A/N: Happy Kazemaru Hiroto Day \8D/. Fic ini ditujukan untuk mereka berdua walau tidak ada romance sedikitpun, karena bagi saya mereka adalah 'pasangan

gontok-gontokan' lol.

.

All's [Well] That Ends [Well]

.

-Spekulasi 2-

Dua, Celana, dan Delapan Belas

-special for Kazemaru Hiroto Day-

.

.

Warning: OOC. OOC. OOC. Sedikit slash hint. OOC. Spekulasi tidak penting. Typo. Sudahkah saya menulis OOC? Masih Tsun!Kazemaru...dengan tambahan Yandere!Hiroto. Stalker!Hiroto?

Characters (tidak beruntung): Kazemaru Ichirouta, Kiyama Hiroto, Endou Mamoru, Gouenji Shuuya, Kidou Yuuto, Kino Aki, Otonashi Haruna.

Disclaimer: Level-5 ... dan Sinta Damayanti selaku doujinka dan pemilik ide.

.

.

Pagi hari ini merupakan pagi yang cerah, saat yang cocok untuk berlatih. Para anggota Inazuma Japan kini tengah menikmati sarapannya, beberapa ada yang sudah menyelesaikannya dan pergi ke lapangan terlebih dahulu, beberapa ada yang memutuskan untuk menetap di ruang makan lebih lama dengan maksud minta tambah dua atau tiga porsi lagi seperti halnya Heigorou. Tidak lepas juga dari seorang oknum yang masih setia berkutat dengan botol sambalnya. Benar-benar pagi yang dam—

"AAAAAAAAAAAAAHHH!"

Oh, ralat. Pagi ini nampaknya tidak termasuk dalam konteks pagi yang damai.

Sang kapten Inazuma Japan, Endou Mamoru hampir saja terganggu sistem pencernaan mekanisnya mendengar suara teriakan tersebut. Sementara Shuuya mendapat ancaman pembunuhan dari Yuuto karena tidak sengaja menumpahkan kopinya ke jubah pemilik rambut dread yang baru dicuci tersebut.

Mamoru tampak mengenal pemilik suara tersebut. Nada suara yang lebih rendah darinya, tetapi tidak seberat Shuuya maupun Yuuto.

"Hei, Gouenji, Kidou, itu... teriakan Kazemaru?" tanya Endou kepada sosok pemuda bergoogle yang hampir melakukan kekerasan dan sosok pemuda berambut bawang yang tengah melindungi diri. Detik itu juga Endou mengernyitkan dahinya, bingung pada kelakuan kedua temannya itu. 'Kalian sedang apa, sih?'

"Sepertinya begitu, dan kurasa dia sedang berada di ruangan sebelah ..." jawab Shuuya sambil berusaha melepaskan cengkeraman Yuuto dari kerah bajunya. "Ayo kita lihat."

"Hei, Gouenji jangan kabur kau—" cegah Yuuto, tetapi terlambat karena personifikasi bawang putih tersebut sudah melesat ke arah pintu keluar bersama sang kapten. Sebagai wakil kapten (?) yang baik dan demi membalas perbuatan (sepele) Shuuya, Yuuto langsung beranjak dari meja dan menyusul mereka berdua.

.

.

Ruangan dengan bau sabun ini mungkin merupakan ruangan pembawa sial bagi sang defender bernomor punggung dua itu.

Tempo lalu celana renangnya robek (dan secara tidak dewasa dia menyalahkan Hiroto)

—dan sekarang ada kejadian lain (dan bolehkah dia kembali menyalahkan Hiroto?)

Demi dewa sepak bola, apa Ichirouta boleh berspekulasi kalau Hiroto sudah berkoloni dengan penunggu ruangan ini sehingga dia terus menerus terkena sial tiap kali menjejakkan kakinya ke dalam?

Apapun itu, di dalam ruangan laundry ini, Ichirouta sedang terduduk lemas. Menatap sebuah kawat jemuran tempat ia menggantung pakaian-pakaiannya.

'Kenapa dari semua yang ada, harus itu yang hilang?'

.

.

"Kazemaru!"

Mamoru memasuki laundry dengan terburu-buru. Selang dua detik, Shuuya dan Yuuto menyusul di belakangnya.

Ichirouta menoleh ke sumber suara, lalu mengangkat alis. Bingung kenapa trio Inazuma Break itu tiba-tiba muncul sambil lari-lari begitu. Ada kebakaran?

"Kalian kenapa?"

"Kami mendengar teriakanmu dari ruang makan. Kau kenapa?" tanya Mamoru panik dengan nada tak karuan. Sangat terlihat kalau dia sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.

"Eeeh? Memangnya tadi aku berteriak yah?" Kazemaru malah balik tanya dan memasang wajah kaget. Ternyata saking syoknya, dia sampai tidak menyadari kalau dia barusan berteriak saat dua menit yang lalu.

Detik itu juga Mamoru ingin menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai. Sementara Shuuya yang memegang prinsip sebagai karakter (sok) cool mencoba untuk bersikap tenang dan meluruskan masalah.

"Ya, tadi kau berteriak. Pasti ada sesuatu. Coba ceritakan pada kami," ucap Shuuya dengan tenang. Di belakang, Yuuto mengangguk setuju.

Ichirouta menggaruk pipinya, melirik sebentar ke arah luar lalu kembali lagi pada ketiga temannya. Telunjuknya diarahkan pada jemuran di balkon, "Begini, Kemarin aku menjemur pakaian-pakaianku di situ, tapi tadi malam aku lupa mengambilnya... "

"Lalu?" Mamoru menyimak dengan serius. Apa pakaiannya ada yang robek lagi? Tetapi ketika ia melihat kondisi jemuran yang ditunjukkan Ichirouta, rasanya tidak ada yang aneh.

"... dan begitu aku ingin mengambilnya sekarang, ada yang hilang... "

"Dan yang hilang adalah?" tanya Yuuto sambil menaruh tangan di dagunya. Layaknya seorang detektif yang sedang menanyakan kasus kepada korban.

"... ugh... celana dalamku..." Kazemaru mengakhiri pengakuannya dengan berat dan penuh rasa malu.

Tik. Tik. Tik.

"Oooh... cuma celana dalam toh... " Mamoru menghela nafas lega sambil meletakkan tangan di dadanya. Tiga detik kemudian, ekspresinya langsung berubah, "EEEEEH? CELANA DALAM?"

Benar-benar sahabat sejati. Baik sang kiper maupun sang defender sama saja lemotnya.

"Hm, walau yang hilang itu kaus atau semacamnya, aku masih mengerti, tapi kalau yang hilang itu pakaian dalam... itu masalah," kata Shuuya yang ikut terkejut tadi. Memang benar perkataan sang striker itu, karena kalau yang hilang itu pakaian dalam... itu berarti yang mengambilnya itu mengalami kelainan. Apalagi itu pakaian dalam laki-laki.

"Lalu Kazemaru, sekarang kau tidak pakai apa-apa?"

Perhatian, perhatian, perhatian. Pertanyaan tersebut keluar dari mulut sang gamemaker, Kidou Yuuto. Wow. Apakah hari ini Heigorou akan puasa makan malam?

"Tentu. saja. aku. pakai. Kidou." Ichirouta menjawab dengan penuh penekanan. Geram, tetapi sekaligus heran. Si maniak penguin ini sebenarnya berniat bertanya atau bercanda sih?

Sebagai kapten dan teman yang baik, Mamoru pun berinisiatif untuk membantu Ichirouta. Dia menepuk pundak pemuda bermata madu itu dan mengeluarkan senyum andalannya, "Tenang Kazemaru, akan kupanggil orang-orang yang bisa menyelesaikan masalah ini."

—dan sebelum Ichirouta mencegah, sang kapten sudah melesat keluar ruangan.

.

.

5 menit kemudian.

"Jadi, begitulah ceritanya... "

Forum diskusi kini dibuka. Lokasi masih di ruangan yang sama. Pesertanya adalah Mamoru (selaku pemimpin diskusi), Ichirouta (selaku korban dan topik diskusi), Yuuto (yang diharapkan bisa memecahkan masalah), Shuuya (yang diharapkan bisa menenangkan keadaan), dan kedua orang yang baru saja diseret oleh Mamoru... Aki dan Haruna.

"Oh begitu... ah! Jadi sekarang Kazemaru-senpai tidak pakai apa-apa?" tanya Haruna dengan raut wajah yang sedikit memerah.

"AKU PAKAI!" jawab Kazemaru cepat. Dalam hati ia heran, kenapa dua saudara ini pertanyaannya sama saja. "Yang hilang kan jemuranku, bukan pakaian yang kupakai sekarang... "

"Ooh, habis tadi Endou-senpai tidak bilang kalau yang hilang itu dari jemuran."

"..."

"Lalu Endou-senpai... kenapa kau bertanya pada kami, para perempuan?" tanya Haruna lagi. Sedikit sweatdrop. Karena tadi tak ada angin maupun hujan, dia dan Aki (Natsumi sedang berdiskusi dengan Hibiki sementara Fuyuka sedang bersama dengan ayahnya) dipanggil begitu saja oleh Mamoru. Ditarik lebih tepatnya.

"Sebenarnya bukan mau menuduh sih, tapi kan aneh kalau laki-laki mencuri celana dalam laki-laki," jawab Mamoru. Mukanya ikut memerah, karena bagaimanapun juga ia malu untuk mengangkat topik ini kepada perempuan..

"Benar juga sih, mana ada laki-laki yang mengambil celana dalam la—"

"ADA!"

Bagaikan titik fokus pada sebuah komposisi, kelima pasang (atau keenam pasang? Jika sebuah google masuk hitungan) tertuju pada sang pemberi opini. Sang manjer musim gugur, Aki.

"Pelakunya pasti Gouenji-kun!" tukas Aki mantap, sambil menunjuk Shuuya dengan gaya yang tidak kalah mantap pula.

Kini kelima (atau keenam) pasang mata berpindah dari Aki menunju Shuuya.

Tik

Yang tertuduh hanya bisa kaget dan melepas semua gelagat (sok) coolnya, "APAAAA?"

Sudah jelas Shuuya tidak terima dituduh begitu saja, tetapi Aki masih punya bukti lain.

"Ingat tidak? Itu lho, waktu Raimon pertama kali melawan Teikoku... "

"Ya? Ya?" Mamoru dengan serius mendengarkan Aki, begitu juga dengan Yuuto.

"Gouenji-kun kan mengambil seragam nomor sepuluh yang dijatuhkan oleh Megane-kun, tetapi kan tidak mungkin dia muncul di pertandingan dengan atasan baju olahraga dan bawahan celana panjang... "

"Ja...jadi maksudmu... ?" Mamoru mulai menduga apa yang Aki katakan selanjutnya.

"Sudah pasti, kan? Gouenji-kun juga pasti mengambil celana Megane-kun!"

Satu hit. Dua hit. Combo.

"Hm, benar juga." Yuuto menyetujui perkataan Aki.

Benar juga, tambah satu lagi bahan spekulasi baru. Adegan yang terlihat pada saat pertandingan pertama Raimon dan Teikoku adalah adegan Kakeru menjatuhkan kaus seragam, tetapi tidak ada yang tahu bagaimana caranya Shuuya bisa muncul ke lapangan dengan seragam olahraga lengkap. Jangan-jangan memang Shuuya...

Tik

"Jangan sembarangan mengambil kesimpulan!" teriak Shuuya kepada siapapun yang berpikiran aneh-aneh.

Forum diskusi kini merambah pada topik lain. Malangnya Ichirouta yang sedari tadi mulai dilupakan.

Sabar yah.

.

.

"Hn, asal tahu saja. Aku ini tidak tertarik pada celana dalam," sanggah Shuuya mantap. Menyangkal mati-matian tuduhan dari sang manajer berambut hitam itu.

Perhatian, perhatian, perhatian. Kalimat Shuuya di atas sudah diberi tabir tersendiri bagi orang biasa. Kalau kalimat tersebut didengar oleh sesama penderita Sister Complex, akan terdengar menjadi seperti ini:

[ "Hn, asal tahu saja yah. Aku ini tidak tertarik pada celana dalam... kecuali punya Yuuka." ]

Tik

"Hoo, begitu yah?" Yuuto membalas dan mengeluarkan seringainya. Oh dan sudah pasti Yuuto bisa mendengar kalimat yang dicetak bold tersebut. "Aku juga tidak tertarik pada celana dalam."

Sudah jadi rahasia umum bukan kalau Yuuto juga sama-sama penderita Sister Complex? Maka jika filternya dilepas, kalimatnya akan terdengar seperti ini.

[ "Aku juga tidak tertarik pada celana dalam... kecuali punya Haruna." ]

Tik

Highfive.

Toast antara Shuuya dan Yuuto pun tidak terlewatkan. Kini mereka saling berjabat tangan. Damai. Pasangan Prime Legend sejati yang mengerti satu sama lain. Oh, inilah teman sejati!

Kemudian diakhiri oleh Haruna yang menjitak kepala keduanya, sambil berteriak "DASAR MESUM!"

Oh, karena Haruna menjadi sasaran Sister Complex, mungkin ia bisa mendengar percakapan yang dicetak tebal tersebut. Mungkin.

.

.

"Ada apa ini ribut-ribut?"

Rupanya volume suara yang dihasilkan forum diskusi cukup besar sehingga terdengar sampai keluar ruangan dan membuat seseorang penasaran. Seseorang itu adalah sang midfielder dengan nomor punggung delapan belas. Seseorang yang dulunya mengaku Alien (atau lebih tepatnya terpaksa mengaku alien?). Kiyama Hiroto.

Pasangan berkelahi Ichirouta secara diam-diam.

"Oh, Hiroto, ayo kemari. Jadi... " perkataan Mamoru terputus ketika kedua matanya tertuju pada sesuat yang dipegang oleh pemuda berambut merah itu. Sebuah kain berwarna abu-abu.

—dan walau dalam posisi yang terlipat, dari pola jahitan dan potongannya sudah bisa ditebak kalau yang dipegang oleh Hiroto adalah.

Sepotong celana dalam.

'APAAAAAAAAAA?' teriak Mamoru dan Ichirouta dalam hati. Ketiga orang lainnya pun terperanjat.

Walau tidak ada motif khusus apapun seperti bentuk hati atau garis atau semacamnya, Ichirouta tahu betul kalau yang ada di tangan mantan alien itu adalah celana miliknya.

Kembali ke spekulasi awal Ichirouta, nampaknya Hiroto memang bersekutu dengan penunggu laundry.

"Hi-Hiroto-senpai... i-itu. Apa itu punya Kazemaru-senpai?" tanya Haruna ragu, belum lepas dari rasa kagetnya.

Hiroto menunjuk apa yang ia pegang—yang ternyata memang celana dalam—dan diam sebentar, kemudian berkata dengan polos seolah tidak terjadi apa-apa, "Oh, ini punya Kazemaru-kun?"

Ichirouta hanya diam dan maju mendekati Hiroto, lalu melipat kedua tangannya. Tidak lupa dengan senyum sarkatisnya. "Begitu inginnyakah kau dengan celanaku dalamku sampai mengambilnya diam-diam?" tuduhnya langsung.

Dalam hatinya Ichirouta mengumpat, 'Dasar alien mesum!'

Yang tertuduh hanya memasang senyumnya. Masih senyum tanpa dosa, senyum orang baik ala Kiyama Hiroto. Sambil mengembalikan potongan kain itu kepada pemuda beramut turquoise. "Oh, tadi kukira ini sampah, jadi mau kubuang ke tempat sampah."

.

—dan tak ada seorangpun yang tahu apa yang ada di dalam pikiran Hiroto, 'Sial, kukira itu punya Endou-kun!'

.

Di tengah aura-aura yang menyamai badai angin dan hujan meteor, Haruna menepuk tangannya dan mencoba menyimpulkan, "Ah! Berarti celana Kazemaru-senpai terbawa angin dan jatuh yah?"

Kerja bagus Haruna! Kau sukses menihilkan kemungkinan adanya adegan pembunuhan tengah malam.

Semua yang di sana (kecuali Ichirouta dan Hiroto tentunya) ber-ooooh ria. Yuuto menggumam pelan 'Adikku memang pintar.' Sementara Aki diam-diam masih ingin berpegang teguh pada kemungkinan kalau pelakunya adalah Shuuya.

Ichirouta dan Hiroto masih berpandangan, kemudian sama-sama tersenyum.

Senyum yang penuh arti tepatnya.

.

.

Di balik wajah tak berdosanya, Hiroto bersumpah untuk mengasah matanya lebih tajam.

Agar dapat membedakan mana yang milik Ichiriouta dan mana yang milik Mamoru.

Agar kemampuan yang menunjang dirinya untuk menjadi pencuri tidak sia-sia.

(Oh, Hiroto memang belum mengetahui kalau pakaian dalam milik Mamoru pasti bernama)

Tapi memang salahnya juga karena impulsnya terlambat untuk memasukkan barang curiannya ke dalam kantungnya ketika memasuki ruangan laundry tadi. Salahnya juga karena dari pertama ia membawa-bawa benda itu ke mana-mana.

Tapi toh dia tidak berminat menyimpannya jika celana itu adalah milik Kazemaru Ichirouta, bukan Endou Mamoru.

"Terima kasih, lain kali aku akan hati-hati," tutur Ichirouta ramah, tentunya dengan tatapan yang kontras seakan mengatakan 'Tunggu saja pembalasanku.'

"Sama-sama Kazemaru-kun," balas pemilik rambut merah itu.

'Lain kali aku tidak akan salah ambil.'

.

.

"Baiklah, berarti masalah sudah selesai sekarang," ucap Endou sambil menepuk bahu Ichirouta dan Hiroto. Sebagai pemimpin diskusi, kini saatnya untuk menutup rapat dan kembali menjalankan tugasnya sebagai kapten. "Nah, teman-teman, ayo kita ke lapangan! Saatnya latihan!"

Ichirouta, Hiroto, Shuuya, dan Yuuto mengangguk setuju lalu segera menyusul Endou. Benar juga, sudah berapa lama waktu yang mereka habiskan? Kalau tidak cepat bisa-bisa mereka berempat dibunuh oleh Kudou-kantoku.

"Ah, tunggu Otonashi-san!" panggil Aki kepada Haruna yang baru saja ingin keluar ruangan.

"Ada apa, senpai?" tanya Haruna.

"Tolong dicatat, kalau ada kejadian seperti ini lagi, tersangka utama pasti Gouenji-kun."

"JANGAN MASUKKAN NAMAKU!" teriak Shuuya yang masih belum jauh dari sana.

.

.

End

.

Spekulasi 3 - masihberpikirorz - kalau tidak ada badai atau hujan meteor, sepertinya sih tentang Kariya dan Kirino.

.

A/N: Tadinya saya mau bikin chapter tentang Kariya dan Kirino, tapi mandeg sampai sekarang orz. Sesuai apa yang ditulis di disclaimer, ide cerita ini dari teman saya yang sudah bikin doujinshinya duluan haha (saya habis gegulingan baca doujinnya). Maaf maaf maaf sekali kalau mengecewakan orz.

Ngomong-ngomong fans Hiroto jangan bunuh saya (dengan cinta), sa-sa-saya juga cinta banget kok sama dia. ;_;

Tentang kaos Gouenji, itu bahan pembicaraan kami berdua sampai sekarang... dari mana Gouenji bisa dapat celana olahraga? Terus dia ganti baju di balik pohon gitu? :V

.

Terima kasih banyak bagi yang sudah mereview chapter pertama *sebar bunga*

NaoShiteRu1264 A-a-anda jenius! Saya sama sekali tidak kepikiran kalau ada baju renang yang namanya bikini cewek orz. Tapi memang baju DElah yang paling pas untuk badan gemulai (?) Kazemaru. Terima kasih banyak :)

Kuroka Aih Kurokyaaa sampai ngereview 3 kali ;_;. Terima kasih banyak. Gontok-gontokannya sampai sekarang masih jadi misteri, sejauh ini yang saya tahu cuma glaring contest nampaknya haha.

Endou: Ideku memang paling keren, benar kan Kazemaru?

Kazemaru: *terbangin Endou pakai Fuujin no Mai*

Yukimura Fuu-chan Terima kasiiih XD. Ahaha wajah manis Shirou itu memang senjata. Makanya walau Atsuya kayak gitu, tidak ada yang berani mukul soalnya pakai muka Shirou lol. Makin Kazemaru sayang sama Endou, makin lebih sadis lagi dia mukulnya. Hidup Tsundere powaaaa! /plak/