Chapter 2: Eren pilih yang mana, dadar gulung atau ayam katsu?!
Teng tong teng tong trulalalala~
Bell istirahat berbunyi dan menggegerkan seluruh penjuru sekolah. Eren segera bersorak ria, ia akan memakan bekal buatan Mikasa yang perdana.
"Eren~" tiba-tiba gadis cantik yang seperti dewi itu menghampirinya dengan dua kotak bekal ditangannya. Mikasa hanya melototinya tajam ingin membunuh gadis itu.
"Ada apa Historia?" tanya Eren heran, gadis itu terkekeh pelan.
"Ini.. aku membuat bekal untukmu.." ucapnya lalu membukakkan bungkus kain yang menyelimuti kotak persegi itu, Historia memperlihatkan bekalnya. Seakan seperti disurga, Eren bisa melihat makanan super kinclong yang menyinari matanya. Ada ayam katsu yang disusun rapi diatas daun selada dan ada seonggok nasi putih yang ditaburi potongan nori. Eren sampai menitikkan air liur kelaparan.
Mikasa menggeram kesal, ia juga membuka kotak bekalnya. Tidak ada sinar dewa yang terpancar, hanya ada dadar gulung yang disusun diatas nasi polos. Mikasa juga mengeluarkan botol saus dari dalam lacinya untuk teman makan. Walau tidak secantik punya Historia, tapi mampu membuat pemuda bernama Eren Ceker itu sumringah senang.
"Jadi ini masakanmu? Bukan buatan pak Levi kan?! Yeey~!" ujarnya lalu menyambar sumpit yang telah disediakan Mikasa dan memakan bekal miliknya. Historia terdiam, kenapa Eren lebih memilih Mikasa dari pada dirinya? Apakah bekalnya kalah cantik dari punyanya?! Historia terhenyak.
Mikasa tertawa kecil, ia berdiri dari duduknya dan memegang pundak gadis itu dengan niat menyombongkan diri.
"Maaf saja, tapi Eren telah menentukan pilihannya dari awal.." ujarnya lalu menghampiri Eren, ia meraih dagu pemuda itu dan mengecup bibirnya untuk membuktikan kalau ia dan Eren, adalah sepasang kekasih, Eren hanya terheran bingung. Yang melihat adegan itu membeku ditempat, termasuk Historia. Matanya mulai berair dan akhirnya menangis. Walau Mikasa jahat, tapi ia tetaplah manusia yang memiliki perasaan, ia sadar kalau ia telah melukai perasaan gadis itu.
Tapi dari awal, Mikasa memang telah membencinya.
"Ah, maafkan aku Historia, aku boleh meminta bekalmu juga? Ternyata aku masih lapar.. Hehehe.." ujar Eren kepada Historia, Mikasa jungkir balik akan kehebatan ketidak pekaan pacarnya. Historia berhenti menangis, ia memberikan kotak bekalnya dan lansung disantap Eren. Ia terharu, akhirnya Eren memakannya juga.
"Oi Eren! Elu punya 'anu' ngak sih! Elu mau gue samblek gundulmu itu eh?!" Jean yang sedari tadi asyik menyantap popcron sambil menonton drama itu mulai angakat mulut.
"Kau telah melukai perasaan dua gadis sekalipun tau! Lu harus minta maaf kepada Mikasa dan Historia!" sambungnya dan disetujui oleh Armin. Eren, sejak sakuel ini dibuat ia mulai tidak peka lagi, dengan enteng ia menjawab.
"Aku tidak mengerti kaka..." Jean, Armin, Mikasa dan Historia jungkir balik. Nih anak kayaknya dulu dikasih minum susu keledai makanya begok kali ya.
Historia kembali mengembalikan senyumnya, Mikasa kembali dengan wajah horornya, Eren hanya bersendawa kekenyangan.
~o0o~
"Cih! Aku ingin dia lenyap saja dari dunia ini!" gerutu Mikasa sambil menggigit helaian rambut yang menutupi wajahnya. Seperti biasa, Mikasa masih curhat di ruang UKS bersama dokter Erwin, ustad Levi, profesor Armin, dan.. Annie. Lah? Karena Annie sudah baikan dengan Mikasa, kini mereka berteman baik. Annie juga kini tengah mengejar Armin makanya tak sengaja terseret kemari.
"Erwin, keponakanmu yang Historia itu cantik juga.." ujar Levi menghiraukan cirotet Mikasa itu, Erwin hanya terkekeh kecil. Mikasa, Armin dan Annie sontak kaget akan ucapan kuntet barusan.
"Keponakan?!" seru mereka serentak. Tapi, mereka juga bisa memaklumi. Toh Erwin dan Historia sama-sama memiliki rambut pirang dan iris aqua yang membuat mereka tampak seperti bangsawan.
"Ah, kalau begitu Armin juga ada sangkut-sangkutnya dong?! Armin dan Historia bagaikan pinang dibelah dua.." usul Mikasa ikut masuk topik, Annie mangut-mangut setuju.
"Ngak, Armin itu kembarannya Pico bukan Historia.." tukas Levi dan membuat Mikasa Annie dan Erwin ngakak somplak. Armin hanya memanyunkan bibirnya kesal, lagi-lagi disamain ama Pico pikirnya.
"Lagi ngomong apa sih sampai kalian ngakak gitu?!" jaegerkun jaegersek Eren pikun makan kesemek, tiba-tiba Eren yang tidak diundang sudah datang dan lansung duduk untuk ikut mengobrol juga, hal itu membuat Mikasa dan Annie berhenti tertawa. Kalo orang ini sudah datang, mereka jadi tidak mau tertawa seperti tadi. Annie memilih untuk pergi saja dan membawa Armin untuk ikut bersamanya, Erwin juga mulai beranjak dari duduknya dan diikuti Levi karena sudah basi dengan pembicaraan mereka tadi, Eren jadi tersinggung.
"Jahat! Aku juga baru datang lalu kenapa kalian pergi sih?!" serunya tidak terima, Mikasa hanya mengusap punggung pemuda itu untuk bersabar.
"Eren, kenapa kau datang kemari?!" tanya Mikasa kepadanya, cemberut Eren lansung hilang karena teringat.
"Mikasa! Aku kemari mencarimu!" seru Eren sambil sumringah, Mikasa berkedut alis heran, kok segitunya?
"Kau tahu?! Aku diajak Historia dan Ymir pergi ke Titan's land, kau mau ikut tidak?!" tawarnya masih dengan tampang polos dan imutnya. Mikasa menekukkan alisnya tidak suka.
"Kalau kau mau mengajakku kencan, boleh saja.. Tapi jangan bersama orang-orang lesbi itu.. aku menolak.." tuturnya lalu membentuk tangannya seperti tanda silang. Eren memanyunkan bibirnya kecewa, baru kali ini Mikasa menolaknya.
Oh my god! Mikasa menepuk kedua pipinya. Ekspresi imut ini! Eren yang manyun dan alisnya melengkung beserta bola mata bulat yang besar dan imut ini! Mikasa tidak sanggup untuk bertahan lebih lama, bisa-bisa dia terkena diabetes.
"Baiklah! Baiklah.. Aku akan pergi dengan alasan mengawasimu.." akhirnya terpaksa Mikasa menyetujui daripada nanti kena penyakit jantung dan mati, Eren lansung volume up dan jingkrak-jingkrak senang.
Pertanyaan Kritis! Sejak kapan penggambaran Eren yang berumur 17 tahun itu menjadi bocah 3 SD?!
disisi lain~
"Hei hei, Ymir! Ternyata Eren tidak berubah ya.. dia masih kekanak-kanakan seperti dulu.." ucap Historia yang kini tengah nongkrong di warung Ymir. Ia masih tersenyum, tapi senyumnya terlalu melengkung dan sorot mata agak pekat. Ymir hanya mengendus kesal sambil menyeruput jus alpukat digenggamannya, ia tidak setuju dengan pemikiran gadis yang disayanginya itu.
"Cih! Aku tidak akan memaafkan pacarnya Mikasa itu! Baik Mikasa maupun pacarnya, mereka sama-sama tidak punya dengkul!" sumpah serampah mencirotet dibibir gadis jangkung berkulit gelap itu, Historia masih tersenyum dan meneguk kaleng 'bir' yang sedari tadi dipegangnya.
"Mikasa... aku harus merebut Eren darinya.." ujarnya setelah menyeka mulutnya yang berlumuran minuman beralkohol tersebut, Ymir mengendus kecil.
"Kalau kau dikejar seperti kemarin-kemarin bagaimana? Apa kau sanggup menanganinya?!" tanya Ymir tampak ragu, Histori terdiam, keringat dingin mulai bercucuran. Ternyata dia memang takut dengan si Harimau Asia tersebut.
Ia merabahkan kepalanya yang sudah berat, sesekali ia menghela nafas berat. Ymir pun mengendus kecil dan ikut merabahkan kepalanya menghadap gadis mungil cantik tapi suka mabuk dan merokok.
"Walau kau itu adalah dewi tercantik.. tapi kau kalah dengan Mikasa yang berhasil merebut Eren, lagi pula.. walau dulu kau pernah mengecup pipinya sekalipun, hatinya telah menjadi milik Mikasa.. sebaiknya kau menyerah saja dan menikah denganku.." bujuk Ymir sambil tersenyum, Historia terdiam. Masih terekam jelas olehnya bagaimana memori masa lalu berputar diotaknya.
TBC
Next chapter: Memori yang manis dan pahit.
Jejaknya jangan lupa plis.. _(:"3
