Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
.
OOC. Typo. Dan segala bentuk ketidakenakan saat membaca tulisan ini (?)
.
.
.
Mind to review?
.
.
.
.
.
[Kakashi Hatake POV]
"Bagaimana?" aku bertanya pada seorang yang sedang memeriksa berkas-berkas di tangannya.
"Seperti kesimpulanmu tadi," jawab Obito seraya membolak-balikkan berkas-berkas itu.
"Maksudmu?" tanyaku.
"Motifnya memang bukan uang sepertinya. Apa kau pernah ingat ada kasus seperti ini dua tahun yang lalu? Bukan di Konoha, tapi di daerah Suna?" tanya Obito.
"Apa? Kasus yang mana?" tanyaku bingung. Obito menatapku dengan tatapan tak percaya.
"Aku tidak percaya para wartawan itu menjulukimu sebagai penegak keadilan nomor satu di kota ini. Bukankah kau yang meceritakannya padaku hal itu?" Obito setengah kesal menjawab pertanyaanku.
Aku terdiam, setengah berpikir.
"Oh... Apakah yang pelakunya adalah orang bernama bernama Danzo itu? Perampok nomor satu yang paling pandai menyamar dan mengendalikan orang-orang itu? Orang yang sangat dendam dengan polisi itu?" tanyaku dengan nada tak yakin.
"Benar. Itu dia yang aku maksud," sahut Obito.
"Tapi bukankah dia sudah ditangkap saat itu juga? Saat kejahatannya mulai terbongkar?" tanyaku.
"Apa kau tidak tahu kalau dia berhasil melarikan diri?" kata Obito.
"Apa? Benarkah? Kapan itu?"
"Dua bulan yang lalu," jelas Obito.
"Apa tujuan orang itu keluar dari penjara dan membuat keributan lagi? Apakah dia idiot? Sudah keluar dari penjara bukannya bersenang-senang, malah memancing ingin ditangkap lagi," kataku.
"Kau tahu sendiri, Danzo sangat dendam pada polisi. Dia tidak segan-segan melibatkan orang-orang tidak bersalah untuk membalaskan dendamnya pada polisi. Dia bahkan pernah mengacaukan sistem kerja kepolisian Suna dengan meletakkan bom-bom di beberapa daerah, untuk sekedar membuat polisi menyerah padanya," Obito menjelaskan panjang lebar seraya masih sibuk dengan berkas-berkas di tangannya.
"Aku seharusnya tahu kalau orang yang sedang kita hadapi ini adalah seorang psikopat. Lalu, apakah ketua kawanan perampok yang sering beraksi di kota akhir-akhir ini adalah Danzo itu?" tanyaku.
"Sepertinya begitu. Ada surat ancaman setiap kali perampokan itu terjadi. Surat ancaman yang berisi kode, tempat berikut yang akan jadi sasaran para perampok-perampok itu. Cara kerja Danzo sebelumnya juga seperti itu," jelas Obito lagi.
"Benar-benar orang yang merepotkan," aku menghela napas lagi.
"Semua orang mengandalkanmu, Kakashi. Mereka percaya kau bisa memecahkan kode-kode yang dikirim Danzo pada mereka," kata Obito. Aku mengangguk mengerti.
"Aku akan memastikan diriku sendiri untuk segera memecahkan kasus ini. Omong-omong, bagaimana perkembangan hubunganmu dengan teman SMA kita dulu itu?" tanyaku, seraya memukul lengan Obito keras. Obito meringis kesakitan.
"Teman kita yang mana?" tanyanya.
"Mau mengelak? Yang namanya Rin. Jangan bilang kalau kau tidak mengenal gadis itu," kataku dengan senyum menggoda.
Aku lihat Obito semakin salah tingkah. Wajahnya mulai memerah. Tapi sepertinya dia berusaha membuatnya sewajar mungkin.
"Oh, dia... Kami baik-baik saja," sahutnya kemudian.
"Bukan itu yang ingin aku dengar. Apa kau sudah menyatakan perasaanmu padanya?" tanyaku dengan nada mendesak. Obito menoleh ke arahku dengan pandangan penuh tanya.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
"Haah, kau ini. Kau pikir aku tidak tahu? Kau menyukainya dari dulu 'kan?"
Skak mat! Bingo! Obito terdiam. Aku lihat dia membuka mulutnya untuk membantah, tapi tidak ada kata-kata yang keluar setelah itu. Aku memandangnya, tidak mengatakan apa-apa. Menunggunya membantah perkataanku. Setelah aku rasa, sepertinya dia tidak akan bilang apa-apa, aku tersenyum lebar.
"Bodoh. Jangan menampakkan ekspresi wajah seperti orang frustasi begitu. Cepat katakan padanya, sebelum semua terlambat. Sebelum aku duluan yang merebutnya," kataku sekenanya.
Obito kembali menatapku dengan pandangan kaget. Aku tertawa geli melihat reaksi kagetnya.
"Bercanda. Untuk urusan kriminal seperti ini, kau selalu nomor satu. Tapi untuk urusan perasaan, kau bahkan lebih payah dari aku," kataku.
Obito hanya terdiam, tanpa membantah perkataanku. Masih menyibukkan dengan berkas-berkas di tangannya. Aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan menuju ruanganku sendiri. Aku menghela napas panjang saat berjalan menuju ruanganku.
Aku tidak percaya aku bisa bekerja satu tim dengan Obito Uchiha, teman semasa SMA-ku yang pernah menghilang beberapa tahun dalam kehidupanku. Teman terdekatku yang pernah menyelamatkan nyawaku dalam peristiwa kebakaran sekolah beberapa tahun yang lalu. Temanku yang sangat berharga. Teman yang akan aku jaga sampai kapanpun, walaupun itu berarti aku harus rela mengorbankan perasaanku. Tidak masalah kalau aku harus mengalah demi Obito untuk masalah perasaanku sendiri pada Rin.
Aku memasuki kantor sambil bersiul pelan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[Uchiha Sasuke POV]
Aku melihatnya berlari-lari dengan tergesa-gesa melewati beberapa orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Gadis berambut pendek sebahu yang sedang mengenakan mantel merah marun yang sedang berjalan tergopoh-gopoh ke arahku itu adalah Hatake Sakura, pacarku. Tapi aku tidak pernah memanggilnya dengan nama itu. Dia bilang dia lebih suka dipanggil dengan Sakura Haruno, marga ibunya saat masih gadis.
"Maaf, maafkan aku," katanya dengan napas tersengal saat sudah tiba di hadapanku.
"Terlambat lagi. Apa yang kau lakukan, sih?" tanyaku dengan nada setengah kesal. Sakura melempar pandang kesal ke arahku.
"Aku sibuk. Lagipula, kau mendadak sekali mengajakku bertemu di sini," sahutnya.
"Karena aku ingin mengajakmu ke suatu tempat malam ini," jawabku.
"Ke mana? Jangan mengajakku ke tempat yang aneh-aneh," kata Sakura. Aku menatapnya bingung.
"Aku bukan orang seperti itu. Kau ikut saja. Kau pasti menyukainya," aku tersenyum pada Sakura. Senyum yang jarang sekali aku perlihatkan pada orang lain selain gadis di depanku ini. Sakura menatapku dengan pandangan penuh tanya.
"Benarkah?" tanyanya.
"Kau tidak mempercayaiku?" aku balik tanya.
"Baiklah, baiklah. Asal jangan terlalu larut. Kakakku bisa mengomeliku nanti," jawab Sakura seraya merapatkan mantelnya.
"Kakakmu sedang tugas 'kan?" tanyaku.
Sakura melempar pandang penuh tanya ke arahku.
"Darimana kau tahu?"
Aku langsung salah tingkah.
"Kakakmu 'kan polisi, tentu saja dia pasti sibuk sekali. Bukan begitu?" aku mencoba membuat nada bicaraku sewajar mungkin.
"Benar," sahut Sakura. Aku menghela napas lega. Huff... Punya pacar yang belajar di jurusan psikologi serta adik dari seorang polisi, benar-benar membuatku harus ekstra hati-hati dalam berbicara. Aku melihat Sakura merapatkan mantelnya kesekan kalinya.
"Hei, kenapa kau tidak pakai syal? Dan ke mana kaos tanganmu? Di musim dingin begini, kau harus menjaga kondisi badanmu," omelku saat melihat Sakura menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya. Aku meraih tangannya dan melepas salah satu kaos tanganku dan memakaikannya di tangan Sakura.
"Sudahlah, kau pakai saja. Kau pasti sering mellihat drama, jadinya sok romantis begini. Sudah, kau saja yang pakai," Sakura melepas kaos tanganku di tangannya dan menyerahkan padaku lagi.
"Kau bisa kedinginan nanti," aku protes.
"Kau lebih sering sakit dibanding aku. Aku tidak apa-apa kalau hanya kena angin musim dingin seperti ini," kata Sakura.
Sakura berjalan mendahuluiku. Aku melihatnya dalam diam. Kembali teringat kata-kata Naruto beberapa saat lalu.
"Ingat, yang sedang kau pacari itu adik polisi yang sedang memburu kita. Apa kau mau mati? Hah?"
Aku menghela napas panjang. Bukan ini yang aku inginkan. Awalnya aku hanya iseng saja berpacaran dengan gadis ini. Gadis yang sama sekali tidak pernah tersenyum. Gadis yang sepertinya kesepian ini. Aku mencoba mendekatinya, dan teman-temanku bilang, aku akan dapat seratus ribu yen kalau berhasil memacarinya. Dan aku berhasil. Tapi saat aku ingin menjauh darinya, saat aku ingin memutuskannya, keinginan untuk semakin dekat dengannya malah bertambah besar. Aku menyukainya. Benar-benar menyukainya dan tidak ingin meninggalkannya.
Tapi kenyataan lain yang lebih buruk malah sekarang menghampiriku. Aku harus berurusan dengan seorang polisi yang ternyata itu adalah kakak gadis ini. Yang benar saja.
Ponsel di sakuku tiba-tiba berbunyi. Aku merogoh sakuku dan melihat layar ponsel. Ada pesan masuk. Naruto.
Cepat ke sini, bodoh. Ada pekerjaan! Cepat!
Aku menutup ponsel dengan kesal. Kenapa harus sekarang?!
"Ada apa?" Sakura menoleh ke arahku dengan pandangan bingung.
Aku bingung mau menjawab apa.
"Sakura, begini... aku ingin sekali mengajakmu malam ini. Benar-benar ada tempat yang ingin aku datangi bersamamu. Tapi... Bagaimana kalau kita..."
"Apa kau ada pekerjaan mendadak lagi?" Sakura menatapku. Kedua mata hijau emerald-nya menatapku dengan tatapan polos. Aku tahu ada segurat rasa kecewa di tatapan mata itu. Tapi dia bisa menyembunyikannya dengan baik.
"I-iya," jawabku.
"Baiklah, tidak masalah. Kita bisa lain kali ke sana," kata Sakura seraya tersenyum ke arahku.
"Tapi, aku sudah—"
"Pekerjaan itu lebih penting 'kan? Pergilah."
Aku menatap Sakura tanpa bisa berkata apa-apa. Ponselku mulai berbunyi lagi.
"Pergilah. Kau sudah ditunggu 'kan?" Sakura mengerling ke arah ponselku.
Aku mengangguk mengerti.
"Lain kali aku benar-benar akan membawamu ke sana. Aku.. aku pergi dulu," kataku.
"Emm. Selamat bekerja, ya?" Sakura melambaikan tangan ke arahku.
Aku mengangguk ragu sebelum akhirnya aku berlari ke arah yang berlainan dengan Sakura.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[Hatake Kakashi POV]
"Bagaimana? Kau bisa memecahkannya?" Obito mendatangiku saat aku sedang berusaha memecahkan kode yang datang ke kepolisian pusat malam ini.
"Beri aku waktu," kataku dengan nada datar.
Aku kembali mencermati kalimat-kalimat yang tertulis di kertas yang aku pegang.
Saat bulan ada di puncaknya, aku akan datang lagi untuk merebut kekuasaanku kembali. Dinding kota Konoha adalah tujuanku selanjutnya. Temukan aku. Di sekitar taman bunga yang dipenuhi duri.
Aku menangkupkan kedua tanganku di atas meja sambil terus memandangi kertas di hadapanku.
Saat bulan di puncaknya? Apa maksudnya? Dinding kota Konoha? Taman bunga yang dipenuhi duri? Apa di kota ini ada taman bunga? Seingatku tidak ada. Yang jadi masalah adalah, apakah kali ini yang diincar adalah bank lagi atau tempat yang lain?
"Apa menurutmu, kali ini yang diincar adalah bank lagi?" tanya Obito, sambil menuangkan kopi di cangkirku dan menyerahkan padaku.
"Terima kasih," aku menerima cangkir kopi itu. "Belum pasti. Apa kau pernah melihat ada taman bunga yang dikelilingi kawat berduri di kota ini?"
Obito kelihatan berpikir.
"Tidak. Aku belum pernah melihat yang seperti itu," jawabnya kemudian.
"Benar 'kan?" aku melihat melewati bahunya. Sebuah kalender yang tergantung di dinding ruangan itu. Seketika aku mengerjapkan mata kaget.
"Oh! Saat bulan di puncaknya... Bukankah setiap tanggal 15 selalu terjadi bulan purnama, di mana bulan berada di posisi paling sempurna? Ya! Saat itulah.. Mungkin saja. Dinding kota Konoha. Di perbatasan kota Konoha, bukankah di sana ada sebuah bank swasta? Aku ingat sekarang. Dan taman bunga itu penuh duri itu adalah... Bunga adalah istilah yang digunakan Danzo selama ini untuk mengganti kata uang 'kan? Penjagaan bank itu sangat ketat, bisa jadi itu adalah arti dari kata 'penuh duri' itu," aku menjelaskan panjang lebar pada Obito. Obito melihatku beberapa saat sebelum akhirnya berkata pada beberapa orang polisi yang ada di situ.
"Utus beberapa orang untuk memata-matai daerah itu! Aku akan mengerahkan yang lain untuk segera mengatur strategi," perintahnya. Beberapa orang polisi segera bergegas sesaat setelah Obito memerintahkan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[Sasuke Uchiha POV]
Aku melepas semua peralatan menyamarku dengan napas tersengal. Aku mengusap peluh di dahiku dengan ujung kaosku. Aku lihat Naruto juga masih tersengal-sengal di sampingku. Kami sampai di flat kami dengan dada masih berdegup kencang karena kami berlari cepat sekali malam ini.
"Hampir saja," katanya. Dia segera melepas wig-nya dengan buru-buru.
"Malam ini terpaksa kita tidak dapat jatah apa-apa," kataku.
"Kau bodoh! Kenapa pakai mengeluarkan pisau segala?" Naruto menggerutu kepadaku.
"Aku hanya menggertak saja," elakku.
"Tapi kau menarik perhatian mereka. Dan mereka langsung menghubungi polisi sebelum kita bisa melakukan pekerjaan kita," kata Naruto kesal.
"Lalu aku harus bagaimana? Aku juga terdesak tadi," sergahku.
"Kau terlalu gegabah, bodoh. Aku tidak bisa percaya. Kita akan makan apa besok kalau begini?" Naruto terduduk di sampingku dengan muka memelas.
Aku terdiam. Aku menunduk memandangi kedua kakiku. Malam ini benar-benar melelahkan.
"Naruto... aku ingin berhenti dari semua ini," kataku kemudian. Naruto menoleh cepat ke arahku.
"Apa? Apa maksudmu?" dia menatapku dengan pandangan penuh tanya.
"Aku tidak ingin hidup seperti ini. Seperti orang bodoh saja. Setiap malam harus lari dari kejaran polisi," jawabku.
"Tapi 'kan– "
"Aku tahu. Tidak mudah untuk keluar dari organisasi ini. Aku tahu, kita sudah terlibat terlalu jauh. Tapi... aku ingin benar-benar berhenti dari ini," kataku.
"Hei, Sasuke. Apa kau sakit? Kau 'kan yang mengajakku masuk organisasi ini. Lagipula, sejauh ini, kebutuhan hidup kita sudah terpenuhi dengan masuknya kita ke organisasi ini," Naruto berujar sambil berdiri dan membuka sebotol kaleng minuman soda di meja.
"Ibuku pasti akan menangis di surga kalau melihatku seperti ini," kataku sedih.
"Apa pada akhirnya gadis itu tahu kalau pacarnya ternyata adalah seorang perampok?" tanya Naruto tiba-tiba. Aku menoleh dengan cepat ke arahnya.
"Jangan bodoh. Itu tidak akan terjadi. Aku akan menyelesaikan urusan hutang ini dan keluar dari organisasi, dan memulai kehidupan yang tenang dengan Sakura. Kalau tidak gara-gara kebiasaan main game-mu yang berlebihan itu, kita pasti sudah bisa tinggal di apartemen mewah dengan uang sebanyak itu," kataku seraya melemparkan bantal ke arah Naruto yang sedang meneguk minumannya. Aku kesal sekali dengan bocah ini.
"HEI! Aku sedang minum. Apa kau tak lihat?" Naruto berseru ke arahku dengan kesal. Aku tidak peduli. Dan tiba-tiba ponsel di tanganku berbunyi.
Ada sebuah pesan masuk. Dari Sakura.
"Aku sudah pulang. Kenapa? Apa yang ingin kau bicarakan?"
Aku tersenyum simpul membaca pesan itu.
"Haaa.. Pasti mau pacaran lagi. Membosankan sekali," kata Naruto dengan nada bosan. Dia merebahkan diri di atas tempat tidur dengan kedua tangan memegang bungkusan snack.
"Cerewet. Bukan urusanmu. Hei! Jangan makan di atas tempat tidur. Membuat kotor saja!" omelku. Naruto berdecak kesal.
"Kau yang ceweret! Oh, bagaimana bisa kau dengan bahagia pacaran dengan gadis itu? Aku lihat, dia tipe cewek-cewek sadis yang tidak akan peduli meski orang di sebelahnya sedang sekarat sekalipun. Aku tidak heran kalau dia akan sewaktu-waktu menamparmu kalau tahu kau berselingkuh dengan seorang wanita lain," kata Naruto seraya makan snack di tangannya. Aku melempar pandang kesal ke arahnya.
"Sakura bukan seperti itu. Jangan sok tahu. Dan aku tidak akan selingkuh, bodoh!"
"Apa saja yang sudah kalian lakukan selama pacaran? Hah? Ciuman pertama kalian bagaimana? Aku ingin tahu. Apa kau bisa mencium seorang gadis?"
Aku melempar pandang kesal ke arahnya.
"Kau! Kau benar-benar mau mati, ya? Cerewet sekali. Bagaimana bisa aku punya sahabat sepertimu?" aku bangkit dari dudukku dan menghampiri Naruto. Aku mengambil bantal dan melemparkannya dengan kesal ke arah Naruto. Aku tidak peduli dia berteriak-teriak kesakitan. Kadang-kadang anak ini benar-benar menyebalkan. Apa dia tidak tahu kalau aku sedang galau? Menyebalkan.
Meskipun dia adalah orang paling bodoh dan menyebalkan di dunia ini, tapi mau tidak mau aku harus mengakui kalau aku sudah terikat dengannya. Kami hidup di panti asuhan yang sama sejak kecil. Nasib kami sama. Orangtua kami meninggal saat kami masih kecil dan harus hidup seadanya di panti asuhan dengan banyak orang. Pengurus di panti asuhan kami adalah seorang wanita jelek dan gemuk dan suka sekali memukul anak-anak yang tidak mau menurut padanya. Kami dilakukan dengan keji dan disuruh bersih-bersih setiap hari.
Saat usia kami cukup dewasa untuk hidup sendiri, aku dan Naruto memutuskan untuk kabur dari sana. Kami berusia tiga belas tahun saat itu. Nasib baik akhirnya menghampiri kami saat kami bertemu dengan seorang laki-laki tua yang membutuhkan pelayan di kedai ramennya. Dia adalah ayah angkat kami, laki-laki tua mesum bernama Jiraiya yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Dia bukan orang kaya, tapi dia memberikan kehidupan layak pada kami.
Saat dia meninggal, akhirnya kami tinggal sendiri lagi. Dan karena kebiasaan bodoh Naruto bermain game yang akhirnya membuat dia kecanduan, dia terjebak dalam hutang yang besar. Saat itulah aku melihat tawaran ini. Meskipun mempertaruhkan nyawa kami, tapi aku pikir kami harus tetap bertahan hidup. Jadi tanpa pikir panjang, aku menerima tawaran ini. Yang sekarang baru aku sesali.
.
.
.
.
.
..
.
.
.
[Kakashi Hatake POV]
Aku mencermati beberapa lembar koran bekas di kantorku malam ini. Aku pilih beberapa koran yang memuat berita yang sama, yaitu tentang kasus yang terjadi dua tahun lalu di Suna yang melibatkan orang bernama Danzo. Aku menautkan kedua tanganku dan menyandarkannya di atas meja sambil terus melihat pada lembaran-lembaran koran yang berceceran di mejaku.
Gambar seorang pria berumur sekitar 40 tahunan yang sedang mengenakan seragam narapidana terpampang jelas pada salah satu koran yang lembarannya mulai menguning di depanku. Aku mendapatkan koran-koran ini dengan susah payah di toko loak di pinggiran Konoha. Aku harus tahu benar-benar kronologis ceritanya sebelum dapat memecahkan kasus ini.
Aku mengambil salah satu koran dan mengangkatnya seraya bersandar pada sandaran kursi di belakangku.
"Danzo, otak dari kejahatan yang marak terjadi akhir-akhir ini dan sempat meresahkan kepolisian Suna dalam waktu 2 bulan ini, akhirnya tertangkap pada Senin malam saat dia melaksanakan aksi kejahatannya. Pria berusia 39 tahun ini berusaha menyandera beberapa anak-anak yang sedang bermain di salah satu taman bermain di kota itu. Motifnya belum diketahui secara pasti. Tapi dalam setiap aksi kejahatan yang dilakukannya, dia selalu menuliskan pesan pada polisi dan menyebut-nyebut "aksi balas dendam pada polisi".
Rentetan kejahatan yang sudah dilakukannya selama kurun waktu 2 bulan ini sempat meresahkan warga kota juga. Perampokan bank dan beberapa perusakan fasilitas-fasilitas umum membuat warga yang tidak terlibat merasa terancam dengan adanya beberapa aksi kejahatan yang dilakukan Danzo."
Aku meletakkan artikel itu dengan desahan panjang. Aku memilih lagi koran-koran di mejaku dan mengambil salah satu. Koran yang lumayan baru. Terbit dua bulan yang lalu. Aku segera membaca salah satu atikel yang menjadi headine utama di koran itu.
"Danzo, penjahat yang diketahui pernah memporak porandakan sistem kepolisian Suna, yang baru beberapa bulan yang lalu dipenjara, diberitakan berhasil melarikan diri dari penjara yang dijaga dengan sistem keamanan yang ketat."
Dia sepertinya benar-benar ingin membuat kepolisian kacau dengan kejahatan semacam ini. Ini bukan hanya kejahatan biasa, tapi dia juga sudah meneror warga kota yang tidak terlibat.
Kurang ajar, aku menggeram kesal seraya melempar koran yang aku bawa itu dengan sembarangan. Koran itu jatuh di bawah kaki meja. Bersamaan dengan itu, ada ketukan halus di pintu kantorku sebelum pintu mengayun terbuka dan seseorang masuk ruanganku.
Obito masuk dan kaget melihat keadaan kantorku yang berantakan ini.
"Obito?" tanyaku.
"Ya ampun, apa yang kau lakukan? Kenapa kantormu berantakan begini?" Obito melihat koran-koran yang berserakan di mejaku itu dengan pandangan penuh tanya. Dia lalu mengambil salah satu dan membacanya.
"Aku tidak punya ide tentang kasus ini," kataku hampir putus asa.
"Jangan menyerah. Bukankah kau suka tantangan? Anggap saja ini tantangan untukmu," kata Obito seraya meletakkan koran itu ke tempatnya.
"Tapi aku tidak pernah dibuat merasa sebodoh kemarin. Sial!" geramku.
"Kau akan bisa berpikir tenang kalau pikiranmu juga tenang. Apa kau mau keluar? Kita makan malam di luar," kata Obito. Aku melirik jam dinding di ruanganku.
"Makan di luar? Tumben kau mengajakku," kataku sambil setengah mencibir.
"Sebenarnya, Rin mengajakku," kata Obito malu-malu.
"Hah, bilang saja kalian mau kencan. Kenapa malah mengajakku?" seruku seraya memukul Obito keras.
"Siapa yang kencan? Kami hanya makan malam biasa," Obito mencoba mengelak. Aku mencibir.
"Kau tidak pandai berbohong di depanku. Dari wajahmu itu aku bisa melihat kalau sampai sekarang kau belum menyatakan perasaanmu pada gadis itu. Benar 'kan?" aku mengacungkan jari telunjukku ke arah Obito.
"Memang belum. Buat apa?" kata Obito.
"Ah, bodoh. Kalau tidak cepat-cepat, aku benar-benar akan merebut Rin darimu kalau begitu," aku berkata sambil tersenyum menggoda.
Obito melempar tatapan protes ke arahku. Aku semakin terkekeh geli.
"Makanya, cepat katakan sana. Aku tidak ikut. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan."
"Hei, Kakashi, apa kau tidak terlalu sibuk dengan pekerjaanmu? Aku tahu kau sangat mencintai profesimu ini. Tapi sekali-sekali pikirkanlah perasaanmu juga. Apa kau tidak mau mencari seorang gadis?" Obito menatapku lekat-lekat.
Aku berhenti dan terdiam untuk beberapa saat.
"Masalah itu... kau tenang saja. Aku akan segera menemukan gadis yang mencintaku. Sekarang kau cemaskan saja dirimu sendiri," kataku kemudian seraya menoleh ke arah Obito dan tersenyum lebar padanya.
"Kau ini..."
"Baiklah, selamat berjuang, ya?"
Aku lihat Obito hanya tersenyum samar ke arahku. Aku lalu segera bergegas keluar dari ruanganku. Aku menghela napas panjang.
Melihat sahabat baik yang aku sayangi menyatakan perasaannya pada gadis yang aku sukai? Yang benar saja. Lebih baik aku dikurung bersama narapidana saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
PS: Akhirnya dilanjut juga. Makasih yang sudah nungguin. Buat yang lagi ujian, semangat ya? Jangan kebanyakan baca fanfic. Fokus ujian dulu aja..
