BTS Fanfiction
Proudly Present by Authors and Authoresses of KookV Shipper
Cover by Cinnynese
.
"Kolase"
Features : 9 drabbles, collaboration, prompt "Tahun Kabisat"
Jeon Jungkook x Kim Taehyung
.
.
Part 2 of 2
[Ini adalah kolase. Tentang mereka dan cinta yang diberikannya]
.
.
.
Author : Ichimaru Kyoushiro
Prompt : Lupa/Melupakan
"Remember Tomorrow"
.
"Siapa kau?"
"Namaku Jeon Jungkook. Aku adalah kekasihmu."
"Kekasihku? Salam kenal, Jungkook. Namaku Kim Taehyung."
Jungkook tersenyum, dia mengelus surai lembut Taehyung yang tertidur pulas di bahunya. Matanya terlihat sendu namun tetap berusaha mempertahankan senyumnya.
"Hyung..." bisik Jungkook pelan, berusaha tidak membuat Taehyung terbangun. Biarlah malam saja yang mendengar suara lirihnya ini. "Kau akan kembali melupakanku, dan saat kau membuka mata besok pagi... aku akan kembali jadi sosok asing bagimu..."
Sungguh, Jungkook merasa hatinya tidak berbentuk sekarang, namun dia berusaha menerima. Keadaan seperti ini bukan Taehyung yang mau. Biarlah, tidak apa-apa, Jungkook akan tetap mencintai pemuda kurus itu setulus hatinya.
"Hyung..."
Jungkook mengecup puncak kepala Taehyung, suaranya serak, setengah terisak.
"...aku mencintaimu, sampai kapan pun."
Air mata mengalir begitu dari mata Taehyung yang terpejam, mendengar suara Jungkook yang begitu perih membuatnya merasa amat bersalah.
'Maafkan aku, maafkan aku...'
"Halo, hyung!"
Taehyung yang sedang mengangkat kotak kardus menoleh. Matanya menatap bingung pada sosok yang tersenyum menyembunyikan gigi kelincinya itu. "Maaf, mencari siapa ya?" tanyanya berusaha sopan.
"Namaku Jungkook," Jungkook tersenyum lebar, "Aku kekasihmu, Kim Taehyung."
Taehyung menggaruk-garuk tengkuknya, "Ah... benarkah?"
"Tentu, lihatlah! Kita berfoto bersama kemarin!" Kata Jungkook semangat, menunjukkan ponselnya, walau hatinya berdenyut sakit melihat Taehyung yang kebingungan.
Tidak apa-apa.
Sungguh, Jungkook tidak apa-apa dilupakan Taehyung.
Rasa sakit ini bukan apa-apa.
"Maaf, Jungkook," Taehyung menatap Jungkook, seakan menyesal, "Aku tidak ingat."
Asal Taehyung masih bisa dilihatnya, sehat dan tidak kekurangan apapun.
"Tidak apa-apa, hyung," Jungkook tersenyum, "Aku mau memulainya dari awal."
Taehyung tersenyum, "Namaku Kim Taehyung. Salam kenal."
Jungkook balas tersenyum, memejamkan matanya sesaat lalu membukanya, "Namaku Jeon Jungkook. Salam kenal juga."
Jungkook tidak apa-apa.
Dilupakan oleh orang yang dicintainya.
Dia bisa memulainya lagi.
"Jungkookie..."
"Ya, hyung?"
"Jika besok... jika besok aku kembali melupakanmu...
...maukah kau tetap disini? Untuk membuatku jatuh cinta lagi padamu walau aku tidak mengingatmu?"
"Tentu, hyung. Aku akan selalu disini. Aku akan terus membuatmu jatuh cinta lagi padaku sebanyak apapun yang kau mau, bahkan walau kau melupakanku."
.
.
Author : Cakue-chan
Prompt : Kabisat
"Linimasa"
.
Salju pertama datang.
Biasanya, Kim Taehyung akan duduk di kursi goyang kesayangannya, memandang kosong di balik kaca jendela tanpa gorden yang membatasi, dan pikirannya seolah berkelana pada linimasa empat tahun silam ketika ia tidak sendiri; di sini, di dalam rumah yang mulai sepi, di sebuah kursi goyang ketika salju mulai mampir pada penghujung bulan Februari.
Terdengar klasik. Tapi Taehyung menyukainya.
Karena mimpi selalu bisa menariknya jatuh dari kenyataan.
"Hyung, kenapa duduk di luar? Kau bisa masuk angin, astaga."
"Seperti biasa … cemas yang berlebihan, eh?"
[Kapal feri Korea Selatan, Sewol, dilaporkan tenggelam pada tanggal dua puluh sembilan Februari] .
"Sudah kubilang, Hyung! Jangan terlalu lama bermain salju!"
Senyum tipis terulas. "Tapi aku sangat suka salju, Jungkookie."
[Kurang lebih kapal berada pada 20 kilometer di lepas pantai barat daya Korea Selatan, feri mulai miring saat hendak berlayar ke pulau Jeju].
"Berbeda sekali, ya. Hyung menyukai salju, sedangkan aku lebih memilih laut. Dan Hyung tahu kenapa aku begitu mencintai laut?"
[Kapal mengangkut 467 penumpang, sebagian besar adalah siswa sekolah menengah dari Ansan yang akan berdamawisata dari Incheon menuju Jeju].
"Karena laut tak pernah ada batas. Namun selalu kembali pada titik yang sama."
[Sinyal Marabahaya dikirimkan sekitar dua koma tujuh kilometer dari Byungpoong pada pukul 08.58 Waktu Standar Korea setempat].
"Dengan kata lain, ini perasaanku."
[Belum ada kepastian sampai saat ini berapa jumlah korban yang dinyatakan tewas. Pasukan Penjaga Pantai masih dalam tahap pencarian jika menemukan penumpang yang tenggelam].
"Kau mengerti, Tae-hyung?"
Taehyung tertawa kecil. Miris. Ironis. Namun secuil harapan selalu hinggap di sana.
"Untuk itu, izinkan aku pergi, tidak akan lama. Sampai aku kembali."
[Juru bicara pemilik kapal berkata, jumlah penumpang yang selamat berada dalam persentase yang kecil].
"Dan saat itu tiba, aku titipkan perasaanku padamu, Hyung. Tunggu aku di sudutnya."
[Demikian berita Korea, dua puluh sembilan Februari, melaporkan].
"Jungkook …"
Empat tahun yang lalu, Taehyung tidak sendiri. Ia melihat Jeon Jungkook tersenyum, mengucap kalimat sapa ketika ia membuka mata, memberinya kecupan pada setiap kesempatan yang terselip, dan tak lepas pula dari kata-kata cinta penuh candu yang diumbarkan. Empat tahun yang lalu, Jeon Jungkook memutuskan pergi. Melihat dunia di balik bentangan laut yang tak terbatas.
Empat tahun berikutnya, Taehyung merasa kosong. Tak ada kepastian bagaimana sosok Jungkook di luar sana. Tak ada yang tahu keadaannya. Tak ada yang mengerti bagaimana eksitensinya saat ini.
Empat tahun berjalan, ketika tahun Kabisat selalu berputar seperti orbit di luar angkasa mengitari porosnya, Taehyung tak pernah menemukan kepastian.
Selalu seperti itu.
Berjalan monotonis; layaknya samudra luas tanpa batas. Empat tahun. Kabisat yang datang. Harapan yang tak pernah pasti.
Dan satu doa yang selalu Kim Taehyung ucapkan sepenuh hati kepada Jeon Jungkook.
"… hiduplah sampai saat ini."
.
.
Author : Ryo Hyuk
Prompt : Lagu (Jin – I Love You)
"Confession"
.
Aku kembali tersenyum saat mengingat lagi senyumnya.
~::::::~
Bukan bermaksud menyembunyikan segalanya, namun bagiku… yang seperti ini sudah cukup. Aku tak ingin dia menyalah artikan apa yang akan aku katakan padanya, atau hal lain yang mungkin dia dengar dari orang lain.
Benar jika aku adalah seorang pengecut, apa salahnya tinggal bilang bahwa aku merasakan hal lain untuknya. Namun rasanya ini terlalu berat.
Aku hidup bukan dalam dunia mimpi yang aku ciptakan sendiri, seperti halnya jalinan kalimat dalam paragraf cantik bernama novel cinta. Namun aku berada dalam kungkungan realitas kejam bernama kehidupan yang membuatku kadang muak dengan apa yang mereka sebut dengan moral dan norma masyarakat.
Aku mencoba menjadi yang terbaik, namun jika mereka tahu aku menyukai seseorang yang tak seharusnya aku sukai, mungkinkah aku tetap menjadi si baik di mata mereka. Sulit dikatakan, bahkan untuk dirinya yang begitu special untukku.
Lihat dia, cantik ya? Senyum kotaknya itu benar-benar membuatku merasa terbang ke awang-awang. Aku tak ingin ambil pusing dengan apa yang orang lain katakan tentangnya. Mereka bilang dia itu agak 'tidak waras', tapi bagiku dia adalah orang paling unik di seluruh dunia. Penuh energi, penuh tawa dan selalu membuat sekitarnya bahagia.
Itu menurutku, tapi entah dengan yang lain.
~::::::~
Entah sudah sejak kapan aku mendengarkan lagu ini. Namun kurasa lagu ini benar-benar sesuai dengan hatiku sekarang.
Aku mencintaimu …
Aku mencintaimu …
Namun aku tahu jika kita sangatlah berbeda.
Bolehkah aku berkata bahwa aku mencintaimu dan semua tetap baik-baik saja, hey, Kim Taehyung?
Kau dengar aku?
Aku menertawai diriku sendiri. Bodohnya aku, dia bahkan tidak tahu jika aku memiliki perasaan lebih untuknya. Namun, jujur saja, perasaan kehilangannya adalah momok terbesar yang tak ingin aku terima dalam hidup.
Wajah manisnya selalu terbayang lebih gila lagi dalam benakku. Sekarang tak hanya ketika malam menjelang tidur, tapi setiap saat. Saat aku akan makan, atau saat aku akan melangkahkan kakiku menuju tempat yang kutuju, wajahnya selalu terbayang dengan senyum cantiknya sambil mengucapkan hati-hati di jalan.
Membuatku tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.
Masih dengan santai saat kulihat dia berlalu di hadapanku, ada senyum kecil terlukis saat dia dengan bodohnya tersedak karena mulutnya penuh dengan roti yang entah kenapa dia makan bulat-bulat. Dasar Taehyung, mau membuatku mati karena gemas, huh?
"Lihat dia, orang aneh itu datang lagi Jungkook-ah," kata Jimin yang menunjuk Taehyung dengan wajah nakalnya. "Aku tak mengerti kenapa dia ke sini lagi, kalau aku jadi dia, aku pasti memilih keluar dari sekolah ini. Keanehannya itu membuat dia mendapat kesulitan." Lanjutnya lagi.
"Dari pada mengoceh lebih baik membantunya Jimin-ah, kita disini bukan untuk ikut-ikutan membuat kehidupan seseorang lebih buruk setiap hari. Atau kau takut jika kau akan terseret pembullian bodoh itu?" Yoongi berujar sarkastik. "Aku pulang bersamanya kemarin, entah kenapa dia ternyata sangat menyenangkan. Sedih saat mendengar bahwa teman-temannya kini mulai menjauhinya karena tak ingin ikut-ikutan di-bully. Tapi apa kau tahu? Dia bahkan menyalahkan dirinya sendiri. Pikirnya semua orang akan bisa menerimanya apa adanya. Tapi tingkah lakunya malah dipandang buruk di sekolah ini."
Aku mendengarkan perkataan Yoongi-hyung dengan ngilu. Lagi. Betapa pengecutnya aku. Kenapa aku selalu diam saat melihatnya dipukuli? Kenapa aku selalu diam saat dia dicaci di hadapan siswa-siswa yang lain? Seharusnya aku ke sana saat dia sedang terluka, bukan saat setelah dia mendapat lukanya, lalu melihat senyum bodohnya yang membuatku ingin menangis itu.
"Kau juga Jungkook-ah, tidak masalah kau ini suka pada siapa. Tapi kupikir hanya muncul setelah dia terluka karena dipukuli setiap hari sudah semakin memprihatinkan. Aku tak segan-segan membantumu memukul balik orang-orang yang membuat Taehyung babak belur. Kupikir si Rapper gila itu juga tak akan tinggal diam jika tahu di sekolah milik ayahnya terjadi hal seperti ini."
"Namjoon-hyung akan kembali dari Amerika?" tanyaku antusias.
"Minggu depan seharusnya dia sudah disini. Kudengar dia membawa pulang seorang pemuda ke sini, Jin begitu dia memanggilnya. Kalau kau tak bodoh, kupikir kau tahu si Jin itu apanya si Namjoon." Lanjut Yoongi hyung lagi.
Mendengar kabar Namjoon-hyung, maka sudah kuputuskan ...
~:::::::~
Lagu itu masih mengalun, merdu... menutupi detak jantungku yang berdentum heboh. Taehyung masih terlihat kesulitan membuka bungkus permen yang tadi aku berikan padanya. Entah kenapa dia tak bertanya kenapa aku pulang bersamanya atau kenapa aku tiba-tiba muncul secepat ini.
Yang dia lakukan hanyalah sibuk dengan kegiatannya sendiri.
Dahinya sudah lebih baik dari kemarin. Sekarang sudah terpasang plaster di dahi sebelah kanannya, memang tak terlihat karena rambut depannya yang hampir menutupi mata itu menghalangi, namun saat angin menyibak rambutnya tadi, aku melihat sebuah plaster luka sudah bertengger manis disana.
Menggemaskan.
"Kau sudah tidak apa-apa?" tanyaku padanya.
Dia menghentikan tangannya yang sibuk membuka bungkus permen, menatapku dengan mata polosnya dan mengerucutkan bibir, tersenyum sedikit sebelum menganggukan kepala tanda bahwa dia memang sudah tidak apa-apa.
"Apa kau sering dipukuli seperti itu?"
"Ya."
"Apa kau tak pernah membalas?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena aku ingin membiarkan orang bodoh tetap menjadi orang bodoh. Mereka juga tak semena-mena terhadapku, kok. Lagi pula ini cukup menghibur."
"Ya?"
"Saat di SMP aku menjadi ketua gank, jadi kena pukul sudah biasa untukku. Tapi saat SMA aku sudah tidak main gank-gank-an lagi. Hidupku menjadi sedikit membosankan. Tapi melihat tingkah orang-orang bodoh itu, setidaknya hidupku sedikit berwarna. Ehe. Wahhh berhasil, kau mau?" tanya Taehyung antusias, dia akhirnya berhasil membuka bungkus permennya.
Aku? Tersihir dari setiap kata yang dia ucapkan. Dia ketua gank-hidupnya membosankan-dipukuli sebagai hiburan, sepertinya ini benar-benar tak sesuai yang kupikirkan.
"Kau kaget, ya?"
"Ah... sedikit."
"Jangan bohong, wajahmu itu bahkan berkata jika kau kageeet sekali."
"Ahaha benarkah?" aku tertawa garing.
Hening menggelayut hebat, sebenarnya bukan salahnya. Dia sekarang bahkan sedang menikmati permennya. Sementara aku, aku malah bermonolog dengan diriku sendiri.
"Hey, kau?"
"Ya?"
"Apa kau tidak bosan mendengarkan lagu itu terus? Sampai kapan kau mau mengucapkan kata keramat itu padaku? Hum?"
Mati. Mati kau Jeon Jungkook.
"Aku memang aneh, tapi aku tak terlalu bodoh jika kau sebenarnya memiliki ahem yeah ahem padaku kkkk~ kau sering melihatku hingga aku merasa ngeri karena kau seperti tak berkedip, kau juga sering muncul setiap mereka selesai memukuliku. Kau suka padaku kan Jeon Jungkook?"
Aku kehilangan percaya diriku saat itu juga. Aku kehilangan kewarasanku saat itu juga. Bukan berarti aku tak bahagia saat mendengar semua kata yang dia ucapkan padaku beberapa saat lalu, tapi aku hanya terlalu malu saat aku yang belum seratus persen mengumpulkan percaya diri untuk mengungkapkan perasaanku malah terbaca laksana buku yang terbuka lebar di hadapannya.
"Aku... juga suka padamu kok, hihi dan masalah itu, kau yang 'mengatur' kendali."
Saat itu aku benar-benar tak tahan melihat wajah merona dan senyum malu yang dia suguhkan padaku.
Ya Tuhan, Jeon Jungkook, kau pasti sedang dilanda mimpi paling gila seumur hidupmu.
~:::::::~
Namjoon hyung terus mengerutkan alis saat melihat Taehyung yang tak berhenti mondar-mandir. Dia akan bersuara, namun Taehyung keburu menyauti kata-katanya.
"Namjoon-hyung, aku mau tanya."
"Ya?"
"Apa Jin-hyung juga sampai menangis dan berteriak-teriak saat kalian berdua di kamar. Kau tahu kan maksudku, maksudku kau... dan Jin-hyung... ehe... ehehehehehe."
"Jungkook-ah."
Aku menoleh kaku pada Namjoon-hyung yang memanggilku.
Kali ini aku akan mati.
Benar-benar mati karena malu.
.
.
Author : Judalismic
Prompt : 29 Februari
"February 29th"
.
Ada tanda lingkaran yang dibuat oleh spidol merah terang tepat di ruang kosong di samping angka 28 setiap bulan Februari. Dan kali ini yang ketiga kalinya Baek Kyungdo melihatnya.
"Kenapa kau melingkari tanggal yang tidak ada?" Kyungdo merobek halaman paling depan kalender dinding yang tergantung apik di ruang tamu apartemen Taehyung yang sempit.
Taehyung mengangkat bahu tak acuh, mengaduk milktea yang tengah dibuatnya di meja dapur. "Kebiasaan," jawabnya singkat tanpa niat memberikan penjelasan lebih terang. Meninggalkan kekasihnya sejak tiga tahun lalu itu dalam rasa keingintahuan yang tak pernah terpuaskan.
"Ada yang harus kauingat di tanggal itu?" Kyungdo menggulung robekan halaman pertama dari kalender dinding yang mencetak fotonya dalam pose memegang sekuntum mawar hitam lengkap dengan pakaian serba hitam berpayet abu keperakan yang menjadi tema gothic agensi modelnya tahun ini.
Mungkin Baek Kyungdo memanglah bukanlah seorang jenius seperti ahli-ahli Asia Barat dan Babilonia. Mungkin Baek Kyungdo memang bukanlah seorang ahli falak, ahli sains, ataupun ahli astronomi. Namun ia tidak sebodoh itu untuk—tahu—bahwa selalu ada tanggal khusus yang datang hanya satu kali dalam empat tahun.
Tanggal 29 Februari.
"Kau harus melakukan sesuatu di tanggal itu?" Kyungdo mencoba lagi, saat disadarinya tak sepatah kata pun keluar dari mulut kekasih yang sangat dicintainya itu. Ia merasa ingin tahu, harus tahu, ia -perlu- tahu.
"Aku akan kembali menjadi Bulan yang genap sempurna." Taehyung mengomentari dari tempatnya kini membuka tirai jendela apartemennya yang tak seluas kediaman kekasihnya yang tak pernah berhenti memintanya untuk tinggal bersama. Hujan yang turun dengan lebat di penghujung bulan Februari itu bergemuruh bersahutan, bergemeratak di permukaan luar kaca jendela.
"Kau tidak merasa sempurna bersamaku?" Senyap merambat untuk beberapa saat hingga Kyungdo memutuskan untuk menjadi orang terbodoh dalam hidupnya karena memepertanyakan hal yang seharusnya ia telah tahu jawabannya.
Taehyung menempelkan telapak tangannya di permukaan kaca jendela yang dingin dan berembun. "Aku tidak bisa memilih kapan dan dengan siapa aku merasa sempurna."
"Duniamu hanya berputar karenanya. Kau hidup hanya untuknya." Kyungdo tertawa pahit tanpa nada humor sama sekali.
"Aku milikmu untuk 365 hari lagi. Dan itu bukan waktu yang sedikit. Apa yang membuatmu tidak puas?" Taehyung membalas tanpa mengalihkan pandangannya dari dunia di balik kaca yang memburam dan menampilkan badai.
Kyungdo meremas rambut sehitam arangnya dan berkata dengan frustasi, "Aku mengecat rambutku seperti dia. Aku menggunakan lensa kontak seperti dia. Aku mengenakan pakaian seperti dia. Aku berbicara seperti dia. Jika ada yang -tidak puas- di sini, itu adalah kau!"
Jari-jemari Taehyung yang menempel di permukaan jendela mengerut, dengan tekanan yang lebih dari seharusnya ia mencakar kaca yang dingin dan kaku itu. "Karena kau bukan dia."
"Apa yang diberikannya untukmu tapi tidak bisa kuberikan?" Kyungdo meninggikan suaranya, menghampiri Taehyung dengan langkah lebar dan gusar.
Taehyung rasakan rambut di belakang kepalanya ditarik dengan kasar ke belakang, membuat kepalanya mendongak menatap langit-langit apartemennya. Dipejamkannya matanya dan ia tolak mati-matian ringisan yang telah berada di ujung lidahnya.
"Apa yang dijanjikan Jeon Jungkook padamu hingga kau tidak pernah bisa melupakannya bahkan setelah tiga tahun berlalu? Apa yang ia berikan padamu yang tidak bisa kuberikan?" Kyungdo menjambak kasar rambut Taehyung dan berteriak kasar tepat di telinganya.
Taehyung memejamkan matanya erat. Tanpa goyah ia berkata, "Jeon Jungkook adalah matahariku. Aku akan berotasi untukmu, namun aku berevolusi hanya untuknya. Aku tidak pernah melupakannya barang sedetik pun setiap hari. Saat kau menggauliku, saat kau memukulku, saat kau mencintaiku, saat kau membenciku, aku selalu hidup hanya untuknya."
Kyungdo membanting kepala Taehyung ke atas meja kopi berukir di sisi bingkai jendela bahkan sebelum Taehyung sempat menarik napas.
"Dia tidak ada saat kau membutuhkannya. Dia tidak pernah ada untukmu. Dia sibuk dengan dunianya sendiri. Dia tidak memikirkanmu. Dia -tidak- peduli padamu!" Kyungdo berteriak histeris.
"Karena kau memenjarakanku di sini." Taehyung mendesis, tak menyembunyikan kebencian yang dalam dari sorot matanya yang kini menatap kekasihnya itu lekat. "Jika kau melepaskanku, aku akan berlari mengejar matahariku."
Kyungdo meraung murka. Dibantingnya kepala Taehyung sekali lagi ke permukaan meja bertepi kasar. "Kau boleh bermimpi. Tapi jangan pernah harap mimpimu itu akan jadi kenyataan. Kau adalah milikku, milikku yang tak akan pernah kulepaskan. Kau harus melihatku mati jika ingin lepas dariku!"
Taehyung merasakan pipinya basah. Ia yakin air matanya telah mengering sejak tiga tahun lalu, namun entah mengapa ia selalu salah.
Sesalah ia berpikir bahwa meninggalkan Jeon Jungkook demi melindungi pria yang sangat dicintainya itu dari kegilaan Baek Kyungdo dan jatuh dalam pelukan pria yang berstatus sebagai kekasihnya ini adalah jalan yang terbaik.
"Kau sudah memilihku pada persimpangan hidupmu. Kau memilih meninggalkan Jeon Jungkook dan datang kepadaku. Dan itulah yang akan selalu dan terus kaulakukan seumur hidupmu!" Kyungdo berteriak, dan menambahkan dengan sebuah bisikan yang tajam dan melukai, "Kau tidak akan pernah melihatnya lagi selama jantungku masih berdetak dan nadiku masih berdenyut."
Taehyung kembali memejamkan matanya, membuat air mata terakhirnya meleleh melikui lekuk wajahnya. Sudut bibirnya terangkat naik.
"Kau tertawa?" Kyungdo mengangkat sebelah alisnya. "Kau menertawakanku?"
"Tepat tanggal 29 Februari 365 hari dari sekarang, Jungkook akan keluar dari penjara dan mencarimu. Ia akan menghabisimu." Taehyung berujar dengan tenang, sedingin es.
"Kau lupa kau tidur denganku, membiarkanku melakukan apa pun yang kumau padamu, dari mulai hal yang terbersih sampai yang terkotor, agar aku membiarkannya tetap hidup dan membusuk di penjara." Kyungdo mendesis bagaikan ular yang terluka, namun ego dan harga dirinya tak membiarkannya kalah.
"Kau menjebaknya. Kau membuatnya menjalani hukuman yang tidak seharusnya ia dapatkan. Kau menghancurkan hubungan kami, tapi tidak perasaanku untuknya yang tak akan pernah mati." Taehyung tersedak saat dirasakannya jemari Kyungdo yang kasar mencekik lehernya, namun dengan terbata masih dilanjutkannya bisikan yang memekakkan telinga bagi Baek Kyungdo, "Aku tidak akan mati selama Jungkook masih hidup. Karena dialah matahariku."
Dan Baek Kyungdo tahu.
Sebenci apa pun ia pada Kim Taehyung yang mencintai Jeon Jungkook lebih dari segalanya di dunia ini, ia terlalu mencintai Kim Taehyung untuk sanggup membunuhnya.
"Kalau begitu mari kita lihat. Apa yang akan dilakukan pecundang itu saat ia menghirup kembali udara bebas, dan saat ia tahu bahwa kekasih yang sangat digilainya itu menjadi pelacur yang kutiduri setiap malam." Kyungdo mengendurkan cekikannya, hanya untuk kemudian mendekatkan wajahnya dengan cepat dan mencumbu Taehyung tanpa ampun dengan kasar.
365 hari lagi, Taehyung berbisik pada hujan yang meraung bersahutan di luar kaca jendela. Taehyung membiarkan rohnya melayang keluar dari tubuhnya, membiarkan tubuh kosong itu dinodai oleh 'kekasih'nya ini, sementara jiwanya berkelana mengenang keindahan dan kebahagiaan masa lalu yang telah lama berlalu namun takkan pernah terlupa.
Mungkin Jeon Jungkook akan membencinya. Mungkin Jeon Jungkook akan menatapnya dengan jijik dan membuangnya. Mungkin Jeon Jungkook akan meninggalkan dan melupakannya.
Yang manapun, bagi Taehyung, adalah pilihan yang lebih baik daripada mati tanpa sempat mengucap kata maaf pada orang yang paling dicintainya hingga ia rela melakukan apa pun untuknya itu.
Setelah tiga tahun berlalu, Kim Taehyung berpikir bahwa ia ingin mati setelah Jeon Jungkook mendengarnya mengucapkan 'Maaf, aku mencintaimu.'.
.
.
.
Part 2 of 2, end
A/N : halooo lagiii~~ XD
Errr... kerasa kan bedanya part 1 sama part 2? :"D ah tapi, di sini masih ada kok yang fluff-fluff-nya *wink* XDD Jadi inget, saya mau ngucapin terima kasih dulu buat Teh Ayame (ya ituu... yang bikin Tae tersiksa di drabble akhir/woi) abis udah bantuin adain challenge ini , si saya kerjaannya ngeggangguin teteh mulu, wkwkwk/plak.
Buat author-author yang udah berpatisipasi dalam challenge ini jugaaaa. Saya terharu :"D *bow* Kalian semua ketje-ketjeeeee ,
Oh oh! terima kasih juga yang udah fave, follow, dan review :"D sini sini, saya pelukin dulu satu-satu/terjaaaaaang. Untuk beberapa pertanyaan, nanti saya coba bales di-PM ya X'D
Terima kasih sudah membaca~ kotak review selalu terbuka kok *wink*
Salam hangat,
KookV Fellas.
