Hijikata menghisap kembali rokoknya walaupun ia tahu itu akan makin memperburuk penyakitnya. Ia sudah mengetahui penyakit yang mengidapnya sejak beberapa minggu terakhir. Penyakit yang sama dengan wanita itu. Hijikata mencengkram dadanya yang sesak. Bukan penyakit ini yang makin menyiksanya. Tetapi kenyataan bahwa ia akan ikut mati dan membusuk dengan nasib yang sama seperti wanita itu.
Wanita itu seperti menginginkan Hijikata merasakan perasaan yang sama seperti nya, dan belum cukup puas jika ia belum menggeret Hijikata sampai ke liang lahat.
Hijikata menyeringai tipis. Kalau bisa ia ingin mati lebih cepat.
" Ambil dendammu, Mitsuba, aku tidak akan kabur lagi dari mu," sambil terbatuk-batuk, Hijikata berbisik kepada angin yang berhembus. Ia tidak akan memberi tahukan ini kepada siapapun, ia ingin menikmati rasa sakitnya sendirian. Jika ini yang Mitsuba inginkan dari dirinya untuk yang terakhir kalinya.
" Sebentar lagi... Tunggu aku di surga, Mitsuba..."
.
.
.
Karma
Gintama milik Hideaki Sorachi-sensei
Warning: OOC, Typo's, dll
.
.
.
Malam itu seperti biasa, Gintoki berjalan-jalan di dalam gemerlapnya jalan Kabuki-chou yang tidak akan pernah berakhir. Ia dengan jeli terus mencari-cari bar yang enak untuk tempatnya minum, sekedar mencicipi rasa sake sebelum pulang ke rumah. Dari kejauhan, terdengar suara-suara wanita penghibur yang terus memanggil tamu-tamu hidung belang mereka.
Gintoki menggosokkan telapak tangannya. Rasanya sangat dingin. Tentu saja. Salju turun dengan seenaknya. Ia lalu sedikit menyumpah kepada butiran salju yang turun terlalu banyak dan menghalangi pandangan Gintoki. Tetapi ia hanya mendapatkan dirinya hampir saja tertusuk oleh es yang menggantung di pinggiran atap sebuah toko kecil.
" Dasar terkutuk! Es hanya bisa menyusahkan tuan rumah saja!"
" Yorozuya!"
Gintoki langsung menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Ia melihat Hijikata dengan mukanya yang pucat, tersenyum meremehkannya.
" Sepertinya kau sedang menstruasi," katanya dengan nada yang makin membuat Gintoki naik pitam. Ah, tetapi ini lebih baik. Kepalanya mulai terasa menghangat di suhu mematikan seperti ini, yang membuat Gintoki dalam hati berterima kasih pada kebaikan Hijikata.
" Hijikata-kuuun~ sepertinya kau senang sekali menjadi benda yang sangat ku benci, hn? Dengar, malam seperti ini sangat tidak bagus untuk bocah sepertimu. Kau lengah sedikit dan tubuhmu akan membeku, loh? Lihat, bahkan mukamu sudah seputih benda bodoh ini," kata Gintoki sambil mencubit-cubit pipi Hijikata yang sedingin es. Urat-urat di dahi Hijikata keluar.
" YANG BODOH ITU KAU! Aku tidak pernah melihat orang yang mencari masalah dengan benda seperti salju!" kata Hijikata sambil mulai beradu pedang dengan Bokutounya Gintoki.
" SHIKATANEE DAROU?! Benda sekecil ini hanya bisa menyusahkan orang! Lagi pula es di dalam parfait ku tidak pernah semengganggu ini!" balas Gintoki.
Gintoki lalu menghela nafas. Ia mundur, dan berjalan melewati Hijikata yang masih berusaha melawannya. Ia menepuk pundak Hijikata.
" Pulanglah," katanya yang dibalas dengan tatapan bingung Hijikata. Shiroyasha itu masih dalam wajah datarnya.
" Mukamu pucat," dan ia mengarahkan kepala Hijikata ke kaca di etalase toko. Hijikata melihat dengan jelas. Warna mukanya memang memudar. Hijikata lalu melihat ke jam di tangannya, ia harus buru-buru kembali ke Kondou-san sebelum ia mencarinya.
" Aku tidak bisa pulang," jawab Hijikata. Gintoki dengan sedikit keras menarik bahunya. Muka mereka berhadapan. Matanya dan mata Hijikata bertemu. Hanya dalam sekali lihat, ia bisa mengetahui bahwa Gintoki sangat serius.
" Pulanglah," jawabnya, kali ini Hijikata bisa mendengar sedikit rasa khawatir keluar dari suara Gintoki. Tetapi sesaat kemudian, ia menundukkan kepalanya kembali dan melepaskan genggamannya di bahu Hijikata.
" Maa, ii ya... Mati saja sendirian," dan Gintoki pergi menjauhi Hijikata. Walaupun dalam diam Gintoki berniat untuk membawa matanya, memastikan Hijikata baik-baik saja.
Sekelebat ingatannya terulang ke beberapa tahun lalu, saat ia menemani seorang wanita yang sangat cantik di tempat kematiannya. Ia hanya berharap Hijikata tidak sebodoh itu sampai mati duluan darinya. Kematian karena mengidap penyakit hanya tidak cukup pantas untuk seorang samurai amatiran seperti Hijikata, yah, itu menurut Gintoki.
Sekali lagi ia melihat punggung Hijikata di balik seragam serba hitam yang ia kenakan. Pundak itu sedikit naik turun saat ia terbatuk-batuk sedikit parah. Ia terkekeh kecil. Kalau seperti ini, tidak ada yang takut dengan julukan Oni yang selalu dibanggakan Hijikata. Setidaknya Gintoki menang dalam hal julukan. Ia selalu merasa kalau Yasha terdengar jauh lebih keren dibandingkan dengan Oni. Ngomong-ngomong ia belum menemukan izakaya. Ada baiknya jika ia mempercepat langkahnya sebelum ia pulang terlalu larut.
.
.
.
" Toshi! Kau kemana saja? Sebentar lagi kita harus membantu regu pertama dari belakang gedung," kata Kondou. Hijikata mengangguk.
" Maaf, aku hanya berurusan dengan orang yang tidak mau bayar pajak itu," jawab Hijikata sambil mengambil lagi puntung rokoknya. Ia menghisap asap yang semakin lama semakin membuat paru-parunya membusuk, dan berusaha menahan batuknya yang ia tahu tidak bisa berhenti.
" Yorozuya?" tanya Kondou-san memastikan dan hanya dijawab oleh anggukan Hijikata. Kondou-san kemudian menarik pedangnya. Ia tersenyum kecil.
" Orang itu terlalu menarik untuk dijadikan lawan latihanmu di doujo, Toshi," kata Kondou-san. Ia lalu dengan suara yang lantang memimpin berkubu-kubu pasukan Shinsengumi untuk mendobrak pintu belakang gedung. Sementara Hijikata mulai bersiap di belakang Kondou-san, memastikan pedangnya cukup tajam untuk membunuh musuh yang bisa mengancam nyawanya kapan saja.
" Kondou-san, aku akan menjaga punggungmu," kata Hijikata sambil mengayunkan pedangnya beberapa kali. Ia melakukan pemanasan ringan sebelum pedang itu bisa melesat dengan bebas di dalam darah musuh-musuhnya. Kondou mengangguk. Musuh mereka mulai bertebaran di antara gelapnya seragam Shinsengumi, berusaha untuk melepaskan diri dari tangan Kondou-san. Hijikata berhasil membunuh beberapa musuhnya, tetapi lama kelamaan, nafasnya semakin sesak. Gawat, padahal baru beberapa menit. Hijikata makin merasa kepayahan. Apakah ia selemah ini sampai mengangkat pedang kesayangannya bisa terasa seperti mengangkat baja?.
Keringat mengalir terlalu banyak dari dahi Hijikata, membuat pegangannya semakin licin. Ia nyaris menjatuhkan pedang dari tangannya.
" Uhuk! Uhuk!" suara batuknya sangat keras. Beberapa anggota Shinsengumi yang berhasil menaklukkan lawan mereka menoleh, termasuk Kondou-san. Perang mereka sudah berakhir di malam ini. Hijikata menutup mulutnya dan tidak bisa menghentikan batuknya. Kondou-san menepuk-nepuk pundak Hijikata.
" Apa kau tidak apa? Belakangan ini batuk mu makin parah," katanya. Hijikata mengangguk. Ia tidak bisa berbicara lagi karena nafasnya sudah habis, akhirnya ia memutuskan untuk pergi dan memisahkan diri dari rombongan Shinsengumi yang masih sibuk untuk mengurus jenazah-jenazah lawan.
Kepalanya makin pusing sementara demamnya juga makin tinggi. Sial, sekarang ia mengingat kembali kata-kata Gintoki yang menyuruhnya untuk pulang. Siapa yang membutuhkan saran seperti itu dari orang yang selalu muncul di dunia malam Kabukichou?. Yang seharusnya pulang itu dia. Jika Hijikata menjadi Gintoki, ia tidak yakin bisa meninggalkan si china di rumah sendirian, apalagi ia seorang gadis.
Ah, tetapi mungkin ia sama buruknya dengan Gintoki. Ia meninggalkan wanita itu sendirian, bahkan tidak pernah ada di saat wanita itu membutuhkannya. Mungkin ia lebih buruk dari Gintoki.
" Aku tidak sabar untuk mengunjungi pemakamanmu, Hijikata-san," Sougo tiba-tiba muncul di depan Hijikata sambil menjilat darah di pedangnya. Ia menyeringai sadis. Urat-urat di kepala Hijikata kembali muncul. Ia tertawa kecil.
" Benarkah? Aku juga tidak sabar untuk menikahi kakakmu di surga," balasnya.
" Memang kau bisa masuk surga? Aku yakin kalau tuhan terlalu adil untuk menjebloskanmu ke dalam neraka," kata Sougo yang merendahkan harga diri Hijikata. Ia menghunuskan pedangnya ke arah Sougo dengan padangan mata yang tajam.
" Arya? Kau tidak mengejarku lagi, Hijikata-san?" tanya Sougo. Ia menangkap ujung pedang milik Hijikata dan melemparnya ke sembarang tempat. Kemudian ia balik menghunuskan pedang ke depan hidung Hijikata.
" Damare..." bisik Hijikata. Ia sudah cukup kepayahan untuk bisa berdiri, dan sekarang Hijikata harus meladeni bocah di depannya lagi. Hijikata lalu membalikkan badannya, meninggalkan Sougo sendiri. Tetapi Sougo masih belum puas. Ia mengangkat Bazookanya, berniat untuk menembak Hijikata dalam jarak yang sangat dekat.
" Sou-chan... Dame yo..."
Deg!
Jari Sougo terhenti di depan pelatuk Bazooka, sesaat sebelum ia kembali meledakkan pemandangan di depannya. Ia menurunkan Bazookanya. Tangan kanan Sougo menutupi mukanya yang sekarang menyembunyikan raut kesedihan yang mendalam dari bocah sadis itu. Hijikata mendengar suara erangan frustasi Sougo dari balik punggungnya.
.
.
.
Kondou melihat ke tempat di samping sebelahnya. Tempat Hijikata itu masih kosong dari 30 menit yang lalu, membuat bantal duduk yang hangat itu menjadi dingin. ia mengingat-ingat tadi malam. Hijikata memang sangat pucat, mungkin ia butuh istirahat. Sementara itu ia akan mulai rapat ini sendirian. Selama ini, Hijikata sudah bekerja keras untuknya. Tidak mungkin ia mengabaikan tugasnya begitu saja.
" Kondou-san, Hijikata-san sepertinya telat lagi, ya? Kalau begini mungkin kau harus mempertimbangkan soal seppuku besok," pinta Sougo dengan muka datarnya. Kondou-san menggeleng, membuat Sougo sedikit kesal.
" Kalau begitu, mungkin aku mulai sa..."
Braaaakh!
Kondou melihat ke pintu yang baru saja tergeser yang kepayahan terlihat bersandar di pintu, mencoba untuk tetap berdiri di tengah demam tingginya. Seluruh anggota Shinsengumi di ruangan itu menoleh ke arah fukuchou mereka. Muka pucat Hijikata mencoba untuk tetap terlihat serius.
" Maaf, Kondou-san, Hari ini aku sedikit terlambat," kata Hijikata.
" Apa-apaan yang kau bilang sedikit, Hijikata-san? Apa kau cukup bodoh untuk tidak tahu bedanya terlambat 5 menit dengan 30 menit?" tanya Sougo. Ia lalu berdiri dari tempatnya dan keluar dari ruangan itu, melewati Hijikata yang masih berusaha mengatur nafasnya.
" Aku sudah capek menunggumu. Aku tidak akan ikut rapat ini," katanya dan berlalu diikuti beberapa anggota Shinsengumi yang setuju dengan perkataan Sougo. Mereka membisikkan kata-kata sindiran yang membuat telinga Hijikata panas, tetapi ia tidak bisa berbuat apapun. Pada akhirnya, hanya Kondou-san yang tetap duduk di sana. ia tersenyum.
" Belakangan ini kau kelihatan lelah," komentar sang Kyoukuchou.
" Aa. Aku terlalu banyak bekerja," jawab Hijikata. Ia hanya tidak ingin Kondou-san cemas. Kondou lalu berdiri dan berjalan ke luar. Saat ia sudah berada di samping Hijikata persis, ia menepuk pundak bawahannya seperti biasa.
" Jangan terlalu memaksakan dirimu."
Dan Hijikata hanya mengangguk.
.
.
.
Malam itu, Hijikata kembali ke kamarnya sambil sedikit terhuyung. Batuknya masih tidak ada niatan untuk berhenti, hingga dari tadi ia hanya berusaha memelankan suara batuknya selama di perjalanan kembali ke barak. Mau bagaimana lagi? Yamazaki yang menjadi partner perjalanannya kali ini. Ia tidak ingin partnernya itu tahu dan menyebarkannya sampai ke telinga Kondou-san. Lagipula ia tidak ingin seseorang mengganggu kegiatan wanita itu untuk mencabut nyawanya dan menggeret Hijikata ke nasib yang sama dengannya.
Hijikata mengepalkan tangannya. Waktu itu, ia hanya terdiam dan tidak bisa melakukan apapun hingga di saat-saat kematian wanita itu. Bahkan hanya untuk sekedar menjenguknya pun, ia tidak punya cukup nyali untuk melihat wajah bidadarinya hingga saat tubuhnya terbakar di perapian. Dan batuk Hijikata mulai memarah lagi mengingat hal tabu yang harusnya ia lupakan sekarang.
Hijikata mendudukan dirinya di dekat meja tempatnya membuat laporan. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri sampai ia menyadari ada sebungkus obat yang tergeletak di atas meja. Hijikata mengangkat bungkusan itu dan membacanya dengan sedikit kesusahan. Ia lupa menyalakan lampunya dan terlalu malas berdiri lagi hanya untuk membaca sebuah tulisan.
" ... Obat ini.. Apakah Kondou-san sudah mengetahui penyakit ini?..."
.
.
.
TBC
.
.
.
MAAF! MINNA-SAMA!
Belakangan ini aku sakit, jadi aku ga bisa menyelesaikan chapter ini lebih cepat .. *kayanya kena karma dari Hijikata-kun, batuknya ga berhenti :v*
Tolong berikan review, kritik dan saran nya yaa! ^.^
