"Coba ulangi lagi."

Sasuke menggerutu pelan mendengar titah Naruto. Dari dulu ia memang sudah curiga kalau saat pembagian otak Naruto mungkin tidak hadir, makanya idiotnya parah begini. Padahal sudah lebih dari lima kali, total selama sejam penuh Sasuke menerangkan runtut kejadian di ruangan Sakura tempo hari. Sebetulnya Sasuke tidak perlu menjelaskan apa-apa karena ia tidak berniat mendongeng pada Naruto. Tapi si bodoh ini mendengar cerita dari Ino yang kebetulan sekali sedang lewat di depan ruangan Sakura saat kejadian itu, lalu memutuskan untuk bergosip dengan Naruto. Naruto sendiri berdalih;

"Coba lo sendiri yang cerita deh, Sas. Gue bakal lebih percaya sama cerita lo dibanding omongannya Ino. Lo tau sendiri tuh anak kek gimana."

Ditambah sumbu-sumbu kompor panas;

"Biar nanti ceritanya jelas, gue juga enak lurusinnya ke anak-anak. Masalahnya sekarang ini tim dokter Rei udah lebih dari setengah kelas. Lo mau anak-anak ngedukung Sakura jadian sama dokter Rei? Gue sih tergantung cerita dari lo."

Maka dimulailah dongeng Sasuke. Lagi.

"Pasang kuping baik-baik. Sekali lagi lo maksa cerita, gue kasih tau ke Hinata lo ke klub strip bulan lalu." Naruto nyengir gaje. "Gue datang ke tempat Sakura, di sana udah ada si merah, gue nggak tau mereka udah ngapain aja tapi dari cara Sakura ngomong gue curiga mereka lagi ngerencanain date. Gue marah. Tamat."

"Lo marah jadi lo ngebentak Sakura sampe suara lo kedengaran di koridor," tambah Naruto sambil mengangguk-angguk.

"Itu versinya Ino," dalih Sasuke. "Perasaan suara gue nggak sekencang itu."

Naruto memutar kedua bola matanya dramatis. "Nggak kenceng tapi bisa bikin Sakura ngamuk pas keluar gitu? Serius deh, Sas. Pas pembagian otak lo pasti bolos deh. Bego banget gini."

Buku tebal yang terletak di meja seketika beralih fungsi. Dengan keras Sasuke menggunakannya untuk memukul bagian belakang kepala Naruto hingga membuat pemuda itu terjungkal ke depan. "Bego lo," maki Sasuke.

"Lo yang bego," balas Naruto. Dia segera berdiri dari atas karpet dan kembali duduk di sofa, tapi kali ini memposisikan dirinya sedikit lebih jauh dari Sasuke. "Anjay, Sas. Sakit banget, bego." Dia mengelus bagian kepalanya dengan pelan. Sasuke hanya mendengus. "Apa lagi namanya kalau bukan bego? Main bentak mantan yang mencoba untuk move on? Booo! Payah lo."

Yang disindir langsung tanpa ampun memberi Naruto pandangan mematikan, membuat pemuda kuning itu meringis kecil sebelum berpindah tempat duduk.

"Lo bilang lo milih Shion," lanjut Naruto, menganggap ketentraman Sasuke sebagai jalan mulus untuk mengemukakan pendapatnya. "Tapi lo bertingkah kayak gini lagi. Lo masih ingat kan apa yang gue bilang kemarin?"

Soal Naruto yang akan berdiri di samping Ino kalau Sasuke memutuskan untuk tetap menganggu Sakura sementara ia tidak memutuskan hubungannya dengan Shion? Ingat kok ingat, batin Sasuke jengkel. Walaupun tidak akan pernah mengakuinya, Sasuke tidak suka jika Naruto tidak berada di sisinya sebagai pendukung argumentasi. Kalau benar-benar Naruto berpindah partai, habislah sudah Sasuke. Kesempatannya pada Sakura tertutup 75 persen.

(—25 persennya ada di tangan Sakura. Melihat keras kepalanya gadis itu ketika berpihak pada satu keputusan membuat kemungkinan hubungan mereka kembali berjalan bisa jadi sangat sulit.)

"Gimana?" desak Naruto lagi.

"Gimana apanya?"

"Ya, elo lah. Shion gimana, Sakura gimana. Jangan lo kata mentang-mentang lo husband material banget terus dua-duanya lo embat. Maruk lo."

Sasuke mengacak-acak surainya dengan perasaan frustasi. Ia sebetulnya sudah memutuskan akan mengambil langkah setelah konfrontasinya dengan Sakura tempo hari, tapi belum sempat diberitahukannya kepada Naruto dengan alasan malas ditanya-tanya. Setelah menghela napas panjang, ia berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.

"Mo kemana lo, anjay?"

"Tokyo," jawab Sasuke tanpa menoleh.

Naruto ikut berdiri dan berjalan tergopoh-gopoh di belakang Sasuke. "Hah? Sekarang? Ngapain?"

Satu sudut bibir Sasuke terangkat membentuk seringaian khas prodigi Uchiha itu. Ia menoleh ke arah Naruto melalui bahunya lalu berujar dengan tenang, "Menurut lo?"

Dua puluh menit kemudian Sasuke menemukan dirinya duduk di bangku penumpang belakang mobil bersama Naruto. Mobil yang dikemudikan oleh supir pribadinya itu tengah melaju di jalan utama menuju bandara Konoha. Si anak Uzumaki tadi memaksa ikut ("Bau-baunya mau ada interdensi hubungan nih," kata Naruto sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dengan antusias. "Ngomong ape lu?" balas Sasuke.) jadi Sasuke tidak bisa berbuat banyak ketika pemuda jabrik itu memaksa masuk ke dalam mobil. Dia bahkan tidak mengabari Hinata tentang rencananya kembali ke Tokyo. Takut bocor ke anak-anak sekelas, katanya. Takut Sakura dengar soal kejutan yang mau dikasih Sasuke nanti.

Sasuke sendiri tidak paham bagaimana Naruto bisa tahu kalau rencananya kembali ke Tokyo hari itu juga berhubungan dengan masa depannya bersama Sakura (aka memutuskan Shion.) Tapi ya, bersama Naruto mungkin tidak perlu penjelasan banyak-banyak. Telepati mereka berdua terlanjur kuat. Sasuke lihat Naruto merem dikit sambil urat-urat nadi di pelipisnya kentara pun Sasuke sudah tahu kalau Naruto pasti sudah berak di celana.

the power of friendship.

Jet pribadi sudah siap menunggu, dengan dua pilot dan seorang pramugari yang siap melayani perjalanan tiga jam menuju ke Tokyo. Di dalam pesawat tidak banyak konversasi yang terjadi karena Sasuke memilih memejamkan mata sejenak dari pada melayani permintaan Naruto yang aneh-aneh. Pemuda itu memaksa Sasuke membuat pidato agar nanti bisa dijadikan contekan ketika akan berhadapan dengan Shion.

"Gue mau mutusin cewek, bego. Bukan ketemuan sama Kaisar," kata Sasuke.

"Saaas… Saaas… Ini nih, yang bikin hubungan lo sama Sakura nggak jalan. Cewek itu selalu lebih nyeremin dari raja Setan, tau nggak lo?"

"Ini nih," balas Sasuke. "Yang bikin Hinata nggak pernah mau lo ajak nikah."

Mereka mendarat di Tokyo pada pukul sembilan lebih sepuluh menit, malam hari. Sudah ada mobil yang menunggu ketika pesawat baru landing. Sasuke sendiri langsung mengarahkan pada supirnya untuk segera menuju ke jantung kota Tokyo, tepat di mana apartemen Shion berada.

Datang tanpa pemberitahuan apapun, Sasuke yakin gadis itu akan berada di apartemennya karena ia hapal betul dengan rutinitas Shion. Shion adalah tipe gadis yang selalu bersikap seperti yang tertera di jadwalnya—dia tidak pernah bersikap spontanitas, alih-alih meruntut pada jadwal yang selalu berulang setiap minggunya (Ino bahkan pernah menyangka bahwa Shion sebagai penderita asperger.) Gadis itu juga kemungkinan besar akan terkejut dengan kepulangan Sasuke yang tanpa kabar. Mungkin akan lebih terkejut lagi mendengar alasannya, pikir Sasuke sambil meringis.

"Lo tunggu sini," perintah Sasuke sesaat sebelum ia turun dari mobil.

"Oke, bos. Tenang aja. Kalau dalam lima belas menit lo belum turun juga, gue telpon bokap."

"Buat?"

"Minta dikirimin satpol pepe buat bantuin ngangkut."

Setelah menepuk belakang kepala Naruto, Sasuke turun dari mobil. Ia berjalan ke arah lift dengan perasaan berdebar-debar. Ini tidak akan mudah, Sasuke sudah menduganya sejak masih dalam pesawat. Shion itu… sedikit… terobsesi dengannya. Oke, mungkin kata sedikit terlalu kurang. Terlebih jika dia tahu tentang Sakura, tentang alasan kenapa Sasuke ingin memutuskan hubungan mereka yang sudah berjalan kurang lebih tujuh bulan. Oh, Shion tahu mengenai Sakura. Bahkan sejak Sasuke masih terikat status dengan gadis merah jambu itu, Shion sudah mengenal Sakura. Tapi itu tidak pernah dijadikan alasan untuk berhenti mendekati Sasuke—yang dengan bodohnya diterima oleh pemuda ini.

Tiba dilantai delapan, pintu lift terbuka dengan dentingan pelan. Tungkainya segera beranjak keluar, mendekat pada pintu di lorong sebelah kanan. Setelah menarik napas panjang, ia menjulurkan lengannya untuk mengetuk dahan pintu dengan ketukan pelan. Terdengar langkah-langkah kaki dari balik pintu sebelum kayu jati berpoles cat kecoklatan itu terbuka. Sesosok gadis bersurai pirang dengan dress musim panas tercetak di penglihatannya.

"Sasuke?"

Belum sempat Uchiha muda itu melakukan apapun, tubuh molek itu meloncat ke arahnya. Dua lengan merangkul erat ke sekeliling lehernya dan sepasang bibir mendarat di atas bibirnya sendiri.

Namun mendadak segalanya terasa kosong. Tujuh bulan yang dipenuhi oleh gairah hilang tidak berbekas. Tubuh Shion yang selama ini selalu dengan bangga Sasuke pamerkan pada publik terasa aneh dalam lingkaran lengannya. Ketika ia menutup matanya sekilas, bayangan akan sepasang binar sewarna jamrud balas memandangnya. Kembar jambrud yang mengisyaratkan luka dan pengkhiatan yang dalam.

Sial.

Dengan paksa Sasuke menarik lengan Shion yang terkalung di lehernya, memaksa gadis itu mundur selangkah.

"Kamu kok nggak bilang mau pulang ke rumah?"

Rumah? Rumah bagi Sasuke adalah Konoha. Sakura.

"Aku mau ngomong sesuatu," kata Sasuke. Ia segera masuk ke dalam apartemen tanpa menunggu jawaban Shion.

Bagian dalam apartemen terasa familiar sekaligus asing. Selama masa hubungan mereka, Sasuke jarang menghabiskan waktu di tempat ini. Shion lebih suka melakukan kegiataan outdoor—berbanding terbalik dengan Sakura yang lebih memilih menghabiskan waktu dengan membaca sambil bergelut dalam pelukan Sasuke di atas sofa, sementara Sasuke sendiri menonton tayangan olahraga dengan sekaleng bir di tangannya. Terkadang ia akan bergabung bersama Sakura; membaca bacaan bertema fantasy kesukaan Sakura lalu melempar komentar-komentar yang biasanya memancing emosi gadis itu. Malam kemudian ditutup dengan satu kecupan lembut.

Ah. Kenangan…

"Kamu kok tiba-tiba pulang? Kangen ya?" Shion melempar kembali tubuhnya pada pelukan Sasuke, tapi pemuda itu segera meletakkan kedua tangannya di bahu Shion, menjaga agar fokusnya tetap pada rencana awal ia jauh-jauh datang ke sini.

"Aku mau ngomong," kata Sasuke.

Menyadari keseriusan dari nada Sasuke, raut wajah Shion membeku. Kerutan terbentuk di spasi antara kedua keningnya yang sudah tercukur habis digantikan gambaran dari pensil alis tebal.

"Mau ngomong apa? Soal apa?"

"Kita." Sasuke tidak menunggu Shion memproses jawabannya barusan, ia segera menjatuhkan bom yang sudah ia siapkan. "Aku nggak bisa jalanin ini lagi."

Terkejut mungkin terlalu kurang jika harus menggambarkan posisi Shion dihadapannya saat ini. Gadis itu terkejut… tapi sinar di matanya segera tergantikan oleh ketidakpercayaan dan panik. Dia bahkan tanpa sadar mundur beberapa langkah.

"Ke-kenapa? Aku salah apa? Sasuke, aku minta maaf. Apapun yang bikin kamu marah aku minta maaf. Please, Sasuke." Shion mulai terisak, tapi tidak lantas membuat Sasuke mempertanyakan keputusannya sendiri.

Sikap Shion yang langsung meminta maaf padahal dia tahu dia tidak melakukan apapun (Hell, dia bahkan meminta maaf untuk apapun) hanya membuat Sasuke menjadi kesal. Entah apa yang dilihatnya dari gadis yang tanpa pendirian ini. Tubuhnya, setan Sasuke berbisik. Sudah pasti tubuh sintal itu. Shion memang hot, tapi isi di balik tempurung kepalanya itu perlu dipertanyakan.

"Shion, hubungan kita nggak pernah maju. It's not working." Sasuke berusaha menjelaskan.

"Ya udah kalo gitu kamu lamar aku," balas Shion dengan nada panik. "Kita nikah secepatnya. Kamu kenalin aku ke keluarga kamu, ke teman-teman SMA kamu itu, beres kan? Sasuke, please, jangan putusin aku…" rengeknya.

Anjay. Gila apa gue rela anak-anak gue, calon prodigi Uchiha, maknya model kayak gini?! Bagusan Sakura.

"Shion, cukup. Jangan hubungin gue lagi."

Dengan itu Sasuke balik badan. Kedua tungkainya dengan cepat membentuk jejak keluar dari dalam apartemen. Di belakangnya, tangisan Shion pecah berderai.

Tamat.

.

.

.

Maksudnya, hubungannya dengan Shion yang tamat. Maka dengan ini pula Sasuke bisa dengan bebas membuka chapter baru. Chapter baru kali ini hanya akan di isi oleh satu nama; Sakura Haruno (yang semoga bisa berubah menjadi Sakura Uchiha.) dengan beberapa deskripsi kebahagiaan, tangis haru, kecupan di sana-sini, dan alunan musik pernikahan dalam beberapa bulan ke depan. Nama Naruto juga akan menghiasi chapter barunya nanti sebagai jongos setia Sasuke.

Hn.

"Dramatis abis…" desah Naruto.

Sasuke berhm pelan dari sampingnya tanpa mengalihkan fokus dari layar ponsel. Saat ini keduanya tengah berada dalam mobil, bersiap kembali ke Konoha menggunakan jet pribadi yang sama. Setelah konfrontasi dramatisnya bersama Shion tadi, tidak ada yang lebih diinginkan Sasuke selain melihat wajah ayu Sakura dan menyatakan perasaan cintanya yang abadi.

"Serius, Sas, gitu aja? Nggak nyampe sepuluh menitan, anjay. Beda banget pas lo putus sama Sakura." Naruto cari perkara.

Sang pemuda Uchiha melempar pandangan sadisnya pada Naruto, sebelum kembali memfokuskan atensinya pada ponsel. "Cukup sekali gue putus dari Sakura," jawabnya kalem.

Naruto mengangguk-angguk sambil menggaruk dagunya sejenak. "Abis itu apa?"

Yang ditanya hanya mengangkat kedua bahunya. "Pulang."

Pulang.

Kata itu terdengar sangat nyaman di ujung lidahnya. Saking nyamannya hingga bisa membuat kedua ujung bibirnya tertarik ke atas dan membentuk senyuman tipis yang jarang ia perlihatkan.

"Sas?"

"Hn."

"Lo jangan senyum-senyum sendiri gitu dong. Serem tau."

Tbc.

Oke gaes, balik lagi sama Ara disini *ala2 vinogaming* #eyah

Disini saya bikin kampung mereka itu Konoha, sementara Tokyo jadi kota dimana Sasuke, Naruto, Hinata, dan lain2 yg kerja (selain Ino dan Sakura) dan yg masih kuliah nggak lulus2 itu merantau. Saya nggak re-read Reuni jadi lupa kemarin detilnya saya bikin apa aja wkwkwkwk.

Oh iya, kayaknya saya butuh beta deh. Ada yang berminat nggak? PM saja ya.

Daaaaan… ciyeeee yang udah putus wkwkwkwk. Setelah ini bakal dihiasi trio sasuke-sakura-gaara. Janganlah sodara-sodara terlalu membenci sasuke, jangan pula terlalu mencintai gaara. Kan belum tau plot twistnya bakal kayak apa XD

Jangan lupa komen ya.

Ara.