Colonialism
A Hetalia Fanfiction
Disclaimer: Hetalia milik Hidekazu Himayura
Main Chara: England, Netherland, Japan Fem!Indonesia
Rated: T
Genre: Family, Hurt/Comfort, Friendship
Warning: OC, OOC, Semi-Historical
Summary: Indonesia telah kehilangan sosok Kakak sekaligus gurunya. Setelah Netherland datang, Hindia Belanda terbentuk untuk menjadi 'Indonesia' yang lain.
.
Project: 2/4
2: Netherland, Akal Sehat, Kelicikan, dan Pemberontakan
.
Menjelajahi samudera demi menemukan tahan kaya rempah; Netherland tak berdaya dengan budi kaya budaya kepulauan. Bukan tak berdaya dalam kekuatan politik atau apa; kepulauan itu bahkan tak tahu-menahu tentang politik. Namun Netherland merasa tak berdaya dengan kekayaan budaya masyarakat setempat. Serta kebaikan dan sopan santun masyarakat sekitar. Mereka naif; Netherland tahu. Namun perasaannya merasa kalau mereka tidak senaif yang ia kira. Mereka memiliki kekuatan sendiri. Netherland paham.
Baru saja Netherland melihat daratan, Netherland merasa ada orang lain yang telah menginjak daratan itu. Dan Netherland merasa orang itu masih ada di sana; entah di sebelah mana. Kapalnya merapat di pelabuhan itu. Disambut dengan tatapan heran dari warga sekitar. Namun juga tatapan punggung dari seseorang berpakaian serba hitam dan panjang; tanpa memperlihatkan rambutnya yang ditutupi kain hitam. Netherland menatap heran orang yang sengaja memalingkan tubuhnya itu. Namun ia tak peduli.
England menatap sendu dengan mata hijau zamrud itu. Tahun yang ditandakan oleh Indonesianya akan segera datang.
.
Satu hari, England mengajak gadis tanpa nama itu berjalan-jalan ke pinggir kota; tempat para pedagang menjajakan semua yang ada. Serta tempat datang dan perginya para pedagang dari luar. Namun saking asyiknya gadis itu menikmati tepi pantai, ia sampai lupa akan 'Kakak'nya yang pergi entah ke mana.
Keesokannya England membawanya menumpang kapal menuju ke Sumatera. Gadis itu tak dapat berkata apa-apa. Posisinya benar membingungkan; namun ia tetap ikut. Dan semenjak mereka berada Sumatera, England menjadi lebih protective pada gadis tanpa nama itu. Namun gadis itu hanya menurut pada 'Kakak'nya. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membalas semua kebaikan 'Kakak'nya.
.
Satu pagi, gadis tanpa nama itu mencari ke semua tempat yang ia pikir akan didatangi oleh England. Gadis itu tidak tahu apa alasan England pergi tanpa pamit. Namun satu hal yang gadis itu mengerti: England telah pergi semenjak malam hari kemarin. Ditandai dengan tanggalan yang belum dibalik. Tanda kecil itu membuat gadis itu semakin kalang kabut. Entah kenapa semua terasa begitu asing saat itu. Tubuhnya bagai terbelah; rasanya sakit. Pikirannya kacau. Habis.
.
Tak ada yang gadis ikal itu pikirkan saat terbangun. Yang ada di kepalanya hanyalah kata "Kau Hindia Belanda, takluklah pada Indonesia"; di mana gadis ikal itu merasakan semua memori negeri pijakkannya masuk ke kepalanya.
Kau personifikasi. Kau bagian dari Indonesia. Kau sama dengan Indonesia. Kau... Kau...
Cukup, gadis ikal itu sakit kepala. Memori yang masuk terlalu banyak. Ditegakkannya tubuh kecil itu. Sebelum akhirnya berusaha berdiri, meski tubuh itu belum seimbang dan masih sempoyongan. Tangan itu masih bertumpu pada batang kayu. Pakaiannya dari kain hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya kecuali kepala. Coklat, tubuhnya terbubuh tanah. Perlahan nyawanya berkumpul dalam satu tubuh, bersamaan dengan hilangnya saripati tanah itu dari kulit coklatnya.
Tanah Sumatera. Tanah kelahiran seorang personifikasi setara negara namun bukan negara yang mengenal dirinya sebagai Hindia Belanda.
.
Mata hitam itu melunak saat melihat sesosok terbaring lemah di atas tanah. Hanya menggunakan batik untuk menutupi tubuhnya. Debur ombak menyentuh ujung-ujung jari kakinya. Gadis itu mendekatinya. Instingnya merasa orang itu adalah 'dirinya'. Semakin dekat, baru gadis itu menyadari kalau orang itu masih sepenuhnya sadar. Meski nafas itu tersendat sedikit-sedikit. Gadis berambut hitam dikuncir tinggi itu baru sadar kalau orang di depannya adalah seorang wanita berambut pendek ikal.
"Hei kau." Gadis ikal itu berkata. Nafasnya kembali kersenggal. Gadis berkuncir terdiam. "Kau Indonesia kan?" Gadis berkuncir itu tertahan nafasnya.
"Apa itu namaku?" Indonesia bertanya. Pada dasarnya ia memang tidak tahu apa-apa. Yang ia tahu hanyalah ilmu alam dan perasaan; di mana Indonesia terbangun dan hidup di antara keduanya.
"Kau... Indonesia. Aku... Hindia Belanda. Dirimu yang lainnya..." Hindia lantas duduk. Jubah hitam yang dikenakannya separuh basah. Gadis ikal itu menoleh ke arah Indonesia, lalu mendongak menatap mata hitam Indonesia.
"Kita... Terjajah. Namun satu hari, tanggal 17, bulan 8, akan merasakan kemerdekaan. Terbebas dari belenggu sesama negara. Dia rela melepaskan tanahmu. Negara yang utuh. Ramalan berlaku sekitar 475 tahun sejak kau kehilangan England." Hindia meramalkan dengan caranya. Lantas berdiri, menatap lautan. Angin kembali berhembus, menerbangkan rambut keduanya. Indonesia mengeratkan kain merah yang ia gunakan sebagai kuncir. Tak lama Hindia lalu menariknya masuk ke hutan rimbun di belakang sana.
"Kau... Bertahan dalam kenaifan setelah bertemu Portugis. Namun tahun ini, seseorang akan mengubah tatapan naif itu dengan pemberontakan." Hindia kembali berkata. "Ramalanku relatif."
.
Netherland memotong dahan yang menghalangi jalannya. Lelaki berambut pirang jambul itu menghela nafas panjang saat mendapati ia benar tersesat.
Klak!
Netherland mendengar suara patahan ranting dari arah belakangnya. Begitu lelaki itu mendongak, ia tak melihat siapapun di sana. Sudahlah. Mungkin hanya imajinasinya saja. Netherland melanjutkan acara tersesatnya.
Sementara di belakang sana, Hindia tengah menganalisis. Bersama Indonesia yang tengah mengumpulkan memori.
"Netherland. Orang ke-3 yang memijak tanah. Dia mengusir England. Dia penjajahmu sekarang." Hindia menyimpulkan. Indonesia menghela nafas pelan.
.
Keji. Orang itu keji. Mereka semua keji. Tak tahu ampun. Netherland menyiksa semuanya. Memaksa mereka bekerja. Dia mengajarkan kepelitan, kekejaman, keji. Di seluruh penjuru nusantara, pemberontakan terjadi. Netherland sudah lelah, tapi ini demi dirinya sendiri. Ia tak bisa mengambil keputusan sepihak. Semua ditingkatkan, pertahanan, kekuatan, semua. Mereka membangun armada, benteng, melatih pasukan, mereka mengantisipasi semuanya. Tindakan baik, untuk mereka.
.
"Hei Kau." Seorang wanita berambut pendek ikal mencegat Netherland di jalan setapak di tengah hutan. Netherland berheti, sedikit berarti melayani tindakan nekat wanita berpakaian tertutup di depannya. Kain hitam mirip jubah itu menutupi hampir seluruh tubuh wanita kecil itu. "Kau. Koninkrijk der Nederlanden." Netherland terkejut saat tahu nama lengkapnya disebut.
"Ya. Aku." Netherland menyahut tenang. Berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Wanita ikal itu menundukkan kepalanya selalu. Tak ingin wajahnya terlihat oleh lelaki itu.
"Kau sebenarnya mencari siapa personifikasi tanah pijakkanmu bukan?" Tebakkan wanita itu memang benar, Netherland mencari siapakah personifikasi yang menjadi wujud tanah pijakannya.
"Ya. Dan sekarang, aku menemukannya di depanku." Setelah berpikir sesaat, Netherland memutuskan.
"Kau sebenarnya menginginkan tanah kami kan?" Netherland terkejut begitu isi hatinya yang terdalam dibicarakan.
"Ya. Dan dengan memilikimu aku dapat menguasai ini sepenuhnya." Netherland lantas mendekat ke arah wanita ikal itu. Lalu mengelus rambut kepalanya, sejurus kemudian memaksa wanita itu mendongak menatapnya. "Tatap aku, hei orang aneh!" Netherland memaksa wanita itu mendongak dengan mengakat paksa dagunya. Wanita itu tak lagi kuat, lalu mendongak mengikuti arahan Netherland. Namun ketika iris obsidian itu bertemu dengan hijau zamrud, wanita itu terdiam.
"Koninkrijk der Nederlanden. Merdeka sebagai kerajaan konstitusional tanggal 16 Maret. Kau; Netherland. Janjimu pada seseorang membuatmu tak dapat tertidur dengan tenang." Iris obsidian menatap iris hijau zambud dengan tatapan datar namun tersirat optimis. Netherland tersentak saat mendengar satu ramalan lain dari wanita di depannya.
"Aku menamaimu Hindia Belanda. Aku yang sekarang berkuasa atas darat dan air negeri ini!" Netherland mulai berbicara kasar pada wanita di depannya yang seenaknya meramal.
"Hei kau; Netherland. Janjimu tak akan terpenuhi dengan mudah..." Hindia masih menatap hijau zamrud itu dengan mata obsidiannya. Tak peduli meski lelaki di depannya tengah menahan kesal.
"Hei kau, Hindia!" Netherland memalingkan wajahnya sambil menarik kembali tangannya. Lalu sejurus kemudian tamparan itu sampai pada pipi Hindia. "Aku berjanji akan benar membunuhmu bila kau masih melanjutkannya!" Hindia bergeming, terdiam tidak melakukan apapun dengan bekas kemerahan hasil tamparan Netherland di pipi kirinya. Wajah gadis itu berpaling ke kiri sehingga wajahnya tertutup oleh surai ikal sebahu itu.
"Janji. Kau benar melakukannya." Sejurus kemudian Netherland tak melihat siapapun di depannya.
.
Chapter 2: END
.
A/N: Ini fic tinggal setengah lagi... Do'akan saya cepat menyelesaikan bagian Jepangnya... :)
Untuk Ann: Terima kasih sudah mereview. Tapi saya tak punya jawaban untuk itu. Namun saya berani jamin tidak benar-benar UKNes. Tapi ada sih beberapa hintnya. Yang jelas, nanti ada ehemJapHinehem #plak.
Butuh saran dan kirtik, jangan enggan untuk mereview atau memberitahu saya... :)
Salam,
Mind to review?
ON:
