PHOBIA? AMNESIA!
.
ChanBaek main cast
Boyslove –mature –angst –drama
T or M for rated :3
.
Simple rules for all readers :
DON'T LIKE DON'T READ
.
ENJOY,
Edisson
.
.
Wangi tumisan bawang bercampur asamnya pasta tomat menguar dari arah dapur rumah Baekhyun. Satu fakta tentang si manis Baekhyun, yaitu dia tidak bisa memasak. Jadi, ada seseorang yang menggunakan dapurnya untuk memasak sepagi ini, pukul 06:55 KST.
Waktu yang sangat amat pagi bagi seorang Baekhyun untuk membuka lembar di hari kesekianya dalam kehidupan. Yah, Baekhyun sangat menjunjung nilai tidur dari unsur hidup. Bisa dibilang, kebo.
Intinya, yang memasak sudah pasti bukan Baekhyun. Selain tidak ahli bahkan untuk sekedar memasak airpun Baekhyun tidak bisa, dan juga bangun teramat pagi, bukanlah Baekhyun. Melainakan sang Yang Mulia, Park Chanyeol. Pangeran modern yang sungguh hebat; rumornya pangeran masa kini yang bernama baptis Richard itu mampu merakit sebuah roket dan minigun. Wow? Tentu saja.
Otaknya cerdas, kaya, baik hati dan tampan. Sepertinya pangeran negeri dongeng benar-benar keluar dari zona ceritanya dan menampakkan wujudnya berupa seorang pemuda jangkung bermata besar, Chanyeol. Baekhyun bahkan sering kali kepergok tengah mengagumi rupa sang kekasih dalam diam. Seperti seorang stalker, Baekhyun menyukai kegiatan mengagumi paras Chanyeol secara diam-diam dan mengendap-endap.
Meskipun begitu, tapi Chanyeol tetaplah Chanyeol. Seorang pribadi yang hidupnya sama seperti pemuda pada biasanya. Menyukai bikini pada tubuh indah seorang gadis, menyukai payudara dan juga vagina serta puluhan asset asusila seorang wanita. Normal saja sebelumnya, sampai ia melihat betapa indahnya Baekhyun saat itu. Bibirnya jadi mengukir senyuman ketika mengingat bagaimana cara menakjubkannya –aneh ketika bertemu dengan bidadarinya, Baekhyun.
.
Saat dimana Chanyeol tengah dilanda rasa bosan yang teramat sangat di pesisir pantai. Ia menyukai suasana pantai apalagi ditambah dengan banyak susu yang dijemur –payudara membuatnya sangat senang berlama-lama di pantai. Namun entah kenapa, tiba-tiba rasa bosanya datang dan membawanya pada sisi jahilnya –mesum.
Tidak tahu sifat biadapnya itu muncul dari mana, lelaki jangkung itu langsung saja masuk kesebuah bilik ganti pakaian yang berjejer disetiap ruas jalan dekat pohon kelapa dan palm. Bibirnya mengulas seringaian yang tampan dan tentu saja bejad. Di sibaknya kain bilik itu dan, wow.
Itulah yang Chanyeol serukan ketika melihat sebuah bidadari muncul didepannya. Pertama kalinya dalam hidup seroang bangsawan sepertinya melihat yang semacam ini. Dan ia akui, ini bahkan sangat indah dari sebongkah berlian atau safir. Rahangnya seakan jatuh dan kedua bola matanya menggilinding saking bersinarnya yang ia pandangi saat ini.
Seorang lelaki berkulit mulus nan putih cemerlang tengah mengenakan bikini bertali dengan warna cerah semacam merah darah. Ini aneh, tapi Chanyeol menyukainya. Menyukai bagaimana terangnya merah itu ketika berpadu dengan putihnya kulit sang lelaki bertubuh mungil nan sekal itu.
Chanyeol menggelengkan kepalanya, "Pasti dia wanita." Batinya masih tidak percaya jika yang ada diahapdannya –lebih tepatnya membelakanginya- adalah seorang perempuan berambut bondol. Matanya turun dari atas rambut menuju pinggang ramping orang yang memunggunginya kearah bongkahan kenyal sosok itu.
"Apa yang kau lakukan !?" pekik sosok itu panik. Tanganya buru-buru meraih sebuah handuk tak jauh darinya untuk menutupi seluruh tubuhnya –walaupun sama sekali tidak berhasil karena handuk itu terlampau kecil- dan wajahnya berubah merah. Chanyeol menyeringai dan semakin mendekati sosok bak malaikat yang ia sudah klaim sebagai miliknya itu. "Mau apa kau !? sana, hush!" usir lelaki itu dengan ketakutan yang teramat sangat.
Chanyeol menatap wajah feminism itu lekat-lekat. Mencari celah jika ia seorang lelaki atau bukan. Sorotnya turun menuju leher, dan gotcha. Ada buah adam disana, jakun. Lalu sorotnya turun menuju dadanya yang serata papan –walaupun ada tonjolan yang sedang disana- lalu turun lagi menuju g-string lelaki itu yang menutupi sebuah benda berkepala dibaliknya. Chanyeol terkekeh dibuatnya.
Lelaki kecil itu melotot, ia merasa dilecehkan –dalam artian ditertawakan- lalu menendang Chanyeol meskipun tidak terasa apapun diarea yang lelaki itu tendang sama sekali.
"Apa yang kau tertawakan !? apakah ini lelucon, hah!?" omel lelaki itu seperti sebuah ceret siap matang. Matannya tajam menusuk kearah dua bola kelereng besar Chanyeol, menantangnya untuk adu sorot mata. "Ayo jawab, cabul. Untuk apa kau kemari? Kau ingin membeli ku? Maaf saja, kau harus mengantri jika ingin membeli ku."
Chanyeol mengerjabkan matanya, ia terperanjat sebentar. Kata 'membeli ku' itu sedikit mengganggunya. "Pardon?" tanya Chanyeol lembut. Lelaki itu merapihkan pakaiannya dengan menggunakan sebuah kemeja besar bercorak polkadot untuk menutupi badannya.
"Ya, aku 'barang jualan'. Kenapa? Kau ingin mencaci ku? Dasar orang kaya." Ketus lelaki itu lalu beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Chanyeol yang masih sulit mencerna ucapan lelaki barusan.
Dan dari sana, Chanyeol menemukan obat rasa bosannya. Walaupun terkesan kejam, dan terasa seperti pecandu usai 'malam perkenalan' mereka di hari yang sama, keadaan mereka makin membaik dan menghasilkan hubungan dibalik hubungan.
Ya, benar.
Chanyeol menjadikan lelaki itu sebagai hati keduanya. Menjadikannya sebagai energy cadangan dan juga charger untuk keadaan genting seperti horny kepepet ataupun rasa emosinya. Jahat memang, namun mereka menyukainya. Terkadang ia menyesalinya, tapi ia tidak bisa meninggalkan bidadarinya begitu saja. bahkan lelakinya itu lebih baik dari 'dia' yang ternyata adalah gadis sungguhan.
.
Tidak adil memang, namun inilah jalan yang diambil Chanyeol. Menyimpan orang lain untuk kepuasan pribadinya. Kakaknya pernah berkata dalam keadaan mabuknya, 'dibalik orang sukses pasti ada seorang dibaling seseorang' dan Chanyeol memahami itu –dan ia juga memilikinya sekarang.
Sebagaimana tugasnya sebagai pewaris tahta, ia harus menghasilkan bibit penerus meskipun apa yang ia inginkan bahkan dikesampingkan demi nama keluarga dan masa depan marganya. Chanyeol ingin berontak, tapi seakan ada sugesti untuk patuh. Entah apa, tapi itu membebaninya dan membuat lelaki yang ia cintai menjadi sebuah penampungan emosi dan dosa.
Disitu kesalahan terbesar yang Chanyeol buat. Memakai earphone disaat lelakinya tengah meraung kesakitan. "Ada iblis didalam diriku, aku harus apa? Baekhyun, aku harus apa?" batinya. Tanganya dengan mahir menuangkan pasta yang ia masak kedalam potongan kentang dan daging yang ia letakan dalam sebuah mangkuk untuk masuk kedalam oven. Tinggal menunggu tuan puterinya bangun, maka tugas paginya akan selesai dalam beberapa menit kedepan.
"Apa yang kau lakukan, Chanyeol? Kufikir kau tidak akan pulang." Ucap Baekhyun ketus. Rautnya tampak tidak senang dan mengacuhkan kehadiran Chanyeol yang tersenyum didekat kulkas. Baekhyun tetap melakukan kegiatannya didepan kulkas dan mengabaikan tatapan kecewa Chanyeol yang merasa tidak dibahagiakan paginya. "Kau kecewa? Aku juga." Ucapnya lagi lalu duduk diatas sofa kemudian menyalakan saluran tv kabel.
Chanyeol menghela nafasnya, yang diucapkan Baekhyun benar. Bahkan ia tidak pantas untuk kecewa barang sedikit, inikan kesalahannya. "Aku tahu itu, Baek. Maafkan aku, aku akan mengobatinya kalau begitu." Kata Chanyeol sembari ikut mendudukan pantatnya disebelah Baekhyun yang terlihat fokus pada tayangan di layar tv. "Tidak perlu, Chanyeol. Lizabeth lebih membutuhkan mu sekarang, bukankah dia sedang hamil muda?" tanya Baekhyun masih memfokuskan matanya pada layar inchi besar itu.
"Tidak sayang, dia sedang bersama ibu. Tidak usah khawatir, aku akan bersama denganmu seharian ini." Chanyeol meraih jemari kekasihnya itu dan membawanya untuk sekedar dikecup. Namun sang empunya menariknya dan menatap tajam kepada dua bola iris cokelat terang milik Chanyeol.
"Aku tidak percaya, Chanyeol. Bisa saja para ajudan ayah dan ibumu serta isteri mu itu memanggilmu dan membawamu pergi kesana. Jadi, jangan ucapkan omong kosong semacam itu lagi, itu membuatku terlihat semakin menyedihkan menelan janji seperti pil pencabut nyawa."
Baekhyun memelototi Chanyeol lamat-lamat lalu kembali meluruskan pandangannya dan menghela nafasnya agar lebih teratur barang sedikit.
"Jadi pergi sekarang dan kembali jika kau memang benar-benar membutuhkan ku. Atau mungkin kau tidak akan kembali? Ya itu bisa saja." lalu Baekhyun kembali fokus pada layar tv yang sudah mati sembari tertawa getir. Chanyeol mematikannya, bibir tebal lelaki jangkung itu melengkung kebawah pertanda jika ia sedang sedih dengan apa yang telah ia perbuat pada bidadarinya.
Dan juga, ia tidak tahan dengan sikap sok kuat kekasihnya dan segera merengkuh tubuh Baekhyun dalam dekapannya. Dapat ia rasakan jika bahunya basah. Ya, sudah pasti kekasihnya itu menangis. "Jangan lagi Baekhyun, jangan suruh aku pergi. Aku tidak bisa untuk pergi dari semua ini, aku tidak bisa." Ucap Chanyeol menenangkan Baekhyun sambil mengusap surai halusnya dalam-dalam. Mengecupnya singkat lalu mengusapnya lagi. "Aku akan tetap disini, ok? Jangan biarkan aku pergi, Baekhyun. tahan aku, paksa aku untuk tinggal."
Baekhyun tidak menjawab, ia tenggelam dalam tangisnya. Tenggalam dalam lautan yang dalam akan kesedihan. Perasaan ini bahkan sudah meledak berkali-kali, namun lelaki yang teramat Baekhyun cintai ini terus-terusan memperbaikinya lagi dan terus meledakannya lagi. Begitu seterusnya, hingga rasa sakitnya seperti perasaan wajar yang ia rasakan seumur hidupnya.
Ponsel lelakinya berdering, dan jantung Baekhyunpun berpacu begitu cepat. Ia sudah menduga ini akan terjadi. Pasti itu isterinya, Elizabeth yang tengah hamil muda. Baekhyun bahkan terasa ditampar begitu mendengar berita itu dari Chanyeol yang tersenyum. Tidak bisakah ia memiliki Rahim agar lelakinya itu tersenyum dengan cara yang sama saat bahagia bersama dengan perempuan bangsawan berambut indah itu?
Tidak, jelas saja tidak. Baekhyun hanyalah sampah yang dipungut orang baik semacam Chanyeol demi tidak mengotori yang lain. Itu adalah kesimpulan yang benar tentang dirinya.
Chanyeol menjauhkan tubuh Baekhyun darinya. Lalu menyipakan dirinya untuk pergi menghampiri isterinya yang tak jauh dari sana bersama keluarga besarnya yang sedang piknik. Chanyeol bahkan tidak menoleh sama sekali kearah Baekhyun. membiarkan Baekhyun menjatuhkan air matanya begitu saja. membiarkan bidadarinya menggigit bibirnya dan menjilat darahnya sendiri dalam rasa sakit.
Baekhyun meringis dalam tangisnya, meratapi betapa hinanya hidupnya. Memungut sampah itu hanya akan membuat sampah tersebut semakin kotor dan kotor. Sekalinya sampah jika tidak didaur ulang, hanyalah sampah sampai akhir. Dan begitu juga dengan Baekhyun. Jika tidak 'didaur ulang' maka ia hanyalah jadi sebuah 'sampah' bagi siapapun.
Chanyeol sudah pergi. Suara geraman mobil sport miliknya pun sudah berlalu dan semakin jauh dari pendengaran Baekhyun. denyutan dalam jantungnya semakin mencekat dan seakan mencekiknya hingga tak ingin bernafas lagi.
"Sakit Chahyeol, ini sakit." Isaknya pilu.
Baekhyun jatuh dalam rasa sakit yang kesekian kalinya. Bahkan Chanyeol tidak pernah memberinya bukti barang sekali saja. ia keterlaluan, tapi Baekhyun harus apa? Ia bahkan tidak tahu apa-apa untuk bisa pergi dari sini. Ia harus kemana? Kembali pada rumah lamanya dan menjual dirinya lagi? Itu bukanlah sebuah keputusan yang salah. Chanyeol tidak mengatakan untuk tidak boleh pergi kesana 'kan? Bukan masalah. Toh lelaki telinga lebar itu tidak akan memperdulikannya.
Bukan 'kah Chanyeol sudah menemukan kebahagiaannya? Dirinya 'kan hanya sebuah cadangan, jadi dirinya dibutuhkan ketika perlu. Sama seperti barang pengganti pemeran utama. Itulah Baekhyun, simpanan seorang bangsawan bernama Richard.
"Aku 'kan hanya sampah. Untuk apa dia membairkan sampah dirumahnya jika tidak untuk dibuang? Benar, kembali ketempat sampah dan mendapatkan yang aku ingin 'kan. Chanyeol tidak akan peduli, dia tidak akan peduli."
Baekhyun beranjak dari sana dan berkemas lalu keluar dari rumahnya. Pakaianya cukup rapih dan modis dengan sebuah koper kecil yang ia masukan kedalam mobil mini coopernya lumayan dibilang seperti minggat secara singkat mengingat dirinya membawa sebuah koper walaupun itu tidak besar.
Riasan di wajahnya mengingatkan Baekhyun tentang jati dirinya dan dirinya dimasa lalu. Kembali menjadi dirinya yang dulu bukanlah pilihan yang salah. Dia adalah dia. Pelacur tetaplah pelacur, begitulah pola pikir Baekhyun yang sudah kalut dengan rasa sakit dalam relungnya. Dia tidak perduli lagi apa yang akan Chanyeol lakukan padanya ketika tahu jika ia kembali pada tempat itu. Yang jelas, ia hanya butuh refreshing sekarang.
Melupakan jika dirinya adalah seorang simpanan dan berlagak seperti seorang anak remaja polos yang haus akan kasih sayang dan belaian tidak buruk juga menurut Baekhyun. maka dari itu, ia kembali kesana.
Ketempat dimana ia lahir dan besar, ketempat dimana ia dan Chanyeol bertemu, Bar pesisir yang penuh dengan para manusia haus kebahagiaan versi nafsu dan sisi gila. Baekhyun akan kesana dan bersenang-senang.
Akan kembali pada jati dirinya. Kembali menjadi 'jajaan' dan 'barang dagangan'.
.
"Kau fikir apa yang telah kau lakukan, Park Chanyeol?" marah Yura –kakaknya usai menyeret adiknya itu menuju sebuah rumah kosong yang lumayan jauh dari tempat mereka piknik. Mata besarnya semakin besar begitu ia memelototi adiknya yang masih enggan untuk membalas tatapannya. "Katakan padaku, Chanyeol. Apakah yang kau lakukan pada Baekhyun kali ini? Meninggalkannya lagi tanpa menolehkan kepalamu atau sekedar tersenyum padanya?" tanyanya lagi.
Chanyeol masih diam. Ini adalah pertanyaan yang sangat Chanyeol benci. Selain ia benar-benar tidak tahu apa jawabannya, ia juga tidak tahu kenapa ia melakukan semuanya pada Baekhyun. apakah karena lelaki itu seorang simpanan? Heol. "Kau tuli?" tambah Yura lagi dan membuat adik jangkungnya itu menghembuskan nafasnya berat.
"Molla, nuna. Aku bahkan tidak tahu apa yang barusan aku perbuat. Sebenarnya ini aku kenapa? Aku tidak tahu, nuna." Jawab Chanyeol penuh frustasi yang begitu dalam. Kepalanya begitu sakit seperti dendritnya diikat dengan tambang lalu disimpul mati. "Aku harus apa?" tanyanya pilu.
Yura mendudukan dirinya diatas sebuah kayu yang tidak terlalu kotor lalu mulai memandangi ujung sepatunya yang tampak ternoda akibat tanah basah. "Kau tahu tidak jika ayah juga sepertimu?"
"Hah? Apa maksudmu?" tanya Chanyeol tidak mengerti. Yura mendecak sebal, "Jangan pura-pura bodoh, Richard. Kau memiliki Baekhyun dibalik Elizabeth. Maka ayah memiliki seseorang yang tidak salah bernama Jiyoung atau Jinyoung dibalik eomma. Kau paham? Bisa dibilang dia juga berselingkuh." Jelas Yura santai.
Chanyeol hanya mengangakan mulutnya yang terasa berat karena satu fakta itu. "Wilona sister ku sayang, jangan-jangan kau juga memiliki simpanan?" tanya Chanyeol curiga. "Cih, jangan bercanda. Aku ini tipe setia, tidak seperti kau dan juga ayah. Dasar lelaki, apakah satu tidak cukup untuk kalian?" cibir Yura.
"Bukan begitu, nuna. Mungkin sebenarnya takdir ku itu Baekhyun, hanya saja sangat telat datangnya sehingga aku bertemu dengan Elizabeth lebih dulu baru denganya. Sayang sekali, bukan?" jelasnya sambil tersenyum tipis. Yura menggelengkan kepalanya, "Dasar bodoh. Jika kau membuat Baekhyun terus menangis, lebih baik aku menyuruh Baekhyun untuk meninggalkan mu."
Chanyeol mendecak sebal lalu ikut mendudukan diri disebelah kakanya. "Aku akan membuatnya kembali kalau begitu."
.
Elizabeth hanya berdiam diri dibalik pohon besar penghubung dengan sebuah kursi besi dengan rumah kumuh tak berpenghuni yang masih bagus. Ia menggigiti jari kukunya hingga nail artnya rusak. Keringatnya bercucuran, ia tidak mengerti mengapa ia menjadi sepanik ini bahkan sampai rela merusak asset terbaiknya seperti kukunya ini.
Rambutnya yang kering berubah basah karena keringat yang terus-menerut menetes dari atas hingga batas lehernya. Dahinya mengkerut bingung dan bibirnya menggumamkan beberapa kalimat yang sama sekali tak terbaca dari jauh maupun dekat, seperti komat-kamit.
"Bagaimana ini? Apa yang aku takutkan terjadi. Apakah aku harus menambah 'dosis'nya? Ah, what should I do? God, ini buruk."
Mungkin, semuanya adalah rencana dari seorang bidadari hitam semacam iblis yang bersarang didalam diri seorang puteri baik hati seperti Elizabeth. Semuanya semata-mata karena cinta. Egoism, keserakahan dan juga tamak membuatnya rela merendamkan diri dalam sebuah gentong 'farmasi racun' yang bisa saja membunuh seekor 'kelinci' tak berdosa.
'dosis' yang Elizabeth maksudkan, apakah kalian tahu?
.
.
Tbc
.
HAAAI halu
gomenne, telat update /bow/
Janjinya udh ditepatin yaakk~
Kalo ini banyak responya lagi, bakalan terus fast update. Yehey, ohorat.
So, reviewnya guys~
Mind to review?
.
.
