Disclaimer © Masashi Kishimoto

Story © Punya Kika

Pair © Uchiha Sasuke, Hyuuga Hinata

Rated © M

WARNING © OOC akut, typo, alur cepat dan teman-temannya.

Summary © Kehidupan pernikahan setelah perjodohan | "Jangan menganggu privasi masing-masing.." | "Jangan gampang terbawa suasana, kalau jatuh cinta duluan, bukan salahku" | SasuHina | RnR

Don't like don't read

.

.

.

-Our Marriage Life-

Chapter 2: Encountering

.

.

.

.

Waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Terlihat mobil Porsche merah memasuki garasi rumah kediaman Uchiha. Pria dewasa berumur 28 tahun yang dituntut untuk segera menikah terlihat turun dari mobil tersebut dan berjalan malas memasuki rumahnya.

"I'm home..." katanya sambil membuka pintu.

"Anak Mama udah pulaaannnggg..." Mikoto langsung memasang wajah ceria melihat anak bungsunya yang akhirnya nurut untuk menikah. Ia terlalu trauma dengan anak sulungnya, Itachi, yang entah mendapat pelajaran hidup dari mana yang membuatnya tidak ingin menikah. Tidak ingin menambah populasi umat manusia, katanya. Halah, pembenaran saja.

"Hey, Mom.." meskipun kesal, tetap saja Sasuke langsung menghampiri Mama-nya dan memeluknya singkat. Sweet banget sih~

"Udah makan?" tanya Mikoto khawatir kalo-kalo nanti Sasuke sakit saat hari pernikahan.

"Udah tadi" jawab Sasuke melepas topi hitamnya.

"Darimana sih? Tumben keluar malem-malem, biasanya pulang kerja lebih milih tidur" Mikoto mengikuti anaknya menuju lantai dua, menuju kamarnya si calon pengantin.

"Nggak dari mana-mana. Ketemu temen" Sasuke membuka pintu kamar dan langsung meletakkan ranselnya asal-asalan.

"Mama kirain udah ketemu sama Hinata aja. Eh eh, mama udah liat fotonya loh, anaknya manis yah. Aduh gimana nih, Papanya ganteng, Mamanya manis, pasti nanti cucu mama tuh-"

'cucu?'

"Papa mana, Mah?" Sasuke mengalihkan perhatian.

"Udah tidur"

"Kak Itachi kapan datang?" tanya Sasuke mengingat ia tetap ingin keluarganya berkumpul di hari pernikahannya. Yah, meskipun bukan pernikahan yang diharapkan sih, tapi setidaknya ia ingin membuat imej bahwa ia menikah atas kemauan dan akan hidup berbahagia bersama istrinya sebagaimana suami istri pada umumnya.

"Setelah tanggal pernikahan ditentukan, 2 hari sebelumnya dia akan pulang katanya"

"Yaudah Mah, Sasuke mau langsung tidur nih" ucap Sasuke membuka kaos hitamnya dan mencari celana kain untuk ia gunakan tidur. Iya, kebiasaan Sasuke memang tidur nggak pake kaos. Bahasa etisnya kita sebut shirt-less sementara bahasa hot-nya topless. Maknanya sih sama. Cuma ada perbedaan 'rasa' yang membuat khayalan berbeda. *eh. Duh, ntar kalo udah nikah tapi maunya bobo dalam keadaan shirt-less mulu gimana nih .

Kemudian Mikoto berpamitan dan Sasuke langsung menyalakan Macbook-nya dan mengeluarkan beberapa lembar foto dari ranselnya. Sementara Hinata bodo amat dengan perjodohan ini, bahkan ia belum bisa hafal nama calon suaminya, beda lagi dengan Sasuke. Ia sudah beberapa hari menghabiskan waktunya untuk stalking. Ya namanya juga perpeksionis, jadi apa-apa pengennya jelas biar nggak kagetan. Makanya setelah stalking di media sosial, hari ini jadwalnya Sasuke untuk kopdar alias kopi darat, tapi sepihak. Levelnya hampir sama dengan penguntit tapi karena Sasuke ganteng bukan penguntit deh namanya, apa ya, semacam pengamatan dan observasi aja. Ya pokoknya itulah ya.

"Serius belum pernah pacaran?" tanya Sasuke pada selembar foto yang memperlihatkan Hinata yang sedang tertawa bahagia sambil mengenakan jaket yang membuatnya terlihat hangat.

Sasuke agak ragu ya, emang beneran ada gitu cewek di dunia ini yang belum pernah pacaran? Iya Sasuke sayang,emang ada. Bisa jadi cinta pertamanya bertepuk sebelah tangan tapi malah bucin bertahun-tahun, giliran berusaha move on disenyumin dikit langsung ambyar, pengen nyari gantinya eh gak nemu-nemu juga. Jadi, kira-kira kasus Hinata seperti itu. Kasus yang bener-bener ngerepotin perasaan orang dan mengacaukan masa depan percintaan. hadeh.

Oh iya, kandidat calon istri ini didapatkan Sasuke dari temannya yang akan melangsungkan pernikahan besok malam. Teman yang sama yang akan dikunjungi pernikahannya oleh Hinata besok malam. Iyep. Nara Shikamaru. Kalo Hinata temenan kuliah sama Shikamaru, nah kalo Sasuke dulunya temenan SMP sama Shikamaru. Jadi emang bener kalo dunia itu sempit, dan banyak temen bisa jadi banyak rejeki karena temennya temen bisa jadi jodohnya kita, sementara orang yang kita anggap sebagai jodoh kita bisa jadi jodohnya temen kita. Gitu. Hidup emang banyak plot twist-nya.

Nah, yang bikin Sasuke mempertimbangkan saran Shikamaru ini karena statement bahwa Hinata belum pernah pacaran. Jadi, di pikiran Sasuke, kehidupan pernikahannya tidak akan dibayang-bayangi lelaki lain. Yah, meskipun ia tidak mengharapkan kehidupan pernikahan yang bermandikan cinta tapi setidaknya hidup tentramnya tidak akan terganggu dengan lelaki lain.

"Hahh..." Sasuke membaringkan dirinya di kasur lalu tertidur.

.

.

.

Hotel Akatsuki terlihat ramai hari ini. Hotel berbintang terdepan di Konoha ini menjadi venue dari pelaksanaan pernikahan yang tak terduga. Ya manusia bodo amat-an sejenis Shikamaru tuh tipe manusia yang nggak musingin kelanjutan keturunan keluarga Nara.

"Nggak nyangka ya Shikamaru pengen nikah juga ternyata" kira-kira kalimat sejenis ini yang banyak terucap dari para tamu undangan yang memasuki gedung ini, terutama teman-teman Shikamaru.

Sementara itu di dalam gedung bagian ballroom, Shikamaru dengan kunciran rambut gonrongnya bener-bener keliatan bahagiaa. Giginya kering gara-gara tersenyum terlalu lebar, saking lebarnya senyumnya udah hampir sampe telinga, pipinya sampe pegal. Yah, mendapati diri menyukai seseorang dan orang tersebut juga menyukai kita lebih dari apa yang kita bayangkan, siapa sih yang nggak seneng? Cinta berbalas itu merupakan salah satu keajaiban karena tidak semua cinta di dunia ini mendapatkan balasan cinta harapkan. Jika tidak semua cinta itu berbalas, kenapa gitu ya, ada aja orang-orang yang terjebak kasus fall in love with pipel we can't have. Kenapaaa?

Bukan cuma sebatas saling menyayangi, melanjutkan hubungan ke momen peresmian di mata agama dan negara kemudian menjadi puncak kebahagiaan tertinggi bagi para pecinta. Selanjutnya, semuanya tergantung pada komitmen dan kesetiaan untuk mempertahankan hubungan yang telah diikrarkan kepada Yang Maha Kuasa

"Heeeyyyyy!" Shikamaru langsung merangkul Sasuke singkat begitu melihat teman lamanya memasuki area pesta pernikahannya.

"Seneng amat..." Sasuke pun tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Melihat senyum kebahagiaan entah mengapa membuat kita ikut tersenyum juga. Kebahagiaan itu benar-benar menular.

"Lo harus rasain gimana sensasinya..." Shikamaru melepas rangkulannya dan memukul pelan bahu teman SMP-nya yang dulu pernah melakukan percobaan menghisap rokok bersamanya, lalu ketahuan Shikaku dan keduanya berakhir dipukuli bokongnya sampe mereka bener-bener trauma sama rokok tapi karena hal itu juga lah, Shikamaru dan Sasuke mendapat nilai plus di mata perempuan. Anti-bau-bau-rokok-club. Tampan maksimal deh.

"Hehh..." Sasuke menarik nafas pelan lalu mengedarkan pandangannya.

"Dia belum dateng" Shikamaru menangkap maksud Sasuke.

"Ahh.." dan Sasuke tertawa kecil karena merasa tercyduck.

"Lo gak bakal nyesel. Serius. Cuma itu, lo harus bisa jadi temennya, dia gak suka makan sendiri dan gampang merasa dingin terutama di ruang ber-AC dan di malam hari, apalagi kalau di luar ruangan" Shikamaru memberi informasi awal. Sasuke menangguk, kini Sasuke mengerti mengapa Hinata terlihat sangat kedinginan waktu di Bus kemarin malam.

"Gak pernah pacaran tapi gak bisa makan sendirian, gimana caranya kalo dia ke tempat makan?" Sasuke heran dong.

"Biasanya, dia bakalan minta gabung ke meja orang yang juga makan sendirian hahhaha" Shikamaru mengingat kelakuan Hinata yang terkadang meminta izin untuk makan di meja yang sama dengan orang lain untuk mencegah dirinya makan sendirian.

"Nah, terus dia itu gak minum alkohol. Lo kan gak ngerokok dan gak minum nih, nah dia juga gak ngerokok dan gak minum. Pokoknya gak ada aneh-anehnya. Bener-bener bisa jaga harga diri kita sebagai suami" tuh kan gengs, jodoh itu bener-bener cerminan diri ya. Liat deh Hinata ama Sasuke, bisa klop gitu.

"Gue bener-bener heran dia ngapain aja selama hidup jadi perempuan" masih gak nyangka gitu si Sasuke ini. Hmmm.

"Cuma ya itu, dia agak cuek dan gak pedulian sama beberapa hal. Dia melihat cowok itu sebagai temennya, dia gak pernah ingin memperlakukan cowok lebih dari temen karena kadang dia merasa cowok gak akan tertarik sama dia" Sasuke menyipitkan mata mendengar penjelasan Sasuke. Iya, selepas mendapat penolakan tuh, kadang kita merasa gak berharga gitu, merasa gak pantes untuk siapa-siapa, gak pantes untuk dicintai, tidak diinginkan, karena kita bener-bener cuma fokus sama kekurangan kita yang membuat orang yang kita sukai memilih orang lain dibanding kita.

"Jadi selepas nikah, ya lo harus sabar dan giat-giat aja, dan harus tetap jadi laki-laki yang baik buat dia ya" pesan Shikamaru tulus.

"Iya, gue ngerti" Sasuke mengangguk masih mempertanyakan beberapa hal.

Acara pemberkatan hampir dimulai, tamu undangan semakin padat berdatangan. Sasuke mengambil tempat duduk lalu memilih minuman bersoda untuk membasuh tenggorokannya. Sasuke masih mengedarkan pandangannya lalu berhenti saat mendapati pandangan gadis berambut panjang berombak yang mengenakan blus lengan panjang berwarna hitam yang dimasukkan ke dalam rok berwarna senada dengan motif bunga putih dan merah, ada yang berbeda di bagian alas kakinya. Malam ini Hinata mengenakan sepatu hi heels berwarna merah. Sasuke memiringkan kepalanya, berdasarkan observasi calon istrinya ini tidak pernah menggunakan hal-hal semacam ini. Ah, mungkin tergantung situasi juga ya, terlalu banyak hal yang membingungkan.

Hinata berjalan sambil tersenyum bahagia memandang Shikamaru dan Temari di atas sana, mata Sasuke mengikuti langkahnya. Lalu Hinata mengarahkan pandangannya kepada Sasuke yang sangat intens menatapnya...Hinata menatap balik dan tersenyum.

'Siapa ya? Temen kuliah kali, anak jurusan lain? Ah mukanya terlalu eksklusif untuk jadi anak kampus lokal' batin Hinata tetap tersenyum dalam kebingungan.

"Cepet banget jalannya" Gaara menghampiri Hinata dengan terburu-buru sambil memperbaiki setelan jasnya. Ah, satu hal yang lupa untuk Sasuke tanyakan. Si rambut merah ini sebenarnya siapa dan dari planet mana asalnya, serta apa posisi dan peran sertanya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini.

Hinata dan Gaara kemudian bergabung bersama Sakura dan yang lainnya. Pemberkatan pernikahan berlangsung khidmat. Setelah itu, seketika venue berubah jadi mini bar. Wedding song terbaik kini dinyanyikan dan beberapa bartender kemudian sibuk meramu minuman. Beberapa orang menghampiri bar dan beberapa lainnya mengambil minuman sambil menikmati musik selagi bercengkrama dengan tamu undangan lainnya.

Suasana di depan altar terlalu ramai, Hinata memilih menghampiri mini bar. Sasuke mengikuti Hinata dan mengambil jarak satu kursi. Sasuke sebenarnya ingin menunjukkan dirinya dengan jarak yang lebih dekat, berharap Hinata mengenalinya. Ya kan foto Sasuke udah dikirim ke Hinata, masa belum diliat sih.

"Minum apa masnya?" tanya si bartender kepada Sasuke.

"Ahh, yang bersoda saja, tapi tidak terlalu kuat" kata Sasuke kalem sambil melirik gadis di sampingnya yang terlihat menggerak-gerakkan hidungnya yang mulai berair. Sasuke menarik nafas berat dan memutar bola matanya. Tidak lama, ia juga menangkap pemandangan gadis tersebut melepas sepatunya. Ia terlihat tidak nyaman mengenakan sepatu tersebut. Mungkin kakinya sakit, pikir Sasuke

"Mbak manis pengen minum apa nih?" si bartender tersenyum lebar. Rambut pirangnya yang terkuncir membuat Sasuke berpikir yang aneh-aneh mengenai lelaki aneh ini. Ini Shikamaru nggak punya kenalan lain apa? Udah gitu mulutnya gombal banget lagi.

"Ah, bisa aja nih masnya. Jus jeruk aja mas" Hinata membalas dengan senyum lebar menggerak-gerakkan kedua kakinya. Tapi eh? Kok? Di bar? Mesan jus jeruk?

"Oh, ini mbak yang mas Shikamaru bilang untuk disiapin buah-buahan untuk minumannya?" Deidara mulai konek nih.

"Ah, yang bener? Wah, dia bisa semanis itu ya?" Hinata melirik Shikamaru sekilas lalu kembali tersenyum pada Deidara. Hinata memang seramah itu kepada semua lelaki, tidak pernah terbesit dipikirannya bahwa ia sedang dimodusi atau apa. Ia menganggap bahwa semua orang hanya murni ingin berteman dengannya. Sebuah usaha untuk tidak mengulang rasa sakit hati akibat berharap bertahun-tahun lamanya.

"Jeruk California apa jerus Yuzu nih, Mbak?" Deidara memberi pilihan. Iya, terkadang pilihan memang ada, kitanya aja yang nggak pernah dipilih.

"Yang mana enaknya aja deh Mas"

"Mbaknya lagi flu?" tanya Deidara sambil menyiapkan minuman untuk Sasuke.

"Nggak mas, ini AC-nya kayak dingin banget gitu" Hinata meraba hidungnya sambil menangkap sosok Sasuke di sampingnya. Lelaki itu menggunakan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja abu-abu di dalamnya, dua kancing atasnya dibiarkan terbuka memperlihatkan collarbones secara samar.

"Temennya Shikamaru ya?" Hinata bertanya dengan ragu.

'Nah'

"Hm.." dijawab anggukan tanpa tatapan mata oleh Sasuke. Yah, Hinata sudah terbiasa dengan tipe kelakuan manusia seperti ini. Tanda-tida tidak ada ketertarikan, yasudah. Kan cuma pengen ngobrol aja.

"Tapi kok nggak pernah keliatan ya?" Hinata cukup tau lingkaran teman-teman Shikamaru dan yang satu ini memang nggak pernah keliatan.

'What? Jadi dia nggak apa-apa tentang orang yang bakalan jadi suaminya?'

"Baru tinggal disini beberapa minggu yang lalu" Sasuke menenggak minumannya.

"Emangnya dari mana?" Hinata penasaran. Ya kan biar sekalian ada temen ngobrol.

"Luar negeri" jawabnya singkat.

'Yaelah, pantes songong. Pasti kriteria ceweknya tinggi banget nih' kadang kita mirip Hinata kalo ngeliat cowok ganteng, pikirannya tuh duh beruntung banget deh cewek yang jadi pacarnya or jodohnya si abang ganteng tapi pasti ceweknya kaliber tinggi juga. Debu jalanan mah dilarang ngarep.

"Dicariin juga..." Gaara tiba-tiba datang menghampiri sambil memasangkan jas marunnya di bahu Hinata.

"Udah tau ruangan ber-AC, masih pake baju tipis gini" gerutu Gaara menyentuh bahan blues Hinata yang memang sangat tipis.

"Thank you, Babe."

Babe?

"Pacar Mbaknya nih? Dipanggil babe, yah, kecewa nih saya" Si Deidara menggoda.

Drrrttt drrrt drrrttt

iPhone Gaara bergetar, panggilan masuk dari Mama. Ini cowok-cowok pada anak Mama semua kan jadi makin manis gitulooo.

"Ya, Ma.." Gaara kemudian menjauh untuk berbicara dengan ibunya.

Sementara itu, Hinata memutar kepalanya ke sebelah kiri menangkap pandangan sosok lelaki tinggi yang sedang menikmati minumannya dengan menatap kosong pada gelas minumannya. Sekali lihat bisa langsung ditarik kesimpulan bahwa cowok lelaki di sampingnya ini gantengnya gak manusiawi. Rambut hitamnya terlihat lembut, hidung mancungnya, bibir tipis, leher dan bahu kokoh dan lengan yang kekar. Kalau dilihat-lihat lagi, di jari manis lelaki ini belum ada tanda-tanda cincin pernikahan yang melingkar. Jangan-jangan masih available nih-

"Udah minumnya? Balik yuk, Mama nyuruh balik" Jujur, tadi Gaara merasa tidak nyaman dengan sosok Deidara sejak ia menggoda Hinata. hmm yang digodain siapa, yang salting siapa.

"Kamu duluan aja, ntar aku pulang sendiri" Hinata menepuk pelan bahu Gaara.

"Oh yaudah" sosok Gaara menghilang.

Lagi-lagi dunia menyisakan Hinata dan Sasuke di mini bar. Sebenarnya banyak orang kok, cuma ntah kenapa serasa Hinata merasa bahwa hanya ada dia dan si ganteng di sebelah ini.

"Namanya siapa?" Hinata turun dari tempat duduknya, mengenakan sepatu merahnya, lalu mengulurkan tangannya mengajak Sasuke berkenalan. Sasuke memandang sekilas tangan kecil Hinata lalu menatap wajah si empunya tangan seakan bertanya 'kok random banget jadi orang'.

"Ah, siapa tau aja bisa ketemu lagi kan..." kata Hinata ragu lalu menurunkan pelan tanganya. Salaman aja ditolak. Untung sudah terbiasa kecewa.

'manusia batu'

"Sasuke. Uchiha Sasuke" Sasuke segera meraih tangan yang ditarik dengan kecewa.

"Sasuke?"

'kayak pernah denger'

.

.

.

Hari ini kediaman Hyuuga agak rusuh. Hiashi dan Hikaru benar-benar menyiapkan segalanya untuk pertemuan pertama perjodohan anak sulung mereka. Hiashi lengkap dengan setelan jas yang terlihat elegan, sementara Hikaru tampil dengan anggun menggunakan setelah formal berwarna cream. Hinata?

"Hah... pada akhirnya, kita memang selalu diperbudak kehidupan" ucapnya menyisir rambutnya yang dibuat terlihat wavy.

Hari ini ia mengenakan terusan hitam selutut tanpa lengan. Hari ini biar bagaimanapun, ia harus tampil anggun dan cantik. Demi harga diri dan demi diri sendiri juga sebenarnya.

Dengan malas ia memasuki mobil yang dikemudikan oleh ayahnya. Ia memilih mendengarkan musik melalui earphone putihnya. Jujur, serasa tidak ada apapun yang terdengar di telinganya. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan pertemuan hari ini.

"Ayo dong, sayaanngg..." Nyonya Hyuuga menarik lengan anaknya agar lebih bersemangat sedikit. Hinata terus saja memandang ke bawah, hingga tidak sadar kepada siapa Ibunya membimbingnya.

"Heeeii...ini Hinata yaaa" perempuan berambut dan bermata hitam, berdiri menyambutnya dengan senyum hangat.

"Hei, Tante.." Hinata menyambut cipika-cipiki si calon mertua. Untungnya Hinata anak sopan, sejelek apapun mood, kalau disapa orang tua, ya harus memberikan perlakuan yang baik dong.

"Ayo duduk" kemudian si calon mertua mempersilahkan calon menantunya duduk di kursi yang membuatnya berhadapan dengan-

Sasuke.

"EH?" Hinata kaget dong.

"A-I-itu-ya-ng, kan-a" tuh kan, auto goblok jadinya.

"Wah, kalian sudah kenal ternyata?" Hikaru memandang tanda-tanda datangnya kabar baik.

"Semalam kami bertemu di pesta pernikahan Shikamaru, Tante" Sasuke menjawab sopan.

"Ma-maksudnya..."

Kemudian dua keluarga berbincang haha hihi. Sedangkan dua calon mempelai hanya saling memandang, rada kaget, mau memulai pembicaraan rada keki. Hinata ingat, ia segera membuka isi tasnya untuk mengambil amplop yang selalu ia bawa kemana-mana tapi tidak pernah dibukanya, iya amplop berisi foto Sasuke. Hinata mengeluarkan foto pertama lalu menarik nafas berat. Ia kemudian meletakkan foto tersebut di meja. Orang yang ada di foto adalah orang yang kini duduk santai di hadapannya. Confirmed.

"Baru liat ya?" Sasuke bertanya dengan nada meremehkan.

"Aahh, ini tante yang ngirimin fotonya loh, ini foto Sasuke yang paling bagus menurut tante" hmmm, calmer nyeletuk.

"Jadi bagaimana?" Fugaku kembali ke topik.

"Pernikahan akan terjadi jika keduanya sepakat" Hiashi memandang Hinata, berikut semua mata yang ada di meja pertemuan ini.

"Setuju" ucap Sasuke cepat dan singkat sambil menatap Hinata dalam-dalam.

"Waaahhhhh" Mikoto jelas senang sekali, yang lainnya tersenyum.

"Setuju" Hinata pun menjawab mantap dan membalas tatapan Sasuke ragu-ragu. Argumen hatinya terlalu kuat menyuarakan bahwa lelaki di hadapannya ini menyembunyikan sesuatu di balik pernikahan ini.

Pertemuan keluarga selesai. Keempat orang tua berjalan di depan, menyisakan Sasuke dan Hinata yang berjalan pelan di belakang.

"Kenapa setuju?" tanya Hinata akhirnya memulai.

"Memangnya tidak boleh?"

"Kamu bukan tipe orang yang gampang menerima sesuatu yang disarankan oleh orang lain" jawab Hinata mantap.

"Tahu darimana?" Sasuke tersenyum licik.

"Intuisi?" jawaban ragu-ragu.

"Kita perlu bertemu besok. Ada hal yang harus diluruskan" kata Sasuke melepas jas hitamnya dan menyerahkannya pada Hinata.

"Pake ini, dan besok dibawa"

.

.

.

To Be Continued.

.

.

.

I'll see you next chapter. RnR yaawwh