Harry Potter and the other are not mine. All of them are belongs to JK Rowling. But, the story is purely mine.. Hope you like it, guys.
A/N: Mulai dari chapter ini dan seterusnya, aku mungkin bakal pakai Normal POV, bukan Hermione POV kayak di chapter sebelumnya.
Ketika Tuhan menuliskan kata rindu di hatiku atas namamu,
Haruskah aku membisikkannya? Atau… aku harus menyimpannya,
Sendiri…
Chapter 2
Malam telah menyisakan kegelapan yang menggantung di balik Sang Bulan yang tersenyum pongah, ketika ia memasuki Aula Besar bersama dengan seorang gadis Slytherin bernama Astoria Greengrass. Tersenyum dan sesekali tertawa senang. Tak nampak sama sekali raut yang mengganjal di wajahnya. Sangat berbeda dengan apa yang seorang gadis Gryffindor rasakan dan tunjukan.
Dari tempat duduknya Hermione mendongkak, mengabaikan tugas-tugasnya (yang harus dikumpulkan dua hari ke depan), hanya untuk memandangi Draco Malfoy yang baru saja bergabung bersama para Slytherin di mejanya. Melihat dan memperhatikannya, mencari-cari ekspresi yang sama. Apakah dia merindukanku?
Hermione memang marah, kesal dan kecewa pada Draco. Ia bahkan ingin sekali—kalau bisa—menghajarnya. Namun, lebih dari itu semua, jauh di dalam hatinya, ada kerinduan teramat besar yang ia simpan untuk pemuda pemilik mata kelabu itu. Kerinduan yang meski menyiksa, tapi sama sekali tak ingin ia akhiri. Kerinduan yang membuatnya ingin kembali memiliki Draco. Bukankah rindu memang datang dikala semua telah hilang dan dilepas?
Pikirannya pun berkelana jauh. Terbang menembus dinding dimensi waktu lalu yang telah tertutup hari-hari selanjutnya. Menampakkan kembali sisa-sisa ingatannya malam itu. Membawanya menyambut penyesalan yang diam-diam datang dan terlambat. Membuatnya berpikir; jika saja ia tidak menyerah pada keraguannya, jika saja ia bisa bertahan dalam luka yang ada, jika saja ia mau berjuang untuk cintanya, mungkin saat ini ia masih bisa menatapnya dari dekat. Menikmati keindahannya yang tanpa cela.
Tetapi, tentu saja, tiap manusia yang hidup, tidak akan pernah bisa berkelit satu detik pun dari takdir yang telah digariskan untuk terjadi. Jadi, dengan susah payah, ia telan kembali penyesalan itu dalam-dalam. Menghindari godaan hasrat untuk mencicipinya lagi.
"Kau merindukannya, ya?" tanya Ron, merusak semua pikiran-pikiran Draco Malfoy dari otak Hermione.
"Entahlah," desah Hermione terjerat dalam lamunan.
Hermione kembali menatap Draco dari jauh. Mencuri kesempatan ketika yang ditatap tak menyadari kehadirannya. Well, pikirannya yang terakhir, membuat matanya terasa panas. Tapi, sebelum air mata jatuh, seseorang menyentuh tangannya. Menyadarkannya bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menangis. "Semua akan baik-baik saja," kata Harry menghibur. Tersenyum dan menggenggam tangan Hermione lebih erat lagi. " Draco pasti akan kembali padamu,"
Hermione terdiam tak menjawab. Ia tahu semua akan baik-baik saja. Tapi ia sangsi, Draco tak mungkin kembali lagi padanya. Dan sekali lagi, ia biarkan kegundahan mengapung di permukaan hatinya.
(^_*)
Ia melesat cepat. Berlari seperti anak panah yang ditembakkan busurnya. Langkahnya beradu dengan kecepatan angin. Menerobos para murid yang berjalan dari arah yang berlawanan dengannya. Tak peduli, meski nafasnya tersengal-sengal, ia tak juga berhenti. Terus berlari, mencari seseorang, menuju di mana.
"Draco masuk rumah sakit, Hermione," kata Ginny ketika Hermione baru saja merosot duduk di sofa besar ruang rekreasi Gryffindor. "kepalanya terhantam Bludger, saat berlatih tadi. Harry dan Ron sudah lebih dulu pergi ke Rumah Sakit."
Dan saat itu, kekhawatiran telah berhasil menguasai seisi benaknya. Merengkuhnya dengan jemari-jemari panjang menakutkan. Logikanya tersegel sudah hingga ia melupakan semua amarahnya pada Draco. Dan sekarang, ia hanya ingin…
Perang telah usai sejak 1 minggu yang lalu. Dunia sihir telah kembali damai sebagaimana yang seharusnya. Tak ada lagi perbedaan darah di antaranya. Dan sore itu, Draco mengajak Hermione menuju suatu taman di dunia muggle. Duduk berdua menikmati matahari yang hampir tenggelam. Mengintip dari awan-awan yang menggumpal. "Aku hanya ingin minta maaf padamu," ujarnya lirih. "Terlalu banyak kesalahan yang telah aku lakukan padamu, Granger."
Hermione hanya ingin…
"Granger, aku menyukaimu…" kata Draco. Warna-warna emas senja, menumpahkan sinarnya ke atas bumi. Ia tersenyum tipis, menyempurnakan sore indah di hari itu.
Hermione ingin…
"Jangan paksa aku. Maaf." Desah Draco lirih. Menolak untuk menatap Hermione yang berdiri di hadapannya.
Ia hanya ingin… bertemu Draco Malfoy.
((*_*))
Harry, Ron, Blaise dan Theo ada di sana. Berdiri mengelilingi salah satu tempat tidur pasien. Di atasnya, berbaring Draco. Perban putih membalut kepala tangan dan tubuhnya. Meski begitu, ia masih saja memamerkan senyumnya yang itu-itu saja. Senyum yang memabukkan, yang membuat Hermione candu akan manisnya. Senyum yang menjanjikan keindahan di baliknya. Senyum yang membuat banyak gadis rela menatapnya tanpa kedip.
Dengan perlahan dan hati-hati, seolah takut membangunkan seekor naga yang sedang tertidur, Hermione beranjak mendekat. "Draco?" panggilnya pelan. Dan Draco menoleh, meliriknya dengan mata kelabu indah. Hermione terpaku, jantungnya seakan berhenti untuk sementara. Bahkan ia hampir saja lupa bagaimana caranya untuk bernafas. Dan Harry, Ron, dan Blaise serta Theo—yang meski Hermione tidak memanggil mereka—menoleh. Melihatnya yang sedang berusaha mati-matian menghalau kegugupannya.
"Hermione?" suara Draco yang khas, angkuh dan congkak, memanggil namanya dengan lembut. Sangat lembut. Seakan terhempas, Hermione terombang-ambing seperti tak lagi berpijak pada bumi. Untuk pertama kalinya, Hermione sadar betul nama yang Ayah dan Ibunya berikan 20 tahun yang lalu sangat cantik.
"Yuk, kita pergi," seolah mengerti, Harry mengajak Ron, Blaise dan Theo untuk meninggalkan Hermione dan Draco. Memberikan waktu untuk keduanya.
Theodore Nott berhenti di ambang pintu. Memandang sendu pada Hermione dan Draco. Ia tak mengerti, kenapa perasaan itu masih ada? Seharusnya, ia tak menyimpannya lagi. Seharusnya itu sudah hilang sejak lama. Theo menghela nafas pelan, sebelum akhirnya sosoknya menghilang dari balik pintu yang bergoyang menutup. Menyeret langkahnya menyusul Harry, Ron, dan Blaise.
(^_^)/*
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Hermione, begitu dia sampai di sisi ranjang Draco. Memandang pemuda di depannya dengan prihatin. Rasanya mengerikan, jika ia harus membayangkan sebab dari luka-luka itu.
"Not so well," jawabnya lemah. Draco meringis kesakitan, ketika ia berusaha bangun dari posisi tidurnya.
"Jangan dulu," Hermione menyentuh pundak Draco untuk menahannya. "Tetaplah berbaring," Hermione segera membantu Draco untuk kembali berbaring. Ia meletakkan kepala Draco di atas bantal empuk dengan hati-hati, seakan ia tengah menyimpan sebuah Kristal bening yang rapuh dan mudah pecah.
"Terima kasih," kata Draco tersenyum lemah.
Hermione balas tersenyum padanya. Menatapnya dalam diam. Tak pernah sebelumnya ia menggilai seseorang seperti ia tergila-gila pada Draco Malfoy. Hingga Hermione merasa, mungkin dunianya akan sepi jika saja ia tak pernah bertemu dengan Draco.
"Apakah itu sakit?" cetus Hermione gugup. Membelai perban yang membalut kepala Draco tanpa benar-benar menyentuhnya.
Draco tersenyum tipis. "Yeah, sedikit…" Dan Hermione kembali menarik tangannya lagi. Ada sedikit kekecewaan yang mengganjal di hati Draco, ketika ia tak lagi merasakan sentuhan tangan gadis Gryffindor itu.
"Tadi kau memanggil nama depanku," tukas Hermione begitu saja. Memandang sekeliling ruangan yang penuh dengan ranjang-ranjang, untuk menyamarkan rona merah yang terasa panas di wajahnya.
"Kuharap kau suka,"
Mereka kembali diam. Tak bicara satu sama lain. Jika untuk banyak orang diam adalah emas, itu tidak berlaku untuk Hermione dan Draco. Bagaimana pun juga, keheningan yang melanda tidaklah cocok bagi mereka. Sejak dulu, sejak mereka masih menyandang status rival, mereka berdua terbiasa untuk saling melemparkan kata-kata atau ejekan pada satu sama lain. Dan sampai saat ini pun, meski mereka sudah berdamai, tetap saja, keheningan tidak lah cocok. Selalu ada yang salah saat keduanya sama-sama tak bicara.
Tanpa sadar, baik Hermione mau pun Draco, sama-sama menghembuskan nafas lega ketika Matron Rumah Sakit menghampiri tempat tidur pasien Draco. Di tangannya, ia membawa sebuah nampan. "Nah, mister, sekarang apa yang kau rasakan?"
"Masih sedikit sakit di sana-sini. Pening. Mual. Tidak begitu baik. But, overall, I feel better." Jawabnya, dan lalu ia mengerling ke arah Hermione sebentar. Tersenyum dan kembali mengalihkan pandangannya pada Madam Pomfrey.
"Bagus kalau begitu. Tapi, kau masih harus stay di sini, sampai tiga hari ke depan. Dan ini, makananmu." Ia meletakkan nampan yang di bawanya di atas meja samping tempat tidur Draco. Suara sendoknya, berdentingan dengan mangkuk yang berisi bubur tanpa rasa. "Ah, Miss Granger, kebetulan kau di sini, nak. Bisakah kau membantu Mister Malfoy untuk makan?"
"Tentu saja, Ma'am,"
"Terima kasih, nak. Kedatanganmu sangat membantu," Madam Pomfrey tersenyum dan menyerahakan mangkuk itu pada Hermione, "Kurasa Mister Malfoy sangat menikmati kunjunganmu,"
oOoOoOoOo
"Kok, kau bisa sih, terhantam Bludger seperti itu?" tanya Hermione. Diletakkannya sendok di atas piring yang telah kosong. Suara dentingannya yang beradu memberikan simfoni di tengah-tengah kesunyian yang mengendap dalam ruangan besar itu.
Draco mengangkat bahunya. Setengah memaksakan tersenyum, "Bisa saja. Hal seperti ini sudah biasa,"
Dahi Hermione berkedut. Entah mana yang lebih buruk; kecelakaan yang Draco alami, ataukah justru malah nada santai yang Draco gunakan untuk menyampaikan monolognya.
"Baiklah, aku sudah selesai," kata Hermione, membelai puncak kepalanya. Mengantarkan segenap rasa cinta yang tak pernah surut. Dalam senyumnya, Hermione berharap, Draco akan dapat merasakannya.
Tangan Draco terangkat, memegang tangan Hermione. Menahannya, ketika gadis itu hendak beranjak meninggalkan Draco.
"Tetaplah di sini, temani aku. Aku merindukanmu," bisiknya lemah. Dan mata hazel Hermione kembali beradu dengan mata kelabu indah milik Draco. Mempertemukan dua asa yang datang dari arah berlawanan. Dalam genggaman tangan Draco, Hermione merasa jarak tak lagi berpuluh-puluh mil jauhnya. Draco ada di depannya, sekarang. Bukan di ujung jembatan yang terbentang lebar tanpa batas. Di antara diam yang datang dan menyindir, mata keduanya saling berbincang ringan. Mengobrol tanpa suara, sebuah asa tak berwujud yang Tuhan sebut rindu. Yang meski pun menyedihkan dan menyiksa, namun terlalu indah untuk dilupakan.
Benarkah ia merindukanku?
Lima huruf yang merangkai satu kata sudah ada di ujung lidah, siap untuk melompat. Namun tak ia temui alasan yang tepat untuk menolak Draco. Selalu begini, keindahannya selalu saja menggoda Hermione untuk diam lebih lama dari yang seharusnya. Dan sebentar lagi, Hermione yakin ia akan menjadi abu yang terbakar hangat pesona pemuda itu.
Meski begitu, satu yang Hermione yakini, ketika ia kembali duduk di sisi Draco, Hermione tahu ia tidak pernah terpaksa untuk melakukannya sedikit pun.
Hermione pandangi lagi wajah Draco. Begitu indah biarpun tampak angkuh. Mata kelabunya dingin seperti es, namun menyejukkan siapa saja yang menatapnya. Lekukan dan pahatan wajahnya sempurna, persis seperti karya Sang Maestro abad silam. Menjabarkan keindahannya, tak lagi dapat Hermione temukan makna dalam tiap katanya.
"Kau membuatku bingung," tukas Hermione begitu saja. Mengabaikan fakta bahwa ia sedang terbaring lemah. "Kadang kau membuatku merasa kalau kau memang menyukaiku, tapi seringkali kau justru membuatku ragu,"
Mata Hermione bergerak, menelusuri relief tubuh Draco. Mencari celah untuk menumpahkan semua resah, gundah, amarah dan kebingungan yang ia rasakan. Haruskah ia meneruskan kata-katanya?
"Maafkan aku jika membuatmu bingung," ujar Draco. Suaranya semakin lemah. "Aku hanya… hanya…"
Hermione meletakkan jari telunjuknya di bibir pucat Draco. "Jangan katakana apapun, Draco," sahutnya lembut. Sambil tersenyum, Hermione kembali berkata, "Lebih baik kau istirahat dulu. Aku ingin kau cepat sembuh," katanya lagi. Begitu tulus.
Hermione menarik selimut dan menutup tubuh Draco sampai batas dada. Lalu ia memutar tubuhnya dan pergi sebelum ia akan tertahan lagi.
oOoOoOo
Langkahnya terhenti di ambang pintu. Nafasnya tertahan. Kristal-kristal kecil tergenang di pelupuk matanya, siap jatuh dan menodai wajahnya. Luka yang telah dibalut, kembali sobek. Sakitnya terasa lebih menyakitkan.
Hermione tertegun, tak mampu bergerak meski sejengkal. Matanya tak juga berhenti memandangi adegan romansa di depannya. Ia ingin menutup matanya, berharap saat nanti ia membukanya, apa yang dilihatnya tak lagi ada. Namun ia salah. Matanya tak menipu, ia melihatnya dengan jelas, di sana, Draco Malfoy mencium Astoria Greengrass.
Dan ia berbalik. Satu langkah, ia menjauh. Dua langkah, ia terpekik tanpa suara. Tiga langkah, air mata jatuh menetes menutup pori-pori wajahnya. Kemudian, ia kembali berlari. Berlari seperti malam itu. Meninggalkan kenyataan menyakitkan di belakang punggungnya. Membelah udara, seperti elang yang membelah cakrawala.
Tak lagi ia pedulikan berapa banyak sudah tetes air mata yang ia keluarkan. Tak lagi ia hiraukan berapa banyak orang yang melihatnya dan bertanya. Rasanya terlalu menyakitkan untuk ia simpan. Jantungnya remuk. Hatinya perih, seakan ada sebuah tangan kokoh yang mencengkramnya kuat-kuat.
Hermione tak lagi memperhatikan arah, ia tak lagi memperdulikan kemana langkah membawanya. Ia hanya ingin berlari, terus berlari, dan berlari. Tak ingin menoleh ke belakang.
"Granger?"
Hermione mendongkak, mengangkat kepalanya yang sedari tadi ia tundukkan. Di hadapannya, Theodore Nott menatapnya dengan heran.
"Ada apa denganmu?" tanyanya. Memberanikan diri menyentuh wajah Hermione. Dengan ibu jarinya, Theo dengan perlahan menghapus air mata di pipi Hermione.
"Draco… dia…" kata-kata Hermione terhenti. Tidak mampu meneruskan ucapannya. Ia tidak berani mengatakannya, karena itu sama saja membuat hatinya semakin sakit. Dan Hermione menubruk Theo, memeluknya dengan erat. Mencengkram dan membasahi kemeja pemuda itu. Ia terisak keras, dalam lingkaran tangan Theo di pinggangnya. Mengubur semua luka di atas pundak Theo. Membenamkan wajahnya yang penuh dengan air mata di sisi leher Theo. Hermione menangis, sementara Theo membelai rambut coklatnya.
*\(^_^)/*
Selesaaaaaaiiiiiiiiiii…
Makasih buat semua yang baca dan review. I love you so much, *sebar-sebar foto sendiri*
Wheheheheee…
Setelah melewati masa-masa WB yang sangat amat membosankan, akhirnya, dengan perjuangan yang berat dan penuh tantangan (?) *apabgtdeh* aku bisa menyelesaikan chapter2 ini.
Aku tahu, aku tahu, ini sangat menyedihkan untuk Hermione. Tapi, tenang aja, kali ini aku bakal buat kisah mereka jadi happy ending deh. So, mind to review?
