SILENCE SPRING
.
.
.
OOC, ABAL, TYPO, OC, DAN SEBANGSA SETANAH AIRNYA
.
.
Hari ini langkah baru dimulai, suasana Kota Konoha tidak terlalu ramai, tapi tidak juga sepi. Hanya tak terdengar geliatnya di telinga Naruto.
Keluarga Naruto sengaja pindah ke kota kecil ini karena sang ibu, Kushina begitu bersemangat setelah mendengar ada Universitas yang menerima murid seperti Naruto, walaupun dengan fakultas dan jurusan yang masih terbatas, tapi Kushina sangat bersyukur Naruto bisa mendapat gelar lebih dari tamatan SMA khusus.
Dari rumahnya, Naruto hanya perlu naik bis sampai halte rumah sakit kemudian berjalan sedikit sekitar 15 menit untuk sampai, tapi Naruto sendiri belum tahu dimana letak Universitas barunya, dia fikir akan sedikit berjalan santai sembari melihat-lihat kota yang baru ditinggalinya, dia bisa bertanyanya pada warga lokal. Mudah bukan?
"Menma maukah kau menyusul kakakmu?" Pinta Kushina melihat anaknya memandangi gelas susu yang kosong diminum Naruto tadi.
"Naruto-Nii sudah besar Kaa-chan kalau dia tersesat, dia bisa sms kaa-chan." jawab Menma selesai sarapan.
Kushina menghela nafas pelan, kemudian dilihatnya beras yang baru dicucinya 'siapa yang akan makan nasi ini?'
Musik dikamar Naruto masih mengalun keras, Menma membuka kamar Naruto dan mematikan musiknya, sekilas dilihatnya handphone Naruto tergeletak di meja belajar.
Tanpa fikir panjang, diambilnya handphone itu dan turun lagi ke lantai bawah. Naruto memang kakak yang ceroboh dan pelupa. Bagaimana kalau dia tidak menemukan universitas barunya? Bagaimana kalau dia tersesat? Kaa-chan bilang, ada sedikit perbedaan bahasa antara Konoha dan Tokyo, besar kemungkinan Naruto akan tersesat. Menma malah jadi panik sendiri. "sial"
"Ada apa Menma?" tanya Kushina melihat Menma terburu-buru memakai sepatu.
"Hanya ingin jalan-jalan sebentar" jawabnya asal, kemudian menyambar peta yang ada di meja.
Naruto turun di halte rumah sakit. Ada taman kecil didepan rumah sakit yang agak ramai. Sebuah bola menggelinding ke arah Naruto.
"Kakak! Bisa tendang bolanya kemari?" teriak seorang anak.
Naruto mengerutkan keningnya, berusaha memahami apa yang dikatakan anak itu, kemudian tersenyum. "Bolehkah Kakak ikut bermain?"
Anak-anak itu saling pandang kemudian mengangguk. Naruto mulai menendang bola itu, rasanya menyenangkan menjadi normal lagi. Tidak, setidaknya dirinya lupa kalau dia sudah tuli. Bermain seperti ini jarang dia lakukan di Tokyo. Mereka yang tahu hanya bisa mengolok oloknya atau mengusirnya pergi. Selama hidupnya di Tokyo, Naruto merupakan anak pendiam dan tidak pernah keluar rumah. Cepat marah dan depresi, kesepian ini rasanya mengerikan. Tiba-tiba dunia terasa sepi dalam sekejap, merenggut semua hidupnya yang normal. Terutama mimpi besarnya menjadi seorang komposer musik. Terlalu tidak mungkin digapai sekeras apapun Naruto berusaha menggapainya.
Bus yang ditumpangi Menma mulai melaju. Diperhatikannya handphone Naruto, pasti isinya hanya ada nomor rumah, Kaa-chan, dan Otou-san. Kakaknya yang malang. Sejak kecil, Menma sudah diberi tahu kalau kakaknya istimewa, tanpa memberi tahu dirinya kalau istimewa disini karena kakaknya tidak bisa mendengar, tapi itu malah membuatnya cemburu, jadi dia terus berusaha bersaing dengan kakaknya. Naruto tidak pernah menanggapi Menma, itu membuatnya marah. Suatu hari, Menma membentak Naruto dan bilang kalau kakaknya itu hanya diam saja tapi diistimewakan oleh Kaa-chan dan Otou-san. Tak bisa Menma sangka Naruto malah menatapnya sedih, mulutnya berkata Dia tidak ingin diistimewakan karena tidak bisa mendengar. Sakit. Rasanya penyesalan muncul dihati Menma saat kakaknya berkata seperti itu, kenapa dia tidak pernah bertanya alasan Kakaknya diistimewakan? Bodohnya dia.
Kaa-chan bilang, Naruto tidak mau belajar bahasa isyarat, dia takut merepotkan keluarganya, karena harus bisa bahasa isyarat. Jadi dia belajar dengan keras cara membaca gerak bibir. Kakaknya memang aneh, padahal membaca gerak bibir jauh lebih sulit daripada bahasa isyarat. Diam-diam tanpa diketahui siapapun, Menma belajar bahasa isyarat, mungkin akan berguna suatu saat nanti. Entah mengapa dia sangat yakin akan hal itu.
Kakaknya yang malang, lagi-lagi kakaknya benar-benar malang. Dia sangat mencintai dunia musik, bakat kaa-chan yang seorang pianis diwariskan kepada Kakaknya. Konser pertama dan terakhirnya adalah saat umur kakaknya 5 tahun. Lagi-lagi Menma menyayangkan kenapa bukan Menma saja yang mewarisi bakat itu? Kakaknya pasti sangat depresi dan putus asa.
Menma menutup matanya lama, menekankan dalam hatinya kalau dia sayang pada Naruto, bukan rasa kasihan atau simpati. Dia berusaha agar kakaknya merasa normal bila sedang bersama. Hal itu memang membantu, tapi tidak pernah sampai menyentuh hati terdalam Naruto agar mau melepas kesedihannya selama ini. Naruto tetap tertutup dan penyendiri.
Seseorang duduk dengar kasar disamping Menma. Rambut pendek coklatnya bergerak turun. Merasa diperhatikan, gadis itu menatap Menma dengan mata bulannya. "Maaf jika kau terganggu"
Bagi Hinata ini adalah hari terbaik yang pernah ada dihidupnya. Sebentar lagi Hinata akan menyandang status sebagai mahasiswa di Universitas Konoha mengambil jurusan bahasa asing. Cita-cita keduanya adalah menjadi penerjemah buku bahasa asing, jadi dia bisa membaca sebanyak yang dia mau. Kenapa cita-cita kedua? Karena cita-cita pertamanya adalah menjadi penyanyi. Tapi itu mustahil, suara Hinata lebih mirip penguin terjepit dan menjerit-jerit. Bahkan bibirnya tidak bisa mengucapkna satu kosa katapun dengan benar. Ya, Hinata bisu sejak lahir. Tapi itu bukan masalah bagi Hinata, keluarganya menyayanginya dan selalu mendukungnya. Mungkin, hanya ayah saja yang terlihat psimis pada masa depan Hinata. Lupakan ayah, ini sudah takdirnya dan Hinata akan menjalaninya dengan senang hati.
"Pagi Hinata-chan" sapa Chouji melintas dengan mobil bak terbukanya.
Hinata hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Langkahnya terhenti disebuah toko hewan peliharaan. Ada makhluk mungil yang baru dipajang disana, seekor anak kucing persia putih. Matanya berbinar melihat kucing itu.
"Pagi Hinata-chan" Ucap seseorang tiba-tiba Muncul di dekat kandang kucing kecil itu.
Hinata terlonjak kaget, ditatapnya pemilik toko peliharaan itu 'Kau membuatku kaget kiba'
"Kenapa wajahmu kaget seperti itu?" tanya kiba.
Hinata membuka tas selempangnya, mengeluarkan buku dan mencari pulpen. Tapi tidak menemukan pulpen itu sama sekali. Bola matanya berputar kesal.
Dari balik kaca toko, Kiba menatapnya bingung. Tanpa disangka Kiba, Hinata meniup Kaca toko. Uap udara yang keluar dari mulutnya berhasil membuat kaca itu sedikit buram. Telunjuknya mulai menulis 'Aku lupa bawa pulpen'
"Lalu?" tanya Kiba lagi. Tawanya tertahan melihat Hinata kesal ditanya terus tanpa pulpen dan kertas ditangannya.
Hinata mulai meniup lagi dan menulis 'Aku tidak bisa mengobrol denganmu! '
Tawa Kiba akhirnya terlepas, "Kau ingin sekali mengobrol denganku?"
Hinata mengangguk serius.
"Baiklah mungkin lain kali" Ucap Kiba melambaikan tangannya.
Tangan Hinata kemudian melambai dan melangkah pergi.
Naruto tengah duduk dengan anak-anak yang tadi bermain bola bersamanya, mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah lelah bermain bola.
"Kakak, kau mau pergi kemana?" Tanya salah satu anak.
Tapi Naruto tak menggubris pertanyaannya. Matanya masih menatap lurus kedepan.
"Kakak?" panggil anak itu.
Masih sama, sampai akhirnya mereka mencoba satu persatu, tapi Naruto tetap melihat kedepan.
"Kakak!" panggil anak disamping Naruto sembari menarik baju Naruto.
"Ya. Kenapa?" Tanya Naruto menoleh.
Wajah anak-anak itu heran, tapi kemudian anak yang menarik baju Naruto bertanya "Kakak mau pergi kemana?"
Naruto tersadar, gara-gara asyik bermain bola dia lupa kalau akan pergi ke Universitas barunya. Diambilnya tas yang tergeletak tak jauh dari tempat duduknya.
"Aku harus pergi sekarang. Daah" Ucap Naruto sembari berlari meninggalkan taman.
"Mungkin tadi Dia melamun" celetuk salah satu anak. Yang lain kemudian menganggguk setuju.
Setelah berjalan 15 menit, Naruto yakin kalau dirinya tersesat. Semalam Naruto hanya membaca sampai halte rumah sakit kemudian berjalan 15 menit dan menabrak arah beloknya. Tangannya masuk ke dalam tas mencari-cari sesuatu. Handphonenya tidak ada. Dicari ke semua kantong tetap tidak ada. 'Ah. Sial. Dikamar' Batinnya setelah lama mencari.
"Permisi, Pak apa kau tahu letak Universitas Konoha?" Tanya Naruto pada seorang pembersih jalan.
"Kau lurus saja dari sini, belok kanan kemudian kiri" jawabnya.
"Terima kasih" Ucap Naruto.
'Belok kiri kemudian kanan' batin Naruto mulai berjalan.
"Belum ketemu!" erang Naruto frustasi. Dirinya sudah berjalan lebih dari 1 jam. Berputar-putar ditempat yang sama. Bertanya beberapa kali tetap saja dia tidak bisa menemukan universitas barunya.
"Ini yang terakhir" Ucap Naruto menghampiri gadis berambut Indigo yang berjalan di depannya.
"Permisi nona! Kau tahu dimana letak universitas Konoha?"
Hinata berbalik melihat siapa yang bertanya padanya. Seorang pemuda berambut kuning, kulit tannya penuh dengan keringat. Hinata hanya mengangguk. Kalau saja dia tidak penjemput Shion dulu, Hinata dengan senang hati akan mengantarnya ke Universitasnya juga. Tapi bagaimana menberitahukannya? Pulpennya tertinggal.
"Kau tahu? Kenapa diam saja?"
Hinata mulai menggunakan bahasa isyarat, berharap pria itu mengerti. Tapi keningnya berkerut tajam.
"Aku bertanya dimana universitas Konoha, kenapa kau tidak bicara?"
'Aku tidak bisa bicara tuan'
"Hey jawab aku! Kenapa malah menggerakkan tanganmu seperti itu?"
'Argh! Kau ingin membunuhku ya? Aku bisu'
Mata Naruto menatap lekat-lekat bibir Hinata. Gadis itu tidak bicara, hanya menggerak-gerakkan tangannya. "Hei! Kau mau memberi tahuku atau tidak?" Tanya Naruto.
Hinata benar-benar kesal. Tidak tahukah pria ini? Tangannya sedang bergerak memberi isyarat? Apa dia buta? "AHHK HYATA BHRSHA (aku tidak bisa bicara)" Teriak Hinata marah. Suaranya seperti pinguin terjepit kan? Untung tidak ada orang di sekitar mereka.
Kening Naruto semakin berkerut. "Kau ingin aku cium dulu, baru kau menunjukan letak universitas Konoha?"
Hinata melongo. Oke fiks. Pria ini bukan buta, pasti telinganya terganggu gara-gara earphone yang nyelip di telinganya. Hinata melihat kedua telinga Naruto, dan tidak menemukan earphone disana.
"Baiklah aku akan menciummu" Putus Naruto melihat Hinata Hanya diam memperhatikannya.
Hinata menjerit kesal. Kakinya menghentak-hentak tanah. 'Pria ini menyebalkan!'
"Kau sudah tidak sabar? Yah asal kau menunjukan dimana universita konoha" ucap Naruto mulai mendekati Hinata.
Lagi-lagi Hinata melongo. Tapi dengan sigap tubuhnya mundur sejauh mungkin, kedua telunjuknya menyilang di depan bibir dan menggeleng kuat.
"Nona aku sudah bersabar sejak tadi! Jika kau tidak ingin memberitahuku dimana universitas konoha, jangan katakan kau tahu dimana letaknya" Ucap Naruto, wajahnya mulai menggelap menahan marah.
'Apa? Hei! Dari tadi aku sudah mencoba memberitahumu tuan! Oh! Kau sangat menyebalkan' Hinata menatap Naruto sebal, disini bukan dia juga yang salah.
"Naruto-Nii!" panggil Menma dari arah belakang Naruto.
Hinata menatap anak itu heran, kemudian melihat Pria itu masih menatapnya, mereka hanya berdua disini. Dan anak itu memanggil Naruto-Nii? Apakah pria di depannya.
Menma memegang lengan Naruto, untuk mendapat perhatiannya. Naruto tersentak kaget, sensor jamnya tidak bergetar, tapi ada seseorang yang memegang tangannya. Kepalanya menoleh dan mendapati Menma menyodorkan handphone milik Naruto yang tertinggal.
Hinata tertegun 'Baka! Aku juga bawa Handphone!' tangannya memukul kepalanya sendiri.
"Ayo aku akan mengantar Kakak sampai ke kampus" ajak Menma
Naruto mengangguk. Menma melihat Hinata yang masih memukul kepalanya.
"Maaf sudah merepotkanmu!" Ucap Menma membungkuk.
Hinata memberi bahasa isyarat. 'Tidak apa-apa, aku juga yang salah'
"Pasti repot ya tadi? Sekali lagi maaf dan terima kasih tidak marah dan menyebutkan kata-akat kasar"
Menma berbalik dan berjalan berdampingan dengan Naruto.
"Apa yang kau bicarakan tadi?"
"Iie, Hanya minta maaf" Jawab Menma melihat Naruto.
Tidak ada lagi percakapan setelahnya. Mereka hanya berjalan bersama dalam sunyi. Tak lama mereka sampai di gerbang universitas konoha.
"Apa aku harus menunggumu pulang?" tanya Menma.
"Tidak usah. Berikan saja petanya padaku" jawab Naruto.
Kompleks universitas Konoha cukup luas, dan yang dituju Naruto adalah ruang rektorat bagian kemahasiswaan. Kali ini cukup mudah menemukannya, karena ada peta yang cukup besar yang menggambarkan denah Universitas Konoha.
Mahasiswa hilir mudik di berbagai tempat. Ada yang sedang nongkrong, berjalan, atau yang terburu-buru karena terlambat. Naruto mungkin akan betah disini. Keluar dari raung rektorat, wajah Naruto murung dan kesal. Diremasnya surat yang dibawanya dari dalam ruang kemahasiswaan. "Ditolak masuk jurusan senu musik karena tidak kompeten? Bilang saja gara-gara aku tuli" ucap Naruto semakin kesal.
Matanya melirik ke arah papan penujuk. Ruang musik dilantai 4. Tapi kemudian wajah berpaling, kini pilihan Naruto hanya jurusan seni rupa. Kakinyan melangkah meninggalkan kampus.
"Hey minggir!" teriak seseorang dengan sepedanya.
Sensor jam Naruto berkedip, tapi tidak bergetar. Terdengar suara rem yang menyakiti telinga tepat beberapa cm sebelum mengenai tubuh Naruto.
Pria itu menghempaskan sepedanya dan menarik baju Naruto "Kau tuli hah? Kubilang minggir!"
Naruto menggertakan giginya. Dia memang tuli! Sialan sekali orang ini. Satu tinju melayang kearah pria itu.
BUKKK!
Pria itu terhuyung ke belakang, mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Jalanan ini masih luas. Apa masalahmu?" Tanya Naruto.
Padahal semua memang salah Naruto yang berjalan terlalu ketengah sendiri. Kedua sisi jalan penuh dengan orang dan parkir mobil.
Pria itu bangkit dan membalas pukulan Naruto tepat ke telinganya.
Untuk pertama kalinya sejak kehilangan pendengaran Naruto merasakan kupingnya berdengung hebat. Kepalanya pusing samar-samar terdengar pria itu menyebutnya manusia sampah!
Kemudian sepi. Sepi yang tidak pernah berujung.
Naruto marah, membalas pukulan pria itu lagi, tapi bajunya ditarik ke belakang. Kini Naruto tidak melawan seorang pria. Tapi satu lawan 5 pria. "Sial!"
.
.
.
.
Maaf ya updatenya ga bias kilat :v *sujud lebay* sejauh ini terima kasih untuk reviewnya, dibaca tapi ga dibales gpp kan? *mata blink-blink*
.
.
.
Mind to R&R?
