Oh Mari presents

.

At Gwanghwamun Songs Fiction

.

Jeon Wonwoo (GS!)

Kim Mingyu

Hong Jisoo

Xu Minghao (GS!)

Wen Junhui

.

Chapter 2

One Confession

(사랑이 숨긴 말들)

.

"I'll be there, one step behind

As if I'm just going my way, I'll slowly walk

I'm not trying or waiting

I can't help it, I was placed here"

.

.

.

JISOO'S POV

Saat melihat gadis itu, yang terlihat hanyalah kesan bahwa ia adalah gadis yang sangat bersemangat. Tapi, menurutku dia itu bodoh, amat sangat bodoh. Bagaimana ia masih bisa bertahan menjalani hubungan dengan seorang lelaki abnormal dalam artian bahwa lelaki itu tidak sensitif sama sekali. Yah, sebenarnya aku pun tahu bahwa aku tidak berhak berkomentar.

Tapi, baru kali ini aku melihat seorang gadis yang rela menutupi semua kesedihannya dengan senyuman yang palsu menurutku. Memang mungkin jika dari pandangan orang lain, Wonwoo—nama gadis itu, terlihat baik-baik saja dan bahkan bila ia mengutarakan kecemburuannya, orang pasti melihatnya seperti seorang gadis egois dan manja yang menyebalkan.

Yah, sebenarnya walanya aku pun juga berpendapat demikian ketika melihatnya mengerucutkan bibirnya sebal saat kekasihnya berdekatan dengan gadis berambut panjang yang merupakan sepupu temanku, Jeonghan, yaitu Xu Minghao.

Jika dilihat-lihat, Xu Minghao memang tampak seperti gadis lemah yang butuh perlindungan apalagi bila kita bandingkan dengan si rubah cerewet itu. Jadi, mungkin naluri protektif Mingyu lebih tersalurkan ke arahnya. Kurasa hampir semua laki-laki akan berpendapat demikian. Wonwoo memang bukan gadis yang lemah, ia malah terkesan hiperaktif, sama seperti temannya si Wen Junhui.

Semua pandangan burukku tentang Jeon Wonwoo berubah sejak hari dimana aku secara tidak sengaja bertemu dengannya.

.

.

-FLASHBACK-

"Seleksi pemain kali ini lama sekali ya, Jisoo?" tanya teman setimku, Seungcheol. Ku jawab pertanyaannya dengan anggukan. "Tapi paling tidak ada beberapa yang memang terlihat sangat berbakat. Misalnya, Mingyu, adik Jongin-sunbae, kau lihat tadi caranya bermain?" tanyanya lagi.

"Tentu, aku tidak terlalu terkejut mengingat bahwa Jongin-sunbae adalah mantan ketua tim basket kita, Cheol. Dan kurasa ialah yang akan menjadi ketua tim untuk menggantikanku," jawabku sambil merapikan tasku.

Kami baru saja selesai mengadakan seleksi untuk pemain baru di tim basket, dan kini aku berada di ruang ganti bersama Seungcheol dan beberapa teman seangkatan kelas 2 serta senior kelas 3, karena tentu senior akan pulang lebih lama dibanding juniornya.

"Kau langsung pulang ke rumah, Soo? Kau benar tidak mau ikut pesta perpisahan dengan senior kelas 3?"si cerewet itu terus bertanya. Sepertinya Seungcheol juga sudah selesai merapikan barang-barangnya. Dan lagi-lagi kujawab pertanyaannya dengan anggukan.

"Ah, kau tidak asik, Soo." Bibirnya mengerucut secara menjijikan. Beberapa anggota tim juga ikut-ikutan memaksaku ikut.

Padahal sudah jelas bahwa aku tidak bisa ikut. "Aku ada kerja sambilan. Aku harus menggantikan shiftku saat bolos demi latihan untuk pertandingan sebelumnya."

Mereka terlihat kecewa dan menghela napas. Aku melihat jam dari ponselku dan sepertinya aku harus segera pergi. "Sudah ya, aku harus cepat. Kerja bagus, terima kasih atas kerja keras kalian hari ini. Sampai jumpa," kataku sambil berlari kecil keluar ruangan setelah mereka juga mengucapkan sampai jumpa padaku.

Ketika aku melangkah keluar dari lapangan, aku melihat Mingyu berada di samping lapangan. Aku berniat untuk menyapanya, hitung-hitung pendekatan dengannya sebagai ketua tim, sekaligus memberi ucapan selamat secara pribadi. Siapa tahu, ia akan langsung setuju menjadi penggantiku karena sepertinya adik Jongin-sunbae itu tidak suka direpotkan dengan tugas sebagai ketua.

Saat aku semakin dekat dengannya, aku mengengar suara seorang perempuan dan akhirnya kusadari bahwa ia sedang bersama orang lain yang kalau tidak salah adalah pacarnya. Lebih baik kutunggu saja sampai mereka selesai bicara, baru aku akan menyapa Mingyu. Mungkin mereka akan merencanakan kencan sepulang sekolah atau apalah, dasar lovebirds.

"Jadi apa maksudmu kau tidak bisa mengantarku pulang?" Suaranya terdengar kesal.

"Jeonghan-hyung ada rapat sampai malam, Minghao tidak boleh pulang sendiri," jawab Mingyu.

"Lalu aku bagaimana? Kenapa Minghao tidak naik bis saja sih daripada merepotkan."

"Jangan bercanda, naik bis itu sangat berbahaya untuknya."

"Dan menurutmu itu aman untukku?"

"Bukankah kau bisa jaga dirimu sendiri? Ah, kau naik taksi saja kalau begitu, ini uangnya." Gadis itu melihat Mingyu dengan pandangan tidak percaya. Benar sih, menurutku ini tidak benar, lelaki itu malah menelantarkan pacarnya demi temannya.

"Kau keterlaluan, Mingyu. Sudahlah, pergi saja sana!" Kemudian datanglah seorang gadis lagi berambut panjang yang kukenal sebagai sepupu Jeonghan. "Wonwoo, maaf ya. Jeonghan-oppa tidak akan membiarkanku naik kendaraan umum," katanya.

"Sudahlah, kalian pulang saja sana. Siapa juga yang mau melakukan kejahatan padaku, 'kan?" Oke, ucapan gadis itu terdengar pahit, apalagi saat melihat senyum kecutnya. Ia lalu beranjak dari tempat itu meninggalkan Mingyu dan sepupu Jeonghan.

Ah, sepertinya suasananya sedang buruk, kuurungkan niatku menyapa Mingyu saja. Aku pulang saja, cukup menjadi pengupingnya, Jisoo. Aku melanjutkan jalanku keluar sekolah menuju halte bis. Tak kusangka aku bertemu dengan kekasih Mingyu.

Ia sedang berdiri sambil mengomel tidak jelas, aku tidak tahu apa yang ia katakan. Setelah aku semakin dekat, aku berdiri di sebelahnya. Gadis itu sepertinya tidak sadar dan terus menggerutu tidak jelas. Karena berisik, aku bergeser menjauhinya sedikit.

"Hiks."

Hah? Aku menoleh ke arahnya, ia mengusap pipinya. Apakah ia menangis? Dan pertanyaanku terjawab isakan itu semakin terdengar jelas. Ajaibnya, gadis itu tetap mengomel sambil menangis. Yang kudengar ialah "bodoh", "batu", "es", dan lain-lain yang sepertinya ditujukan untuk Mingyu.

Entah kenapa, semakin lama tangisannya terdengar semakin menyedihkan. Baru aku ingin mengajaknya bicara, bis telah datang. Kulihat ia menghapus air matanya lalu naik bis dan aku naik setelahnya.

Ia berjalan dengan sempoyongan, hingga saat bis berjalan, ia oleng and hendak jatuh. Langsung saja kupegang bahunya agar ia tidak jatuh. Gadis itu lalu menoleh kebelakang untuk melihatku.

Dan, oh, wajahnya cantik sekali jika dilihat dari jarak sedekat ini. Sontak pipiku memanas apalagi wajahnya yang habis menangis itu merah dan terlihat sangat imut. Ia teperangah sejenak lalu sepertinya ia sadar setelah beberapa detik. Ia segera berdiri tegak dan aku melepaskan peganganku padanya.

"Ah, maaf, maaf, aku tidak hati-hati. Tapi, terima kasih telah menolongku," katanya sambil sedikit membungkukkan badannya canggung.

"Tidak apa kok," jawabku sambil tersenyum. Gadis itu terlihat lega dan membalasku dengan senyuman. "Ah, sunbae kapten tim basket kan? Tadi aku melihat sunbae di seleksi pemain dan sunbae keren sekali," katanya lagi setelah ia mendudukkan dirinya di kursi terdekat. Aku melihatnya seakan meminta ijin untuk duduk di sampingnya, ia mengangguk setuju.

"Benarkah? Jangan terlalu memuji, Mingyu lebih keren kok," balasku ketika sudah duduk. Senyumnya perlahan luntur, dasar Jisoo! Aku sepertinya salah bicara lagi, benar-benar payah kau, Jisoo!

"Hehe, tentu saja. Mingyu selalu keren, dia benar-benar ahli bermain basket," ujarnya. Untung saja gadis ini terlihat masuk dalam golongan ceria, aku jadi lega mendengar suara bangganya saat bicara mengenai Mingyu.

"Aku setuju denganmu, ia salah satu kandidat kapten yang baru." Wajahnya seketika menjadi berbinar-binar, "Tentu, sunbae! Mingyu cocok sekali menjadi ketua yang baru!" Gadis aneh, ia tetap bisa bahagia untuk Mingyu setelah sebelumnya bertengkar dengannya.

"Masih pertimbangan sih. Karena juga ada Seokmin yang bermain bagus, kau tahu? Yang senyumnya lebar itu."

"Ah, tidak, tidak, sunbae. Mingyu lebih bagus kok, mungkin Seokmin-ssi lebih lincah, tapi Mingyu lebih berwibawa. Tadi sunbae lihat kan, saat Mingyu bermain, ia tahu harus passing kemana, sedang Seokmin-ssi hanya mengandalkan dirinya sendiri. Mingyu saja ya, yang jadi ketua," mohonnya padaku. Aku tertawa kecil melihatnya, ia sangat lucu.

"Haha, kau ini. Tapi benar sih, Seokmin cukup egois. Kalau begitu akan kubicarakan dengan anggota tim lain."

"Waah, bagus kalau begitu. Kujamin Mingyu akan jadi ketua yang tepat."

"Tapi, aku belum janji lho, ya. Kami menggunakan sistem voting, dan karena aku ketua votingku dinilai 2 angka. Dan kupastikan suaraku untuk Mingyu."

"Terima kasih ya, sunbae. Kau baik sekali, dan emm, nama sunbae siapa ya? Aku Jeon Wonwoo, panggil Wonwoo saja," ia menyodorkan telapak tangannya ke arahku.

"Namaku Hong Jisoo," kataku sambil menjabat tangannya. "Jadi, kupanggil Hong-sunbae, boleh?" tanyanya.

"Tidak." Ia terlihat terkejut, sepertinya ia kaget mendengar jawabanku.

"Maaf, sunbae, aku sok kenal ya?" katanya sambil menunduk.

"Bukan begitu, panggil Jisoo saja. Itu maksudku, Wonwoo," jawabku sambil terkekeh.

-END OF FLASHBACK-

.

.

Itulah awal pertemuanku dengan Wonwoo yang sekaligus mematahkan semua presepsi burukku tentangnya. Ia tidak egois, bahkan jauh dari sifat itu, lagipula ia hanya meminta haknya sebagai kekasih. Dan juga, ia Wonwoo bukanlah gadis yang sekuat itu, dia hanya gadis biasa yang sakit hati karena cinta.

Aku senang saat Wonwoo menerima tawaranku menjadi manajer tim dengan alasan 'daripada nganggur' saat menemani Mingyu latihan. Memang tentu alasan ia setuju adalah karena ia bisa dekat dengan Mingyu. Makin lama aku dan Wonwoo semakin dekat, sebagai teman, ya, hanya itu. Walaupun kuakui saat ini sepertinya itu tidak cukup untukku.

Tapi aku masih waras, gadis itu mempunyai kekasih yang ia cintai. Sebenarnya aku tidak yakin apakah aku dapat menyimpan perasaan ini dalam-dalam, terutama bila gadis yang kusukai sering disakiti oleh kekasih tercintanya.

.

.

"Ya, latihan selesai!" seru Mingyu lantang, sepertinya tidak salah aku memilihnya menjadi ketua, ia mempunyai wibawa yang cukup tinggi. Setelah mendengar seruannya, kami semua berhenti bermain.

Kulihat Wonwoo berjalan membagikan handuk kepada setiap anggota, hingga ia berdiri di depanku dan menyodorkan sebuah handuk bersih berwarna putih. "Kerja bagus, sunbae!" katanya sambil memberiku senyuman yang mampu menyegarkan hatiku. Aku mengambil handuk yang diberikannya lalu mengucapkan terima kasih sambil menepuk pelan kepalanya.

Wonwoo kemudian berjalan lagi membagikan handuk pada anggota lain dan tentu Mingyu. Ia juga membawakan botol minum untuknya. Sedangkan yang lain hanya diberi handuk dan mengambil botol minum sendiri. Ya, mau bagaimana lagi, toh Mingyu adalah kekasihnya.

Kulangkahkan kakiku untuk mengambil minum kemudian kubuka tutup botolnya lalu kuteguk untuk menghilangkan rasa hausku. Mataku tetap saja melihat kearah dua orang yang merupakan adik kelasku itu sampai seseorang menepuk bahuku.

"Yo, jaga mata, jaga mata, sudah ada yang punya, lho," kata Seungcheol seolah mengejek. Segera saja kupukul kepalanya. "Apa maksudmu?" kataku sambil melotot.

"Ngaku saja deh, banyak kok yang suka sama manajer,"lanjutnya.

"Jangan sok tahu, Cheol."

"Tapi jangan diteruskan deh," nada bicaranya berubah serius. Ia melihat ke arah Mingyu dan Wonwoo lalu melihatku.

"Sudah kubilang jangan sok tahu, Cheol. Ak-"

Seungcheol memotong ucapanku, "Kau yang jangan bohong. Kalau yang lain suka dengan Wonwoo itu karena memang pecicilan, siapa saja yang cantik pasti digoda. Kalau kau beda, Jisoo. Jadi, saranku, berhentilah sebelum terlambat. Oke?" Seungcheol lalu mendahuluiku pergi ke ruang ganti setelah menepuk bahuku.

Kata-katanya membuatku berpikir, dan kurasa ia memang benar. Akan lebih baik bila aku memainkan peran sebagai teman yang baik untuknya. Toh, melihatnya tersenyum dan bahagia sudah cukup lumayan untukku. Aku bisa menjaganya dari jauh, dan itu..cukup, mungkin.

.

.

"Even if you cry, I'll embrace you

Even if it's because of that guy"

.

"Wonwoo?" tanyaku bingung saat melihat gadis itu duduk di taman dengan raut wajah sedih.

"Ji- Jisoo-sunbae?" jawabnya terbata-bata, sepertinya ia sedikit kaget melihatku.

"Jadi apa lagi sekarang? Apa yang dilakukan si Kim itu?"

"Huh, sepertinya masalahku hanya dia ya, sunbae?"

"Jadi bukan Mingyu masalahmu?"

"Sayangnya memang Mingyu sih. Siapa lagi? Ah, Minghao juga," jawabnya sambil mengerucutkan bibir.

"Kenapa selalu mereka sih? Jujur, aku bosan kalau tentang mereka. Tapi karena aku baik, cerita saja," kataku bercanda.

"Wow, percaya diri sekali kalau aku akan cerita," jawabnya mengejek. Aku tertawa kecil mendengarnya, paling tidak wajahnya tidak semenyedihkan tadi. Aku kemudian tersenyum sambil mendekatkan telingaku padanya, mengisyaratkan bahwa aku siap mendengar.

"Baiklah, Mingyu membatalkan kencan karena mau menemani Minghao check-up besok," katanya pelan.

"Begitukah? Kenapa harus Mingyu yang mengantarnya? Bukankah Minghao cukup dekat dengan Jun? Waktu latihan saja, dia memberikan minum untuk Jun," jawabku.

"Ah, itu benar. Tapi Jun ada kerja sambilan."

"Lalu kenapa kau tidak ikut saja dengan mereka, lalu selesai check-up antar Minghao pulang, lalu kencan?"

"Tidak bisa. Sakit mata, sunbae!" jawabnya yang membuatku kembali tertawa. Gadis ini memang mulutnya cukup tajam. Ya, mungkin itu salah satu alasan mengapa ia kuat bersama dengan Mingyu yang tidak sensitif itu.

"Sudah, sudah, toh hanya minggu ini, kan? Memang kau mau kencan kemana?"

"Semoga saja, kalau tidak, dia tidak usah check-up saja sekalian, toh, dia kelihatan baik-baik saja kok. Huh," katanya menggebu-gebu.

"Haduh, ketus sekali kau nona!" ledekku.

"Biarkan! Padahal aku sudah ijin kerja sambilan untuk besok. Padahal aku sudah beli baju baru hanya untuk besok, pada- hiks," ucapannya perlahan berubah menjadi isakan kecil. Aku pun menjadi panik melihatnya.

Kuputuskan untuk mengusap punggungnya pelan,"Sudahlah, untuk apa menangisi hal seperti ini. Bagaimana kalau kau besok pergi denganku?" Ia menengadah menatapku lalu menghapus airmatanya.

"Aku tidak mau selingkuh, sunbae."

DEG! Jawabannya membuatku menjadi tegang seketika apalagi melihat wajahnya yang polos itu. Aku tidak mampu mengeluarkan kata-kata sehingga tercipta keheningan diantara kami.

Tak lama kemudian aku mendengarnya tertawa terbahak-bahak. "HAHAHAHAHA! Sunbae, biasa saja deh, aku kan hanya bercanda," katanya. Aku mengerjapkan mataku bingung.

"Ayo pergi kalau sunbae memang segitu inginnya pergi bersama gadis cantik ini," katanya menyombongkan diri.

"Ah, kalau tidak mau tidak apa-apa," jawabku mengikuti candaannya.

Ia menarik tanganku, "Sunbae, aku bercanda kok. Jangan ngambek ih. Ayolaah, besok ku traktir deh," katanya sok melas.

"Traktir apa?" kataku sok jual mahal.

"Apa ya? Es krim saja ya, yang murah, hehe. Karena aku mau membeli sesuatu," katanya sambil berpikir.

"Hah, dasar. Tidak usah deh traktirannya, aku hanya bercanda kok. Nanti saja saat uangmu banyak, belikan aku mobil."

"Hei! Sama saja dong, sunbae! Besok sunbae mau kemana?"

"Aku ikut saja dengan rencanamu. Sudah terlalu lama jomblo, sudah lupa tempat-tempat kencan."

"Hih, tidak usah curhat deh, sunbae. Siapa juga yang mau kencan?"

"Jadi bukan kencan? Tidak usah kalau begitu," ucapku dengan nada bercanda.

"Iya, iya, friendly date. Puas?"

Tidak, Wonwoo, aku tidak puas dengan itu.

"Baiklah, friendly date dengan lelaki tampan se Korea. Kau beruntung, nona." Wonwoo lalu memukul lenganku pelan dan kemudian kami berdua tertawa bersama.

Biarlah begini, paling tidak aku bisa menjadi tempat penghiburannya. Walaupun aku tidak bisa memilikinya saat ini, tapi memiliki senyumnya juga boleh. Sepertinya aku harus hati-hati, agar perasaan ini tidak meledak ke permukaan. Aku takut, takut ia akan menghindar dariku.

.

.

"I'm getting colored with you

Even your pain is becoming mine

Words that I couldn't bear to say

I love you so much that I have to hide those words"

.


MARI'S NOTE :

Hayhay, kukembali :D Thankyou buat yang udah review : auliaMRQ anxiety, Name meaniemine, jihoonshi, Guest, Kayshone, maecchiato, pizzagyu ! Buat yg ga login, maafkan Mari tak sempat bales :(, soalnya upload pagi, masih ngantuk, takut malah meleng balesnya #lololol. But intinya, ini cerita bakalan bisa bikin kalian sebel ke beberapa karakter sih emang. Selama Mari ngedit FF, Mari ngerasa kalo member SVT di FF ini rada OOC, maafkan :( Oh ya ,sebenernya karena FF ini Remake, jd bisa cepet updatee, tapiiii... Mari nunggu review sih sebenernya. Bukan apa-apa, Mari pingin lihat tanggepan readers sekalian biar kalo ada saran atau kritik, bisa Mari lihat dan bisa bantu Mari buat lebih baik nulisnya di masa yang akan datang #hehe! Boleh doong minta kritik saran di kolom review? *lovelove* (BAIDEWAI) Makasih buat yg uda ngasih tau di review kalo ada typo Ita-kun sama Saso-kun #lololololol. Maafkan mata yg ga teliti ini, btw ini FF remake dari FF SasuSaku emg, jd beneran maafkan kalo masih ada nama yg tertinggal L Diusahakan chap2 selanjutnya tak begini #lololol #ngakaktapiradamalu