Ayahku jatuh sakit, dia sekarang ada di rumah sakit di Teitoku, katanya dia sakit jantung dan harus diopname sampai pemberitahuan lebih lanjut, aku hanya bisa mendoakannya untuk lekas sembuh, kalau dia tidak ada, untuk apa aku harus memenangkan hati seorang perempuan?
"Hei! Jangan tidur di kelas!" Aku melihat keatas, seorang perempuan berambut pirang dengan tampang yang garang menegurku, aku menguap dan merentangkan tanganku keatas, semua ini terlalu cepat untuk bisa kuterima.
"Ma-Maaf, tidak akan terjadi lagi." Aku segera mengambil tasku dan mengeluarkan bekal makan siang, kulihat disamping mejaku seorang Sena Kobayakawa yang dengan malu-malunya makan bekal makanannya, kulihat sekilas dia mengambil sebuah sosis gurita dengan sumpitnya.
"Hei, kau tidak apa-apa? Kamu tidur terus selama pelajaran berlangsung." Terima kasih sudah menanyakannya Sena, semua ini terlalu berat untuk bisa kuterima dalam satu hari.
"Ya, aku tidak apa-apa, tapi semua ini datang secara tiba-tiba." Aku segera membuka tutup Tupperware dan mengambil sumpit, makanan hari ini? Telur dan Daging Asap ditambah nasi putih, makanan yang tidak seberapa, tapi masih tergolong enak.
"Hei, bolehkah aku ikut makan disini?" Tiba-tiba seorang laki-laki menempati kursi yang ada didepanku yang kebetulan kosong, ditangannya ada sebuah bekal makanan dan jus jeruk, aku mengangguk, lelaki itu tersenyum dan meletakkan bekalnya di depan bekal milikku.
"Namaku Riku Kaitani, senang berkenalan denganmu." Sena memandangi Riku dengan wajah cemas, jus miliknya diminumnya dengan cepat, "Aku kakaknya Sena." Sena menyemburkan jusnya ke muka Riku, "A-Aku bukan Adikmu!" Sena dengan wajah yang memerah memukuli Riku dengan pasrah, sama seperti saat dia memukuli Suzuna.
"Jadi… Kalian semacam saudara?" Wajahku yang penuh tanda tanya terlihat jelas olehnya, dia mengangguk, Sena menggeleng cepat, kedua tangannya membentuk huruf X, pertanda bahwa itu semua tidak benar.
"Seperti itulah." Riku meneguk jus jeruknya, Sena dengan pasrah kembali ke tempat duduknya dan memakan bekalnya lagi dengan muka semerah tomat.
Setelah itu kami mengobrol dan berbicara tentang pengalaman kami, selagi kami makan, beberapa orang memandangi kami dengan heran, mungkin karena yang berbicara hanya Riku, Aku dan Sena hanya diam mendengarkan pengalaman pribadinya.
Tanpa kami sadari, bel istirahat selesai telah berbunyi, kami segera menghabiskan makanan kami dan kembali ke posisi kami sebelumnya.
Aku jadi teringat sesuatu… Siapa perempuan berambut pirang itu?
Ah, sudahlah, aku harus belajar dengan giat, tapi berapapun lamanya kupandangi papan tulis itu, materi yang daiajarkan tidak bisa sampai ke otakku.
Saat bel sekolah bordering, aku segera menelpon nomor Ayahku, tapi layanannya sedang sibuk, jadi aku memutuskan koneksinya.
Saat aku ingin mengambil sepatuku di kotak sepatu milikku (Memangnya kotak siapa lagi?), aku melihat sebuah papan pengumuman, disitu dituliskan kalau ada lowongan untuk klub musik dan klub membaca, menurut kertas selebaran, semuanya ada di lantai gedung sekolah utama.
Mungkin ini harus kuceritakan pada kalian.
Gedung Sekolah ini terdiri dari 3 bagian, Gedung utama, Gedung baru, dan Gedung Olahraga, di Gedung utama terdapat kelas-kelas untuk pelajaran biasa seperti matematika, sains, dan lain-lain, di Gedung baru terdapat kelas-kelas untuk pelajaran yang membutuhkan alat bantu, seperi seni rupa, drama, dan lain-lain.
Yang paling menarik adalah Gedung Olahraga, tempat ini dibuat untuk melakukan olahraga (Memangnya untuk apalagi?), tapi ini hanya dipakai untuk athletik atau semacamnya, kalau mau bermain bola, basket, atau kasti, kalian harus berbagi lapangan dengan klub yang lain.
Cukup dengan penjelasannya, aku sekarang berada di depan ruang musik, saat kubuka pintunya, kulihat 5 orang sedang berlatih, sepertinya mereka tidak asing bagiku, ah sudahlah, aku menutup pintu itu pelan dan segera pergi ke ruang klub membaca, atau orang-orang bilang 'Klub Literatur' atau 'Klub Buangan', benarkah sampai segitunya?
Aku dengan hati-hati membuka pintu klub literatur, didalamnya hanya ada sebuah rak buku, sebuah meja dengan computer diatasnya, 5 kursi duduk, dan satu orang perempuan berambut pirang yang panjang sedang menatap mataku.
"Ng… Hai." Aku menyapanya dengan santai, aku merasa pernah bertemu dengannya, apakah dia perempuan yang menegurku di kelas? Tidak… Dia berbeda…
"Ng… Apakah kamu ingin bergabung dengan klub literatur?" Dia mengarahkan pandangannya ke sebuah dinding yang retak, "Atau kamu mau menjebolkan dinding itu?" Separah itukah klub ini?
"Aku ingin bergabung dengan klub ini." Aku berusaha menenangkan perempuan itu.
"Ka-Kau mau bergabung?" Perempuan itu membelalakkan matanya, "I-Ini pertama kalinya ada yang mau bergabung! A-Aku sangat senang!" Perempuan itu kemudian menyerahkan sebuah kertas dan pulpen, "Isilah biodatamu disini." Dia dengan riang menyalakan komputernya dan mulai mengetik sesuatu.
Aku memfokuskan pandanganku kearah kertas yang harus kuisi, nama? Taka Honjou, umur? 17 tahun, Tinggi dan Berat? Apa? Ng… Tingkat kecerdasan? Manga Favorit? Bleach, Anime Favorit? Gurren Lagann, Karakter Favorit? Ng… Monkey D. Luffy? Dewa favorit? Ini kertas pendaftaran atau Jebakan untuk menuliskan data pribadiku sih?
Setelah beberapa kali menulis dan mencoret jawaban, kuberikan kertas itu ke perempuan itu, dia mengambilnya dan membacanya, sudah kuduga, itu hanya jebakan untuk menulis data pribadiku.
"Ah, aku belum sempat memperkenalkan diriku, namaku Karin Koizumi." Gadis itu tertawa riang, sepertinya akulah yang dia doakan setiap hari kepada dewi fortuna, aku turut senang.
"Jadi, apa yang biasanya dilakukan klub literatur?" Aku melihat-lihat rak buku yang penuh dengan novel dan komik, kubaca beberapa kata dari novel tersebut, Karin sepertinya kagum padaku.
"Bagaimana kalau kita membuat Novel?" Karin mengambil tasnya dan mengeluarkan laptop mini berwarna putih, ternyata disitu dia membuat banyak sekali cerpen, dia sangat berbakat dibidang ini.
"Hei, cerpen buatanmu sangat-sangat bagus." Aku membaca beberapa cerpen, dan itu sangat menyentuh.
"Aku turut senang, semua orang mengolok-olokku karena ingin menjadi Novelis." Karin menatap latop putihnya dengan wajah yang lesu, "Tapi aku senang klub literatur ini tidak jadi dibubarkan." Aku bisa merasakan sesuatu dari Karin, impiannya pasti akan terwujud.
"Sudahlah, masa lalu tetaplah masa lalu." Aku menepuk pundaknya dengan pelan sambil tersenyum kecil, Karin menatapku dan tersenyum balik, "Kau benar Taka, kita harus melihat ke masa depan yang lebih cerah!"
"Mau beli buku Harpot sepulang sekolah?" Aku mengeluarkan dompet.
"Yang ketujuh!" Mata Karin berbinar-binar memandangi dompetku.
"Yang ketujuh." Tiba-tiba Karin berteriak histeris, hampir pingsan dilantai.
"Ayo cepat Taka-kun! Keburu bukunya habis!" Karin segera mengambil tasnya dan melesat keluar, Aku sampai dibuat terkejut begitu.
"Aku tidak menyangka di toko buku itu ada diskon besar-besaran." Aku sekarang berjalan menuju rumah kami berdua, karena rumah kami dekat, kami memutuskan untuk jalan bareng.
"Haha, kita benar-benar terkejut dibuatnya." Karin menatap buku Harpot yang barusan dia beli, "Terima Kasih."
"Ng? Tadi kamu bilang apa?" Aku tidak bisa mendengarnya, kalimat yang tadi hampir tidak bisa didengar.
"Aku bilang Terima Kasih." Dia tersenyum, aku mengangguk, senyumnya membuatku ingat pada ibuku—Mendiang ibuku.
"Ah, aku sudah ada didepan rumahku." Tahu-tahu saat melihat ke kiri, aku sudah sampai dirumah Sena, atau bisa dibilang rumahku.
"Baiklah, sampai ketemu besok Taka-kun." Karin melambai, "Oh iya, klub literatur mulai sekarang mempunyai jadwal berkumpul, yaitu Senin, Selasa, dan Kamis, jangan sampai bolos ya." Karin lalu berlari dan berbelok di perempatan.
Aku berdiri terdiam diluar rumah, gadis ini mengingatkanku pada Ibu, orangnya sangat baik, semua yang kuminta dia penuhi, tapi hal yang bisa kuingat hanyalah senyumnya yang secerah matahari pagi, haruskah aku memenangkan hati Karin?
Aku mengenyahkan pikiran itu dan segera masuk ke dalam rumah.
"Tadaima." Aku menggeser pintunya, melepas sepatuku dan menaruhnya dirak yang tersedia, dan langsung pergi ke kamarku untuk mengambil baju, badanku sudah keringatan dan bau, hal yang rasional untuk dilakukan tentu saja mandi, ini pengetahuan umum kan?
Lagipula aku harus segera mengerjakan PR, sebelum terlambat, asal kau tahu saja, karena aku siswa pindahan, PR-ku menumpuk.
"Taka-kun!" Sena memanggil dari kamar sebelah tidak lama setelah aku masuk, "Sena-san? Aku mendekatkan telingaku di dinding.
"Hee, sepertinya suara kita bisa menembus dinding kamar ini ya, bukankah ini menakjubkan Taka-kun?" Aku bisa mendengar kegirangan Sena dikamar sebelah.
"Ya, kita bisa mengobrol kalau kita sedang bosan dikamar." Aku segera duduk dikasur, menyender di dinding kamar, "Aku bisa membacakan dongeng sebelum tidur juga." Aku tertawa kecil.
"A-Apa maksudmu! Aku bukan anak kecil lagi tahu!" Aku bisa mengetahui kalau muka Sena sekarang sedang memerah, aku tertawa sedikit, "A-Apa yang lucu?"
"Tidak, aku merasa kalau kita ini seperti sepasang kekasih yang dikurung di sebuah penjara, hanya dinding yang membatasi kita." Sena tiba-tiba terdiam.
"A—Ano, U—Um, Ti—Tidak! I—Itu tidak benar!" Aku bisa mendengar suaranya yang malu-malu diseberang dinding, Aku senang menggoda perempuan ini, sudah seperti adikku sendiri.
Tunggu, sepertinya aku melupakan sesuatu deh…
GAH! Aku harus segera mandi, dan mengerjakan PR! Aku melompat dari tempat tidur dan buru-buru mengambil pakaian ganti dari dalam lemari.
"H—Hei, Taka-kun? Kenapa tiba-tiba gaduh?" Sepertinya Sena menyadari kepanikanku, tenanglah Taka, tenang, tarik napas, "Fuh," Hembuskan, "Hah." Aku merasa lebih tenang sekarang.
"Aku hanya lupa kalau aku harus mandi." Setelah mendapatkan baju ganti, aku segera keluar dari kamar, tapi didepanku ada Sena yang menungguku, ada apa ini?
"Taka-kun, kamu mau makan apa?"
"Eh?"
"Ki—Kitakan belum makan malam, aku juga lapar!" Aku bisa mendengar geraman perut Sena, A—Apa-apaan!
"Apa sajalah." Aku menjawab dengan senyum, Sena tersenyum balik, "Baiklah! Hari ini aku akan membuat ramen!" Dengan girang Sena menuruni tangga, aku segera pergi ke kamar mandi dan menanggalkan—
—Hei! Aku sedang membuka baju dan celanaku disini, berikanlah aku satu atau dua privasi.
BUM!
"KYAAAAA!"
"Suara apa itu!" Aku yang tinggal memakai baju segera membuka pintu kamar mandi dan turun kebawah, aku menelan ludah, bara api berhasil membakar sebagian dapur, "U-Uwaaaaah! Sena-san! Panggil pemadam kebakaran!" Sena menangguk dengan wajah yang ketakutan, dia segera mengambil telepon yang ada di samping TV.
Aku segera mengambil sebuah pemadam api darurat dan menyemprotkannya ke bagian dapur yang terbakar, ayolah! Padamlah api jahanam!
"Ta-Taka-kun!" Sena tahu-tahu berada di belakangku, tanpa kusadari, seluruh lantai sudah dipennuhi api yang membara, dinding mulai dilahap api, semakin lama napasku semakin sesak, aku mulai terengah-engah.
"Sena!" Aku menggendong Sena yang hampir pingsan melewati bara api dan berhasil keluar melewati jendela, tentu saja jendela itu kupecahkan, tapi kepalaku membentur dinding, kupegang bagian kepalaku yang membentur dinding, dan aku merasa sebuah cairan mengalir, jangan-jangan ini—
WIU WIU WIU
Sirine pemadam kebakaran terdengar di kejauhan, aku terlalu lemah untuk bergerak, Sena kupeluk dengan erat agar tidak lepas, penglihatanku semakin memudar, kupandang wajah Sena yang meneteskan beberapa air mata.
"Taka-kun, Taka-kun, TAKA-KUN!" Dia menahan kepalanya di dadaku, aku bisa merasakan setiap tetes airmata, sial, sampai disini sajakah? Sial, padahal aku sudah berjanji dengan Ayahku kalau aku akan menang.
Sepertinya…
Cinta sudah berakhir…
Padahal aku masih belum memenangkan hati seorang perempuan… benar-benar tragis…
OHAYOU XD
Seventeen disini dan saya mempersembahkan anda Chapter kedua dari A Simple Story.
Bila berkenan, tolong review fanfiction ini ya ^^
