Disclaimer : Naruto Bukan punya saya tapi: Masashi Kishimoto.

" Taiyo Kumogakure "

-5-5-5-5-5-5-

Pair: Naruto. U x Anko. M

Rating :T-M

Warning; Mungkin abal,typo,aneh,ancur,OCC, OC, AU. Bikin mata sakit dan perut mual. Strong Naru.

999999

99999

999

Sumarry: Meningalkan perang akibat kesalahan jutsu. Naruto Uzumaki kembali memulai debutnya di dunia elemental sebagai shinobi dari Desa petir, Kumogakure.

" GLORIA"

-5-5-5-5-5-5

5-5-5-5-

-5-5-5

Chapter 2: Opushon?.

Dua hari kemudia.

Lembab dan gelap, masih sama seperti terakhir kali Naruto kemari. Dengan langkah pasti pemuda pirang itu melangkah maju dalam kegelapan temaram menuju sebuah sel yang sudah terbuka di ujung lorong. Decap kecil yang tercipta dari sandal bertemu air terdengar mengema setiap kali kaki jenjang itu melangkah.

Alis Naruto terangkat, ia gulirkan Iris only milik mantan sensei dan musuhnya kepenjuru ruangan untuk mencari penghuni tempat dia berada sekarang, tapi setelah sekian lama, penglihatanya tak kunjung juga mendapati sosok besar berbulu orange bermat merah besar di sana.

"Oeee,,,KURAMA?!" Naruto berteriak keras sambil berjalan semaki mendekati pagar-pagar raksasa didepanya.

Trang...

Dengan kencang kaki pemuda itu menghantam salah satu jeruji, menimbulkan suara berdenging keras yang cukup mengangu pendengaran. Alis Naruto semakin menukik tajam kebawah ketika menunggu sekian lama namun tak juga ada respon dari penghuni lorong yang sebenarnya berada di dalam tubuhnya sendiri.

"KURAMA, KELUAR KAU!~"

Trang,,,tranggg,,trang,,,

Aneh sekali, biasanya sang rubah selalu muncul ketika Naruto melakukan hal ini. Kurama paling tidak suka jika ada keributan mendadak di tempat tinggalnya, karena menurut Rubah berekor sembilan itu, suara keras bisa mengangu istirahan tenagnya yang berharga.

" Kemana dia?" Naruto mengelus dagunya dan berfikir." Apa mungkin Kurama tertinggal di pertempuran ya?" Naruto mengeleng cepat. Ia tahu, jika Kurama sudah tidak ada di dalam tubuhnya, ia pasti sudah mati sekarang, karena seorang Jinchuriki yang kehilangan bijju sama dengan kehilangan nyawa. Disini dia belum mati, berarti Kurama masih ada di dalam tubuhnya, tapi,,dimana rubah itu?

" HOIIIII~ BOLA BULU!~ DIMANA KA—?"

"Berisik gaki!"

Secara reflek Naruto menajamkan pandanganya dan berhenti berteriak saat sebuah suara serak dan berat tiba-tiba memotong suaranya dari sudut ruangan di balik jeruji mirip penjara.

" Kurama?"

"Ya"

"Eh?" Naruto memiringkan kepalanya. Melangkah pelan melewati jeruji yang sudah ada di dalam tubuhnya ketika ia baru saja dilahirkan.

"Benarkah itu kau?"

"Cih"

Tidak ada jawaban kecuaili decikan jengkel.

"Apa yang kau laku- KENAPA TUBUHMU HEH?"

Teriakan histeris pemuda bersurai pirang itu kembali mengema hampir diseluruh ruangan ketika sang pemilik melihat dengan jelas akan apa yang terjadi dengan partnerya.

Dengan mata melotot, Naruto menatap sang Bujju terkuat yang saat ini balas menatapnya dengan mata merah darah berpupil fetikal khas nya. Mulut sang Jinchurki mangap-mangap mirip ikan lohan terlempar dari air dan mendarat ditanah, ketika melihat tampilan baru Rubah yang menurut mitos merupakan Bijju terkuat di antara kesembilan Bijju lainya.

Bertubuh sebesar gunung, bergigi runcing, mata merah yang sangat mengerikan. Itulah yang bisa di ingat oleh Naruto jika ditanya mengeni wujud Kyuubi. Tapi sekarang?

Apa-apaan ini, lihatlah bagaimana mengemaskanya mahluk yang mengaku sebagai Kurama, alias sang Kyuubi no Youkai. Tubuh nya kecil, tak lebih besar dan tinggi dari Akamaru milik Kiba, matanya bulat mengemaskan dan ekor-ekornya yang berjumlah sembilan saling bahu membahu melingkari tubuh kecil berwarna orange itu. Satu kata yang bisa Naruto jelaskan untuk mengambarkan sosok di depanya yang masih meringkuk di pojok, Mengemaskan.

" Berisik" Sang Rubah menatap bocah pirang di depanya dengan iris rubynya yang mengkilap jengkel. Kyuubi mulai berdiri, menyingkirkan ekor-ekornya yang berjumlah sembilan itu kebelakang tubuh, membiarkan benda itu melambai sesuka hati. Dengan langkah pelan sang Youkai terkuat melangkah mendekati anak manusia yang sudah ia terima sebagi parner, dengan mengunakan kaki-kaki kecil dan pendeknya.

" K-kurama? A-apa apaan ini?"

Kurama mendengus, menghentika langkahnya tepat didepan si pirang. Naruto berjongkok di depan Kyuubi, memilih mensejajarkan tubuhnya dengan sang partner.

"Cih,, mana aku tahu" Kurama bersimpuh di atas kedua kaki belakanya yang tertekuk.

"T-tapi bagaimana bisa kau jadi,,ehem semanis ini" Naruto menjulurkan tanganya untuk menoel hidung hitam Kyuubi.

"Singkirkan tanganmu dari hidungku!"

Dengan cepat Naruto menarik kembali tanyanya ketika mulut Kyuubi tiba-tiba bergerak cepat kedepan, berniat mengigit tanganya. Mendapati delikan sang parner Naruto nyengir garing.

Jujur, Kurama memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi mengapa tubuhnya bisa mengecil seperti ini, terakhir yang ia ingat adalah dia dan titisan Ashura didepanya tengah melakukan penyatuan demi mengalahkan Kaguya yang saat itu sudah terdesak. Ia ingat bagaimana dengan bodohnya, Naruto masuk kedalam dimensi Kamui setelah menyerap Bijuudama berlapis api abadi Klan Uchiha entah untuk keberapa kalinya. Kurama tahu maksud Naruto masuk kedimensi buatan mata Mangekyo Saringan Uchiha, sebelum akhirnya akan muncul kembali di titik buta Byakukan Kaguya dan berniat melakukan serangan akhir pada sang dewi kelinci. Kurama akui, itu rencana yang matang jika mengingat kapasitas otak Uzumaki Naruto yang yaaah,,,bisa dikatakan dangkal.

Semua rencana memang sudah sesuai alur, tapi ada satu kesalahan yang dilupakan dirinya dan bocah Uzumaki. Kesalahan pada dimensi Kamui yang membuat mereka keluar dari jalur setrategi matang Naruto.

" Ne, Kurama?" Naruto kembali menoel mocong si Bijju cibi, membuat Kurama tersadar dari lamunanya.

"Apa?" Meski tubuhnya mengecil, Namun tetap saja suaranya besar.

" Ku tahu kenapa kita berada disini?"

"Entahlah"

"Ayolah Kurama!" Naruto memajukan wajahnya sambil memasang wajah memelas, dan untuk itu ia mendapat hadiah gratis berupa sabetan ekor sang bijju. Meski bentuknya kecil, tapi rasanya tetap mantap.

"Geerrrr,,, jangan memasang tampang menjijikan itu dihadapanku, gaki." Kurama mengeram.

" Ck,,kau menjengkelkan" Bibir Naruto mengerucut, tanganya bersedekap. Mode ngambek.

" Hah~" Kurama menghela nafas, membuat kabut keluar dari kedua lubang di hidung kecilnya." Sepertinya ada kesalahan pada Kamui hingga bisa membuat kita terdampar di sini!"

"Maksudmu?" Uzumaki muda itu kembali menatap mata merah Kurama dengan serius. Otaknya berusaha mencari jawaban tentang masalah yang baru saja di katakan sosok Rubah orange berekor sembilan.

" Kau ingat berapa kali kau menyerap jutsu-jutsu level tinggi kedalam Kamui?"

"Tidak, tapi kurasa cukup banyak"

Kurama menganguk, membenarkan." Kurasa terjadi robekan pada salah satu dinding dimensi, sehingga melempar kita sampai kemari."

Naruto mengangkat alisnya, merasa kurang yakin dengan pendapat sang partner. Setahu Naruto, dimensi Kamui adalah dunia hampa yang tidak terbatas, kuat dan bisa beregenerasi sendiri jika mengalami kerusakan, jadi ia agak ragu kalau terjadi robekan atau lubang pada dunia hampa tersebut." Mana mungkin!"

Kyuubi melirik kearah wajah sang Uzumaki." Bagaimana kau bisa seyakin itu?"

Naruto mengela nafas{ lagi}. Kepalanya menunduk dengan tangan menyanga dagu. Mata hitam kelamnya memandang langsung Ruby Kyuubi." Dimensi Kamui itu tak terbatas, sangat kuat dan hebat. Saking kuatnya, Kamui bahkan bisa menyimpan tubuh besar para bijju dan selain itu, kata Obito, dimensi kamui itu emmmm,,,aku lupa, tapi katanya sangat hebat."

Kyuubi mendengus meremehkan, mengasilkan kernyitan heran di wajah Naruto.

Manusia, kenapa mereka selalu membangakan apa yang bisa mereka buat, melebih-lebihkan seakan sesuatu itu sempurna. Sekuat-kuatnya apapun yang manusia buat pasti suatu saat akan hancur juga. Juubi yang konon katanya sangat kuat hingga bisa meghancurkan dunia dengan mudah pun pada kenyataanya bisa di segel oleh Rikudo Sanin. Meski manusia bisa menciptakan benda yang kuat, tapi tuhan lebih dari mampu mengunguli ciptaanya. Juubi kuat, tapi masih bisa dikalahkan. Satu kepastian, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.

" Kau bodoh!"

Ctak

Perempatan tercipta di pelipis Naruto, satu kenyataan Untuk Uzumaki Naruto tentang Kyuubi, seperti apapun wujudnya, lidahnya masih saja tajam, sangat tidak sesuai dengan tampangnya sekarang.

"AP-"

"(Didunia ini, tidak ada yang tidak mungkin.) Apa kau lupah dengan kata-katamu sendiri." Kata Kurama dengan nada sinis. Naruto diam seakan suaranya tersangkut ditengorokan, protes yang ingin di layangkan telah di tekan telak oleh sang partner.

" Kamui, jutsu yang diciptakan oleh manusia. Setiap ciptaan tidak ada yang sempurna, barang secuil pun pasti memiliki kekurangan." Kyuubi menajamkan tatapanya, berusaha terlihat seserius mungkin di hadapan Naruto, karena yang akan ia katakan bukan lagi omongkosong belaka seperti teriakan atau cacian seperti biasanya.

" Dengar gaki, Kamui mungkin memang jutsu yang hebat seperti apa yang kau katakan, tapi jika aku tidak salah ingat, jutsu itu sudah di gunakan olehmu untuk menyerap serangan-serangan mematikan Kaguya. Selain itu juga, kau beberapa kali menyerap Bijjudama berbalut Amaterasu. Kau tahu apa yang membuat api hitam itu sangat ditakuti?"

Tak ada lagi tampang bodoh atau lucu diwajah Naruto, yang ada hanya gurat keseriusan yang membuat Kyuubi seakan-akan merasa berhadapan dengan Yondaime Hokage, ayah bocah didepanya. Naruto memegang dagunya, otak yang ia miliki Naruto paksa sekeras mungkin untuk mencari informasi yang bisa saja terselip dikumpulan file disudut pikiranya.

' Apa yang kau lakukan Ero-Sannin?'

' Menyegel, apa lagi!' Jiraya yang saat itu mengengem gulungan kertas putih menjawab pertanyaan pemuda 13 tahun di belakangnya yang nyaris saja tertangkap oleh dua orang anggota Akatsuki beberapa saat yang lalu.

' Heh? kenapa disegel? Tinggal siram air dari mulut kodokmu saja kan bisa untuk mematikanya?'

Setelah memastikan pekerjaanya selesai, Jiraya segera membalik badanya, berjalan santai mendekati muridnya' Dengar Naruto, Api hitam Klan Uchiha tidak bisa dipadamkan hanya dengan air maupun tanah seperti api-api biasa. Api Hitam atau Amaterasu hanya akan padam setelah tujuh hari tujuh malam, atau di padamkan oleh penguna Mangekyo Sharingan, kau paham?' Melihat anak didiknya menganguk, Jiraya tersenyum kemudian nyengir.' Ayo kita kebawah, disana ada pemandian campuran lho khukhukhu'

" Api abadi yang tidak akan padam meski di siram dengan air sekalipun!" Naruto bergumam, mengingat kembali momenya bersama dengan Jiraya ketika mereka berada di penginapan, momen dimana untuk pertama kalinya ia mengenal Akatsuki,

Kyuubi menganguk begitu mendengar gumaman Naruto. Meski suara bocah itu terdengar kecil, tapi ruangan yang sepi senyap membuat telingga sensitif Kurama bisa dengan jelas mendengar cicitan Naruto." Benar, mengingat itu, besar kemungkinan masih ada beberapa api hitam yang tercecer di dalam dimensi Kamui ketika kau menyerapnya. Api yang tertingal bisa saja tidak langsung mati dan malah membakar dinding-dinding Kamui sehingga menciptakan lubang dimensi baru yang terhubung kemari!"

"Hah,,,sial~" Naruto mendudukan tubuhnya diatas kedua kaki yang bersila." Jika apa yang kau katakan ternyata benar, apa aku harus merobek dinding Kamui agar bisa kembali ke medan perang. Aku,,," Naruto menunduk, perasaanya tidak enak ketika tau ia meningalkan rekan-rekanya yang kini tengah berjuang hidup-mati melawan Kaguya tanpa dirinya. Padahal mereka begitu bergantung pada nya." Khawatir."

Ingin sekali rasanya Kurama mengelus kepala berbalut surai kuning partnernya, namun egonya yang terlalu tinggi tak mengijinkan tubuhnya untuk bergerak." Jangan bodoh, Gaki! Meski kau merobek sebanyak apapun dinding dimensi Kamui, belum tentu juga kita akan terlempar kembali ketempat Kaguya, salah-salah kita malah terlempar lagi entah kedimensi mana!?. Ingat gaki! dunia ini tak hanya satu atau dua dimensi saja, melainkan banyak, tak terhitung."

"Gahhh" Naruto mencengkram surai kuningnya dengan frustasi." Jadi, apa yang harus klakukan? Aku tak mungkin berdiam diri disini terus ketika disana, teman-teman tengah mati-matian melawan Kaguya!"

",,,"

Kurama diam, tidak tahu harus menjawab apa. Mengingat betapa setianya Naruto menjunjung tinggi tali persaudaraan selama ini, dia yakin akan sangat mustahil menyuruh bocah pirang itu tetap tenang di saat keadaan genting seperti sekarang. Andai dia tahu ada cara untuk mengembalikan keduanya, ia pasti akan langsung memberi tahukan pada partnernya. Tapi sekali lagi, dia bukanlah Tuhan yang mengerti segalanya, ia hanya mahluk kuat yang masih mempunyai batas. Ada kalanya seekor Kyuubi no Youkai pun tidak bisa berbuat apa-apa seperti sebelumnya.

" Naruto ak—"

" Apa yang terjadi dengan tubuhmu?"

"Gerrrr" Kurama mengeram ketika Naruto sekali lagi memotong kata-katanya, ia baru saja akan kembali mengeplak kepala pemuda Uzumaki itu andai saja tak melihat gulir putus asa di balik Only kelam yang dulu sempat mengendalikanya. Kyuubi tahu benar Naruto sengaja mengalihkan penbicaraan mereka, dan ia dengan senang hati akan menyambut semua itu. Membicarakan hal tak pasti seperti barusan bukanya membuat tenang malah akan semakin terdengar menyedihkan." Entahlah, mungkin hukum keseimbangan dimensi!"

" Apa?"

"Didimendi ini pasti ada Kyuubi lain, demi menjaga keseimbangan dimensi, kekuatanku lenyap dan hanya menyisakan kesadaranku saja" Kurama menjawab santai, seakan hal yang harusnya menghebohkan itu tak begitu mengangu untuk dirinya.

"A-apa?" Mata Naruto membulat, sama sekali tak menyangka jika perpindahan dimensi ini akan memiliki efek samping yang sebegitu hebatnya, terlebih lagi efek ini hanya menimpa partnernya." Jadi itu bukan Henge?"

Kurama mengankat bahunya acuh." Yah begitulah, tapi aku merasa chakraku semakin naik setiap saat. Meski peningkatanya lambat namun aku yakin dalam kurun waktu beberapa tahun kedepan, chakraku akan kembali normal."

Naruto menghembuskan nafas lega" Kurasa kita memang harus menetap disini untuk beberapa tahun, tak mungkin kan kalu kita kembali dengan keadaan mu yang seperti sekarang." Naruto menunjuk wajah Kurama dengan senyum meremehkan." Bisa di jadikan perkedel aku oleh Kaguya."

"Gerrr, Kau meremehkan ku hah" Kurama bangkit, hidungnya kembang kempis.

" Meski tubuhku mengecil, tapi kalau hanya untuk meledakanmu itu hal yang mudah bagiku.". Kurama mulai membuka rahangnya dan mennyatukan energi Yang dan Yin untuk membentuk Bijudama. Sepertinya sifat Yandere sang Bijju mulai kambuh.

"Gahh,, Kurama tenang, aku hanya bercanda". Melihat parnernya tidak main-main lagi, Naruto segera bangkit dan melangkah kebelakang sambil tanganya membentuk tanda 'Piss', terhenti karena terhalang batang besi besar yang membatasi ruang gerak Kurama." Ayolah Kurama, jangan main-main!". Keringat dingin mulai mengucur disekujur tubuh Naruto ketika sebuah benda bulat berwarna hitam sebesar kelereng sudah tercipta di antara mulut bertaring sang Rubah orange. Meski ukuranya kecil namun Naruto cukup tahu kerusakan apa yang dapat ditimbulkan Bijjudama mini milik sang parner.

.

" Bijjudama"

"GYAAA,,,RUBAH SIALAN!"

-0-0-0-0-0-0-0-

Gubrak,,,

Empat orang yang saat itu tengah berada di dalam kantor Raikage mengalihkan pandanganya kesudut ruangan, tempat di mana remaja bersurai kuning beberapa saat yang lalu masih duduk diam tidak bergerak, tapi sekarang tengah nungging dengan wajah menempel pada lantai dan bokong menghadap kelangit.

Seorang gadis Remaja yang memiliki surai merah dan kulit berwarna agak gelap melangkah mendekati tubuh Naruto yang masih saja mempertahankan posisi awalnya{nungging}. Gadis yang bernama Karui, salah satu Konoichi berpangkat Genin dari Kumogakure ini menghentikan langkahnya tepat di sebelah sang Uzumaki.

" Woe!" . Dengan tidak sopanya. Karui mencoba menyadarkan Naruto dengan menendang-nendang rusuk pemuda itu berkali-kali. Sangat tidak mengambarkan kefeminiman sedikit pun jika melihat tingkahnya yang kasar.

Tak ada pergerakan sedikit pun dari tubuh Naruto meski berkali-kali kaki jenjang Karui menghantam telak tulang rusuk . Karui mengangkat alisnya, heran dengan kelakuan pemuda pirang yang dari tadi menjadi bahan pembicaraan rekan setimnya dengan Raikage.

"Apa-apaan kau bocah!". Mulai kesal dengan tingkah pemuda tak ia kenal di depanya. Salah satu kaki Karui mulai menginjak sisi badan tubuh Naruto, tanpa menghiraukan rekan dan pemimpinya yang menatap binggung, Karui menjejak tubuh di depanya dengan lumayan kuat, mengakibatkan tubuh Naruto langsung terbalik, memperlihatkan pada semuanya, mata hitam berputar-putar mirip obat nyamuk. Sepertinya efek Bijjudama Kyuubi bukan hanya terasa di alam bawah sadar.

" A-are?"

-0-0-0-0-0-0-0-

Tanah gersang mengisi penadangan kemanapun bola mata bergulir. Batu-batu sebesar Kerbau terongok disekeliling lapangan dengan alas berwarna coklat. Sinar mentari siang tanpa perasaan menyengat seluruh arena seluas lapangan bola secara langsung tanpa alih-alih sedikitpun, ketiadaan pohon besar di tempat itu membuat beberapa pasang mata dapat melihat dengan jelas langit biru cerah dengan sedikit awan bertenger menaunggi mereka.

Naruto berkali-kali mengerak-gerakan begian kerah lehernnya saat sengatan sang raja siang membuat butiran-butiran keringat terus mengalir membasahi tubuhnya yang hanya berbalut sebuah kaus berwana putih tanpa lengan. Celana hitam panjang yang ia kenakan atas pemberian Raikage juga mulai tampak basah dan lembek, menandakan bagiaan tubuh dibalik kain hitam itu juga mengalami hal yang sama dengan bagian tubuh atasnya.

Setelah insiden singkat beberapa waktu lalu di kantor Raikage, mereka langsung menuju kemari, tentu setelah sang Uzumaki sadar. Di perjalanan yang tidak begitu jauh, Naruto menagkap akan di adakanya latih tanding atara dirinya dan dua remaja disamping tubuh besar Raikage, rupanya sosok besar berotot itu masih saja penasaran dengan kemampuan pemuda pirang yang bisa menghindar dari serangan kilatnya beberapa malam yang lalu.

Naruto ingat, malam itu, setelah ia di tenagkan oleh Raikage ketiga mengunakan tinju yang nyaris membuat kepalanya masuk kebadan. Naruto mulai menceritakan siapa dirinya, dan bagaimana caranya ia sampai ke pingir desa Kumogakure, tentu saat itu Naruto berbohong, tidak mungkin kan kalau dia berkata kalu ia berasal dari dimensi lain? bukanya percaya, bisa saja Raikage langsung membunuhnya saat itu karena mengangap Naruto mempermainkan kakek tua ayah A.

Ketika Raikage bertanya, Nama. Naruto menjawab seadanya, karena memang saat itu ia tak bisa berpikir dengan begitu logis. Alhasil marga 'Uzumaki' yang ia sandang membuat Raikage sempat tertegun, Namun itu tak bertahan lama ketika Naruto mengatakan pada pemimpin Kumo bahwa ia bukan murni Uzumaki.

Ketika masalah Nama sudah beres. Raikage kembali mengajukan pertanyaan, kali ini apa tujuanya dan asal desanya. Disini wajah Raikage tampak sangat serius. Melihat situasi itu, otak Naruto mulai bisa kebali berfungsi normal. Tidak ingin mendapat tuduhan sebagai penyusup, Naruto mengatakan kalau ia hanya seorang ninja lepas yang tidak memiliki desa, masalah ia sampai ke perbatasan Kumo, karena ia menghindari para Hunternin yang berniat memengal kepalanya untuk di tukar dengan uang.

Mengingat kapasitas Shinobi Kumo yang memiliki jumlah cukup sedikit, Raikage langsung menawarkan perlindungan pada Naruto dengan cara menjadikanya sebagai Shinobi dari Desa Petir. Tawaran yang langsung diterima Naruto dengan beberapa pertimbangan. Dan mulai dari malam itu, resmilah Uzumaki Naruto sebagai Shinobi Kumogakure. Untuk beberapa waktu kedepan, Naruto diberitahukan akan ada beberapa Anbu kumo yang berkeliaran disekitarnya, meyakinkan sang Raikage kalau Naruto memanglah tidak memiliki niat jahat pada desa tercintanya. Dan satu hal lagi, sang Uzumaki harus berjanji akan bersedia menangung hukuman mematikan, kalau-kalau kelak ia terbukti bersalah atau berniat menghianati Kumogakure.

"Omoi! Maju!"

Mendengar perintah dari suara serak dan tegas Raikage, seorang remaja belasan tahun memiliki rambut pendek runcing berwarna putih bermata gelap, meliliki kulit sedikit coklat gelap dan sebuah katana di pungungnya, mengunakan pakaian gelap yang terdiri dari kemeja yang di lengkapi dengan kerudung dan penjaga tangan, perban merah serta pelindung tulang kering khas shinobi Kumo. Pemuda yang selalu menampakan wajah berfikir ini mengangukan kepalanya singkat sebelum kemudia melompat jauh ketengah tanah gersang yang merupakan Training Ground milik Desa Kumo.

" Kau maju!"

Tubuh Naruto berjengit ketika Raikage menatapnya dengan mata melotot galak." H-hai!" sang Uzumaki, ikut melesat jauh dan mendarat beberapa meter di depan Omoi yang saat ini tengah mengelus-elus sisi tajam katana, seolah memastikan bahwa benda itu masih tajam atau tidak.

" ,,jadi?~" Omoe merogoh kantung belakangnya, mengeluarkan satu buah permen lolipop, dengan gerakan malas pemuda bersurai putih itu menghisap benda manis tersebut.

Naruto memiringkan kepalanya." Apa?"

" Hah,, sebenarnya aku malas, tapi karena ini perintah Raikage-sama ayo kita,,,MULAI!" Tubuh Omoe melesat kencang kearah Naruto dengan tangan kanan menenteng Katana disisi tubuh, membuat ujung katana bergesekan dengan tanah ketika ia bergerak maju.

"Nani?" Naruto menundukan badanya, membiarkan ayunan katana Omoi melintas begitu saja tepat diatas kepalanya. Dengan cepat dan kuat Naruto langsung menyilangkan kedua tangan di depan dada guna memblok lutut Omoi yang berniat menghantam dadanya.

Terjangan kuat Omoi membuat tubuh Naruto terlempar cukup jauh kebelakang, meski telah menahanya dengan dua tangan tetap saja efek nyeri masih dapat ia rasakan di sekitar lengan. Omoe kembali melesat kearah Naruto dengan cepat, kali ini Uzumaki muda itu sudah memasuki kuda-kudanya, tidak seperti barusan yang belum siap sama sekali.

Trang,,,

Denting logam mengema ketika sisi tajam katana milik Omoi tertahan oleh kunai milik Naruto, pemuda berambut putih runcing itu langsung melompat mundur saat mata hitamnya melihat satu tangan lawanya yang bebas berniat menusukan sebuah kunai lain keperutnya.

Tap,,,

Trangg..

Baru saja mendarat, Omei harus kembali mengangat katanya sebatas leher untuk menahan sabetan pisau hitam Naruto yang menginca lehernya. Iris hitam Omoe beradu sesaat dengan iris sewarna namun lebih kelam milik Naruto. Pemuda Kumo itu menyentakan katananya dengan kuat hingga membuat tubuh Uzumaki muda itu terdorong kebelakang. Dengan gerakan cepat dan luwes, Omoi menunduk dan dengan secepat mungkin menebas katananya horisontal, mengicar kaki jenjang Naruto. tak ingin penopang tubuhnya buntung, Naruto segera melompat keudara, sesuatu yang membuat Omoi menyeringai.

" Habislah dia!" Karui menyilangkan kedua tanganya di dada, matanya coklatnya menatap tajam pertarungan rekan setimya dengan pemuda bersurai kuning yang menyandang gelar Uzumaki. Bibir gadis itu sedikit melengkung, tersenyum tipis ketika mengira akan kembali melihat sang partner menghajar lawanya

" Belum!"

Karui mengalihkan pandanganya kearah Raikage yang kini tengah menyampingi dirinya." Apa maksud Anda?". Karui menatap samping wajah pemimpinya dengan pandangan menuntut. Menurutnya keadaan Naruto saat ini sudah sangat rawan ketika mengingat Omoi pasti akan mengunakan tehniknya, sebuah tehnik yang harus ia aku sangat mematikan dan tak bisa dihindari. Cukup lama satu tim dengan Omoi membuat Karui cukup sering melihat hal ini, sesuatu yang pada akhirnya akan berakhir dengan musuh yang tumbang karena tidak bisa berbuat banyak saat rekan setimnya mengeluarkan tehnik andalanya diudara.

" Lihat, dan jangan banyak bicara!". Raikage berkata dengan tegas, tak memperdulikan gadis muda di sampingnya yang cemberut. Raikage tahu kecepatan bocah pirang itu lebih dari ini, kegesitanya menghindar tonjokan mautnya malaam itu sudah cukup membuktikan kalau Naruto sampai saat ini masih belum menunjukan kemampuan penuhnya. Mata coklat sipit pemimpin Kumo menajam, ingin melihat dengan jelas bagaimana pemuda pirang yang baru saja ia agkat menjadi salah satu Shinobi Kumo mengelak dari tehnik pedang andalan salah satu Genin sepesialnya.

Masih dalam posisi melayang, Naruto segera melemparkan satu Kunai ditanganya kearah Omoi yang kini dibawahnya." Apa?". Mata Naruto membulat ketika sedetik kemudia bayangan tubuh Omoi lenyap dari pengawasan onlynya. Kepala beriris pirang emas itu berputar kesegalah arah, berusaha mencaritahu keberadaan musuhnya yang tiba-tiba menghilang dari pandangan.

" Kumo-ryu Mikazukigiri"

Mata Naruto membulat dan tubuhnya menegang saat bisikan lirih mirip hembusan angin menerpa indra pendengaranya. Kepala pemuda bersurai kuning itu segera mendongrak untuk melihat apa yang ada diatasnya.

Bahaya.

Tepat diatas kepala sang Uzumaki, Omoi menukik dengan kecepatan gila dengan katana beraliran listrik biru memercik. Benar kata Karui, serangan pemuda bersurai putih itu memang tidak dapat dihindari, keadaan Naruto saat ini yang berada di udara semakin membuat pergerakan Naruto terkekang, ia tidak dapat mengelak karena kedua kakinya tidak bisa menemukan pijakan, merapal jutsu pun akan sama saja karena waktunya yang tidak cukup. Tak mendapati celah untuk menghindar maupun menyerang balik lawan, Naruto dengan cepat memejamkan matanya, membuat Omoi menyeringai ketika kembali menemukan lawan yang pasrah ketika tidak bisa menghindar dari serangan spesialnya.

" Kamui"

Saat ujung katana mulai menembus perut Naruto, cengiran Omoi semakin melebar. Tapi, ketika tanganya juga ikut menembus, cengiranya musnah, diganti dengan mulut mengangga lebar hingga menyebabkan permen lolipopnya terlepas. Mata hitam pemuda itu melotot, ketika tak merasakan sensasi apapun begitu tubuhnya dengan cepat kilat menembus badan Naruto. Omoi berani bersumpah kalau seranganya mengenai telak sang lawan, tapi entah mengapa, ia juga yakin kalau matanya tak melihat setetes pun darah keluar dari tubuh Naruto.

Bummmm,,,,

Debu beterbangan mengitari lahan tandus disekitar tubuh Omoe mendarat. Katana beraliran listrik milik sang Genin spesial menancap dalam ditengah kawah kecil di bawah kaki Omoi berpijak. Masih dengan wajah shoknya, Omoe melihat bilah tajam katana kebangananya, berharap menemukan bukti nyata bahwa ia telah melukai sang lawan. Iris hitam kelamnya bergetar begitu tak menemukan noda apapun di Katana miliknya.

"A-Apa yang t-terjadi?" suara yang biasa terdengar santai dan tenang kini nampak serak. Berbagai pertanyaan masuk kedalam otak jeniusnya tanpa bisa ia jawab tentang cara pemuda pirang diatasnya menghindari dari hujaman kematian tehnik andalanya yang sampai saat ini tak pernah gagal menjatuhkan musuh.

" Fuuton: Daitoppa!"

Dengan gerakan patah-patah, kepala Omoi mendongkrak keatas ketika bisikan pelan namun entah mengapa mampu membuat bulu kudunya berdiri terdengar ditelinganya.

"ARGGGGGGGG"

Terakhir yang Omoe lihat adalah mata merah berpupil mirip Shurikan tiga kaki yang menatapnya datar, sebelum akhirnya rasa sakit dan sesak seperti tertimpa beban ratusan kilo menghantam pungungnya, mengalihkan pandanganya dengan paksa ke warna coklat tanah lantai Training Ground.

Mata dua orang di pingir Training Ground yang sejak awal menyaksikan pertarungan Naruto dengan Omoi membelalak seleber-lebarnya. Dengan jelas keduanya melihat keungulan Omoi yang tinggal satu langkah lagi mengalahkan lawanya, namun sedetik kemudian keadaan berbalik. Menyisakan tubuh Omoi menempel rapat pada tanah gersang lapangan tanpa bisa bergerak kembali.

" A-apa itu tadi?" Suara Karui terdengar rendah, memberi pertanyaan pada dirinya sendiri. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat bagaimana rekan setimnya menembus tubuh Naruto bagai hantu, sesuatu yang baru untuk di lihat oleh matanya." H-hantu?"

Mata coklat Raikage mengkilat tajam memandang tubuh Naruto yang kini sudah menapak ditanah. Selama hidupnuya didunia shinobi, ia sering melihat Jutsu-jutsu baru mulai dari yang lemah hingga yang sangat hebat, tapi baru kali ini ia melihat dengan jelas Jutsu seperti itu, dan yang lebih membuat Raikage ketiga tercengang adalah, Naruto mengunakan jutsu anehnya tanpa mengunakan segel tangan, sesuatu yang sangat sulit di lakukan bahkan oleh Shinobi sekelas dirinya. Bibir lurus Raikage tiba-tiba melengkung, menampakan seringai menyeramkan yang mampu membuat anak kecil mengkeret lalu menangis.

Tindakanya memasukan bocah itu dalam sekuat Ninja Kumo ternyata cukup tepat, dengan kemampuanya itu, dia bisa menjadikan Naruto Shinobi yang handal kelak. Entah hanya perasaan Raikage saja atau memang benar, ia merasa, kalau bocah pirang tidak sopan yang berani memangilnya ' Oji-san'itu, sampai saat ini masih menyembunyikan kekuatan penuhnya.

" Surai kuning cerah menyerupai mentari. Kekuatan, tak terdukan yang menakutkan. Sosok shinobi baru yang akan menguncang dunia,,Uzumaki Naruto, mulai sekarang kau akan dikenal sebagi' Taiyo Kumogakure'{Matahari Kumogakure},,,BWAAHAHAHAHA!"

Tawa mengerikan Raikage membuat Karui mengambil inisiatif menjauh. Melihat pemimpinya seperti itu, jujur saja bagi Karui seperti melihat seekor monster ganas dengan dua tanduk banteng, mahluk gaib yang sering ia lihat dibuku dongeng, sosok jahat pemakan anak kecil." Mengerikan!"

TBC

A/N: hoy!

Gw jawab kebingungan kalian.

6 thn yang dimaksud Naruto, sebenarnya hanya mengikuti pertangalan, untuk kedepanya belum tentu sama dengan di Canon" Susah njelasinya"

meski seperti kembali kemasa lalu, tapi nyatanya tidak, ini perpindahan dimensi bukan masa lalu.

Umur naru gede 19 tahun dan Naru kecil 13 th.{ gw ambil dari 19 dikurangi 6= 13, tepat ketika narutobaru lulus dari ujian genin.}

meski ada kesamaan dengan dimensi naru gede{canon} tapi di dimensi ini gw bikin ada perbedaan. Seperti raikage ke-3 yang masih hidup dan masih banyak lagi, akan terkuak di chapter-chapter depan.

naruto, memiliki dua sharingan, milik abito dan Kakashi yang sudah mati ketika perang besr vs kaguta!.

meski memiliki sharingan Naruto tidak akan bisa membangkitkan Rinnegan.

Cukup segini dari gw, kalo ada yang kurang jelas, silakan bertanya pada kolom review maupun Pm. Fict ini emang beda dari Canon, mohon kalian jangan protes masalah carakter yang harusnya udah mati, tapi difict ini masih hidup atau sebaliknya. Ini berasal dari pemikiran gw, bukan Master MK yang angung.

Sekian dari gw, berikan dukungan kalian lewat Review ya. Segala saran, ktitik, pujian maupun. Flame gw terima dengan lapang dada.

Review kalian, semakin membuat gw lebih bersemangat melanjutkan karya-karya gw selama ini.

Sampai disini perjumpaan kita, gw Karasumaru.666

Goooooooo!