Kyungsoo melangkahkan kakinya dengan cepat menelusuri lorong panjang bangsal rumah sakit yang nyaris hening. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam saat Kyungsoo melirik jam tangannya sekilas. Kyungsoo mendengar langkah-langkah kaki di belakangnya, suara itu terdengar menggema di seluruh lorong yang kosong. Dan dengan malas Kyungsoo menoleh kebelakang sebelum mendesah kesal saat mengetahui Kris dan Chanyeol membuntutinya dari belakang.
Kyungsoo kembali melangkah dengan cepat. "Demi Tuhan, kalian tidak perlu membuntutiku. Sudah ada banyak perawat di sana," Kyungsoo memutar bola mata kesal. Kemudian berjalan menjauh dengan kaki terhentak-hentak.
"Kyungsoo, seharusnya kau tidak memaksakan diri," balas Kris. "Kami belum bisa tenang saat kau berhubungan dengan Kim Jongin secara langsung,"
"Apa yang kau maksud dengan berhubungan secara langsung, Kris?" protes Kyungsoo, berbalik sekilas untuk menuding Kris dengan jari telunjuknya.
Chanyeol terkekeh.
"Bukan seperti itu maksudku, hanya saja aku tidak pernah melihatmu bersemangat seperti ini sebelumnya," tambah Kris.
Dan kali ini Kyungsoo berhenti berjalan, dengan gerakan cepat, gadis mungil itu menoleh ke belakang dengan mata membulat. "Bukankah aku selalu bersemangat?"
Chanyeol mendecih jijik. "Yang benar saja, kau hampir selalu menggerutu selama dua puluh empat jam penuh sehari,"
"Bukankah itu hal yang bagus kalau aku sudah tidak banyak mengeluh?" Kyungsoo menyeringai, kemudian berjalan meninggalkan kedua pria yang saling pandang dengan bingung itu.
Kris dan Chanyeol sama-sama menggelengkan kepalanya bingung. Mereka berdua curiga Kyungsoo tidak memberikan obat-obatan ke Jongin dan malah memakan obat-obatan tersebut. Salahkah mereka yang terlalu khawatir dengan keselamatan si polos Kyungsoo.
Atau mungkin Kyungsoo bukan polos tapi sudah bodoh.
Empat orang suster pria membungkuk dengan sopan kepada Kyungsoo di depan kamar Jongin. Kyungsoo hanya membalas dengan anggukan dan senyuman tipis. Salah satu dari mereka memberikan bungkusan plastik yang berisi dua mangkuk plastik tertutup alumunium foil.
"Apa itu makanan Jongin?" tanya Chanyeol.
Kyungsoo mengangguk sekilas. "Kalian bisa pergi," ujar Kyungsoo pada Chanyeol dan Kris tanpa menghiraukan pertanyaan bodoh Chanyeol.
"Tunggu dulu," Kris menahan tangan Kyungsoo saat hendak membuka kenop pintu, Kyungsoo menoleh dan memandanginya dengan malas. "Mengapa ada dua mangkuk?"
Kyungsoo memandangnya aneh. "Bukankah aku juga perlu makan malam?" tanya Kyungsoo acuh.
Baik Kris dan Chanyeol saling berpandangan dengan mulut terbuka lebar. Heran, aneh, bingung, dan merasa bodoh. Itu benar Kyungsoo kan. Apa dia sudah benar-benar tidak waras. Bagaimana bisa dia seorang dokter makan malam bersama pasiennya. Terlebih lagi seorang dokter kejiwaan dan seorang pasien psikopat.
Bukankah ini aneh?
Saat Kyungsoo memasuki ruangan Jongin, dia tidak merasa asing. Rasanya sama seperti saat pertama kali dia memasuki ruangan itu. Masih hangat dan segar seperti sebelumnya. Kyungsoo menyalakan lampu dan membuat ruangan itu terang benderang.
Kyungsoo melangkahkan kakinya memasuki ruangan Jongin dan dengan cepat matanya menangkap sosok Jongin yang duduk di tepian ranjang sedang memandanginya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Tubuh Jongin tampak lemah, bibirnya berwarna putih pucat, begitu pula dengan wajahnya. Jongin benar-benar tampak seperti orang sakit, mungkin karena pengaruh obat-obatan yang Kyungsoo berikan tadi siang.
Kyungsoo tersenyum lebar, membuat Jongin mengerutkan keningnya bingung.
"Hai Jongin, apa kabar?" tanya Kyungsoo dengan nada bicaranya yang ceria.
Jongin menggeleng. "Matikan lampunya," suara Jongin sangat pelan hingga Kyungsoo nyaris tidak bisa mendengarnya.
Kyungsoo menekan remote untuk mematikan lampu, hingga ruangan itu tampak sedikit remang. "Jongin-ah, kau baik-baik saja?" tanya Kyungsoo lagi, berjalan mendekati ranjang tempat Jongin duduk.
Jongin menggeleng, wajahnya tampak kusut dan lelah. "Apa yang kau inginkan?" tanya Jongin, nyaris berbisik.
Kyungsoo mendekati Jongin dan duduk tepat di sebelahnya. Jongin memandangi Kyungsoo dengan pandangan kesal. "Maaf, aku tidak bisa mendengarmu," balas Kyungsoo, nyengir. Jongin tidak menyahut, pandangannya mengarah pada jas Kyungsoo yang tergeletak di lantai. "Ah, iya. Aku ingin mengambil itu," tambah Kyungsoo, menunjuk jasnya.
Jongin memasang pandangan tak peduli. Kyungsoo mengambil jasnya, membersihkannya sedikit dan meletakkan di atas ranjang Jongin.
"Terima kasih kau sudah menjaga itu untukku," ucap Kyungsoo, tersenyum pada Jongin. Tapi Jongin tidak menatapnya, pandangan Jongin masih terarah pada lantai berwarna coklat yang kosong.
"Kalau kau memberikannya pada orang lain, aku akan mendapatkan hukuman," tambah Kyungsoo lagi, tapi Jongin tetap tidak peduli.
Kyungsoo tampak berpikir.
Kyungsoo menyodorkan makanan yang dibawanya ke hadapan Jongin, sedangkan Jongin hanya memandanginya dengan acuh. "Sebagai ucapan terima kasihku. Aku membawakanmu makanan,"
Jongin menoleh ke arah Kyungsoo, memandangi Kyungsoo tepat di mata gadis itu. Kemudian perlahan Jongin menggeleng, menunduk untuk menghindari tatapan Kyungsoo. Sekilas Kyungsoo melihat keraguan di mata Jongin, keraguan yang bahkan tak Kyungsoo ketahui artinya.
"Kenapa? Kau tidak lapar?" tanya Kyungsoo, lagi-lagi Jongin menggeleng dan mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo. "Sebenarnya aku hanya ingin ditemani makan," Kyungsoo menambahkan.
"Kenapa?" tanya Jongin lirih, suaranya terdengar sangat lemah. Pandangannya masih menatap lantai yang kosong.
Kyungsoo berusaha mengendalikan dirinya agar tidak tersenyum karena dia tahu Jongin sudah mulai bisa dikendalikan.
"Aku benci makan sendiri. Tapi aku tidak punya pilihan lain," Kyungsoo mulai membuka bungkusan plastik yang sedari tadi dipeganganya. "Aku selalu makan sendirian beberapa tahun terakhir," tambah Kyungsoo.
Jongin menghembuskan napas panjang.
Kyungsoo dengan hati-hati menyodorkan semangkuk mie ke hadapan Jongin. Jongin tidak bergerak. "Tak bisakah kau menemaniku makan?" tanya Kyungsoo.
Kyungsoo menarik tangan Jongin agar menerima makanan tersebut. Tangannya terasa sangat dingin bagi Kyungsoo. Jongin sedikit terkejut saat kulit mereka bersentuhan, kemudian dengan cepat menyentak tangan Kyungsoo, membuatnya nyaris menumpahkan makanan Jongin.
Tentu saja Kyungsoo tidak terkejut, dengan cepat Kyungsoo menangkap mangkuk tersebut dan meletakkannya di ranjang Jongin.
Kyungsoo bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Jongin. Sebelah tangannya menyentuh dagu Jongin, mengangkatnya ke atas dengan lembut agar Jongin menatap matanya. Mata Jongin tampak penuh amarah, siap meledak kapan saja.
Dan Kyungsoo tersenyum.
"Jongin-ah dengar, aku hanya ingin kau makan. Sebagai rasa terima kasihku, itu saja," Kyungsoo menangkupkan kedua tangannya ke pipi Jongin yang sedingin es. Jongin memejamkan mata. "Kumohon, aku hanya ingin kau makan. Oke?" tambah Kyungsoo lagi. Kali ini tangannya mengusap pipi Jongin dengan lembut.
"Tidak," rahang Jongin mengeras, sedangkan Kyungsoo hanya menghela napas pelan.
"Jongin-ah, aku hanya ingin kau makan, sebagai ucapan terima kasihku padamu," Kyungsoo mengulang perkataannya dengan nada lembut, kemudian meremas bahu Jongin sebentar. "Aku hanya ingin kau sehat," tambah Kyungsoo, Jongin sedikit mendengus, tapi tidak berkata apa-apa. "Aku akan keluar supaya kau bisa makan dengan tenang," ucap Kyungsoo sambil tersenyum.
Kyungsoo melepaskan tangannya dari tubuh Jongin dan berbalik memunggungi pria itu, sebelah tangannya menyambar asal jas dokternya dan mengambil satu mangkuk makanan yang tersisa. Kyungsoo baru saja maju selangkah menjauhi Jongin.
"Kyungsoo," suara Jongin terdengar parau dan nyaris berbisik.
Kyungsoo ingin menjerit karena lega, dia menang. Tentu saja dia akan selalu menang menghadapi orang-orang macam Jongin. Kyungsoo menoleh, berusaha mengendalikan ekspresi wajah bahagianya. "Ya?"
Jongin menunduk, menatap makanan yang berada di pangkuannya dan menatap Kyungsoo bergantian. Ada keraguan di mata Jongin yang dapat Kyungsoo tangkap dengan cepat. Gadis itu tersenyum pada Jongin, kemudian berjalan mendekatinya.
Kyungsoo kembali menyentuh tangan Jongin yang dingin. "Kau ingin aku menemanimu makan?" tanya Kyungsoo perlahan, nada suaranya terdengar menyenangkan.
Jongin tidak bergerak, tapi Kyungsoo tidak perlu jawaban Jongin untuk mengerti keinginan pria itu. Lagi-lagi Kyungsoo tersenyum, duduk di sebelah Jongin dan mengambil makanan dari ranjang Jongin. Kyungsoo membuka alumunium foil yang membungkus mangkuk plastic itu dan menyodorkannya ke Jongin, kemudian melakukan hal yang sama pada mangkuk satunya.
"Selamat makan, Jongin," ucap Kyungsoo, perlahan memasukkan makanan ke dalam mulutnya menggunakan sendok plastic, sedangkan Jongin masih ragu-ragu untuk makan. "Kau tidak makan? Itu sudah hampir dingin," tambah Kyungsoo.
Jongin memandangi Kyungsoo, memasang pandangan meminta pendapat dan Kyungsoo mengangguk. Tatapan Jongin masih dingin, menusuk, dan juga menyeramkan. Tapi Kyungsoo tidak merasa terintimidasi sama sekali. Gadis itu masih memakan makanannya dengan tenang. Sesekali menarik napas karena terlalu banyak memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Jongin dengan ragu-ragu mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Dan Kyungsoo diam-diam mendesah lega. Kyungsoo sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Jongin, melihat bagaimana Jongin makan dengan perlahan membuat hati Kyungsoo sedikit tenang.
Setidaknya pria itu sudah mulai bisa dikendalikan, meskipun Kyungsoo harus diam-diam 'meracuni' makanan Jongin dengan obat-obatan karena Jongin sama sekali tidak mau memakan obatnya.
"Kau suka makanan pedas, Jongin-ah?" tanya Kyungsoo, berusaha memecah keheningan yang menyiksa.
Jongin berhenti mengunyah, kemudian menoleh ke arah Kyungsoo dengan alis terangkat. "Tidak," jawabnya singkat.
Kyungsoo mengangguk beberapa kali. "Sayang sekali, aku ingin makan ramen super pedas denganmu,"
"Kenapa?" tanya Jongin singkat, Kyungsoo hanya meliriknya sekilas. Kyungsoo berusaha menahan ekspresinya agar tetap senang meskipun setengah mati Kyungsoo ingin menjerit karena senang.
"Aku suka ramen," balas Kyungsoo. "Kau tau, aku tidak punya banyak waktu untuk sekedar makan. Jadi aku sering memakan makanan instan," Kyungsoo bicara dengan mulut penuh.
"Kenapa harus denganku?" pertanyaan Jongin membuat Kyungsoo menghentikan makannya, dia memandang Jongin dengan pandangan terkejut dan Jongin juga memandangi Kyungsoo dengan bingung.
Kyungsoo terkejut, tentu saja.
Kyungsoo berdeham sedikit, merasa kehilangan akal sejenak. "Bukankah aku sudah bilang aku tidak memiliki teman?" Kyungsoo memutuskan untuk kembali makan, mengalihkan pandangannya dari tatapan Jongin yang menusuk.
Kyungsoo sedikit ngeri, sebenarnya.
Jongin tidak menjawab. Pria itu kembali makan dengan tenang dan perlahan.
"Jongin-ah," panggil Kyungsoo, tapi Jongin tetap tidak menyahut. "Kau tahu besok akan ada pekerjaan yang harus kau kerjakan," Kyungsoo melirik Jongin sekilas dan pria itu sedang diam tak bergerak.
"Tidak," desis Jongin, tenang, nyaris mengancam.
Kyungsoo meletakkan mangkuknya yang nyaris kosong, kemudian meraih tangan Jongin. Kyungsoo menarik wajah Jongin untuk menatapnya, lalu tersenyum. Sangat manis hingga Jongin nyaris mengerjap.
"Aku akan membantumu, Jongin," Kyungsoo mengusap-usapkan tangannya yang hangat ke tangan Jongin. "Kau akan baik-baik saja," Jongin tidak menyahut, matanya tampak lelah. "Sekarang istirahatlah, aku tidak ingin temanku kelelahan," bisik Kyungsoo.
Entah mengapa Jongin mengangguk. Pria itu tidak menolak ketika Kyungsoo mendorong tubuhnya ke ranjang, menarik selimut hingga menutupi dada Jongin dan mengusap rambutnya beberapa kali. Kyungsoo menggumamkan sebuah lagu yang tak Jongin mengerti, tapi itu berhasil membuatnya tenang dan tertidur.
Dengan senyum yang mengembang, Kyungsoo meninggalkan Jongin yang terlelap dengan tenang.
.
.
"Kyungsoo," suara Baekhyun pagi ini membuat Kyungsoo nyaris berteriak kesal. Kyungsoo baru saja memejamkan mata selama kurang dari dua jam setelah menangani pasien yang mengalami histeris semalaman penuh dan sekarang Baekhyun membangunkannya dengan suara melengking yang memekakkan telinga.
Kyungsoo menguap, meregangkan otot-ototnya yang kaku. "Demi Tuhan, Baekhyun-ah. Aku hanya ingin sedikit istirahat,"
Baekhyun menggeleng, kemudian meletakkan sebuah cup kopi hangat di sebelah lengan Kyungsoo. "Kau akan mulai perawatan Jongin hari ini, kan?"
Kyungsoo hanya mengangguk, kemudian menyesap kopi paginya yang terlalu manis. "Aku akan melakukannya di ruangan Jongin,"
"Kenapa?" suara melengking Baekhyun lagi-lagi membuat Kyungsoo mendesis kesal.
"Aku hanya ingin membuatnya nyaman. Siapkan semuanya, aku akan mandi," Baekhyun hanya menjawab dengan anggukan, merasa tidak perlu bertanya tentang hal-hal yang lebih jauh.
Kyungsoo berjalan terburu-buru menuju bangsal isolasi sambil mengunyah burger yang diambilnya dari meja Luhan. Dia tidak sempat punya waktu untuk sarapan karena harus menangani pasiennya yang kambuh semalaman, pagi ini.
Kyungsoo berhenti sejenak untuk menunggu pintu lift terbuka, dengan tidak sabar kakinya bergerak-gerak gelisah.
"Kau tampak terburu-buru," sebuah suara di belakangnya membuatnya terlonjak kaget dan hampir menyemburkan potongan burger yang dikunyahnya. Kyungsoo tidak perlu menoleh untuk mengerti suara siapa itu.
"Aku tidak punya waktu untuk berbicang denganmu, Oh Sehun," dengus Kyungsoo, masih mengunyah potongan burgernya.
Sehun terkekeh, kemudian mendahului Kyungsoo memasuki lift yang kosong. "Kudengar kau sedikit berubah sekarang,"
"Wah, Kris dan Chanyeol benar-benar memiliki mulut yang besar. Sejauh mana mereka membiarakanku?"
Sehun mengangkat bahu acuh. "Sebenarnya aku penasaran. Apa itu benar?"
Kyungsoo menggeleng. "Aku masih seperti biasanya, Sehun-ah. Tidak ada yang berubah," Sehun hanya menjawab dengan kekehan ringan.
Kyungsoo dan Sehun berjalan beriringan saat mereka sampai di lantai bangsal isolasi. Kyungsoo memandangi Sehun sekilas dan Sehun mengangguk meyakinkan. Saat mereka berdua sampai, beberapa orang berjas putih berdiri di depan kamar Jongin.
"Sudah sepuluh menit sejak kami memberinya obat penenang," kata salah seorang perawat.
Kyungsoo mengecek jam tangannya. "Kurasa sudah waktunya," ucapnya.
"Dokter Park dan Dokter Wu sudah menunggu Anda," dan Kyungsoo membelalak.
Kyungsoo melirik Sehun sekilas, meminta penjelasan tapi Sehun segera membuang muka. "Kurasa aku hanya meminta bantuanmu, Sehun-ah,"
Sehun mengangkat bahu acuh, kemudian mendahului Kyungsoo masuk ke dalam ruangan Jongin. Kyungsoo menghembuskan napas beberapa kali sebelum memasuki ruangan Jongin, meraih satu botol air mineral dan meminumnya sekali teguk.
Kyungsoo hanya sedikit gugup.
Saat Kyungsoo memasuki ruangan Jongin, ruangan itu sudah banyak berubah. Jongin terbaring di ranjang, dengan mata terpejam dan alat-alat yang menempel di seluruh tubuhnya. Chanyeol dan Kris berdiri di samping ranjang Jongin, Chanyeol memusatkan perhatian pada layar yang menunjukkan angka-angka. Sedangkan Kris tampak serius membaca catatan yang dipegangnya.
"Kurasa sudah bisa dimulai," ucap Sehun, jemari pucatnya menyentuh pergelangan tangan Jongin.
"Detak jantungnya sudah normal," tambah Chanyeol. "Kau mau aku yang melakukannya?"
Kyungsoo menahan diri untuk tidak mendengus pada Chanyeol, kemudian tersenyum. Senyuman terpaksa yang dibalas seringaian menyebalkan khas Chanyeol. Lagi-lagi Kyungsoo menarik napas dalam-dalam, perlahan berdiri di samping ranjang Jongin.
"Jongin-ah," panggil Kyungsoo. Kris, Chanyeol, dan Sehun saling berpandangan. Saling melemparkan pertanyaan dalam pandangan mereka dan dibalas oleh gelengan kepala ketiganya. Mereka pertama kalinya mendengar Kyungsoo menyebut nama pasiennya dengan sebutan seperti itu.
"Jongin-ah," ulang Kyungsoo, meninggikan suaranya namun tetap membuatnya terdengar lembut.
Kepala Jongin bergerak-gerak gelisah. Kyungsoo menoleh sekilas ke arah layar yang menunjukkan detak jantung Jongin dan itu meningkat sedikit.
"Jongin-ah, kau bisa mendengarku?" tanya Kyungsoo lagi.
Jongin mengerjap beberapa kali, tapi tidak membuka mata. "Kyung-kyungsoo?" tanyanya terbata.
Kyungsoo tersenyum. "Ya, ini Kyungsoo temanmu," kali ini ketiga pria di belakangnya memandanginya dengan heran bercampur bingung. "Jongin-ah, aku ingin bertanya sesuatu. Kau akan menjawab pertanyaan itu untukku?"
Jongin mengangguk sekilas, sangat pelan hingga Kyungsoo nyaris tak menyadarinya.
"Jongin-ah, aku akan menanyakan tentang keluargamu," tepat saat Kyungsoo mengucapkannya, Chanyeol meremas pundaknya, mengisyaratkan bahwa detak jantung Jongin meningkat drastis.
Jongin tidak merespon, hanya kedua tangannya bergerak-gerak gelisah. Mengepal dan sedikit berguncang.
"Tak apa Jongin. Aku hanya ingin kau membagi ceritamu. Kau tidak harus selamanya memendam itu sendiri. Sudah kubilang, aku ini temanmu," lagi-lagi Chanyeol meremas pundak Kyungsoo, mengingatkan gadis itu.
"Keparat," bisik Jongin, suaranya terdengar parau dan serak. Detak jantungnya masih terus meningkat.
Kyungsoo menoleh ke arah Sehun yang sedang memeriksa denyut nadi Jongin dan Sehun mengangguk ringan.
"Apa yang terjadi Jongin-ah?" tanya Kyungsoo lagi, berusaha membuat suaranya terdengar menenangkan.
"Bajingan itu menelanjangi ibuku," lagi-lagi Kyungsoo memandangi Chanyeol dan Sehun, kedua pria itu hanya mengangguk ringan. "Mereka meniduri ibu sebelum membuatnya berteriak-teriak dan membuat tubuhnya berlumuran darah," rahang Jongin mengeras, kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya.
"Siapa mereka, Jongin-ah?"
Jongin menggertakkan giginya. "Ayahku," dan kali ini Kyungsoo nyaris tersedak. "Dan teman-teman keparatnya," tambahnya, membuat Kyungsoo membelalak.
Kyungsoo melirik ke arah Kris yang sedang mencatat sesuatu dalam kertas yang dipegangnya. Kris mengangguk sekilas tanpa memperhatikan Kyungsoo.
"Jongin-ah, lalu apa yang terjadi?" tanya Kyungsoo lagi, berusaha membuat suaranya tidak bergetar.
"Jungin gadis baik. Dia bahkan belum bisa mengganti pakaiannya sendiri," Jongin meringis, mengepalkan kedua tangannya hingga berwarna putih pucat. "Tubuhnya berdarah. Penuh darah," tambah Jongin dengan suara nyaris habis.
Dan Kyungsoo berhenti bertanya.
Kyungsoo nyaris mendesis, entah karena marah atau kesal dengan cerita Jongin. Selama ini Kyungsoo tidak pernah menggunakan perasaannya saat bekerja. Tapi ini semua berbeda, entah mengapa cerita Jongin barusan menggerakkan hatinya.
Rasa kemanusiaannya memberontak.
Dengan pasti jemari Kyungsoo meraih tangan Jongin yang sedingin es, mengusapnya beberapa kali untuk menenangkan Jongin. Kyungsoo menggenggam tangan Jongin, membuatnya tidak mengepal lagi. Gadis itu pikir tangan Jongin akan retak karena dia terlalu kuat mengepalkannya.
"Jongin-ah," bisik Kyungsoo, tangannya menggenggam erat tangan Jongin. "Aku mengerti. Kau sudah bekerja keras. Terima kasih," bisik Kyungsoo.
Jongin mengangguk ringan. Kyungsoo mengusap kepala Jongin perlahan, memastikan pria itu terlelap.
Kyungsoo menoleh ke arah rekan-rekannya, sedangkan yang dipandang hanya menggeleng ringan dan mengisyaratkan untuk keluar dengan wajah kesal. Kyungsoo hanya mengangguk pasrah. Dia siap menerima celotehan para rekannya.
"Apa yang kau lakukan?" protes Sehun saat mereka sudah keluar dari ruangan Jongin.
Kyungsoo hanya menggeleng. "Aku tidak bisa,"
"Kyung, kau tidak pernah seperti ini sebelumnya," kali ini Kris bicara.
Kyungsoo menunduk, mengikuti langkah rekan-rekannya yang berjalan mendahuluinya. "Aku tidak bisa melanjutkan ini,"
"Kau ingin aku yang melakukannya?" tanya Sehun.
"Tidak," sahut Kyungsoo cepat, nyaris memekik hingga ketiga rekannya menoleh ke belakang. "Aku akan menggunakan cara lain,"
Chanyeol mendengus. "Kau tidak akan menyelamatkannya jika hanya memberikannya obat-obatan,"
"Aku tahu. Kau tidak perlu menceramahiku tentang hal itu," protes Kyungsoo kesal. "Jongin hanya butuh kasih sayang," ucap Kyungsoo ringan.
"Lalu kau akan memberikan kasih sayang itu begitu saja?" tanya Kris, memandangi Kyungsoo dengan tatapan dinginnya yang menusuk.
Kyungsoo diam, membiarkan ketiga rekannya berjalan meninggalkannya. Kyungsoo mematung. Tidak mampu bergerak. Tidak mampu bicara. Pikiran Kyungsoo begitu bercabang saat ini. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya.
Kim Jongin.
Pria psikopat itu mampu menarik simpatinya, menarik perhatiannya lebih jauh dari yang dia bayangkan sebelumya. Meskipun baru kemarin Kyungsoo bertemu dengan Jongin, namun Kyungsoo rasa gadis itu sudah jauh mengenal Jongin.
Kyungsoo hanya merasa iba pada Jongin, awalnya. Sama seperti perasaannya pada pasien lainnya. Hanya saja, saat pertama kali Kyungsoo melihat Jongin. Saat pertama kali Jongin hendak menyerangnya dengan besi, Kyungsoo menatap mata pria itu. Mata pria itu sarat kesakitan. Ada sesuatu yang harus diselamatkan dari pria itu, sesuatu yang lama hilang.
Kyungsoo menyadari bahwa ada yang berbeda dengan psikopat itu.
Ada suatu hal di dalam mata Jongin yang membuat Kyungsoo merasa nyaman. Aneh memang. Dan Kyungsoo bahkan tidak mengerti apa itu, Kyungsoo tidak mengerti bagaimana pandangan seorang psikopat bisa membuatnya nyaman.
Satu hal lagi yang membuat Kyungsoo merasa aneh. Jongin mudah dikendalikan.
Kyungsoo sudah berkali-kali menghadapi psikopat, namun baru kali ini dia merasa bahwa Jongin bukan seorang psikopat pada umumnya yang sering ditemuinya. Kyungsoo sendiri sempat ragu apakah Jongin benar-benar seorang psikopat seperti yang banyak dibicarakan oleh rekan-rekannya.
Kyungsoo masih tak mengerti.
Bahkan Kyungsoo sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan pikirannya.
Dan hatinya tentu saja.
.
.
Pada saat makan malam, seperti biasa, Kyungsoo mendatangi Jongin dengan dua kotak makanan di tangannya. Kyungsoo memasuki ruangan Jongin yang tidak seperti biasanya, ruangan itu tampak terang benderang. Jongin duduk di ranjangnya, menatap lantai di depannya dengan pandangan kosong.
Jongin melamun.
"Jongin-ah," Kyungsoo berbisik, berjalan mendekati Jongin dan mengusap punggungnya.
Jongin tidak bergerak.
"Jongin-ah kau baik-baik saja?" tanya Kyungsoo, masih tak ada jawaban.
Kyungsoo berdiri di hadapan Jongin, menarik kepala pria itu ke atas, menatap matanya yang lelah.
"Kyungsoo," bisik Jongin, suaranya terdengar menyeramkan, nyaris terdengar seperti orang sekarat.
Dan mungkin Jongin sedang sekarat sekarang.
"Tidak apa-apa, Jongin-ah," Kyungsoo menggerakkan jemarinya menelusuri wajah Jongin. "Kau sudah bekerja keras," bisik Kyungsoo. "Maafkan aku,"
Saat Kyungsoo menyentuh bibir Jongin, mata pria itu basah. Bulir-bulir air mata membasahi pipinya yang tirus, berlomba-lomba keluar dari kelopak matanya yang gelap. Jongin terisak, menahan emosinya yang meluap-luap. Jongin tesedu-sedu, bahunya bergerak naik turun karena menahan tangis.
Secara naluriah Kyungsoo memeluk pria itu, mendekapnya erat-erat. Tangan mungilnya mengelus punggung Jongin perlahan, memberikan ketenangan yang selama ini tak pernah Jongin dapatkan. Kyungsoo meletakkan dagunya di puncak kepala Jongin, menggumamkan kalimat-kalimat yang mungkin membuat Jongin tenang.
Dan saat Jongin meraih pinggul gadis itu, air mata Kyungsoo meleleh. Jongin memeluknya, sangat hangat hingga Kyungsoo bertanya-tanya kapan terakhir kali seorang pria memeluknya seperti ini.
Sama seperti Jongin, Kyungsoo juga merasakan ketenangan. Jongin memeluknya sangat erat, membuatnya semakin merasakan apa yang Jongin rasakan.
Rasa sakit pria itu, perlahan Kyungsoo memahaminya.
Dan Kyungsoo bersyukur karena Jongin datang padanya.
"Kau sudah bekerja keras, Jongin-ah. Terima kasih," ucap Kyungsoo berulang-ulang, membuat isakan Jongin menjadi-jadi dalam dekapannya.
Dan malam itu, Kyungsoo merasakan rasa sakit, untuk pertama kalinya. Rasa sakit yang bahkan belum pernah dirasakannya.
.
.
Terima kasih sudah mau membaca kelanjutan fanfiction ini. Akhirnya chapter 2 selesai juga. Author mohon maaf jika jalan ceritanya tidak sesuai dengan harapan para readers. Author harap para readers masih setia menunggu dan membaca kelanjutan fanfiction ini.
Untuk kritik dan saran, Author sangat mengharapkan dari readers sekalian. Jadi Author tunggu di kolom review yaaa~
Akhir kata, Author mohon maaf jika ada kesalahan dalam kata-kata.
Terima kasih sudah membaca, sampai jumpa di chapter depan~
