Naruto © Kishimoto Masashi
Genre: Romance - Angst
Warning: AU, OOC
(2)
More than Words
"Kali ini siapa?"
Itachi mengangkat bahu, tak menanggapi sepupunya yang tiba-tiba masuk dan melancarkan pertanyaan itu kepadanya. Shisui melihat kertas putih yang tak lagi kosong di atas salah satu meja dan mengambilnya. Di sana, dia bisa membaca tiga nama yang sepertinya adalah nama wanita. Shisui yakin kertas itu ditulis oleh pamannya untuk Itachi. Ya, calon-calon selanjutnya untuk Itachi karena pemuda itu selalu menolak tawaran dari ayahnya.
"Mari kita lihat," jeda sejenak, "Inuzuka... Apa kau pernah mendengar ini?" Shisui melanjutkan pertanyaannya.
"Entahlah." Jelas sekali Itachi tidak bersemangat menjawabnya.
"Baiklah, selanjutnya… Yamanaka. Hei, ini bukan pilihan yang buruk!" Shisui masih bersemangat menjadi biro jodoh bagi Itachi.
"Diamlah! Aku belum mau memikirkan hal ini." Itachi lebih tertarik untuk membenahi pakaiannya.
"Begitu? Kau yakin untuk yang satu ini?" terdengar nada manggoda pada suara Shisui. Namun gagal, karena hal tersebut tidak memberikan efek bagi Itachi. "Ada Hyuuga dalam daftar ini. Aku tidak salah lihat 'kan?" Kali ini suaranya lebih keras, berharap sepupunya akan tertarik untuk nama yang baru dia sebutkan.
Shisui melihat ada yang berbeda dengan bahasa tubuh Itachi. Meskipun sedikit, dia bisa menyadarinya. Ya, Itachi mulai memberi respons.
"Kau pikir ada berapa Hyuuga di kota ini?" tanya Itachi santai. Sikapnya masih tenang seperti biasa.
"Tentu saja yang kemarin itu." Shisui mulai kesal dengan sepupunya yang masih jual mahal. Maksud Itachi sebenarnya, bagaimana bisa sepupunya itu begitu yakin. Keluarga Hyuuga memiliki populasi yang lumayan banyak, yang mereka datangi kemarin hanyalah keluarga utama.
"Di sini tertulis nama Hinata." Sekali lagi, Shisui melihat ada yang berbeda dengan Itachi, "Kau masih belum yakin?" dan Uchiha itu menyeringai kecil di akhir ucapannya.
"Kita hampir terlambat." Itachi keluar dari kamarnya. Putra sulung Fugaku itu lebih memilih untuk berlatih sore ini. Sebagai ketua, dia memang diharuskan untuk memberi contoh yang baik kepada anggota lain.
"Hei, tunggu aku!" teriak Shisui sembari meninggalkan kamar. Kertas yang tadi dipegangnya tergeletak begitu saja di atas lantai.
.:oOo:.
Tadi pagi Hinata mengunjungi tempat kerja pegawai karena suasana belum terlalu ramai. Beberapa pekerja telah datang dan putri sulung Hiashi itu menyapa mereka dengan ramah. Hinata mencari-cari suatu tempat yang mungkin menyimpan apa yang sedang dibutuhkannya. Perhatiannya tertuju pada sebuah meja lebar. Hinata berjalan mendekat dan di sana dia dapat melihat tumpukan kain serta beberapa catatan.
Sekali lagi, Hinata melihat keadaan sekitarnya dan mulai membuka salah satu laci meja secara perlahan agar tidak menarik perhatian. Dia mengeluarkan satu bendel tumpukan kertas dan mulai membacanya. Gadis itu membaca setiap hurufnya dengan teliti karena catatan tua yang sudah digunakan bertahun-tahun tersebut sangat membingungkan. Setelah menemukan apa yang dicari, Hinata berusaha mengingat tulisan yang tertera di sana dan menaruhnya kembali ke tempat semula. Ia kemudian berjalan, beralih pada tempat penyimpanan kain dan mengambil beberapa helai sesuai dengan kebutuhan.
Hinata kini pergi keluar untuk mencari udara segar setelah berkutat dengan kegiatan yang dibuatnya selama setengah hari ini. Dua wanita dari Bunke menemaninya menuju sebuah taman yang belakangan sering dikunjunginya. Di sana terdapat jembatan pendek yang menghubungkan dua area berbeda karena terbelah kolam kecil yang memanjang. Teratai-teratai putih tumbuh di atas air kolam berlumpur. Beberapa di antaranya tampak menarik dengan warna merah jambu.
Tiga orang Hyuuga tersebut mendekati salah satu balai yang ada di sana. Tempat itu terbuka, tidak terlalu luas, dan memiliki atap. Lantai alasnya tiga puluh centimeter di bawah pinggang orang dewasa. Secara keseluruhan, balai itu tampak seperti gubuk dengan konstruksi bahan dari kayu. Hinata duduk dengan kaki menggantung, mengamati sekeliling, dan menghirup udara sore yang sejuk. Gadis itu selalu betah berlama-lama di tempat ini karena pemandangan yang memanjakan mata. Di beberapa tempat, berbagai bunga tumbuh berkelompok menurut jenisnya. Tak lupa hamparan rumput dengan warna hijau segar hadir untuk saling melengkapi.
Putri sulung Hiashi tergugah untuk menaikkan kakinya, menekuk kedua lututnya di sisi kanan tubuh dan melepaskan pelukan dari benda yang sejak tadi dipegangnya. Hinata menempelkan pola yang dibuatnya ke atas selembar kain berwarna merah. Jemarinya menelusuri sisi luar kertas dan membuat coretan di permukaan kain yang masih bersih. Dia melakukannya dengan telaten. Namun, konsentrasinya bubar saat suara dari sekelompok orang mulai terdengar.
Sekitar tujuh belas meter dari tempatnya sekarang, Hinata bisa melihat sekumpulan laki-laki berjalan dengan membawa pedang kayu. Gadis itu menghentikan kegiatannya dan mengamati mereka satu per satu. Tidak biasanya mereka melewati tempat ini. Suatu kejadian yang tak biasa juga jika perhatian Hinata sepenuhnya teralih pada seseorang di sana. Bahkan, kini dia berharap orang itu menyadari keberadaannya dan melihat ke arahnya.
Hinata menganggap dirinya sebagai gadis paling beruntung ketika pengharapannya terkabul. Entah ada apa, tetapi pemuda itu tiba-tiba menoleh ke arahnya. Hinata terkejut meskipun mereka berada pada jarak pandang yang jauh sehingga dia lebih memilih untuk menundukkan kepalanya. Gadis itu baru tahu namanya tadi pagi, dan Hinata senang bisa bertemu Gaara di tempat ini.
"Apa mereka juga menggunakan lapangan di sana untuk berlatih?" tanyanya saat sekumpulan pasukan tadi mulai menjauh.
"Sepertinya tempat yang biasa tidak bisa digunakan hari ini. Pegawai istana sedang melakukan persiapan untuk menyambut tamu dari negeri tetangga," jawab salah satu Bunke.
Hinata sekali lagi memandangi mereka yang akan berlatih. Kemudian, dia kembali menyibukkan diri pada lembaran kain dan siap memotongnya. Saat matahari terbenam, si gadis Hyuuga memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya di rumah. Rasanya ingin sekali untuk segera menyelesaikan jahitannya ini.
.:oOo:.
Dunia tempatnya berada sudah gelap saat dirinya sampai di rumah. Kegiatannya selalu rutin dan terjadwal. Apapun itu, asalkan masih ada hubungannya dengan pemerintahan. Seperti juga sekarang ini, pemuda itu baru saja selesai berlatih bersama teman-teman setimnya.
Gaara menggeser pintu kamar sekembalinya dari ruang makan. Sejenak, dia ingin mengistirahatkan diri. Laki-laki itu merebahkan kepalanya di atas futon tempatnya tidur. Matanya menatap langit-langit, memandang jendela terbuka yang menyajikan awan hitam di luar sana, dan beralih pada tatami yang melapisi lantai.
Gaara tertarik pada lantai rumahnya. Bukan karena anyaman dari tatami yang sangat rapi, melainkan pada bungkusan yang tergeletak begitu saja di atas lantai. Dia menerima kiriman itu tadi pagi. Gaara ingat bahwa seseorang dari Hyuuga memberikan ini padanya. Dan Gaara sangat ingat ketika pria itu berkata, "Ini dari Hinata-sama untuk Anda."
Keingintahuan memaksanya untuk bangkit. Dia mengambil bungkusan itu dan membuka kain yang melapisinya. Gaara meraih isinya lalu membentangkannya lebar-lebar. Sebuah hakama lengkap dengan atasan berwarna merah seukuran tubuhnya siap untuk dipakai. Jenis kain ini sama persis dengan seragam lama miliknya.
Tentu saja, gadis itu yang membuat. Siapa lagi?
Gaara mengurutkan potongan peristiwa yang ada. Dia bertemu dengannya saat berusaha menangkap seekor tanuki. Gadis itu tak sengaja menumpahkan teh ketika dia berkunjung ke rumahnya. Sekali lagi, Gaara melihatnya sibuk dengan sesuatu berwarna merah saat akan latihan dua hari yang lalu. Jadi, untuk apa pakaian ini? Terkadang, menerka pikiran wanita bukanlah hal yang mudah.
.:oOo:.
Lapangan milik prajurit istana riuh seperti biasa. Namun, keramaian ini akan segera berakhir karena komandan mereka memutuskan untuk mengakhiri latihan hari ini. Begitu juga dengan Itachi, dia membubarkan anggotanya yang kebanyakan masih berusia muda. Ketua tim lainnya melakukan hal yang sama karena mendung telah memayungi Konoha.
Gaara melepas baju pelindungnya dan meletakkan pedang kayu di tempat seperti biasa. Sepertinya halnya yang lain, dia membaur untuk berjalan keluar lapangan bersama. Di luar, sesuatu yang terasa basah dan dingin mulai jatuh dari langit.
Tanah tempatnya berpijak tak lagi kering. Titik-titik yang jatuh semakin banyak, membuat warna tanah menjadi lebih gelap. Rumah adalah satu-satunya tujuan di cuaca seperti ini, pikirnya.
Gaara merasakan seragamnya menjadi berat. Tanpa ada keinginan untuk berteduh, dia terus menyusuri jalan pulang. Namun, ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya. Gaara tetap tidak tahu apa yang dipikirkannya hingga angin membawanya ke tempat ini. Dia melangkahkan kakinya di atas jalan setapak, mengikuti arahnya, dan menemukan sesorang masih di sana.
Ya, tentu saja, bayangan Hinata yang dia lihat sebelum berangkat latihan tadi akan muncul dalam kepalanya saat hujan seperti ini. Gadis itu hanya sendiri di sana, menunggu hujan reda karena tidak membawa payung.
Memenuhi keinginannya sendiri, Gaara mempercepat langkah, berlari, lalu menyeberang jembatan kecil dengan panjang tak seberapa. Dia berhenti untuk berteduh. Tubuhnya disokong lantai balai tempatnya bernaung dari cuaca yang tidak bersahabat. Atap kayu yang tak begitu tinggi melindunginya dari hujaman air layaknya jarum yang menyerbu kulit.
Hinata menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dan sempat melihat tetesan air jatuh di lantai balai hingga akhirnya meresap melalui celah-celah kecil yang tak terlihat. Gadis itu menurunkan kakinya, membiarkan dirinya sendiri duduk dengan kaki menggantung. Dia menunduk sambil memainkan jari dengan gelisah karena tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan untuk orang di sampingnya.
Dua orang itu masih diam seakan mereka hanya seorang diri di tempat tersebut. Selama beberapa menit hanya ada suara berisik air hujan yang terjun mengenai atap.
"Kau sering ke sini?"
Hinata terkejut mendengar suaranya. Gaara mampu menarik perhatiannya untuk sekadar menoleh pada pemuda yang sedang memandangi kolam teratai. Sesaat bahkan dirinya lupa bahwa ada pertanyaan yang butuh untuk dijawab.
"Y-ya." Sunyi kembali menghampiri.
Untuk ukuran Sabaku junior, mengajak orang lain bicara lebih dulu adalah hal yang tak biasa. Hinata bukan pembicara yang baik, tapi dirinya berusaha mengumpulkan seluruh keberanian untuk membuat perbincangan yang menarik. Bagaimanapun juga, dia tak boleh mengacuhkan Gaara yang mengajaknya bicara dan menurut Hinata hal itu adalah sebuah niat baik.
"A-anda ba-baru selesai latihan?"
Hinata mengutuk dirinya sendiri karena tak bisa mencari bahan perbincangan yang lebih menarik. Padahal beberapa jam lalu dia sendiri yang melihat laki-laki itu berangkat latihan dan –tentu saja– laki-laki itu juga melihatnya. Gaara mungkin akan menganggap Hinata aneh karena pertanyaannya yang klise.
"Hm."
Jawaban yang singkat itu membuat nyalinya menciut. Hinata terus saja mengamati sekelilingnya, mencari semua hal yang kiranya bisa dia gunakan untuk memecah kebisuan. Ayolah, mereka bisa membahas cuaca hari ini. Bukankah hal tersebut lumrah untuk dibicarakan? Atau mungkin keadaan tentang pemerintahan kaisar sekarang yang telah berjalan selama tiga puluh tahun.
"Um... A-apa kediaman Anda jauh dari sini?" Namun Hinata lebih memilih bahan percakapan lain.
"Hutan bambu itu," Gaara mengarahkan pandangannya pada lahan bambu yang terletak sebelah barat laut di seberang jembatan. "Masuk jalan di tengahnya dan belok ke kiri setelah blok pertama. Ada puluhan rumah di sana dan kau bisa bertanya di mana keluarga Sabaku tinggal."
Hinata mengira-ngira bahwa blok pertama berjarak dua ratus meter dari jalan utama. Menurutnya jarak itu tidak terlalu jauh jika Gaara berlari dan dia bisa sampai rumah secepatnya. Namun tiba-tiba ia merasa canggung saat sadar bahwa Gaara memberi tahu letak rumahnya secara detail.
"Kau heran mengapa aku tidak langsung pulang?"
"Eh?" Dan orang itu tahu apa yang dia pikirkan bahkan tanpa perlu memberitahunya.
"Aku perlu berteduh." Hinata sempat melihatnya memejamkan mata sejenak.
"Se-sebelumnya juga kupikir hujan akan reda. Tapi ternyata justru makin deras." Hinata sekali lagi memandang orang di sampingnya yang sedari tadi bicara tanpa melihatnya. "Sayang sekali Anda tidak berteduh di sepanjang jalan tadi."
Gadis itu menduga jika Gaara terus berjalan karena hujan mungkin akan berhenti. Lalu pemuda itu kemari karena keadaan alam tak sesuai dengan perkiraannya. Namun, pemikirannya sungguh jauh berbeda dengan pemikiran Gaara.
"Aku ingin di sini," si rambut merah tiba-tiba menoleh pada lawan bicaranya, "Kau tidak suka?"
Dalam sekejap, Hinata bisa merasakan panas menjalari wajahnya. "B-bukan begitu…" jawabnya cepat. Menunduk tak sanggup menutupi semuanya karena Gaara jelas tahu jika gadis itu gugup. Kemudian, Gaara berbaik hati untuk berpaling.
"Baju itu sudah tidak diperlukan lagi," si prajurit kembali membuka mulut. Hinata tahu apa yang dibicarakannya. Hinata juga tahu bahwa pakaian yang dia berikan untuknya adalah seragam lama. Tapi ia membuatnya dengan senang hati dan tak mempermasalahkan jika Gaara tidak menggunakannya.
"Meskipun seragam lama, tak ada yang bisa melarangku memakainya."
Entah hal apa yang tiba-tiba masuk ke dalam jiwanya. Hinata hanya tahu bahwa kini dirinya merasa bahagia karena kerja kerasnya membuahkan hasil. Apa yang lebih membuat dirimu puas saat seseorang mau menerima dan mempergunakan dengan baik sesuatu yang telah kau berikan.
"Untuk apa kau membuatnya?" dia bertanya lagi.
"Waktu itu baju Anda kotor… dan aku merasa bersalah…" Hinata bersorak dalam hati karena bisa membuat alasan yang tepat tanpa tergagap.
"Apa itu hal yang penting? Noda teh bisa dihilangkan dengan mudah."
Salah, Hinata belum selamat.
"Um… ju-juga… yang waktu itu. Te-terima kasih telah menolongku." Benar, Hinata dapat menggunakan alasan lain tentang waktu itu di telaga. Berbeda dengan gadis yang saat ini tengah merasa lega dengan jawabannya, Gaara justru menilai jawaban seperti itu terlalu mudah ditebak. Memangnya apa yang dia harapkan? Sungguh, Gaara tidak bisa membayangkan jika Hinata berkata 'Kau tahu kenapa aku membuatnya? Karena aku menyukaimu!' dengan lantang.
"Begitu?" Gaara menghela napas panjang, merasakan embusan angin yang menyebar aroma hujan, lalu memutuskan untuk duduk. "Sepertinya aku mengharap lebih dari yang kau katakan."
Hinata menatap laki-laki di sampingnya. Dalam sepi dia berusaha menelaah arti dari apa yang baru saja pemuda itu ucapkan. Hingga akhirnya pemikiran tersebut membawanya pada satu kesimpulan. Namun benarkah? Hinata ingin percaya karena dengan begitu hatinya akan berbunga-bunga. Di sisi lain, dia merasa bahwa dirinya terlalu percaya diri. Mana mungkin kata 'lebih' yang dimaksud Gaara adalah…
Warna merah kembali hadir pada pipi gadis itu. Imajinasinya kini telah melayang entah ke mana. Ya Tuhan, Gaara berhasil membuat persaannya campur aduk. Hinata memutuskan untuk tak menanyakannya lebih lanjut.
Hujan masih belum reda. Riak air dari kolam menciptakan melodi konstan yang menenangkan. Dan Hinata bisa meraskan semilir angin menggoyangkan rambutnya yang terikat. Mungkin keadaan ini lebih baik. Berdua dengan seseorang yang kau anggap istimewa di bawah atap yang sama kala hujan dan merasakan percikan air yang sesekali menerpa wajahmu. Dingin, tapi terasa hangat.
Salah satu dari mereka tak ada yang membuka mulut. Membiarkan keheningan ini terus berlanjut terasa nyaman. Mungkin ada yang menganggap bahwa perasaan tak akan tersalurkan tanpa adanya kata. Namun ini berbeda. Keheningan seperti ini lebih dari kata-kata yang seakan bisa mengungkapkan gejolak jiwa dari relung hati yang terdalam.
Ah, situasi sedang tidak mendukung karena gadis itu mendengar derap langkah mendekat ketika dirinya mengayunkan kakinya dengan santai. Hinata menengok ke arah asal suara. Gaara juga menuju arah pandang yang sama dan matanya dapat menangkap seorang laki-laki berambut panjang warna gelap. Tangan kanannya membawa payung yang terbuka sedangkan satunya memegang payung yang masih terlipat. Hinata menjatuhkan sepasang geta ke atas tanah dan memakainya saat orang itu mendekat.
"Maaf menunggu lama, Hinata-sama."
Perempuan berambut panjang tersebut tersenyum dan menggeleng pelan. "Terima kasih Nii-san," ucapnya. Gaara melihat Hinata meraih salah satu payung dan membukanya. Sesaat Gaara mengamati pemuda tadi dan sadar bahwa ada simbol sangkar burung di dahinya. Pandangannya teralih kembali pada si pewaris Hyuuga saat gadis itu berbalik. Dua orang dengan mata identik tersebut sedikit membungkuk serta mengucapkan salam. Gaara lekas bangkit, membungkuk, dan membalas kembali salam mereka.
Kini pemuda lajang itu hanya seorang diri. Tentu saja, pulang adalah tujuannya sekarang. Jika memang mau, Gaara bisa kembali ke rumah sejak tadi tanpa perlu mencari jalan dengan jarak lebih jauh dari biasanya. Tak mengapa kalau tujuannya adalah menemui perempuan itu. Ya, menemui Hinata.
~o~
More than Words, a song by Extreme
~o~
T B C
Untuk lagu ini, I like Westlife version better than the original one.
Ada kritik dan saran? Silakan review :)
