Koi Suru, FORTUNE YUPI (Chapter 2)
Akhirnya aku bisa membuat Chapter kedua ini setelah tugasku ku selesaikan. Huft, sebenernya juga entah kenapa liburan ini terasa begitu cepat (=A=")
Nah, waktunya masuk ke bagian RiRen yang 'Ehem' saya juga gak tau harus manaikan Rated ini atau tidak. Tapi, saya juga minta maaf kalau tak bisa membuat cerita yang 'ehem' secara lancar. Karena jujur, ini pertama kalinya saya membuat adegan RiRen yang seperti ini (-v-")
Jadi, mohon kritiknya (_ _)
Ok, chapter 2, start!
Tekan Back jika kalian tak suka karena keGaJean cerita ini QuQ
ooOooOooOooOoo
.
Disclaimer : Shingeki No Kyojin ©Isayama Hajime
Yupi juga bukan milik saya. Tapi milik suatu PT yang saya lupa namanya *Digebuk*
Story : Evamaru
Genre : Humor, Romance
Rated : T++ (R18)
Warning : OOC, Typo, Tanpa EYD, Pemakaian bahasa yang kurang tepat, GaJe melebihi batas, Shounen Ai, Yaoi, adegan tak senonoh dll
.
ooOooOooOooOoo
"Hei, apa kau yakin jika semua yang ditulis dalam kertas itu benar-benar terjadi?
Atau mungkin bila itu sungguh terjadi, bagaimana sebuah kertas dapat melihat takdir kita?
Percaya atau tidak, mungkin ini memang hanya kebetulan semata.
Semua memang ulah tangan-tangan pintar dan cerdik yang ingin mendapatkan suatu kesenangan?
Apa kau tau siapa orangnya?"
Ooo0ooO
.
.
Matahari perlahan-lahan mulai bersembunyi. Meninggalkan bitiran-butiran keemasan diatas langit yang mulai membiru tua. Angin yang nakal kadang menambah keheningan senja di hari itu. Dimana semua hal akan terungkap.
Kini, sang brunette bermata zambrud itu berdiri sendirian di depan sebuah pintu bertag nama 'Rivaille'di sana. Pintu yang menghubungkan dunianya dengan neraka ataupun hal yang diluar akal sehat.
Sang brunette hanya dapat menelan ludah sambil mendengarkan detak jantungnya yang bersimponi ria. Ia ragu mengetuk pintu tersebut. Karena keraguannya, sudah lewat 10 menit ia habiskan untuk berdiri.
"A-apa sir Rivaille beneran ada di dalem sana ya? Kira-kira seperti apa tempatnya?" Eren kini malah penasaran dengan isi ruangan Rivaille, namun hati kecilnya serasa enggan untuk memasuki ruangan tersebut.
Ingin sekali ia segera pulang. Mikasa dan Armin mungkin telah sampai dirumah. Keadaan sekolah pun kini begitu sepi.
Sekilas ia teriangat akan tulisan fortune yupinya. Jangan-jangan semua ini berhubungan dengan sir Rivaille! Hanya itu yang dapat Eren artikan.
Ayolah ren! Cepatlah masuk! Percuma kau hanya berdiri disana tanpa melakukan apa-apa. Aku ingin melihatmu di sentuh oleh kembaran Takao itu! *Author dilendes*
Pikiran Eren tiba-tiba dirasuki oleh bisikan nista seseorang yang entah datang dari mana. Entah itu iblis atau apa. Dengan pasrah, ia menarik nafas panjang dan menginstruksi tangannya untuk menggodor pintu tersebut.
Tok..tok..tok..
.
Hening tak ada jawaban. Eren pun mengulangi kegiatannya.
.
Tok..tok..tok..
.
"Njir nih guru! Budek kali ya? Kok nggak nyautin sama sekali!" grutu Eren.
.
Tok..tok..tok..
.
Eren mulai kehilangan kesabaran. Ia mencoba mengepalkan tangannya dan bersiap untuk menggedor-gedor pintu ruangan guru kontet tersebut. Namun, apa daya kadang dewi fortuna sedikit ingin mengisengi Eren.
Cklek…
"Hei, kau tuli ya? Aku bilang ma-"
JJDDAKK!
.
Ups…..
.
Terkutuklah kau Jeager!
Kepalan tangan Eren mendarat dengan sadis pada sebuah kepala yang dihiasi oleh surai hitam yang terbelah dua. Manusia yang lebih pendek 10cm darinya itu sepertinya akan mengeluarkan aura kematian.
Eren yang menyadarinya hanya cengo dan mematung ditempat. Keringat dingin kembali mengaliri tubuhnya. Rasa takut menggoda hati Eren. Tangannya berdisko ria bersama tubuhnya.
"Hei, Jaeger…" Mahluk itu menatap Eren dengan horror. "Kau tau apa kesalahan mu hari ini?"
"I-i-i-iya sirr! Sa-saya tertidur sa-saat pelajaran anda. Ke-ke-kemudian saya tak se-sengaja memukul kepala a-anda si-sirr." Ucap Eren dengan terbata-bata.
"Apa hari ini kau sudah membersihkan telingamu hah?"
"Su-sudah sir! Ke-kemarin…."
"Kau tak dengar jika aku menyuruhmu masuk samapai 2 kali aku perintahkan?"
Eren hanya menutup mulutnya rapat-rapat. Ternyata gua yang budek toh? Batin Eren. Hei ren! Mungkin ini hukuman karena kau berani mengatai mahluk pendek sekseh tersebut.
JBUAKK!
Rivaille menendang kaki Eren hingga dirinya terjatuh. Eren hanya meringis kesakitan setelah mendapatkan kick andalan dari guru kontet tersebut. Rivaille hanya memasang wajah teflonnya dan masuk ke ruangannya.
"Oi! Siapa yang menyuruhmu duduk disitu hah? Cepat masuk bocah!"
"Ta-tapi saja tadi terjatuh gara ga—"
"Itu hukuman kecil mu bocah! Sekarang cepat masuk!"
Sialan nih guru! Baru mau masuk udah dapet tendangan. Hukuman kecil apanya? Kaki gua aja jadi sakit! Lagi-lagi Eren hanya dapat menggerutu dalam hati. Ia segera bangun dan masuk kedalam ruangan guru sadisnya tersebut dengan langkah agak pincang.
"Lepas sepatu dan kaus kaki kotormu sebelum masuk keruanganku bocah!" seru Rivaille.
Dasar cleaning freak! Namun, dari pada hukumannya ditambah nantinya, lebih baik ia menuruti perkatan gurunya itu dan segera masuk.
Dan, coba bayangkan apa yang ia lihat. Bukan, bukan Rivaille yang duduk di meja kerjanya! Namun kondisi ruangan itu. Tak telalu luas tak terlalu sempit. Seperti layaknya sebuah kamar apatermen. Terdapat sofa, televisi, dvd player, AC, Akuarium, rak buku, kulkas, lemari, dapur kecil, dan kamar mandi bertoilet. Namun sayang tak ada tempat tidurnya.
Mata zamrud itu makin membulat dengan sempurna setelah mengetahui bahwa ruangan tersebut super bersih dan kinclong tanpa debu apapun.
"Siapa yang menyuruhmu hanya diam berdiri disana bocah?!"
"Ma-maaf sirr! Saya hanya heran, apakah ini benar ruanganmu?" Rivaille hanya menghela napas panjang.
"Tak usah terkejut Jaeger! Ini memang ruanganku."
"Ke—kenapa seperti ruang hotel atau apatermen seperti ini?" Eren masih saja terkagum-tagum.
"Berhentilah mengaggumi ruangan ini Jaeger! Tanya saja sendiri kepada Irvin! Dia sendiri yang membuatkan ruangan khusus ini untukku." Ketus Rivaille. Eren hanya berpikir, ini sekolah, atau hotel?
Sang Brunette berjalan mendekat kearah meja Rivaille dengan agak gugup. Sementara sang predator masih sibuk dengan berkas di tangannya. Tangan satunya memegangi kepala bekas tangan Eren mendarat tadi.
"Ja—jadi sirr, a-apa yang harus kulakukan sekarang?" Rivaille tampak berpikir sejenak dan masih saja merasa sedikit kesakita karena hit yang diberika Eren tadi sangat kuat.
"Sebelum itu buatkan aku kopi tanpa gula terlebih dahulu. Bahan-bahannya sudah ada di dapur. Kepalaku sedikit pusing karena kau Jaeger!"
"Ta—tapi si—"
"Sekarang bocah!"
Eren hanya pasrah. Ia meletakan tasnya di atas sofa merah diruangan itu. Kaki jenjangnya disibukan dengan menelusuri tiap-tiap lantai dapur itu untuk membuat kopi pesanan Rivaille.
Iris kelabu itu diam-diam memperhatikan apa yang sedang Eren lakukan. Gerakannya, lekuk tubuhnya, rambut brunette yang lembut, serta mata zamrud nya yang indah. Lekuk bibirnya naik sedikit. Ya, Rivaille tersenyum kecil memandangi Eren. Entah apa yang sedang ia pikirkan akankah sang iblis membisikan sesuatu ke telinga iris kelabu itu?
Rivaille teringat akan sesuatu. Diambilanya sebuah gulungan kertas kecil di sakunya. Ia membaca kembali tulisan tersebut. Tulisan yang berasal dari fortune yupi dari Hanji. Ia sedikit menyeringai dan kembali memikirkan sang Brunette.
"Hanji sialan! Nampaknya kau memang sengaja melakukan hal ini ya?" ucap Rivaille dengan datar namun menunjukan seringainya.
Eren telah selesai membuat kopi untuk Rivaille dan berjalan mendekati mejanya.
"Sirr, ini kopinya!"
"Oh, letakan disitu."
Sang dewi fortuna rupanya memang senang mengisengi Eren. Tinggal selangkah lagi dan Eren bisa meletakan cangkir itu dimeja Rivaille. Namun, hal aneh terjadi. Keseimbangan Eren goyah karena menginjak sesuatu dan membuat kopi di tangannya melayang.
Dengan efek slow motion, cangkir itu melayang dan mendarat pada kepala bersurai hitam. Eren yang terjatuh hanya menganga dan hal itupun terjadi.
Mungkin kali ini Eren sedang dalam masalah yang begitu rumit dengan gurunya sendiri.
BYURR!
Cairan bewarna hitam panas itu membasahi tubuh Rivaille. Bulu kuduk Eren kembali merinding disko. Rivaille yang menyadari jika cairan panas itutelah menodai tubuhnya, ia menatap Eren dengan pandangan mematikan atau pandangan 'kau tak bisa kabur dariku Jaeger!'
.
.
Ooo0ooO
.
[WARNING! RATED M STARTED! Segera tekan tombol back jika anda tak berkenan]
.
.
Fyuhh! Eren mengelap peluh yang mengalir dikeningnya. Akhirnya selesai juga membersihkan meja Rivaille yang kotor oleh kecerobohannya. Ia mencuci dan meletakan kembali alat kebersihan Rivaille ditempatnya. Sementara pemilik ruangan tersebut sedang membersihkan diri alias mandi.
Sang brunette itu kemudian duduk di sofa untuk melepas lelah dan menungu Rivaille selesai mandi. Sepertinya Eren mencoba mempersiapkan diri untuk menerima hukuman dari Rivaille yang seberat-beratnya. Lihat saja! Keringat dingin dan ketakutannya makin menjadi. Wajah Erenpun tampak pucat. Oh, dewi fortuna, mengapa ngkau tampak kejam dengan ku hari ini?
Tenanglah Eren! Ini semua demi kebaikan mu kok! Lagi pula keisengan dewi fortuna hanya untuk mengikuti kesenangan Author dan reader nantinya. *Author digeplak*
Tiba-tiba Eren tertuju pada sesuatu dibawah meja kaca dihadapannya. Ya, subuah kotak DVD yang lumayan penuh. Kekepoan Eren mulai muncul. Diambilnya kotak DVD itu dan melihat isinya.
Lancang sekali kau Eren! Kau mau Rivaille menambah hukumanmu karena seenaknya menyentuh barang-baranya? Ternyata selain kepo, Eren juga memiliki rencana. Siapa tau dengan mengetahui DVD apa yang Rivaille tonton bisa menjadi senjata untuk melawannya.
Eren mulai melihat judul-judul setiap kaset tersebut. Mata zamrudnya dengan lihat membaca setiap judul film.
Ternyata kebanyakan koleksinya adalah film action dan film horror. Tak ada judul-judul yang menarik baginya. Namun , ada DVD yang menarik perhatiannya. Diambilanya DVD tersebut dan dilihatnya dengan seksama.
Sedetik…..
.
2 detik….
.
WHAT?! OH MY PINKY SWEAR KITTY SWEAR BANANA CHERRY STRAWBERRY SWEAR! OH MY GOD! OH MY NO! OH MY WHY?! DEMI TITAN YANG LAGI MAIN BASKET SAMBIL SALTO!
Mata Eren membulat dengansempuran setelah membaca judul-judul DVD tersebut. Coba tebak, apa judulnya?
Pertama yang ia lihat adalah cover dvd bergambar seorang anak laki-laki pirang bersama seorang laki-laki berambut hitam. Tertampang tulisan 'Boku No Pico' diatasnya. Dafuk! demi apa Rivaille nonton film beginian? Jika diperhatikan, laki-laki berambut pirang tersebut mirib Armin. Jangan-jangan Armin yang main di film ini!
Kedua, terdapat cover bergambar dua orang pria sedang berpelukan. Yang satu berambut coklat dan yang satu berambut kelabu. Tertulis judul tersebut 'Junjou Romantica' disana. WTF! Jangan-jangan gurunya yang ini memang sudah belok alias Humu.
Eren jadi agak takut dengan Rivaille. Bahkan, otak polosnya telah teracuni hal-hal berbau yaoi dan hal-hal buruk terhadap Rivaille. Belum lagi ia berpikir mengapa sir Rivaille membawa bahkan meletakan barang nista ini di ruangan pribadinya walau di sekolah?
"Sedang apa kau?" Suara bariton itu mengagetkan Eren.
Mampus! Eren beneran mati kutu sekarang. Ia segera meletakan kotak DVD tersebut ketempatnya.
Eren pun memandang kearah Rivaille. Matanya kembali membulat sempurna. Ditambah wajahnya yang seperti kepiting rebus.
Ia tak sengaja atau mungkin memang sengaja menelusuri tubuh Rivaille yang hanya tertutupi handuk putih yang melingkar dipinggangnya dan hanya tertutup sampai pahanya saja. Badan Rivaille begitu tegap dan berotot. Daging perutnya pun berpetak-petak alias sixpack mungkin lebih. Kulit putihnya agak pucat, Air yang mengalir di tubuhnya dan menetes dari surai hitamnya menambah keseksian sang iris kelabu. Bibirnya pun tampakbegitu seksi jika dilihat-lihat. OH MY GOD! Sosok Rivaille memang dapat mengikat hati semua mahluk hidup. Bahkan Erenpun sampai gemetar melihatnya.
"Jaeger, ku ulangi, apa yang sedang kalakukan? Mengapa wajahmu memerah? kau sakit?" Eren hanya menggeleng sambil mencoba mengalihkan pandangannya. Guru ini benar benar! Berani2nya ia bertelanjang dada di hadapan Eren yang polos ini!
Rivaille menangkap sesuatu. Ya, ia melihat kotak DVD nya yang berada di meja kaca dekat Eren telah berantakan dan berpintah tempat.
"Kau melihat-lihat kotak DVD ku bocah?" Rivaille berjalan kearah Eren sambil memasang tatapan Horror.
"Ma-maaf si-sirr sa-saya ha- hanya—" Eren ketakutan hebat. Kata-katanya tak mampu ia lanjutkan.
"Ternyata kau cukup lancang ya! Tampaknya aku memang harus benar-benar menghukumu dengan seberat-beratnya." Rivaille tampak menyeringai.
Surai hitam itu berjalan menuju pintu dan mengunci pintu tersebut. Eren yang melihatnya hanya dapat terdiam dengan wajah ketakutan. Rivaille mematikan semua lampu dan hanya menyisahkan satu lampu yang menyala didekat sofa.
"Untung ruangan ini tak punya jendela maupun CCTV." Lanjut Rivaille kemudian berjalan mendekat kearah Eren yang masih duduk di sofa merahnya.
"Si-Sirr, a—apa yang mau anda laku—hmmpp?!" Rivaille menarik tangan Eren mengunci mulut Eren dengan bibirnya secara tiba-tiba. Mata Eren membulat sempurna akan apa yang tiba-tiba Rivaille perbuat.
"Si-Sir—hmmpp! Eren mencoba mendorong dada bidang Rivaille. Namun apa daya tenaga Rivaille lebih besar sehingga berhasil mengunci gerakan Eren.
Tak puas dengan ciuman biasa, ciuman Rivaille berubah menjadi liar. Dijilatnya bibir Eren secara perlahan lalu menghisap bibir bawah Eren lalu menggigitnya.
"mmp!" Eren semakin merapatkan bibirnya. Sepertinya ia tak mengizinkan Eren mendominasi mulutnya.
"Kau tak mau menurut ya?" Rivaille mencubit perut Eren dengan nakal.
"Akh—hmp!" Rivaille pun mengambil kesempatan tersebut dan memasukan lidahnya kedalam rongga mulut Eren.
Eren hampir kualahan merasakan tenaga Rivaille yang lebih besar. Didorongnya perlahan tubuh sang brunette dan mendarat diatas sofa empuk tanpa menghentikan kegiatannya.
Rivaille pun mulai mememperdalam ciumannya. Diapsenya satu pertasu gigi Eren, bergulat lidah, dan menghisap kuat lidah Eren. Saliva mereka pun kini saling bercampur satusama lain.
"Nngg!" Eren sedikit menggerang dan mulai kekurangan oksigen. Namun, pria yang bertubuh lebih pendek darinya tak mengizinkannya mengambil nafas.
Sadar akan nafas Eren yang semakin sesak, Rivaille pun memberi kesempatan Eren bernafas sejenak. Benang saliva tipis menggantung dengan indahnya diantara kedua bibir mereka. Eren segera mengambil okseigen dengan nafasnya yang terenggah-nggah.
Rivaille menatap Eren yang berlinang air mata dengan penuh perhatian. Senyuman lembutnya dengan sedikit seringai tipis masih tetap ia pancarkan. Entah kenapa wajah Eren yang memerah dan ketakutan membuat Rivaille merasa tergoda.
"Ke—kenapa sirr? Ke—kenapa sirr melakukan i-ini?" Rivaille hanya tersenyum misterius melihat wajah Eren bagaikan anak domba yang ketakutan.
"Ini hukuman mu Eren. Hukuman! Kau mengerti?" Rivaille sedikit menekankan kata hukuman.
"Ta-tapi, ke-kena—" Rivaille meletakan telunjuknya ke bibir ranum Eren.
"Karena hukuman inilah yang pantas kau dapatkan Eren. Setelah kau tertidur saat pelajaranku, memukul kepalaku, menyiramku dengan kopi panas, dan melihat koleksi DVD ku dengan lancang. Satu hal lagi yang membuatku ingin menghukum mu seperti ini…" Eren hanya terdiam dan terus menatap iris kelabu tersebut. Rivaille pun mendekat ketelinga Eren kemudian berbisik.
"Kau telah berani mencuri hatiku, Eren Jaeger. Karena itu kau harus bertanggup jawab." Eren sedikit terkejut dan wajahnya semakin memerah. Ntah kenapa jantungnya berdetak dengan cepat. Rasa senang, kesal, semua bercampur jadi satu.
"Apa kau takut dengan kelakuanku?" Rivaille melanjutkan perkataanya.
"Ti-tidak sirr" ucap Eren.
"Apa kau mencintaiku atau malah membenciku? Atas apa yang telah ku perbuat?" Eren hanya menggeleng perlahan. "A—aku ta—tak tau…." Rivaille hanya menyeringai mendengar jawaban Eren.
"Kuanggap jawabanmu sebagai tanda jika kau setuju untuk ku sentuh."
"Eh? ap—hmp!" mulut Eren kembali terkunci dengan ciuman yang Rivaille berikan. Ciuman yang lebih liar namun lembut.
Tak puas hanya denga menciumnya, tangan Rivaille bergerak perlahan dan membuka satu persatu kancing seragam Eren dan menampakan tubuh putih mulusnya.
Dari bibir, ia pindah ke leher. Dijilatnya suatu titik di salah satu bagian tersebut, kemuadian dihisapnya kuat-kuat sehingga meninggalkan bekas kemerahan.
"Nngg, a-akhn! Si-sirr!" tubuh Eren gemetar ketika Rivaille menggigit titik tersebut.
"Sebut nama ku Eren dengan suara nakal mu itu Eren." Bisik Rivaille kemudian melanjutkan kegiatan tangannya dengan menyelusuri dada Eren. Ditemukannya sebuah tonjolan kecil dan dengan gemas ia mencubit dan memelintir tojolan tersebut.
"Ri—Rivaille! Hah—ahn! He—hentikan! nngg!" Eren mencoba menahan desahannya.
"Jangan kau tahan. Suara Erotismu sungguh indah Eren."
"A—a-akhn! Ri-Rivaille!"
Setelah membuat beberapa tanda, Rivaille mulai merasakan ada sesuatu yang mengganjal dan menusuk diperutnya ketika menindih Eren. Ya, Kejantanan Eren menegang dan berdiri dengan sempurna.
Eren sedikit kegelian ketika Rivaille mentuh kejantanannya yang masih tertutup oleh celana sekolahnya.
"Tch! Basah! Mudah sekali kau untuk terangsang seperti ini!"
"Ma—ma—?! Ja-jangan!" terlambat, Rivaille sudah terlanjur menurunkan celana Eren. Dilihatnya junior Eren yang tampak menggoda. Sementara sang brunette hanya dapat menahan malu.
Rivaille lagi-lagi tersenyum nakal. Ditatapnya mata Eren sejenak lalu mulai memasukan kejantanan Eren kedalam mulutnya.
"Ri-rivaille! A-aku ta—tak mau mengotori—akn! Di—dirimu la—hah ahn! La—lagi." Ucap Eren dengan terbata-bata ketika Rivaille mulai mengulum kejantanan Eren dengan Nikamat.
Sang tersangka tak peduli akan ucapan Eren. Dia terus melanjutkan kegiatannya. Dengan nikmat, Rivaille menjilat kejantanan Eren seperti lollipop sehingga membuat Eren mendesah kenikmatan.
"A-akh HAHN! Sa—sakit!" Eren tersentak ketika kepala kejantanannya digigit oleh Rivaille dengan sengaja.
"Sepertinya kau menikmatinya Eren. Juniormu tampaknya semakin menegang." Suara seksi Rivaille membuat Eren agak malu.
"Ta—tapi, aku sudah tak dapat me—menahannya lagi, khn!" tampaknya Eren ingin klimaks.
"A—A—AAAKKKKNNNN!" yang benar saja, seluruh cairan kehidupan Eren mengalir deras dikuti desahan panjang Eren. Kini cairan putih itu mengotorodi dada bidang Rivaille .
Rivaille yang melihatnya langsung menatap Eren dengan tatapan horror.
"Kenapa kau klimaks tiba-tiba heh?!" ucap Rivaille.
"Ma-maaf kan a-aku" Eren mencoba menutupi wajahnya yang terasa panas.
Rivaille hanya mengambil nafas panjang. Yah, mau bagaimana lagi! Kekasih barunya ini masih dibilang polos!
Ia pun melanjutkan kembali aksinya. Dijilatnya sisa-sisa cairan milik Eren yang masih menempel pada daerah sekitar kejantanan Eren. Lalu, dengan cairan yang tersisa, ia gunakan untuk melumasi jari-jarinya.
"Sudah keduga isimu memang manis Eren!" Rivaille menjilat cairan Eren yang menempel pada ujung bibirnya.
"Eren, selanjutnya mukin agak sedikit sakit. Jadi, mohon tahan sedikit sayang." Dielusnya rambut brunette tersebut dengan lembut.
"U-umm," Eren mengangguk perlahan dan itu membuat Rivaille merasa puas.
Dimasukannya perlahan-lahan jari jemari Rivaille yang telah ia polesi tadi kedalam lubang Eren. Sang Brunette hanya dapat menahan sakit ketika jari-jari itu mulai mempelebar liang lubang nya.
"Nn-nngg! Ri-Rivaille, ini Sa—sakit!" erang Eren. Tubuhnya terasa taknyaman dengan pergerakan jari-jari nakal tersebut.
Tak ingin membuat kekasihnya itu kesakitan, Rivaille pun kembali mencium Eren agar melupakan kesakitannya itu. Serasa belum cukup dengan dua jari, Rivaille ,menambah jumlah jari dalam lubang Eren.
"Khnn!" desahan Eren masih terdengar diantara ciumannya dengan Rivaille. Pemilik iris kelau itu mencoba membuat gerakan menggunting agar lubang yang ia akan masuki nanti lebih lebar.
Serasa cukup, Rivaille menarik jarinya kembali dan melepaskan ciumannya yang sedari tadi menahan Eren untuk tak mersa sakit.
"Eren, kali ini akan lebih sakit. Apalagi kita melakukannya di sofa yang untung lumayan besar. Apa kau siap?" Eren tampak berpikir sejenak kemudian mengangguk.
"Ta—tapi…"
"Ikuti saja, kau ingat? Ini hukumanmu" ucapan Rivaillemembuat Eren terdiam.
Dilepasnya handuk yang sedari tadi melingkar di pinggangnya. Eren terkesima hanya menelan ludah melihat kejantanan Rivaille yang lebih besar darinya yang telah menegang. Didekatkannya junior miliknya kemulut Eren.
"Ulum."
"E-eh?!"
"Eren? Kau mendengarku kan? Ulum sekarang."
Eren perlahan-lahan membuka mulutnya. Dengan Ragu, ia mencoba memasukan seluruh kejantanan Rivaille ke mulutnya namun tak cukup.
Eren mulai menghisap junior Rivaille dan melumurinya dengan salivanya sandiri. Walau malu-malu, sepertinya ia juga menikmati kegiatannya.
"Cukup Eren! Aku tak mau klimaks di mulutmu." Rivaille pun menarik kejantannya. Eren agak kecewa karena belum sempat merasakan cairan Rivaille. Namun tak apa! Toh sebenarnya dia juga agak jijik menelan cairan aneh! Benar-benar tsundere kau ren!
Dengan segera, Rivaille merenggangkan kedua kaki Eren. Didekatkannya junior Rivaille kearah lubang Eren.
"AH! Ri-Rivaille! U—untuk yang ini a—AKHN! RI-RIVAILLE!" Eren menjerit ketika Rivaille memasukkan seluruh kejantannya dengan tiba-tiba.
"Kh! Tch! Kaubenar-benar masih suci Eren! Sunggu sempit sekali!" ketus Rivaille.
"AHN! HAH HAH—AKN! KHH! KE-KELUARKAN! KU-KUMOHON" Teriak Eren sambil mendesah dengan Erotis.
"Kenapa? Bukannya kau menyukainya? Kenapa kau menyuruhku menghentikan semua ini!" ucapan Rivaille hanya membuat Eren terdiam.
Ya, semuanya sama dengan apa yang terjadi dimimpinya. Semuanya terjadi. Sama seperti Fortune yupi miliknya. Kehangatan dan mempersiapkan tubuh itu maksudnya adalah ini. Hukuman yang harus ia jalani.
Kini, Eren tak tau harus merasakan apa. Rasa sakit, kenikmatan, kesenangan, semua menjadi satu. Sepertinya Rivaille berhasil melupakan semua bebannya. Bahkan ia lupa jika apa yang Rivaille perbuat adalah hukumannya.
"KHH! RI-RIVAILLE! PELAN-PELAN!" Seru Eren ketika Rivaille mulai memaju mundurkan miliknya dengan tempo cepat.
"Seperti yang kuduga, kau benar-benar menikmati hukumanmu Eren." Ujar Rivaille.
"HHNNGG A-AKH! AKHN! RI-RIVAILLE!"
Rivaille sepertinya tampak kesal karena sepertinya Eren ingin kembali klimaks. Diliriknya sebuah tali dibawah meja. Diambilkan dengan susah payah dan ia berhasil mendapatkannya.
"Ganti posisi. Eren, kali ini kau yang bergerak."
Rivaille kini berposisi duduk dan Eren duduk diatas Rivaille tanpa menghantikan kegiatan mereka. Tali yang diambil Rivaille tadi diikatnya pada kejantanan Eren.
"AARRGGHHNN! Ri—rivaille, apa yang ka-kau lakukan?!"
"Tak akan kubiarkan kau klimaks duluan lagi Eren. Sekarang bergerak" hardik Rivaille.
Eren hanya menahan tangis kesakitannya karena hasratnya tak tertahan didalamnya. Itu sungguh terasa tak nyaman.
Sang brunette mulai menaik turunkan tubuhnya. Pertama dengan perlahan-lahan kemudian semakin lama semakin cepat.
"KHHNN, A-AKHNN! Ri-Rivaille"
"Terus lakukan Eren! Buatlah dirimu menemukan sweetspot mu sendiri." Bisik Rivaille.
"AHN! AARRRRRGGGGHHHNNNN!" Sepertinya Eren telah menemukan Sweetspotnya sendiri dan terus menghantam titik itu dengan milik Rivaille.
"Bagus Eren."
"Ri-Ri—a-akhn! Ri-rivaille! A—aku su—sungguh tak ta—nnggh! Lagi!"
"Baiklah Eren, aku akan mengakhiri semua. Aku mencintaimu, Jaeger." Bisik Rivaille kemudian melepas ikatan tadi.
"Aku ju-juga, Si—sir Rivaille!"
Mereka berdua akhirnya klimaks secara bersamaan yang diakhiri dengan ciuman lembut diantara kedua belah pihak.
Ooo0ooO
Rivaille menyelimuti Eren yang tengah terlelap dengan Jasnya. Iapun telah kembali berpakaian walau hanya menggenakan celana panjang dan kemeja putih.
"Anak yang manis. Benar seperti dugaan ku." Rivaille tersenyum tulus sambil membelai surai brunette yang telah terlelap itu.
Lagi-lagi Rivaille membaca kembali fortune yupinya. Entah apa yang harus ia katakan. Semua yang tertulis itu benar-benar nyata.
[Seseorang yang akan kau hukum akan menjadi orang yang mengikat hubungan denganmu]
"Hanji, seenaknya saja kau membuat fortune yupi seperti ini. Namun, kau beruntung kali ini aku takmembunuhmu." Rivaille hanya terkekeh kemudian menatap kelangit-langit ruangannya.
Namun, entah kenapa ia heran akan sesuatu. Sejak kapan langit-langit ruangnnya berlubang?
Ooo0ooO
Annie berjalan pulang kerumahnya sambil terus menyumbat hidungnya yang mimisan dengan tisu. Bahkan, seragamnya pun terlihat lusuh dan berdebu Yah, bukan karena dia habis berkelahi! bukan juga karena penyakit kangker atau apa. Tapi karena sesuatu yang telah ia liat dari atas langit alias lorong atap yang menghubungkan dengan Ruangan pribadi milik seseorang.
Ditatapnya handycam miliknya dengan penuh kebanggaan. Senyumannya pun terpancar dari wajahnya.
Ia mengambil ponselnya dan menekan tombol-tombol nomor. Tuuttt….
["Halo Leonhart? Bagaimana? Kau telah mendapatkannya?"]
"Sesuai dengan fortune yupi yang ibu berikan kepadaku, bu Hanji! Semuanya benar-benar terjadi. Aku puas."
["Kalau begitu, tolong kirimkan Videonya kepadaku ya! Aku juga ingin memberi taunya kepada Petra"]
"Baiklah. Akn kukirim nanti!"
.
.
OMAKE
"Selamat pagi anak-anak!"
"Selamat pagi Bu Anka!"
"Loh bu! bukannya hari ini pelajarannya bu Petra ya?" Tanya Armin.
"Hari ini Petra tidak masuk. Dia masuk rumah sakit karena Anemia mendadak. Ntah apa sih kabarnya begitu."
Semua murid langsung berpikir sejenak. Tumben bu Petra sakit! Biasanya dari semua guru dia yang paling rajin ketiga setelah Sir Rivaille dan Sirr Keith.
"Baiklah, hari ini ada yang tidak masuk?"
"Eren Jaeger." Ucap Mikasa.
"Loh, kenapa dia tidak masuk?"
"Entahlah. Tadi pagi ketika ingin membangunkannya diapatermennya, ia sedang demam. Dan juga tubuhnya sakit semua terutama pinggangnya katanya." Jelas Mikasa yang tampak Khawatir.
"Ng, baiklah kalau begitu! Kita mulai saja ya pelajaran IPS ini!"
[END]
Ooo0ooO
Akhirnya kelar juga dalam sehari QAQ *Garuk-garuk aspal.
Hadeh, akhirnya! Saya hampir Anemia saat mengetik Chapter dua ini!
Maaf ya kalau aneh atau rada kuarang nyambung! Dan lagi maaf ya jika Ratednya tiba-tiba berubah QAQ
Mohon dimaklumi jika kurang terkesan. Soalnya Rated M nya baru kali ini aku membuatnya! TT_TT
Makasih buat Usagi Yumi, Zane Zavira, AkaneMiyuki, Arikawa Mayumi, sama ChiNekoKagamine yang udah Review di chater sebelumnya. Maaf belum sempet bales TTATT makasih buat kritikannya juga ya! Saya akan lebih teliti lagi dan terus berhati-hati.
Terima kasih semuanya!
RnR?
