Disclaimer : Masashi Kishimoto
The Fast and Furious : Konoha Drift
Rated : T
Pairing : SasuHina
Genre : Romance
Warning : AU, OOC, Bahasa berantakan, Alur keteteran, dan kekurangan-kekurangan lainnya.
Hai Minna-san! Maaf karena saya telat publish cerita ini lagi, soalnya sekarang fanfiction jadi error. Sebenernya ga pede juga sih, soalnya yg review cerita ini sebelumnya cuma 1, tapi karena saya udah niat jadi deh. Ya udah daripada banyak omong mending langsung aja.
The Fast and Furious : Konoha Drift
Chapter 2
"A-apa?" tanya Hinata mencoba mengusir kegugupannya karena terlalu dekat dengan Uchiha tampan ini.
Sasuke akhirnya menjauhkan diri dari Hinata. Membuat Hinata sedikit bisa bernafas lega. Tapi, tidak lama karena setelahnya Sasuke menyeringai membuat Hinata ngeri melihatnya. Seketika perasaan tidak enak menjalari hatinya.
Kumohon, tolong lindungi aku, Kami-sama, batin Hinata ketika melihat Sasuke menyeringai.
"Ikut aku." Kata Sasuke-ralat- suruh Sasuke sambil menyeret Hinata meninggalkan ponselnya yang sudah hancur. Sepanjang jalan para fans girl Sasuke menatap iri bahkan melemparkan pandangan membunuh ke Hinata. Hinata yang lebih peka dari Sasuke serasa akan segera mati kalau saja tatapan bisa membunuh orang.
"S-sebenarnya ki-kita mau k-kemana, U-uchiha-san?" tanya Hinata yang merasa tidak nyaman dengan tangan Sasuke yang mencengkramnya apalagi tatapan maut para fans girl-nya Sasuke.
Sasuke tidak menjawab, ia terus saja berjalan sambil menyeret Hinata dengan tak menghiraukan tatapan memelas para fans girl-nya. Ketika sampai di depan ruangan-yang Hinata sendiri yakin Sasuke tidak tahu ruangan apa-sepi di dekat toilet siswa, Sasuke langsung mendorong Hinata masuk dan menutup pintunya dengan sedikit membanting. Sasuke langsung mengurung Hinata dengan tubuhnya yang tinggi dan tangan kanannya menekan sisi pintu dimana tubuh Hinata berhimpit dengan tubuh Sasuke.
"U-uchiha-san a-apa yang kau la-lakukan?" tanya Hinata dengan suara bergetar yang pasti sekarang sedang menahan tangis.
"Meminta kau menggantinya." Hinata yang ketakutan tak bisa apa-apa lagi ketika Sasuke mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata yang sekarang benar-benar merah. Telapak tangan Hinata berusaha untuk mendorong dada pemuda itu, tapi tenaga Sasuke yang bahkan lebih kuat dari Hinata hanya merasakan seakan digelitik oleh tangan Hinata.
Semakin lama wajah mereka semakin dekat.
6 cm . . . .
4 cm . . . .
2 cm . . . .
KRIINGGG KRIINGGG
Sasuke mendecih kesal sedangkan, Hinata menghela nafas lega karena akhirnya bel sekolah berbunyi menyelamatkannya dari pemuda yang hampir saja merenggut first kiss-nya.
Sasuke segera menjauhkan badannya dari Hinata dan kembali dengan posisi angkuhnya yang bisa membuat siapapun terkena gejala mimisan, asma, bahkan tepar di tempat. Pengecualian untuk Hinata, gadis polos yang bahkan sampai sekarang belum pernah merasakan ciuman.
"Kali ini kau selamat, Hyuuga." Kata Sasuke sembari pergi meninggalkan Hinata di ruangan sepi yang masih gak jelas apa asal-usulnya.
Sesaat setelahnya Hinata bisa menghela nafas lega karena akhirnya terbebas dari pemuda yang mendapat julukan Devil bagi Hinata. Tapi, setelahnya ia harus lari pontang-panting bak dikejar setan karena bel masuk telah berbunyi, yang berarti ia terlambat untuk hari pertamanya di sekolah baru dan tahun ajaran barunya.
Sial, aku terlambat, batin Hinata.
.
.
.
.
Hinata akhirnya sampai di depan kelas yang akan ia gunakan selama 1 tahun untuk belajar dan menuntu ilmu, kelas 10-3.
Ia menghela nafas sebelum membuka pintu kelas karena ia yakin sekarang ia sudah sangat terlambat. Bayangkan saja jarak dari ruangan tempat dia berada tadi dengan kelasnya di depan ini sekitar satu ruas jalan tol.
Akhirnya Hinata membuka pintu kelasnya dengan sedikit takut. Ia bisa melihat sekarang seorang guru cantik dan masih terlihat muda sedang memandang ke arahnya seolah berkata kenapa-terlambat-Hyuuga-dan bangku yang sudah terisi penuh oleh anak-anak.
"Ma-maaf sa-saya terlambat." Kata Hinata takut sembari menundukkan kepala dalam. Sang guru menghela nafas panjang menandakan ia pasti sudah lama menunggu karena Hinata telat.
Karena kalau pergantian tahun ajaran baru dan banyak murid-murid baru, jumlah satu kursi murid di satu kelas pasti pas dengan jumlah murid yang akan menempati ruangan tersebut.
Sehingga guru wanita tersebut harus menunggu sampai dua kursi di ujung belakang terisi oleh si empunya. Tunggu dulu! Dua? Memangnya siapa lagi yang terlambat selain Hinata saat ini?
"Tak apa. Duduklah, kami baru saja mau mulai." Kata sang guru sembari memberi isyarat agar Hinata duduk.
Hinata melangkah ke bangku yang paling ujung di belakang dekat jendela. Kursi di sebelahnya masih kosong, berarti masih ada satu orang lagi yang terlambat.
Syukurlah bukan aku yang terakhir, batin Hinata.
"Baiklah, siapa lagi yang belum masuk kelas?" tanya sang Guru sembari meneliti ke setiap sudut kelas "Kurasa sudah semua. Kita mulai sekarang." Tambahnya .
Tak berapa lama setelah guru wanita itu berkata, terdengar suara ribut dari arah luar pintu kelas. Untuk yang kesekian kalinya guru wanita itu menghela nafas lelah setelah pintu kelas kembali terbuka dan menunjukkan seorang lelaki yang memakai seragam security sedang mencengkram tangan seorang pemuda yang memakai baju seragam siswa laki-laki. Tunggu dulu, sepertinya Hinata kenal siapa pemuda ini.
"Ada apa, Genma-san?" tanya guru wanita tersebut.
"Maaf kalau telah mengganggu, tapi saya menangkap basah siswa yang akan bolos di hari pertama sekolah." Kata Genma sembari melirik ke arah pemuda di sebelahnya yang hanya memasang tampang sebal.
"Baiklah kalau begitu, kurasa dia siswa yang terakhir masuk ke kelas ini." Kata guru wanita tersebut.
Genma akhirnya melepas cengkramannya pada pemuda tersebut "Saya permisi dulu." Kata Genma pamit yang hanya dibalas anggukan oleh guru wanita tersebut.
Setelah pintu tertutup, akhirnya suasana hening kembali. "Baiklah kau boleh duduk di bangku kosong yang tersisa, Uchiha-san."
Hinata yang mendengarnya langsung terkesiap. Bangku kosong? Itu berarti di sebelah Hinata. Seorang pemuda? Oke ini bisa diterima Hinata walau pasti ia gugup. Uchiha? Seingat Hinata itu marga pemuda yang ia tabrak tadi pagi. Jangan-jangan…
Oke, Hinata hampir pingsan saat tahu kalau pemuda yang sekarang mendekat dan akan duduk di bangkunya adalah pemuda yang ia tabrak tadi pagi.
Sasuke lalu duduk denga cueknya di sebelah Hinata tanpa menghiraukan muka gadis di sebelahnya yang benar-benar merah.
"Baiklah, kurasa kita bisa mulai sekarang karena sempat tertunda beberapa waktu. Namaku Yuhi Kurenai dan aku adalah wali kelas kalian selama setahun ini. Mata pelajaran yang aku ajari adalah matematika, jadi kurasa kalian berada di kelas ini karena kalian memang anak-anak yang pintar matematika." Kata Kurenai "Kita mulai pelajaran pertama." Tambahnya.
Sementara pelajaran dilalui dengan hening yang menenangkan. Tak terkecuali Hinata dan Sasuke.
.
.
.
.
KRIINGGG KRINGGG
Bel istirahat berbunyi, para siswa berhamburan keluar kelas bagai sapi-sapi yang kelaparan. Hinata yang memang pada dasarnya pendiam dan sulit bergaul hanya duduk di bangkunya dan membuka kotak makanannya. Sementara Sasuke ia telah menghilang bersama kroni-kroninya.
Ketika ia akan makan, ia melihat Sakura-temannya dari SMP-menghampirinya.
"Hai, Hinata-chan" sapa Sakura ceria "Aku tahu kelas kau karena tadi aku pergi ke bagian Tata Usaha untuk melihatnya. Sayang, kita tidak sekelas yah." Kata Sakura dengan raut wajah cemberut.
"Hai, Sakura-chan. Iya kita tidak sekelas lagi. Ngomong-ngomong kau di kelas mana?" tanya Hinata sembari membuka tutup kotak makannya.
"Tidak jauh darimu. Aku di kelas 10-5." Kata Sakura sembari mencomot Bento dari kotak makan Hinata dan memasukkan ke mulutnya "Oh ya Hinata, kudengar kau sekelas dengan ketua geng balapan mobil yang dapat julukan 'DD' yah?" tanya Sakura.
"Mungkin." Kata Hinata acuh sembari menikmati Bentonya. Sebenarnya Hinata tidak peduli, dia bahkan tidak tahu singkatan dari apa itu 'DD'.
"Benarkah?" tanya Sakura dengan mata berbinar yang duduk di depan Hinata "Kau sekelas dengan ketua geng balapan mobil yang terkenal dengan julukan 'DD' dan ganteng itu?" tambahnya.
"Sebenarnya, aku tidak tahu. Masuk saja tadi pagi terlambat, jadi mana mungkin aku tahu. Lagipula apa itu 'DD'? Donkey Dobe?" tanya Hinata, polos.
Sakura yang mendengarnya, hampir saja tersedak dam memuncratkan semua Bento yang telah ia kunyah kalau saja ia tidak ingat dengan etika sopan santun. "KAU TIDAK TAHU APA ITU 'DD'?" seru Sakura yang pasti bisa membuat Hinata tuli kalau saja ia tidak menutup telinganya dengan telapak tangan.
Untung saja suasana kelas saat itu sedang sepi, hanya mereka berdua yang ada di sana. Jadi otomatis yang terkena teriakan Sakura hanya Hinata.
"Sakura-chan, bisa kau kecilkan sedikit volume suaramu?" tanya Hinata yang sedikit kesal.
"Ok, maaf. Tapi masa kau tak tau apa itu 'DD'? Setidaknya apa kau tidak pernah dengar gossip tentang 'DD'?" tanya Hinata menahan suaranya.
"Aku tidak suka bergosip."
"Baiklah aku tahu. Tapi, sekedar mendengarkan Hinata. Masa tidak?" tanya Sakura sembari terus mencomot Bento dari kotak makanan Hinata.
"Tidak. Suka." Kata Hinata lebih tegas.
"Baiklah, aku tidak memaksa. Kau tahu, DD, Devil Drift." Kata Sakura sok serius.
"Devil? Drift? Memangnya mukanya menyeramkan?" tanya Hinata, polos.
"Tentu saja tidak! Memangnya seorang Uchiha Sasuke menyeramkan apa?" pekik Sakura.
Glek
Uchiha Sasuke. Pemuda`yang telah Hinata cap sebagai seorang 'Devil' ternyata memang 'Devil'? Tentu saja dalam artian berbeda.
"K-kau bilang Uchiha Sasuke?" tanya Hinata takut.
"Yah, memang kenapa?" tanya balik Sakura.
"T-tidak. Hanya saja.. Menurutku.. Rambutnya m-mirip dengan pantat a-ayam." Kata Hinata, bohong. Tentu saja, mana pernah ada seorang wanita yang bilang rambut se-cool Sasuke mirip pantat ayam kecuali, Hinata?
"Siapa yang kau maksud mirip pantat ayam, Hyuuga." Suara dingin dan menusuk terdengar dari sebelah Hinata dan Sakura. Mereka menelan ludah karena sudah yakin siapa pemuda di sebelah mereka.
Sial!, umpat mereka berdua dalam hati.
TBC
Ah.. sebenernya saya ga pede ngelanjutin fic ini, tapi karena ada yang review*walaupun cuma satu, tetep saya lanjutin. Saya akui deh chapter yang ini lebih panjang dari yang kemaren*lebih amburadul lagi… hehehe..
Review…?
