahkan posisi omega itu agar kepalanya dapat bersandar pada bahunya yang lebar. Baekhyun terkejut namun tidak menolak. Ia menyamankan dirinya dengan cepat di bahu kokoh alpha tersebut.

"Kau ingin makan sesuatu yang khusus?" Chanyeol mengendarai mobilnya meninggalkan toko, saat bersamaan jemarinya mengelus surai demi surai lembut omega yang menjatuhkan kepalanya pada bahunya itu. Baekhyun bergumam sebentar, "Aku ingin pasta.."

"Italia? Oke." Chanyeol tersenyum geli, "Kau tidurlah, aku akan membangunkanmu saat kita sampai."

Baekhyun mengangguk-angguk. Hening terasa lama sebelum dengkuran halus mengisi di dalam mobil. Chanyeol tersenyum lagi dan menoleh pada si omega begitu lampu merah menyala, mencondongkan tubuhnya ke samping sehingga ia dapat mengecup kening Baekhyun yang terbuka akibat surainya yang berjatuhan ke samping.

"Kau benar benar tidur?" Chanyeol tertawa kecil saat tidak ada respon sama sekali dari yang lebih mungil. Ia akhirnya menggeleng maklum, mengambil kemudinya dan menjalankan mobil kembali.


...


Chanyeol memarkirkan mobilnya di restoran, menoleh pada Baekhyun yang masih mendengkur nyaman di bahunya. Ia menggoyangkan lengan omega itu, berbisik pelan, "Hey, kita sudah sampai."

"Eung?" Baekhyun tersentak, mengangkat kepalanya lantas mengusap matanya. Manik hitam miliknya teralihkan pada Chanyeol, secara refleks mengulas sebuah senyuman manis yang penuh. Chanyeol balas tersenyum lembut, hatinya seakan meleleh menemukan senyuman omega itu yang ditunjukkan kepadanya. Hanya dirinya.

"Sudah sampai?"

"Ya. Ayo,"

Chanyeol keluar dari sisi mobil untuk membukakan pintu di sisi lainnya, menuntun omega itu untuk keluar.

"Perhatikan langkahmu," Peringatnya ketika Baekhyun berjalan sedikit limbung, Baekhyun terkekeh dan mengangguk. Melanjutkan langkahnya yang tertunda, dengan alpha itu yang kini menggenggam tangannya lembut.

"Apa anda ingin memesan sekarang?"

"Ya." Alpha itu tersenyum singkat pada pelayan wanita yang membawa daftar menu begitu ia dan Baekhyun duduk di salah satu meja ; "Omega kecil di depanku ingin makan pasta siang ini, apakah kau punya rekomendasi?"

Baekhyun mendongak, merasa dia disebutkan. Pelayan wanita itu tersenyum ramah sembari mencuri pandang ke arah Baekhyun—yang mana ia asumsikan sebagai mate dari alpha di hadapannya ini, "Pasta Carbonara adalah menu andalan kami selama bertahun-tahun, Tuan."

"Kalau begitu, dua porsi tolong." Putusnya cepat, "Apa kalian punya gelato?"

"Ya, Tuan."

"Gelato untuk satu orang, dan satu anggur. Cukup."

"Dua porsi carbonara, satu Gelato dan satu anggur. Baik, silahkan menikmati menu pembuka sebelum pesanan datang."

Baekhyun mengangga, nyaris tidak percaya Chanyeol bisa berkata dengan sepercaya diri itu. Sebenarnya tidak mengherankan karena dia adalah seorang alpha. Yah, semua alpha di dunia bisa melakukannya.

"Apa kau ingin sesuatu yang lain?" Alpha itu menahan pelayan yang ingin pergi, bertanya pada Baekhyun. Omega kecil itu tersentak sebelum kemudian menggeleng cepat, "Tidak, itu saja cukup."

"Oke." Chanyeol tersenyum, namun maniknya yang tajam secara tidak sengaja menangkap keberadaan seorang alpha di belakang meja mereka yang menatap penuh nafsu kepada omega kecil. Chanyeol memicing, balas menatap alpha itu tajam—yang tidak disadari oleh Baekhyun. Baekhyun menatap alpha itu tidak mengerti ketika ia menarik dirinya untuk duduk disampingnya, "Ada apa?"

Chanyeol tidak menjawab, masih belum mengalihkan pandangan dari alpha lain di seberang meja yang mendengus kecewa. Berpikir bahwa Chanyeol adalah mate dari omega yang kini ia rangkul erat.

".. Tidak," Ujarnya setelah beberapa saat, "Aku hanya melihat seorang penganggu."

"Omong-omong, Chanyeol. Terima kasih telah mengenalkanku pada Xiumin-Hyung." Omega itu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang malu. "Mereka sangat baik padaku, terutama Jongdae."

Chanyeol mengernyit, "Ah, alpha itu?"

"Ya," Baekhyun tersenyum manis, "Dia sangat ramah dan tampan, bukankah begitu?"

Baekhyun tidak menyadari bagaimana senyuman alpha itu jatuh dari wajahnya, ia tersenyum manis sementara memikirkan Jongdae yang membantunya mencuci semua gelas tadi pagi.


...


"Pastanya enak sekali~!"

Baekhyun tersenyum puas. Chanyeol tersenyum di depannya, menautkan jari-jari mereka ; "Baiklah, kau harus kembali."

"Ah, kau benar." Baekhyun terlonjak, "Jongdae akan sangat kelelahan jika bekerja sendirian."

"Kau yakin tidak ingin mencari pekerjaan lain?" Chanyeol menawarkan untuk terakhir kali sebelum omega itu masuk ke toko. Baekhyun tidak perlu berpikir dua kali untuk menjawabnya, ia menggeleng mantap dengan cengiran kanak kanaknya ; "Tidak perlu, aku suka toko ini."

Yang lebih tinggi menghela nafas, "Oke. Selamat bekerja."

Baekhyun mengangguk, berbalik untuk berlari kecil agar ia bisa tiba di toko tepat waktu. Begitu omega kecil masuk ke dalam, ia segera berjalan menuju Jongdae untuk membantunya membawa nampan-nampan. Tindakan itu membuat Jongdae terkejut dan nyaris membuat semua nampan terjatuh, namun Baekhyun dengan cepat menangkap semuanya. Mereka tertawa bersama tanpa menyadari Chanyeol—yang mana mengamati omega itu dari luar, menatap Jongdae tanpa ekspresi, sebelum masuk ke dalam mobilnya dan menelpon seseorang ;

"Tunggu aku di apartemen. Sekarang."

"Mengapa begitu tiba-tiba? ... Sesuatu mengganggumu?"

"Tidak," Alpha itu menginjak pedal gas, menggenggam kemudi erat ketika Baekhyun tersenyum lembut kepada setiap pelanggan—yang kebanyakan dari mereka adalah alpha yang terpesona akan paras cantik sang omega, Chanyeol bisa mendengar bisikan mereka yang menginginkan untuk meng-klaim anak itu, sayangnya si Omega tampaknya tidak menyadari tatapan lapar yang ditunjukkan padanya.

".. Aku hanya kesal."


...


"Bukankah ini jam pulangmu?"

Baekhyun mengangguk walau ia tahu Chanyeol tidak akan melihatnya, "Iya. Tapi Jongdae dan Xiumin-Hyung mengajakku pergi ke—"

"Bagus." Jawaban dingin dari seberang sambungan membuat Baekhyun membeku di langkahnya, "Lagipula aku tidak bisa menjemputmu sekarang. Bersenang-senanglah."

Sambungan diputuskan sepihak oleh Chanyeol yang sedang bersandar di kasurnya, Luhan berada di pangkuannya dan menatapnya bingung ;

"Kau tidak boleh berkata dengan kasar padanya," Katanya, "Dan jangan memutuskan panggilan secara sepihak seperti itu! Ada apa denganmu?"

Chanyeol mendengus, mengusap wajahnya kasar setelah melempar ponselnya ke nakas. Luhan mengerjap tidak percaya, apalagi ketika alpha itu malah mencuri cumbuan di lehernya yang terbuka. Omega itu mendorong dada bidang Chanyeol ketika ia akan meraih bibirnya, menatapnya setengah marah.

"Ada apa denganmu?" Ulang Luhan, "Kau tidak boleh melampiaskan kemarahanmu dengan memanggilku kesini—"

"Siapa kira aku akan begitu marah dengan melihat dia tersenyum begitu lugu kepada para bajingan yang ingin menandainya?" Chanyeol mengalihkan pandangan, nafasnya memburu, "Mengapa dia bisa begitu nyaman tersenyum pada seseorang lain seperti itu—"

"Itu pekerjaannya." Luhan tersenyum miring, "Pekerjaannya adalah melayani, seperti aku yang disetubuhi orang orang karena itu adalah keharusan. Kau tahu dia akan bekerja untuk melayani pengunjung, mengapa kau marah?"

Chanyeol terdiam.

"Lucu, kau benar benar tidak bisa melupakan bahwa dia bukan lagi omega milikmu." Luhan terkekeh remeh, "Kelak dia akan menemukan alpha lain yang bisa menjaga hatinya baik baik, bukan tersangkut dengan alpha darah murni yang—"

"Diam."

Luhan tersentak, alpha itu menatapnya marah. Di ruangan muncul dominasi kuat darinya, dominasi miliknya yang bisa membuat omega manapun menjatuhkan lutut di hadapannya, "Kau terlalu banyak bicara, bukankah kau disini untuk memuaskanku?" Ucapnya dingin. Luhan terkekeh lagi, kali ini lebih kaku. Tapi kemudian, ia menundukkan kepala sehingga bibirnya bisa mengulum kejantanan alpha itu yang bahkan tidak menegang biarpun dirinya tidak tertutupi sehelai pakaianpun.

Luhan memang bukanlah sumber gairahnya.

Sementara omega itu berusaha membangkitkan gairah yang ada di dalam tubuhnya, alpha itu menerawang ke luar jendela, menatap salju yang turun di minggu terakhir sebelum natal.


...


Baekhyun berlari secepat yang ia bisa.

"C—Chanyeol, a—apakah kau marah..?" Omega itu berbisik pada dirinya sendiri, tidak menghentikan kakinya yang dengan cepat menuju ke apartemen Chanyeol. Tubuhnya membeku karena udara yang dingin namun omega itu tidak memiliki cukup waktu untuk peduli. Satu-satunya yang ia pedulikan adalah bagaimana alpha itu menutup panggilannya begitu saja dengan nada setajam pisau yang baru diasah.

"K—Kau tidak boleh marah.." Baekhyun mengusap kasar air matanya, "T—Tidak, m—maafkan aku.."

Ia berlari ke ujung jalan dimana apartemen Chanyeol berada. Terburu-buru ia melangkah hingga dirinya dapat melihat pintu apartemen alpha itu. Baekhyun mengabaikan jemarinya yang terus bergetar karena suhu, ia bahkan melupakan cara untuk menarik nafas jika paru-parunya tidak memaksanya. Pintu terbuka tanpa suara dan Baekhyun segera berjalan gontai ke depan pintu kamar Chanyeol—yang belakangan menjadi kamar mereka. Ia mengetuk pintu segera, namun jemarinya yang kedinginan tidak membantu sama sekali. Ia berakhir dengan menaruh telapak tangannya pada kenop pintu, tanpa sengaja menekannya sehingga pintu itu terbuka ;

Omega itu merasakan kembali sebuah rasa yang sama seperti kemarin.

Baekhyun berharap ia tidak pernah melihatnya, melihat bagaimana Chanyeol menyetubuhi omega lain di kamar yang ia tempati juga ; ternyata ia kedinginan sendirian, alpha itu bahkan tidak peduli akan salju yang turun habis habisan di luar sana. Baekhyun membuka sedikit bibirnya, dan setetes air matanya jatuh begitu erangan keduanya menyapa pendengarannya. Akhirnya, Baekhyun berjalan mundur setelah menutup pintu kembali. Lututnya ia jatuhkan begitu saja pada lantai yang dingin sementara dingin itu mulai menelusup di hatinya.

"C—Chanyeol.." Lirihnya pelan, "A—Apakah kau marah padaku..?"

"Lagipula aku tidak bisa menjemputmu sekarang," ia secara tiba tiba teringat dengan nada dingin yang Chanyeol pergunakan padanya.

Baekhyun terdiam, menarik dirinya untuk mendengar lebih jelas erangan demi erangan yang membuat ulu hatinya tercabik menjadi ratusan bagian. Betapa mudahnya Chanyeol membuat hatinya hancur bahkan dalam satu hari—senyumnya berubah menjadi lirih. Omega mungil itu menyerah, membiarkan dirinya terduduk di sofa ruang tengah. Ia meremas jemarinya yang bertautan, berharap itu dapat meredakan rasa sakit di hatinya.

Chanyeol mungkin tidak akan tahu bagaimana omega itu terlelap sendirian di luar, menangisi dirinya, lambang yang berdenyut di tengkuknya, menangisi hidupnya. Bagaimana omega itu kemudian menyusun asanya yang putus di tengah, merajut kembali harapannya akan Chanyeol yang dirinya inginkan. Juga bagaimana omega itu tersenyum paksa, berbisik begitu pelan ; "Kau harus terbiasa.."

Perlu beberapa jam bagi Baekhyun untuk melihat Luhan keluar dari kamar mereka. Langkahnya tertatih, Baekhyun melihatnya dengan jelas dari balik sofa. Tampaknya Luhan tidak menyadari keberadaannya karena gelap yang ada, ia pergi tanpa kata setelah menekan password di pintu.

Baekhyun menoleh, menatap penasaran pada pintu kamar yang tidak terkunci sepenuhnya. Ia mendekat dengan langkah kecil, mengintip ke dalam. Membiarkan aroma seks menguar hebat, yang ia inginkan hanyalah melihat alphanya. Dan dia disana, terlelap dengan selimut yang menyelimuti tubuhnya. Baekhyun mundur dan menutup pintu kembali, merosot setelah menyenderkan punggungnya pada pintu. Alpha itu bahkan tidak mengingat untuk menghubunginya. Betapa menyedihkannya ia.

Air matanya nyaris jatuh lagi, nyaris. Baekhyun menghapusnya bahkan sebelum itu mencapai ke pelupuknya—ia sudah memutuskan. Dia tidak akan menangis, tidak lagi. Jika Chanyeol bisa menyetubuhi siapapun yang dia inginkan, maka dirinya juga bisa menghentikan alpha itu—karena dirinya adalah mate-nya. Pasangannya, takdirnya.

"Chanyeol hanyalah milikku."—Putusnya muktlak pada malam.


...


Chanyeol mengerang, merasakan ototnya yang kaku karena tidur dalam posisi yang salah. Ia menatap ke sekeliling kamar dan seketika panik menyergapnya—Baekhyun tidak ada disisinya. Alpha itu terlonjak, terburu-buru untuk memakai bajunya dan segera membuka pintu kamar—namun gerakannya terhenti begitu melihat Baekhyun berdiri di dapur, membelakanginya. Rasa lega menyulusup ke dalam hatinya dan ia tidak membuang waktu untuk merengkuh omega itu ke dalam pelukannya.

"Ah," Baekhyun terkejut, menoleh ke belakang, "Selamat pagi, Chanyeol."

Chanyeol bergumam pelan, mengendus aroma Baekhyun yang terasa manis di penciumannya. Namun omega itu berbalik, takut-takut menggenggam tangannya dan mendongak, "Apakah Chanyeol masih marah padaku?"

Ia teringat dengan tingkahnya semalam.

Chanyeol melembutkan pandangannya, menuntun omega itu agar memeluk dirinya. Baekhyun menurut, perlahan mengaitkan lengannya untuk melingkari pinggang Chanyeol—lantas membenamkan wajahnya di dada bidang alpha itu.

"Kau tahu, kadang menjadi seorang alpha sedikit..—" Chanyeol menghela nafas, "Menyebalkan."

"Mengapa?"

"Karena kami punya sejenis.. Katakanlah insting, atau perasaan, apapun kau menyebutnya—"

"Rasa cemburu?"

"Kurang lebih." Chanyeol mengangguk, mencuri kecupan kecil di kening omega mungil, "Dan kadang aku merasakannya bahkan pada orang yang tidak benar benar kumiliki." Chanyeol menatap nanar pada omega itu, menekan rasa sesak yang mulai membumbung di dalam dadanya.

"Aku minta maaf, aku tidak seharusnya berkata seperti itu padamu." Chanyeol mengakhiri, mempererat tautan tangannya pada pinggang ramping milik si omega dan memejamkan maniknya.

Baekhyun mengangguk, tersenyum diam karena mengetahui bahwa Chanyeol memiliki perasaan seperti itu kepadanya—yang mana membuatnya senang. Bukan sebuah rahasia lagi bahwa seorang alpha memang punya rasa dominasi yang tinggi pada sesuatu miliknya. Apalagi dengan Chanyeol yang merupakan seorang darah murni, Baekhyun memakluminya. Omega itu mendengkur nyaman ketika telapak tangan besar itu mengelus punggungnya, "Chanyeol, apa kita bisa sarapan sekarang? Aku harus pergi bekerja."

Bekerja. Itu artinya Baekhyun akan bertemu dengan Jongdae dan tersenyum manis seperti kemarin—Chanyeol tidak melepaskan pelukannya sedikitpun, malah menenggelamkan wajahnya pada perpotongan leher Baekhyun yang tertutup syal.

"Tetap disisiku untuk hari ini."

Ia tidak mengerti mengapa rasa dominasi dalam dirinya atas Baekhyun kembali muncul dan melebihi perkiraannya, namun alpha itu memiliki beberapa alasan ; Chanyeol merasa pantas untuk mengakui omega itu sebagai miliknya.


TO BE CONTINUED


[S—SPOILER?!]

Baekhyun menduduki pangkuan Chanyeol, yang mana sebelumnya di tempati oleh Luhan. Membiarkan Luhan menatap mereka berdua tidak percaya—mendadak ia merasa seakan dirinya-lah pemeran pembantu di ruangan ini. Chanyeol lebih terkejut lagi ketika Baekhyun memeluk lehernya dengan posesif—aroma manis miliknya menguar hebat.

"Chanyeol-ie, aku merindukanmu." Bisiknya, begitu menggoda dan begitu liar. Omega kecil tidak menunggu respon dari sang dominan, menundukkan kepalanya untuk meraup bibir milik alpha itu. Chanyeol meluluhkan dirinya dalam lumatan yang Baekhyun mulai ; mengikuti permainan omega pencemburu di pangkuannya. Sementara lengannya melingkari pinggang ramping Omega itu untuk mencegahnya terjatuh ; yang mana terlihat seperti untuk menyatakan bahwa seseorang di pangkuannya ini adalah miliknya.

Tidak menyadari bahwa Baekhyun melirik Luhan yang membeku di samping mereka ; tersenyum penuh kemenangan.

Dia mulai belajar untuk mempertahankan sesuatu yang merupakan miliknya.


THANKS TO :

Squirrelbaek | okkyyprtw | imafujoshifaghag | partyconfetti | dobbydobdob | LovelyPark 61 | Fatihah Kim | snowpeach4 | restikadena90 | AraByun | byyybhh | beeeio | timsehunnie | n3208007 | dialogsenja | pineash | tutikbyun061105 | shirenapark |xiaobaozi | yeolgwi | ssuhoshnet | Jongrin88 | nocbnolife | LyWoo | Pungpung613 | lily kurniati 77 |sixtyone61 | kickykeklikler | Monikawawin13 | Hildads | hunniehan | byankai | SunshineByun | Real ayd | fufuXOXO | rimarizkyy | angelbear61 | baekteri | Guest | ultima | Allearizh | daeri beeyeol | milkybaek | Fujita Mari | Nadila276 | Lee26 | Dian Agustina Yeoja Exo-l | XLoey | cb614cb | Juni654 | BaekHill | HerRoyalHighness | belannr | Biyol32 | lolliyeol | saramiya | Guest217

(manis manis banget sih review kalian, tengkyuuu~!)

HUWEEEW~! AKU SEMANGATTT BANGET NULIS INI KARENA RESPON KALIAN KEKEKE. Maap ya kalau hurt-nya nggak dapet, soalnya aku lagi suka nulis yang manis manis tapi epepku jarang ada manis manisnya, jadi kulampiaskan saja disini. Ah ya, jadi menurut kalian.. Apakah Chanyeol juga suka sama Baekhyun? Let me know~! Dan aku udah kasih beberapa clue kenapa Chanyeol punya komitmen brengsek kayak gitu, bakal kukupas lagi sih di chapter depan. Semoga kalian sadar dikit dikit kekek. And last, Baekhyunnie udah mode menyerang tuh di chapter depan, yakin nggak mau liat hm? *naik turunin alis*

Iya tahu kok, tulisanku memang masih jauh banget dari kata 'bagus', tapi setidaknya bisa apresiasi waktuku untuk nulis ini? Thanks.

Next? Leave your review, please.