Final Zone © 2014 Sansan Kurai
Super Junior © SM Entertainment
Other © Their Own Management
Fantasy Advanture
~Pukul 21.39 di rumah keluarga Lee~
Donghae tengah merapikan buku-buku pelajarannya saat tiba-tiba ponselnya berdering. Donghae menghampiri ranjangnya dan segera menyambar ponsel berbentuk flip miliknya itu.
"Apa Hyuk.."
"Hae, kau jadi bertemu dengan Kibum-ssi tadi?"
Donghae mengerutkan keningnya saat mendengar nada bicara Hyukjae yang terburu-buru itu. Pasalnya Hyukjae tak pernah berbicara dengan nada seperti itu padanya.
"Tidak jadi.. Aku—"
"Apa?! Tidak jadi?! Kenapa?!"
"Aku merinding Hyuk.."
"Eh?"
"Iya, saat aku mengetuk pintu rumahnya, aku merasa ada seseorang yang berdiri di belakangku. Namun setelah aku menoleh aku tak mendapati seorang pun dibelakangku. Memang ada apa sih?"
"Besok aku ceritakan di sekolah.."
"Apa? Hey! Hyukjae! Aish! Orang bodoh itu!"
Donghae membanting ponselnya ke atas ranjang saat Hyukjae memutuskan panggilan secara sepihak dan Donghae pun kembali menghampiri meja belajarnya, melanjutkan kegiatannya merapikan buku-buku pelajarannya. Namun pikirannya kembali pada kejadian sore tadi dan bulu kuduknya kembali merinding.
"Aish! Kenapa kau jadi penakut begini Lee Donghae!" desis Donghae pada dirinya sendiri.
~Pukul 07.20 di kantin SMA Geosang~
"Jungsoo hyung.."
Gumaman yang sangat pelan itu masih dapat membuat sang empunya nama menolehkan kepalanya.
"Hae.. Datang juga kau.." sambut Hyukjae sembari mengibaskan tangannya untuk mengajak Donghae duduk disisinya.
"Ada apa?" bisik Donghae pada Hyukjae saat ia telah berada disisi Hyukjae.
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.." Jungsoo-lah yang menjawab pertanyaan Donghae membuat Donghae mau tak mau mengalihkan pandangannya pada Jungsoo. "Kapan kau bertemu dengan Kibum?"
"Itu.. Kemarin pagi sebelum aku berangkat ke sekolah," jawab Donghae.
"Berarti dia baru datang kemarin dari Amerika?" selidik Jungsoo.
"Ya, itu yang dikatakannya padaku. Memang ada apa hyung?" Donghae tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Apa kau juga melihat foto lusuh yang diberikannya pada Hyukjae?"
"Iya.. Disana ada hyung, Hyukjae, Kibum dan beberapa orang yang tak pernahku lihat sosoknya." Donghae menatap Jungsoo serta Hyukjae secara bergantian. "Ada apa sih sebenarnya?"
"Jungsoo hyung berfikir dia datang dari masa lalu.."
"APA?!"
"Sssssttttt~ Jangan keras-keras bodoh!" desis Hyukjae sembari melihat sekeliling, memastikan tak ada yang mendengar percakapan mereka. "Itu hanya pemikiran Jungsoo hyung saja."
Mendengar penjelasan Hyukjae, entah kenapa Donghae tertawa sangat keras sembari memukul-mukul meja yang ada dihadapannya. Dan kelakuan Donghae itu menarik perhatian beberapa siswa yang ada disana.
"Bodoh! Hentikan!" desis Hyukjae sembari memukul lengan Donghae keras. Alih-alih diam, Donghae malah semakin keras tertawa dan itu membuat Jungsoo menekuk wajahnya. Hyukjae yang melihat perubahan raut wajah Jungsoo berusaha menghentikan tawa Donghae dengan membekap mulutnya.
Namun Donghae masih terus tertawa hingga...
Brakk!
Donghae seketika terdiam, Hyukjae menurunkan tangannya dari mulut Donghae. Keduanya menatap Jungsoo takut-takut saat melihat tangan Jungsoo yang baru saja digunakan untuk menggebrak meja masih saja bergetar.
"Kau sudah selesai tertawa!" bisik Jungsoo. Nada suaranya sangat dingin dan mampu membuat Donghae serta Hyukjae benar-benar bungkam. Keduanya benar-benar ketakutan melihat sikap seniornya itu. Donghae pun menganggukkan kepalanya cepat. Jungsoo mendengus keras sembari menatap tajam Donghae yang kini hanya bisa menundukkan kepalanya karena tatapan yang sangat menusuk itu.
"JUNGSOO HYUNG!"
Teriakan yang sangat kencang itu membuat ketiganya menoleh dan mereka mendapati seorang pria berwajah imut tengah berlari menghampiri mereka.
"Apa?" tanya Jungsoo singkat dengan nada dinginnya.
"Ada yang baru saja diserang di depan gerbang sekolah!" tegas pria imut itu. Tanpa berucap apapun, Jungsoo segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan cepat meninggalkan kantin. Pria berwajah imut itu melirik Donghae dan Hyukjae sejenak dengan wajah bingung lalu segera mengikuti Jungsoo.
"Terjadi lagi?" gumam Donghae dan Hyukjae sembari saling menatap. Dan keduanya segera berlari mengikuti Jungsoo yang sudah tak terlihat sosoknya.
"Hyukjae, apa kau menghitung ini sudah keberapa kalinya terjadi?" tanya Donghae.
"Ini yang ke-3 kalinya dalam sebulan ini," jawab Hyukjae sembari terus berlari. "Dan ini aneh."
"Maksudmu?"
"Siswa yang diserang adalah siswa-siswa yang dekat dengan Jungsoo hyung.. Pertama Sunggyu dari kelas 12-1 teman sekelas Jungsoo hyung. Yang kedua ada Sunghyung dari kelas 11-5 adik kelas sekaligus anggota klub basket Jungsoo hyung. Dan yang sekarang ini aku pikir..."
Hyukjae tak berniat melanjutkan apa yang diucapkannya saat melihat suasana di depannya dan melihat sendiri siapa yang kini tengah tergeletak bersimbah darah..
"Su.. Sungmin.." Donghae terbata sembari membekap mulutnya. Hyukjae sendiri tak bisa berkata-kata saat melihat 'sahabat'nya sekaligus seseorang yang telah dianggap adik oleh Jungsoo kini tengah terkapar bersimbah darah.
"PANGGIL AMBULAN!"
Entah siapa yang berteriak namun sepertinya ada beberapa orang yang menyingkir dari tempat itu. Hyukjae dengan langkah lemas berjalan mendekati Jungsoo yang tengah terduduk disisi tubuh Sungmin tanpa berucap sepatah katapun. Tatapan matanya kosong dan wajahnya nampak pucat.
Hyukjae semakin mendekat namun tiba-tiba langkah kakinya terhenti. Hyukjae menunduk dan melihat bahwa Jungsoo tengah mencengkeram lengannya dan menatapnya dingin.
"Jangan dekati dan sentuh dia," ujarnya dingin.
~Pukul 10.32 di Rumah Sakit~
"Pergi! Atau aku akan menghabisimu!" gertak Jungsoo. Namun Hyukjae tetap diam ditempatnya tak bergerak sesentipun. Donghae disisinya telah berkali-kali menarik Hyukjae untuk pergi dari tempat itu, namun Hyukjae tetap pada pendiriannya.
"Walau Jungsoo hyung membunuhku, aku tetap tak akan pergi dari tempat ini," sahut Hyukjae pelan namun tegas. Donghae hanya bisa mendesah pasrah mendengar jawaban Hyukjae.
"Dia sudah tak berarti apa-apa untukmu! Pergi dan tinggalkan dia!"
"Tak akan!"
"Dasar keras kepala!"
"Hyung juga!"
"KAU!"
Jungsoo meradang melihat sikap Hyukjae yang tak mau mendengarkan ucapannya. Donghae yang sejujurnya tak tahu apa-apa tentang masalah Jungsoo-Hyukjae-Sungmin hanya bisa terdiam melihat sikap keduanya.
Tiba-tiba ruang operasi terbuka dan seorang Dokter wanita keluar dari pintu yang hanya terbuka sedikit itu. Jungsoo yang semula duduk segera bangkit dan menghampiri pintu ruang operasi.
"Ba—"
"Operasi belum selesai dan bisakah kalian tidak berisik? Kalian mengganggu proses operasi," tegas Dokter wanita itu. Jungsoo tersentak dan membungkukkan tubuhnya sembari menggumamkan kata maaf. Dokter itu hanya mendesah lelah dan kembali masuk ke ruang operasi.
Jungsoo berjalan lunglai menghampiri kursi tunggu dan menghempaskan tubuhnya disana. Jungsoo melirik Hyukjae yang masih setia berdiri bersama dengan Donghae disisinya. Jungsoo mendesah pelan sembari menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Kalian tahu dari mana seranga-serangan itu?" tanya Jungsoo yang masih setia menutup matanya dengan kedua tangannya. Hyukjae dan Donghae tak merespon namun keduanya menatap Jungsoo ingin tahu. "Serangan yang didapat Sunghyung dan Sungmin berasal dari serigala. Tapi untuk Sunggyu aku masih belum tahu."
Hyukjae dan Donghae semakin terdiam. Namun sorot mata mereka menampakkan keterkejutan. Tak yakin dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Aku mengetahuinya setelah melihat luka cakaran didada Sunghyung," jelas Jungsoo. "Dan aku melihat luka yang sama didada Sungmin."
"Tapi.. bagaimana hyung yakin bahwa itu cakar dari serigala? dan darimana serigala itu?" tanya Donghae.
"Bisa kupastikan bahwa itu adalah cakar serigala. Namun aku masih belum tahu darimana serigala itu," aku Jungsoo dan ia kembali mendesah.
"Leeteuk.. Eunhyuk.. Akhirnya kita bertemu.."
Ketiganya menoleh dan Hyukjae serta Donghae terbengong. Namun Hyukjae seperti mengingat-ingat sesuatu. Sedangkan Jungsoo hanya menatap orang itu bingung. Seorang pria tinggi dengan jubah hitam yang disampirkan dibahunya, serta sebuah topeng hitam yang menutupi matanya.
"Haha~ Tapi ku rasa kalian berdua masih belum mengingat apapun.. Benar-benar kasihan.." tawa orang itu. Orang itu terdiam namun kemudian menyeringai. "Akan sangat mudah menyerang kalin disaat kalian—"
"Hentikan.."
"Ki.. Kibum-ssi.." Donghae menggumam pelan saat melihat sosok tetangga barunya yang tengah berjalan santai kearah mereka bertiga.
"Sepertinya pangeran kecil kita mengganggu lagi kali ini.." desis orang itu dingin. Sedangkan Kibum hanya diam, tak menanggapi orang itu dan malah melewatinya begitu saja.
"Donghae-ssi.. Bagaimana keadaan Sungmin-ssi?" tanya Kibum.
"Eh? Oh.. itu... aku belum tahu.. Hey!" Donghae berseru saat Kibum pergi meninggalkannya sembari menarik orang asing yang ada di hadapan mereka. "Mereka berdua aneh.. Hyukjae.. Hey!"
Hyukjae hanya terdiam mendengar panggilan Donghae. Terlihat Hyukjae seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Hyukjae, ada apa?" tanya Donghae saat Hyukjae terus saja terdiam. Hyukjae menatap Donghae lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku tak tahu Hae.. Hanya saja ini aneh.."
"Aku juga sudah—"
"Bukan aneh seperti yang kau maksudkan Hae.." potong Hyukjae. Walau Jungsoo menundukkan kepalanya, namun telinganya masih setia mendengarkan percakapan mereka. "Aneh yang ku maksud adalah ini kedua kalinya ada yang memanggilku dan Jungsoo hyung dengan Eunhyuk dan Leeteuk.. yang kedua aku tak mengenal sama sekali siapa orang asing tadi.." Jungsoo menganggukkan kepalanya samar mendengarkan penjelasan Hyukjae.
"Yang ketiga, darimana Kibum-ssi tahu kita ada di rumah sakit ini? Dan kenapa ia bisa tahu bahwa Sungmin terluka? Lalu apa hubungan Kibum-ssi dengan Sungmin serta orang asing tadi?"
Donghae terdiam mendengar penjelasan panjang lebar itu. Ia tak habis pikir, sahabatnya itu mampu berfikir sejauh ini. Donghae pun melirik Jungsoo dan mendapati seniornya itu kembali menutup matanya dengan telapak tangan.
"Mungkin.. orang itu.. datang dari tempat yang sama dengan Kibum-ssi.." jawab Donghae lambat-lambat. Jungsoo menatap Donghae langsung.
"Maksudmu?" Hyukjae mengutarakan apa yang ingin dikatakan oleh Jungsoo.
"Yah.. mungkin saja... dia.. datang dari masa lalu.."
Cklek!
Pintu ruang operasi terbuka, kali ini seorang Dokter pria keluar dari ruang itu. Masker yang dikenakan ia lepaskan kala mendatangi Jungsoo, Hyukjae dan Donghae hingga menunjukkan wajah tampannya. Jungsoo segera bangkit kembali dari tempat duduknya dan menatap mata sang Dokter penuh harap.
"Operasi berjalan lancar." Dokter menjawab cepat kala mendapat tatapan penuh harap dari Jungsoo dan Jungsoo, Hyukjae serta Donghae menghela nafas lega. "Dan ini.." Dokter itu menyerahkan segumpal kertas berwarna kecoklatan pada Jungsoo. Semula Jungsoo hanya menatapnya, namun melihat Dokter itu yang terus menyodorkan gumpalan kertas coklat itu padanya, Jungsoo akhirnya meraihnya. Jungsoo sejenak menatap sang Dokter yang hanya mengangguk sekilas lalu bergegas pergi tanpa mengucapkan apapun lagi.
Jungsoo membuka gumpalan kertas itu dan mengerutkan keningnya kala membaca kalimat yang tertera pada kertas lusuh itu.
na eíste prosektikoí me to diávolo kai tou lýkou
"Apa dari kalian ada yang bisa berbahasa asing?" tanya Jungsoo pada Donghae dan Hyukjae. Keduanya menggelengkan kepalanya dan Jungsoo pun mendesah keras. "Na eíste prosektikoí me to diávolo kai tou lýkou."
Hyukjae serta Donghae saling memandang dengan tatapan bingung kala mendengar suara Jungsoo yang membacakan isi dari kertas lusuh itu. Bahasa yang sama sekali belum pernah mereka dengar, bahkan mereka tak tahu darimana bahasa itu.
"Sepertinya aku perlu bantuan seseorang di perpustakaan," gumam Jungsoo dan segera pergi dari tempat itu membuat Hyukjae serta Donghae semakin kebingungan. Namun keduanya memilih untuk tinggal dan menjaga Sungmin.
~Pukul 11.59 di Perpustakaan kota~
"Bisakah kau membantuku mengartikan kalimat ini?" Jungsoo menyerahkan kertas lusuh berwarna coklat itu pada pria muda penjaga perpustakaan yang tengah asyik dengan novel ditangannya. Jungsoo sempat membaca sekilas judul yang dibaca pria muda itu 'The Queen Must Die'.
Pria muda bermata sipit itu menatap Jungsoo sekilas sebelum beralih pada kertas lusuh yang disodorkan Jungsoo. Pria itu meraihnya dan segera membawanya pergi setelah meletakkan novel yang tengah dibacanya.
"Memang dia benar-benar paham apa isi buku ini?" batin Jungsoo saat melihat sekilas isi novel berbahasa inggris itu. Jungsoo meraih novel itu dan membolak-balik halamannya dengan asal, namun segera meletakkannya kembali saat ia mendengar langkah kaki mendekat.
"Berhati-hatilah dengan iblis dan serigala."
"Hah?" Jungsoo menatap pria muda dihadapannya dengan raut wajah bingung dan pria itu mengulangi apa yang baru saja diucapkannya.
"Itu arti dari tulisan ini," imbuh pria itu sembari menyodorkan kertas lusuh itu kewajah Jungsoo.
"Serigala dan... apa?!"
"IBLIS!" teriak pria muda itu membuat Jungsoo berjengit hingga ia mundur selangkah. Pria muda itu melemparkan kasar kertas lusuh yang ada ditangannya tepat kewajah Jungsoo. "Pergi! Pergi! Kau mengganggu kesibukanku!"
Mendapat perlakuan tak sopan dari penjaga perpustakaan muda itu membuat Jungsoo marah. Ia memungut kertas yang tadi dilempar pria itu dan segera pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
~Pukul 12.18 di taman kota~
Jungsoo menghempaskan tubuhnya di kursi taman. Tak dihiraukannya pancaran sinar matahari yang menusuk pori-pori kulitnya. Matanya tertuju pada kertas lusuh yang ada ditangannya. Kata-kata pria penjaga perpustakaan tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya. Dan memori pertemuannya dengan tetangga baru Donghae yang bernama Kibum serta pria asing tadi di rumah sakit serta perkataan Hyukjae dan Donghae juga berkeliaran diotaknya.
"Serigala.. Iblis.. Serangan.. Kibum-ssi.. ada apa sebenarnya?" gumam Jungsoo pelan.
~to be continued~
The Queen Must Die atau Gadis Penjelajah Waktu merupakan Novel terjemahan asal Britain. Cerita dalam novel ini penuh dengan fakta dan rekaan fantasi. Sebuah kisah mengenai seorang gadis NewYork abad 21 yang mengalami perjalanan waktu ke abad 18, dan jatuh tepat di kolong sofa di salah satu bangsal anak istana Buckingham pada zaman kekuasaan Ratu Victoria. Katie memiliki hobi membaca yang berlebihan. Hingga pada saat itu, Katie baru saja selesai menuliskan perjalanan hidupnya hari ini pada sebuah buku diary, kemudian ia melanjutkannya dengan membaca kisah-kisah kerajaan victoria beserta surat-surat dan kisah bersejarah di dalamnya. Kemudian ia pun jatuh tertidur dan bangun di masa baru yang lain.
Dikisahkan, ada tiga anak penjelajah waktu, yakni sang pembawa kedamain, sang pembawa kedamaian dan kerusakan, juga sang pembawa kehancuran akhir dunia. Ketiganya saling di perebutkan untuk di temukan bagi para sekelompok orang yang ingin melakukan perubahan dunia. Ada yang ingin melindungi, namun ada pula yang berniat membunuh mereka. Tak di pungkiri lagi bahwa anggota kerajaan juga semakin terancam. Namun akhirnya, melalui kolong sofa itu pula Katie berhasil pulang ke abad 21 setelah berbulan-bulan bersembunyi dan menyamar dalam kehidupan istana.
A/N :
oke.. chapter 2 sudah saya update..
buat yang udah review dichapter 1 kemaren maaf nggak bisa baca... *cry*
dan buat yang udah review ulang ataupun baru review, terima kasih...
siapa kibum? apa dia dari masa lalu? ikuti terus aja ceritanya.. ;)
nah, silahkan review chapter 2 ini..
oh, silahkan tebak juga siapa pria-pria misterius itu.. karena itu ada sangkut pautnya dengan judul chapter ini.. xD
satu lagi..
buat yg pengen tahu fanfic apa aja yang saya update bisa dilihat di page FB saya dengan nama yang sama 'Tenshi 39'
sankyu~ ;)
