Apa yang biasanya dilakukan seorang anak kelas tiga SMP setiap sepulang sekolah? Bermain sebentar bersama teman-teman dengan pergi ke game center, belajar bersama di rumah teman, mengikuti kegiatan klub di sekolah, atau langsung pulang dan beristirahat di rumah. Anak-anak normal pada umumnya akan melakukan salah satu kegiatan yang kusebutkan tadi.

Tapi… yang kulakukan berbeda.

Karena aku… bukanlah salah satu dari mereka yang normal.

"Sampai jumpa di sekolah besok, Soobin."

Soobin melambaikan tangannya sambil tersenyum manis pada dua teman sekelasnya yang barusan pulang bersamanya. Mereka berpisah di sebuah perempatan jalan. Kedua temannya berbelok ke arah kanan, sedangkan Soobin melanjutkan perjalanannya lurus ke depan.

Soobin menatap jam tangan yang melingkar di tangan berkulit putih mulusnya. Sudah pukul 9 malam. Sebentar lagi, Yeonjun hyung kesayangannya pasti akan menelponnya.

Drrtt… Drrrttt…

Soobin merasakan ponsel di saku celananya bergetar. Benar saja dugaannya. Panggilan masuk dari Yeonjun.

"Halo."

"Soobin, kau dimana?! Kenapa jam segini belum pulang juga?"

Soobin sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya. Ia tidak mau pendengarannya rusak akibat teriakan menggelegar dari seberang sana.

"Aku masih di jalan. Sebentar lagi sampai."

Bohong. Soobin masih harus berjalan selama sepuluh menit agar ia sampai ke apartemen tempatnya tinggal.

"Kau keluyuran kemana saja sampai baru pulang jam segini?"

Soobin mengernyit sebal. Ia tak suka pada sikap Yeonjun yang bawel ini. "Aku tidak keluyuran. Ada tugas kelompok yang harus dikumpulkan besok pagi dan mau tidak mau diselesaikan malam ini juga. Bahkan aku berniat menginap di rumah temanku tadi."

"Tidak, tidak. Aku melarangmu menginap. Cepat pulang sekarang. Kita ada pekerjaan."

"Pekerjaan lagi? Oh ya ampun, ayolah. Aku baru berniat istirahat ketika sampai nanti."

"Jangan banyak mengeluh. Hitung-hitung pekerjaan ini sebagai latihan sebelum kau benar-benar terjun dengan keadaan sel RC-mu yang telah aktif seluruhnya. Kau tidak mau kan mati di tengah-tengah pertarungan hanya karena kau belum bisa menguasai seluruh kagune—"

"Iya, iya. Aku paham. Berhentilah mengoceh dan menasihatiku seolah-olah kau selalu benar. Aku akan segera pulang. Jangan hubungi aku lagi!"

Soobin memutus panggilannya sepihak. Ia sudah terlanjur kesal pada Yeonjun. Apalagi jika pemuda yang lebih tua setahun darinya itu mulai mengoceh masalah sel RC, kagune, dan semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan dan tubuh baru-nya. Yeonjun seakan tau segalanya.

Soobin melangkahkan kakinya lebar-lebar agar ia segera sampai di apartemen. Bagaimanapun juga, ia tidak suka membuat orang lain menunggu. Terlebih lagi yang menunggunya bukan hanya Yeonjun, tapi juga hoobae-nya, Beomgyu.

Soobin tidak memperhatikan jalan. Ia tidak sengaja menabrak seorang laki-laki dengan tubuh yang lebih besar dan kekar, namun tidak lebih tinggi darinya.

"Ah, maaf. Saya tidak sengaja."

Pria kekar itu menghampirinya dengan wajah tak suka. Ternyata pria itu tidak sendirian. Ia bersama dengan beberapa pria lain yang juga berwajah sangar.

"Kau pikir maaf bisa menyelesaikan masalah?"

"Bos, dia kelihatannya enak."

"Kau benar. Seret dia ke tempat kita."

Para pria kekar itu menyeret Soobin dengan paksa menuju sebuah gang sempit dan gelap. Mereka memojokkan Soobin disana. Soobin sendiri hanya diam karena ia tidak tau apa-apa.

"Kau terlihat manis sekali dan masih sangat muda. Mungkin bermain-main sebentar denganku tidaklah buruk sebelum kau menjadi santapanku," pria itu berusaha menggoda Soobin sambil memainkan lidahnya.

Soobin mengangkat sebelah alisnya. "Apa maksudmu?"

Jujur, Soobin tidak paham. Dia masih polos. Usianya saja baru 15 tahun. Terlebih lagi, Soobin lebih sering dikurung di rumah daripada menghabiskan waktunya di dunia luar. Wajar jika ia tidak terlalu paham permbicaraan berkonotasi dewasa.

"Kita akan bermain. Melakukan sesuatu, apapun itu yang penting menyenangkan."

Kali ini, salah satu sudut bibir Soobin tertarik, tersenyum miring.

"Kau yakin ingin bermain denganku?" Nada suaranya berubah. Kali ini sedikit menggoda.

"Oh, tentu saja."

Soobin meregangkan tubuhnya. "Tapi, aku ini sedikit kejam lho…"

Para pria itu tersenyum penuh napsu. "Kau memang mangsa yang menarik."

"Baiklah…"

Soobin memejamkan matanya. Aura aneh mulai menguar di sekitar tubuhnya.

"Aku akan melayani kalian."

Saat ia kembali membuka matanya, mata kanannya berubah menjadi kakugan. Para pria itu terkejut melihat perubahan Soobin. Mereka tidak menyangka bahwa Soobin adalah seorang ghoul. Terlebih, ia hanya memiliki satu kakugan.

"K-kau… seorang ghoul?"

"Terlebih mata satumu itu… ghoul legendaris…"

Soobin mengernyit. "Apa maksudmu? Jangan samakan aku dengan makhluk seperti kalian. Aku ini manusia, tau!"

"Tapi, kenapa kau memiliki kakugan?"

"Entahlah. Anggap saja, aku ini sedikit berbeda dari para manusia…"

Soobin menyunggingkan senyum sombong. Matanya kembali fokus pada pria-pria di hadapannya.

"Sudahlah, ayo kita mulai permainan kita. Lagipula, sudah lama aku tidak bermain dengan para ghoul. Kalian bisa menjadi bahan pemanasanku sebelum aku memulai pekerjaan malam ini."

Soobin mengeluarkan sebuah tongkat yang berubah menjadi sebuah pedang. Sebuah quinqie yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.

"Dia bukan ghoul…dia…"

"CCG."

Soobin tertawa keras. Tawa yang tidak wajar. Kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap kali akan menyerang para ghoul.

"Semuanya~ Selamat makan~"

Setelah berteriak, Soobin mulai menyerang para pria itu dengan gerakan tidak wajar. Beberapa diantaranya berhasil menghindar. Namun, Soobin tetap berhasil melukai mereka. Mereka mulai mengeluarkan kagune masing-masing dan menyerang Soobin. Tentu saja, Soobin dapat menghindar dengan mudah.

Sebenarnya, Soobin sudah mengetahui sejak awal bahwa para pria itu adalah ghoul. Soobin dapat merasakan aura mereka yang berbeda. Awalnya Soobin takut, namun berkat latihan yang ia terima sejak kecil membuatnya dapat bersikap tenang dalam kondisi genting sekalipun. Karena itu, Soobin dapat menipu mereka dengan mudah.

Soobin berhenti menghindar setelah merasa cukup lelah. Ia melempar quinqie-nya sembarang arah.

"Sudah kuduga. Tanpa menggunakan kagune, aku pasti kewalahan."

Soobin mundur sejenak sambil mempersiapkan diri. Benang-benang merah mulai muncul di sekitar tulang ekornya, membentuk sebuah ekor yang kemudian terbelah menjadi enam bagian. Ujung ekor itu seperti sebuah pistol yang akan siap kapan saja mengeluarkan tembakan laser.

"Sejak dulu aku selalu ingin mencoba kagune-ku ini. Yeonjun hyung selalu melarangku. Sekarang Yeonjun hyung tidak ada disini dan aku bisa menggunakan kagune-ku dengan bebas."

Ekor milik Soobin mulai mengeluarkan peluru-peluru laser. Para ghoul itu berusaha menghindar. Lagi-lagi, Soobin tersenyum miring.

"Percuma kalian kabur. Laserku tidak akan berhenti mengejar sebelum mengenai sasarannya."

Benar saja. Semua laser yang dikeluarkan Soobin terus mengejar para ghoul tanpa henti. Bahkan mereka yang bersembunyipun tetap –tertembak. Satu-persatu dari mereka jatuh tergeletak di jalan.

Soobin menatap datar semua ghoul yang terkapar itu. Mereka hanya pingsan. Soobin sengaja tidak membunuh mereka. Dengan santainya, Soobin melewati tubuh mereka, lalu berlari cepat menuju apartemen.

Terkadang, aku berpikir. Kapan aku bisa menjalani hidupku dengan normal seperti anak lainnya?

Soobin membuka pintu apartemen. Yeonjun dan Beomgyu sudah menunggu di depan pintu.

"Kau darimana saja, hyung?" Beomgyu bertanya dengan wajah penasaran.

Yeonjun menelisik penampilannya. "Kau bertarung dengan ghoul?"

Soobin mengangkat bahu acuh. "Entahlah."

"Apa kau menggunakan kagune-mu?"

"Kurasa."

Yeonjun menghela napas lelah. "Seharusnya aku mengomelimu sekarang. Tapi kita tidak punya banyak waktu. Ketua sudah menunggu. Cepat ganti pakaianmu."

Soobin bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Ia memakai kemeja putih, celana hitam, plus jaket putih yang sudah menjadi seragam kerjanya. Ia mengambil koper tempatnya menyimpan quinqie. Sebelum pergi, ia menatap sejenak pantulan dirinya di depan cermin.

Aku, Choi Soobin. 15 tahun. Aku adalah… seorang pembunuh ghoul.


Unravel

Noora Felisha present

Member BTS dan TXT hanyalah milik Tuhan, orang tua, dan Big Hit

Genre: Supernatural, Mystery, Crime, Family, Friendship, Romance

Pair: TaeKook, NamJin, MinYoon, HopeGyu, YeonBin, TaeKai

Based on Anime/Manga Tokyo Ghoul © Sui Ishida


Episode 1

Taehyun mengendap-endap di depan rumahnya sendiri. Hari sudah larut, dan lagi-lagi ia pulang melewati batas jam malam yang dibuat kakaknya. Kakaknya pasti akan marah seperti hari-hari sebelumnya. Ia harus menyiapkan telinganya yang pasti akan berdengung mendengar celotehan kakaknya semalaman.

Taehyun membuka pintu pelan-pelan agar tidak menimbulkan bunyi. Ia berjinjit dengan langkah yang sangat hati-hati agar sang kakak tidak mendengar suara langkah kakinya. Melewati ruang tamu yang juga sekaligus ruang makan, Taehyun bersyukur sang kakak—Taehyung—sudah tertidur pulas di atas sofa. Ia bersorak dalam hati. Hari ini telinganya selamat dari ceramahan sang kakak.

Taehyun mempercepat langkahnya menuju tangga. Kamarnya ada di lantai dua, bersebelahan dengan kamar sang kakak. Sebenarnya, ia tidak tega melihat Taehyung tidur di sofa seperti itu. Namun, jika ia membangunkan Taehyung sekarang, Taehyung pasti akan marah karena mengetahui ia pulang terlalu malam.

Tinggal beberapa anak tangga saja Taehyun tiba di lantai dua, suara sang kakak yang memanggil namanya menghentikan langkahnya. Taehyun tidak sadar kalau sejak tadi Taehyung hanya pura-pura tidur dan diam-diam memperhatikan.

"Darimana saja kau, baru pulang jam segini?" Suara Taehyung terdengar dingin. Taehyun meneguk ludahnya gugup.

Berusaha tidak peduli, Taehyun berbalik dan bersikap seolah tak ada masalah apapun hari ini.

"Kerja kelompok di rumah teman. Kenapa?"

"Oh ya? Dimana?"

"Di rumah Hyerin."

"Tadi aku ke rumah Hyerin dan kau tidak ada disana."

Taehyun diam sejenak, berpikir mencari alasan. "Pasti aku sudah pulang saat kau datang kesana."

"Aku ke rumah Hyerin jam 3 sore tadi. Hyerin bilang, dia tidak bersamamu seharian ini. Aku juga menelpon Hueningkai. Katanya, kau langsung pulang setelah bermain di game center."

Taehyung menjelaskan panjang lebar dan penuh fakta membuat Taehyun membeku dan tidak mampu menyelanya sedikitpun.

Mata Taehyung memicing menatap Taehyun tajam. "Kim Taehyun, katakan padaku. Apa kau sedang berbohong padaku."

Taehyun mengepalkan kedua tangannya. Ia mulai geram. Kakaknya ini selalu saja berhasil membuatnya bungkam.

"Aku sedang tidak berbohong."

Taehyung melipat tangannya di depan dada, wajahnya berubah angkuh. "Kalau begitu, katakan sejujurnya. Kemana saja kau seharian ini?"

"Hanya berkeliling di sekitar taman kota. Aku bosan di rumah."

"Lalu, kenapa sampai selarut ini?"

Taehyun diam. Ia tidak bisa memberitahukan Taehyung yang sebenarnya terjadi.

"Kau tidak pergi menemui para berandalan itu lagi kan?"

"Hyung!"

"Taehyun." Suara Taehyung berubah, penuh penekanan. "Cepat turun kesini."

Taehyun tau sang kakak benar-benar marah sekarang. Ia tidak punya pilihan lain selain kembali menuruni tangga, lalu berdiri di hadapan sang kakak.

Taehyung memperhatikan Taehyun dari ujung kepala hingga ujung kaki. Berdecak kesal saat ia melihat seragam Taehyun yang kotor, plus celana yang robek di bagian betis kanannya.

Lagi-lagi, Taehyung menatap Taehyun tajam. "Kau bertengkar lagi?"

Taehyun menggeleng.

Taehyung mendesah lelah. "Katakan sejujurnya!"

"Aku memang sedang tidak berbohong karena aku memang tidak bertengkar."

"Lalu, bagaimana kau menjelaskan penampilanmu yang sangat berantakan ini?!" Taehyung mendesah lelah. Ia sudah cukup sabar menghadapi sifat egois sang adik selama ini. Namun kali ini, Taehyung tidak akan tinggal diam. Ia tidak mau adiknya tumbuh menjadi pribadi yang buruk.

"Ayolah, Kim Taehyun. Appa, Eomma, dan aku tidak pernah mendidikmu untuk menjadi seorang berandalan. Kami juga tidak pernah mendidikmu menjadi seorang pembohong."

"Hyung!" Taehyun ikut habis kesabaran. Ia tidak terima. Selama ini ia selalu disalahkan oleh sang kakak tanpa mengetahui apa yang sebenarnya tengah dialaminya. Taehyun tidak suka jika sang kakak mulai menyebutnya berandalan, karena ia memang bukan orang yang suka cari masalah.

"Kau selalu saja menyalahkanku. Padahal selama ini kau tidak tau apa yang sedang aku rasakan. Kau tidak pernah mau mendengarkanku. Kau tidak pernah meluangkan waktumu untukku…"

"Taehyun-ah…"

Taehyun mengangkat kepalanya yang sedang menunduk. Wajahnya memerah menahan amarah. "Sudah cukup. Aku membencimu, hyung. Mungkin akan lebih baik jika kau pergi saja menyusul Appa dan Eomma!"

Setelah membentak Taehyung, Taehyun berlari menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan keras. Ia mengunci dirinya disana, meninggalkan Taehyung yang terdiam mencerna kata-katanya.

Taehyung kembali duduk di sofa. Ia memijat pangkal hidungnya. Kepalanya terasa pening. Selama ini, ia berusaha keras merawat dan mendidik Taehyun dengan baik tanpa bersikap kasar sedikitpun pada sang adik. Ia sangat menyayangi Taehyun yang merupakan keluarga satu-satunya yang ia miliki sekarang.

Sebenarnya, Taehyun anak yang baik. Ia sangat dekat dengan Taehyung saat mereka masih kecil. Namun, sikapnya mulai berubah sejak kedua orang tua mereka meninggal. Awalnya, Taehyung berpikir bahwa Taehyun merasa depresi sejak mereka menjadi yatim piatu. Taehyung juga menduga bahwa kenakalan yang Taehyun lakukan selama ini adalah salah satu prosesnya menuju dewasa. Namun semakin hari, Taehyun malah semakin menjadi.

"Taehyun-ah…"

Taehyung meremas kaosnya di bagian dada, berusaha meredam rasa sesak akibat perkataan Taehyun. Wajar jika Taehyun marah padanya. Namun, ia tak menyangka jika Taehyun sangat membencinya hingga memilih agar Taehyung pergi saja. Taehyung frustasi. Ia tidak tau lagi bagaimana membuat Taehyun dapat kembali seperti dulu.

"Bagaimana aku bisa mengerti dirimu, jika kau sendiri tidak mau mengatakan apapun kepadaku…"


Boemgyu mengerutkan kening. Ia menatap secarik kuisioner berisi daftar sederet nama SMA yang akan dipilihnya ketika lulus SMP nanti, jurusan yang akan dipilihnya, serta alasan yang harus ia berikan. Beomgyu tidak mengerti. Padahal ia masih kelas 2 SMP, tapi kenapa ia harus memilih SMA dari sekarang?

"Arrrggghhh!" Shin Ryujin, teman sekelas Beomgyu, tiba-tiba berteriak frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri. Beomgyu yang duduk di sebelahnya tentu saja terkejut sekaligus heran.

"Kau kenapa, Ryujin?" tanya Beomgyu.

Ryujin menoleh dengan wajah kusut. "Aku bingung harus pilih SMA mana!"

"Oh." Beomgyu bergumam tak peduli. Matanya kembali fokus pada secarik kertas di tangannya. "Kenapa harus bingung? Kau kan tinggal memilih sesuai kata hatimu."

"Mudah bicara seperti itu untuk orang jenius macam dirimu. Mau pilih SMA yang manapun, yang elit sekalipun, kau pasti akan langsung diterima. Kau juga jago musik, kau bisa saja masuk ke sekolah musik yang terkenal itu."

Beomgyu menggedikkan bahu. "Tidak juga. Sebenarnya, aku juga belum menentukan akan masuk ke SMA mana," ujar Beomgyu. "Mungkin aku akan pilih SMA yang sama dengan Yeonjun hyung," lanjutnya dalam hati.

"Tapi tetap saja kan…" Wajah Ryujin berubah lesu. Ia meletakkan kepalanya di atas meja, tidak bersemangat. "Sebenarnya aku ingin masuk SMA Yochung, tapi jika melihat lagi nilaiku, kurasa aku tak punya kesempatan."

"Kau punya," suara Beomgyu menarik perhatian Ryujin untuk menatapnya. "Masih ada waktu setahun lagi untuk memperbaiki nilai. Jika kau mau berusaha, kau pasti bisa. Jika gagal pun, kau tidak akan terlalu kecewa. Setidaknya kau pernah mencoba."

Ryujin terdiam mendengar perkataan Beomgyu. Yang Beomgyu katakan ada benarnya juga. Ia tidak boleh menyerah sebelum mencoba. Daripada patah semangat sebelum melakukan apa-apa, lebih baik Ryujin lebih giat belajar. Lagipula, ia punya teman sejenius Beomgyu yang juga baik hati dan tidak sombong. Beomgyu pasti mau membantunya belajar sebebal apapun otak Ryujin.

Ryujin kembali bersemangat. Ia bangkit dari kursinya lalu menerjang Beomgyu dan memeluknya erat. Tentu saja, Beomgyu yang sedang diam langsung kalang kabut.

"Choi Beomgyu, terima kasih banyak karena telah membuat semangatku kembali lagi!" Ryujin berseru. Ia sama sekali tidak peduli dengan tatapan anak seisi kelas. Ia dan Beomgyu memang sudah bersahabat sejak SD dan Ryujin menganggap Beomgyu seperti saudara kandungnya sendiri.

"Ryujin, bisa tolong lepaskan aku? Aku kesulitan bernapas," Beomgyu sendiri berusaha melepaskan diri dari pelukan maut seorang Shin Ryujin.

Tak lama kemudian, Nam Dareum si ketua kelas sekaligus salah satu teman dekat Beomgyu, masuk dan menghampiri Beomgyu. Awalnya, ia sedikit terkejut melihat Beomgyu dan Ryujin yang sedang berpelukan. Namun setelahnya, ia menggeleng maklum.

"Bukankah tidak baik bermesraan di kelas? Kalian mengganggu yang lainnya," ujar Dareum datar.

Ryujin menatapnya sinis. "Berisik! Kalau cemburu, bilang saja!"

Dareum mendesah pasrah. "Terserah." Ia lalu menatap Beomgyu.

"Beomgyu, kau dicari oleh Soobin sunbae-nim. Dia menunggumu di depan kelas."

Mendengar nama Soobin, Beomgyu langsung bangkit sambil sedikit mendorong Ryujin agar melepaskannya.

"Maaf Ryujin, aku harus pergi. Kita lanjutkan nanti saja ya." Beomgyu langsung berlari meninggalkan Ryujin yang setengah kesal.

"Ah, dasar. Kalau sudah berurusan dengan Soobin sunbae, dia langsung mengacuhkanku. Memangnya apa menariknya sih si kulit pucat itu?" gerutu Ryujin.

"Setidaknya dia jauh lebih kalem dan imut, tidak seperti dirimu yang ganas bagaikan monster," Dareum menimpali sambil menjulurkan lidahnya, meledek Ryujin.


"Ada apa mencariku, Soobin hyung?"

Beomgyu langsung menghampiri Soobin yang tengah berdiri sambil menyandarkan punggungnya pada dinding di sebelah pintu kelas.

"Beomgyu, kita pulang sekarang."

"Hah?" Beomgyu melongo. Ia menatap jam yang melingkar di tangan kirinya. "Sekarang bahkan belum jam 3."

"Kita tidak akan menunggu jam 3. Ada pekerjaan yang harus kita selesaikan. Lagipula, guru yang mengajar di kelasmu tidak masuk kan?" ujar Soobin.

"Iya sih, tapi kenapa harus sekarang? Apa pekerjaan itu sangat penting?"

Soobin mengangguk. Ia mendekatkan mulutnya pada telinga Beomgyu, membisikkan sesuatu.

"Kita akan membasmi ghoul kelas A di Jalan Incheong."

Beomgyu mengernyit. "Kenapa ghoul kelas A? Bukankah para QUINX harusnya mengurus ghoul kelas S?"

"Kau mau mengurus ghoul kelas S disaat sel RC-mu belum aktif sepenuhnya? Apa kau mau bunuh diri, Choi Beomgyu?"

Beomgyu mengernyit tidak suka. "Kau semakin mirip dengan Yeonjun hyung saja."

"Kagune kita belum bisa diaktifkan sepenuhnya. Pekerjaan ini merupakan salah satu bentuk latihan sebelum kita melawan ghoul kelas S."

"Apa Ketua akan ikut?"

"Kurasa tidak. Tugas ini dikhususkan untuk kau, aku, dan Yeonjun hyung saja. Sebaiknya kau berhenti bertanya dan segera ikut denganku."

Soobin tidak peduli dengan ocehan Beomgyu. Ia langsung menarik tangan Beomgyu dan membawanya pulang. Karena terburu-buru, Soobin tidak sengaja menabrak seseorang. Karena tubuh orang yang ditabraknya lebih mungil menyebabkan orang itu otomatis terjatuh.

"Ah, maaf apa kau baik-baik saja—eh? Taehyun?"

Taehyun menatap Soobin tajam. "Kalau jalan hati-hati dong! Sudah tau badanmu besar. Kau bisa membahayakan orang lain!"

Soobin mengernyit. Tidak biasanya Taehyun galak begini. Soobin mengulurkan tangannya, bermaksud membantu Taehyun berdiri, namun Taehyun malah menepisnya.

"Aku tidak butuh bantuanmu!" ujarnya angkuh. Setelah itu, Taehyun pergi meninggalkan Soobin dan Beomgyu yang melongo melihat sikapnya.

"Dia itu kenapa sih?" gumam Soobin.

"Taehyunie, tunggu aku!"

Tak lama kemudian, Soobin dan Beomgyu menangkap suara cempereng dari sosok tinggi yang tengah berlari mengejar Taehyun. Itu Hueningkai. Ia berhenti sejenak di hadapan Soobin dan Beomgyu, lalu membungkuk dalam.

"Beomgyu hyung, Soobin hyung, tolong maafkan Taehyun. Hari ini dia agak sensitif," ujar Hueningkai.

"Ah, iya. Tidak apa-apa. Cepat kau susul dia. Aku khawatir dia kenapa-kenapa," ujar Soobin.

Hueningkai mengangguk menurut. Segera saja ia melanjutkan larinya menyusul Taehyun yang sudah menghilang entah kemana. Soobin sendiri kembali menarik tangan Beomgyu agar bocah itu mempercepat langkahnya menuju apartemen tempat mereka tinggal.


"Semalam, beberapa tubuh tanpa identitas ditemukan tak bernyawa di sebuah klub malam di Jalan Jangmi. Air liur yang ditemukan di tubuh para mayat diduga adalah milik ghoul. Terlebih lagi, para CCG melaporkan bahwa ada beberapa ghoul kelas S yang berkeliaran semalam. Diduga, semalam merupakan perjamuan besar yang dilakukan para ghoul kelas S setiap bulan."

Jimin menatap presenter wanita yang membawakan berita tentang kejadian mengenaskan yang terjadi semalam. Matanya memicing tak suka begitu layar televisi di kafe tempatnya nongkrong bersama sang sahabat menampilkan beberapa tubuh yang menjadi korban pembunuhan ghoul.

"Para ghoul itu semakin merajalela saja ya. Mereka sudah seperti binatang buas saja," gumam Jimin.

Taehyung yang sedang menyeruput jus jeruknya ikut menatap layar televisi yang kini menampilkan sosok idol yang tengah naik daun belakangan ini.

"Beberapa korban diduga adalah fans dari Jung Hoseok yang datang ke acara fanmeeting yang ia adakan di Seoul semalam. Jung Hoseok-ssi, bagaimana perasaanmu mengetahui semua ini?"

Sang reporter memberikan mulai mewawancarai sang idol yang tampak sedih.

"Aku turut berduka pada semua ARMY-ku yang menjadi korban pembunuhan semalam. Sebenarnya, aku sangat sedih dan merasa bersalah, mengingat aku sempat dengar kalau para ghoul itu sebenarnya mengincarku. Aku benar-benar sangat menyesal karena malah kalian yang menjadi korbannya. Aku harap keluarga kalian dapat menerima kepergian kalian dengan ikhlas, dan semoga saja kalian bahagia di tempat baru kalian."

"Dan untuk kalian para ARMY dan semua orang yang saat ini tengah menontonku, aku harap kalian menjaga diri kalian baik-baik. Jangan keluar saat malam hari, aku tidak mau ada lagi yang menjadi korban. Aku tidak akan mengadakan fanmeet ataupun konser dalam waktu dekat demi keamanan kalian juga. Aku juga berdoa demi keselamatan kalian, dan kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja. Terima kasih atas semua cinta dan perhatian yang kalian berikan padaku. Aku menyayangi kalian."

Jung Hoseok mentup sesi wawancaranya dengan senyuman lembut, meski wajahnya masih tampak sedih. Kemudian, beritapun dialihkan dengan berita lain bertema politik.

"Bahkan mereka mengincar seorang idol," ujar Taehyung.

"Tentu saja. Mereka mengincar orang-orang yang terkenal dan berwajah tampan. Para ghoul menganggap orang yang seperti itu spesial dan memiliki rasa yang unik dan nikmat. Bukan hanya untuk dimakan, mereka bisa saja menggunakan wajahmu sebagai topeng untuk menyamar dan mencari mangsa dengan lebih mudah."

Taehyung melongo mendengar penjelasan Jimin. "Darimana kau tau semua itu?"

"Aku membaca banyak buku tentang ghoul." Ia menyeruput ice floatnya. "Kau pun bisa jadi korban."

Taehyung mengernyit. "Kenapa aku?"

"Karena kau seorang ulzzang."

"Berarti Taehyun juga. Dia seorang ulzzang di sekolahnya."

"Ya, kau harus lebih menjaga Taehyun." Jimin teringat sesuatu. "Ngomong-ngomong, apa kau bertengkar lagi dengan Taehyun? Kau tampak tidak baik sejak tadi pagi."

Taehyung terdiam. Jimin memang tidak bisa dibohongi. Jimin sudah bersamanya sejak kecil. Pemuda manis itu sudah sangat mengenal seorang Kim Taehyung yang moody-an. Setiap kali perasaan Taehyung tidak enak, Jimin akan mengetahuinya, sebagus apapun Taehyung menyembunyikannya.

"Apa kau tidak mau cerita?"

Taehyung menghela napas. Jimin akan terus mendesaknya sekalipun Taehyung hanya bungkam. Dan Taehyung lebih memilih untuk bercerita daripada telinganya panas mendengar Jimin yang cerewet.

"Dia marah padaku, tapi aku tidak tau apa alasannya. Aku hanya memarahinya karena ia selalu pulang larut malam, dengan pakaian kotor plus robek. Dia semakin hari semakin menjadi, aku tidak suka setiap kali ia mencari masalah dengan para berandal."

Taehyung menumpahkan seluruh keluh kesahnya pada Jimin tanpa sungkan. Sebagai pendengar yang baik, Jimin mendengarkan tanpa sedikitpun menyela.

"Kau yakin Taehyun berkelahi dengan para beranda?"

Pertanyaan Jimin membuat Taehyung bungkam. Ia memang tidak pernah melihat secara langsung atau punya bukti bahwa adiknya berkelahi.

"Kalau kau tidak punya bukti, jangan langsung menuduhnya. Wajar jika Taehyun kecewa padamu. Coba kau bicarakan lagi dengannya. Apa yang membuatnya jadi seperti ini," saran Jimin.

"Aku selalu bertanya, tapi ia tidak pernah mau cerita. Ia malah menyalahkanku yang tidak mau mendengarkannya. Bagaimana aku bisa mengerti jika ia sendiri tidak pernah mengatakan apapun?"

Taehyung menjambak rambutnya frustasi. Jimin diam memperhatikan sahabatnya. "Ya, susah juga sih kalau begitu. Saat ini, Taehyun memang sedang dalam masa-masa pubernya kan? Wajar jika ia nakal. Saran saja sih dariku, kau jangan terlalu keras padanya. Carilah waktu yang tepat untuk mengobrol dengannya dan coba bicarakan apa yang sebenarnya sedang ia rasakan," ujar Jimin bijak.

"Iya, akan aku usahakan. Terima kasih atas sarannya," Taehyung tersenyum tipis.

"Sama-sama." Jimin membusungkan dadanya. Ia bangga bisa menjadi sahabat yang baik bagi seorang Kim Taehyung, meski anak itu terkadang menyebalkan.

"Oh ya,Tae. Kudengar kemarin ada gadis yang menyatakan cintanya padamu ya? Apa kau menerimanya?"

Taehyung hampir saja tersedak minumannya. Ia mendengus sebal pada Jimin yang mulai jadi tukang gosip.

"Mengurus adikku saja belum becus, mana bisa aku pacaran," ujar Taehyung jengkel.

"Hah~ Kau payah, Tae. Sudah berapa banyak gadis yang kau tolak?"

Taehyung menggedikkan bahu tak peduli. "Tidak tau, aku tidak menghitungnya."

"Kau ini tidak bersyukur ya? Banyak sekali gadis yang mengantri menjadi kekasihmu, kau malah menolak mereka semua. Bagaimana jika kau berada di posisiku yang sudah menjomblo selama dua puluh tahun ini?!" Jimin berteriak nelangsa. Taehyung menatapnya miris.

"Kau hanya tidak tau, Jim," ujar Taehyung. Ya, Jimin tidak pernah tau ada berapa banyak gadis yang naksir padanya. Namun, mereka semua langsung beralih pada Taehyung dan terpikat pada pesonanya.

"Ya, aku tidak tau karena memang tidak ada." Jimin masih saja mencibir sambil mengerucutkan bibirnya. Ia mengalihkan padangannya, menatap sekeliling. Hingga tatapannya berhenti pada satu titik. Seorang butler yang sedang tersenyum manis menyapa para pelanggan.

Senyum jahil Jimin muncul. Tanda-tanda ia akan menggoda Taehyung.

"Hei, bukankah butler dengan gigi kelinci itu tampak manis," Jimin berbisik di telinga Taehyung sambil menunjuk sosok tinggi berambut hitam yang tengah beranjak menuju konter kafe.

Taehyung memperhatikan pemuda itu sekilas. "Kau naksir padanya?"

"Hm, entahlah. Kurasa, belum. Tapi dia bisa masuk salah satu list-ku," jawab Jimin.

"Dia tampak lebih muda. Tak kusangka ternyata kau penyuka berondong," cibir Taehyung.

"Tak apa. Yang lebih muda itu terlihat lebih menggairahkan," Jimin berujar ambigu sambil membasahi bibirnya, bertingkah sok seksi. Taehyung bergidik ngeri mengingat dirinya tiga bulan lebih muda dari Jimin.

"Aku akan memanggilnya dan menggodanya sedikit." Jimin memulai aksinya dengan berteriak memanggil sang butler. "Hei! Aku mau tambah pesanan dong! Potato Salad Sandwich-nya satu ya!"

Butler itu mengangguk menyanggupi pesanan Jimin. Tak lama kemdian, ia datang menghampiri Jimin dan Taehyung dengan membawakan pesanan Jimin.

"Ini sandwich-nya. Selamat menikmati," ujarnya sambil tersenyum manis.

Jimin membalas senyumnya. "Terima kasih. Oh ya, apa aku boleh tau siapa namamu?"

Taehyung mendengus melihat Jimin yang kembali memulai aksinya.

"Namaku Jeon Jungkook," jawab sang butler.

"Jungkook-ah, kau masih terlihat muda. Apa kau masih sekolah?"

"Ya, kelas 3 SMA, lebih tepatnya."

"Kau sekolah dimana?"

"SMA Bangtan."

Jimin tiba-tiba berseru. Ia heboh sendiri. "Benarkah?! Kebetulan sekali, aku dan temanku ini juga alumni sana lho. Kami baru dua tahun lulus dari sana. Aku Park Jimin. Dulu aku ketua klub basket. Kau pasti mengenalku karena aku sangat terkenal," Jimin memperkenalkan dirinya dengan semangat.

"Ah~ Kurasa, aku pernah mendengar namamu."

"Dan yang ini Kim Taehyung. Dia dulu anggota klub musik, tapi tidak terlalu aktif. Dia jarang keluar kelas, namun dia sangat terkenal. Karena dia adalah seorang ulzzang."

Jungkook mengalihkan tatapannya pada Taehyung yang sejak tadi diam. Taehyung hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Senang bertemu denganmu," ujar Taehyung.

"A-ah, senang bertemu denganmu juga," Jungkook mengangguk gugup. Jimin tertawa dalam hati melihat interaksi mereka yang lucu.

"Ngomong-ngomong Jungkook-ah, apa kau sudah punya pacar? Jika belum, Tae ingin mendaftar menjadi pacarmu."

"E-eh?!"

"Yya!" Taehyung langsung menggebrak meja, menyita perhatian seluruh pengunjung kafe. Ia menatap Jimin tajam yang seenaknya mengambinghitamkan dirinya. Sedangkan Jimin hanya tertawa puas dan Jungkook terdiam dengan semburat merah di wajahnya.

"Maaf, aku harus kembali ke dapur untuk membuatkan pesanan pelanggan yang lain." Jungkook langsung pergi meninggalkan Jimin yang masih cekikikan dan Taehyung yang bertambah kesal.

"Kurasa dia gugup melihat ketampananmu, Tae," goda Jimin.

Taehyung mendengus lagi, entah untuk yang keberapa kalinya. "Kenapa kau menggodanya begitu? Kalau aku sampai diusir karena kau, bagaimana?"

"Kita tidak akan diusir, kita kan pelanggan setia disni," ujar Jimin.

"Kau terlalu percaya diri, Park Jimin," cibir Taehyung.

Jimin kembali tertawa. Pandangannya teralihkan pada seorang remaja laki-laki yang dikenalnya tampak tengah berjalan bersama teman sebayanya di depan kafe. Tak lama kemudian, bunyi lonceng tanda ada pelanggan yang datang terdengar. Si remaja bersama temannya memasuki kafe.

Mereka adalah Taehyun dan sahabatnya, Hueningkai.

"Jungkook hyung, aku pulang!" Hueningkai berteriak ceria sambil menghampiri Jungkook di konter. Jungkook tersenyum menyambutnya.

"Selamat datang, Kai. Halo, Taehyun."

"Halo juga, Jungkook hyung." Taehyun membalas sapaan Jungkook dengan senyuman ramah.

Taehyung sedikit mengernyit heran saat menggetahui bahwa Jungkook mengenal adiknya. Apalagi mereka terlihat akrab.

"Kau cari tempat duduk yang nyaman saja, aku mau ganti baju dulu," ujar Hueningkai.

Taehyun mengangguk. Ia mengedarkan tatapannya ke sekeliling kafe, mencari kursi kosong di kafe yang tampak ramai pada sore hari ini. Hingga matanya menangkap sosok sang kakak yang duduk di sudut kafe dekat jendela. Ekspresi wajahnya langsung berubah.

"Huening, kurasa aku akan langsung pulang saja."

Hueningkai terkejut mendengar Taehyun yang tiba-tiba berubah pikiran. "Kenapa—" suaranya tercekat begitu matanya menangkap Taehyung, sosok yang menjadi alasan Taehyun memilih untuk pulang.

"Maaf, aku tidak jadi mampir sore ini. Aku akan datang besok, aku janji," ujar Taehyun sambil tersenyum palsu.

Tatapan mata Taehyung langsung berubah sedih begitu melihat sang adik berbalik menuju pintu kafe. Taehyun masih tak ingin bertemu dengannya. Jimin melihatnya. Tak tega melihat sang sahabat bersedih, Jimin berinisiatif mengambil langkah.

"Taehyun, tunggu!"

Panggilan dari Jimin menghentikan langkah Taehyun. Taehyun mengepalkan tangannya kesal. Namun, ia tetap tak bisa bersikap menyebalkan di depan Jimin.

"Iya, Jimin hyung, ada apa?"

"Kau mau pergi kemana? Kau kan baru datang."

Taehyun tersenyum palsu. "Kafe sedang ramai hari ini dan tak ada kursi kosong untukku. Aku akan kembali besok saja."

"Kalau begitu, kau duduk bersama Taehyung saja."

Tatapan Taehyun langsung berubah sinis. "Duduk dimana? Meja itu khusus dua orang dan sudah diisi olehmu dan Tae hyung."

"Ah, sebenarnya aku harus kembali lagi ke kampus. Ada rapat organisasi hari ini. Kau bisa menggantikanku dan menemani Taehyung disni, kan?"

Taehyun terlihat ragu. "Tapi…"

"Nah, kebetulan sekali bukan, Taehyun?" Hueningkai tiba-tiba ikutan nimbrung. "Oh ya, hari ini juga ada promo spesial khusus untuk merayakan hari ini. Ada menu spesial keluarga untuk orang tua yang datang bersama anak-anak mereka. Menu ini juga berlaku untuk sepasang kakak dan adik."

Hueningkai menunjukkan sebuah menu baru di buku menu. Satu set menu orang dewasa berupa cappucino dan dessert yang bisa dipilih sesuka hati, plus menu anak-anak berupa semangkuk es krim yogurt stroberi dan sepiring Anko Butter Sandwich.

Taehyung menatap Hueningkai sinis. "Apa kau secara tidak langsung menyebutku sebagai anak-anak?"

Hueningkai nyengir kuda. "Kau kan baru saja menginjak masa remajamu, tidak salah jika aku menyebutmu masih anak-anak."

"Itu artinya, kau juga, bodoh," cibir Taehyun jengkel.

"Ya, aku kan memang masih anak-anak yang imut dan menggemaskan," Hueningkai mulai dengan tingkah aegyonya. Taehyun memutar bola matanya malas.

"Jadi, bagaimana? Kau mau kan mencoba menu promo ini?"

Hueningkai menatap Taheyun dengan binar penuh harap. Taehyun sendiri hanya diam, berusaha untuk tidak terpengaruh oleh sahabatnya yang polos namun kadang menyebalkan ini.

"Kurasa menu ini menarik," Taehyung yang entah sejak kapan sudah berdiri disana ikutan nimbrung, membuat yang lainnya terkejut.

"Kenapa?" tanya Taehyung polos.

"Kukira kau tidak suka kopi," kali ini Taehyun mencibir sang kakak.

"Kalau Tae hyung tidak suka kopi, untuk minumnya bisa diganti dengan matcha latte," Hueningkai melanjutkan promosinya.

"Kalau begitu, aku mau pesan menu ini."

"Yya!" Taehyun protes. "Aku kan belum bilang kalau aku setuju untuk makan bersamamu."

"Aku tau kau tidak akan menolak karena kau sangat menyukai Anko Butter Sandwich, kan?"

Taehyun terdiam. Bohong jika ia tidak mau makan Anko Butter Sandwich yang menjadi cemilan favoritnya sejak dulu. Namun, bukan disitu masalahnya.

"Aku—"

"Sudahlah Taehyunie, jangan menolak terus. Menu ini jarang sekali ada karena yang membuatnya adalah koki spesial," Hueningkai masih belum menyerah untuk membujuknya. Taehyun akhirnya mengalah.

"Ya sudah, aku mau."

Setelah itu, Jimin mengajak Taehyun untuk duduk di kursinya bersama Taehyung. Ia lalu berpamitan pada kedua bersaudara itu. Sebelum pulang, Jimin menghampiri Hueningkai di konter.

"Kai, terima kasih ya."

Hueningkai mengacungkan jempolnya. "Tenang saja, Jimin hyung."

Jimin tersenyum sebelum akhirnya meningggalkan kafe. Sementara Hueningkai sibuk menyiapkan pesanan Kim bersaudara.

"Ini pesanan kalian. Selamat menikmati~" Hueningkai tersenyum sambil menyajikan pesanan di meja. Setelah itu, ia pergi meninggalkan kedua Kim bersaudara yang masih diam-diaman.

Tanpa Taehyung dan Taehyun sadari, Jungkook memperhatikan mereka sejak tadi.

"Jadi, Kim Taehyung itu kakaknya Taehyun? Aku baru tau," gumam Jungkook.

"Yya! Kemana saja kau?! Tae hyung kan langganan kita. Sesering itu dia datang kesini, kau tidak pernah tau kalau dia adalah kakaknya Taehyun?!" timpal Hueningkai.

"Kau dan Taehyun pun tidak pernah memberitahuku. Mereka juga tidak pernah datang bersama. Lagipula, haruskah kau berteriak seperti itu padaku?"

"Hehehe, maaf Jungkook hyung."

Jungkook kembali memperhatikan kedua bersaudara itu. "Apa hubungan mereka tidak baik? Kenapa mereka tidak terlihat seperti saudara?"

Hueningkai ikut memperhatikan mereka. "Sejauh yang aku tau, Tae hyung sangat menyayangi Taehyun. Begitu juga dengan Taehyun. Hanya saja, hubungan mereka renggang akhir-akhir ini. Aku tidak tau apa penyebabnya."

Sementara itu, Taehyun masih diam tanpa sedikitpun niat menyentuh makanannya. Matanya memperhatikan jalan lewat jendela kafe. Ia belum mau melihat Taehyung.

Taehyung sendiri juga masih diam. Sesekali ia menyeruput matcha late-nya. Ia ingin bicara, tapi tidak tau harus mengatakan apa.

"Kau tidak makan?" Akhirnya hanya pertanyaan seperti itu saja yang bisa ia keluarkan.

"Aku tidak lapar," jawab Taehyun acuh.

"Oh, begitu ya." Suasana kembali canggung. "Ngomong-ngomong, ini adalah kali pertamanya kita makan bersama setelah sekian lama ya. Sejak tiga tahun yang lalu, kau tidak pernah lagi makan semeja denganku. Kau hanya akan makan di meja makan setiap kali Eomma menyajikan daging untukmu, tapi tidak pernah menyajikan daging untukku. Aku tidak ingat sejak kapan kau jadi seorang karnivora."

Taehyun menatapnya sini. "Hyung, sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"

"Aku hanya ingin mengobrol denganmu," jawab Taehyung.

"Taehyun-ah, apa aku pernah melakukan sesuatu yang buruk padamu?"

Taehyun tercengang mendengar pertanyaan Taehyung. Ia menunduk.

"Bukan, hyung. Bukan seperti itu…"

Jika kau marah padaku karena sesuatu, tolong katakan. Aku tidak akan mengerti jika kau tidak pernah mengatakan apapun padaku."

"Sekalipun aku mengatakannya, kau tetap tidak akan pernah mengerti."

"Aku tidak ingin kau membenciku. Aku akan melakukan apapun dan memberikan semua yang kau mau asalkan kau kembali seperti dulu."

"Tidak… hyung…"

"Taehyun-ah, apa sesulit itukah untuk mengatakan yang sebenarnya?"

Taehyun tiba-tiba berdiri. Kepalanya masih menunduk, namun tubuhnya tampak bergetar.

"Taehyun—"

"Maafkan aku, hyung."

"E-eh?!"

Taehyun tiba-tiba pergi meninggalkan Taehyung yang masih terpaku mendengar permintaan maafnya. Taehyung tidak sempat menghentikan Taehyun yang berlari meninggalkan kafe.


Taehyun terus berlari. Berbagai perasaan bercampur aduk dalam hatinya. Ia merasa bersalah, karena terus mengacuhkan sang kakak. Jujur, ia tidak pernah menyukai ini. Ia ingin kembali seperti dulu, kembali ke masa dimana ia dan sang kakak tersenyum, tertawa, dan menangis bersama. Menikmati makan malam bersama, dan tidur di kasur yang sama.

Namun, disatu sisi, ia merasa iri. Ia dan kakaknya sudah berbeda sekarang. Mereka tinggal di dunia yang sama, namun kehidupan yang mereka jalani telah berbeda. Mereka tidak akan bisa saling mengerti.

Karena ghoul dan manusia tidak akan pernah bisa saling memahami.

Taehyun terpaksa mengacuhkan Taehyung dan bersikap buruk padanya, agar Taehyung tidak terlalu dekat dengannya lagi. Ia melakukannya demi untuk melindungi jati dirinya yang sebenarnya agar sang kakak tak pernah mengetahuinya, sekaligus untuk melindungi Taehyung dari incaran para ghoul. Taehyun tau kakaknya itu spesial, tak sedikit ghoul yang menginginkan tubuh Taehyung karena aura tidak biasa yang dimilikinya.

"Maafkan aku, hyung…"

Taehyun terus menggumamkan kalimat tersebut di dalam hatinya sambil terus berlari tanpa memperhatikan apapun yang ditabraknya. Hingga akhirnya, ia terjatuh saat tubuhnya bertabrakan dengan seorang pria tinggi. Pria berkacamata dengan lesung yang manis di kedua pipinya.

"Kau baik-baik saja, nak?" pria itu membantu Taehyun berdiri.

"Aku baik-baik saja. Terima kasih, maaf telah menabrakmu." Taehyun membungkuk sopan sebelum akhirnya kembali berlari meninggalkan si pria yang terdiam menatap punggungnya.

Pria itu merogoh ponsel dari saku celananya. "Halo, Suga hyung…"

"Ada apa, RapMon?"

"Kurasa, aku telah menemukannya."

Diam-diam, pemuda itu menyeringai. Seringai misterius yang mengeri kan.

.

.

.

To be continued…


Author's note:

Halo semua! Unravel sudah memasuki episode pertamanya nih. Karena ini masih awal, harap maklumi jika ceritanya masih membosankan. Aku akan berusaha membuat ceritanya semakin menarik. Sampai jumpa di episode selanjutnya!