"Dirimu bagai bulan merah yang berdarah,
yang mati di kala pagi ... ."
~Indonesian Kara.
.
.K-E-D-U-A.
{Ada secarik kertas berlipat tiga yang memancing gemunungan para kata, dari tahun 2015. Kiku terhenyak sebentar, membaca ulang semua berkali-kali sebelum jelas melangkah. Satu katanya, membingungkan; "'Stigma'?"}
.
"Hope"
oleh INDONESIAN KARA.
.
Hetalia - Axis Powers (c) Himaruya Hidekazu, Japan.
Adir & Sopo Jarwo (c) MD Entertainment, Indonesia.
Penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya.
Ditulis berdasarkan pengalaman pribadi dan pemikiran fiksional yang dirasionalkan, serta demi kepentingan amunisi pribadi di kedua fandom yang saling bertolak belakang keadaannya.
.
Rated: T+ (R-15). Genres: Mystery, Drama, Slice of Life. Language: INDONESIAN (Bahasa Indonesia), English, Javanese, Japanese, JavEnglish.
Notes: AU-future sets, implied JapNes in APHxASJ fandom, contained 2P! Hetalia and Nyo! Hetalia and Nyo! 2P! Hetalia in this fic.
ALSO (2): I'm pretty sure that the fic's rate can change everytime. So, stay careful. =w=
.
Arc I/Chapter II:
9 Januari, kedua.
.
...~*o•0•o*~...
"Adelya, 17, ditemukan tewas di halaman belakang dari gedung bertingkat SMAN 3 Wirgantarai pada tanggal 17 Agustus 2015, selepas upacara peringatan HUT RI yang ketujuh puluh.
Korban yang diberitakan masih mengenyam pendidikan di bangku kelas dua belas jurusan IPA di SMAN 3 Wirgantarai ini diperkirakan tewas pada satu malam sebelumnya, tanggal 16 Agustus 2015, terlihat dari darah korban yang mengalir keluar telah mengering dan berwarna merah kecokelatan.
Jenazah korban kemudian dibawa ke RS Sumber Waras yang berada di Kota Semarang untuk diotopsi untuk menentukan sebab pasti kematiannya."
Pukul sebelas lewat empat puluh delapan menit menurut patokan waktu Indonesia bagian barat, Kiku mengusap wajah, dimulai dari area matanya yang telah memerah. Wajahnya menyirat lelah, teramat lelah, seolah tanpa istirahat—dan memang tanpa istirahat sejak pukul lima sore, sebagai jam kepulangan mengantornya tadi.
Huh... .
Masih ada tumpukan berkas yang kira-kira tingginya seukuran empat jari telunjuk-tengah-manis-kelingking tangan yang masih steril, belum dibuka dan dibaca sejak didapatkannya dari Nikolai.
Tangan yang perlahan membuka halaman setiap kertas yang dia lihat perlahan bergetar, berpindah mengusap perutnya yang berbunyi; minta diisi oleh makanan dan minuman. Kiku belum makan.
Namun ia nekat, kembali membaca kertas bertulisan cetak yang sempat terpotong bacanya, mengabaikan lambung dan saluran pencernaan yang menggerung-gerung kesal; berdemo minta hak azasinya sebagai organ tubuh.
'Astaga...'
Baiklah. Melakukan sesuatu dalam keadaan lapar pun juga percuma. Tidak bisa fokus, tidak bisa betul. Hampir tujuh jam berkutat dengan belasan ribu kata yang tertera. Ratusan data yang dicantumkan.
Bermacam informasi yang dirincikan.
Kiku menyerah, memilih keluar dari kamar, menuju dapur. Pertama, dia melirik kulkas, namun teringat sesuatu yang membuatnya semakin lapar: Kulkas itu kosong (dalam sekejap Kiku ingin membuang kulkas itu), hanya ada selusin telur ayam dan tiga botol susu pasteurisasi rasa kopi yang belum dibuka segelnya.
Sedetik, Kiku menaikkan alis, menoleh pada keranjang makanan instan di dekat wastafel.
Jika ia tidak salah ingat, sebulan yang lalu ia sempat membeli dua lusin mi instan untuk jaga-jaga jika dia lembur di rumah. Entahlah sekarang, ingatannya itu benar atau malah salah.
Dengan pasti, Kiku melangkah, dan membuka tutup keranjang makanan instan yang hanya berukuran tiga puluh kali empat puluh lima sentimeter tersebut, dan ingatannya terbukti benar; dia temukan makanan instan yang dia cari.
Dia menuang air ke panci, menumpangkannya di atas kompor, dan menyalakan sedang apinya. Sekali lagi Kiku mengusap wajah, mulai mengantuk.
Akan tetapi gerungan dari perutnya tetap tidak bisa diabaikan, semakin berdemo-demo meminta hak mereka. Kiku mendesah lelah, ingin ia meninju perutnya, jika tidak ingat tentang sekalimatan sederhana yang anak Taman Kanak-Kanak pun tahu apa makna harfiahnya—karena kalimat tersebut memang ditulis dengan makna yang sebenarnya: "ditinju. Itu. SAKIT".
'Nani?'
Samar, Kiku mendengar denting bel sebanyak dua belas kali. Bel dari jam gantung di kamarnya yang beralarm sebagai pengingat.
Kiku mendesah lelah, lagi. Ini tepat pukul dua belas malam, tengah malam, sudah ganti hari, dan dia masih belum mengistirahatkan diri barang tidur untuk satu jam ...,
... Dan sekarang, perutnya kembali menggerung; lapar. Kiku ingat lagi niatnya datang ke dapur. Ia mengambil sebungkus mi instan dari keranjang, membukanya, dan lantas memasukkan mi yang masih padat itu ke dalam panci dengan isi air—tentu saja air tersebut telah mendidih beberapa saat yang lalu.
Di tengah kesibukan (atau tidak) menunggu mi instannya matang, pikiran Kiku terisi oleh satu hal yang sama: Intonia Adelya Sarmuso. Nama dari gadis yang kehidupannya seolah misteri.
Kiku heran, mengapa penyelidik dari berbagai negara terus-menerus gagal dalam menguak fakta bertabirkan misteri dan teka-teki ...
Antara pembunuhan atau bunuh diri ... .
Tssh!
'Oh, shit.' Kiku kaget. Lamunannya buyar ... err, karena kesalahannya sendiri.
Terlalu besar apinya, membuat "kuah" mi yang baru dimasaknya meluber, mengalir ke bagian bawah panci yang dia gunakan untuk memasak mi, dan membuat api kompor "mengamuk".
~.o.~
Lima belas menit, mangkuk kaca dan gelasnya telah tandas, yang isinya telah mengisi perut yang sudah tenang sebab telah terpenuhilah tuntutan mereka kali ini; makan(an).
Ah. Kiku mengusap wajah—entahlah, untuk yang keberapa kalinya hari ini—dan menguap karena sudah mengantuk sedari tadi.
Namun demi melihat seempat jari dokumen dan berkas yang belum dia telusuri, Kiku hilang kantuk, justru mendekat kembali ke meja kerjanya. Dia singkirkan dokumen dan berkas-berkas berisi klise tentang tulisan tangan dan ketikan mengenai perincian yang telah dia baca, menyisakan yang lainnya—yang belum dia baca.
Namun demi kantuknya yang kembali menyerang, Kiku menyerah.
Baiklah ... lagi, Kiku naik ke ranjang, menyamankan posisi, melupakan kalau dirinya belum membereskan mangkuk dan gelasnya di meja.
Mengabaikan berkas-berkas di meja yang tidak terdefinisikan lagi ketidakrapiannya.
Namun, maju beberapa jam dari sekarang, hal tidak terduga menanti untuk Kiku alami.
...
Dare o jiku ni,
sekai wa,
... Mawaru?
"Apakah dunia berputar dengan benar bersama dengan kebenaran-kebenaran duniawi pada porosnya?"
...
Pagi hari yang cerah, hari kedua dalam satu pekan, dan untuk yang pertama kali dalam sejarah kehidupan serba rajinnya ... Kiku terlambat bangun ketika dia mendapat jadwal masuk pagi.
Kejadian itu berlangsung cepat. Kiku yang terbangun dari tidurnya (masih dengan tampang kusut dan rambut berantakan) cepat-cepat beranjak dari kasur (setelah menyingkap selimut dan melempar bantal) ketika netranya menangkap jam dinding yang tergantung atas pintu kamar.
Dengan jelas menunjukkan pukul 08:37 waktu Indonesia barat. Yang jelas dia terlambat lebih dari dua jam dari jadwal dan kebiasaan!
'Terlambat! Kuso!'
Pagi itu penuh dengan umpatan dan kepanikan. Lima belas menit hitungan waktu, Kiku telah berseragam (dan ya, dia mandi kilat sekilat-kilatnya untuk menyingkat masa). Menyemprotkan parfum sesekali dan cekatan membawa dokumen "kenegaraan" yang harus dibawa, Kiku lantas masuk ke mobil.
Lima menit kemudian, mobil hitam itu telah melaju, membelah jalanan Kota Balikpapan yang memadat di pagi hari tanpa kelabuan mendung, perawalan dari aktivitas harian masing-masing.
•o0o•
"Ada orang lain yang senantiasa mengetahui kehidupannya."
"Namun ingat, kauperlu memperoleh kepercayaannya dahulu yang teramat sulit untuk diberikan kepada orang lain, sedekat apapun bentang relasi kehidupannya."
...
Balikpapan Kota, Kalimantan Timur.
Indonesia.
10 Januari 2030.
"Kiku belum datang juga?" Gelengan Amelia yang menjawab. "Belum terlihat batang hidungnya. Tunggu saja sebentar lagi, mungkin dia terlalu sibuk dengan dokumen yang kucarikan dan kauberikan padanya kemarin."
Embusan napas lelah Nikolai ganti membalas. Cangkir berisi teh di depannya terangkat hingga sejajar dengan mulut, lantas mendekatkannya hingga menempel di bibir, kemudian menyesapnya pelan—ye, masih panas, mana berani dia menenggaknya langsung. "Tidak mungkin."
"Yeh, mungkin saja. Orang perfeksionis dan cinta misteri macam dia mana mau meninggalkan—apalagi menelantarkan—dokumen gadis yang bernama Adelya itu." Bunga di vas telah tertata apik, Amelia lantas meletakkannya di meja kerja Nikolai. "Ada berkas lagi yang harus kauberikan kepadanya?"
"Tidak ada. Tidak ada lagi yang tersisa di seluruh Kota Balikpapan. Seluruh data lengkapnya ada di Jawa dan bukan tidak mungkin Kiku akan mencarinya hingga ke sana." Di hadapan jendela berkaca bening seraya mecengkeram cangkir teh yang telah kosong, Nikolai menerawang jauh.
Seolah menembusi para waktu, Nikolai mengingat potongan kejadian yang masih terekam dalam memori. "Jika ada berkas pekerjaan yang harus disiapkan, panggil saja aku dengan panggilan khusus yang kusematkan hingga sekarang. Kode namaku 'evanescent23'. Aku permisi, tugasku di dalam ruangan masih banyak."
"Ada kasus baru, Amelia?" Nikolai balik badan, menahan langkah Amelia. "Ada. Seorang pria berusia empat puluh tahunan yang memperkosa putri tunggal tirinya. Kejadiannya dua hari yang lalu tanpa pemberitaan secara luas di dusun dalam Balikpapan Kota," jelasnya. Nikolai mengangguk-angguk.
"Data apalagi yang kurang?"
Amelia terdiam sebentar, sebelum menjawab, "Alasan mengapa pria tersebut tega memperkosa putrinya. Ah, aku undur diri, ya? Therezkova sudah menungguku di lantai tiga."
Amelia undur diri, keluar dari ruang kerja Nikolai, setelah pemiliknya membalik badan demi menatap kepergiannya.
Nikolai tidak lagi mencegah, membiarkannya ... .
Dari jendela ruang kerjanya di lantai dua, samar Nikolai melihat sosok Kiku, seraya menenteng koper hitam besar (dan Nikolai bisa pastikan koper tersebut berisi data dan berkas yang diberikannya kemarin siang), yang berjalan tergesa-gesa memasuki gedung kantor ...
—finished chapter II—
"Give me some prompts for continuing this fic in review and PM, thank you!" :) ~ (?)
-10 Juni 2018-
.
"Tak seperti biasanya kauterlambat, Japanese. Ada apa?"
Satu pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin Kiku dengar dari pagi ini; apapun mengenai keterlambatannya datang ke kantor.
Dan demi pertanyaan Nikolai yang mendadak itu ... Kiku, sekarang, bingung harus merangkai kata-kata macam apa untuk menjawabnya.
(Dan dugaan Amelia mengenai alasan terlambatnya pemuda asal Jepang tempo menit itu benar.)
