James' Lucky Detention
Timeline : Marauders' Era
Rating : T
Pairing : JamesxLily
Related Fanfic : Like Father, Like Son
Disclaimer : dengan menyesal, saiia mengetik : semuanya milik JK Rowling.. Kecuali ide critanya..
James menorehkan Pena Bulunya di atas perkamen dengan kesal. Bagaimana bisa Professor Slughorn memberinya detensi di hari yang sangat penting ini?
Hari ini adalah pertandingan final Quidditch, Gryffindor vs Slytherin. Ini juga adalah pertandingan final pertama James sebagai kapten. Selain itu, dia Chaser andalan Gryffindor, yang biasanya mencetak paling banyak gol. Apalagi lawannya adalah Slytherin.
Sudah menjadi rahasia umum, anak-anak Slytherin tidak pernah tidak bermain curang dalam satu pertandingan pun. Bagaimana nasib tim Quidditch Gryffindor tahun ini? Bagaimana dengan piala Quidditch yang telah dipegang Gryffindor selama beberapa tahun berkat James?
Rekan-rekan setim Quidditchnya sedang berjuang di atas sapu bermeter-meter di atas tanah di luar sana, teman-teman seasramanya sedang bersorak-sorak menyemangati tim Quidditch asrama mereka sambil sesekali saling melontarkan ejekan dengan para Slytherin, si komentator sedang mengomentari hal-hal tak penting, para guru sedang bertepuk tangan setiap kali ada yang mencetak gol… sementara itu James sedang mencatat ulang daftar masalah milik Filch yang sudah rusak, kata perkata, tanpa sihir, di dalam kantor Filch yang suram.
James tidak akan segan-segan menggunakan sihir demi mempercepat pekerjaannya biarpun pada akhirnya hukumannya akan bertambah asalkan dia bisa menonton setidaknya seperempat dari pertandingan Quidditch yang sangat seru itu. Tapi tongkat sihirnya di sita. Ternyata si Sluggie itu telah mengenal perilaku James dengan sangat baik. Filch juga, alih-alih mengawasinya sendiri, dia hanya menempatkan kucing kesayangannya, Mrs Norris, di depan James sementara dia berkeliling kastil, berharap ada yang bisa dia detensi.
Detik demi detik berlalu, James telah menghabiskan dua setengah jamnya yang berharga di kantor yang bau debu itu. Pekerjaannya telah selesai sekitar tiga perempatnya. Cukup cepat, bagi seorang James yang biasanya lebih memilih untuk menjebak Mrs Norris dan mencari sesuatu yang menarik di tempat Filch menyimpan barang-barang sitaannya.
Rasanya membosankan sekali, mencatat nama demi nama dan masalah demi masalah dari orang yang sama sekali tidak dia kenal. Siapa itu Mark Brown? Siapa lagi itu Franky O-lala? (Namanya sulit dibaca dan James memilih mengubah namanya. Siapa yang akan sadar kalau dia mengubah sedikit catatan-catatan tak penting itu?)
James sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Filch. Untuk apa dia menyimpan daftar masalah dari murid-murid yang mungkin sudah seumuran dengan kakek James? Pemuda berkacamata itu yakin sekali Filch pun sudah tidak mengenal mereka lagi.
Nama terakhir yang James salin adalah milik Zacharias Frost. Tepat saat dia menyimpan Pena Bulunya, Filch masuk ke kantornya.
"Professor Slughorn menyuruhmu kembali ke asramamu," katanya dengan nada datar. "Jangan menyelinap dan langsung ke asramamu, katanya."
Tanpa menunggu lagi, James langsung melesat menuju lukisan Nyonya Gemuk. "Oh, halo nak, mau mendengarkan lagu baruku?" tanya penghuni lukisan itu ramah.
"Cockroach Cluster," kata James langsung, membuat Nyonya Gemuk kesal dan mengayun terbuka dengan enggan. James sendiri deg-degan ketika lukisan itu terbuka. 'Bagaimana hasilnya? Bagaimana hasilnya?' tanyanya dalam hati. Disisi lain dia terus mengutuki Slughorn karena memberinya detensi di hari pentingnya.
Pertanyaannya segera terjawab. Dan hasilnya sangat membuatnya senang. Tanpa perlu bertanya, dia tahu hasilnya. Para penghuni asrama Gryffindor sedang mengadakan pesta, dan di saat seperti ini, hanya ada satu tema yang dapat di jadikan pesta, yaitu, Kemenangan Tim Quidditch Gryffindor.
Dia baru saja akan berjalan mendekati sahabat-sahabatnya ketika dia melihat seorang gadis berlari ke arahnya. Gadis berambut merah itu terlihat sangat senang dan langsung memeluk James.
James yang tidak pernah menyangka Lily akan lebih dulu memeluknya sempat mematung selama sedetik, setelah itu dia sendiri tidak tahu dari mana dia mendapatkan ide itu, dan sempat menyesalinya karena dia tidak mempertimbangkannya terlebih dahulu. Bagaimana pun, dia berada di satu ruangan yang dipenuhi orang-orang. Saat dia sadar, dia telah mengecup bibir Lily.
Dia mengira Lily akan menamparnya, atau bahkan menggunakan "Avada Kedavra" kepadanya, tapi yang didapatnya adalah senyum manis dari gadis bermata hijau itu.
Lily tersenyum malu-malu dengan wajah merah, dibalas dengan cengiran setengah senang setengah tak percaya dari James. Sesaat kemudian kedua Gryffindor itu sudah keluar dari Ruang Rekreasi sambil bergandengan tangan.
"Aku tidak menyangka kau malah tersenyum padaku," kata James sambil tertawa.
"Memangnya kenapa? Kau berharap kutampar?" Tanya Lily tanpa berani menatap James.
James tertawa lagi. "Tentu saja tidak," kata pemuda itu. "Akhirnya kau ngaku juga kan, kalau kau memang suka padaku. Aku harus berterimakasih kepada Sluggie-Horn, berkat dia aku bisa menciummu."
Terkejut, Lily langsung melepaskan tangannya yang daritadi dia biarkan berada dalam genggaman tangan James. "Siapa yang suka padamu? Jangan bermimpi, Potter!"
"Sudahlah, ngaku saja. Tidak perlu malu-malu kok," James nyengir lebar.
"Jangan bodoh! Aku tidak menyukaimu, Badut Quidditch Gryffindor!" bentak Lily keras kepala.
James terkekeh. "Kalau tidak menyukaiku, kenapa tadi kau diam saja waktu kucium?"
"I—itu—" wajah Lily merah padam. "Itu karena—karena—oke, aku memang sedikit menyukaimu! Puas?"
"Sudah kuduga," kata James senang, mengabaikan Lily yang masih terus berkata "Cuma sedikit!". "Kalau begitu besok aku akan mengumumkan kalau kita sudah jadian."
"Kau lakukan itu dan jangan harap kau bisa bertemu denganku lagi!" ancam Lily.
James mengacak rambutnya. "Wah, susah juga ya. Kalau kuberitahu Sirius, Remus dan Peter boleh kan?"
"Kau ini bodoh atau idiot sih?" bentak gadis berambut merah itu. "Kapan aku pernah setuju untuk jadi pacarmu, kepala Quaffle?" bentaknya lagi. Tenggorokannya kini terasa sakit karena terlalu sering berteriak. Dia bingung sekali kenapa koridor entah-lantai-berapa itu sangat sepi malam ini. Tidak ada guru, tidak ada Prefek atau Kepala Murid, hanya ada dia dan laki-laki yang selalu diam-diam dia perhatikan.
Lily merasa bodoh karena sudah bersusah payah membentak James, karena pemuda itu hanya mengacak rambutnya dan tersenyum lebar, sama sekali tidak menanggapi semprotan Lily.
"Se—sesukamulah! Asal jangan sampai seisi Hogwarts tahu tentang—" suara Lily tercekat di tenggorokannya. "Tentang—tentang Kau-Tahu-Apa!"
"Aye-aye, sir," James terkekeh dan kembali menggenggam tangan Lily. "Aku cuma ingin dengar kata ini darimu. Kau suka padaku?" tanyanya langsung, setengah menggoda Lily yang mematung.
Lily tidak bisa berkutik lagi. Dia tidak tahu harus jujur atau tidak, sementara itu senyum James yang menurut Lily menyebalkan itu semakin lebar. "C—cari tahu sendiri!" akhirnya kalimat itu yang Lily pilih. "Apa?!" geramnya ketika James menatapnya tepat di matanya.
"Tidak," ujar James pelan. "Kau menyuruhku mencari tahu sendiri kan? Makanya sekarang aku lagi mencarinya. Kau sembunyikan dimana sih jawabannya?"
Mau tidak mau, Lily mendengus geli. Sudahlah, batinnya. Sudah sampai disini, untuk apa lagi aku berbohong?
"James," yang dipanggil tersentak. Memanggilnya Potter saja sangat jarang, sekarang Lily memanggilnya James. "Aku menyukaimu."
FiN
Hi..hi..hi..
Natsumi kembali dengan fanfic baru
Sekali lagi, aku mentok di bagian akhir. Seharusnya fanficnya ga sepanjang ini, tapi karena sifat Lily yang keras kepala membuatku bingung mau ngakhirin fanfic ini kayak gimana, jadinya seperti ini deh..
Komen n kritiknya ditunggu
