JEALOUSY
Hari sabtu yang ditunggu oleh Mark dengan tidak sabar akhirnya tiba, lelaki itu bangun pagi-pagi kemudian bermain bersama anjing peliharaannya kemudian dengan senang hati menyiram tanaman.
Tentu saja hal itu sangat aneh dimata ayah Mark, anaknya itu sangat sulit dibangunkan saat hari libur tapi dia maklum hal itu karena anaknya sudah rajin belajar hingga malam selama lima hari setiap minggunya. Tapi ini sangat aneh, apakah anaknya mulai gila karena tidak berhenti tersenyum sejak satu jam lalu?
"Mark, mau sarapan apa hari ini?"
"Apa saja ayah, aku akan makan apapun hari ini dengan senang hati" Nah kan dibilang Mark ini sangat aneh, padahal setiap pagi dirinya selalu merajuk hanya mau makan roti dengan selai kacang dan susu vanilla. Iya, Mark disekolah yang terlihat tampan, berkarisma dan tenang itu kalau sudah dirumah akan menjadi sosok anak 17 tahun pada umumnya, manja.
"Mark ayo ceritakan pada ayah apa yang sebenarnya terjadi padamu? apa ayah harus membawa mu ke psikiater?" Mark tertawa sangat keras dan cukup lama, membuat ayahnya meraih ponsel untuk menghubungi psikiater ternama di Korea.
"Ayah aku baik-baik saja okay, jangan melakukan hal yang aneh" Mark berusaha meredakan tawanya dan dihadiahi tatapan 'apa benar kau baik-baik saja' dari ayahnya.
"I'm okay dad. Akan ku ceritakan supaya ayah jangan kebingungan" ayahnya memposisikan diri duduk dimeja makan dengan tenang siap mendengarkan kisah menarik dari anaknya ini, ya hubungan mereka sangat dekat dalam urusan berbagi kisah seperti ini karena mau bagaimanapun mereka cuman hidup berdua jadi sudah seharusnya mereka berbagi segala hal.
"Jadi sore nanti aku akan berkencan dengan orang yang aku suka, namanya Na Jaemin" Ayahnya mengangguk sebagai tanda sedang mendengarkan walau tangannya sibuk mengolesi roti dengan selai kacang.
"Ini pertama kalinya aku akan bertemu dengannya diluar sekolah, pertama kalinya aku akan berbincang dengannya, pertama kalinya ..." Mark berucap panjang lebar membuat ayahnya tersenyum bahagia, jagoannya kini sudah dewasa dan mulai mencari kebahagiaannya sendiri.
"Tapi ada satu hal yang membuatku sedih"
"Apa itu Mark?"
"Haechan, orang yang membantuku untuk bisa dekat dengan Jaemin"
"Ada apa dengannya?"
"Karena Jaemin susah untuk diajak keluar berdua denganku akhirnya Haechan memutuskan untuk ikut bersama kami, tapi bagaimana jika aku dan Jaemin asik berbincang sementara dia terlupakan?"
"Hmm rumit juga kalau kalian bertiga seperti itu, bagaimana jika mengajak teman yang lain? Jungwoo misalnya"
"Ayah, Jungwoo sangat benci untuk bertemu dengan orang yang tidak dikenal, aku tidak ingin menambah masalah dan juga temanku yang lain sibuk dengan pacar mereka sendiri"
"Karena begitu ayah rasa kau harus lebih peka lagi nanti biar si Haechan itu tidak merasa ditinggalkan tapi jangan lupa untuk fokus pada pendekatanmu dengan Jaemin"
"Baiklah ayah! ayah memang yang terbaik!" Mark berucap dengan senang kemudian mulai memakan rotinya yang sempat terabaikan.
"Tapi ayah, aku penasaran bagaimana ayah dan ibu dulu bisa berpacaran"
Sang ayah tersenyum menatap foto mendiang 'istri'nya yang begitu cantik, tidak terasa sudah enam tahun dirinya ditinggal berdua bersama Mark.
"Dulu ayah dan ibu berkenalan di Gereja. Akhirnya kami semakin dekat karena kegiatan yang diadakan di Gereja dan kami berdua sangat aktif mengikutinya, tapi yang lucu adalah dulu ibumu menyukai teman ayah. Entah bagaimana dengan proses yang panjang akhirnya kami yang jadian, sungguh ayah sendiri heran hal itu bisa terjadi. Mungkin kami berdua memang sudah ditakdirkan"
Mark menatap ayahnya dengan sedikit sedih, tentu saja dia merindukan sosok ibunya yang sangat lembut dan hangat tapi dia tau betapa rindu dan sakit yang ayahnya rasakan setelah kepergian sang ibu. Satu fakta lain yang tidak diketahui teman-temannya.
Pikiran tentang ibunya kemudian berganti menjadi adegan beberapa hari lalu tentang Haechan yang meminta Mark agar tidak menyukai dirinya. Tidak mungkin kan tiba-tiba dia menyukai Haechan?
.
.
.
"Ayolah senyum Na, jutek sekali sih. Mark pasti akan sedih kalau melihat ekspresimu seperti ini" Haechan lelah memaksa Jaemin sejak pagi tadi hingga akhirnya mereka duduk dengan nyaman di kedai es krim favorit mereka sejak dulu.
Bagaimana Jaemin tidak kesal, Haechan sudah menceritakan tentang niatan Mark yang ingin mendekatinya tapi seperti kata Lucas, Mark bukanlah style seorang Na Jaemin.
"Lihatlah sudah 15 menit berlalu aku pikir dirinya benar-benar lupa, aku lebih baik pulang saja Chan. Menyebalkan sekali lelaki itu, bahkan pertemuan ini kau yang berinisiatif untuk melakukannya"
"Jaemin-ah sekali sajaa, jika Mark benar-benar mengacau kali ini aku akan membuat dia menjauhimu"
"Hei Lee Haechan, kau bodoh? kau menyukainya tapi kau membantunya mendekatiku? ayolah aku tau kau sangat sedih jadi mari kita pulang"
"Na, aku lebih sedih lagi jika kau meninggalkan tempat ini sekarang juga. Biarkan Mark memulai hm? Lupakan tentang perasaanku, aku hanya pengecut" Jaemin menyerah, dia tidak suka dengan posisinya sekarang ini tapi dia tidak tahan melihat wajah memelas Haechan yang sangat menyedihkan membuat hatinya sakit. Sungguh iya sangat menyayangi Haechan dan tidak mau membuat anak itu bersedih jadi dia putuskan untuk tetap duduk dengan tenang.
Lima menit pun berlalu, terdengar bunyi lonceng dari pintu masuk kedai yang menandakan ada orang yang datang. Haechan melihat dengan semangat berharap Mark yang datang dan tentu saja benar, lelaki itu datang dengan tergesa sepertinya bahkan dia terlihat kesusahan bernapas.
Jaehyun sang pelayan kedai pun keheranan dan mengucapkan salam dengan mengamati Mark dari atas ke bawah memastikan anak ini bukan kabur setelah mencuri sesuatu kemudian dikejar warga.
"Maaf aku terlambat" Mark tertawa canggung dan menggaruk kepalanya, sungguh jika saja dompetnya tidak tertinggal di bus dirinya tidak akan selama ini dan dirinya sangat yakin ekspresi wajah Jaemin menunjukkan lelaki itu sangat kesal sementara Haechan menyambutnya dengan senyuman manis membuat Mark sedikit lebih tenang.
Setelah duduk ketiganya pun hanya terdiam, kedai yang hanya berisi mereka bertiga dengan dua pelayan terasa sangat menyesakan seolah tempat ini memang sengaja dipesan untuk mereka bertiga.
Haechan yang tidak bisa berada dalam suasana ini pun bangkit meninggalkan mereka dengan beralasan untuk memesan es krim, walau sedikit diprotes oleh Jaemin tetap saja Haechan tetap pergi.
"Hyung aku mau pesan"
"Aku ingin bertanya padamu, apa Jaemin dan lelaki itu sedang memperebutkan dirimu ya? Suasana antara mereka sungguh mengerikan, benarkan Jaehyun?" Taeyong salah satu pelayan lainnya yang terlihat penasaran dengan sosok Mark, tentu saja ia mengenal Jaemin dan Haechan yang sudah menjadi pelanggan tetap. Biasanya mereka akan melihat sosok Lucas namun kali ini digantikan dengan sosok lelaki bule yang cukup tampan.
"Ayolah hyung itu tidak mungkin, tidak bisakah kalian tatapan penuh cinta dari Mark ke Jaemin. Aku mengatur pertemuan ini agar mereka bisa lebih dekat"
"Serius? aku pikir Mark seperti calon pacarmu yang akan diwawancarai oleh Jaemin sebagai sahabat yang menjaga dirimu agar tidak disakiti oleh Mark" Jaehyun dan Taeyong tertawa membayangkan pemikiran Jaehyun yang sangat absurd membuat Jaemin dan Mark menatap mereka dengan heran.
Saat Haechan memesan tadi, Mark mulai mengambil kesempatan untuk berbicara dengan Jaemin. Dirinya berusaha agar ekspresi masam yang ditunjukkan Jaemin setidaknya bisa berubah tapi tetap saja seperti itu.
"Jadi ..." Belum sempat Mark menyelesaikan kata-katanya Jaemin sudah menyelah dengan nadanya yang terdengar jelas bahwa dirinya sangat malas menghadapi sosok Mark.
"Haechan sudah menceritakan semuanya padaku, tidak usah berkata panjang lebar, dan langsung saja apa yang ingin kau ketahui dari ku? kau mendekatiku supaya mengenalku kan? aku beri kau waktu untuk bertanya"
Mark berusaha sabar, tidak menyangka kalau sosok Jaemin yang gemar pamer senyuman manis disekolah aslinya adalah sosok yang sangat dingin, apakah ini hanya terjadi pada Mark dirinya sendiri juga tidak tau.
"Bolehkan aku menyukaimu?"
"Boleh saja, itu semua terserah kau. Tapi aku sangat membenci orang yang menggangguku"
"Tenang aku akan mendekatimu dengan perlahan, aku tau kau butuh waktu"
Didalam hatinya Jaemin sedang mencibir Mark dengan segala perkataannya itu, serius Jaemin itu senang menggombal dan berkata manis tapi mendengar hal itu dari sosok Mark membuatnya berpikir kembali bahwa orang yang sering berkata manis apa terlihat menjijikan? Bahkan jika Lucas ada disini dan mendengarkan kalimat tadi, mungkin Mark sudah jadi bahan olokan sampai seminggu lamanya.
Tak lama pun Haechan kembali datang membawa tiga mangkuk es krim. Untuk Jaemin sih dirinya sudah tau apa rasa favoritnya sementara untuk Mark dirinya asal saja memilih rasa pisang.
Handphone milik Jaemin pun berbunyi, baru saja Haechan dan Mark ingin melirik siapa yang menelpon Jaemin, lelaki itu langsung dengan cepat mengangkat handphonenya dengan wajah yang sedikit lebih ceria.
".. baiklah kalau begitu"
".. iya aku kesana, tunggu sebentar ya"
Mark berani bersumpah Jaemin sangat manis saat menjawab telepon tersebut, wajah cantiknya sangat indah dengan suara merdunya. Apakah Mark sudah menjadi bucin Na Jaemin?
"Siapa Na?" Haechan penasaran sejak kapan juga sahabatnya menjawab sebuah panggilan dengan selembut itu, apa itu panggilan dari Yang diatas? Oh tolonglah Haechan sadarkan dirimu.
"Maaf aku harus pergi sekarang, terserah kalian berdua mau berbuat apa. Sungguh ini sangat penting" Jaemin segera berlari dengan membawa es krimnya serta es krim milik Haechan yang dihadiahi teriakan penuh protes. Mark hanya terdiam, selesai sudahkah kisah cintanya?
"Ini es krim untukmu, gratis" ucap Jaehyun sambil memberikan es krim favorit Haechan lagi.
"Mau bagaimana lagi, kalian nikmati saja waktu berdua. Mungkin Haechan bisa memberikan informasi lain tentang Jaemin supaya kau tidak mengacau seperti barusan Mark" Nasihat Jaehyun ada benarnya juga dan akhirnya sore itu dihabiskan dengan acara mari membahas Na Jaemin, walau Haechan harus menahan rasa sakit hatinya.
.
.
.
"Padahal sudah ku bilang aku bisa sendiri"
"Tidak Chan, bagaimana bisa aku membiarkanmu pulang malam seperti ini sendirian dan aku juga ingin melihat rumah pujaan hatiku, Na Jaemin"
Haechan kalau mau menangis dia sudah bisa menangis sejak berjam-jam lalu saat Mark datang ke kedai dan hanya fokus menatap Jaemin seorang dengan tatapan memujanya. Haechan berusaha untuk merelakan lelaki itu tapi tetap saja ini sangat sakit.
Selama berjalan pun Haechan hanya terdiam dan menunduk, didalam otaknya berusaha memutar lagu NCT Dream - Walk You Home yang sesuai dengan keadaannya saat ini, yah walaupun kisahnya tak seromantis lagu itu tapi hei tetap saja Mark mengantarnya pulang.
Tanpa Haechan sadari Mark terus menatap wajahnya dengan pandangan yang sulit diartikan entah apa yang ada dipikiran anak itu. Mark pun sesekali tersenyum kecil karena melihat wajah Haechan yang seperti sedang merajuk.
"Nah sudah sampai kau bisa pulang dan yang didepan itu rumah Jaemin" Haechan menjelaskan dengan malas, serasa hari ini dia menjadi ensiklopedia berjalan yang khusus membahas Na Jaemin. Haechan butuh Lucas untuk memperbaiki moodnya.
"Maafkan aku"
Haechan sedikit terkejut mendengar perkataan Mark, dirinya yang hendak membuka pagar halaman rumahnya pun terhenti. Ketika berbalik Haechan mendapati wajah Mark sedikit tertunduk dengan ekspresi sedih seperti hampir menangis?
"Mark ada apa?" Haechan yang khawatir memegang bahu Mark, walau terasa ada sengatan listrik tetap saja Haechan lebih mengutamakan keadaan Mark sekarang ini.
"Kau pasti tidak nyaman kan, selama berjam-jam aku hanya membahas Na Jaemin. Membuatmu menjawab pertanyaanku tentang Jaemin dan mengabaikan dirimu, padahal yang menemaniku adalah dirimu Lee Haechan"
Mark terdiam sejenak, dirinya menatap mata Haechan dengan lekat. Tanpa sadar air mata Haechan sudah mengalir, sungguh ia sakit hati dengan Mark tapi diperlakukan seperti ini dia merasa sangat spesial walau dia tau hati Mark bukan untuknya tapi Jaemin.
Mark yang mulai panik lalu menarik Haechan ke dalam pelukannya, hatinya merasa sakit melihat sosok itu menangis walau dia tidak tau apa penyebabnya tapi ia yakin dengan pasti dirinya turut andil membuat Haechan menangis.
"Haechan-ah berhentilah menangis hm? aku sungguh tulus minta maaf. Lain kali aku tidak akan mengabaikan dirimu, okay? Nanti akan ku belikan makanan kesukaanmu, jangan menangis lagi ya"
Haechan tertawa dan membalas pelukannya, ia merasa seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Dengan iseng Haechan menggesekkan hidungnya dibahu Mark yang membuat baju lelaki itu basah dengan lendir yang berasal dari hidungnya.
"Kau sangat jorok Haechan! aku pergi!" Mark yang sadar pun berteriak histeris dan memutuskan pergi karena kesal, padahal baru saja ia ketakutan menyakiti anak itu tapi terntaya Haechan menyebalkan.
Namun sepertinya keputusan Mark itu salah besar. Ketika berbalik muncullah dua orang yang sangat ia kenali, Jaemin dan Jeno. Jaemin terlihat tersenyum bahagia begitu pula dengan Jeno yang menunjukkan eyes smilenya, tidak lupa juga tangan Jaemin yang memeluk lengan Jeno dengan mesra.
Mark terkejut tapi dia tidak merasa marah atau cemburu hanya saja dirinya merasa kosong. Jaemin kaget setengah mati melihat Mark dan juga Haechan yang seperti habis menangis, Jeno sendiri hanya tersenyum miring sambil memandang Mark. Sepertinya dia merasa telah menang dari lelaki bule itu.
"Oh jadi ini yang dibilang cinta segi empat" Jisung dan Chenle yang sedang mendorong sepeda tidak jauh dari rumah Jaemin dan Haechan memilih tetap diam tidak mencoba menjauhi atau mendekati keempat orang tersebut.
"Jisung mau bertaruh dengan ku?"
"Kalau hadiahnya ciuman aku mau"
"Heh! Ayolah menurutku Jaemin dan Haechan akan bermusuhan"
"Percayalah tidak akan, yang ada mereka berdua cakar-cakaran dikamar terus dipisahkan oleh Lucas dan besoknya Jaemin akan protektif bagaikan sosok ibu pada Haechan"
"Kalau kau salah, kau harus menjadi babu ku Jisung-ah"
"Kalau kau salah, kau harus menciumku Chenle-ah"
Sementara itu Lucas sedang asik mengunyah keripik kentang sambil memandang orang-orang dibawah, ya dia sedang bersantai dilantai dua rumahnya malah disuguhi drama tengah malam.
"Sungguh menarik"
.
.
TBC
