OWNER : MASASHI KISHIMOTO
STORY BY : LLYCHU
PAIR : NARUTO X HINATA
Rated : M
HAPPY READING!
Part II : Kou
.
.
.
Sakit kepala yang sudah seminggu ini mengganggu membuat Hinata mau tak mau memeriksakan dirinya pada Sakura. Sahabat satu-satunya itu sudah menceramahinya nyaris satu jam saat Hinata bersikeras bawa sakit kepalanya hanya karena ia kurang tidur.
"Kalau kau sakit, bagaimana dengan Kou?"
Karena pertanyaan singkat itulah yang membuat Hinata mau-mau saja terbaring di ranjang kecil khusus pasien milik klinik Sakura. Benar juga, jika ia terbaring sakit dan tidak bisa menjalankan aktivitasnya dengan baik, maka ia tidak bisa merawat dan mencari nafkah untuk Kou.
Sebenarnya, Hinata sangat takut pada jarum suntik. Ia paling enggan untuk datang ke rumah sakit. Dan itu berlaku juga bagi klinik atau tempat apapun yang ada dokter dan jarum suntik.
"Bagaimana, Sakura? Aku tidak apa-apa, kan?" mencoba bangkit dari acara tidurannya, Hinata sedikit meringis saat merasakan kepalanya seperti diberi hantaman kuat pada bagian belakang.
"Kau sepertinya tahu jawaban atas tubuhmu sendiri." jawaban tidak nyambung itu dibumbui nada sedikit sinis yang mampu membuat Hinata mengigit bibir bawahnya gugup. Jika Sakura sudah ketus begitu, Hinata tahu dirinyalah yang salah.
"Maaf, deh." Bukan disengaja juga jika Hinata tiba-tiba mengeluarkan suara manjanya. Orang sakit dan terpojok memang kadang tanpa sadar berbuat hal yang mampu memberi perhatian lebih dari orang lain.
"Jangan memelas di depanku," ujar Sakura masih dengan nada marahnya. Ia membereskan alat-alatnya dan menaruh pada tempat seperti semula. Lalu berjalan menuju kursi yang sepaket dengan meja tempatnya sering berkonsultasi dengan para pasiennya. Ia melirik sekilas pada Hinata yang berjalan untuk duduk di depannya. Jika tidak sadar diri mereka sudah dewasa, rasa-rasanya sekarang seperti bermain dokter-dokteran.
"Darahmu rendah sekali," setelah keheningan beberapa saat, Sakura kembali berujar. Ia sibuk menulis pada kertas sebesar kwitansi persegi panjang. "Beli ini di apotik, aku tidak menyediakan obat-obatan untuk orang dewasa. Cukup minum penambah darah dan vitamin. Lalu usahakan tidur yang cukup."
Hinata mengangguk patuh dan menerima resep dari Sakura.
"Terimakasih,"
"Hm."
Kekehan geli terdengar dari Hinata yang sekarang sedang tersenyum lebar. Alis rata Sakura bertaut, meminta penjelasan atas kekehan yang ambigu itu.
"Aku hanya lucu saja, Sakura. Kita seperti main dokter-dokteran."
Bola mata Sakura memutar, merasa sama sekali tak tertarik dengan bahan omongan yang diangkat Hinata. Walaupun dirinya juga sempat berpikiran kekanakan begitu.
"Kau pikir aku menghabisakn puluhan juta yen hanya untuk main dokter-dokteran?"
"Hey, jangan marah terus. Aku sedang sakit."
"Salah sendiri." Sakura bangkit dan berjalan lebih dulu menuju dalam rumahnya yang tergabung dengan kliniknya. Ia membuka jas dokter putihnya dan menaruh di sofa besar ruang tamu. Lalu melanjutkan langkahnya menuju ke arah salah satu pembantunya yang sedang menimang Kou di depan dapur.
Hinata mengekor, memperhatikan bagaimana Sakura begitu telaten memindahkan Kou pada gendongannya. Bahkan sampai sekarang Hinata masih sangat hati-hati untuk menggendong Kou. Ia masih kikuk dan belum berpengalaman seperti Sakura yang memang sering bertemu anak-anak karena itu memang bidangnya.
"Lihat itu Kou—" Sakura bermonolog, seakan-akan bocah satu tahun lebih itu mengerti. "Bibimu benar-benar keras kepala. Kalau dia sakit, kita tidak usah merawatnya ya?"
Tentu saja Kou tak menjawab. Wajah mungil itu sedang tenang karena tertidur lelap.
Sakura mendudukan dirinya di sofa, diikuti Hinata yang duduk berlawanan dengannya.
"Sakura, kau jangan mengajarkan Kou yang tidak-tidak." tentu saja Hinata hanya bercanda. Ia masih tersenyum walaupun perkataanya syarat akan waspada. Ia tak mau nanti Kou benar-benar tak perduli padanya.
"Biarkan, habis kau susah dibilangi."
Setelah itu Hinata tak membalas. Ia mengerti, sangat mengerti bahwa sikap ngambek Sakura merupakan demo tertutup terhadap dirinya.
"Aku ingin melamar kerja di perusahaan."
Mulai tertarik, Sakura berhenti bermain dengan wajah damai Kou. Ia menatap Hinata yang sekarang juga menatapnya.
"Benarkah? Kenapa tiba-tiba?" gadis manis itu memang berbasis ekonomi. Sangat tepat untuk menjadi orang kantoran. Tapi karena sekarang sulit sekali mencari pekerjaan, Hinata sudah menyerah menaruh lamaran disana-sini.
"Ku rasa jika bekerja di satu perusahaan tidak akan menghabiskan banyak waktu. Gajinya juga lumayan."
"Baguslah. Nanti ku coba minta bantuan ayah atau ib—"
"Sakura," potong Hinata cepat. "Aku tidak mau bergantung pada orang tuamu."
Kadang Sakura kesal sendiri pada Hinata yang selalu menolak bantuan keluarganya. Memang sikap begitu baik, hanya saja tidak akan berguna pada tempat dan waktu yang mendesak begitu.
"Hanya menanyakan lowongan. Lalu kau bisa melamar sendiri, Hinata." bela Sakura tak kalah cepat. Ia menegaskan wajah cantiknya, meyakinkan Hinata bahwa ia tak akan melakukan hal lebih kecuali menanyakan lowongan pekerjaan.
"Baiklah. Terimakasih." Kata Hinata tulus. "Ah! Jam berapa sekarang?"
Tiba-tiba Hinata panik. Ia sudah meninggalkan pekerjaannya pada jam makan siang untuk mampir ke klinik Sakura. Dari rumah Sakura ke toko buku memang lumayan jauh.
"Minta supirku mengantarmu." Sakura ikut-ikutan bangkit saat melihat Hinata begitu terburu-buru.
"Tidak, terimakasih Sakura. Kalau busnya tidak telat aku mungkin bis—"
"Bayar uang bensinnya dengan masakanmu."
Hinata tersenyum lebar, "Deal."
.
.
.
Kau bisa jadi akuntan, kan? Temanku sedang butuh.
Sebaris pesan singkat Hinata terima tepat tiga jam setelah ia meninggalkan sahabat pinky-nya itu. Hinata sudah bisa menebak bahwa Sakura pasti akan membantunya dengan cepat. Kalau saja bukan masalah terdesak, Hinata paling enggan menyusahkan Sakura.
Bukannya Hinata itu gadis yang sok tegar atau apa, hanya saja ia sudah cukup banyak menyusahkan Sakura dengan menitipkan Kou selama ini. Dan juga beberapa bantuan Sakura yang Hinata tahu wanita itu berikan secara diam-diam. Misalnya masalah apartemen yang sekarang sudah lunas.
Awalnya Hinata sedikit tersinggung. Ia masih bisa mencari dengan kedua tangan mungilnya sendiri. Tapi desakan Sakura juga tidak bisa membuatnya berkutik. Dan mereka berdamai dengan kesepakan bahwa Hinata akan menggantinya setelah mendapat gaji akhir bulan nanti.
Bicara mengenai bulan, sekarang cuaca sedang sangat menyengat. Musim panas kali ini tak banyak membantu. Hujan kadang-kadang turun tak tahu waktu dan tempat. Pergantain cuaca yang mendadak kadang membuat pertahanan tubuh Hinata yang memang sudah lemah sering sekali menurun. Tentu saja Hinata tidak mau sakit dan menelantarkan Kou begitu saja.
"Sudah waktunya pulang, kenapa masih di sini?"
Pria bermasker yang sekarang tepat ada di belakangnya membuat jantung Hinata sedikit terlonjak kaget. Ia sedang melamun, dan kedatangan boss-nya secara diam-diam itu tentu membuat Hinata terkejut.
"A-a… Ini baru mau pulang, boss."
Kakashi mengangguk. "Aku menemukan ini di mejaku. Sudah lama tidak datang dan tiba-tiba karyawan kesukaanku mengundurkan diri."
Jari-jari panjang yang berbalut sarung tangan hitam itu mengapit amplop kecil yang ditaruh sejajar dengan wajahnya. Sebelah alis Kakashi terangkat, menunjukan seolah ia sedang bertanya.
Hinata mengerti dengan permintaan penjelasan non-verbal itu. Kakashi boss yang baik selama ini. Pria misterius itu selalu mengerti jika Hinata sesekali minta izin pulang cepat karena beberapa alasan, terutama Kou. Gajinya pun tak pernah dipotong. Bahkan sering kali ditambah.
Kalau saja bukan karena dihimpit waktu dan uang, Hinata sudah sangat kerasa bekerja disana. Tapi gaji sebagai karyawan kecil begitu belum bisa memenuhi kebutuhannya bersama Kou.
"Ya, boss. Aku harus mengundurkan diri karena beberapa alasan. Yang pasti bukan karena di sini tidak menyenangkan. Hanya saja, aku harus mencari pekerjaan lain yang bisa membuatku membagi waktu dengan keponakanku."
Kakashi sekali kali mengangguk. Ia menegakkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Mereka berdua sekarang ada di jajaran rak besar bagian buku kanak-kanak. Walaupun ingin berhenti, sebelum resmi tentu saja Hinata harus tetap mengurus pekerjaanya.
Kakashi sendiri sudah sangat menyukai kinerja karyawan manisnya itu. Hey— Kakashi tak mengelak jika dibilang ia menyukai Hinata. Gadis itu rajin dan sopan. Walaupun sering kali izin, tapi pekerjaanya tak pernah terbengkalai.
Dan kehilangan salah satu pekerja ulet macam Hinata mungkin saja akan berpengaruh pada bisnis toko bukunya ini.
Ia sendiri awalnya hanya iseng-iseng berbisnis dengan temannya untuk membuka toko buku. Gajinya menjadi asisten seorang pengusaha besar mampu memenuhi kebutuhannya dan juga membuat rekeningnya membengkak. Kakashi pria single yang tak punya tanggungan lain selain dirinya.
Jadi, saat bisnisnya juga berjalan baik, pria berambut putih itu jadi sedikit bingung menyalurkan gundukan uangnya kemana.
"Sayang sekali, ya? Jadi benar kau mau berhenti, Hinata?" tak ada nada membujuk disana. Tapi Kakashi harap Hinata mengerti bahwa dirinya berat untuk melepasnya.
"Begitulah, boss." Jawab Hinata seadanya.
"Baiklah, kau bisa berhenti seminggu lagi setelah pengambilan gaji. Karena kau karyawan yang rajin, maka akau akan memberi gaji dan juga uang pesangon lebih. Eits—" sadar Hinata akan menolak, Kakashi mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Hinata. "Tidak ada penolakan. Itu atau kau tak terima sama sekali?"
Hinata tak bisa menyembunyikan senyumnya. Tentu saja bukan karena masalah uang, tapi karena Kakashi yang begitu baik padanya.
"Terimakasih banyak, boss!" kata Hinata ceria.
Senyumnya makin lebar saat Kakashi juga ikut menyipitkan matanya.
.
.
.
"Ibuku ingin sekali bertemu Kou,"
Kalau saja Sakura memiliki hak, tentu saja dia tak akan tega melihat calon ibu mertuanya itu terus-terusan memohon padanya untuk mempertemukan dengan Kou. Tapi ia sadar, Hinata sangat menentangnya untuk membawa Kou keluar, apalagi menunjukan pada salah satu keluarga Uchiha. Ini saja Sakura sudah melanggar janjinya dengan membiarkan Sasuke melihat ponakan lucunya.
Bukan rahasia lagi jika Kou, merupakan anak hubungan gelap antara Hanabi dan Itachi. Saat itu Itachi menjadi atasan Hanabi yang kebetulan magang di perusahaan Uchiha. Entah bagaimana ceritanya, mereka memiliki hubungan yang memang sulit untuk diterima. Itachi sendiri sudah berkepala tiga, sedangkan Hanabi baru mau lulus SMA saat itu.
"Aku takut ayahmu akan mengamuk dan mencelakai Kou. Maaf Sasuke, aku tidak bisa banyak membantu tentang ini. Aku tidak mau Hinata tak percaya lagi padaku."
Sasuke tersenyum tipis. Ia sangat mengerti bahwa Hinata benar-benar anti untuk bertemu dengan ayahnya. Karena pernah suatu hari, Hanabi nyaris dicelakai karena ketahuan berhubungan dengan Itachi.
Entah kenapa ayahnya bisa sekejam itu. Sasuke sendiri sebagai anak yang sudah hidup nyaris seluruh umurnya bersama Fugaku tidak pernah mengerti sikap keras ayahnya itu. Padalah menurutnya tak ada yang salah jika Itachi dan Hanabi saling mencintai. Yah— walaupun jarak umurnya memang lebar, tapi setidaknya masih banyak diluaran sana yang menikah dengan jarak umur lebih banyak.
"Apa—" nada Sakura ragu. Ia takut menyinggung Sasuke, di lain sisi ia juga penasaran atas keadaan Itachi yang sudah enam bulan ini menderita depresi berat. "Kak I-Itachi membaik?"
"Sedikit kemajuan saat ia mau makan dengan teratur. Ini berkat foto Kou," intonasi Sasuke ringan dan wajahnya juga sedikit cerah. Menandakan mood bungsu Uchiha itu sedang bagus. Bahkan ini sudah hampir lima belas menit Sasuke menggendong Kou yang sedang menggeliyat pelan di dekapan tangan besar Sasuke. Jika dilihat, mereka berdua mirip. Sakura seperti melihat ayah dan anak saja.
"Kalian seperti anak dan ayah, Sasuke. Mungkin karena Kou mirip denganmu." Sakura terkekeh kecil. Diikuti senyum Sasuke yang melebar.
"Tunggulah, Sakura. Hingga keadaan Itachi membaik."
Sakura mematung, diikuti pipinya yang memerah. Ia mengerti arti dari ucapan Sasuke yang menyuruhnya menunggu. Hubungannya dengan Sasuke memang cukup lama, sudah jalan dua tahun. Pertama kali bertemu Sasuke saat pesta kolega bisnis keluarga. Haruno cukup tersohor dengan bisnis real estate dan Uchiha dengan kekuasaan tanahnya.
Sakura sendiri tak pernah dihalangi untuk mewujudkan mimpinya menjadi dokter. Kedua orang tuanya tak memaksa Sakura untuk menerusi bisnis keluarga. Berbeda dengan Sasuke yang dituntut untuk memajukan bisnis Uchiha.
Mereka berdua jatuh cinta bukan karena harta belaka. Tapi karena tahu bahwa menjadi pangeran dan putri itu kadang melelahkan. Keduanya melepas topeng keagungan dari orang kaya dan menjadi diri sendiri.
Mereka jatuh cinta karena mengenal pribadi masing-masing.
"Aku masih muda, jadi ku rasa menunggu lebih lama tidak masalah, Sasuke. Lagipula aku baru membuka klinik. Kalau menikah, akan repot mengurusmu dan klinik sekaligus."
Lagi, Sasuke tersenyum. Hanya di depan Sakura ia bisa melepaskan semua topeng dinginnya. Sakura tak pernah sekalipun melihatnya sebagai Sasuke Uchiha. Cukup Sasuke saja. Dan karena itu ia jatuh cinta lagi dan lagi pada Sakura.
"Sakura? Sasuke?"
Tiba-tiba Hinata sudah ada di ambang pintu masuk rumah Sakura. Menenteng dua plastik lumayan besar yang Sakura yakini bahan makanan yang akan Hinata masak untuk mengganti uang bensinnya.
"Sini, Hinata." tangan Sakura melambai, memberi bujukan agar Hinata mendekat.
Gadis bersurai indigo itu berjalan ke arah Sakura dan Sasuke yang sedang duduk berdampingan di sofa besar. Buntalan lembut berwarna biru itu ia yakini adalah Kou. Awalnya Hinata melarang keras Sasuke mendekat pada Kou. Tapi dengan bujukan Sakura, Hinata akhirnya mengalah dan membiarkan sesekali Sasuke menengok ponakannya itu.
"Tidak perlu belanja, bahan makanan di rumahku banyak." kata Sakura saat Hinata sudah duduk di depan mereka.
"Kebetulan lewat." Jawab Hinata sekenanya. Mata peraknya beralih pada Sasuke yang masih menggendong Kou.
"Apa? Aku tidak menculik Kou, kok." Hinata tersenyum tipis atas perkataan Sasuke. Entah kemana sikap pendiam Sasuke saat pertama kali mereka bertemu. Sekarang pria tampan itu sudah lebih terbuka dan banyak bicara. Atau mungkin hanya di depan ia dan Sakura saja?
"Ah! Kebetulan Hinata akan masak makan malam. Kau mau ikut bergabung, Sasuke? Kau tidak kembali ke kantor lagi, kan?" Sakura membujuk, menarik-narik manja celana bagian paha Sasuke. Sudah seminggu ini tidak bertemu dan Sakura masih rindu.
"Harus enak."
Dan Hinata hanya bisa tersenyum geli melihat sahabatnya itu memekik kegirangan.
.
.
.
Hinata tak bisa mengelak jika sekarang ia bekerja di tempat itu berkat bantuan tangan Sakura. Apanya yang hanya memberi tahu lowongan kerja jika dengan mudah Hinata bisa di terima. Bahkan baru tiga hari Hinata menaruh lamarannya dan pada hari keempat ia bisa langsung bekerja.
Besok adalah hari perdana untuknya bekerja di di Uzumaki Corp. Salah satu perusahaan paling tenar se-asia timur. Perusahaan yang berbasis kendaraan berat itu memang sudah sering menjadi perbincangan hangat untuk hasil produksinya yang memuaskan. Seperti alat derek, traktor, atau semacamnya. Hinata tak terlalu mengerti.
Ia hanya menjabat menjadi salah satu akuntan di devisi keuangan. Beruntung sekali, kuliah selama empat tahun bisa ia praktekan. Walaupun menjadi kasir dan bagian pembukuan cukup menyinggung beberapa ilmu yang ia dapat semasa kuliah.
"Kou, doakan bibimu ini ya? Besok bibi akan bekerja di tempat yang baru. Gajinya lumayan, jadi bibi tak perlu bekerja lagi pada malam hari."
Kou tersenyum lebar, membuat mata belo-nya menyipit dan memamerkan gusi yang baru ditumbuhi beberapa gigi.
"Kau tidak boleh nakal nanti di rumah bibi Sakura, ya?"
Senyum Hinata tiba-tiba menyendu. Perasaan bersalah hinggap di hatinya. Jujur saja, ia tak tega jika memisahkan Kou dari Itachi, ayah kandungnya. Tapi disisi lain Hinata tak mau Kou terluka karena kakeknya sendiri menolak kehadiran bocah tanpa dosa itu.
Fugaku tak memandang siapapun. Kalau sudah tak suka, pria dingin itu tidak segan untuk bertindak di luar nalar. Bahkan Hanabi sempat menjadi sasaran Fugaku dulu. Dan Hinata tak mau itu terulang lagi.
"Kou sayang," panggil Hinata menahan tangis. "Kau harus jadi anak yang baik, mengerti? Bibi janji jika keadaan sudah membaik, bibi akan membawamu bertemu ayah Itachi."
.
.
.
TBC…
Apa? Gak jelas?
Hehe, maklum aja namanya author labil.
Terimakasih sudah membaca, meriview, memfollow, dan melike!
Kalau ada yang aneh kenapa Kou kok diem melulu, sebenernya dia mau author buat masih orok. Tapi waktunya kurang pas jadi udah setahun lebih. Dia udah bisa jalan sedikit dan ngomong koks. hehe
Salam, LLYchu~
