Hinata berdiri di depan rumah yang bertuliskan "Kageyama". Ia membawa kare instan dan susu kotak di tangannya. Ia terhenti di rumah itu. Bersiap. Dan mengatur nafas.

A Small Blueberry

Original Story : Haikyuu! By Furudate Haruichi

Main Characters : worker!Hinata Shouyou & Shota!Kageyama Tobio

Warning : Typos, ooc kejauhan, cerita gaje, beberapa original character pendukung, dll.

Enjoy

.

.

.

Setelah mencari informasi ke kanan dan kiri, Hinata mendapat kabar kalau Tobio masih tetap ada di rumahnya. Bocah berumur sepuluh tahun itu sama sekali tidak mau tinggal bersama orang lain. Dia juga tidak mau di asuh oleh orang lain. Ia lebih memilih untuk tinggal di kediamannya sendiri. Sepertinya kerabatnya sekalipun tidak bisa mengatasi sifat Tobio yang begitu keras kepala. Mau tidak mau mereka membiarkan Tobio untuk tinggal di rumahnya, dan hanya datang ke sana untuk memberinya makanan dan kebutuhannya sehari-hari.

"Tentu saja kami tidak tega meninggalkan Tobio seperti itu. Tapi dia benar-benar menolak mentah-mentah tawaran kami, bahkan jika kami memaksanya sekalipun. Dia sangat keras kepala. Kalau Hinata-kun sempat akrab dengan Yukari, mungkin Tobio mau mendengarkan Anda. Oleh karena itu dengan sangat saya memohon pada Anda agar Anda mau membantu kami membujuknya. Kalau ternyata Hinata-kun bisa membujuknya agar dia mau tinggal bersama kami, kami akan sangat berterima kasih."

Kalimat itu datang dari bibi Tobio, kakak ipar dari almarhum sang Ibu. Ia paham benar apa yang ada dalam pikiran kerabat Tobio, tapi ia juga paham benar seperti apa Tobio itu. Ia tahu ini akan sangat susah. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan Tobio berakhir seperti ini sampai dewasa. Pilihan terbaik yang ia punya hanyalah berjuang sekuatnya untuk merayu Tobio.

Hari ini, seminggu setelah meninggalnya sang Ibu, Hinata memulai perjuangannya. Hinata mengambil napas dalam-dalam, lalu memencet tombol pintu.

Hinata menunggu agak lama. Sama sekali tidak ada jawaban atau tanda-tanda pintu akan terbuka.

Hinata memencet tombol pintunya lagi dan ia menunggu lagi.

Masih tidak ada tanda-tanda reaksi dari dalam.

"Tobio?" Hinata akhirnya sedikit berteriak memanggil.

Tidak ada jawaban.

"Ini aku, Hinata!" Ia berteriak lagi, "Apa kau ada di dalam?"

Masih tidak ada jawaban.

Apa dia keluar? Tapi kerabatnya bilang dia sama sekali tidak keluar rumah kecuali saat sekolah. Dan aku rasa dia juga bukan tipe anak yang suka keluar rumah.

"Tobio?"

Tetap tidak ada jawaban.

"Tobi-" Belum sempat Hinata selesai dengan panggilannya, pintu itu terbuka.

Mata Hinata melebar, Tobio ada di balik pintu itu. Mengintip dengan kedua bola matanya. Nafas Hinata tertahan, bola mata blueberry yang sudah lama tidak ia jumpai itu mempunyai beban yang jauh lebih berat daripada yang terakhir ia lihat.

Hinata menelan ludah,"Tobio.. ini aku, Hinata. Kau masih ingat'kan?"

"Apa maumu?" Bukannya menjawab pertanyaan Hinata, bocah kecil itu malah memandang sinis ke arahnya.

Serius.. ini akan susah...

"A.. aku mendengar kabar buruk.. lalu aku ke sini...Uhm... aku turut berduka cita...aku tid- "

"Kau mau membujukku untuk tinggal dengan orang-orang itu juga?"

"Ah.. apa maksudmu?" Hinata terpaksa pura-pura tidak tahu.

"Jangan pura-pura. Kau dimintai tolong oleh orang-orang itu untuk membujukku kan?! Pergilah! Aku tidak mau!"

Hinata menahan umpatannya dalam hati.

"A-aku tidak tahu maksudmu.." Hinata mengangkat kantung plastik yang dibawanya, "Aku hanya ingin melihat keadaanmu saja. Aku juga membawakan kare instan dan susu kotak untukmu. Kau menyukainya kan?"

Bocah yang ditanyai terdiam memandangi kantung plastik yang dibawa Hinata. Dengan secepat kilat dia mengambil kantung itu, lalu mengintip ke dalamnya. Samar Hinata melihat sejumput kesenangan muncul di wajah si bocah.

Hinata hampir bernapas lega kalau saja Tobio tidak kembali memandang sinis ke arahnya.

"Ya sudah. Kuterima ini. Kau pulanglah."

"Eh? Tapi..."

"Apa? Tujuanmu ke sini hanya untuk memberikanku bingkisan ini'kan?"

"Eh? Itu..."

Tidak mungkin bagi Hinata untuk menemukan topik yang tepat dalam jangka waktu sesingkat itu. Padahal semula Hinata beranggapan Tobio agak sedikit melunak. Tapi ia sadar ia berharap terlalu banyak untuk misinya di hari pertama ini. Akhirnya dia menyerah.

"Iya sih..."

"Ya sudah!" Tobio-pun menutup pintunya dengan kasar membuat Hinata menutup mata agak terkaget.

"Ah hei!"

Pintu di depannya sudah membisu kembali. Hinata menggaruk belakang kepalanya heran.

"Makan yang teratur ya! Aku akan kembali tiga hari lagi!"

Tidak ada balasan dari dalam. Sepertinya bocah itu sudah menyibukkan diri sendiri bersama makanan kesukaannya. Sudah tidak dapat diingatnya lagi berapa kali ia menghela napas hari itu. Hinata pun membalikkan badan dan pergi.

Memang semula ia tak berharap banyak. Malah justru ia berpikiran kalau Tobio tidak akan menerima barang pemberiannya. Tapi sepertinya, bocah itu memang sangat suka dengan kare dan susu. Ia menyadari kalau si Tobio sekarang tengah mengintip dari pintu gerbang rumahnya. Hanya saja, Hinata pura-pura tidak tahu dan tidak menoleh sedikitpun. Diam-diam Hinata tersenyum lega.

Lusa akan ku bawakan makanan yang sama.

.

.

(Tiga hari kemudian).

Hinata memencet bel pintu. Tapi walau agak lama dia menunggu, pintu di depannya tidak juga terbuka.

"Tobiooo! Ini aku, Hinata!"

Sejurus kemudian, Hinata mendengar derap langkah kaki kecil mendekat. Benar saja, pintu itu terbuka dengan segera. Manik bulat berwarna biru blueberry itu kembali menyambutnya. Ternyata memang benar dugaan Hinata, Tobio hanya akan membukakan pintu setelah dia tahu siapa yang ada di depan pintunya. Itu artinya, Hinata harus membuat suara agar Tobio mengetahuinya.

"Hei! Kau sehat?" Hinata membuka pertanyaan, basa-basi.

"Bukan urusanmu aku sehat atau tidak."

Batin Hinata mendongkol secara spontan mendengar jawaban itu. Belum ada 10 detik mereka bertemu pandang, tapi bocah di hadapannya sudah sukses membuatnya jengkel.

"A-Aku bawakan makanan untukmu lagi."

Tobio terdiam melihat kantung yang tergantung di tangan Hinata. Hinata sengaja tidak menyebutkan isinya, memancing si Bocah untuk bertanya.

"... Apa isinya?"

Oh.. dia berhasil.

"Seperti kemarin lusa. Karena sepertinya kau menyukainya, jadi aku bawakan lagi."

Tobio mengeluarkan seluruh tubuhnya dari dalam. Bocah itu terlihat memakai celana pendek biru dan kaos polos berwarna hitam. Setelah beberapa lama kenal dengan Tobio, Hinata baru sadar. Untuk seumuran bocah 10 tahun, Tobio tergolong tinggi. Sepertinya bocah itu akan segera menyusul tinggi Hinata sebentar lagi. Hinata sedikit sebal pada dirinya sendiri yang sudah terhenti pertumbuhannya pada angka 168 cm.

Bocah di depannya kembali menyambar kantung yang di pegang Hinata, tetapi lebih pelan dari sebelumnya. Cerah wajahnya muncul kembali setelah memeriksa isi kantung tersebut. Tapi hanya sesaat, karena kemudian ia memandang Hinata curiga.

"Kau menyogokku kan?" Tuduhnya.

"Ha?" Hinata jelas saja kaget, "Menyogok bagaimana?"

"Kau sengaja menyogokku dengan makanan ini agar nanti aku mau mendengarkanmu."

"Ah- ti-tidak. Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?"

"Lalu buat apa kau membelikan ku ini semua?"

Hinata berpura-pura mengeluh dan menggaruk-garuk kepala keheranan, sementara kepalanya sedang berjuang sekuat tenaga mencari alasan.

"Kau ini, bisa tidak sih, tidak mencurigai orang lain?" Hinata berkacak pinggang.

"Lalu apa maumu?!" Tobio agak membentak.

" Itu.." Sepertinya Tuhan sedang berbaik hati dan memberikannya ide waktu itu juga. "Kau tahu sendiri kan kalau aku setiap ke makam itu mengujungi siapa?"

Tobio tidak menjawab. Hinata kembali meneruskan kalimatnya,

"Aku tahu benar rasanya kehilangan orang tua... yaaa.. walaupun belum keduanya. Tapi aku tahu betapa pedihnya perasaanmu. Dulu aku juga pernah merasakannya saat Ayahku meninggal. Aku hanya ingin menghiburmu, karena aku tidak kau sedih berlarut-larut seperti yang kurasakan dulu. Itu saja."

Tobio tampak sedikit berpikir, "... benar hanya itu? Kau tidak bohong'kan?"

"Ya... aku tidak memaksamu percaya sih. Tapi memang begitulah kenyataannya."

Setelah terdiam sesaat, bocah itu memalingkan muka. Hinata bisa memastikan kalau itu merupakan bentuk reaksi dari penerimaanya atas alasan yang diutarakan Hinata. Hinata lega.

"Ya sudah." Bocah itu kembali masuk ke dalam rumahnya.

Dia memandang Hinata sesaat sebelum menutup pintu. Hinata membalas pandangannya dengan senyum. Dan, Blaam! Pintu pun ditutup dengan segera.

"Ah! Hei... Tobio?" Hinata terkejut melihat pintu di depannya kembali tertutup tanpa sempat ia mencegahnya. "Aku akan kembali lagi!"

Suasana hening sesaat.

"Kapan?" Terdengar samar suara pertanyaan di balik pintu.

"Tiga hari lagi, seperti kemarin!"

"Terserah..."

Senyum lebar mengembang di wajah Hinata. Ia telah selangkah lebih dekat dengan Tobio. Meskipun ia harus terus-terusan bolak-balik dari apartemen ke rumah Tobio yang jaraknya sekitar satu jam perjalanan, ia dengan senang hati melakukannya jika hasilnya seperti sekarang ini. Rasa lelah yang tadi ia rasakan di kantor mendadak hilang karena sambutan 'hangat' dari sang bocah. Hinata pulang dengan riang.

.

.

.

(Tiga hari selanjutnya)

Hinata berlari-lari kecil dengan jaketnya yang ia gunakan sebagai payung. Gerimis sudah membasahi setengah tubuhnya sejak ia turun dari minibus. Begitu sampai di rumah Tobio, Hinata dengan cepat memencet bel pintu rumah itu.

"Tobiooo!"

Agak lama Hinata menunggu sampai si bocah itu membukakan pintu.

"Kau lama sekali." Kalimat pertama muncul dari bibir Tobio.

Hinata terkisap, "Eh? Kau menungguku?"

Bocah itu terkejut mendengar pertanyaan Hinata. Terlihat jelas sekali di wajahnya kalau ia menyesali protesnya barusan. Ia memalingkan muka menyembunyikan wajahnya yang memunculkan semburat merah.

"Ti-tidak! Siapa bilang?"

"Lalu?"

"A-aku.." Dia tampak bingung mencari jawaban, "Aku menunggu makanan yang kau bawa! Bukannya menunggumu, jangan sok kau!"

Hinata terpaksa menahan tawanya melihat tingkah kikuk bocah yang ada di depannya. Ia memberikan makanan di tangannya. Seperti biasa, Tobio memeriksa isinya. Tapi kali ini keningnya sedikit mengkerut menyaksikan bentuk baru di antara kare instan dan susu kotak yang biasa dibawa Hinata.

"Aku menambahkan bakpao daging." Hinata menerangkan sebelum bocah itu bertanya.

"Bakpao daging?"

Hinata mengangguk mantab, "Yaaa... aku tidak tahu kau menyukainya atau tidak. Tapi karena menurutku dan orang-orang yang sudah mencobanya enak, jadi kupikir kau akan menyukainya nanti."

Tobio mengeluarkan bakpao itu dari kantung plastik dan memeriksanya. Lalu membuka dan menggigitnya sedikit. Bola matanya melebar saat mulutnya sudah bergerak mengunyah.

"Enak?"

Tobio tidak mengangguk, juga tidak menggeleng. Dia hanya melirik Hinata.

"Aku tidak membencinya." Jawabnya pelan.

Hinata tersenyum sumringah. Baginya, itu artinya 'enak sekali!'

"Ya sudah." Si Tobio mendadak mundur dan masuk kembali ke dalam rumah.

"Ah, hei!"

Blaam! Pintu tertutup dengan agak keras. Pundak Hinata berjengit kaget.

"Hei Tobio! Paling tidak ijinkan aku masuk!" Hinata mengetuk pintu di depannya beberapa kali.

"Berisik!" Terdengar protes dari dalam. "Pulang sana!"

"Kau tidak tahu apa aku kehujanan begini?!"

Tidak ada jawaban. Hinata kembali menggerutu.

"Kau ini, padahal aku sudah jauh-jauh dari apartemen ke sini hanya untuk menemuimu."

"Itu salahmu sendiri. Dari awal tidak ada yang menyuruhmu ke sini!" Tobio kembali membantah.

Hinata mengumpat dalam hati, Sikapmu itu yang memaksaku ke sini dasar bocaaah!

Hinata menghela napas. Badannya terlalu lelah untuk digunakan berdebat lebih lanjut. Setelah agak lama memikirkan kemana selanjutnya ia akan berteduh, Hinata berpamitan.

"Tobio, aku tidak bisa datang tiga hari ke depan."

Agak lama Hinata menunggu, setelah itu terdengar suara agak pelan dari dalam.

"Kenapa?"

"Aku ada lembur seminggu ini. Aku baru bisa datang minggu depan."

"... Terserah."

Hinata pun segera pamit dan bersiap menembus hujan. Ia akan berkunjung ke rumah kerabat Tobio sejenak sampai hujan agak reda. Meskipun bisa dibilang rumahnya tidak terlalu jauh dari wilayah rumah Tobio, ia akan tetap basah kuyup kalau ke sana. Tidak ada pilihan lain selain meminta berteduh di rumah orang yang ia kenal. Ia tak mau ambil resiko sakit keesokan harinya.

Baru beberapa langkah Hinata bergerak, suara pintu di dekatnya kembali terdengar.

"Hinata!"

Hinata terkejut dan menoleh. Tiba-tiba sesuatu terlempar ke arahnya dan dengan reflek ia menangkap benda itu. Ia melihat benda yang dilempar Tobio padanya. Bakpao daging.

"Yang satu itu untukmu."

"Eh? Kenapa? Aku kan sudah memberikannya untukmu?"

"Kau sendiri yang tadi merengek kehujanan kan? Ya sudah!" Tobio kembali membanting pintu rumahnya.

"Ah!" Hinata tersenyum lebar sekali. Senang mendapat pemberian itu dari Tobio, sedikit banyak ia terkejut karena Tobio mau berbagi makanan dengannya.

Dan paling membuatnya senang adalah karena untuk pertama kalinya, Tobio memanggil namanya.

"Terima kasih!"

.

.

.

.

.

(seminggu kemudian)

Hinata memandang luar jendela minibus, lalu menghela nafas panjang. Ia membuang semua beban kantor yang terus meracuni otaknya seminggu terakhir dalam hela nafas itu. Akhirnya lemburnya selesai. Seperti minggu sebelumnya, ia langsung berangkat menuju daerah rumah Tobio saat itu juga. Sebenarnya ia ingin sedikit beristirahat sejenak, tapi memikirkan reaksi si bocah bermata blueberry yang sudah lama tidak ditemuinya itu lebih menarik baginya.

"Dia pasti akan senang melihatku. Tapi tetap sok jaim seperti biasa. Pura-pura cuek." Hinata senyum-senyum sendiri sambil melihat kantong makanan yang ditentengnya.

"Tapi... bagaimana caranya ya agar aku bisa membujuknya tinggal di rumah kerabatnya? Bahkan masuk ke rumahnya saja aku belum bisa."

Hinata memandang ke atas atap minibus.

Berpikir.

Membayangkan keberhasilannya membujuk Tobio untuk tinggal bersama kerabatnya dengan keadaannya sekarang sungguh sangat jauh baginya. Sekelebat keraguan muncul, dan itu adalah hal yang wajar. Karena Ia bahkan tidak yakin kalau Tobio akan menurut meskipun misal yang menyuruhnya adalah Ibunya sendiri.

Membayangkan Ibu Tobio, Hinata jadi sedikit penasaran. Kira-kira cara apa yang wanita itu gunakan selama ini hingga Tobio begitu menurut padanya? Apa itu terjadi secara otomatis karena ia adalah Ibu Tobio?

Pikiran Hinata terhisap sebentar oleh ingatannya saat Ibu Tobio mengelus kepala si bocah. Sembari menerka kalau-kalau ada cara khusus yang diberikan sang Ibu agar Tobio mau mematuhinya. Walaupun Hinata tidak terlalu yakin akan berhasil, mengingat kedudukannya yang hanyalah 'orang luar'.

Begitu sadar, minibus yang ditumpanginya sudah sampai di tempat pemberhentiannya. Sebelum turun, Hinata menutup mata sebentar. Mengatupkan doa.

Nyonya Kageyama, bantu aku

Seperti biasa, ia langsung berlari-lari kecil menuju rumah yang mempunyai pagar berwarna biru dan bertuliskan kanji 'Kageyama' yang ada sekitar 10 menit jauhnya dari tempatnya turun dari minibus itu. Hinata langsung memencet tombol itu tidak sabar. Sepertinya justru malah dia sendiri yang kegirangan karena sebentar lagi ia akan bertemu Tobio.

"Tobioooo. Ini aku, Hinataa!"

Hinata berdendang kecil sambil menunggu. Ia mengangkat kantong makanan yang dibawanya sambil tersenyum tipis.

Dia pasti akan senang aku bawakan bakpao daging lagi.

Agak lama ia menunggu.

Tidak ada jawaban.

Loh?

"Tobiooo?"

Ia mencoba menunggu lagi.

"Tidak dengar? Tidur?"

Ia mencoba memencet bel pintunya lagi.

"Tobioooooo?! Ini aku, Hinata!"

Masih tidak ada jawaban.

Kali ini Hinata memencet belnya berkali-kali. Keningnya mengkerut tajam. Rasa khawatir langsung menyerangnya.

"Tobiooooo?"

Hinata mencoba terus bersabar dan menunggu jawaban. Tapi jawaban yang diinginkannya tidak ada. Bahkan suara kaki kecil yang biasanya terdengar setelah ia mengetuk pintu pun mendadak menghilang. Tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka. Kesabaran Hinata habis. Hinata menoleh ke kanan dan kiri mencari seseorang yang bisa ia tanyai. Dan ia menemukan seorang wanita paruh baya di taman sebuah rumah di samping rumah Tobio.

Hinata segera berlari mendekatinya.

"Permisi.."

"Iya? Siapa ya?" Wanita yang terlihat sedang duduk santai itu menoleh dan berdiri. Keningnya mengkerut sedikit melihat wajah yang asing baginya.

"Anoo..." Hinata menggaruk-garuk kepala sebentar. "Saya kerabat keluarga Kageyama. Maaf, Tobio-nya kemana ya? Barangkali Ibu tahu?"

"Eh? Tobio-kun? Bukannya dia ada di dalam?" Ia balik bertanya

" Tapi daritadi saya sudah memencet bel pintu dan memanggilnya, tapi tidak ada jawaban."

Wanita yang ada di hadapannya memegang pipinya, "Loh..., saya tidak melihat dia keluar rumah sama sekali. Ah.. tapi barangkali saya saja yang tidak melihatnya. Mungkin dia keluar sewaktu saya sedang tidak ada di rumah barusan."

"Oh.. begitu." Hinata memanyunkan bibirnya. "Mungkin dia keluar bersama kerabatnya."

Wanita itu mengkerutkan kening "Tidak, kerabatnya semuanya ada di rumah kok."

"Bagaimana Anda tahu?"

"Saya barusan bertamu sebentar ke sana. Dan saya melihat semua anggota keluarganya."

"He?"

"Mungkin dia keluar rumah sendirian."

Perkataan wanita yang ada di hadapannya membuat kepala Hinata menjelajah dengan cepat.

Tobio? Kemana kira-kira dia akan pergi kalau dia keluar sendirian? Makam Ibunya? Kalau iya harusnya aku melihatnya tadi sewaktu lewat sana. Lagipula ini sudah malam.

Mata Hinata bertemu dengan kantung plastik yang dibawanya.

Dan lagi... dia tidak mungkin lupa dengan kare dan susu yang sudah kujanjikan, bukan?

Hinata melihat ke arah rumah itu lagi. Otak dan batinnya mengalami pergolakkan. Otaknya ingin membenarkan ucapan wanita di hadapannya. Tapi batinnya mengatakan kalau Tobio ada di dalam. Bukannya ia tidak bisa membayangkan kalau Tobio tidak akan keluar rumah sendirian, bukan. Dia masih bisa membayangkannya, dan itu hal yang normal. Tapi hatinya berteriak keras kalau Tobio masih ada di rumah itu.

Tapi kenapa dia tidak menjawab panggilanku?

"Ah.. Anda mau masuk? Ehm... Tuan..."

"Ah, saya Hinata."

"Oh, Hinata-kun mau masuk? Sambil menunggu Tobio-kun barangkali."

Hinata menggeleng cepat, "Tidak terima kasih. Saya akan kembali memeriksanya ke sana."

"Oh..." Wanita di hadapannya tersenyum lumrah. "Baik kalau begitu, nanti kalau ingin menunggu Tobio-kun di sini silahkan datang lagi."

Hinata menunduk sopan dan kembali ke rumah Tobio.

Ia mencoba memencet bel pintu rumah itu dan menunggu tiga kali berturut-turut. Hinata menggigit bibirnya bawahnya kesal.

Dan memang tidak ada jawaban.

Kesabaran Hinata sampai pada puncaknya. Ia memutar ke samping rumah itu dan mencari-cari jendela. Berharap ada cela yang bisa ia gunakan untuk mengintip ke dalam.

Sepertinya Tuhan kembali berbaik hati padanya. Bukan hanya cela yang ia temukan, tapi sebuah jendela yang masih terbuka. Hinata segera berlari dan menengok dari ke dalam.

"Tobi..."

Sebuah pemandangan tak enak menyapa matanya dan membuat suara Hinata terpaksa berhenti.

Barang – barang rumah itu tergeletak tidak beraturan. Seperti sebuah rumah yang tidak terurus. Tumpukkan piring di tempat cucian dan peralatan masak yang tersebar ke penjuru dapur. Bahkan terlihat tumpukkan baju di pojok ruang yang sudah menggunung. Hinata harus menahan nafas sedikit karena di dekatnya ada tempat sampah yang sepertinya sudah tidak pernah terbuang sejak meninggalnya Ibu Tobio.

"...Astaga..."

Lalu, matanya melebar melihat sepasang kaki kecil di samping pintu ruangan tersebut.

"TOBIO?!"

Jantung Hinata hampir berhenti berdetak. Ia kembali berteriak.

"Tobio! Kau tidak apa-apa?! Hei!"

Samar ia melihat kaki kecil itu bergerak sedikit.

"Ah! Tunggu sebentar! Aku akan masuk!"

Ia langsung berlari kembali ke depan menuju pintu. Ia kebingungan.

Apa? Dia kenapa?! Apa yang terjadi?!

Hinata mencoba memutar gagang pintu. Sesuai dugaannya. Pintu itu terkunci. Ia memutar-mutar gagang pintu itu dengan paksa. Tidak terbuka. Di putar-putarnya lagi. Tetap tidak bisa.

"Sial!"

Hinata mendobrak pintunya dengan pundak.

Brakk! Brak!

Tidak terbuka juga.

"Tobio!"

Hinata mendobraknya lagi beberapa kali. Tapi pintu di depannya bersikeras untuk diam. Yang tersisa hanya pundak Hinata yang sakit.

"A-ada apa Hinata-kun?!" Sepertinya wanita yang ada di sebelah rumah terkejut dengan suara ribut-ribut yang dibuat Hinata.

"Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi saya melihat Tobio tergeletak di dalam."

"A-apa?!"

Mata Hinata melebar penuh harap saat ada seorang pemuda yang mendekati wanita itu dari belakang. "Ada apa, Ibu?"

"AH! Tolong bantu saya mendobrak pintu ini, saya mohon!"

"Eh?!" Lelaki dengan badan lumayan kekar itu terkejut mendengar permintaan Hinata.

"Katanya Tobio-kun pingsan di dalam rumah dan pintunya terkunci." Wanita yang dipanggilnya sebagai 'ibu' itu menjawab, "Bantu dia, Hajime!"

"Eh? Ba-baik!"

Dengan segera pemuda itu mendekat dan dia bersiap di samping Hinata.

"Hitung sampai tiga!"

"Baik!" Hinata menurut dan ikut bersiap.

"Satu, dua, tiga!" Keduanya berteriak bersamaan dan mendobrak pintu bersamaan juga.

Brak!

Percobaan pertama tidak berhasil.

"Satu, dua, tiga!"

Brak!

"Satu, dua, tiga!"

Brak! Pintu itu sedikit tergoyang. Usaha mereka mulai menunjukkan hasil.

"Sekali lagi! Lebih keras!"

"Baik!"

Mereka sama-sama mengerahkan seluruh tenaga mereka.

"Satu, dua, tiga!"

Dan

Braak! Pintu pun terbuka, keduanya hampir saja terjungkal ke depan.

Hinata segera bangkit lagi. Tepat lurus sekitar tujuh meter di depannya, Tobio tergeletak tidak berdaya.

"Itu dia!"

"Tobio!"

Hinata berlari mendekati bocah itu. Dia mengangkat badan Tobio. Rasa panas dan lembab menyerang tangan Hinata secara bersamaan.

"Astaga!" Hinata memegang kening dan leher Tobio bergantian. "Panas sekali!"

"Dia demam?!" Pemuda yang bernama Hajime itu bertanya dan ikut memeriksa kepala Tobio.

"Iya, panas sekali badannya." Keduanya melihat mata itu tertutup lemas dan nafasnya naik turun dengan pendek. Keringat mengucur dari keningnya.

Pemuda itu berdiri, "Bawa dia ke rumah, akan kupanggilkan dokter. Jangan di rumah ini, rumah ini kotor sekali."

Hinata mengangguk sambil melihat sekeliling rumah itu. Benar, tidak hanya dapur saja yang berantakan, tapi seluruh isi rumah itu tidak beraturan sama sekali. Batin Hinata sakit saat membayangkan Tobio tinggal di rumah sekotor ini selama ini.

Sebuah pergerakan halus dari tubuh kecil di pangkuannya membuat Hinata menoleh. Mata biru itu membuka sedikit. Hinata tersenyum memegang pipi Tobio.

"Tobio. Ini, aku. Hinata. Aku akan membawamu ke rumah sebelah. Tadi Hajime-kun sudah memanggil dokter."

Mata itu terdiam agak lama, lalu kembali tertutup. Hinata mengangkat Tobio dan membawanya keluar. Di luar si wanita tetangga sudah menyambutnya.

"Bawa dia ke rumah. Saya akan menelpon kerabatnya."

"Baik, saya mohon bantuannya."

Di perjalanan menuju rumah kediaman yang bertuliskan kanji 'Iwaizumi' di depannya itu, Hinata bisa merasakan ada tangan mungil yang meremas kemejanya.

.

.

.

.

To be continued

Notes:

Halooo.. akhirnya setelah satu bulan bisa nulis ini lagi wwwww.

Maaf agak panjang nunggunya ya. Ceritanya gajetot sekali hahahaha #tertawamiris.

Di part ini saya sengaja memfokuskan proses 'PDKT' nya Hinata pada Tobio. Agak susah ternyata menciptakan sifat 'kebanyakan jaim'nya Tobio. Ini pun saya nggak tau saya berhasil apa nggak :'D
Tetangga Tobio adalah Iwaizumi. Apa saat sang ibu menyebutnya 'Hajime' itu kalian sudah langsung sadar? apa pas terakhir?

Doakan saya segera punya free time dan dapat melanjutkan cerita ini dengan lancar xD
Terima Kasih sudah membaca part pertama dan part kedua ini \ :3 /