ANOTHER HOGWARTS STOTY
.
.
Disclaimer : Tokoh-tokoh yang muncul dalam fanfiction ini original by Mr. Masashi Kishimoto (Naruto) , dan Latar belakang dan tempat cerita ini diadaptasi dari novel karya Mrs. J.K. Rowling (Harry Potter) sementara ceritanya sendiri murni dari hasil pemikiran autor.
Warning : Typo, AU, Sasuke/Sakura/Dan yang lainnya, Rated M, OOC, Mengandung unsur sex, Fantasy.
.
.
CHAPTER.1
.
.
Sebuah kereta memasuki stasiun kereta api Hogwarts. Suasana riuh mulai tercipta, para penyihir muda yang bahkan belum mempelajari ilmu sihir berhamburan keluar dari gerbong mereka masing-masing.
Para penyihir yang sudah memiliki sedikit pengalaman terlihat pongah dan berusaha menunjukan pada semua orang bahwa mereka adalah adalah seorang penyihir paling hebat di dunia meskipun pada kenyataannya untuk merubah hewan peliharaan mereka menjadi sebuah gelas dalam kelas Transfigurasi* pun mereka masih kepayahan dan senantiasa melakukan kesalahan konyol.
Sementara para senior yang akan segera meninggalkan sekolah mereka tercinta terlihat bosan dan beberapa diantaranya bahkan kedapatan mengantuk atau hanya berlalu seoalah tak peduli pada sekelilingnya. Mereka sudah terlalu sering menjalani rutinitas seperti ini selama tujuh tahun mereka di Hogwarts dan sudah bosan pula dengan sekumpulan anak-anak yang memandang mereka dengan tatapan kagum seolah mereka adalah para dewa yang diutus tuhan.
Para pengajar sendiri terlihat sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Berbincang dengan kawan sejawatnya, berusaha mengontrol anak-anak baru yang berjalan linglung di antara ratusan orang lainnya, mengkordinir para murid yang lebih senior, atau bahkan tidak peduli sama sekali pada keramaian yang terjadi dan memilih untuk mendahului yang lainnya meninggalkan stasiun.
Suasana kacau dan riuh membuat stasiun yang pada hari biasa terlihat lengang mendadak hidup dan siap untuk melaju kencang sampai ujung dunia. Semua euforia* yang hanya terjadi satu tahun sekali dan berakhir dalam beberapa jam tidak membuat bosan orang-orang yang berlalu lalang untuk sekedar melihat para calon penyihir masa depan Hogwarts.
.
.
.
Tsunade mengetuk-ngetukkan jari bercat kuku peraknya diatas meja kayu kerjanya. Ia mengetuk pelan jarinya dengan gusar, matanya sesekali memandang pintu ruang kerjanya berharap seseorang akan mengetuk dan memberinya kabar gembira. Kabar tentang kedatangan para penerus muda Hogwarts.
Sementara di sudut lain ruangan terlihat seorang lelaki dengan rambut putih panjang terduduk pada salah satu kursi yang diperuntukkan bagi para tamu dengan sebuah meja bundar berukiran unicorn pada setiap ujung kakinya. Ia menyesap tehnya dengan tenang seolah tak akan terjadi apapun hari itu. Di tangan kananya terdapat sebuah buku dengan sampul orange terang. Ia terlihat serius membaca buku yang telah menjadi koleksi pribadi muliknya.
"Kenapa kau terlihat tenang sekali?" Tsunade memandang ke arah Jiraiya, pria yang menemaninya di dalam ruang kerjanya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Jiraiya bahkan tidak sedikitpun menoleh ke arah Tsunade dan tetap melanjutkan acara membacanya.
"Setidaknya singkirkan buku menjijikan yang tengah kau baca itu."
"Kenapa kau selalu marah-marah padaku? Kau sangat anggun dan mempesona di hadapan orang lain." Jiraiya berdecak kesal.
"Lupakan saja, kembalilah ke Flourish and Blotts*. Aku lebih suka menunggu mereka sendiri." Tsunade merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Lalu untuk apa kau menyuruhku datang kesini?" Jiraiya memasukkan buku yang tadi dibacanya kedalam saku jasnya.
Saat Tsunade hendak membalas ucapan Jiraiya seseorang mengetuk pintu. Tsunade sedikit menarik nafasnya sebelum membalas ketukan seseorang di luar ruangannya.
"Masuklah."
Seorang wanita berambut hitam bergelombang masuk ke dalam ruangan dengan sebuah senyuman tersungging di wajahya.
"Prof. Tsunade, para penyihir baru telah sampai. Mereka sudah berada di aula masuk*."
Tsunade jelas terlihat begitu antusias bahkan segera bangkit dari duduknya dan melupakan Jiraiya yang hanya mendesah pasrah pada sahabat wanita satu-satunya itu. Ia menggosok tengkuknya dengan pelan dan memandang kearah Kurenai dan mengangguk padanya, mempersilahkan wanita itu untuk pamit dan mengejar atasannya.
"Sepertinya aku memang harus kembali, para berandal kecil itu sebentar lagi akan memenuhi toko dan mengacaukan segalanya."
Jiraiya mendesah pasrah dan berjalan keluar ruangan dengan langkah tenang. Berbanding terbalik dengan tsunade yang begitu antusias bahkan sampai melupakan kehadirannya.
.
.
.
Para penyihir senior memasuki asrama mereka masing-masing berjalan dengan kepercayaan diri mereka yang masih tersisa sebelum kelas dimulai esok pagi dan kembali menghempaskan mereka ke dalam kesibukan tiada henti. Juga kegagalan-kegagalan konyol disetiap mata pelajaran.
Beberapa terlihat tergesa-gesa menuju asrama ingin segera merebahkan diri dan tidur nyenyak bagai mayat, beberapa berjalan gontai hinataa lelah bahkan menyeret tas-tas mereka di lantai, namun berbeda halnya dengan para penyihir baru, mereka terlihat begitu antusias meskipun mereka jelas kelelahan dan juga mengantuk.
Ino memandang bosan pada murid-murid baru dan berjalan tak acuh melewati mereka, Sakura menyentuh bahu Ino sehingga gadis itu menoleh.
"Jangan seperti itu, tunjukan kalau kita adalah senior yang ramah."
"Aku lelah sekarang, mungkin besok."
Ino hendak berbalik saat sebuah suara mengagetkanya. Suara lembut seseorang yang dikenal oleh seluruh penghuni Hogwarts, kecuali para penyihir baru tentunya.
"Good evening miss. Yamanaka miss. Haruno."
"Profesor Tsunade!"
Baik Ino maupun Sakura sama-sama kaget dengan kemunculan Tsunade dengan tiba-tiba dibelakang mereka.
"Kalian terlihat lelah sekali. Pergilah beristirahat."
Tsunade menepuk bahu kedua gadis dihadapannya dengan senyuman terukir dibibirnya.
"Baik profesor. Kami permisi dulu. Selamat malam."
Sakura dan Ino kemudian bergegas meninggalkan halaman Hogwarts dan menuju ke kamar dan room masing-masing.
"Mereka manis sekali. Bukan begitu Sai?"
Sai muncul dengan tenang dari balik sebuah pohon besar di dekat Tsunade.
"Tentu nona Tsunade."
"Aah, miss. Yamanaka itu dia cantik sekali pantas kau menyukainya."
Tsunade tersenyum penuh arti pada Sai yang hanya di balas ekspresi bosan pria disampingnya.
"Jangan berwajah seperti itu. Gadis itu sangat tergila-gila padamu Sai. Bersikaplah lebih lembut."
Tsunade tertawa pelan sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada para murid baru Hogwarts yang ramai di hadapannya. Wajahnya begitu berbinar. Ia sedikit dapat melupakan kabar burung tentang kebangkitan Death Eater.
.
.
.
Sakura menghempaskan tubuhnya diatas kasur empuk kamar asramanya. Sementara Ino duduk dengan malas diatas ranjangnya. Wajahnya sedikit suram. Tenten menyenggol bahu Hinata dan menunjuk dengan dagunya pada Ino.
"Sebentar lagi turnamen Quiddict kan?"
Ino memainkan tangannya dengan gusar. Sesekali dia memandang teman sekamarnya dengan gusar.
"Ya, lalu?"
Sakura duduk diatas kasurnya dan memandang pada Ino dengan pandangan bertanya.
"Kali ini kalian akan bertanding di Durmstrang. Itu jauh sekali kan?"
"Mm, mungkin. Aku belum pernah pergi kesana. Lalu?"
Tenten meletakkan tasnya diatas meja belajar kayu sementara Hinata memilih untuk duduk di samping sahabatnya yang terlihat gusar.
"Kalian semua akan pergi kesana dan meninggalkanku disini sendirian karna memang hanya aku saja yang bukan anggota Quidd." Ino mendesah.
Mengerti keadaan sahabatnya Hinata memeluk pundak Ino dan menyandarkan dagunya di pundak Ino.
"Hei, kalian tahu? Tim Quidd rasanya kekurangan anggota cadangan."
Tenten menepukkan kedua tangannya dan memandang kearah para sahabatnya bergantian.
"Benarkah? Aku tidak pernah tahu hal itu." Sakura memandang Tenten bingung.
"Aku baru saja memutuskannya." Tenten menepuk dadanya pelan.
Ketiga sahabatnya memandangnya bingung.
"Aku ketua tim quidd Hogwarts. Aku bebas menentukan siapa saja yang bisa masuk kedalam tim."
"Benarkah?" Ino terlihat masih ragu dengan ucapan Tenten.
"Tentu saja. Serahkan semuanya padaku." Tenten mengangguk mantap.
.
.
.
Tenten memandang tim quidd dengan tatapan puas. Dia merasa puas dengan latihan pagi ini. Meskipun tim merupakan campuran dari semua asrama tapi mereka sangat kompak dan mau bekerja sama dengan baik.
Tenten berdeham pelan dan menepukkan tangannya beberapa kali meminta perhatian para anggotanya.
"Ehem, aku punya satu pengumuman untuk kalian."
Tenten kembali memperhatikan anggota timnya memastikan mereka menyimak apa yang akan dia katakan.
"Hari ini aku akan memperkenalkan tim cadangan kita yang baru."
Beberapa anggota tim saling berpandangan bingung. Beberapa diantaranya saling berbisik tidak mengerti. Sebagian lagi bersikap seolah tidak perduli dan memilih memainkan tangan mereka atau bahkan menendang-nendang kerikil kecil dibawah kaki mereka.
"Aku perkenalkan anggota baru tim kita." Tenten mengambil nafas sesaat.
"Ino Yamanaka!"
Tenten berseru memanggil nama salah satu sahabatnya yang sedari tadi memperhatikan latihan tim diatas salah satu bangku penonton dengan riang. Ino segera turun dan menyapa anggota tim dengan sedikit malu-malu.
Anggota tim hanya memandangnya sekilas. Tidak menunjukkan ekspresi berarti beberapa diantara mereka tersenum padanya. Beberapa diantaranya lagi bahkan tidak perduli dan hanya megangguk. Salah seorang dantara mereka maju selangkah dan menghadang Ino.
"Oke, lalu posisi apa yang akan kau ambil di tim, eh Ino?"
Seorang gadis berambut pirang bertanya pada Ino. Dia terlihat tidak terlalu yakin akan kemampuan Ino.
"Ah, aku? Aku biasanya peran utama." Dengan suara penuh keyakinan dia mengangguk pada gadis itu.
Temari gadis yang bertanya pada Ino mengerutkan alisnya bingung.
"Woow, maksud Ino tadi itu adalah dia akan menjadi menejer tim quiddict kita."
Tenten dengan sedikit gusar menengahi Temari dan Ino. Dia memeluk bahu Ino dengan gerakan canggung.
"Menejer?"
Ino dan Temari berkata hampir bersamaan. Sementara Tenten segera mengeratkan pelukannya di bahu Ino menyuruh sahabatnya itu untuk diam.
"Menejer? Aku tidak ingat kalau kita membutuhkan menejer."
Temari terlihat masih tidak mengerti tentang posisi yang diambil orang yang jelas-jelas terlihat awam di dunia per-Quiddict-an.
"Kita membutuhkannya." Dengan cepat Sakura berseru dari belakang tubuh Temari.
"Kau tau seperti mengatur jadwal pertandingan. Membangunkan kita untuk latihan. Atau... yah semacam itu."
Diakhir kalimatnya Sakura tertawa canggung. Dia tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Sementara Hinata di sampingnya hanya mengangguk pasrah.
"Oke, kita lihat saja apa tuan putri yang satu ini bisa bekerja dengan benar."
Temari memandang Ino dari atas hingga bawah. Sekali lagi memastika kalau ketua tim nya tidak melakukan kesalahan dengan memasukan Ino kedalam tim mereka. Meskipun hanya sebagai menejer.
"Tentu. Dia adalah seorang menejer yang hebat." Tenten tertawa garing.
Sekali lagi dia menepuk bahu Ino. Anggota tim lainnya seolah tidak perduli dan memilih untuk menuruti keinginan ketua mereka.
Mereka memilih membubarkan diri setelah Tenten mempersilahkan mereka untuk bubar. Sementara Sakura dan Hinata memilih untuk tetap tinggal bersama Tenten dan Ino.
"Dengar, Ino. Mulai saat ini kau adalah menejer tim kami. Apa kau paham?"
Tenten segera melepaskan pelukannya dan memandang Ino dengan tajam.
"Oke." Ino mengangguk mantap.
"Tapi sebelumnya. Kau setidaknya harus mengerti apa itu Quiddict."
Sakura berjalan mengambil broomstick milknya dan menghampiri Yuika.
"Belajarlah bermain quiddict. Aku akan mengajarimu. Ambil ini."
Sakura menyerahkan broomnya. Tapi Ino segera mundur selangkah dan menunjukkan raut muka sedikit jengah.
"NO. Aku benci terbang. Dan lagi.." Ino menghentikan ucapannya.
"Broom mu mempunyai warna yang membosankan."
.
.
.
Seseorang dengan jubah hitam panjang berjalan pelan menghampiri Sasuke yang terlihat sibuk dengan tanaman Mandrake yang terlihat kurang sehat. Wajahnya tertutup oleh hoody yang ia pakai.
Sasuke menghentikan kegiatannya saat ia sadar seseorang telah memasuki wilayahnya tanpa persetujuan darinya. Sasuke memandang orang yang baru saja menghampirinya tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Dari wajahnya yang tenang sepertinya sasuke mengetahui siapa orang yang tengah menghampirinya.
Orang itu berhenti tepat dihadapan Sasuke. Tangannya terulur menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat. Tangan orang itu terlihat sangat pucar bagai mayat hidup. Sasuke mengambil amplop itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Dia memasukkan amplop itu ke dalam saku jasnya dan hanya mengangguk kecil pada orang yang ada di hadapannya. Orang itu mengucapkan sesuatu terlihat dari mulutnya yang bergerak-gerak, dan beberapa saat kemudian orang itu menghilang menyisakan sedikit kepulan debu halus dari tempat awal orang itu berdiri.
Sasuke menyingkapkan lengan bajunya dan terlihat sebuah ukiran tato yang bersinar redup. Tato yang sudah sangat lama seharusnya menghilang. Sebuah tato yang menjadi awal perang yang hampir membunuh ayahnya sendiri.
Tato dari lambang Death Eater.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
.
Autor Note :
Ahoooo mina-saaannn...
Maaf ya sei baru muncul lagi, ada kesibukan soalnya hehehe...
Nahhh chap satu udah muncul niiih moga suka yaaa... love you all... moahmoah... 3
Special thx love (yang review ga log in aku balas disini ya) :
Uchan : iyaa ini dilanjut koo ^^
Kaname : yeay kita sama2 penyuka harpot tos ^^)/
Kazuran : untuk mendukung alur ceritanya kazu-san ^^
tomaceri7810 : makasih ya koreksinya ^^ iya aku penggemar draco hehe
mii-chanchan2 : makasih. Maaf ya baru update ^^
: arigatou ^^
neee... sampai disini dulu ya.. ja ne!
