Sumarry :

Sasuke menjadikan Sakura sebagai kekasihnya, hanya karena gadis itu memiliki kesamaan dengan mantan kekasihnya yang dulu. Seorang gadis yang amat dicintainya dan juga dengan tega menghianatinya.

"Aku akan menjadi dia, jika itu mampu merubah sikapmu padaku!"

XXxxXXxxXX

in CHAPTER 1

Haruno Sakura hanya gadis biasa yang menyukainya.

"Jadilah kekasihku."

Bahkan, Ia sendiri ragu akan maksudnya pada gadis itu. Ingin memilikinya atas dasar apa?

'Apa keputusan yang tadi itu benar?'

Karena Ia sendiri'pun bingung tentang perasaannya sekarang. Entah itu masa lalunya atau gadis barunya.

"hn."

Karena, Gaara menyukainya, sampai detik ini sekalipun. Sampai saat gadis itu sudah memiliki hak kepemilikan yang mutlak dari Uchiha Sasuke. Sobatnya sendiri.

"―aku akan merebutnya darimu, dan kau akan ku buat menyesal dan jauh lebih sakit dari pada dia."

Sasuke tak pernah sekesal ini sebelumnya.

"―jauhi gadisku! Ingat itu!"

Apa Ia tak tahu kalau 'kekasihnya' yang tampan itu tengah cemburu berat.

"Kalau kau menyukainya kau lain hormone namanya, Sasuke."

Onyx Sasuke melebar, pipinya di kecup singkat oleh Sakura. Jantungnya berdebar.

'Bodoh! Apa yang aku lakukan sih? Akhhh'

Ini gila, Sasuke tak mungkin jatuh cinta pada gadis itu kan? Iya kan?

XXxxXXxxXX

Yusha Daesung ™

with pairing

Sasuke Uchiha and Sakura Haruno

AU, School Theme.

Pengganti? © My imagination

Naruto © Masashi Kishimoto

Romance, Hurt&comfort

Dedicated for

Akari Nami Amane

Hime uchiharuno

and

Aiko Uchiha-chan

CHAPTER 2

Past and a New Sense, to Begin

Enjoyed!

XXxxXXxxXX

SASUKE Uchiha, pemuda tampan dengan tumpukan pesona yang melekat pada wajahnya yang terpahat sempurna. Tokoh utama kita ini tengah melamun di saat kelas benar-benar sunyi. Ia menyangga dagunya dengan telapak tangan yang berpangku di atas meja. Matanya mengamati pemandangan di luar sana. Apapun itu yang tengah dipandangnya, sebenarnya Sasuke tak mau ambil pusing. Kerena apa yang Ia lihat dengan bola matanya itu, sama sekali tak ada kaitannya dengan apa yang tengah Ia lamunkan saat ini.

Entah kenapa, kejadian kemarin membuatnya ingin cepat-cepat kembali mendapati wajah si gadis yang sudah sukses membuat otaknya berpikir keras akan berbagai hal tentang masalah kenapa Ia menjatuhkan pilihannya pada Sakura Haruno, yang sama sekali tak pernah terlintas untuk Ia jadikan pelarian cintanya yang kandas begitu saja dengan si mantan kekasihnya. Tayuya.

Inilah, penyebab kenapa Ia tiba-tiba datang sepagi ini. Bahkan penjaga gerbang saja sampai bertanya padanya, dan kalian tahu'lah apa jawaban tuan muda kita yang dingin ini. Hanya kalimat 'Hn' pendek yang mempunyai arti banyak. Alibi. Baginya tak penting orang lain untuk tahu apa tujuannya sebenarnya, karena Sasuke'pun sebenarnya tak pernah tahu. Ia hanya menuruti kata hatinya yang tiba-tiba saja ingin cepat berangkat ketimbang berlama-lama di kediamannya itu. Pikiran bodoh itu membuatnya, sedikit risih.

Hampir separuh malam, Ia hanya membolak-balik badannya di atas kasur rajanya yang besar. Ia berkali-kali merasakan debaran aneh itu lagi kala mengingat saat Sakura yang tiba-tiba mengecup pipinya. Sasuke ingat betul, gadis itu begitu bersemu merah sama seperti dirinya. Jika ada yang bertanya, mungkin Sasuke juga bingung akan apa jawaban yang harus Ia punya untuk memuaskan para penanya itu. Ia sendiri mulai mengingat-ingat bagaimana cara Ia memandang sosok polos Sakura selama ini.

Sakura Haruno. Ia adalah sosok yang diam-diam Sasuke perhatikan secara tidak langsung. Ia sosok periang dengan jumlah teman yang bisa dihitung dengan jari, mengingat bahwa gadis itu bukan salah satu 'most wanted' sekolahnya. Sasuke sering mendapati Sakura bergaul dengan kubangan teman yang itu-itu saja, tapi dari situ'lah Sakura terlihat lain, dan Sasuke tahu, Sakura sudah mencuri perhatiannya lewat cara halus namun pasti. Gadis itu tampil dengan caranya sendiri dan membedakan diri dengan ciri khasnya, yaitu berkumpul dengan teman-teman yang namanya tak pernah bertambah atau berkurang.

Gadis dengan rambut yang hampir sama dengan mantan kekasihnya yang dulu, hanya Sakura memiliki warna rambut yang lebih lembut dari pada Tayuya itu. Sepasang mata emerald yang terang, dan warna mata itu selalu mengingatkan Sasuke akan warna mata yang hampir sama, namun berbeda dalam terangnya sepasang emerald yang juga dimiliki oleh sobat dekatnya yang selama ini mencintai kekasihnya itu, Sabaku no Gaara.

Pemuda tampan itu mendengus jika mengingat Gaara. Entah kenapa Ia mulai tak suka pada sobatnya itu, tepatnya sejak kejadian 'ancam-mengancam' mereka kemarin, sehabis mereka selesai bermain basket bersama yang lainnya.

Sasuke tahu, Sakura itu tipe perhatian dan juga sangat sopan dalam berpakaian atau semacamnya. Ia tak pernah mengumbar auratnya di sembarangan tempat. Tidak. Sasuke berani mengambil sumpah, bahwa Ia tak pernah sekali'pun mendapati gadis itu menggunakan sesuatu bahan pakaian yang minim atau pas-pas'an. Ia bahkan selalu bisa berdandan dengan sederhana dengan polesan riasan tipis dan seadanya. Tak mau mengelak, Sasuke mengakui, gadis itu tetap manis walau tak memakai make up sekali'pun.

Dan tanpa sadar, Sasuke terenyuh membentuk sedikit senyum dengan ujung-ujung bibirnya. Dan selanjutnya Ia menggeleng keras, rasa malu menyergapnya. Demi Tuhan, Ia sudah memuji gadis lain selain mantan kekasih yang sangat Ia cintai itu.

Dan malam itu juga. Sasuke sadar, Ia sudah menyukai Sakura sejak pertama gadis itu menampakkan kehadirannya di hadapan sang onyx. Hanya saja, perasaan itu hanya sekedar rasa kagum, tak lebih. Dan ayolah, ini jarang-jarang bukan? Di mana seharusnya Ia yang dikagumi, ini malah Ia yang mengagumi seorang gadis hanya karena Ia sangat sederhana berpakaiannya dan dewasa dalam bersifat. Sasuke sadar, tak menutup kemungkinan, ada juga yang kagum pada gadisnya itu. Jauh sebelum mereka sudah terikat status bodoh ini.

Perlahan tapi pasti, kelas yang tadinya sepi kini sedikit demi sedikit kian terisi oleh suara-suara bising selain Sasuke yang tadinya seorang diri. Pemuda itu berfikir, berapa lama Ia terus memikirkan tentang gadis itu? Dan kalau boleh tahu, kenapa gadis itu belum menampakkan diri? Padahal Ino dan yang lain sudah ada dan memulai sapaan hangat antar mereka dengan cerita-cerita ringan serta tawaan.

Pemuda itu beranjak dari bangkunya, Ia memasukkan kedua lengannya ke dalam saku celana seragam coklatnya. Wajah dinginnya membuat yang lain enggan menegur atau sekedar tersenyum padanya.

Pemuda itu berjalan angkuh keluar kelas. Tanpa menghiraukan seruan sobat blonde'nya, sosok yang satu-satunya mau menegurnya pagi ini. Uzumaki Naruto, yang kelewat heboh melambaikan tangannya dari arah bangku. Dan pemuda itu harus menerima sebuah kenyataan mengesalkan, saat tahu orang yang disapanya malah dengan santainya pergi tanpa sekedar menoleh atau membalas sapaannya. Kasihan sekali.

Sedang yang lain hanya memandang Naruto dengan tatapan―makanya jangan sok akrab―ke arah pemuda yang kini tengah menggerutu tak jelas ke arah Neji Hyuuga itu, Neji malah menyahutinya dengan acuhan dingin. Inilah payahnya Naruto, Ia bertanya dengan orang yang sama saja dengan Sasuke. Naruto, Naruto.

XXxxXXxxXX

Sapaan dan juga teguran pagi ini seolah sama sekali tak dihiraukan oleh pemuda yang sekarang tengah berjalan dengan angkuhnya di sepanjang koridor yang bisa dibilang lumayan padat karena banyak siswa-siswi yang baru saja menjejakan kakinya di sekolah. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan tajam para Uchiha yang begitu memabukkan. Seolah di sini hanya ada dia dan sebuah pikiran yang melayang-layang di dalam otaknya. Bergelut aneh pada perutnya. Ini seperti pertama kali Ia merasakan rasanya jatuh cinta, dan perasaan ini, seharusnya tak Ia rasakan lagi setelah Ia baru saja terluka.

Karena sekarang, orang yang dicintainya itu sudah pergi dengan semua kebohongan yang gadis itu buat untuk mereka. Lantas, masih bisakah Ia merasakan sedikit apa itu jatuh cinta untuk kedua kalinya? Apa Ia masih bisa merasakan semuanya walau sebenarnya jauh di dalam hatinya masih ada gadis lain itu, di antara cintanya yang baru sekarang.

Entahlah, Ia sendiri masih bingung akan itu. Ia masih ragu untuk meyakinkan dirinya sendiri, bahwa permainan yang dibuatnya untuk Sakura dan dirinya adalah hal yang benar. Dan patut untuk dipertahankan. Walau sebenarnya hubungan ini tak punya tujuan serta rasa yang tetap si pemuda pada gadis itu.

Dari sekian banyaknya berbagai macam kepala dan sosok yang ada, hanya dua kepala yang begitu mencuri perhatian Casanova kita ini. Ia kali ini merasakan sebuah perasaan tak suka yang membumbung di dadanya. Biar'pun ini masih kurang jelas, hubungan Ia dan Sakura tentu saja bukanlah sesuatu yang main-main. Sakura harusnya tahu, Uchiha paling tak suka dikecewakan, tak suka miliknya direnggut oleh siapa'pun dan apa'pun itu. Dan terlebih lagi, gadis itu harusnya sadar akan statusnya yang berpacaran dengan Casanova macam dirinya ini.

Setidaknya, jaga jarak dari pemuda merah itu akan mempermulus jalan cinta mereka yang tidak jelas ini. Sasuke nyatanya selalu egois dalam berpikir, Ia selalu ingin orang lain tahu di mana orang itu harus berposisi di dekatnya. Harus tahu di mana saat Ia harus bersama kekasih dan juga para sahabatnya. Karena Sakura sekarang miliknya. Ia tak bebas lagi, Sakura harusnya tahu akan hal ini.

Merah dan merah jambu.

Di sana, gadis yang baru kemarin resmi menjadi kekasihnya itu tengah berjalan beriringan sembari tertawa kecil dan saling melempar senyum mereka masing-masing. Keduanya akrab, sangat malah. Apalagi jika melihat raut pemuda itu yang tadinya sangat dingin sama sepertinya, bisa menjadi lembut jika berada di samping sosok Haruno Sakura. Tangan pemuda itu yang melingkari pundak Sakura, semakin menambah kesan panas yang―Sasuke tak tahu kenapa―hadir di dadanya. Ia tak suka itu.

Sampai saat Ia dan gadis serta pemuda pengganggu itu berselisih jalan dengannya.

"Sasuke―" pemuda itu berhenti tanpa menoleh menatap Sakura yang menyerukan namanya. Ia membelakangi dua sosok yang kini tengah menatap punggung angkuhnya yang masih berpose santai. "―kau mau ke mana? Sasuke?"

Sasuke tahu, gadis itu kini tengah berjalan mendekat ke arahnya. Maka Sasuke menyahut dengan tanpa menoleh sedikit'pun pada Sakura yang mengulurkan lengannya ingin menggapai tangan pemuda itu. "Bukan urusanmu." Dan itu cukup sebagai kalimat penutup sebelum Ia benar-benar berlalu dari sana, ke arah parkiran depan. Meninggalkan Haruno Sakura yang menatapnya nanar, sembari menurunkan lengannya secara kebas.

"Uchiha itu." Dan rangkulan di pundak si gadis membuatnya mendongak. Menatap mata hijau lain selain warna matanya. "Sudahlah, dia memang seperti itu." Ya, walau terasa sakit, Sakura memang tahu akan itu. Sasuke memang tipe dingin dan tak bersahabat. Tapi Sakura, kau melupakan satu fakta. Bahwa kau adalah kekasihnya. Bukan sekedar temannya. Pemuda itu seharusnya tahu bagaimana seharusnya Ia bersikap pada kekasihnya, apa Sasuke sebelum ini belum memiliki riwayat berpacaran?

Tepis itu. Mana ada para Uchiha yang lahir dengan deretan anugerah hanya memiliki satu pacar dalam hidupnya lalu menikah dan bahagia. Pemuda itu pastilah banyak memiliki mantan kekasih, hanya saja Sakura yang memang kebetulan kuper ini tak mengetahuinya. Sama sekali.

Dengan anggukan lemah, ujung bibirnya yang sedikit bergetar itu terenyuh sedikit. "Trims Gaara."

Keputusan salah, senyuman barusan malah terlihat seperti ringisan rasa sakit yang tak tersampaikan. "Aha," dan Gaara tak cukup bodoh untuk dikibuli oleh senyum itu. Uchiha Sasuke pelan-pelan menyakiti gadisnya ini, Ia tak suka.

Hancur sudah. Pemuda itu acuh padanya di sekolah, menganggap bahwa semua kejadian kemarin dan juga rentetan SMS mereka tadi malam hanyalah mimpi, yang hilang terbawa pagi ini. Apa sebelum ini ada yang salah pada mereka? Tidak, tepatnya. Apa ada yang salah pada dirinya? Sehingga pemuda itu mengabaikannya seperti tadi.

Sepertinya tidak.

XXxxXXxxXX

SAKURA berkali mencoba menegur atau sekedar tersenyum pada pemuda itu setiap kali mereka saling bertemu tatap satu sama lainnya. Tapi yang ada hanya tatapan abstrak yang dilemparkan si pemuda sebagai jawabannya itu. Sakura tak mengerti, apa maksud dari Sasuke padanya. Ia tak tahu letak kesalahannya jika memang Ia bersalah pada pemuda itu.

"Saku―" sadar akan Sakura yang asik melamun, Ino menyentuh lengan Sakura yang dari tadi tak melanjutkan acara mencatatnya, sahabatnya itu hanya memandangi papan tulis dengan tatapan kosong. Ia memiringkan kepalanya dengan guratan penuh tanya serta khawatir yang terbias di wajah yang dibingkai rambut kuning cerah itu, "―kau kenapa?" Ino mengulang nada yang sama, kali ini menopang dagu memperhatikan Sakura.

Kepala Sakura yang menunduk, dengan pelan menggeleng. Ia enggan menatap langsung sepasang mata azure milik Ino yang kini tengah mengamatinya dengan intents. Gugup, Ia menyelipkan sekumpulan anak rambut merah mudanya dengan lembut ke belakang telingannya dan mulai mengulum bibir bawahnya. Dan itu cukup membuat Ino tahu, bahwa Sakura kini tengah berbohong tentang apa yang ada di hatinya sekarang.

Ino tahu, ini tak akan jauh dari si Sasuke itu. Ia tahu, pada dasarnya pemuda itu hanya ingin mempermainkan Sakura. Ia hanya ingin menyakiti sahabat dekat Ino ini yang baru pertama kalinya merasakan indahnya menjalin sebuah hubungan dengan pemuda yang dicintainya itu.

Bukannya Ino tak tahu. Pemuda itu baru beberapa hari yang lalu putus dengan Tayuya mantan murid sekolah ini juga―yang entah terkena kasus apa dikeluarkan. Lalu dikemudian hari Ia datang pada Sakura dengan kabar mengejutkan, bahwa Ia dan juga sobatnya itu sudah memiliki ikatan. Apa secepat itu proses berpindah hati?

Ino ragu akan hal itu, tapi Ia lebih ragu untuk menghancurkan rona mereh di pipi sobatnya saat bercerita kemarin. Sakura begitu bahagia bisa berpacaran dengan Sasuke. Ia benar-benar berharap ini bukanlah sebuah mimpi. Nah, apa kau tega jika memporak porandakan pondasi hati sahabatmu sendiri yang tengah baru saja membenahi kebahagiaannya?

Ino akan menjaga Sakura bersama teman-temannya yang lain. Ia akan bercerita, setidaknya sampai saat semuanya begitu mulai terasa berat bagi Sakura sendiri.

"Kau bisa bercerita padaku, jika kau mau." Lanjutnya, kali ini dengan senyuman tipis. Jemari lengannya yang masih menggenggam lengan kanan Sakura yang tengah memegang sebuah pulpen mengelus permukaannya pelan. Hal itu membawa kepala Sakura untuk menoleh padanya, gadis berambut merah jambu itu tersenyum lembut sembari mengangguk dalam diam. Setidaknya, Ia tak ingin menyimpan ini sendiri. Ia ingin berbagi.

XXxxXXxxXX

Rasa kesal masih saja menyelubungi Sasuke. Tak tahu kenapa, Ia tak suka saat tahu Sakura tak kunjung juga membujuk atau sekedar minta maaf padanya. Gadis itu hanya mencuri-curi pandang ke arahnya sembari menatapi mata Sasuke dengan nanar. Ayolah, Ia tak melakukan hal apapun hingga membuat gadis itu sebegitu terluka seperti ekspressinya barusan. Ekspressi itu begitu menganggunya.

Uchiha Sasuke itu membiarkan tangannya dengan tak jelas mengawang-awang di atas buku tulis, sampai saat Ia sadar, bahwa sekarang Ia baru saja selesai menuliskan sebuah nama dalam kertas bergaris dan bertinta biru itu.

Nama mantan kekasihnya.

Apa kabar sosok itu?

Sasuke kehilangan kontak dengan gadis yang hampir setahun itu menemaninya. Ia benar-benar kacau setelah Tayuya mengakui bahwa selama ini Ia sudah mengandung anak dari pemuda lain selain dirinya. Seorang yang juga bisa disebut sahabat lama Sasuke sendiri. Pemuda itu tak menyangka, kapan mereka berhubungan di belakang Sasuke sendiri? Kenapa semuanya tampak baik-baik saja? Sasuke tak menyangka, ternyata gadisnya itu memiliki bakat peran yang hampir menyamai dengan bintang-bintang film di luaran sana.

Gadis itu mengajaknya bertemu di tempat biasa mereka berkencan, di sebuah café. Sasuke tahu ada yang lain lewat mata Tayuya saat itu, ada sebuah hal yang Ia takutkan di dalamnya. Dan dari situ Sasuke tahu, Ia dan Tayuya memang akan berpisah setelah apa yang gadis itu semua beberkan padanya. Sebuah pengakuan menyakitkan yang mengubur dalam harapan indah Sasuke untuk meminang Tayuya kelak, impian-impian indah yang Ia rajut, harus Ia bongkar sendiri dengan susah payah. Sasuke mencoba untuk membenci, namun tak bisa. Karena pada kenyataannya―

―rasa itu masih ada. Walau dalam kadar yang kurang.

Diamatinya nama kecil gadisnya itu, pelan tapi pasti, jemarinya mengelus halus permukaan tulisan tersebut dengan senyuman miris yang tampak tipis hadir di wajah tampannya. Betapa Ia mencintai gadis itu, dan betapa Ia ingin Tayuya tahu, bahwa sampai sekarang'pun Ia belum bisa menerima kekecewaan yang mengembang memenuhi hatinya itu. Ia kecewa, sangat kecewa.

"Sasuke," pemuda itu melirik Neji sekilas lewat ujung matanya dengan dahi berlipat tanda kesal karena acara melamunnya dikacaukan oleh Neji yang tengah duduk santai bersandar pada bangkunya tanpa berhenti menyelesaikan catatannya. Mata perak pemuda itu terus terpancang mengamati jejaran rumus kimia yang disuguhkan oleh guru mereka di papan tulis. Tangan kanannya masih sedia bergerak menyalin apa yang Ia rekam lewat mata dan otaknya ke dalam kertas catatannya.

"Masih memikirkan Tayuya, heh?" sambungnya kemudian, sedikit menyunggingkan senyum mengejek ke arah sobat ravennya. Sahabat Sasuke itu tahu, bahwa sampai sekarang―sampai Sasuke memiliki Sakura sekali'pun―pemuda itu masih belum bisa melupakan Tayuya mantan kekasihnya. Neji tahu, Sasuke memang tak pintar dalam jatuh cinta. Dan jika Ia sudah jatuh cinta, ya beginilah. Dia kacau, dan menjadikan gadis lain sebagai pelampiasannya. "Jangan lupa―"

Sasuke dalam diam mendengarkan.

"―Gaara akan merebutnya jika kau tak juga serius padanya." Seringai pemuda itu sedikit berkembang saat Sasuke mendelik ke arahnya dengan wajah kesal bukan main.

Sasuke, Sasuke. Bagaimana sebenarnya perasaannya yang sekarang, tak seorang'pun yang tahu. Termasuk dirinya.

XXxxXXxxXX

"Ini." Sakura menyodorkan sebuah minuman kaleng ke hadapan Sasuke, mata Sasuke dan manik hijau miliknya bertemu dalam satu garis lurus setelah pemuda itu mendongak menghentikan acara mencatatnya. "Kau belum minum kan, ambilah." Dan sebuah senyum yang manis tergambar diraut Sakura sekarang.

Sasuke tahu, secara tak langsung, Sakura mencoba untuk mengajaknya berbaikan dan―menunjukkan perhatiannya sebagai seorang kekasih. Pemuda itu merasakan sesuatu menghangat menghinggapi dadanya sekarang. Setidaknya, setelah terluka Ia tak kehilangan perhatian dari seseorang yang―mungkin―akan berarti baginya nanti.

Menerima minuman itu, Sasuke sedikit tersenyum tipis ke arah Sakura. "Trims," gumamnya dengan nada rendah. Meletakkan minuman itu di atas mejanya yang kosong pada bagian yang tak terhalangi oleh buku.

Sakura mengangguk. "Your wel."

"Masih mencatat?" Sambung gadis itu mencoba mengajak Sasuke berkomunikasi dalam hari pertama mereka benar-benar dalam status berbeda, sebagai seorang kekasih tentunya. "Ku lihat mereka Naruto asik bermain basket tadi, kau tak ikut?" gugup itu pasti, tapi demi hubungan mereka, Sakura rela menelan bulat-bulat rasa segan tersebut. Apalagi saat ini Ia merasa ada beberapa anak yang tengah memperhatikan mereka sembari berisik-bisik kecil.

"Sedang malas. Kau sendiri? Tidak berkumpul dengan sobat-sobatmu, heh?"

"Sudah tadi, tapi aku ingat kau tak ke kantin. Maka, aku cepat-cepat kembali, dan―" Ia menghandik ke arah minuman dingin itu. "―membawa itu untukmu."

Sasuke hanya diam, lalu membalas. "Duduklah, kau seperti guru saja."

Dan istirahat itu sedikit mengubah sebagian dari hati Sasuke pada Tayuya. Namun menghadirkan luka baru bagi Sakura. Karena tampaknya, pemuda itu sama sekali tak ada niat untuk sekedar mengobrol dengannya. Terlihat dari cara pemuda itu yang menyahutinya dengan acuh tak acuh, dan belum lagi, pembicaraan itu berlangsung hanya didominasi oleh Sakura sendiri, sedang Sasuke sesekali menyahutinya dengan datar.

Tapi tahukah Sakura, bahwa di sampingnya sekarang ini. Ada pemuda yang baru saja jatuh dalam pesonanya yang bercerita dengan nada polos dan seadanya. Menyukai setiap baris dan nada suara gadis itu yang mengalun lembut. Walau tampak tak acuh, Sasuke merekam semua apa yang gadis itu ceritakan dan apa yang gadis itu tanyakan padanya.

Karena Sasuke, diam-diam sedikit mulai membuka hatinya dengan pasti untuk Sakura. Kekasihnya.

XXxxXXxxXX

INO mendengus keras, sedang Tenten dan Hinata hanya mengusap-usap punggung Temari yang mengepalkan tangannya dengan tampang sangar dan tak bersahabatnya. Sakura, gadis itu mengulum bibir bawahnya menahan tawa.

"Lain kali, aku ingin sekali merasakan si Nara itu merasakan kepalan tinjuku ini." Ia menggerutu lagi.

Sakura mulai mengeluarkan kikikan kecil, dan menahannya lewat bungkaman pada mulutnya oleh sang tangan kanan.

"Ayolah, kau itu harusnya tahu. Si Shika itu'kan memang rajanya malas. Dan aku yakin―" jemari telunjuk kanan Ino mengetuk dagunya tepat pada belahan dagu lancipnya tersebut. "―dia pasti tengah tertidur di saat rapat OSIS sekarang." Sambung Ino kemudian dengan mata mengawang. Well, otaknya malah asik membayangkan Shikamaru yang tertidur dengan raut 'unyu-unyu'nya sedang anggota rapat yang lain asik berdiskusi penting tentang hal, yang percuma. Tentu saja, bagaimana tidak percuma, jika mengingat orang intinya saja tertidur. Ckckckck.

Dengan itu, Tenten mengangguk dengan antusiasme tinggi. "Biar'pun dia itu ketua OSIS, tapi entah kenapa―sialnya kau Temari―pacarmu itu kadar malasnya saja lebih tinggi ketimbang Chouji, yang ya―" Ia melirik Sakura yang kini merunduk memegang perutnya. "―kau tahu'lah. Obesitas." Kata terakhir itu dilafaskannya dengan nada pelan dan mendesis. Sakura semakin terkikik geli.

Hinata hanya tersenyum malu-malu. Sembari memperhatikan raut wajah Temari yang sama sekali tak tersinggung atas pendapat-pendapat sobatnya tadi.

"Aku bahkan sudah berbicara panjang lebar, dan Ia hanya diam dalam posisinya yang oh Tuhan ternyata." Tak usah dilanjutkan, kalian tahu bukan apa kata-kata selanjutnya tersebut. Temari tak habis pikir, Ibu Shikamaru itu mengidam apa?

Loh?

"Ia kelelahan kakak," Sakura dengan tawa mereda menyahut, "kau tahukan kak, perkerjaan OSIS itu pasti banyak menyita waktu tidur malamnya, dan belum lagi tumpukan-tumpukan tugas yang membelit kita." Sambungnya kemudian, disertai dengan senyuman tipis.

"Benar kak, kita yang tak punya pangkat saja kewalahan. Apalagi Shikamaru, Ia mempunyai jabatan yang bisa dibilang penting di sekolah." Hinata ikut ambil sekarang, mecoba membenarkan apa maksud dari Sakura.

"Ya, aku tahu." Gadis dengan wajah jutek itu sedikit melembut, "mungkin sebaiknya waktu itu aku tak mengajaknya kencan. Dan ya, jadi perkelahian bodoh ini tak perlu ada." Rautnya berubah sendu.

"Shikamaru itu pengertian." Sambung Ino.

Tenten mengangguk, "Ia mungkin merasa bersalah, makanya Ia menjauhimu dulu." Biasanya sih Neji begitu, mengkin saja sama pikir Tenten.

Hinata tersenyum lembut. Dan Sakura mulai mengepang ramput indigo panjang Hinata itu dengan wajah polosnya. Gadis cotton candy itu menyambung asumsi Tenten dengan asumsinya. "Kakak kan kalau marah macam singa betina kak, ku pikir Kak Shika pastilah takut, makanya dia menjaga jarak dulu." Dan biasanya, Sakura tak pernah ambil pikir dulu dalam mengeluarkan pendapatnya.

Kepala Temari mengangguk. "Kau benar Sakura." Tapi, "APA!" detik berikutnya, Sakura sudah ada pada pitingan Temari dengan jitakan-jitakan kecil pada kepala merah mudanya itu.

"KYAAAA! Sakit kakak!"

Sedang yang lain hanya cekikikan tak jelas memperhatikan Sakura yang terlihat tersiksa, termasuk nona Hinata kita.

Dari kejauhan, Neji dan Sasuke tampak mengamati mereka dengan seksama. Kedua pemuda itu tersenyum tipis sembari memandang dua sosok yang diam-diam mereka sayangi tersebut tengah tertawa bebas sekarang.

Lain Sasuke dan Neji, lain juga untuk Uzumaki dan Sai yang malah asik berebut handphone putih gading dengan model slide milik Sai. Tampaknya benda tersebut baru saja direbut oleh Sai, dan hal itu tentu saja mengundang Naruto yang tadinya tengah bermain games harus berteriak-teriak tak jelas karena saat senggangnya terganggu. Naruto jadi agak menyesal juga, andaikan kemarin Ia tak membawa handphone flipnya itu ke kamar mandi dan well akhirnya benda komunikasi tersebut malah terjun bebas ke dalam bath tubnya, pastilah sekarang Ia tak harus minjam-minjam semacam ini pada makhluk sepelit Sai.

"Mulai tertarik?" Shikamaru yang baru saja datang, berdiri di depan meja Sasuke sembari memijat pundaknya dengan tampang mengantuk. Matanya mengamati kumpulan para gadis yang memang tak cukup tenar itu sembari sesekali melirik reaksi Sasuke setelahnya.

Sasuke masih asik memperhatikan Sakura yang kali ini malah manyun sembari mencubit gemas sepasang pipi Hinata yang tampak imut-imut karena kedua pipinya melar ke kanan dan ke kiri akibat ulah si merah jambu itu. Hinata hanya memegangi lengan Sakura sembari menhan tawanya dengan wajah yang mulai memerah. Yang Tenten dan Ino asik menyoraki Sakura dengan kikikan, Temari? Ia hanya mengangkat kaki dengan lengan bersidekap, lalu menggeleng-geleng sok prihatin ke arah teman-temannya yang memang masih kekanak-kanakan itu.

Pemuda Uchiha itu menyahut dengan senyuman tipis yang kali ini mulai tampak di wajah tampannya, "mungkin?"

"Tenten itu memang kekanakan, tapi―" Neji membuka pendapat tentang kekasihnya itu sembari menyeringai tipis, "―bagaimana'pun, aku tetap manganggapnya sangat berarti."

"Sama saja, lihat si Temari itu. Kalian tahu bukan bagaimana kelakuannya?" Shikamaru, sedikit meringis kali ini. Mengingat betapa galaknya tunangannya itu. "Tapi buruk baiknya dia, tetap tunanganku. Aku menyayanginya."

Dan Sasuke hanya bisa tertegun, bagaimana dengan pendapat hubungannya bersama Sakura? Ia bingung, karena Sasuke memang harus mengakui, Ia terlalu dingin pada Sakura, terlalu mengekang dan memaksakan kehendaknya pada gadis itu, padahal Ia sendiri tak pernah mau tahu bagaimana perasaan Sakura padanya.

Sakura mencintainya itu sudah pasti, perhatian? Selalu. Bahkan gadis itu―yang Sasuke tahu―tak pernah sakit hati atas apapun yang Sasuke katakan padanya, sedingin apapun itu.

Sedang Sasuke? Apa dia mencintai Sakura?

Mungkin belum, baru memulainya dan akan selalu mencintainya mulai dari sekarang. Dan Sasuke akan mencoba untuk memberikan perhatian lebih pada gadis itu. Sasuke tahu Sakura memang jago menyembunyikan semuanya. Semua rasa kecewa dan juga sakit hatinya. Karena Sasuke mengerti, tak ada orang yang mau berlama-lama jatuh dalam kubangan gelap masa lalu.

Ia masih mempunyai Sakura sebagai obat sakit hatinya akibat Tayuya. Ia tak ingin ditinggalkan lagi, setidaknya biarlah Tayuya pergi, Ia rela. Asalkan jangan lagi pada Sakura. Karena sekarang, pemuda itu mulai mencintainya, dengan caranya sendiri.

"Hn, aku akan menjaganya―" Shikamaru dan juga Neji tak memandang Sasuke namun tetap memasang pendengaran mereka dengan baik, "―karena dia milikku." Pemuda itu berkata yakin, tak melepas pandang sampai Sakura berlari, akan keluar kelas sembari dikejar-kejar Tenten yang akan menarik rambut soft pinknya tersebut.

Kelas memperhatikan Sakura dan Tenten. Dan―

BRUKKKKKH

"Aww!"

Ya, sampai Sakura yang menabrak Gaara yang baru saja datang. Gadis itu jatuh terduduk dengan Tenten yang kaget spontan menutup mulutnya yang merenggang. Gadis itu tak ada niat menolong Sakura karena saking kagetnya, Ia malah asik memandangi Gaara dan Sakura, seolah menunggu adegan selanjutnya. Sedang Gaara hanya sedikit terhuyung ke belakang akibat terjangan Sakura yang mendadak tadi. Setelah tahu siapa yang menabraknya barusan, pemuda berambut merah itu sedikit membungkuk, mengulurkan tangannya ke arah Sakura yang meringis sembari menunduk. Senyum tipis Ia berikan pada gadisnya itu.

"Lain kali jangan lari-larian lagi, Sakura." Ejeknya, sembari menolong Sakura untuk berdiri dengan spontan memeluk pinggangnya ketika Sakura sempoyongan akibat rasa nyeri pada sepasang lututnya dari samping tangan si gadis Ia taruh pada pundaknya. Tampaknya, lutut Sakura berdarah karena tabrakan tak disengaja tersebut. "Kau bahkan terluka kan, dasar childish."

Sakura tak menyahut apapun, Ia merasakan sakt yang memilukan pada lututnya dan juga rasa takut serta kecewa dalam dadanya. Takut Sasuke marah dan kecewa karena bukan Sasuke yang berinisiatif untuk menolongnya. Tapi tunggu! Memang Sasuke akan marah kenapa? Cemburu?

Kau terlalu berharap jika berpikiran begitu Sakura, begitu pikir si gadis.

Tenten menepi pada papan tulis setelah berjalan mundur memberi jalan pada Gaara yang memapah Sakura ke bangkunya. Kelas menjadi sunyi, sampai saat Sasuke beranjak dari bangkunya menghampiri Sakura. Si Gaara itu, memang suka mengambil kesempatan pada gadisnya, Sasuke harus ekstra hati-hati sekarang.

"Sasuke?"

Semua mata memperhatikan Sasuke, Sakura dan juga Gaara. Entah kenapa, tiga orang itu kini menjadi pusat perhatian yang enak untuk disimak. Termasuk Sai dan Naruto yang tadinya berkelahi sekarang beringsut duduk tenang sembari memandangi tiga sosok dengan raut-raut berbeda tersebut.

Pemuda itu tak berkata apapun, Ia menyeka keringat di pelipis Sakura dengan tangan kanannya, memposisikan dirinya di hadapan kekasihnya itu. Gaara, tanpa sadar mengatupkan rahangnya keras.

"Jangan seperti anak kecil Sakura." Suara baritone khas miliknya terdengar merdu dan nyata, karena kelas yang bungkam. "Sini."

Sakura tak bisa berkata apapun, ketika tanpa ragu pemuda itu menarik kakinya dengan lembut ke sebuah bangku yang Sasuke ambil dari belakang bangku Sakura. Pemuda itu membuka seragam sekolahnya, menyisakan sebuah kaos putih tipis polos yang menjadi baju dalamnya. Ia mengambil posisi setengah berjongkok di samping kaki kanan Sakura yang terluka cukup lebar, lalu menyeka luka tersebut dengan baju seragamnya tanpa ragu sedikit'pun. Menekannya dengan perlahan.

Mata emerald Sakura manatapi wajah Sasuke yang masih saja datar dan tampak focus pada kegiatannya. Sesekali gadis itu mengernyit, ketika rasa sakit itu mulai terasa lagi pada sekujur kakinya.

"Kau sebaiknya duduk, Gaara."

Dan setelah itu, Gaara tanpa ragu mengusap pelan pucuk kepala Sakura. Ia berlalu ke arah bangkunya sesuai perintah Sasuke. Bukannya Ia takut atau apa, Ia hanya tak ingin merusak moment indah bagi Sakura.

Sasuke mendelik, tampak menghentikan aksi membersihkan luka Sakura. Kesal, dan juga rasa cemburu entah kenapa mengusiknya. Ia tak suka Sakura disentuh oleh orang lain, apalagi oleh Sabaku no Gaara itu yang notebene, menyukai Sakura. Kekasihnya.

Sakura?

Bingung. dan juga terenyuh. Ini kali pertamanya diperlakukan lembut oleh Sasuke.

Sasuke beralih, bertemu tatap dengan emerald Sakura yang masih sedia menatapnya. Pemuda itu memandangi wajah Sakura dengan intents. Sekilas bayangan Tayuya mengganggu pandangannya, maka Ia menggeleng pelan. Ia harus bisa memandang Sakura sebagai Sakura, bukan Tayuya.

"Sasuke, terimakasih ya."

Senyum itu, membuat Sasuke mengangguk dengan sedikit tersenyum tipis. "Hn." Selanjutnya Ia mulai menekan-nekan kecil luka Sakura dengan seragam sekolahnya tadi. Sebisa mungkin membuat gadis itu tak merasakan sakitnya lagi.

"Cieeeeeee~" Naruto memang satu-satunya orang yang akan memulai sebuah keributan berikutnya dengan siul-siulan menggodanya pada pasangan Sasuke dan Sakura. Disusul, tanpa ragu oleh teman-teman sekelasnya yang lain. Beberapa orang hanya tersenyum tipis, melihat Sasuke yang tampaknya akan memulai mimpi barunya dengan gadis satu orang menelan kekecewaan karena seharusnya posisinya'lah yang ada di sana, bukan Sasuke.

Gadis dengan rambut merah jambu itu hanya bisa merunduk meremas kecil rok lipitnya. Ia malu jika disoraki seperti ini. Sedang Sasuke, hanya tersenyum tipis sembari sesekali memperhatikan Sakura yang menahan malu dengan menyembunyikan wajahnya sembari merunduk. Gadis itu memang polos, dan Sasuke suka itu.

CONTINUED

XXxxXXxxXX

to Kikyo Fujikazu : Hehehehe, bosan Karin mulu. Jadi Yusha ambil Tayuya aja deh, soal Karin muncul apa enggaknya, ikutin ceritanya aja ya. Dia pasti muncul kok, sebagai pembuka rahasia. Bagaimana? Sasuke cukup nggak cemburunya, soalnya kasian juga kalau bikin dia kudu nguras ati mulu. Hehehehe. Thanks ripiunya ya Kikyo, ripiu lagi ya ^^

to Erika : Makasih ya, ini lanjut kok. Ripiu lagi ^^

to Hikari Shinju : Pelan-pelan, kan nggak mungkin secara langsung buat sukanya. Jadi sabar ya. Kita sama Hika, Yusha juga lagi nggak mood sama Karin. Soal updet'an yang lain, sabar menunggu ya, makasih ripiunya. Ripiu lagi?

to hikari : Salam kenal juga ^^, makasih sudah suka. Well, ini udah updet kok nggak bakal dihapus. So, makasih ya ripiunya, ripiu lagi ya ^^

to black cat : Makasih masukannya, tapi mengingat ini fanfic singkat karena Cuma req, makanya dipersingkat aja, nggak ada niat buat ngundur-ngundur dulu. Soalnya ntar malah melenceng dari ceritanya, maklum, Author suka nyimpang kalau udah kepanjangan. ==~ Tapi beneran makasih loh buat masukannya ^^ kita pelan-pelan aja ya ngebeberin semuanya. Ripiu lagi?

to RizkaRina : Makasih ya ^^, maaf telat updetnya. Ripiu lagi?

to diosas : Khukhukhu, saya juga bingung kapan. Tapi kita tunggu alur ya, ntar kita putar balik deh keadaannya. Si SasuYam jadi jauh lebih menderita, khekhekhekhe―Kicked Sasuke―makasih ripiunya ya, Dio. Ripiu lagi?

to Higurashi Cerryblossom : Makasih sayang―peyuk-peyuk―kamu ini, bikin daku malu saja ^/^, soal habisnya chap berapa, pokoknya fanfic ini nggak akan lebih dari lima chappie. Mengingat req. Yosh! Ripiu lagi ya!

to Lawra-chan : Hahahaha, agresif? Ckckck kamu ini. Lawra, thanks ripiunya ya maaf updet becak-?-, sedia ripiu chappie ini?

to NimazAulyaDewi : Makasih ^^ ini udah updet. Ripiu lagi?

to garoo : Makasih ^^ nggak bakal dihapus kok, dan ini lanjutannya. Jangan lupa ripiu ya ^^

to d3rin : Maaf updet becak malah, jangan kecewa ya ^^ berkenan ripiu lagi?

to Meity-chan : Meity, ya ampun …. Kamu ke mana aja? Akhirnya kamu ketemu lagi di inbox ripiu daku―peyuk-peyuk―makasih loh udah bilang bagus ^^ dan ini updetannya! Ripiu lagi ya Mei ^^

to agnes BigBang : Hello VIP ^^ khokhokho, kamu salah Nes, mantannya yang ada di atas, bukan Karin. Habisnya bosen, nemu ama Karin mulu yang jadi perusaknya. Kasian ntuh chara. ^^ Daesung udah baikan ya, malahan kemaren akang GD lagi yang kena masalah makanya batal comeback GD ama TOP. Payah. Tapi tak apalah, yang penting sekarang mereka nggak kenapa-napa lagi. Dan well, kenapa kita malah ngerumpi―BOGEMED―Thanks ripiunya ya Nes, jangan lupa ripiu lagi!

to AinOsaSUsaku : Waalaikum sallam wr wb ^^ salam kenal juga ya dear, makasih pujiannya ^^, tenang, ini siasat kok. Ikutin alur aja ya ntar, khukhukhu. Soal fic Egoisme'nya, sabar ya, belum ada niat buat fic yang satu itu―PLAKK―dan, sediakah dikau meripiu chappie ini?

to nama saya diblokir : Nama kamu lucu ^^ ini udah updet, makasih ya. Ripiu lagi?

to Felix Simon just for winter : Makasih ya Liu-san ^^ makasih dukungannya, dan ini bakal lanjut kok ^^ ripiu lagi?

to Hanao Yukita : Ini udah updet, makasih ya. Ripiu lagi? ^^

to Kanagawa Risa : Makasih ya, ikutin alurnya aja. Ripiu lagi ya ^^

to Titish : Bagaimana? Cukupkah chap ini? Hehehehe, kasian kalau terlalu dibuat cembokur ntuh si Sasu. Makasih ya ^^, ini chap duanya. Maaf lambat updetnya, ripiu lagi?

to f-to-a : Makasih ya ^^ ripiu lagi?

Another thanks for : Tsukiyomi Ayumu Kumiko, ermaMotherdglittle, Yuuzuka Yumeina, Seleina Kagene, Uchiha Reyvhia, Honami Michiyo, Rizuka Hanayuuki, RestuChii SoraYama, Akari Nami Amane, Valkyria Sapphire, ame chocho Shawol, haruno gemini-chan, HanRieRye, norii-chan13, Risuki Taka, Mizuki Ai-chan 18, Sky pea-chan, Raquel authoramatir, sukoshi yuki, Silent Readers.

A.N :

Hello, maaf updetan Saia kali ini benar-benar ngaret banget. Tugas sekolah, banyak urusan dan lain-lain membuat Saia kekurangan waktu untuk bertemu tatap dengan netbook Saia―sesenggukan―makasih buat semua yang sudah mambaca fanfic request'an Saia ini. Dan semoga bukan hanya tiga orang yang req itu saja yang puas, tapi semua para Readers yang baca juga ^^

Maaf juga kalau alurnya rada maksa dan terkesan mepet banget.

Dan mohon maaf jika masih ada typo yang nyelip di sela-sela cerita. ==~

Dan concrit diterima dalam bentuk masukan, dorongan serta makanan ringan-?-

Yosh! Ripiu ya Minnasan

See you in next chapter ^^