The nightmare effect

II: Meet Her

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Enma berdiri didepan sebuah rumah manis minimalis dengan halaman yang penuh tanaman dan tertata rapi. Entah tanaman apa, ia tidak begitu jelas melihatnya karena ini jam dua pagi. Rumah indah ini hanya ditinggali seorang gadis berusia sebayanya, mahasiswa seni rupa sekaligus seorang pemain piano handal. Ini memang hal yang tidak pantas dilakukan lelaki manapun—bertamu malam-malam kerumah seorang gadis. Namun Enma tidaklah bertamu disini.

Ia menghela nafasnya. Mengatur emosi dan ekspresi mukanya untuk bertemu dia. Lalu Enma melangkah masuh kedalam pekarangan rumah, lalu memencet bel. Sekitar tiga puluh detik kemudian, pintu itu terbuka.

Enma disambut oleh seorang gadis yang sangat manis. Rambutnya keunguan, sepanjang dadanya. Sebelah matanya ditutupi oleh perban. Dimalam selarut ini dia belum memakai piyama—masih dengan blus panjang berwarna biru muda bermotif ombak. Dan lagi, dia berbau seperti kayu manis. Meskipun dia pasti dipuji karena kecantikannya oleh setiap lelaki yang melihatnya; bagi Enma dia biasa saja. Tidak ada yang menarik.

"Aku pulang, Chrome." Kata Enma datar. Gadis itu menggamit tangannya, dan mencium lembut pipinya.

"Selamat datang." Sambut gadis yang dipanggil Chrome itu. "Aku baru saja membuat teh. Ada salad buah dan craker keju, dan…yah, masih banyak."

"Kau selalu tahu aku akan datang, ya?" Enma mendengus. Ia melangkah masuk kedalam rumah gadis itu.

"Tanpa memberi kabar?" tanya Chrome. "Oh, tentu saja."

Enma duduk diruang tamu Chrome yang ditata sangat sempurna. Disana ada dua couch yang saling berhadapan, tea stand dua tingkat, tea set porselen bermotif artistic, dua pasang wadah yang masing-masingnya berisi gula dan krim. Gadis itu duduk disebrangnya, dan menuangkan teh.

Chrome Dokuro, itulah namanya. Gadis ini sedikit istimewa. Jika Einstein adalah jenius fisika, Chrome Dokuro adalah seorang jenius seni. Sering dijuluki Michelangelo atau Picasso kedua. Tidak hanya melukis, ia juga mampu membuat karya seni rupa lain dengan estetika tinggi. Eden's Gallery of Fine Art di dan Viscount Rounge the Gallery of Art di Praha selalu membeli karyanya dengan harga tinggi.

"Ini Shou Mei Tea. Aromanya lembut, kan?" jelas Chrome. Memang ada bau lain selain bau teh dalam teh itu.

"Euh, ya. Uhm….enak." Enma meletakkan cangkir tehnya.

"Aku buat salad buah juga." Chrome memberikan mangkuk kecil dan sendok perak.

Isi salad itu adalah potongan berbagai macam jeruk, buah apricot, buah fig, dan manisan buah plum. Sausnya hanya heavy cream dengan esens vanilla dan parutan keju cheddar. Enma bisa tahu semuanya, sebab gadis inilah yang mengajarinya memasak. Enma memakannya dengan lahap, tidak secanggung saat minum teh.

"Enak?" tanya Chrome.

Enma mengangguk kecil. Chrome tersenyum dan menyeruput tehnya lagi. Gadis itu hanya memperhatikan gerak-gerik Enma dengan tatapan penuh cinta. Namun pemuda itu acuh saja.

"Kau tahu? Tsuna akan kuliah disini." Enma mulai berkata. "Dan dia akan tinggal bersama kami."

"Oh ya?" kedua alis Chrome terangkat. "Oau pasti sangat senang."

"Ya." Enma menandaskan suapan terakhir salad buahnya.

"Dia kuliah dimana, Enma?"

"Nagoya Institute of Technology."

"Dia cerdas sekali." Ucap Chrome sarkastis.

"Tidak. Dia cuma beruntung." Sanggah Enma. "Dia tidak secerdas itu."

"Tapi dia teman baikmu."

Ada secercah senyum kecil dibibir Enma. "Kau benar."

Mereka berbincang sebentar hingga jam dua lebih empat puluh lima menit. Chrome membereskan semua peralatan tea setnya dan menyuruh Enma untuk istirahat saja. Saat melewati dapur, Enma melihat sebuah kanvas yang ditegakkan, dan diletakkan di halaman belakang bersama seperangkat cat dan kursi. Chrome menggambar pemandangan laut—teluk dengan hamparan pasir putih dan pondok-pondok kayu yang berdiri menghadap lautan yang berombak lumayan tinggi. Lukisannya natural sekali.

Selain melukis, Chrome juga bisa memahat patung dari kayu, bahkan batu marmer. Didekat pintu kamar Chrome, dikanan pintu ada sebuah kayu gelondongan setinggi dua meter yang memuat relief seorang peri yang cantik dengan gaun dari dedaunan dan pohon juniper yang sedang berbuah. Ukiran itu halus sekali, benar-benar mengundang decak kagum. Pahatan yang diberi nama 'Juniper Lady' itu tidak pernah dijual kepada siapapun oleh Chrome. Katanya itu hadiah untuk ulangtahun seseorang.

Tidak hanya karyanya saja, dirinya sendiripun sudah merupakan sebuah karya seni dari Tuhan. Wajah yang cantik, tutur yang santun, bakat yang luar biasa, pribadi yang anggun serta tubuh yang indah.

Kadang Enma tidak mengerti kenapa ia tidak bisa mencintai wanita seperti itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Enma?"

Pemuda berambut merah itu membalikkan tubuhnya, membenamkan wajahnya ke kasur dengan tubuh gemetaran. Melihat luka yang ada di dada, perut, punggung dan lehernya sendiri membuatnya merasa hancur. Berulang kali Chrome ingin menghiburnya, namun Enma menepis jauh-jauh tangan halus Chrome saat gadis itu hendak menyentuhnya.

"Tidak…bisa…." Ucap Enma dengan suara bergetar. Antara sedih dan takut.

"Apanya?" Chrome menyandarkan wajahnya ke pundak Enma. Chrome melingkarkan lengannya di tubuh Enma.

"Jangan sentuh aku!" sentaknya, masih dengan suara lirih. "Aku terlalu kotor untukmu."

Chrome menghela nafas. Ia mencium lembut pundak Enma. Kulitnya terasa dingin sekali. Ketika Enma berbalik, Chrome merapatkan seluruh tubuhnya pada pemuda itu. Enma bisa merasakan semua kemolekan tubuh gadis ini. Gairahnya bangkit, nafasnya mulai memberat. Namun ia tidak sanggup melampiaskannya pada Chrome. Gadis itu mencium pipinya.

"Komohon…." Enma menutup perlahan matanya. "Jangan buat aku melakukannya padamu."

"Aku hanya ingin membantumu." Bisiknya. "Jangan mempersulit."

Enma terdiam.

"Aku tahu kau tidak mencintaiku, Enma." Chrome tersenyum lembut.

"Maafkan aku, Chrome." Jawab Enma.

"Tidak apa-apa." Chrome sekali lagi mencium pipinya. "Itu bukan salahmu. Cinta adalah sesuatu yang bisa kaupaksakan."

"Hanya saja….." Enma tertunduk. "Aku merasa aku seperti mempermainkanmu."

"Aku tidak keberatan." Bisik Chrome. "Asalkan kau bisa berbahagia."

Senyum kecil Enma mengembang bersama airmata. Chrome menggenggam tangannya, dan menghapus airmatanya. Gadis itu tersenyum pedih. Tidak tega melihat Enma memikul duka sedalam itu seorang diri. Perlahan, Enma mulai jatuh kedalam lelap yang panjang.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sosok pertama yang Tsuna lihat di hari pertamanya kuliah adalah Cozart yang membangunkannya. Pria itu membuatkan Tsuna French toast dengan siraman madu, dan segelas susu dingin. Sementara itu Cozart hanya memakan beberapa keping keripik kentang dan jus jeruk. Masih ada satu piring lagi French toast di meja dapur, namun Cozart tidak menyentuhnya sama sekali. Ia malah membungkusnya dengan plastik film.

"Kenapa tidak kau makan, Cozart-san?" tanya Tsuna.

"Aku alergi susu." Katanya. "Dan lagi itu untuk Enma nanti."

"Oh, iya. Dimana Enma-kun?"

Cozart memandangnya dengan tatapan bingung.

"Dia….pergi—eh, menginap di rumah pacarnya." Jawab Cozart terbata-bata.

"Enma-kun punya pacar?!" pekik Tsuna dengan mata melebar.

"Kenapa memangnya?" tanya Cozart heran.

"Kenapa dia tidak pernah cerita…..?" gumam Tsuna sedih.

Cozart mengganti topik. "Kau berangkat jam berapa?"

"Jam sembilan tiga puluh. Aku masuk siang."

"Oh. Oke. Aku mungkin bakal pulang malam lagi. Kunci rumah kau bawa saja, ya?"

"E….ja….jangan!" tolak Tsuna mentah-mentah. "Aku ini ceroboh. Nanti kalau hilang bagaimana?"

"Masih ada cadangannya sih." Jawab Cozart santai. "Dan aku juga biasanya bawa."

"Nanti Enma-kun bagaimana?"

"Santai saja." Cozart mengibaskan tangannya.

Tsuna berangkat bersama Cozart, dan mereka berpisah ketika Cozart melihat pemandangan bagus dan minta ditinggal. Pria itu bekerja sebagai fotografer, dan dia bekerja untuk seorang seniman dengan gaji tetap. Jadi, Cozart selalu bekerja maksimal dan berusaha sebaik mungkin memuaskan bossnya tersebut.

Sementara Tsuna berdoa ini akan jadi hari yang menarik.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

[flashback]

"Enma, kau dimana?"

Enma versi enam tahun keluar dari kolong meja makan, dan menghampiri seorang pria besar dengan rambut hitam dan bekas luka diwajahnya. Dengan riang Enma berlari ke pelukan pria itu, dan pria itu menaikkan Enma keatas pundaknya.

"Xanxus tou-san dari mana?" tanya Enma.

"Aku pergi keluar sebentar." Katanya. "Tebak, aku akan mengajakmu pergi!"

"Kemana?" Enma kecil bertanya penasaran.

"Kau pasti suka tempat itu."

"Tempatnya seperti apa?"

"Rahasia."

"Kenapa rahasia?"

"Supaya kau terkejut."

"Kenapa tou-san kasih aku kejutan?"

"Karena…." Xanxus menurunkan Enma dari pundaknya, dan melemparnya ke udara. Enma berteriak riang, dan dia jatuh lagi ke pelukan Xanxus. Enma tertawa dan Xanxus menciumi pipinya. "Aku menyayangimu."

Enma menyeringai senang. "Dan Cozart-nii juga?"

Wajah Xanxus mendadak masam. "Kakakmu anak nakal. Aku tak sayang dia."

"Apa…." Enma menunduk malu. "Apa aku nakal juga, tou-san?"

"Kau tidak nakal, Enma." jawab Xanxus. "Sebab itu aku mengajakmu jalan-jalan."

Enma diajak Xanxus menuju sebuah rumah kaca, dimana disana banyak sekali tanaman. Enma sangat takjub ketika melihat Venus Flytrap. Setelah jalan-jalan cukup lama, Xanxus dan Enma makan sosis panggang dan Cola. Mereka pulang menjelang petang, saat hujan turun.

[end of flashback]

Enma membuka matanya. Pandangannya masih buram. Dan dia melihat seorang pria tampan berambut pirang yang sekarang tengah menunduk menatapnya. Ketika Enma bisa melihat dengan jelas, pria itu tersenyum lembut padanya.

"Selamat pagi, Putri Tidur." Sapanya.

"Ah!" ia terkesiap bangun. Kaus abu-abunya basah berkeringat. Enma tidak ingat kalau dirinya mengenakkan kaus itu sebelum tidur. Mungkin Chrome yang memakaikannya.

"Sarapannya sudah siap." Kata pria itu.

"Giotto-san…." Enma menggumam pelan. "Sudah lama kau sampai disini?"

"Tidak. Aku baru sampai." Giotto menggeleng. "Mukuro sampai duluan. Lalu Spade. Aku datang saat Spade masih merecoki Chrome memasak sarapan."

Enma tersenyum kecil.

"Mandilah. Aku tunggu diluar."

Enma mandi, dan kemudian merapikan penampilannya. Ia menuju ruang makan dan menemukan ada tiga orang lelaki disana. Mereka adalah Mukuro Rokudo, kakak kandung Chrome sekaligus Chief Creative Officer dari perusahaan Le Soleil. Daemon Spade, seorang penulis novel fantasi sekaligus teman baik Chrome, dan Giotto Vongola—bossnya Mukuro; CEO dari Le Soleil. Le Soleil adalah perusahaan meubel dan furniture yang sudah mendunia, dikarenakan nilai estetika dan kualitas mereka yang tinggi. Desain barang-barang perusahaan mereka banyak berpengaruh dari jiwa seni seorang Chrome Dokuro.

"Pagi, Enma!" sapa Chrome.

"Kufu, ada Enma-kun rupanya." Mukuro menegak jus jeruknya. "Pantas saja makanannya mewah sekali."

"Oya, oya. Mungkin menurut adikmu sendiri kau tidak istimewa, Mukkun." Kata Spade santai. Ia memakan telur mata sapi setengah matangnya.

Chrome memasak menu yang berbeda untuk semua orang. Giotto hanya memakan sandwich roti gandum yang diisi banyak sayuran dan keju—serta segelas teh dengan madu. Pria pirang ini memang tidak suka makanan yang terlalu berat. Sementara Mukuro makan waffle panggang dengan sirup maple dan potongan buah aprikot dan jus jeruk. Piring milik Daemon Spade penuh dengan protein. Ia makan telur mata sapi setengah matang dengan taburan lada dan garam, sosis panggang, kentang goreng dengan keju; serta segelas kopi.

Chrome menyuguhkan Enma English muffin dengan telur dan daging asap. Serta segelas susu dingin. Gadis itu akhirnya bergabung dan makan bersama para lelaki ini. Menu sarapannya sama dengan Giotto.

"Jadi, apa kau punya ide baru untuk kami, Chrome?" tanya Giotto.

"Aku memikirkan satu set meja makan yang kursinya bisa dilipat kedalam." Jawab Chrome. "atau kitchen set minimalis."

"Permintaan perabot untuk ruang tengah lebih banyak sebetulnya." Kata Giotto lagi. Ia menggigit lagi sandwich-nya. "Kau tahu, aku sangat senang melihat antusiasme pelanggan kita."

"Mungkin sesuatu yang bergaya mediterania. Atau Italia zaman Renaissance." Balas Chrome santai. "Aku baru bisa memikirkannya. Aku belum menggambar desain selama dua hari ini."

"Lagipula ini masih awal bulan. Kau masih punya banyak waktu." Giotto menaikkan pundaknya.

"Oya, oya. Aku suka penggambaranmu untuk Flamulus Wickwill. Anak manis yang jahat."

"Dan Enma…." Giotto mengelap bibirnya dengan serbet. "Bagaimana keadaanmu?"

Enma menunduk, menatap piring makannya. "Aku belum mengecek lagi ke ."

"Kau harus sangat peka terhadap dirimu sendiri." Mukuro membawa piringnya ke wastafel. "Apa kau tidak sedih melihat istrimu harus repot seperti itu terus?"

"Mukuro-nii!" Chrome menjotos tangan kakaknya dengan garpu. "Jangan bicara seperti itu pada Enma."

"Uh…..oya, oya! Sekarang kau berani menusuk kakakmu, Chrome-chan?" desis Mukuro sambil menjilat setitik darah yang keluar dari tangannya.

"Ya! Kutusuk matamu kalau berani bicara jahat lagi." Ancam Chrome.

Setelah sarapan pagi, Daemon Spade mohon diri sambil membawa beberapa lembar gambar Chrome. Mukuro dan Giotto pergi bersama ke kantor, dan bilang tidak akan sempat mampir untuk makan malam. Hanya Enma sendiri disini, sementara Chrome mencuci piring. Ia memakan sarapannya lambat-lambat, berusaha mencari topik pembicaraan.

Gagal.

Sebab Enma belum menemukan bahan obrolan sampai sarapannya habis.

"Enma?" panggil Chrome.

"Apa?"

"Titip ini untuk Tsunayoshi." Chrome menaruh sebuah kotak makan di meja. Warnanya bening, jadi Enma bisa lihat apa isinya. Daging panggang setengah matang yang diiris tipis, dengan saus lada hitam. Itu salah satu masakan andalan Chrome.

"Tidak perlu repot. " kata Enma datar. "Aku bisa masak untuknya."

"Aku tidak merasa repot." Chrome mengelap tangannya, dan duduk disebrang Enma. "Membuat orang lain bahagia memang hobiku, kan?"

"Yeah…." Enma memutar bola matanya. "Keahlianmu."

Chrome mengantar Enma sampai depan pintu. Sebelum pemuda itu pergi, Chrome menarik tangannya, dan mendaratkan ciuman kecil di pipinya.

"Titip itu juga untuk Tsunayoshi." katanya, lalu menutup pintu rapat-rapat.

Enma merasa seperti diusir.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tsuna mengibaskan payung lipatnya diluar sebelum masuk kedalam apartemen Enma. Hari ini ketika dia pulang kuliah, hujan deras turun. Sempat panik juga. Untung tadi di minimarket ada payung lipat. Meskipun pakai payung, tetap saja baju Tsuna basah semua. Yah, yang penting kepalanya tidak kehujanan. Dengan tangan menggigil, Tsuna mencari kunci yang tadi diberikan Cozart. Tapi ketika Tsuna memasukkan kunci kedalam lubangnya, pintunya terdorong terbuka begitu saja.

Apa Cozart sudah pulang?

Tsuna melepas jaketnya, dan melongok kedalam rumah.

"Cozart-san?" panggilnya.

Namun tidak ada yang menjawab. Saat Tsuna mengambil sekaleng cola dari kulkas, ia melihat Enma tertidur disofa dengan kaki terjulur. Ia memeluk sebuah novel fantasi dalam keadaan terbuka. Tampaknya dia ketiduran saat sedang baca buku. Diatas counter dapur ada beberapa lunch box yang tutupnya terbuka, dan sebuah sendok. Isinya daging panggang lada hitam. Karena lapar, Tsuna memakannya sampai habis.

Lalu Tsuna membawa cola-nya ke balkon, dan menyalakan laptop. Tsuna mengecek sepatu Everlast tinggi warna krem yang kemarin dilihatnya di online shop, apakah masih ada atau tidak. Lalu kemudian Tsuna main game. Saat sedang asyik, ponselnya berbunyi. Dengan malas dia mengangkatnya dan membiarkan ibunya bersuara duluan.

"Halo, Tsu-kun? Gimana kuliah disana? Kamu kurang makan, nggak? Betah, nggak? Aduuuh, ibu disini khawatir banget sama kamu….."

"Ibu….." Tsuna mengurut dada. "Aku oke, kok. Yah, memang disini aku lebih sering sendirian, sih. Kan Enma kerja, kakaknya juga. Tapi nggak apa-apalah. Aku dikasih kunci cadangan, kok."

"Oh….syukurlaaah….." dari sebrang Tsuna mendengar ibunya mendesah lega. "Kalau sempat, nanti ibu akan ke Nagoya untuk melihat keadaanmu…."

"Aduh, Ibuuuuuu…." Tsuna menggerutu. "Kapan dong aku bisa dewasa kalau ibu memberondongku dengan pertanyaan anak TK begitu? Aku ini 18 tahun, bu!"

"Bagaimana ibu tidak khawatir? Kamu ini kan anak tunggal, Tsuna!" omel ibunya. "Kenapa sih kamu tidak mengerti betul perasaan ibumu ini?!"

"Jadi sekarang aku harus bagaimana?" keluh Tsuna.

"Jaga kesehatanmu disana! Jangan merepotkan keluarganya Enma-kun dan kamu harus bela…."

"Iya, iya." Tsuna memotong. "Aku sayang ibu, daaaah!"

"Eh, Tsuna! Ibu belum selesai! Kau harus….."

TUUUUUT…..TUUUUTTTT…..TUUUUUTTTTTTT…..

Namun Tsuna memutus telponnya duluan. Ia melanjutkan main game. Enma juga belum bangun. Padahal Tsuna ingin sekali tahu siapa pacarnya Enma. Apakah dia cantik? Manis atau imut? Apakah dia cukup baik pada Enma? Sudah berapa lama mereka pacaran? Kapan mereka jadian? Dimana mereka bertemu pertama kali? Kenapa Enma tidak pernah bercerita padanya?

Pertanyaan itu mengambang dikepala Tsuna. Entah sejak kapan, namun Tsuna merasakan perubahan pada sifat Enma. Meskipun dia masih saja murung seperti waktu SMP dulu, namun rasanya dia lebih menarik diri dari orang lain dan memendam semuanya sendirian. Hubungannya dengan Cozart sepertinya jauh dari kata akrab. Tsuna tidak pernah mendengar mereka membicarakan satu sama lain. Dan dari caranya, tampaknya Enma tidak begitu menyayangi kakaknya.

Bukankah punya saudara itu menyenangkan?

Tsuna tidak punya kakak ataupun adik, jadi dia tidak pernah tahu. Tapi dia punya Fuuta, I-Pin dan Lambo yang sudah dianggapnya seperti adik-adiknya sendiri. Lalu Bianchi, kakaknya Gokudera. Meskipun Gokudera membenci kakaknya, namun Tsuna tidak demikian. Memang dia tidak bisa masak, tetapi ia harus berterima kasih pada gadis bertato itu karena telah jadi teman ibunya selama ini; saat ayahnya tidak pernah kembali dari pekerjaannya.

"Ergh…..uhuk, uhuk!"

Tsuna menoleh. Ia mendengar suara batuk dari Enma yang tertidur. Dari bunyi batuknya, tampaknya dia sedang kurang sehat. Tsuna memutuskan mengambilkan air minum untuk Enma ketika mendengar suara batuknya makin keras.

"Eerrgggh…..aakh, AAKKKH, AAAAAAAAAAAA! AAAAAAAAAAKKKKH! GUAAAAAKKKHHHH!"

Tsuna terlonjak. Gelas yang dipegangnya jatuh. Tiba-tiba Enma berteriak keras. Tsuna menghampirinya dan menemukan Enma dalam kondisi yang aneh, dan mengerikan:

Hidung dan bibirnya mengeluarkan darah. Ia menggeliat memegangi kepalanya sambil berteriak-teriak. Namun dalam keadaan tidur.

"Enma!?" Tsuna mengguncang-guncang tubuh sahabatnya. "Enma, kau kenapa?! Bangunlah! Bangun, Enma! Banguuuuun!"

"Uukkh….aaah, AAAAAKKKKHH, OHOK OHOK!"

Enma mulai membuka matanya perlahan-lahan. Batuknya parah sekali. Tsuna mengurut dada Enma, dan pemuda itu mulai bangun. Ia menepis tangan Tsuna dan mengelap darah dari mulut dan hidungnya dengan tangan. Enma berdiri, lari terhuyung-huyung kekamar mandi dan Tsuna bisa mengira kalau Enma muntah. Khawatir, Tsuna mengambil segelas air hangat dan handuk; lalu menungguinya didepan kamar mandi.

"Kau baik-baik saja, Enma?" tanyanya.

"Ergh….ya." jawab Enma lirih.

"Kita ke dokter sekarang, ya!" kata Tsuna. "Aku curiga kau kena TBC."

"Aku sehat, kok." Kata Enma memaksa. "Santai saja."

Ia menyambar segelas air hangat ditangan Tsuna, menegak isinya sampai habis. Kemudian mengelap sisa darah dibibir dan hidungnya dengan handuk.

"sebenarnya kau ini kenapa, Enma?" tanya Tsuna bingung.

"Kan sudah aku bilang, kalau aku ini punya kebiasaan buruk saat tidur." Jawab Enma kalem. "Dokter bilang, saat aku tertidur dalam fase dangkal, akan terjadi pengelupasan dibagian otakku."

"Serius?!" pekik Tsuna. "Terus kenapa sampai sekarang kau bisa jalan?"

"Itu bukanlah hal serius, Tsuna." Enma tertawa, menyusupkan tangannya diantara helai-helai rambut Tsuna. "Pengelupasan itu akan sembuh dengan sendirinya. Untuk mempercepatnya, aku harus banyak makan banyak protein, menghindari fast food dan junk food."

Tsuna menatap Enma dengan mata berkaca-kaca. Ia memeluk Enma erat-erat, menyembunyikan isak khawatirnya dipundak sahabatnya itu.

"Kenapa sih kau tidak pernah cerita? Tahu tidak, aku ini sangat ingin tahu karena ingin berbuat banyak untukmu, Enma-kun!" Tsuna mulai meracau.

Enma tidak berkata apa-apa. Ia membalas pelukan Tsuna, mengusap-usap punggungnya dengan tenang. Tsuna melepaskannya, dan masih menatap Enma dengan sengit.

"Apapun." Katanya. "Katakan apapun padaku!"

"Terima kasih." Jawabnya datar.

"Punya sesuatu yang bisa dikatakan lagi?" tanya Tsuna.

"Nggak ada." Jawab Enma apatis. Ia pergi ke balkon dan bersandar di bantal besar yang ada disana, membaca beberapa majalah game. Tsuna bergabung dengannya, menumpukan kepalanya pada perut Enma dan bermain game dengan ponselnya.

"Tsuna…..berat, ah." Ringis Enma menyingkirkan kepala Tsuna dari perutnya.

"Hey, besok kan sabtu…." Tsuna mendongak. "Kau kerja, tidak?"

"Nggak sih." Enma menggedikkan bahu. "Kenapa?"

"Jalan yuuuk!" ajaknya. "Kamu yang paling tau daerah sini, kan?"

"Maunya kemana?"

"Terserah." Tsuna berdiri, menyandarkan pundaknya pada Tsuna. "Ngalor ngidul keliling kota juga boleh."

"Lihat besok saja."

Tsuna mengerutkan bibirnya. "Kau mau kencan dengan pacarmu, ya?"

"Pa….pacar apaan?" pekik Enma kaget.

"Kata Cozart-san…..kau suka menginap dirumah pacarmu….."

Enma menatap Tsuna sebentar, lalu kemudian tertawa. Ia mengacak-acak rambut Tsuna, mencubit pipinya. Wajah cemberut Tsuna membuatnya gemas sekali. Setelah tawanya surut, ia menatap Tsuna baik-baik.

"Aku cuma kagum sekali padanya. Gadis itu…tidak hanya seorang seniman. Tidak, maksudku…..dia tidak hanya menciptakan karya seni saja. Tapi hidupnyapun adalah sebuah seni. Lain kali akan kukenalkan dia padamu."

"Lain kali?" ulang Tsuna kecewa.

"Dia sibuk." Jawab Enma. "Dia sedang bekerja sama dengan seorang penulis novel."

"Um…." Tsuna mengangguk mengerti. "Jadi kau tidak punya rencana kencan?"

"Dia bahkan bukan pacarku." Jawab Enma heran.

Tsuna menyandarkan kepalanya ke pundak Enma. Ia menatap langit gelap yang dihiasi oleh lampu-lampu kota, dan menunjuk sesuatu yang bergerak secara kilat.

"Kau lihat itu? Bintang jatuh!" pekik Tsuna.

"Apanya?" Enma tidak tanggap.

"Buat permintaan!" Tsuna memejamkan matanya dan terdiam sejenak.

Dalam hatinya, Tsuna memohon...

Kami-sama, kuharap Engkau selalu melindungi Enma. Bahagiakan hidupnya, ya!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dalam hiruk pikuk tengah malam sebuah motor sport yang diketahui bernama Ducati Hypermotard 1100 evo berwarna merah metalik membelah jalanan dengan suara raungan mesinnya yang sangat sangar. Pengendaranya mengenakkan jas formal, pundaknya tegap dan gagahnya bukan main. Ia membonceng seseorang yang membopong kamera DSLR, merangkul pinggangnya dari belakang supaya tubuh kurusnya tidak melayang dengan kecepatan tidak waras tersebut. Motor super itu mengurangi kecepatannya dan berhenti, memarkirkannya di halaman depan sebuah gedung. Sang pengendara membuka helmnya. Rambut pirang cerahnya terasa sedikit lepek. Ia mengacak-acak surai emasnya dengan tidak nyaman.

"Kita sampaaaai~" katanya riang pada yang diboncengnya.

"Mungkin lain kali kau bisa lebih pelan, Giotto." Kata Cozart datar.

"Aku cuma ingin kau istirahat lebih cepat." Katanya. "Kau pasti lelah kan naik angkutan umum keliling kota?"

"Jangan samakan aku denganmu." Cibirnya. "Maaf-maaf saja ya, boss."

"Iya, iya…." Giotto menyentil hidung bangir Cozart. "Amore mio."

Kedua pria ini masuk kedalam bagunan didepan mereka. Cozart memberikan kameranya pada Giotto untuk mencari kunci rumahnya. Pria berambut merah itu mengintip kedalam, dan menemukan adik-adiknya ketiduran di balkon dengan ekspresi polos bak anak kecil. Cozart tersenyum terenyuh. Ia mengambil selimut tebal dari lemari dan menyelimutkannya ke kedua adiknya tersebut. Ia melirik malas cucian piring, dan mencari dimana pria pirang yang tadi mengantarnya pulang. Laki-laki yang bertitel CEO dari sebuah perusahaan meubel tersebut masih bersandar pada pintu, melihat hasil yang terabadikan oleh lensa digital tersebut.

"Masuk." Kata Cozart gahar sambil menjambak jas pria itu, menyeretnya masuk.

"Hey, hasil jepretanmu berkembang pesat." Puji pria pirang itu.

"Kalau tidak, aku dapat uang dari mana?" ketusnya. Cozart mempersilakan Giotto masuk kedalam kamarnya.

"Kau kan bisa pakai uangku." Jawab Giotto sambil melepas jasnya, menghempaskan dirinya di kasur.

"Aku punya tangan dan kaki." Kata Cozart. "Aku masih bisa menafkahi diriku sendiri. Juga Enma."

Cozart mengganti pakaian yang dikenakannya sekarang dengan kaus berwarna biru muda dan boxer bergambar Spongebob. Ia membaringkan badannya disebelah Giotto. Pria pirang itu mendekap Cozart secara brutal dan mengecup puncak kepalanya.

"Kadang egomu yang tinggi itu terasa sangat menyebalkan." Katanya lembut.

"Itu bukan ego." Kilah Cozart. "Itu harga diri. Sebagai kakak. Sebagai pria."

"Terserah kau saja." Giotto tertawa. "Tapi saat kau kesulitan, jangan ragu untuk bilang."

"Tidak perlu." Ucap Cozart. "Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu."

"Dan aku tidak pernah merasa direpotkan."

Tangan besar Giotto menyentuh wajah Cozart dengan lembut. Jemari panjangnya menelusuri garis kasar mirip bekas parutan disisi kiri wajahnya. Luka sepanjang lebih dari 7cm itu menyimpan seluruh duka masa lalu Cozart.

"Apa kau akan menginap, tampan?"

Cozart mempreteli pakaian Giotto. Mulai dari jasnya, dasinya, rompi hitam bergaris dengan bahan yang sama dengan celana dan jasnya. Kemejanya. Dibalik kemejanya Giotto masih memakai kaus putih tipis berlengan pendek. Pria bersurai pirang itu merapatkan tubuhnya, melekatkan bibirnya dengan milik Cozart. Malam mereka memanas, detak jantung bergema empat kali lebih cepat bahkan hingga terdengar dibelakang telinga.

Cozart melupakan semuanya, menyerahkan seluruhnya pada Giotto tanpa perlawanan. Sang fotografer menyanyikan melodi nikmat saat Giotto menyentuhnya sampai titik terjauh, menuntunnya mendaki hingga ke puncak. Mereka saling mengimbangi, namun Cozart selalu sampai lebih dulu. Saat nafasnya terputus dan tubuhnya semakin menghangat dan basah, Giotto melepaskannya. Membiarkannya mengambil nafas.

Lenguhan liar Cozart membangkitkan kembali jati diri sang CEO, membuatnya mendapatkan kembali semangat mendaki puncak. Saat nafsu menyelimuti mereka berdua, Giotto melepaskan semuanya. Ia berbaring disamping Cozart, sama-sama mengambil nafas dan menenangkan ritme jantung.

"Mandilah." Giotto merapatkan pelukannya disekeliling tubuh Cozart.

Cozart menggerutu malas. "Kau duluan."

Giotto menggendong Cozart dengan lembut, menaruhnya di bathtub. Airnya diisi air hangat-hangat kuku. Ia menuang sabun cair berwarna ungu kedalam air dan ikut masuk kedalam bathtub.

"Keberatan aku mandi bersamamu?"

"Tidak." Jawab Cozart. Wajahnya murung.

Pria bermata biru itu membersihkan tubuhnya, dan tubuh fotografer kekasihnya itu. Saat air hangat membersihkan tubuhnya, Cozart mengerang nyaman. Giotto memeluknya, mencium telinganya dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian.

"Anak itu siapa?" tanya Giotto.

"Tsunayoshi. Temannya Enma."

Giotto membersihkan lekukan pinggang Cozart. Meskipun tubuhnya terbilang kurus, ada tato ikan koi yang kualitasnya terbilang sangat bagus di punggung hingga lekukan pinggangnya. Ia membuat tato itu disebuah klinik didaerah Harajuku beberapa tahun yang lalu. "Enma belum periksa masalahnya ke setelah ini."

"Biar saja." Kata Cozart pedas. "Biar saja dia mati dengan sikap keras kepalanya."

"Shhhh…." Giotto menyilangkan telunjuk dibibirnya. "Apa bedanya denganmu? Kakak dan adik sama keras kepalanya."

"Jangan samakan aku dengan dia." Cozart menggerutu. "Dia tertinggal jauh."

"Iya, iyaaa…." Giotto tertawa. "Kakak Super Keras Kepala Senior."

Cozart keluar dari bathtub. Ia mencuci muka dan menyikat gigi, lalu menyambar handuk. Fotografer muda itu membereskan sisa-sisa perbuatan mereka, dan mengeluarkan setrika uap untuk menyetrika setelan Giotto setelah berpakaian. Masih dengan handuk yang terlilit di pinggangnya, Giotto menggeret kursi dan duduk didekat Cozart.

"Katakan apa yang kau sembunyikan." Kata Giotto hangat. "Tak apa-apa."

Cozart menyemprotkan pewangi kain ke setelan Giotto, merapikannya dan menggantungnya. Pria bersurai emas itu mengambil sehelai kaus oblong dan celana piyama panjang dari lemari pakaian Cozart.

"Mau kubuatkan teh?" tanya Cozart.

"Tidak usah." Giotto menariknya menuju ranjang. Cozart mendengus kesal dan kemudian mematikan lampu. Disandarkannya kepalanya ke dada Giotto. Detak jantung kekasihnya memang musik terbaik untuk memperbaiki mood.

"Apa kau yakin?" Cozart berkata.

Giotto menaikkan alisnya. "Tentang apa?"

"Pernikahan kontrak Enma dan Chrome."

Giotto terdiam.

"Meskipun ia sudah jarang mimisan lagi, tapi kelihatannya dia tidak bahagia."

"Aku tak tahu lagi harus berbuat apa." timpal Giotto. "Dari cerita Chrome, Enma belum pernah menyentuhnya sama sekali. Kau tahu, ia tidak berani mencampuri Chrome."

"Persetubuhan tanpa niat bisa dianggap pemerkosaan." Kata Cozart datar. "Adikku memang menyebalkan. Tapi dia tidak sebejat itu."

"Kakaknya juga begitu." Tambah Giotto. "Anak baik~"

"Ukh! Diaaam….." Cozart menggigit gemas pundak Giotto.

Giotto merapatkan pelukannya pada Cozart. Ia memeluknya hati-hati, seakan-akan Cozart adalah barang yang mudah pecah. Hati dan pikirannya memang keras, namun jiwanya rapuh. Terlalu banyak luka yang ditanggungnya. Giotto selalu merasa kalau kekasihnya berada di tempat yang sangat jauh hingga ia tidak bisa menjangkaunya. Apa yang selalu Giotto usahakan untuk kesehatan Enma setidaknya sudah membuat senyuman manis Cozart lebih sering mengembang.

Apakah luka-luka itu masih bisa sembuh?

Giotto membatin, memperhatikan wajah tidur kekasihnya yang sangat damai.