Cast :
Oh SeHun (31tahun)
Oh-Kim- JongIn (30tahun)
Oh Haowen (4tahun)
Rated : K/T
Warn : Yaoi/BoysLove
HunKai or Sekai Story!
Note : harap maklum dengan typo. Maaf jika alurnya datar dan membosankan saya hanya mengeluarkan apa yang ada di pikiran saya. Saran dan kritik diperlukan. Tinggalkan jejak. Cast saya hanya meminjam namanya. Terimakasih. Ah panggil saya "Sa" atau "Khansa".
Happy Reading! ^^
Chapter 2!
JongIn berjalan lesu menuju kasurnya. Ia baru saja selesai mandi dan belum memakai baju, tubuh polosnya hanya tertutup bathrobe merah. Bulir air sesekali menetes dari rambut basahnya.
Ia duduk secara perlahan di kasur. Entahlah, sudah seminggu ini ia selalu merasa mual di pagi hari dan malam hari. Staminanya pun seakan menurun membuatnya selalu merasa lelah walau hanya naik turun tangga rumahnya. Ia menghela napasnya pelan. Kepalanya mulai pening kembali. Ugh, dia membutuhkan dada Sehun untuk sandarannya saat ini.
Entah JongIn yang sibuk melamun atau kehadiran tiba-tiba Haowen bagaikan setan. Haowen menghambur ke pelukan JongIn membuat tubuhnya menindih tubuh JongIn otomatis JongIn tidur terlentang. JongIn masih bingung hingga melihat cengiran polos dari Haowen menyadarkannya.
"Hehehe, maaf Mommy. Lagipula salah Mommy dali tadi Haowen panggil tidak nyahut."
Haowen membuka belahan bathrobe teratas JongIn lantas menidurkan kepalanya di dada rata JongIn. Menyamankan posisinya disana.
"Sayang, Mommy pakai baju dulu," JongIn mengelus rambut Haowen lembut semakin membuat Haowen enggan bergerak sedikitpun.
"Ngh," Haowen menggeleng lalu memeluk leher JongIn manja.
Oke, JongIn merutuki posisi mereka saat ini karena itu membuat perutnya semakin mual. Wajahnya mulai pucat tapi JongIn tidak tega mengangganggu kenyamanan putra tunggal tuan oh itu. Sudah waktunya Haowen tidur setelah seharian dia bermain dan tadi sore latihan Taekwondo, kasihan bukan kalau ia ganggu.
Kecupan-kecupan ringan diberikan JongIn pada kepala Haowen agar cepat tertidur. Dia menahan mual ini mati-matian. Perutnya pun tertekan oleh badan Haowen yang berat. Ia kembali menghela napasnya pelan.
.
.
Sehun mencari ke seluruh penjuru ruangan di lantai bawahnya tapi JongIn dan Haowen belum juga ditemukan. Biasanya mereka berdua tengah bermain atau JongIn membantu Haowen menulis atau semacamnya di ruang tengah. Sehun kembali melihat jam di dinding yang menunjukan pukul setengah tujuh itu artinya ia sudah mencarinya lima menit yang lalu.
Sehun melirik meja makan yang tertangkap pandangannya dari ruang tengah. Kosong. Tidak ada makanan di sana, hanya ada tempat sendok dan buah-buahan yang baru kemarin ia beli di keranjang buah. Tidak seperti biasanya.
"Kemana mereka?" tanyanya lirih.
Ia berjalan menaiki setiap anak tangga rumahnya. Membuka perlahan pintu kamar Haowen. Kosong. Ia mengernyitkan dahinya. Dengan cepat ia membuka pintu berwarna putih gading miliknya bersama JongIn.
Seperti slow motion Sehun membuka pintunya. Ia menghela napasnya lega. Namun, kembali mengernyitkan dahinya.
Ia memasuki kamarnya tanpa menimbulkan suara yang dapat menganggu keduanya. Mata JongIn dan Haowen terpejam. Sehun pikir Haowen tidur tapi tidak yakin dengan JongIn yang terlihat tidur tapi tangannya terus mengelus rambut serta punggung Haowen bergantian. Diperhatikannya dengan seksama wajah pucat JongIn seperti menahan sesuatu.
Sehun mengalihkan pandangan ke tubuh bagian bawah JongIn. Bathrobe. Mungkin JongIn baru saja selesai mandi.
"JongIn-ah," Sehun menundukan tubuhnya. Berbisik tepat di telinga JongIn.
"Eung."
Yang pertama JongIn lihat saat membuka matanya adalah wajah Sehun yang begitu dekat. Ingin rasanya memukul Sehun tapi ia ingat ada Haowen di atas tubuhnya. Sehun menjauhkan wajahnya lalu duduk di samping tubuh jogin. Tangannya mengelus punggung Haowen.
"Tumben sekali jam segini sudah tidur pakai bathrobe lagi," ujar Sehun sedikit menggoda JongIn. Mengundang JongIn untuk berdecak pelan.
"Hun, bantu aku."
Sehun melihat JongIn bingung. Ia mengangkat tubuh Haowen pelan lalu menidurkannya di samping JongIn pelan. Sehun dapat melihat dada JongIn yang terekspos cukup membuat birahinya sedikit meningkat. JongIn segera bangun lalu berjalan tergesa menuju kamar mandi.
Sehun langsung mengikutinya. Ia sangat khawatir. Tidak biasanya JongIn seperti ini. Lelaki berumur tiga puluh tahun itu tengah menunduk seakan berusaha mengeluarkan sesuatu dari mulutnya. Sehun memijat tengkuk belakang JongIn pelan, sedikit meringis melihatnya.
JongIn berkumur lalu membasuh wajahnya yang tampak lesu. Tubuhnya akan terjatuh jika Sehun tidak sigap menangkapnya. Dengan lembut Sehun memeluknya. Mengusap punggung JongIn lembut.
"Sudah makan?" tanya JongIn lirih.
"Sudah tadi aku ditraktir ChanYeol. Bagaimana dengan kamu? Aku melihat meja makan kosong."
"Hm, maaf. Hari ini aku sangat lelah entahlah kenapa, tapi Haowen sudah makan," JongIn mendongakkan kepalanya menatap Sehun yang khawatir menatapnya.
"Kamu?" JongIn menggeleng.
"Aku merasa mual setelah makan jadi aku pikir lebih baik tidak usah makan sekalian." Jelas JongIn masih dengan suara yang minim.
Sehun berdecak lalu melepas pelukannya pelan. Menggenggam tangan JongIn secara perlahan, membawanya kembali masuk ke dalam kamar. Sedangkan JongIn hanya diam mengikuti Sehun. Ia merasa lelah meski hanya berbicara.
Genggaman di tangannya terlepas saat Sehun sudah berada di depan lemari. Dengan cekatan ia mengambil setelan piyama untuk JongIn.
"Sehun!" panggil JongIn pelan tapi tidak digubris sama sekali.
"Sehun!" JongIn menggenggam pergelangan tangan Sehun yang sedang mengambilkan celana membuat aktivitasnya terhenti lalu menatap JongIn.
"Aku bisa sendiri sayang."
Jari lentiknya melepas setiap kancing yang ada di kemaja Sehun. Dengan telaten dia melepaskannya. JongIn memberikan senyuman terbaiknya meski sangat menyedihkan di mata Sehun yang menatap JongIn dalam diam.
"Tunggu sebentar, aku akan menyiapkan air hangat untukmu," JongIn mengelus pipi Sehun lembut sebelum kembali berjalan memasuki kamar mandi.
Belum tiga langkah JongIn berjalan, Sehun menarik pelan pergelangan tangannya.
"Tidak usah, aku bisa menyiapkannya sendiri. Kau sedang sakit. Istirahat saja," Sergah Sehun dibalas gelengan JongIn dan senyuman lalu kembali JongIn melanjutkan jalannya.
Sehun hanya menatap JongIn diam. Seperti pernah merasakan kejadian yang sama. Ck, ia déjà vu.
.
.
Saat ini Sehun tengah menemani JongIn makan. Sulit sekali rasanya JongIn makan. Biasanya dia paling senang makan apapun terlebih yang di depannya ini ayam goreng yang Sehun masak sendiri meski JongIn telah menyiapkannya dan tinggal di masak.
"Sayang ayo makanlah. Tiga suap saja asal perutmu terisi," Sehun masih setia membujuk JongIn.
JongIn kembali menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau Sehun. Yak! singkirkan itu," JongIn menjauhkan wajahnya serta sendok yang sudah berada di depannya.
"Kau ini kenapa? Jarang sekali menolak makanan tapi sekarang menolaknya ini ayam goreng loh, Jong," JongIn tetap menggeleng.
Sehun menghela napasnya pasrah. Kembali diletakannya sendok pada piring lalu beralih menatap JongIn yang juga menatapnya.
"Kenapa? Cerita padaku tentang hari ini," Sehun bertanya sabar dan menatap JongIn lembut.
JongIn menyadarkan tubuhnya pada kursi dan memejamkan matanya, "Aku mual," lirihnya.
"Waeyo? Kau salah makan?" tanya Sehun penasaran.
"Ani, aku tidak makan apapun sejak pagi karena ujung-ujungnya pasti aku akan memuntahkannya."
Oke, itu kalimat terpanjang pertama yang diucapkan JongIn untuk hari ini.
Sehun bangun dari duduknya menghiraukan tatapan bingung JongIn. Ia bergerak mengambil ponselnya lalu mendial seseorang. JongIn hanya menatap Sehun yang menjauh darinya. Terdengar samar-samar jika Sehun meminta 'kosongkan jadwal' dan 'besok'.
"Besok kuantar ke rumah sakit tak ada penolakkan. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu, sayang,"ujar Sehun setelah usai menelepon mengundnag dengusan dari JongIn.
"Aku tidak sakit tuan Oh yang terhormat," ujar JongIn lantas berdiri mendekatkan tubuhnya ke tubuh Sehun.
"Lihatlah aku sehat, kan?" JongIn mengerling nakal melupakan sejenak rasa mual yang melandanya. Sehun hanya diam.
"Kau tega membawaku ke rumah sakit sedangkan aku tidak sakit sama sekali, hm?"
Sehun meneguk ludahnya kasar. JongIn kini memutari dada Sehun menggunakan jarinya. Oh tuhan, demi apapun JongIn sangat seksi sekarang. Lihatlah kini ia menggigit bibir bawahnya serta menatap Sehun sensual.
"Jangan ya?" tanya JongIn kembali.
Kepala keluarga di rumah itu langsung tersadar. Sebuah ide muncul di kepalanya. Ia mengeluarkan seringainya membuat JongIn tersenyum.
'Pasti dia menyetujuinya. Ah bahagia sekali aku.'
"Hm jangan ya?" tanya Sehun balik membuat JongIn sedikit ketakutan.
Tangan besar Sehun mulai mengunci pergerakan JongIn. JongIn mulai was-was tapi tidak dengan wajahnya yang masih membujuk suaminya. Sehun mendekatkan wajahnya ke leher JongIn. Dengan senang hati JongIn menjenjangkan lehernya
"Kau menolak, ku sekap kau di kamar selama sebulan, biarkan saja Haowen dengan Mami atau Eomma. Bagaimana hm?" Sehun mengecup leher JongIn lembut kemudian menggigitnya pelan.
JongIn memelototkan matanya dengan segera mendorong tubuh Sehun menjauh lalu berjalan cepat menuju kamarnya. Menghiraukan teriakan Sehun.
"Yak! Chagiya makan dulu!"
.
.
.
"Aku sudah ke rumah sakit sekarang bawa aku ke rumah Mami. Aku berharap kau tidak sungguhan dengan ucapanmu tadi malam."
Sepasang suami istri-suami- ini tengah berada di dalam mobil menuju rumah Sehun sewaktu kecil, rumah Oh Kris dan Oh LuHan. Setelah memeriksa keadaan JongIn di rumah sakit tentunya.
Sehun bersyukur karena JongIn dalam keadaan baik-baik saja sampai Sehun merasa sangat baik. Terlihat sedari keluar dari ruang dokter Sehun tersenyum tidak jelas sedangkan JongIn mengelus perutnya sambil mengucapkan sesuatu seperti "Amit-amit" saat melihat Sehun yang menjadi aneh.
"Sehun!" panggil JongIn kesal karena tidak digubris sama sekali.
Sehun melirik JongIn sekilas, "Iya nyonya Oh yang paling cantik dan manis," bagus. Wajah JongIn merah padam sekarang.
"Ck, hentikan itu."
.
.
.
Sehun dan JongIn berjalan beriringan memasuki halaman rumah keluarga Oh. Jangan tanyakan mobilnya, karena mobilnya sudah terpakir dengan apik di dalam garasi khusus mobil miliknya.
Sehun memencet bel yang terdapat di antara kusen pintu dan jendela. Beberapa detik mereka menunggu sampai seorang lelaki berumur delapan belas tahun membukakan pintunya.
"Oh, Sehun hyung, JongIn hyung masuklah. Aku kira siapa," sapanya ramah dengan senyum mengembang di wajah tampannya.
"Memangnya kamu kira siapa, heh? Pengantar barang?" ujar Sehun sembari masuk bersama JongIn melewati namja yang lebih muda darinya tengah mendengus karena rambutnya diacak oleh tangan besar Sehun.
JongIn tersenyum lalu memeluk namja itu yang juga balas memeluknya.
"Bagaimana kabarmu, Mark?" tanya JongIn setelah melepas pelan pelukannya.
"Tentu saja baik noona. Oh ya sepertinya noona sedang ngisi ya? Kok makin cantik saja seperti calon ibu baru," namja yang dipanggil Mark itu tersenyum jahil menatap JongIn.
"Yak! Aku bukan wanita, panggil aku hyung, Mark," protes JongIn kesal.
"Mana ada lelaki yang bisa punya anak dari perutnya sendiri dan kini sepertinya Haowen akan punya adik. Hahaha," Mark berlari sebelum mendapat protesan JongIn.
"Hei hei! Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?"
Tiba-tiba Mami LuHan dibuat bingung karena melihat putra bungsunya berlari sembari tertawa dengan sesekali mengucapkan "JongIn noona". LuHan yang mendengar nama menantu kesayangannya disebut segera berjalan menuju pintu utama.
"Oh, hai sayang!"
"Anyeong, Mami."
LuHan memberikan pelukan sebagai tanda selamat datang untuk putra sulung dan menantunya.
"Sehun, sepertinya kau semakin gagah saja ya. Ckck," LuHan berdecak memperhatikan Sehun dari atas sampai bawah.
"Tentu saja," jawabnya menyombongkan diri.
LuHan memutar bola matanya malas lalu beralih menatap JongIn yang tampak berbeda dari biasanya.
"Apa kau makan dengan teratur, JongIn?" tanya LuHan sembari berjalan beriringan bersama JongIn ke ruang tengah.
JongIn dan LuHan mendudukan bokongnya di sofa coklat milik keluarga Oh, "Hn, semua makanan yang ada di depanku langsung ku lahap, Mami,"
JongIn mengangguk lucu. Matanya melihat Sehun yang berjalan memasuki kamar semasa kecilnya dulu.
"Papi dimana, Mi?" tanya sehun sebelum memasuki kamarnya.
"Perpustakaan,"jawabnya cuek, "benarkah? Tapi badanmu lebih kurus. Ah, atau kau kebanyakan minum sehingga perutmu buncit?" tanya LuHan penasaran membuat SeHun berdecak sebal lalu memasuki kamarnya.
JongIn terdiam cukup lama sedangkan LuHan menunggu jawaban menatap JongIn antusias. Hingga namja bermata rusa itu menatap aneh JongIn yang tersenyum polos tak berdosa.
"Aku menampung adik Haowen, Mami."
"Kau hamil?" teriak LuHan heboh.
"Mommy hamil?"
Tbc/End
Waah terimakasih banyak ternyata banyak yang respon dan minta kelanjutannya. Saya minta maaf jika fanfiction ini tidak menyenangkan atau tidak sesuai dengan kemauan kalian. Sekali lagi saya minta maaf. Saran dan kritik sangat diperlukan.
Thanks to :
Onlysexkai, geash, ohkim9488, MooN48, , , kaila, Hunna94, KhaiChan, ParkJitta, novisaputri09. Dan yang sudah mengikuti serta menyukai fanfiction saya, para readers juga. Terimakasih
