.

Naruto © Masashi Kishimoto. Story © Archmblt Minmi

BAHASA GAK BAKU! OOC! AU!

Italic = Batin

Warn! Ada cerita berbentuk chat!

.

2

PENDEKATAN?

.

Sudah berjalan dua minggu semenjak rambut hitam Sasuke berubah gaya. Yang tadinya tampak mencuat-cuat bak artis dari film Naruto, kini hanya menyisakan gaya rambut jatuhnya. Sasuke bahkan sudah sering berkonsultasi kepada pakar rambut keluarganya, tetapi nihil rupanya. Tidak ada yang bisa mengembalikan rambut pantat chicken tersayangnya.

Dan inilah dia. Seorang Sasuke Uchiha baru. Dengan rambut hitam jatuh bagaikan pemeran iklan sampo ketombe.

Sasuke tampak berjalan dengan semangatnya. Langkah kakinya ia hentak-hentakkan dengan girang menuju ke GOR atau gedung olahraga sekolahnya.

Saat baru memasuki GOR, mata oniks-nya langsung menyerbu ke barisan para cheerleading yang sedang berlatih di ujung kanannya. Tapi sepertinya bukan itu maksud matanya, karena lihat saja matanya masih terus bergulir kesana kemari seperti mencari sesuatu.

"Minggir," sebuah suara dari belakang mengagetkannya.

Sasuke pun buru-buru menghadap kebelakang dan mendapati sesuatu yang sedang dia cari sedari tadi. "Adu— silau," ucap Sasuke sembari menutupi matanya bak melihat matahari mendadak.

"Good afternoon, my sunshines," sapaan Sasuke yang garing itu hanya disambut dengan emerald gadis itu yang memutar.

Sakura—nama gadis itu—menubruk bahu Sasuke dengan rasa tidak berdosa kemudian berjalan menuju ke pojok kanan dimana para cheerleading sedang latihan. Yang ditubruk malah senyam-senyum modus, hatinya senang karena kena skinship dengan sang pujaannya.

"Ngapain Lu dateng, Suk?" pertanyaan itu berasal dari seseorang berambut merah yang menjabat sebagai ketua tim basket sekolah Konoha.

Pertanyaan itu cuma bisa ngebuat Sasuke tersenyum kecut. Bagaimana mungkin dia bakal bilang ke ketua tim basket sekolah—yang menjadi rival kepopularitasnya—kalau dia datang ke GOR cuma mau ngapelin degem, duh gak banget deh.

Selain tersenyum kecut, Sasuke mulai menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal tanda kalau dia semakin bingung. Dia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling GOR. Yang dilihatnya cuma ada degem 1, degem 2, degem 3sama ring basket, selebihnya gak menarik cuy.

Tu-tunggu, ring basket? Ide cemerlang tampaknya memasuki otaknya.

"Gue mau ikut tim basket, bisa 'kan yah?" pertanyaan itu sukses membuat pupil si merah membesar karena takjub. Takjub dong, masa orang kayak Sasuke yang hobinya cuma ngintilin degem bisa punya pemikiran buat ikutan klub basket?—sepertinya otak dia sudah error.

Sasori—nama kapten itu—berdehem sejenak, "Wh-what? Are you kidding me? Lu beneran mau masuk tim basket, Suk?" Sasori tampak bertanya untuk meyakinkan Sasuke lagi.

Yang ditanya langsung mengangguk tanpa berpikir lagi. "I'm serious my buddy. Kenapa sih Lu kayaknya gak percaya banget sama gue, Ri?" Sasuke balik bertanya karena tidak suka dengan kalimat Sasori yang meremehkannya.

"Oh enggak. Gue cuma bingung aja. Lu 'kan gak pernah suka ikut eksul," jawab Sasori jujur.

"Ini tahun terakhir gue. Ya gue mau coba aja. Siapa tahu suka."

Sasori hanya manggut-manggut dengerin ucapan Sasuke yang sok bijak di telinga dia. Sasori pun menepuk pelan bahu Sasuke, "Ok budd, Lu bisa mulai besok latihannya karena kita udah mau selesai untuk hari ini," ucap Sasori sembari nyengir_ganteng_Sasori_ dan kemudian berlarian menuju teman klubnya.

Bud, bud, dikiranya gue budi apa. Ah tapi gak apa-apa deh. Lumayan bisa sekalian ngapelin dedek Sakura di sini, hehehe. Batin Sasuke nista.

Sasuke pun dengan berani berjalan menuju ke sudut kanan GOR—tempatnya para cheerleading. Belum sampai ke sana, tiba-tiba kakinya berbelok arah. Karena apa? Ya karena dia mendapatkan tatapan tajam dari Sakura yang menyuruhnya untuk tidak dekat-dekat dengannya. Ya Sasuke mah pasrah aja. Orang ganteng bisa apa, ya gak?

Setelah beberapa menit setelah kepulangan para tim basket, lutut Sasuke mulai bergetar, dia penat karena sedari tadi berdiri saja. Akhirnya dia mendudukkan dirinya di sebuah bangku tidak jauh dari tempat para cheerleading sedang berlatih. Mata hitamnya dia kembali fokuskan pada pemandangan di sana. Iya, pada jidat yang ngelewatin parkiran itu.

"Nikmat Tuhan manakah yang gue dustakan, duh," ucapnya mupeng saat melihat Sakura yang sedang nge-dance. Apalagi keringatnya, aduh rasanya Sasuke pengen jadi keringat Sakura saja.

Selang beberapa menit, akhirnya para cheerleading mulai mengemasi barangnya masing-masing, sepertinya waktu berlatihnya sudah selesai. Sasuke yang dari tadi menunggu dengan bosan sampai ngiler di bangku sana pun mulai bersemangat lagi. Diraihnya smartphone miliknya dan mulai mengetik sesuatu.

.

Sasuke: Udah pulang?

Sasuke: Aku tunggu di luar ya, dek.

.

Sasuke langsung memasukkan handphone hitamnya kembali ke dalam sakunya dan berlarian keluar GOR, berharap gadis impiannya akan menemuinya dan mereka akan melalui yang namanya pulang bareng, kemudian ke tahap pdkt dan—kyakyakya! Sasuke sudah tidak bisa berimajinasi lebih dari itu lagi.

Itu yang tadinya ada di pemikiran naifnya.

Tapi sekarang sudah lima belas menit dia di luar GOR. Lima belas menit. Bayangin saja betapa bosannya dia menunggu. Bahkan hati kecilnya merasa dia sudah dikhianati karena Sakura tak kunjung datang sedangkan tampaknya suasana di GOR sudah sunyi.

Semenit kemudian, hp-nya berbunyi. Sasuke buru-buru membukanya.

.

ObatMaknyus: Kamu ganteng/cantik? Capek ganteng/cantik? Yuk order obat kami! Kami menyediakan obat penurun tinggi badan, penambah berat badan dan penambah jerawat! Hasilnya sangat memuaskan buat kalian-kalian yang capek jadi orang perfect! Yuk tinggal klik

.

Syaland.

Hampir saja henpon cantik yang digenggam Sasuke melayang dengan sedihnya di tanah. Sasuke langsung misuh-misuh di luar seperti orang kesetanan. Mereka-mereka yang sedang lewat-lewat cuma geleng-geleng kepala. Mungkin otaknya lagi nyangkut dipohon, pikir mereka.

Gimana ya guys, rasanya tuh ada yang mengganjal di hatinya. Sasuke benar-benar ingin nge-chat Sakura lagi, tapi kok rasanya gengsi ya. Apalagi pesan yang tadi belum dibalas. Kok rasanya geli gitu ya, guys?—nah, karena pemikiran inilah Sasuke langsung memasukkan henponnya kembali.

Tapi, akhirnya dia tidak tahan.

Apa itu gengsi?

.

Sasuke: Dek

.

Sakura: Brisik

.

Waw. Hati Sasuke hampir lompat dari tempatnya. Dia nggak nyangka kalau Sakura bakal ngebalas chat-nya.

.

Sasuke: Pulang bareng yuk

Sasuke: Kaka udah tunggu di luar

.

Sakura: Gw udh plg

.

Syaland (2).

Sasuke mengurut dadanya. Dia iba kepada dirinya sendiri. Dan supaya dia tidak merasa sedih lagi, dia mulai memuji-muji dirinya lagi. Setelah seribu pujian dia lontarkan untuk dirinya sendiri, Sasuke pun berseri kembali. Dia menarik napasnya dan kembali mengetikkan sesuatu pada henponnya.

.

Sasuke: Kaka bosen dek

Sasuke: Ke warung cimol yuk

Sasuke: Kaka yang bayarin kok

Sasuke: Dek

Sasuke: Adekk?

Sasuke: Dekkk

Sasuke: Gak pakai uangmu kok, dek

Sasuke: Adek cantik

Sasuke: Calon makmumku

.

Sakura: Brsk

Sakura: Gw gk bth imam kyk L

.

Sasuke: Galak banget dek

Sasuke: Jadi ketagihan *eh

.

Sakura: Gw msh d perpus

Sakura: Jmpt kl mw jjn

.

Seperti ada lampu hijau mendadak muncul di jalanan, Sasuke langsung ngebut berlari menuju perpustakaan. Apasih yang enggak buat dia. Jangankan cimol, hati pun dikasih deh, hehe.

Tidak sampai lima menit Sasuke berlarian untuk sampai ke perpustakaan. Dengan napas yang ngos-ngosan, Sasuke pun melangkah memasuki ruangan full buku itu. Oniksnya kesana kemari untuk mencari sesosok merah muda yang tadi minta di jemput.

Kaki jenjangnya pun melangkah saat mendapati Sakura sedang duduk dan fokus membaca buku lekat-lekat seakan tulisan di buku itu bakalan hilang kalau tidak dia baca seperti itu. Sasuke berlari-lari kecil sembari nyengir-nyengir kuda saat akan menuju kepada Sakura.

Sasuke masih berdiri, tetapi dia mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura dengan posisi tangannya menopang dagunya. "Adek manis. Jalan yuk," ucapnya garing sambil mengedipkan matanya manja.

Sakura melihatnya lama dengan ekspresi kosong—tanda dia tidak tertarik. Tanpa aba-aba dari siapapun, Sakura langsung membereskan buku-bukunya dan berjalan mendahului Sasuke yang masih nyengir-nyengir kuda.

Tak lama, Sasuke pun ngintilin Sakura dari belakang.

"Adek, mau jajan apa?" tanyanya dengan nada yang tidak terdefinisi.

Sakura menatap jam merah jambunya sejenak. "Gue punya waktu setengah jam. Makan ayam bakar juga cukup," ucapnya tajam sembari berjalan mendahului Sasuke yang tiba-tiba mematung di tempat.

Setelah acara space-out-nya Sasuke kelar, Sasuke langsung berlarian menuju Sakura. "Aduh dek. Kakak lagi gak bawa uang banyak buat jajan ayam bakar. Jajan cimol aja gimana?" tawar Sasuke dengan menunjukkan muka melasnya.

Sakura memutarkan kedua bola matanya. "Dasar miskin."

Dan Sasuke hanya bisa mengurut dadanya ikhlas. Iya dia lagi miskin. Kemarin dia nggak sengaja khilaf jajan action figure limited edition yang mahal banget. Akibatnya, Sasuke cuma bisa makan sama nasi kecap, ya kali dah dia bisa jajanin Sakura pakai ayam bakar. NO! NO! NO! ITS A BIG NO!

Sasuke berdehem ganteng. "Kakak jajanin kamu ayam bakar kapan-kapan aja de—."

"—Gue sibuk."

Gulp.

Adam's apple-nya Sasuke naik-turun dengan kisutnya.

"Oke-oke. Kakak jajanin ayam bakar sekarang deh. Tapi janji, besok pulang bareng lagi?" tanya Sasuke mencoba bernegosiasi.

Sakura tampak menggantungkan langkahnya. Sasuke pun begitu. Sakura menatap ke arah Sasuke dengan tatapan menusuk membuat Sasuke langsung takut-takut.

Mampus. Apa lagi salah gue?

Sakura berjalan pelan-pelan ke arah Sasuke dan Sasuke pun mengambil langkah mundur pelan-pelan juga. "Gue. Gak. Mau. Pulang. Bareng. Lo. Lagi." Sakit cuy. Sakura benar-benar mengucapkan kalimatnya dengan penekatan di setiap katanya.

"Dan gue hari ini gak jadi pulang bareng sama lo. Temen gue jemput," ucap Sakura tidak berdosa. Sakura langsung berlarian menuju kedua temannya yang berada di ujung pagar sekolah. Iya, pagar sekolah. Sasuke cuma jalan sama Sakura dari perpustakaan sampai ke pagar sekolah aja, nggak lebih. Sakit sih, tapi tidak berdarah.

"Woi, Suk. Dicariin kemana-mana, ternyata udah mau minggat aja lu. Pajak pedekate-nya mana, sat?" itu suara cempreng si anak Uzumaki.

"Capek gue jadi temen lu kalau lu gak mau ngasih pajak pedekate," yang itu suara dari si anak albino.

Mereka berdua menumbuk-numbuk bahu Sasuke karena si empunya bahu malah bergeming dalam diam. Sasuke pun menatap kedua teman seperjuangannya sejak dilahirkan emak masing-masing di rumah sakit tempat kelahiran masing-masing.

"Guys," suara Sasuke membuat keduanya menahan napas.

"Gue gak jadi pedekate huee~. Kudu piyee?" rengeknya manja. Dan kalau kalian semua adalah fans-nya, mending buru-buru kirim surat pengunduran diri dari ketua RT aja deh.

Kedua temannya hanya bisa kicep. Kicep menatapi perut kosong mereka masing-masing. No pedekate no party, hikseu.

.

Dek, kenapa sih kamu ngehindarin aku terus? Aku 'kan jadi tambah sayang:') – Sasuke Uchiha, 2k17.

Batal makan deh:') –Naruto Uzumaki, 2k17

Syaland. Padahal udah puasa:') –Sai Albino, 2k17

.

TBC

.

A/N

HAHA MAKIN GAJE

AH SKIP AH SKIP

Oh ya mau ngasih tau aja, kalau ff ini gak bakal panjang-panjang. Paling berkisaran 1k aja. Karena ini ff selingan (tugas) ku huehue :'D

Langsung aja deh ya, Review onegaishimasuuu~

.

BIG THANKS TO REVIEWERS, FOLLOWERS, FAVORITERS(?) AND SILENT READERS^^!

.

Last,

Mind to Review :3

.