Yuhuuu, part 2 sudah datang...
Happy reading~~
Part 2
Seongwoo menatap Daniel yang terdiam. Ada sesuatu yang aneh. Adiknya itu adalah orang yang tidak bisa diam. Dan sejak pulang sekolah sore tadi, Daniel terus diam seperti itu. Apakah Daniel berusaha berbuat onar dan kepergok Hwang Minhyun lagi? Seperti waktu itu?
Seongwoo penasaran. Jika ia diamkan, ia bisa mati karena penasaran.
"Niel-ah, lu kenapa? Dari sore tadi kerjaan lu bengong mulu. Lu ada masalah?"
Mendengar kata masalah keluar dari mulut Seongwoo, sang Papa—yang sedang asyik menonton tivi di ruang sebelah—berteriak, "Siapa yang bikin masalah lagi? Jangan sampai Papa dengar kalian bikin masalah lagi, ya! Awas aja kalau kalian sampai bikin masalah lagi, Papa potong anu kalian sampai abis!"
Seongwoo dan Daniel refleks menurupi area selangkangan mereka dengan tangan. Takut jika sang Papa benar-benar melaksanakan ancamannya.
Seongwoo dan Daniel bertukar pandang, lalu tertawa melihat di mana letak tangan keduanya.
"Serius, deh. Lu bisa cerita sama gue, Niel-ah."
"Gue gak papa kok, Bang. Beneran. Gue gak ada masalah, kok."
"Trus, kenapa lu dari tadi diem mulu, sih? Kan gue khawatir jadinya. Gue takut lu kenapa-napa, Niel-ah. Lu tau, kan, kalo gue sayang sama lu."
Daniel mengangguk. "Iya, Bang. Gue juga sayang, kok, sama lu. Tapi beneran, kok, Bang, gue gak ada masalah apa-apa."
Seongwoo menatap Daniel tidak percaya.
"Beneran?"
"Bener, Bang."
"Trus, lu kenapa diem mulu dari tadi?"
"Gue lagi mikir, Bang. Gue, kan, kepilih ikut jadi bagian squad dance sekolah buat lomba. Tapi, jujur aja, Bang, gue gak enak sama member yang laen. Gue, kan, baru aja gabung, masa udah dipilih."
"Lu kepilih jadi bagian squad dance?" Daniel mengangguk. "Jeli juga yang milih."
Daniel melemparkan pandangan bertanya pada Seongwoo.
"Gue tahu gimana kemampuan dance lu, Niel-ah. Jangan ngeraguin kemampuan lu sendiri, deh."
Daniel diam lagi. Seongwoo beringsut menghampiri Daniel, menepuk pundaknya.
"Selamat, ya. Lu fokus sama kompetisi aja, jangan ngikutin bobroknya gue mulu, ya."
Seongwoo tersenyum.
"Lu gak bobrok, kok, Bang. Cuman gak waras aja," Daniel tertawa lalu berlalu menuju kamarnya, bersiap sembunyi menghindari amukan Seongwoo.
Seongwoo sudah akan mengejar Daniel, jika saja sang Papa tidak menahan tangannya.
"Mau ke mana? Suka banget, sih, gangguin adeknya." Seongwoo cemberut. Melihatnya, sang Papa bergidik. "Gak pantes, Woo, gak pantes. Masih pantesan adekmu yang cemberut kayak gitu, kalo kamu yang cemberut udah kayak setan, tahu."
Daniel yang ternyata sedang mengintip, tertawa terbahak-bahak.
"Papa, kok, jahat, sih?" Seongwoo protes.
"Kenyataan, Bang, itu kenyataan," Papa Ong tertawa. "Ngomong-ngomong, kamu sama Daniel di sekolah baru gimana? Gak ada masalah, kan?"
Seongwoo menggeleng, "Gak ada masalah, kok, Pa."
"Terus, itu si adek, kenapa diem mulu dari tadi?"
"Kata Daniel, sih, tadi Daniel kepilih ikutan squad dance gitu, Pa. Cuman Daniel ngerasa gak enak aja sama member lain yang gak kepilih."
"Wah, iya? Hebat itu si adek. Jeli juga yang mlih si adek ikutan squad dance. Kamu sendiri gimana? Gimana sama futsalnya?"
"Biasa aja, Pa."
"Ngomong-ngomong, kamu udah ada pacar, Bang?" Seongwoo memberi Papa Ong tatapan datar. "Apa?"
"Papa tumben amat nanyain masalah pacar. Biasanya aja kalo aku cerita soal cewek langsung ngamuk-ngamuk."
"Gimana Papa gak ngamuk-ngamuk, kalo cewek-cewek yang kamu ceritain sama bawa itu bukan cewek baek-baek," Papa Ong diam sebentar. "Papa lihat, kamu sama Daniel udah sedikit berubah sejak pindah sekolah. Udah gak begajulan lagi kayak waktu masih di sekolah yang lama. Papa pikir, ada seseorang yang turut andil buat ngerubah kalian." Muka Seongwoo memerah tiba-tiba. Papa Ong tersenyum. "Bener ada, ya? Boleh, tuh, kapan-kapan dikenalin ke Papa."
"Pa... Misalnya—ini cuma misalnya, ya?—kalo aku naksir sama cowok gimana?"
Papa Ong diam. "Cowok?" Seongwoo mengangguk, hatinya berdebar-debar menunggu jawaban dari sang ayah. "Papa rasa, selama cowok itu yang udah berhasil ngerubah kamu dari begajulan jadi baik, dan selama dia memang orang yang baik, sih, Papa gak ada masalah. Papa tahu, kok, masalah hati itu gak bisa dipaksa-paksa. Jadi, siapa orangnya? Ada fotonya gak?" Papa Ong tersenyum jahil.
Muka Seongwoo memerah lagi.
"Namanya Kim Jonghyun, Pa. Dia Ketua OSIS. Anaknya manis banget, apalagi kalo lagi senyum," Seongwoo terseyum.
Melihat Seongwoo yang sepertinya terlarut pada lamunan tentang Kim Jonghyun, Papa Ong lebih memilih menyingkir, berjalan menuju arah kamar Daniel. Berniat memberi selamat pada Daniel atas keikutsertaannya di squad dance.
—
Seongwoo mengedarkan pandangannya di sekitar tempar parkir. Melirik jam di pergelangan tangannya. Sepertinya teman-teman klub futsalnya datang terlambat hari ini. Seongwoo bosan. Jika ia tahu akan seperti ini, ia takkan menolak ajakan Daniel untuk menemaninya dulu di ruang klub tari.
Seongwoo menghela napas. Ia benar-benar bosan.
Sebuah jeep berhenti di area parkir di sebelah mobilnya. Dari dalamnya keluar Kim Jonghyun, Hwang Minhyun, Choi Minki, dan Kang Dongho. Alis Seongwoo naik melihat penampilan Jonghyun dan Minhyun.
Pagi ini memang agak dingin. Tapi, apa-apaan itu dengan penampilan mereka berdua? Hoodie hitam dengan masker? Tertutup dari atas hingga bawah. Seongwoo hanya bisa memandang punggung mereka yang menghilang di lorong sekolah.
Lamunannya buyar saat ponselnya berbunyi. Nofitikasi pesan dari Seungcheol, ketua klub futsalnya, menanyakan di mana ia berada. Teman-teman klubnya sudah datang. Seongwoo beranjak menuju lapangan futsal. Keheranannya pada penampilang Kim Jonghyun dan Hwang Minhyun terlupakan.
—
Seongwoo menselonjorkan kakinya. Meraih handuk di tasnya, menyampirkannya di kepalanya. Lalu berbaring di lantai. Tidak salah memang banyak yang menyebut sekolah barunya adalah sekolah elit dengan segudang prestasi. Hari Sabtu yang seharusnya libur saja digunakan untuk aktivitas ekstra kulikuler.
Seongwoo mendengar seseorang duduk di bangku yang tak jauh dari tempatnya berbaring. Mengangkat sedikit handuk yang menutupi matanya, ia melihat Seungcheol yang juga sedang menatapnya.
"Apa?" Seongwoo bertanya. Hanya gelengan kepala yang menjawabnya.
"Salah kalo gue merhatiin anggota gue?" Seongwoo memberinya tatapan tak percaya. "Lu segitu gak percayanya sama gue?" erang Seungcheol. "Kalo gue boleh jujur, gue sama sekali gak peduli kalaupun lu itu anaknya presiden atau anak sultan. Gue juga gak peduli sama track record lu di sekolah yang lama. Yang gue peduliin itu, lu masuk klub fulsal dan bisa kasih kontribusi buat klub fulsal kita. Dan lagi, begitu lu masuk ke klub ini, itu udah otomatis jadi tanggung jawab gue."
Seongwoo bangkit. "Apa semua orang di sekolah ini orang baek semua?"
Seungcheol melemparkan pandangan bertanya. Lalu tertawa. "Ya ampun, pikiran dari mana itu? Jangan salah, banyak anak-anak bandel, kok, di sini. Contohnya Minhyun, atau kalo mau yang lebih ekstrim, sih, Jonghyun juga bandel, kok."
Seongwoo melongo. Jonghyun? Kim Jonghyun? Ketua OSIS? Si manis yang Seongwoo taksir?
"Jonghyun?" Seungcheol mengangguk. "Kim Jonghyun? Ketua OSIS?" Seungcheol mengangguk lagi.
"Kenapa? Gak percaya?"
"Kalo Hwang Minhyun, sih, gue percaya. Gue pernah denger, katanya dia kepergok mau berbuat mesum sama pacarnya di ruang Komite Disiplin dan ketahuan sama guru. Tapi, Jonghyun?" Seongwoo menggeleng, "Gue gak percaya. Polos gitu, kok, anaknya."
Mendengar perkataan Seongwoo, Seungcheol kembali tertawa. "Kata siapa Jonghyun polos. Ngaco. Jonghyun itu gak ada polos-polosnya sama sekali."
Seongwoo menoleh ke arah Seungcheol dengan cepat. Mulutnya terbuka. Tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Lu jelek kalo mangap kayak gitu," Seongwoo mendelik. "Kenapa? Gak percaya?" Seongwoo menganggguk. "Percaya, deh, sama gue, Jonghyun itu gak polos. Lagian, kura-kura genit centil begitu, kok, dikata polos, sih. Jangan ngelawak, deh"
"Tapi, kata Chaeyeon, Jonghyun itu murid paling polos sesekolahan."
Seungcheol terbahak.
"Omongannya Chayeon lu percaya, sih. Dia baru kenal Jonghyun, Woo. Baru setahun, dan dia juga deket sama Jonghyun. Di sekolah ini, Chaeyeon itu terkenal sebagai orang yang ngejar-ngejar Jonghyun. Cewek agresif dia. Dan lagi, Jonghyun, yang emang dasarnya pemalu, kalo dideketin cewek agresif modelan si Chaeyeon ya keder juga lah."
"Dan lu udah kenal lama sama Jonghyun?"
"Jonghyun itu temen gue dari jaman piyik, Woo, jadi gue tahu luar dalamnya Jonghyun gimana. Dan Jonghyun itu gak polos sama sekali," Seungcheol beranjak meninggalkan Seongwoo yang masih belum bisa mencerna perkataan Seungcheol.
Seongwoo mendesah. Ia bingung, sebenarnya Kim Jonghyun itu yang mana? Yang polos atau yang tidak polos? Kepala Seongwoo sakit memikirkannya.
Seongwoo berdiri. Daripada duduk dan memikirkan tingkat kepolosan Kim Jonghyun yang sama sekali tidak bisa ia mengerti, lebih baik Seongwoo pergi melihat latihan Daniel. Lagipula, teman-teman klub fulsalnya juga sudah menghilang satu persatu sebelum latihan di mulai kembali satu jam lagi.
Sesampainya di ruang klub tari, Seongwoo dibuat terkejut dengan keberadaan Jonghyun. Apa yang sedang Jonghyun lakukan di klub tari?
Seongwoo memutuskan untuk menghampiri Jonghyun.
"Hai, Jonghyun."
Jonghyun menoleh mendengar sapaannya dan tersenyum. Senyum yang manis sekali.
"Seongwoo! Gak latihan?" Jonghyun menyingsingkan lengan hoodienya, melihat jam di tangannya, "Oh, lagi istirahat, ya. Hehehe... ."
Seongwoo hanya bisa mengangguk. Terlalu terpana dengan suara tawa Jonghyun. Tidak mungkin makhluk semanis ini tidak polos.
"Ngomong-ngomong, lu di sini ngapain? OSIS lagi kosong?"
Jonghyun memiringkan kepalanya. Seolah-olah pertanyaan Seongwoo tadi adalah sesuatu yang aneh dan tidak bisa dimengerti.
"Umm, hari ini hari Sabtu, hari ekskul," jawaban dari Jonghyun memberikan kesan seolah-olah jawabannya sudah menerangkan segalanya. Seongwoo juga mengerti jika hari Sabtu adalah hari khusus untuk kegiatan ekstra kurikuler, tapi apakah Ketua OSIS tidak ada urusan OSIS yang harus ditangani?
"Ah, gue juga masih murid yang gabung klub selain jadi Ketua OSIS," melihat tampang bingung Seongwoo, Jonghyun langsung menjelaskan.
"Kok di sini? Emang lu ikut ekskul apa?"
Jonghyun tertawa.
"Gue anggota klub tari, Seongwoo-ya."
Jonghyun anggota klub tari? Kenapa Daniel tidak menceritakan padanya jika Jonghyun anggota klub tari?
"Daniel gak cerita, ya?" Seongwoo menggeleng. "Daniel masih kaget kali gara-gara kepilih ikutan squad dance buat lomba."
"Mungkin," Seongwoo diam, "Kemaren sore aja Daniel kayak orang linglung garacgara kepilih di squad dance. Tapi, gue tahu gimana kemampuan Daniel, jadi gue gak kaget."
Kali ini giliran Jonghyun yang menganggukkan kepalanya. "Kemampuan dance Daniel bagus, makanya Hoshi sama Jun milih Daniel buat gabung."
"Lu sendiri? Gabung juga?"
"Kalo gue ikut, yang ada dua-duanya malah keteteran," kekeh Jonghyun.
Keduanya terdiam. Sibuk mengamati bagaimana klub tari berlatih. Seongwoo diam-diam melirik Jonghyun dari sudut matanya. Dilihat dari sudut manapun Jonghyun tidak terlihat seperti murid bandel seperti yang Seungcheol katakan. Jonghyun lebih terlihat seperti murid polos, seperti yang Chaeyeon katakan.
Tapi, Seongwoo penasaran. Jonghyun tidak gerah dengan pakaiannya yang serba hitam dan serba tertutup?
Menyadari pandangan Seongwoo, Jonghyun menoleh. Menaikkan alisnya tanda bertanya.
"Lu gak gerah pake pakaian ketutup yang serba hitam kayak gitu? Tadi pagi, sih, emang agak dingin, tapi sekarang gerah, tahu. Panas."
Jonghyun menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
"Enggak, kok. Lagian gue udah biasa. Gue gak suka pake pakaian yang terbuka."
"Biasa atau mau nutupin sesuatu?" Hoshi bertanya dengan suara menggoda dan senyum dikulum. Jawaban Jonghyun hanyalah tawa dan tepukan ringan di bahu.
Menutupi sesuatu? Menutupi apa? Seongwoo bingung.
"Hush. Udah, balik sana. Gak baek ketua kerjaannya ngilang pacaran mulu, sekali-kali Wonunya yang digeret ke sini aja."
Hoshi mendelik. "Dih, kayak situ enggak gitu," gerutu Hoshi lalu berlari menghindar dari pukulan Jonghyun.
Jonghyun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Lu gak balik latihan, Seongwoo-ya? Tapi, kalo lu masih mau di sini, sih, gue bisa izinin ke Seungcheol."
"Gak usah, Hyun, gue balik aja. Lagian gue tadi juga cuma iseng maen ke sini," Jonghyun hanya mengangguk-angguk.
"Gue juga kayaknya juga musti keliling, deh," Jonghyun lalu menoleh ke arah Hoshi dan Jun berada. "Chi, Jun, gue keliling, ya."
Hoshi dan Jun mengacungkan jempol mereka, sebelum Hoshi berkata, "Hyun, jalannya dibenerin, deh. Kalo perlu emperor lu suruh gendong lu, gitu. Gue kasian lihat cara jalan lu," dan tertawa bersama Jun.
Jonghyun menoleh dengan cepat sambil melemparkan komik di tangannya—yang luput dari penglihatan Seongwoo—ke arah Hoshi dan Jun.
"Sialan lu, Chi. Gue laporin ke Wonu lu abis jalan sama Mingyu abis juga lu."
Protes Hoshi tidak Jonghyun hiraukan. Respon Jonghyun hanyalah jari tengah yang diangkatnya sambil berlalu.
Jari tengah.
Seongwoo tersedak air liurnya sendiri melihatnya. Apakah yang dikatakan Hoshi dan Seungcheol tentang Jonghyun itu benar adanya? Seongwoo pusing memikirkannya.
—
Seongwoo berlari ke arah aula tempat diadakannya lomba dance sembari berdoa semoga ia tidak terlambat menyaksikan lomba Daniel. Seongwoo mengutuk Hwang Minhyun, yang dengan seenaknya membuat pengumuman akan memotong kredit jika ada murid yang ketahuan membolos kegiatan ekstra kurikuler hanya untuk menonton klub lain yang sedang berlomba.
'Hwang Minhyun itu iblis berkedok malaikat'. Seongwoo ingat Chaeyeon pernah berkata seperti itu padanya. Dan, Seongwoo setuju. Seratus persen setuju. Hwang Minhyun itu iblis.
(Seongwoo juga masih tidak percaya jika iblis seperti Hwang Minhyun itu banyak penggemarnya. Hampir semua siswi di kelasnya memuja Hwang Minhyun. Sisanya adalah saingannya dalam mendapatkan Jonghyun.)
Mata Seongwoo menyapu seisi aula. Mencari-cari anggota klub tari lain yang tidak ikut bertanding yang mungkin dikenalnya. Matanya menangkap sosok Jonghyun—dan sialnya, Hwang Minhyun juga—di salah satu sudut. Kaki Seongwoo secara otomatis melangkah ke arah Jonghyun.
"Hei," sapa Seongwoo dengan terengah-engah.
"Ong Seongwoo. Lu gak bolos, kan?" bukan Jonghyun yang membalasnya tapi Hwang Minhyun.
"Min," memang hanya satu kata yang Jonghyun ucapkan, tapi nada tegas di dalamnya tetap saja terdengar. "Jangan begitu, Seongwoo di sini itu artinya latihan klub futsal udah selesai. Lagipula, hari ini Uji ada lomba juga, kan. Gak mungkin lah Seungcheol absen gitu aja."
"Oh, iya. Lupa," Minhyun menyeringai, "Bucin abis itu si Seungcheol."
Sebuah tangan tiba-tiba memukul kepala Minhyun dari belakang. Pelakunya Seongwoo ketahui sebagai Hwang Sujin, kakak perempuan Hwang Minhyun.
"Sok-sokan ngatain orang lain bucin, gak sadar sendirinya juga begitu?"
Minhyun cemberut, sedangkan tangan Jonghyun sibuk mengusap-usap bagian belakang kepala Minhyun yang kena pukul.
"Gak usah manyun, gak pantes. Lagian yang aku omongin kenyataan, kok. Masih mau ngelak?"
Minhyun memalingkan wajahnya pada Jonghyun. Masih cemberut, "Jjuya, teh Sujin jahat." Seongwoo hampir muntah melihatnya. Benar-benar tidak pantas.
Respon Jonghyun hanyalah kikikan dan tepukan pelan di pipi Minhyun.
"Yang teh Sujin omongin bener, kok," lalu Jonghyun tertawa puas melihat perubahan raut muka Hwang Minhyun. Yang langsung terhenti melihat seringai kembali muncul di wajah Minhyun.
"Oh, kamu udah berani, ya, sekarang. Minta dihukum banget, ya, kamu," dan kepala Hwang Minhyun sekali lagi jadi sasaran pukulan Hwang Sujin.
"Ya Tuhan, apa salahku hingga punya adek gila macem Hwang Minhyun?"
"Cih," Minhyun mencibir, "Gak sadar diri, ya? Teteh, kan, sama aja gilanya. Gak inget abis ngelabrak kak Jieun kemaren gara-gara berani deketin bang Aron? Mana ngelabraknya di kampusnya bang Aron lagi. Jadi tontonan, kan, kemaren."
Seongwoo hanya bisa mengamati sambil melongo pertengkaran antara kakak beradik Hwang.
"Gak usah diperhatiin, udah biasa itu mereka kayak begitu. Biarin aja," Jonghyun menepuk pundak Seongwoo, mengalihkan perhatiannya dari kakak beradik Hwang.
Seongwoo mencoba mengabaikan pertengkaran mereka. Hampir gagal jika bukan karena suara pembawa acara yang mengumumkan bahwa sekolahnya sebentar lagi tampil dan riuh sorakan penonton di sekitarnya. Syukurlah, ia tidak terlambat.
Atensinya sepenuhnya tersita ke arah panggung. Di mana anggota squad dance sekolahnya menari. Di mana Daniel memperlihatkan kemampuan dancenya. Seongwoo merasakan dirinya hampir menangis melihat Daniel. Seongwoo senang melihat Daniel kembali menari. Seongwoo merasakan bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum yang tidak hilang bahkan setelah Daniel selesai tampil.
Seongwoo merasakan pundaknya ditepuk. Di sebelahnya, Jonghyun mengulurkan sebuah saputangan padanya. Seongwoo hanya bisa menatap bingung pada Jonghyun.
"Buat apus ingus lu, Ong Seongwoo. Lu itu udah jelek ingusan pula jadinya tambah jelek," lagi-lagi Hwang Minhyun yang menanggapinya. Membuat Jonghyun hanya bisa menyikut perut Minhyun untuk membuatnya diam.
Seongwoo meraih saputangan dari tangan Jonghyun. Menyapukan pada wajahnya yang baru disadarinya ternyat basah karena airmata. Seongwoo tanpa sadar sudah menangis.
"Makasih, ya, Hyun. Besok Senin gue kembaliin saputangan lu."
"Gak perlu lu kembaliin. Gue masih punya banyak," Hwang Minhyun lagi yang menanggapinya.
Sialan. Gue kira punya Jonghyun. Gak tahunya punya raja iblis.
"Lu mau ikut ke tempat anak-anak dance, Woo? Sekalian kasih selamat gitu," Seongwoo menganggukkan kepalanya, masih belum bisa merespon dengan baik.
Seongwoo berjalan di belakang Jonghyun dan kakak beradik Hwang, yang lagi-lagi sedang bertengkar. Seongwoo dapat melihat Jonghyun sesekali mengusap atau menepuk lengan Minhyun, seolah-oleh sedang menenangkannya. Seongwoo penasaran seberapa dekatkah hubungan mereka.
Rombongan mereka disambut dengan suara tawa dari anggota klub tari. Seongwoo dapat melihat raut bahagia di wajah mereka. Seongwoo baru sadar, jika squad dance sekolahnya memenangkan perlombaan. Daniel menang. Rasa bangga menelusup ke dalam hatinya.
"Enak, kan, jadi anak baek. Gak perlu nyari ribut kayak yang lu lakuin di sekolah lu dulu," Minhyun melemparkan seringai padanya. Seongwoo benar-benar ingin menonjoknya.
"Bang Seongwoo!" Daniel tiba-tiba menubruknya. "Lu liat gue tadi kan, Bang?" Seongwoo mengangguk. "Gue keren, kan, Bang?" lagi-lagi Seongwoo hanya bisa mengangguk.
"Selamat, ya, Niel-ah. Gue bangga sama lu."
Daniel tersenyum. Seongwoo ikut tersenyum.
"Selamat, ya, Dan. Gak salah memang Hoshi dan Jun milih lu," Jonghyun mendekat mengucapkan selamat pada Daniel.
Mata Seongwoo membola melihat posisi tangan Jonghyun. Tangan Jonghyun berada di lengan Daniel, mengusap-usap pelan, yang terlihat sensual di mata Seongwoo. Mata Seongwoo makin membola saat Jonghyun berjinjit dan mengecup pipi kiri Daniel.
"Gue pulang duluan, ya. Kalian hati-hati di jalannya," Jonghyun mendekat pada Seongwoo, lalu melakukan hal yang sama persis dengan apa yang dilakukannya pada Daniel. Mengecup pipi Seongwoo.
Seongwoo dan Daniel hanya bisa diam tanpa melakukan apapun. Benarkah yang baru saja mengecup pipi mereka adalah Kim Jonghyun? Si manis Ketua OSIS Kim Jonghyun yang pemalu?
Siapakah Kim Jonghyun yang sebenarnya? Bagaimanakah sifat asli Kim Jonghyun?
Seongwoo sama sekali tidak mengerti.
.
Terima kasih sudah mampir dan menyempatkan membaca. Terima kasih juga buat yang sudah memfavoritkan, memfollow, dan kasih komentar di part sebelumnya *bow*
I love you 3
