Chanyeol melepaskan tautan bibir mereka dan menatap tajam Baekhyun. "Kau pikir kau bisa mempermainkanku, hah?" desis Chanyeol. "Lihat saja nanti, Byun Baekhhee. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku."

"Bibirkuuuuuuu!"

BRAK!

Nyonya Byun membuka pintu kamar Baekhyun kasar. Wajahnya mengisyaratkan kekhawatiran saat mendengar anak bungsunya berteriak di pagi hari. Ditatapnya anaknya itu –yang sedang mengatur napasnya yang terengah-engah. "Baekkie sayang, kau baik-baik saja?" tanya Nyonya Byun seraya mendekati anaknya.

Baekhyun menatap Eomma-nya dengan wajah agak pucat, kemudian mengangguk pelan menjawab pertanyaannya. "Hanya mimpi buruk."

Nyonya Byun menghembuskan napas lega mendengarnya. Dielusnya puncak kepala Baekhyun lembut. "Cepatlah mandi dan sarapan. Waktunya kau pergi ke sekolah." Baekhyun menggangguk mengerti.

Setelah pintu kamarnya ditutup kembali oleh Eomma-nya, rahang Baekhyun mulai mengeras mengingat kejadian kemarin. Bibirnya telah dinodai oleh laki-laki brengsek itu. Itu bahkan ciuman pertamanya. Mengingatnya, membuat Baekhyun semakin emosi. Laki-laki pendek itu mengepalkan kedua tangannya kuat dan menggeram. "Akan kubalas kau, Park Chanyeol."

.

.

.

###

LOVE SURVIVAL GAME

Chapter 2 Game On

Main Casts : Byun Baekhyun & Park Chanyeol

Support Casts : Oh Sehun, Xi Luhan, Kim Jongin

Genre : Romance, School Life, Comedy

Rate : T+

Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy

Note: Tadinya chapter ini mau di-publish nanti kamis, tapi mumpung saya lagi terenyuh *halah* sama review-review positif kalian, jadi saya publish hari ini. Chapter kedua ini adalah saat dimana Baekhyun dan Chanyeol mengibarkan bendera perang mereka. Jadi mulai sekarang, mereka akan terus melakukan sesuatu agar lawannya jatuh cinta duluan. Dan ada sebuah rahasia yang terungkap disini. Gak usah lama-lama, langsung dibaca aja dan jangan lupa untuk kasih review.

###

.

.

.

"Apa?! kau berciuman dengan Pa–" Baekhyun segera membekap mulut Luhan yang ember dengan tangannya.

"Jangan teriak, bodoh! Kau mau Jiyeon mendengarnya?!" pekik Baekhyun setengah berbisik. Baekhyun-pun melepaskan bekapannya setelah Luhan mengangguk mengerti.

"Yak, benarkah itu? kau benar-benar berciuman dengannya?" bisik Luhan.

Baekhyun mendelik ke arah Luhan. "Aish, dia yang menciumku duluan!"

"Apa bedanya? Bibir kalian sama-sama menempel'kan?" Luhan bersikap acuh, membuat Baekhyun jaw-drop. "Wow. Ciuman dengan laki-laki setampan Chanyeol, aku jadi ingin mencobanya juga." Luhan membayangkan hal aneh yang berhasil membuat Baekhyun semakin kesal.

Mimpi apa Baekhyun sampai memiliki sahabatnya semesum Luhan? Demi Hyuna yang seksi, Baekhyun yakin dirinya masih 100% lurus!

"Xi Luhan, aku ini straight! Aku masih suka vagina, tapi bibirku telah dinodai laki-laki brengsek itu! Bisa kau pikirkan posisiku?!" protes Baekhyun.

"Aigoo~ tenang saja, Baek. Meskipun kau straight dan berciuman dengan laki-laki, itu tidak masuk hitungan." hibur Luhan. "Kecuali kalau itu ciuman pertama, baru tragis."

JLEB!

Baekhyun merasa dilemparkan beribu anak panah tepat ke jantungnya, sedangkan Luhan hanya menatapnya polos. Kenapa ucapan laki-laki Cina itu bisa membuat jantungnya begini sakit tepat di bagian yang paling sakit?

Baekhyun menghembuskan napas kasar sambil memijat pelipisnya. Kepalanya benar-benar pusing gara-gara Park Chanyeol dan sahabat gay-nya. "Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran gay. Dasar aneh." cibir Baekhyun.

Luhan mendengus. "Kau mengeluh karena dicium oleh laki-laki karena berpura-pura jadi perempuan demi balas dendam meskipun kau tahu lawanmu laki-laki. Aku terang-terangan mengakui kalau aku ini gay. Siapa yang lebih aneh?" tantang Luhan, membuat Baekhyun cemberut. "Tenanglah. Ini tidak seperti Chanyeol merebut keperjakaanmu, bukan? Kalau kau memang kesal padanya, tinggal balas saja."

Tetap saja ciuman pertamaku tidak akan kembali –batin Baekhyun. Baekhyun tidak mau memberitahu Luhan hal itu karena dia tahu Luhan akan menertawainya habis-habisan. Jadi, dia putuskan untuk melupakannya. "Balas bagaimana?"

"Buat dia berdebar karena ulahmu. Chanyeol juga straight'kan? Kalau dia dicium balik oleh perempuan, jantungnya pasti akan berdebar."

Baekhyun melotot. "Kau ingin aku menciumnya?!"

Luhan melirik ke arah lain sambil menaikkan bahunya –nampak acuh. "Kalau kau berani." gumamnya.

"Yak, aku dengar itu." Baekhyun menatap tajam Luhan. Dilipatnya kedua tangannya di dadanya. Baekhyun memikirkan usulan Luhan barusan. Well, itu memang ide super gila. Tapi, dia sudah memantapkan dirinya untuk melaksanakan balas dendam ini demi Jiyeon dan dia tidak punya banyak pilihan saat ini. Setelah beberapa detik berpikir, Baekhyun menghembuskan napas berat dan melirik Luhan. "Apa rencanamu?"

###

Baekhyun tidak percaya dirinya mengikuti ide gila Luhan. Tapi, sudahlah. Ini semua juga demi Jiyeon. Jadi, dia tidak boleh ragu. Sepulang sekolah, Baekhyun segera berdandan ala Baekhee, kemudian pergi ke sekolah Chanyeol. Namun, Baekhyun tidak menghampiri Chanyeol seperti biasa, melainkan memantaunya dari kejauhan. Dia harus memastikan hari ini Chanyeol pulang sendiri agar dia bisa menjalankan rencananya.

Baekhyun menyeringai saat melihat Chanyeol keluar dari gedung sekolahnya sendirian. "Bagus, dia sendirian."

Dengan cepat, Baekhyun berlari menuju tempat persembunyiannya. Rencananya dia akan menunggu di jalan yang biasa dilaluinya sepulang sekolah, kemudian 'menyerang' Chanyeol di saat dia sedang lengah. Baekhyun bersumpah akan mencekik Luhan kalau rencana bodohnya tidak berhasil. Begitu Chanyeol semakin dekat dengan tempat persembunyiannya, Baekhyun memasang kuda-kudanya. Dia harus berhasil dengan sekali coba. Harus.

Saat Chanyeol berjalan melewati tempat persembunyian Baekhyun, Baekhyun dengan cepat menariknya ke gang sempit itu. Baekhyun menguncinya pergerakan Chanyeol dengan kedua tangannya yang menempel dengan tembok. Chanyeol terkejut saat melihat sosok perempuan di hadapannya. Dalam hatinya, Chanyeol sempat berpikir dari mana perempuan itu mendapatkan tenaga yang begitu besar untuk menyeretnya kemari? Tapi, sepertinya itu bukanlah pertanyaan yang penting.

"Yak, kenapa kau–"

CUP!

Chanyeol membelalakkan matanya saat Baekhyun menciumnya dengan menarik lehernya. Tapi dengan cepat, dia menyadarkan dirinya. Didorongnya paksa kepala Baekhyun sehingga tautan bibir mereka terlepas. "Apa yang kau–"

CUP!

Baekhyun membungkam Chanyeol kembali dengan bibirnya, membuat Chanyeol sempat kaget. "T–tunggu–"

CUP!

Baekhyun mengecupnya kembali saat Chanyeol mendorong paksa bahunya. Chanyeol benar-benar berpikir perempuan ini sudah sinting. Setiap kali Chanyeol menyingkirkan dirinya –yang selalu berusaha mencium bibir Chanyeol, Baekhyun pasti kembali berusaha mencium bibirnya lagi. Dan begitulah seterusnya sampai lima kali berturut-turut.

"Hahh..hah.." Napas kedua laki-laki itu terdengar sama-sama memburu. Baekhyun mencengkeram seragam Chanyeol sambil menunduk, sedangkan Chanyeol yang sudah lelah melawan Baekhyun hanya bisa terduduk bersamanya.

"Bagaimana?" tanya Baekhyun dengan seringaian di bibirnya. "Kau berdebar karena ciumanku'kan? Tapi, ini semua bukanlah apa-apa. Ini hanyalah awal, Park Chanyeol." desis Baekhyun. Laki-laki pendek itu bangkit dari duduknya, kemudian pergi begitu saja meninggalkan Chanyeol yang sedang menahan amarahnya.

"Kau mau main-main denganku? Baik, akan kuladeni kau." desis Chanyeol.

.

.

Baekhyun menatap langit-langit kamarnya lurus. Ini sudah menit kelima laki-laki pendek itu melamun karena kejadian tadi. Namun tiba-tiba–

"Aish! Aku pasti sudah gila! Gila! Gila! Gila!" pekik Baekhyun seraya menutup wajahnya yang memerah tiba-tiba dengan gulingnya.

Baekhyun merutuki dirinya sendiri begitu sampai di rumahnya. Ya. Karena mau dipikir berapa kalipun, tindakannya tadi tergolong nekat. Tapi bodohnya, dia tetap melakukannya. Laki-laki manis itu hanya bisa berguling-guling di kasurnya sambil memukul-mukul guling dalam pelukannya –melampiaskan kekesalan atas kebodohannya sendiri. Well, itu benar-benar ide tergila yang pernah dilakukannya dan dia menyesal karena telah melakukannya. Itu berakibat pada jantung Baekhyun yang tidak mau berhenti berdetak normal setiap kali mengingat tindakan nekatnya. Pipi Baekhyun-pun tidak berhenti terbakar karenanya.

Beberapa saat kemudian, Baekhyun menghentikan acara berguling-gulingnya dan berganti dengan menghembuskan napas panjang. Ditelungkupkan wajahnya di kasurnya. "Ya Tuhan, tenangkanlah debaran ini." ucapnya lirih. Seharusnya dia tidak usah menuruti ide gila Luhan tadi.

.

.

Di tempat lain, Chanyeol sedang bertelepon ria dengan temannya yang bersekolah di School of Performing Arts Seoul –Kim Jongin. Laki-laki jangkung itu ingin mencari tahu tentang perempuan bernama Byun Baekhee.

"Byun Baekhee?" tanya Jongin di seberang sana.

"Kau kenal? Rambutnya coklat lurus sepunggung dan selalu memakai eye-liner. Dia juga kelas 2." Chanyeol menyebutkan ciri-ciri Byun Baekhee.

"Entahlah, aku tidak yakin. Ada banyak perempuan yang mirip dengan yang kau sebutkan ciri-cirinya itu, tapi aku cukup yakin tidak ada perempuan dari angkatanku yang bernama Byun Baekhee." terang Jongin.

"Kau yakin? Mungkin murid pindahan?"

"Aku yakin." jawab Jongin mantap. Mendengar jawaban yang tidak sesuai dengan keinginannya, Chanyeol menghela napas panjang. "Lagipula, yang bermarga Byun di sekolahku hanya ada satu orang dan itupun laki-laki."

Chanyeol mengernyit. "Laki-laki?"

"Iya. Dia tidak satu kelas denganku sih, tapi aku tahu namanya."

"Siapa namanya?" tanya Chanyeol cepat.

"Byun Baekhyun. Dia memang manis sih, tapi dia masih memakai celana panjang ke sekolah, jadi aku cukup yakin dia laki-laki."

Chanyeol tercengang. Setelah kejadian aneh bersama perempuan aneh, sekarang dia mendapat informasi bahwa tidak ada yang namanya Byun Baekhee, tapi hanya Byun Baekhyun dan diapun laki-laki. Siapa sebenarnya kau? –tanya Chanyeol dalam hati.

"Memangnya ada apa dengan perempuan ini? Kau jatuh cinta, hah?" Godaan Jongin membuyarkan lamunan Chanyeol. Chanyeol berdecak.

"Bukan urusanmu."

Jongin terkekeh di seberang sana. "Kau tahu? Dalam beberapa bahasa, 'bukan urusanmu' artinya 'tebakanmu benar'. Ayolah, kita sudah berteman sejak SMP. Menyukai seseorang itu bukan dosa besar kok."

"Siapa menyukai siapa, hitam? Aku sibuk. Terima kasih informasinya."

TUT.

Chanyeol langsung mematikan sambungan telepon sebelum Jongin sempat menggodanya lebih jauh. Otaknya berpikir keras mengolah informasi yang tadi didapatnya. Apa mungkin Byun Baekhee adalah Byun Baekhyun? Kenapa dia berpenampilan seperti perempuan? Apa dia banci atau waria? Ah, tidak mungkin. Dia bilang dia punya alasan melakukan ini. Tapi, apa? –Chanyeol dibanjiri berbagai pemikiran.

Laki-laki itu menatap lurus ke depan. Pikirannya melayang menuju sosok Byun Baekhee. Perempuan itu begitu manis, tingkahnya juga seperti perempuan biasa. Chanyeol merutuki dirinya yang tidak memperhatikan penampilan perempuan itu sejak awal. Apakah perempuan itu memiliki jakun atau tidak? karena hanya itu yang bisa membedakan laki-laki dengan perempuan dari luar. Tidak mungkin'kan Chanyeol memegang dadanya atau kelaminnya? Dia bisa dicap sebagai laki-laki mesum.

"Hanya ada satu cara untuk membuktikannya." gumam Chanyeol.

###

Keesokan harinya, Chanyeol memutuskan untuk menyamar sebagai murid School of Performing Arts Seoul. Sebisa mungkin laki-laki jangkung itu merubah penampilannya agar orang-orang tidak mengenalinya. Bermodalkan seragam Jongin –setelah sebelumnya memaksa meminjamnya, wig berwarna coklat, dan kacamata besar, Chanyeol berhasil bertransformasi. Saat laki-laki jangkung itu memasuki kawasan School of Performing Arts Seoul, tidak ada siswa ataupun siswi yang mengenalnya. Rencana pertama sukses. Sekarang tinggal menemukan Jongin. Mereka sudah janjian untuk bertemu di gerbang sekolah sebelum bel masuk berbunyi.

"Si hitam itu terlambat." Chanyeol mulai pegal menunggu Jongin di depan gerbang sekolahnya. "Awas kalau dia datang." desisnya.

Tak lama setelahnya, Chanyeol menangkap sosok Jongin yang berjalan sendirian tanpa menatap sekitarnya –karena matanya terpaku pada ponsel di tangannya. Laki-laki tinggi itu segera menarik tangan Jongin, membuat laki-laki berkulit tan terkesiap.

"Chanyeol? Itu kau? Astaga, aku hampir tidak mengenalimu." Jongin menatap Chanyeol dari atas sampai bawah dengan pandangan tidak percaya sekaligus takjub.

"Aku tidak punya waktu mendengar ocehanmu. Cepat tunjukan mana laki-laki yang bernama Byun Baekhyun itu."

"Arasseo, arasseo. Tidak sabaran sekali sih? Ck." Jongin berdecak, kemudian melangkah menuju gedung –dimana kelas Baekhyun berada. "Memangnya ada apa dengan laki-laki Byun ini? Dia cari gara-gara denganmu?" tanya Jongin basa-basi.

"Begitulah."

"Sungguh? Padahal dia bukan tipe laki-laki yang suka cari masalah dengan orang lain." Jongin agak terkejut.

Chanyeol mengerutkan dahinya. "Kau sepertinya kenal sekali dengan laki-laki ini?"

"Well, dia memang lumayan populer disini. Selain jago hapkido, dia juga orang yang sangat ramah. Jadi hampir semua siswa-siswi di sekolah ini mengenalnya." tutur Jongin.

Jago hapkido? Dengan badan sekecil itu? Chanyeol ragu.

"Itu dia." Jongin membuyarkan lamunan Chanyeol. Mereka ternyata sudah berhenti di sebuah kelas –kelas 2-D. Tanpa banyak membuang waktu lagi, Chanyeol mencari laki-laki yang ditunjuk Jongin di dalam kelas itu. "Aku tidak percaya kau rela bolos demi melihat laki-laki ini." celetuk Jongin.

Chanyeol menemukannya. Seorang laki-laki berperawakan pendek dengan rambut coklat dan mata berhiaskan eye-liner. Itu dia! –pekik Chanyeol dalam hati. Meskipun dia memakai celana dan berambut pendek, Chanyeol yakin itu adalah dia. Ditiliknya laki-laki yang bernama Byun Baekhyun itu dari bawah ke atas. Wow, dia seperti saudara kembar Baekhee atau dialah Baekhee yang sebenarnya.

"Sialan. Jadi, dia benar-benar laki-laki?" desis Chanyeol. Chanyeol merasa dibodohi sekarang. Itu membuat rahangnya mengeras dengan kedua tangannya mengepal kuat.

"Dia memang laki-laki." ujar Jongin seraya mengangguk pelan. "Hey, aku harus kembali ke kelas. Ada tugas yang belum kukerjakan. Tidak apa'kan kutinggal?" Chanyeol hanya berdehem menjawab Jongin. Sedangkan laki-laki berkulit tan itu hanya bisa mengedikkan bahunya, kemudian pergi ke kelasnya.

"Beraninya kau menipuku, Byun." Pandangan Chanyeol tidak lepas dari sosok Byun Baekhyun. Semakin lama ia menatap laki-laki yang dikiranya perempuan, ia semakin merasa tolol.

Di lain sisi, Baekhyun yang tadi sedang asyik bercengkerama dengan Luhan, mulai berjalan keluar kelas. Namun yang tak diketahui laki-laki pendek itu, seorang laki-laki berperawakan tinggi tengah mengikutinya dari belakang. Saat Baekhyun memasuki toilet, laki-laki tinggi –yang ternyata adalah Chanyeol– itu juga ikut mengikutinya memasuki toilet. Baekhyun tidak curiga, bahkan saat dia dengan santainya dia membuka retsleting celananya dan mengeluarkan 'pisang'nya. Sedangkan Chanyeol yang tidak mengira hal itu akan terjadi, terpaku melihat 'pisang' Baekhyun yang tidak sebesar miliknya. Wajahnya mendadak merah dengan jantung yang menggila. Sial. Kenapa dia jadi berdebar begini? Dengan cepat, Chanyeol mengalihkan pandangannya dari 'pisang' Baekhyun.

"Aah~ leganya." ujar Baekhyun. Laki-laki pendek itu segera menutup kembali retsleting celananya, kemudian mencuci tangannya. Saat Baekhyun keluar dari toilet, Chanyeol hanya diam di tempat. Setelah semua ini, dia jadi tambah yakin bahwa tidak ada yang namanya Byun Baekhee, hanya Byun Baekhyun dan dia adalah laki-laki.

"Lihat saja pembalasanku." Chanyeol mengembangkan seringaian di bibirnya.

.

.

"Dia apa?" tanya Sehun setengah tak percaya.

"Dia laki-laki."

Sehun mengernyit. "Dari mana kau mengetahuinya?"

Chanyeol mendekatkan wajahnya ke wajah Sehun. "Kau tahu apa yang membedakan perempuan dengan laki-laki? Kita punya 'pisang'."

"Ya Tuhan, kau memegang 'pisang'nya?!" Sehun memekik seperti perempuan. Chanyeol memutar bola matanya bosan.

"Tidak, bodoh! Aku hanya..," Chanyeol berdehem untuk menetralkan detak jantungnya, "..melihatnya sedikit." Suara Chanyeol mengecil di ujung kalimat, tapi Sehun masih bisa mendengarnya dengan jelas.

Sehun jaw-drop. "Aku tidak tahu kau adalah seorang maniak."

"Aku bukan maniak, bodoh. Itu tidak disengaja!"

"Bagaimana mungkin melihat 'pisang' orang lain itu tidak disengaja?" sindir Sehun, lagi-lagi membuat Chanyeol memutar bola matanya jengah.

"Kau berlebihan."

"Jadi, itu sebabnya kau bolos pelajaran pertama tadi?" Sehun bertanya –mengingat dia tidak menemukan Chanyeol saat jam pelajaran pertama. Sehun menghembuskan napasnya, kemudian menatap Chanyeol serius. "Jadi, apa rencanamu selanjutnya? Kau akan mengungkapkan jati dirinya?"

Chanyeol menatap lurus keluar jendela –menatap siswa-siswi yang berlalu-lalang. Seringaian tercetak di bibir tebalnya. "Tidak. Kalau dia ingin bermain game, akan kuladeni. Kita lihat yang bertahan paling akhir."

Sehun yang sudah mengetahui tabiat sahabatnya itu hanya bisa menghembuskan napas kasar sambil geleng-geleng kepala. "Terserah kau sajalah."

.

.

Sepulang sekolah, Baekhyun datang lagi ke sekolah Chanyeol sebagai Baekhee –sesuai dengan perkiraan Chanyeol. Chanyeol menatap Baekhyun dari bawah ke atas. Dia tidak menyangka sosok manis ini adalah laki-laki yang dia lihat memasuki toilet laki-laki dan memiliki..ekhem..'sosis'.

"Kau datang lagi?" tanya Chanyeol basa-basi.

"Aku tidak akan berhenti sebelum kau jatuh cinta padaku." tandas Baekhyun, membuat Chanyeol geli dalam hati. Dia tidak tahu bahwa Chanyeol sudah memegang kartu As-nya.

"Semoga beruntung kalau begitu." Chanyeol berjalan mendahului Baekhyun. Tak lama setelahnya, Baekhyun menyusul dan berjalan di sampingnya.

"Hey, aku boleh main ke rumahmu'kan?" Pertanyaan itu membuat Chanyeol menghentikan langkahnya, kemudian menatap Baekhyun –yang matanya dibuat-buat seperti anak anjing yang ditelantarkan.

"Kenapa kau ingin sekali main ke rumahku?"

"Penasaran saja. Siapa tahu aku dapat hal menarik tentangmu."

Chanyeol mendengus, kemudian kembali berjalan. "Kalau kau berharap bisa menemukan kaset atau majalah porno di kamarku, maka simpan saja niatmu."

"Oh? Kau mau membawaku ke kamarmu?" goda Baekhyun, membuat Chanyeol kembali menghentikan langkahnya. Badannya dihadapkan sepenuhnya pada laki-laki mungil itu, kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Baekhyun. Baekhyun yang tidak menyangka hal itu, refleks memundurkan wajahnya dengan sedikit rona di pipinya.

"Kau mau ke kamarku?" tanya Chanyeol –sedikit menggodanya.

"Um..ya, kalau kau mengizinkan." sahut Baekhyun sambil mengalihkan pandangan ke arah lain. Tanpa disadarinya, Chanyeol mengembangkan seringaian di bibirnya. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk membalas perbuatan si kecil.

"Boleh saja. Ayo." ucap Chanyeol seraya menarik tangan Baekhyun –menggenggamnya. Baekhyun sendiri tidak bisa menolaknya. Hal itu justru membuat jantungnya berdebar gila.

Dan disinilah Baekhyun berada. Di kamar Chanyeol, berdua saja dengan laki-laki jangkung itu. Mata berhiaskan eye-liner itu tak henti-hentinya menatap setiap sudut kamar Chanyeol yang rapi. Well, berbeda sekali dengan kamarnya yang berantakan.

"Orangtuamu mana?" tanya Baekhyun tanpa menghentikan acara melihat-seisi-kamar-Chanyeol.

"Orangtuaku sedang di luar kota, sedangkan Noona-ku sudah menikah." sahut Chanyeol seraya menyimpan tas-nya. "Kau mau minum apa?"

"Um..apa saja."

"Oke, tunggu sebentar." Chanyeol-pun beranjak menuju dapur di lantai satu, meninggalkan Baekhyun yang menatapnya bingung. Baekhyun sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba Chanyeol mengizinkannya masuk ke kamarnya. Terakhir kali Baekhyun ingin main ke rumahnya, dia selalu menolak. Tapi, ini kamarnya. Dia bahkan bersikap baik pada Baekhyun. Mendadak Baekhyun jadi curiga.

"Apa dia sedang merencanakan sesuatu?" gumam Baekhyun. Laki-laki kecil yang tidak bisa diam itu segera bangkit dari duduknya, kemudian mencari sesuatu yang bisa dijadikannya senjata untuk menyerang Chanyeol kelak. Seperti kelemahannya atau hobi anehnya. Laki-laki kecil itu mencari-cari entah-apa-itu di laci meja belajar Chanyeol, atas meja belajar Chanyeol, maupun di bawah ranjang laki-laki jangkung itu.

Chanyeol yang baru kembali dari dapur menatap Baekhyun –yang sedang menungging di bawah ranjangnya– dengan alis naik sebelah. Laki-laki pendek itu bahkan tidak menyadari kehadiran Chanyeol di belakangnya. Dia masih sibuk mencari entah-apa-itu. Disimpannya nampan berisikan jus jeruk dan kue coklat di lantai kamarnya, kemudian menatap kembali Baekhyun. Astaga, Baekhyun bahkan tidak sadar bahwa dirinya sedang mengenakan rok dan rok mini-nya terangkat tinggi karena posisi menunggingnya –memperlihatkan celana dalam hitamnya. Dan ya, itu membuat Chanyeol cukup salah tingkah.

"Kau sedang apa?"

DUK!

"Auuuww!" Baekhyun meringis karena terbentur ranjang Chanyeol saat laki-laki pendek itu dikejutkan oleh suara Chanyeol. Chanyeol sama terkejutnya dengan Baekhyun. Saat matanya kembali terpaku pada celana dalam Baekhyun, dia segera mengalihkan perhatiannya sambil menggaruk tengkuknya.

"Um..celana dalammu kelihatan tuh."

"Ap–"

DUK!

Kepala Baekhyun kembali terbentuk ranjang Chanyeol lagi karena ucapan laki-laki tinggi itu. Dengan cepat, laki-laki pendek itu mengeluarkan setengah badannya dari bawah ranjang Chanyeol –masih sambil memegangi kepalanya yang berdenyut. Wajahnya memerah karena ketahuan melakukan hal aneh di kamar Chanyeol, terlebih lagi si pemilik kamar sempat melihat celana dalamnya. Chanyeol yang agak kasihan pada laki-laki mungil itu, segera menghampirinya.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya seraya mengusap kepala Baekhyun yang berdenyut. Baekhyun hanya mengangguk pelan menjawabnya. "Kau itu sedang mencari apa disana?"

"Uh..itu..kupikir aku melihat kecoak disana, jadi aku ingin membunuhnya." Baekhyun berdalih.

"Kau ingin membunuh kecoak? Ahahaha!" Baekhyun berhasil dibuat tertegun karena Chanyeol tertawa karena kebohongannya. Ini pertama kalinya dia melihat Chanyeol tertawa di hadapannya. Baisanya dia bersikap dingin dan sekalinya tersenyum, pasti itu adalah seringaian. Dan Baekhyun akui, Chanyeol terlihat manis saat sedang tertawa begitu. Sekali lagi, pipinya merona karena laki-laki jangkung itu. Ditambah lagi, jantungnya berdegup kencang. Aish, berdetak normal-lah, jantungku! –pekik Baekhyun dalam hati.

Lamunan Baekhyun buyar saat Chanyeol mengacak rambutnya –masih dengan tawa menawannya. "Baru sekarang aku melihat perempuan ingin membunuh kecoak. Tapi kau tidak perlu repot-repot, oke? Duduklah disana, aku sudah bawakan jus jeruk dan kue coklat untukmu." Baekhyun menurut saja dan langsung duduk manis disana. Dia merasa seperti orang bodoh sekarang.

"Jadi, kau sudah menemukan barang aneh di kamarku?" tanya Chanyeol, membuat Baekhyun tertegun. "Ya, aku tahu. Kau sedang mencari barang aneh'kan? Sudah kubilang percuma saja karena aku tidak punya yang begituan."

Baekhyun mendengus dengan bibir mengerucut lucu. Dia tidak sadar dia telah membuat Chanyeol gemas padanya hanya karena sikapnya itu. "Aku tidak sedang mencari apapun kok!" Baekhyun tetap bersikukuh.

"Ya, ya, terserah kau saja. Cepat dimakan kue-nya." Chanyeol mengalah, tapi itu justru membuat Baekhyun kesal. Tapi toh dia tetap memakan sajian yang dihidangkan.

"Setelah ini, giliranku main ke kamarmu."

"Uhukk! Uhhuk!" Baekhyun tersedak kue yang dimakannya. Wajahnya panik sekarang. "A–apa?"

"Aku bercanda. Kurang kerjaan sekali main ke kamarmu. Paling isinya boneka dan hal-hal feminin lainnya." Chanyeol berbohong, membuat Baekhyun menghembuskan napas lega.

"Kapan orangtuamu kembali?" Baekhyun mengubah topik pembicaraan.

"Tidak tentu. Mereka sangat sibuk." Baekhyun mengangguk paham.

"Kamarmu lebih rapi dari yang kubayangkan." ujar Baekhyun.

"Kau pikir semua kamar laki-laki itu berantakan?" Baekhyun mengangguk polos. "Well, aku tidak terlalu suka kamar yang berantakan. Aku berani bertaruh kamarku lebih rapi daripada kamarmu." ledek Chanyeol. Baekhyun mengerucutkan kembali bibirnya kesal. "Kenapa dengan bibirmu itu? Kau mau menciumku lagi?"

BLUSH! –pipi Baekhyun memerah sempurna. Dia jadi teringat kejadian waktu itu. Sial. Jantungnya berdebar kencang lagi.

"Ada apa dengan wajah merona itu? Padahal kau duluan yang menciumku. Kemana perginya keberanianmu itu, Nona Byun?" Chanyeol kembali meledeknya. Seringaian terpatri jelas di bibirnya.

"Si–siapa yang merona?" Baekhyun masih berusaha menyangkal.

"Tentu saja kau."

"Aku tidak merona!" Baekhyun bersikukuh.

"Aku yang lihat, bukan kau." Dan sekakmat. Baekhyun tidak bisa menyangkal lagi. "Tapi kau beruntung. Kau mendapatkan ciuman pertamaku."

Baekhyun terkesiap mendengarnya. "Itu ciuman pertamamu?"

"Itu bukan yang pertama bagimu?" Chanyeol balik bertanya. Baekhyun terdiam –tidak berani menjawab bahwa itu juga ciuman pertamanya. Dia hanya bisa menunduk sambil meminum jus-nya. Dia tidak percaya laki-laki setampan Chanyeol belum pernah ciuman. Padahal dengan wajah setampan itu, dia bisa mendapatkan perempuan manapun yang dia inginkan. Sedangkan Baekhyun? Wajahnya saja semanis perempuan. Karena itu, tidak banyak perempuan yang naksir padanya.

Jadi, itu sama-sama ciuman pertama kami? Wow, itu benar-benar aneh –batin Baekhyun.

"Aku yang dicium, kenapa kau yang merona?"

"Aku tidak merona!" tepis Baekhyun kesal. Chanyeol tidak membalasnya, tapi seringaian di bibirnya tiba-tiba muncul. Laki-laki jangkung itu tiba-tiba mendekati wajah Baekhyun –yang merona hebat, membuat Baekhyun memundurkan wajahnya refleks. "M–mau apa kau?" Baekhyun panik. Seringaian di bibir Chanyeol semakin terlihat jahat. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Chanyeol mengecup bibir Baekhyun sekilas, membuat rona di pipi Baekhyun semakin terlihat jelas.

"Aigoo~ lihat itu. Pipimu semakin merah, kau tahu?" goda Chanyeol.

"YAK!" Baekhyun protes, tapi Chanyeol tidak peduli. Laki-laki pendek itu hanya bisa makan kue coklat-nya tidak sabaran untuk menenangkan detak jantungnya yang sudah abnormal. Sedangkan Chanyeol meminum jus jeruk-nya sambil menyeringai di balik gelas itu.

Game on, Byun Baekhyun –batin Chanyeol.

.

.

"O. M. G." Itulah komentar Luhan setelah mendengar cerita Baekhyun. "Kalian ciuman lagi?"

"Dia yang memulai!" bela Baekhyun, tidak membantu sama sekali dalam acara penyangkalannya.

"Astaga, itu hebat! Aku juga mau!" Baekhyun melotot karena keinginan aneh sahabatnya. "Tapi serius, Baek. Bukankah ini pertanda bagus? Sepertinya dia tertarik padamu."

Baekhyun mengernyit. "Maksudmu?"

"Maksudku, kau tidak mungkin mencium orang yang tidak kau sukai'kan?" Baekhyun mendelik ke arahnya. Laki-laki Cina itu ternyata tidak sadar bahwa Baekhyun telah mencium orang yang tidak disukainya berkali-kali. "Tentu saja tidak termasuk kau yang ingin balas dendam padanya." ralat Luhan cepat.

Baekhyun menghela napas panjang. "Tapi dia pernah bilang akan membuatku jatuh cinta padanya. Bukankah itu artinya dia juga ingin mempermainkanku?"

"Bagaimana kalau dia benar-benar tertarik padamu? Bukankah itu mempermudah rencanamu?"

Well, itu memang benar.

"Kalaupun dia memang ingin mempermainkanmu, kau harus bergerak lebih cepat darinya. Buat dia berdebar dengan tubuh seksimu~"

"Aku tidak mau meliuk-liukkan badanku hanya untuk menggoda laki-laki tiang listrik itu." tolak Baekhyun cepat, membuat Luhan cemberut.

"Arasseo. Bagaimana dengan bersikap manis? Laki-laki suka perempuan yang melakukan aegyo'kan?" Luhan memberikan saran lain. Baekhyun menaikkan bola matanya ke atas –nampak berpikir. Sedetik kemudian, dia mengangguk membenarkan.

"Boleh juga."

"Karena itu, aku sudah menyiapkan ini!" Luhan mengeluarkan beberapa majalah dari dalam tas-nya.

Baekhyun mengernyit. "Majalah apa itu?"

"Majalah ini memuat beberapa tips untuk meluluhkan hati laki-laki. Kau akan membutuhkan ini untuk membuat Chanyeol bertekuk lutut padamu." tutur Luhan percaya diri.

"Kau semangat sekali sih? Kupikir kau tidak suka dengan ideku untuk balas dendam?" tanya Baekhyun.

"Aku memang tidak suka ide itu, tapi aku suka reaksi kalian berdua. Kalian benar-benar seperti cerita-cerita dalam drama!"

Baekhyun menatap datar Luhan yang terlalu semangat itu. "Kau harus berhenti nonton drama, Lu."

Tapi Luhan sudah terlalu jauh dalam fantasi dramanya, jadi dia tidak terlalu mendengarkan Baekhyun. Laki-laki maniak eye-liner itu hanya bisa menghela napas panjang. Seumur hidup, dia tidak pernah menyangka akan membaca majalah perempuan seperti ini dan masuk ke dalam fantasi drama Luhan.

TBC

Chapter dua selesai! Mind to review?

Thanks banget buat yang udah review sebelumnya. Anyway, ini balasan saya untuk review kalian.

DevilCute: *ikut ngetawain baek*

Dianahyorie1: dilanjut minggu ini, chingu

Followbaek: advice accepted!

Meliarisky7: segera dilanjut

1004baekie: segera diapdet chap berikutnya

Rnine21: *tos!*

ShinJiWoo920202: segera dilanjuuuuut~

septhaca: heol, kamu kok tau?

Special bubble: komen kamu juga cucok max deh :3 dilanjut minggu ini ya

aquariusbaby06: iya, kalo udah gini, kira-kira gimana kelanjutannya menurut kamu?

Baby Crong: segera dilanjut kok

nur991fah: ne~

JungKimCaca: wajib lanjut, wajib review lagi berarti hehe

Parklili: rasanya nano-nano dah, segera berlanjut

Song Jiseok: OKE OKE OKE!

black winx: huaaa makasih pujiannya :D ahaha santai ya, semua pasti indah pada akhirnya

Nisa0517: menurut kamu gimana? Kalo kata saya sih kacau, tapi pasti segera dilanjut!

Chanlove: menurut kamu siapa? *smirk*

YeLuBaekk: salam juga, chap selanjutnya lebih seru loh *smirk*

Parkbaekyoda: advice accepted! Tunggu kelanjutannya ya

Jengkyeol: karena baek itu mulutnya nyebelin jadi si yeollo pengen nyipok *eh* BTW makasih semangatnya~

Thirteenapril: aduuuh si thehunnie disamain sama porselen *puk-puk sehun* ahaha namanya juga FF, semakin berbeda dengan situasi nyata, semakin rame

Yeollo: apdet minggu ini kok

Minggu depan saya update Finding Prince Charming dan The Queen Bee, so anticipate it!