Fandom : Narto si ninja budiman (halah)

Disclaimer : Kishimoto Masashi

Summary : Jiraiya bingung, Tsunade penasaran, Orochimaru ga jelas, Sarutobi pusing… tapi bukan karena misi-misi D-rank yang mereka hadapi… tapi…

Warning : ooc lah, namanya juga fanfic …yaoi? interpretasikan sendiri ajah…

Baca dengan hati yang bersih di tempat yang penerangannya cukup dan tidak terlalu dekat dari mata, setelah itu review okeyyy makasiii

--

RAMEN, TISSUE DAN PERVERTS

Sudah berselang beberapa waktu sejak latihan pertama mereka sebagai satu team. Ketiganya diluluskan oleh Sarutobi dan sukses menjadi genin yang sesungguhnya. Kini latihan sehari-hari mereka diisi dengan melaksanakan berbagai macam misi yang diajukan oleh para klien. Dari menangkap kucing kabur, mencari barang hilang, membantu bertani, mengantar pesanan dalam desa, intinya seperti pekerjaan part-time dah…

Walau begitu ketiga genin ini tetap menjalankan misi-misi sepele mereka dengan baik. Sang jounin pun dengan sabar mendampingi sepak terjang murid-muridnya. Tak ada yang mengeluh, hanya teriakan-teriakan penuh kesombongan dari genin berambut berantakan berwarna putih, dan diakhiri dengan jitakan dari guru dan rekan ceweknya.

Sarutobi merasa cukup bangga dengan ketiga muridnya. Meskipun masih di level genin, ketiga bocah ini sudah memiliki kemampuan yang melebihi teman-teman sebayanya. Sudah beberapa kali Sarutobi berpikir untuk memberikan mereka misi berkisar C-rank atau bahkan B-rank, tapi rasanya itu terlalu muluk-muluk. Biarlah mereka menikmati masa-masa genin yang bahagia sewajarnya bergelut dengan misi-misi D-rank dahulu.

Segaris senyum menghiasi wajah Sarutobi.

"Kerja kalian bagus hari ini. Aku akan menraktir kalian makan di Ichiraku sore ini!" ucap Sarutobi membuat kedua genin bersorak sorai setelah menyelesaikan misi membersihkan taman luas milik klan Nara yang bau dan penuh kotoran rusa. Orochimaru? Tentu saja ia hanya menanggapi berita gembira itu dengan diam tanpa ekspresi.

--

"Itadakimaaasu!!"

Haep haep sluuuuurp

Krauk krauk

Sluuuuurp

Krompyang

Klontang

"Hei Tsunade makan dari mangkokmu sendiri!!"

"Apaan sih Jiraiya!? Cuma sesumpit aja napa??"

"Sesumpit sih sesumpit, tapi satu sumpitanmu nyomot semua ramenku!!"

"Oi oi kalian berdua"

Krompyang

"…."

Slurp

Taichi-san si pemilik Ichiraku hanya bisa meratapi mangkok-mangkoknya yang menjadi korban kebrutalan kedua genin rakus itu. Sarutobi terpaksa merogoh dompetnya lebih dalam hari ini. Di kursi paling ujung duduk seorang Orochimaru yang tetap menyantap ramennya dengan tenang tanpa memusingkan prahara yang ada di sebelahnya, bahkan ketika pecahan-pecahan mangkok maupun helai-helai ramen dan kuahnya mengenai dirinya.

BLETAK BLETAK

Kesabaran Sarutobi sudah habis. Akhirnya ia memutuskan untuk menghentikan pertarungan kedua muridnya sebelum dompetnya bolong menutupi kerugian Ichiraku. Keadaan menjadi kembali tenang dengan Jiraiya dan Tsunade yang masih pelotot-pelototan mengelus benjol di kepala masing-masing. Taichi bernapas lega dan menyuruh Teuchi, anaknya, untuk segera membereskan meja pelanggan mereka yang sudah hancur lebur.

Orochimaru meletakkan sumpit tanda ia sudah selesai dengan ramennya. Ia mengambil tissue untuk membersihkan badannya dari semua benda yang terlempar dari mangkok kedua rekannya tadi. Kemudian ia menatap kedua genin di sebelahnya.

"A-apaan sih ngliatin aku kayak gi-gitu?" Jiraiya yang kaget karena ia dipandangi oleh Orochimaru, tanpa sadar mukanya memerah. Tsunade hanya menampilkan ekspresi jijik baik kepada tatapan Orochimaru maupun reaksi Jiraiya.

"Masih ada ramen yang menempel di sekitar mulutmu"

JLEGER

Jiraiya, Tsunade, dan Sarutobi serasa disambar petir mendengar ucapan Orochimaru. Memori mereka segera kembali di saat mereka berlatih merebut lonceng beberapa waktu yang lalu. De de de deja vu kah iniii?? Eh eh eh?? Kepala Jiraiya sudah berasap hanya dengan mengingat kejadian itu. Apalagi ketika dilihatnya wajah Orochimaru yang menatap lurus-lurus ke arah dirinya. Muka Jiraiya terasa panas, tidak tahu apa yang harus dilakukan, tidak tahu apa yang akan terjadi. Tangan Orochimaru terjulur ke arahnya.

"Ini"

Selembar tissue disodorkan kepada Jiraiya. Semua terdiam.

"Tsunade juga, mulutmu belepotan kuah ramen" sebelah tangannya yang lain menyodorkan tissue kepada Tsunade yang sedang di alam lain membayangkan hal-hal yaoi tentang kedua rekannya. Bukan hanya kuah ramen yang membasahi mulut Tsunade, tapi juga ilernya dari hasil berfantasi ga jelas.

"…"

--

Malam sudah menghitamkan langit dan hanya menyisakan bintang-bintang bekerlip di antaranya. Keempat ninja tersebut dengan perut penuh ramen berjalan menyusuri jalan Konoha untuk pulang. Sampai di persimpangan satu per satu berpisah jalan menuju rumah masing-masing.

Tsunade melambaikan tangannya, mengucapkan selamat malam sembari bergegas, makin menjauh dan menghilang ditelan gelap malam. 'Wauwww malem ini bisa bikin fanfic apa lagi yah tentang mereka fufufu penasaran banget nih!' otak Tsunade yang sudah rusak dipenuhi ide-ide yaoi.

Sarutobi masih pusing dengan dompetnya yang kempes maupun perilaku ajaib murid-muridnya. Ketiga geninnya bisa melakukan team work yang bagus saat latihan dan menjalankan misi, tapi selalu bertengkar untuk hal-hal yang sepele, juga sikap Orochimaru yang aneh itu makin membuatnya pusing. Sarutobi merasa rambutnya cepat memutih belakangan ini, di balik rasa bangga terhadap muridnya, terdapat stress terselubung di otaknya. Mereka bertiga mencapai persimpangan yang lain dan sang jounin berpamitan untuk berpisah jalan dengan segenap beban mental memenuhi kepalanya.

Kini tinggalah kedua genin itu masih berjalan, setapak demi setapak. Suasana malam di Konohagakure dingin menyelimuti. Jiraiya enggan berjalan berdampingan dengan makhluk pucat itu, tapi juga enggan untuk mencepatkan langkahnya karena kekenyangan sehingga ia memilih untuk jalan melambat saja.

Orochimaru berjalan dengan kecepatannya sendiri, tidak terlalu jauh di depan Jiraiya. Rambut hitamnya yang panjang terurai dihempas angin malam. Terkadang berkilau tertimpa lampu jalan yang remang.

Dia tahu ini tampak bodoh, tapi Jiraiya terus memperhatikan punggung kecil yang ada di depannya. Tertutup oleh geraian rambut legam. Matanya tidak bisa berpaling dari sosok Orochimaru. Ia enggan berjalan di samping Orochimaru karena hatinya masih tidak karuan. Kejadian di kedai Ichiraku tadi cukup membuatnya jantungan. Ia mengira peristiwa itu akan terulang lagi.

'Gwah! Mengingatnya saja sudah membuat muka panas begini!' Jiraiya menggaruk-garuk kepalanya saking frustasi. 'Kenapa sih Orochimaru itu?'

Jiraiya agak mempercepat langkahnya, berusaha untuk bisa lebih dekat dengan sosok Orochimaru yang terus melangkah tanpa babibu di depannya. Ia mengumpulkan keberaniannya, dengan wajah yang sedikit memerah, suaranya sudah di ujung tenggorokan, keragu-raguan menahannya untuk keluar, tapi melihat lambaian rambut hitam panjang yang dimainkan angin malam itu membuatnya untuk memulai pembicaraan.

"He-hei Orochimaru"

"…Hm?" sang genin miskin emosi dan ekspresi itu tetap berjalan tanpa menengok.

"A-anu… tadi di Ichiraku…" Jiraiya berusaha menyamakan kecepatan langkahnya dengan makhluk di depannya yang cuek, "kau memberiku tissue…"

"Ya…" Orochimaru tampak tidak tertarik untuk mengobrol dengan rekannya, terus melangkah menyusuri jalan Konoha, membiarkan Jiraiya tetap di belakangnya. Mendengar jawaban yang terus minimalis membuat Jiraiya sedikit jengkel.

"Tapi waktu kita aku diikat di tiang kayu, ka-kamu—" mukanya seperti saos cabai, merah dan panas. Orochimaru akhirnya menghentikan langkahnya, membalikkan badannya hanya untuk melihat genin berambut putih acak-acakan yang sedang kikuk.

"Apa?" Orochimaru menatap Jiraiya dengan mata ularnya yang dingin, seperti biasanya. Jiraiya semakin salah tingkah. Mulutnya komat-kamit, ingin berbicara, tapi tidak ingin membicarakannya. Orochimaru menyabarkan dirinya untuk menunggu Jiraiya menyelesaikan kalimatnya. Setelah beberapa saat ia berpikir ini hal yang sia-sia, Orochimaru memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulangnya.

Melihat Orochimaru akan berpaling untuk pulang, secara tak sadar tangan Jiraiya berusaha menghentikan kepergian rekannya. Tangannya mencengkeram erat pundak Orochimaru. Si pemuda ular kembali menatapnya dengan pandangan setengah sebal.

"Aku cuma mau tau, kenapa ka-kamu nglakuin hal yang ber-berbeda" Jiraiya melepaskan tangannya dari pundak Orochimaru. Walaupun apa yang baru saja ia ucapkan bukan hal yang ingin ia ucapkan, tetap saja Jiraiya merasa hatinya tidak tenang. Pikirannya sudah campuraduk.

Orochimaru sama sekali tidak menunjukkan perubahan ekspresi. Hal ini membuat Jiraiya semakin bingung menghadapi situasi ini. Malam-malam, berdua saja, di tengah jalan, untung sepi ga ada orang. Hening selama beberapa waktu menemani mereka..

"Aku ga terlalu suka ramen,"

Hening terpecah oleh jawaban singkat ga jelas dari Orochimaru.

Jiraiya hanya melongo mendengarnya, sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apa maksudnya? Ga suka ramen? Trus ga mau jilat aku lagi? Bukannya petani juga susah payah menanam gandum? Eh? Gyaaah Pikiran Jiraiya makin tidak karuan karena kembali teringat kejadian itu. Ada apa dengan aku dan dirikuuu!! Jiraiya menghempas-hempaskan tangannya untuk menghilangkan asap yang mengepul dari kepalanya.

"Lagipula aku sudah kenyang makan semangkok ramen, ga seperti waktu aku harus berbagi bentou denganmu," Orochimaru sudah malas menghadapi genin berambut putih itu, ia membalikkan badannya dan mulai melangkah lagi, "sudah semakin malam, rumahku masih agak jauh, jya oyasumi."

Kembali terlihat sosok punggung mungil yang tertutup oleh rambut hitam panjang, sedikit demi sedikit mengecil, terus maju menuju ke jalan yang ujungnya tertutup oleh gelap malam, hingga akhirnya menghilang dari pandangan Jiraiya yang berkabut oleh asapnya sendiri.

Jiraiya tidak mencegahnya pergi walau ia tidak ingin Orochimaru pergi secepat itu. Tangan di dadanya merasakan jantung yang masih berdebar kencang. Sendirian di tengah jalan yang sepi ia berdiri tak bergeming. Pikirannya terlalu memberati kakinya untuk melangkah. Ia sudah tidak peduli dengan angin malam yang membuat bulu kuduknya merinding.

Kenapa ini? Kenapa berdebar-debar? Lagian apa maksud Orochi? Udah kenyang? Jadi waktu itu dia nglakuin itu karena masih lapar cuma makan setengah bentou? Jadi usaha keras petani itu juga cuma alesan? Hyee?? Jadi karena itu dia ga mau jilat aku lagi?

….ga mau jilat aku lagi?

….jilat aku lagi?

….

GYAAAAAH!!

(Jiraiya dan otaknya, baru saja mengalami malfungsi dan harus di reset.)

3 menit kemudian…

(sudah di reset dan di restart)

"AKU COWOK NORMAAALLLL!!" Teriak Jiraiya memecah kedamaian desa Konoha malam itu. Tentu saja, lampu-lampu rumah yang tadinya sudah mati, satu persatu menyala. Sebagian rumah membuka jendela, sebagian yang lain membuka pintu. Sandal dan sapu melayang bertebaran menimpuk kepala si genin. Sumpah dan serapah tertumpah membisingkan telinga para penghuninya.

Jiraiya yang menyadari kebodohannya terpaksa menggunakan thousand shadows running no jutsu, salah satu ninjutsu paling efektif dari dunia ninja.

"Oi!! Balikin sandalku!! Dasar anak nakaal!!" teriak salah seorang bapak-bapak yang tadi melempar sandal. Dobel rugi lah beliau malam ini, tidurnya diganggu teriakan Jiraiya dan sandalnya dibawa kabur olehnya, tepatnya sih nyelip di kimono.

'Oke! Baiklah! Akan kubuktikan aku cowok normal!' Jiraiya telah memantapkan hatinya dalam perjalanan pulang. 'aku akan memperdalam touton no jutsu! Jutsu pengintip paling mutakhir yang kuciptakan baru-baru ini!' bibirnya menyengir lebar, berusaha melupakan sesosok pucat Orochimaru, menggantikannya dengan sosok-sosok gadis seksi.

Sambil menyusuri jalan Jiraiya menengok kanan kiri mencari sesuatu. Setelah berjalan beberapa lama akhirnya ia menemukan yang ia cari. Kepulan uap hangat yang menyeruak dari sebuah jendela kecil di sebuah rumah. Jiraiya yakin itu adalah uap dari air kamar mandi. Dengan segera ia melompat dinding pagar dan menyelinap ke dalam taman rumah tersebut, mendekati jendela yang sedikit terbuka itu.

'Hehehe ada juga orang yang mandi malem-malem gini. Moga-moga yang lagi mandi bukan bapak-bapak' muka yang tadinya tersipu malu menghadapi Orochimaru telah berubah menjadi muka pervert.

Ia menemukan bangku kayu kecil di pinggir taman. 'lucky!!' dengan cekatan Jiraiya mengambil dan menjadikannya pijakan. Jiraiya meraih bingkai jendela dengan sedikit berjinjit pada bangku tersebut. Perlahan ia menggeser kaca jendelanya agar dapat mengintip lebih jelas.

Terlihat sesosok gadis muda, tampaknya sebaya dengan Jiraiya, sedikit tertutup oleh uap hangat yang tebal, sedang berendam di dalam bak mandi. Jiraiya tidak dapat melihat muka gadis itu karena sang gadis membelakanginya. Tak apalah, rambut hitamnya yang disanggul dan kulit punggungnya yang putih bersih sudah cukup membuat Jiraiya senang. 'Ternyata memang cewek lebih baik daripada aku mikirin si ular aneh itu' ia terus menikmati pemandangan indah itu, wajahnya merah bukan hanya karena kepervertannya, tapi juga karena uap hangat yang menerpa mukanya.

'hmm… wangi strawberry… cewek itu pake shampoo strawberry yah…' Jiraiya tersenyum-senyum sendiri, 'aku memang cowok normal.. yess..'

Setelah cukup lama gadis itu akhirnya selesai berendam. Tetap dengan membelakangi Jiraiya, ia berdiri untuk mengambil handuk kecil. 'wow badannya langsing' Jiraiya terkekeh dan darah hampir saja menetes dari hidungnya. 'pahanya seksi..' Si gadis melilitkan handuk ke setengah bagian bawah badannya sehingga Jiraiya tidak dapat melihatnya. Karena terlalu bersemangat ingin melihat bagian atasnya, Jiraiya tak sengaja menjatuhkan bangku yang menjadi pijakannya.

Brak

'mati aku'

Jiraiya mati-matian berpegangan pada bingkai jendela agar ia tidak jatuh. Sang gadis terkaget mendengar kegaduhan di luar rumahnya dan dengan segera menuju jendela bermasalah itu. Dibukanya kaca jendela lebar-lebar untuk melihat apa yang terjadi. Dijulurkan mukanya ke luar jendela, menengok ke kanan kiri, namun tak terlihat apapun. Ia pun menunduk ke bawah untuk melihat seorang bocah berambut putih tergantung di bingkai jendela rumahnya.

Mata Jiraiya serasa terlontar keluar. Bukan karena ketahuan sedang mengintip, tapi…

"…Jiraiya?"

Terdengar suara yang sangat familiar dari sang gadis. Ternyata sang gadis itu adalah tak lain dan tak bukan, bukan sulap bukan sihir, bukan rekayasa atau hasil editan, siapa lagi kalau bukan o-ro-chi-ma-ru

GABRUK

Jiraiya sudah tak kuat mempertahankan pegangannya, juga sudah tidak kuat menghadapi kenyataan yang baru saja ia hadapi. Terpuruk di atas tanah dengan posisi telentang, terlihat setengah badan Orochimaru yang baru saja selesai mandi, menyembul keluar dari jendela kamar mandinya.

Kulit yang putih bersih, wangi shampoo strawberry dari rambutnya yang hitam, badan yang kecil namun indah, tanpa kimono yang biasa menutupinya, juga tatapan ular yang dingin itu… Jiraiya meratapi dirinya sendiri.

"Ngapain kamu di pekarangan rumahku?" Orochimaru bertanya dengan nada datar. Jiraiya hanya terdiam. Matanya masih terbuka, menatap sosok Orochimaru yang ada di atasnya. Setetes dua tetes air hangat jatuh dari ujung rambut Orochimaru, menetes ke wajah Jiraiya, tapi ia tidak ada keinginan untuk menyekanya dan tetap terdiam.

Ada tetesan kental dan hangat yang lain yang mengalir di hidung Jiraiya. Ia tidak bisa mengontrolnya. Itu bukan karena ia jatuh menabrak tanah dengan kerasnya. Tapi tetap saja… hal ini terjadi lagi. Sebenarnya Orochimaru malas mengatakannya, namun ia hanya ingin membuat akhir dari chapter ini sama seperti akhir dari chapter pertama.

"…Jiraiya… kau mimisan?"

--

tbc?

yeah.. bentar lagi… masih ada crita nih…

Lalu… Sementara itu di rumah kediaman klan Senju…

'Ufufufu…. Lalu keduanya berpelukan, saling berciuman, lalu lalu… kyahahaha' Tsunade sedang tenggelam dalam dunianya, berlembar-lembar kertas berisi fanfic yaoi berserakan di kamarnya.

"Tsunade-neechan, ini bachanya apa?" Nawaki kecil mengambil secarik kertas dan mulai membaca keras-keras. "Je ii jiii…! ell aa laaa..! ii yee aa iyaa…! Jilaiyaaa!" dengan bangga Nawaki kecil memamerkan hasil belajar membacanya, "che ii chii…! uu emm ummm…! chium! ooo ell oo… olloo! che ii chii..! emm aa maa…"

blepp

"habebebebbh" Nawaki tidak bisa melanjutkan aksi membacanya karena dibekap oleh Tsunade yang panik jika fanficnya terdengar oleh orang rumah. Apa jadinya jika kakek-kakeknya yang secara para hokage mengetahui hasil kerjaannya malam-malam begini.

"Anak kecil belum boleh baca ginian ya Nawaki chayankk" Tsunade berusaha menenangkan adiknya yang shock akibat dibekap. Nawaki cemberut dan mulai menangis.

"Neechan jyahaad!! Neechan juga kan machih kechilll!!"

"Siapa bilang dadaku kecill!!"

bletak..

tbc….

Fiuhh… jadi juga chapter dua ini… ni judulnya ada kata perverts (plural).. coz udah nambah Jiraiya yang jadi ikutan pervert

….ini mah bukannya asammanis kehidupan team sannin, tapi asammanis masa pubernya Jiraiya wakakak… tapi ntar juga semua anggota team sannin ada critanya kok..

jadi asal muasal tabiat pervert Jiraiya dimulai ketika ia ingin mengalihkan perasaannya dari Orochimaru… walo usahanya ptamanya gagal coz yang dia intip ntu si Oro wakakak…

jadi pesan moral chapter ini adalah: klo udah jodoh, tak akan lari gunung dikejar –digencet gunung-

ini cerita kan bersetting di jaman sannin masi genin, jadi sekitar 40 taonan sebelum cerita Narto dimulai, jadi Teuchi yang punya Ichiraku masih kecil, Taichi asli ngarang. Di sini Sarutobi belom jadi Hokage… adeknya pak Hashirama yang masi jadi Hokage.. Jaman itu juga belom model ada kompie ato laptop, jadi Tsunade bikin fanficnya di kertas…

jadi pesan moral yang lain adalah: klo mau bikin fanfic yaoi jangan lupa kunci pintu dulu…

Trus Tsunade kan waktu itu masi kecil, jadi badannya masi rata kayak papan, mungkin sejak kejadian itu dia jadi rajin minum susu hingga akhirnya… yah liat aja sendiri Tsunade di umur 50 taon ntu…

very very makasi yang udah ngreview karya saia ini… semoga Anda-anda sekalian sehat selalu dan selamat menempuh hidup baru (?)

direview yah pembaca yang budiman… makasiii…