WARNING : YUNJAE GS FOR UKE, ALUR LAMBAT, CERITA PASARAN, NO BASH, NO FLAME, NO PLAGIAT, TYPO BERTEBARAN,
Tara…..chapter 1 datang, semoga suka. Well kalo ada yang baca sih. Semoga ada (^/-\^) aamiin. Mohon maaf kalo berantakan dan membosankan, author masih baru.
DON'T LIKE DON'T READ
Joongeikitty presents
Chapter 1
Jung Yunho menapakkan kaki di tanah Korea, menghirup udara yang sama namun berbeda. Kacamata bertengger manis di hidung mancungnya, earphone tergantung di leher membuat beberapa gadis melirik terang-terangan. Sejujurnya style yunho juga sama dengan orang lain hanya saja secara alami semua yang ia pakai memang akan terlihat special.
"Selamat datang di tanah kelahiran papa yun, kau akan suka disini. Negara ini sekarang tidak kalah maju dengan Negara-negara barat" melirik sang ayah yunho hanya berdehem menunjukkan bahwa ia mendengarkan.
Seperti apa yang dipikirkannya , Korea tidak buruk lebih baik malahan. Namun Yunho tidak merasa perlu mengatakan itu semua jadi ia memilih bungkam. Melirik ayahnya yang sibuk dengan telfon, entah siapa yang ia hubungi. Well, memang kepindahan mereka mengharuskan ayahnya mengurus semuanya karena yunho jelas awam tentang korea. Hanya bahasa ibu dari negeri ginseng ini yang Yunho tau dengan baik selain bahasa Inggris dan Rusia tentunya, selebihnya nol besar. Memiliki orang tua dari Negara yang berbeda mengharuskan Yunho mempelajari dua bahasa beda pula.
Seorang pria dengan setelan jas formal terlihat menghampiri mereka
"Mr. Jung Il Woo, salam kenal. Saya adalah sekretaris pribadi Mr. Jin. Kim Kyung Tak" mengulurkan tangan dengan senyum tipis yang dibalas jabatan erat serta cengiran khas ayahnya.
"Ahh ya terimakasih sudah menjemput kami"
"Mr. Jin mengatakan untuk langsung mengantar anda ke kediaman Mr. Jin sendiri. Mari"
Mengikuti pria itu dalam diam, Yunho menyapukan pandang ke sekeliling. Incheon International Airport terlihat bersih, mewah dan terstruktur khas negara Korea. Menyunggingkan senyum tipis Yunho berharap ia dan ayahnya dapat memiliki kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.
Sepanjang jalan Yunho mengamati bahwa lalu lintas Korea cukup sibuk namun berimbang dengan pejalan kaki, negara yang hebat kalau Yunho boleh mengakui.
"Bagaimana menurutmu ?" ayahnya bertanya
"Hebat, aku mendapat kesan pertama yang baik. Kurasa akan menyenangkan papa"
"Syukurlah kalau kau suka, papa takut kau akan sulit beradaptasi"
Yunho tersenyum "Papa lupa korea juga mengalir dalam darahku?" membuat ayahnya tergelak. Kyung Tak tersenyum menatap ayah dan anak itu dari kaca spion.
Mansion yang Yunho ketahui milik seseorang bernama Mr. Jin ini terletak di tengah Seoul, berdiri megah diantara rumah-rumah megah di komplek perumahan mewah. Terdiri dari tiga lantai dengan luas yang Yunho tak tahu pasti. Terlihat angkuh dengan pilar-pilar bundar yang tinggi besar. Membuat rumah ini terlihat dua kali lebih besar.
"Astaga, aku tidak menyangka si brengsek itu akan sesukses ini" ayahnya bergumam begitu mereka sampai di depan pintu utama yang menjulang bagai raksasa penjaga tak tertembus. Namun berkebalikan dengan kata-katanya pancaran mata ayahnya terlihat puas dan bangga. Pintu terbuka tiba-tiba.
"Dan kau masih sama brengseknya dengan dirimu dulu karena mengataiku brengsek meskipun aku sudah berbaik hati memberikanmu salah satu kamar nyaman di dalam mansion megah milikku, si brengsek teman lamamu" seorang pria dengan perawakan kurus namun sama tinggi dengan ayahnya menyahut sembari menyilangkan tangan di dada, bersedekap.
Dan Yunho hanya memutar kedua matanya malas melihat kedua pria dewasa di hadapannya tertawa terbahak sambil memeluk satu sama lain. Sementara Kyung Tak yang berdiri sedikit di belakang tersenyum tipis.
"Masuklah masuklah" melambaikan tangan dengan riang sambil tersenyum lebar sahabat ayahnya itu mempersilahkan mereka.
"Ahh kau pasti Yunho, syukurlah kau tumbuh menjadi anak yang tampan tidak seperti ayahmu" Yunho membungkuk sopan "Terimakasih Mr. Jin, aku juga sama bersyukrnya dengan anda" mengerling jahil pada ayahnya.
"Hahahaha…." Jin Gong Yoo melepaskan tawa "Aku suka kau, dan panggil aku samchon kau adalah keponakanku Yunho-ya" Gong Yoo memeluk Yunho singkat "Tentu samchon" Yunho membalas dengan senyuman tulus.
"Bagus sekali Yunho, cara beradaptasi yang hebat" ayahnya memberengut "apa kau tertarik mengubah statusku sebagai ayah kandungmu juga ?"
Membuat ketiga pria beda usia itu tertawa kembali
"Ayo kutunjukkan kamar kalian, aku yakin perjalanan kalian pasti melelahkan"
"Kau masih cukup waras untuk ingat bahwa kami kelelahan rupanya"
Gong Yoo kembali melepaskan tawa.
.
.
.
.
.
Yunho menatap kamar yang akan ditempatinya selama beberapa bulan kedepan, sebelum ayahnya menemukan apartemen untuk mereka, kamar itu luas, Yunho menyukainya. Biasa hidup dalam kota sibuk padat penduduk dengan rumah-rumah minimalis yang ruang di dalamnya tentu minimalis juga membuat Yunho merasa senang dengan ruang luas yang akan menjadi tempatnya melepas penat ini. Merebahkan tubuh ke ranjang empuknya Yunho menutup mata merasakan hawa hangat dari penghangat ruangan. Terasa menyenangkan karena udara musim gugur terasa makin menusuk.
Hey mom, how are you ? we're fine here.
Berada dalam suasana hening di waktu kesendiriannya membuat Yunho teringat akan ibunya yang telah tiada. Tersenyum menyadari bahwa ia tidak menemukan rasa lain selain kerinduan dan cinta terpendam untuk ibunya. Tidak ada lagi rasa sakit menyesakkan karena melepas orang terkasihnya itu.
Mendudukkan tubuhnya Yunho mengambil map di atas nakas di samping bed king sizenya berisi brosur tentang sekolah sekolah terbaik di seoul yang di rekomendasikan oleh samchon barunya. Toho Academy, sekolah dengan bangunan modern namun memiliki sentuhan khas Korea di sana sini menarik perhatian Yunho. Sepertinya akan menyenangkan karena jujur saja Yunho mulai tertarik mempelajari tentang Negara yang kini menjadi rumahnya ini.
Lagipula letak sekolah itu juga strategis, dapat dicapai dengan kendaraan umum. Membuat Yunho tidak sabar untuk mencoba transportasi umum yang ada di korea.
Berdiri sambil sedikit meregangkan tubuh Yunho meletakkan kembali map itu di atas meja, Yunho berjalan menuju lemari coklat besar yang ada di sudut kanan kamarnya di samping pintu yang menurut Yunho adalah kamar mandi.
Seperti yang ia duga, pakaiannya telah tertata rapi. Mengambil kaos dan celana katun Yunho beranjak menuju kamar mandi.
Kamar mandi dengan warna dinding dusty purple yang lembut membawa sensasi relaksasi tersendiri bagi Yunho. Melucuti pakaiannya, menyisakan tubuh dengan kulit kecoklatan serta beberapa otot dibagian yang semestinya, dada bidang, serta perut liat hasil dari olahraga terpampang di cermin full body di sampingnya. Yunho boleh berbangga akan fisiknya yang nyaris sempurna. Memasuki bilik, menutup pintu kaca buram Yunho menyalakan shower membiarkan air hangat dengan suhu sesuai yang sudah diaturnya membentur otot-otot seksi di tubuh remaja yang memasuki usia kedelapan belas ini. Mendongak merasakan setiap tetesan air hangat menyentuh bagian-bagian tersembunyi di tubuhnya. Gadis-gadis akan dengan senang hati bertukar tempat dengan air itu untuk dapat merasakan sensasi menyentuh tubuh seorang Jung Yunho.
Mandi adalah ritual tersendiri untuk Yunho, berada dalam bilik kecil dengan shower membasahi tubuhnya adalah suatu relaksasi yang tak terbayar, ternikmat. Setelah tidur tentu saja. Yunho juga tipe orang yang suka berlama-lama saat mandi.
Setelah puas memanjakan tubuhnya dengan air hangat Yunho keluar lalu mengeringkan tubuhnya, memakai pakaian dan melompat keatas tempat tidur yang trelihat begitu menggoda. Dalam sekejap, matanya tertutup. Tertidur pulas.
.
.
.
.
.
"Yaa Kim Jaejoong, kau belum puas menguras uangku hah ?" Yoochun menggerutu menatap sahabat yang sudah berteman dengannya sejak junior high school ini.
"Kau harus mengganti keterlambatanku pagi ini, jidat. Apa kau tidak tau bagaimana lelahnya aku karena harus mengayuh sepeda hingga betisku bengkak seperti Gajah hah ?" Jaejoong membalas sengit sambil menggigit rotoi sosis dan mayo dengan gigitan besar.
Yoochun memutar kedua bola matanya malas, sudah hafal diluar kepala mengenai tabiat gadis ini.
"Bukannya bagus, kau kan suka Gajah"
Menggeplak kepala Yoochun dengan tangannya yang bebas Jaejoong mendellik lucu
"Kau pikir gadis mana yang suka kakinya sebesar Gajah hah ? aku memang suka bukan berarti ingin terlihat seperti Gajah"
Yoochun meringis "Kau bersepeda satu tahun penuh juga tidak aka nada pengaruhnya pada kakimu Jaejoongie"
"Aku tau aku akan selalu cantik tapi aku mengantisipasi Yoochunie" jawaban asal Jaejoong mau tidak mau membuat yoochun tersenyum. Oh jangan lupakan beberapa siswa yang mendengarkan pembicaraan mereka.
Bukan rahasia lagi bahwa Jaejoong adalah primadona di sekolah ini, banyak pemuda yang ingin mendekatinya hanya saja mereka sungkan, bukan karena Jaejoong adalah orang yang tertutup oh sama sekali bukan gadis ini sama terbukanya seperti lembaran buku namun karena Jaejoong menganggap semua laki-laki yang dekat dengannya adalah teman. Gadis ini belum pernah jatuh cinta, selain itu…
"Turuti saja kemauan Joongie kami yang manis Yoochun." Yonghwa mendudukkan diri di seberang kursi Yoochun dan Jaejoong
"Si manis ini akan terus merengek kalau tidak dituruti" Yihan tersenyum tampan yang dibalas acungan jempol dari Jaejoong
"Nah, pahlawan-pahlawanmu sudah datang. Jadi, segera habiskan yang ada di tanganmu dan pesan yang lain untuk menguras dompet Yoochun. Kami akan memegangi Yoochun agar tidak kabur cantik" suara berat Seunghyun menambahi
Jaejoong selalu dikelilingi pemuda pemuda tampan yang siap sedia 24 jam menjaga Jaejoong dari pemuda lain yang ingin mendekatinya. Mereka harus dianggap layak oleh keempat pemuda tampan ini kalau ingin menjadi kekasih Jaejoong. Dan jaejoong juga nampaknya tak keberatan.
"Oh ayolah, kau kalah taruhan jJoongie. Hrusnya kau terima hukumanmu"
Menatap Yoochun tajam "Bodoh kau curang karena tidak membiarkanku memakai sepeda gunungku, kau malah menyuruhku memakai sepeda lipat karena itu aku terlambat. Apa kau tidak tau rodanya kecil sekali hah ? butuh waktu lama untuk mengayuhnya. Karena itu taruhan kita batal dan aku akan menggunakan sepeda hari ini saja. Juga tambahan karenamu aku melupakan tasku yang mana membuatku hampir dihukum kalau saja mommyku yang cantik tidak mengantarkannya, jadi kau harus mentraktirku"
Menghela nafas, menatap teman-temannya yang mendengarkan celotehan satu satunya gadis dalam geng mereka dengan geli. Yoochun hanya mengangguk pasrah "Baik, baik..lakukan apapun maumu"
Membuat ketiga pemuda lain melepaskan tawa. Mereka tidak akan membantah atau berargumen dengan Jaejoong seperti Yoochun. Mereka terlalu menyayangi gadis ini untuk membuatnya marah. Dengan satu tatapan memelas Jaejoong saja sudah dapat membuat ketiga pemuda ini menuruti apapun keinginannya, oh bukan, bukan karena mereka jatuh cinta namun karena mereka menganggap Jaejoong adalah adik kecil manis yang harus mereka jaga. Gadis manis yang selalu berlaku apa adanya. Yang selalu menempeli mereka dengan rengekan-rengekan aneh yang harus mereka turuti. Sosok adik yang tak mereka miliki.
"Anyeong..apa aku melewatkan sesuatu ?" seorang pemuda tampan lain dengan dimple mempesona menghampiri meja mereka. Oh banyak sekali pemuda tampan dalam cerita ini ania ?
"Siwooonie.." jaejoong memekik senang menyambut satu lagi orang yang selalu menemaninya
"Hanya Yoochun yang harus merelakan jatah uang jajannya selama seminggu" Seunghyun menyahut
Choi Siwon tersenyum manis mengacak lembut helaian rambuut Jaejoong. Bukan rahasia umum lagi kalau pemuda satu ini satu-satunya pemuda yang berhasil mendekati Jaejoong. Pemuda ini satu-satunya orang yang dibiarkan mendekati Jaejoong dengan perasaan special oleh keempat penjaga Jaejoong.
Selain karena kepribadian Siwon yang dikenal baik, ramah, dan lembut Siwon juga dinggap mampu menjaga Jaejoong. Karena itu mereka menerima siwon dalam geng mereka. Oh tidak tau saja Siwon harus melalui apa untuk dapat diterima keempat penjaga Jaejoong yang terkadang menyebalkan. Yang pasti ia tidak akan mau mengingatnya lagi.
Hanya saja, Jaejoong manis kita terlalu polos untuk menyadari perhatian lebih dari Siwon. Ia hanya menganggap Siwon sahabat, sama seperti keempat pemuda lain.
"Hey Yihan, kau bilang teman ayahmu datang hari ini" Yonghwa memulai pembicaraan
"Hah ?" Yihan menoleh dari ponsel yang sejak tadi ia pandangi "Teman ayahmu. Orang kanada. Kau bilang mereka akan menginap di rumahmu" Jaejoong mengalihkan perhatian dari kentang gorengnya yang sedang direbut Yoochun, membiarkan pemuda itu memakan beberapa kentang yang masih tersisa. Poor yoochun.
"Teman Gong Yoo ahjussi ? Orang Kanada ? kenapa tidak ada yang bercerita padaku?" Jaejoong memberengut
"Ayolah manis, kau terlalu sibuk main mok jji ppa dengan Yoochun saat kami berbincang" Yonghwa menyahut menghasilkan cengiran polos dari Jaejoong
"Yah…kata abeoji mereka tiba hari ini. Kurasa teman abeojiku itu memiliki anak seusia kita. Hanya saja aku tidak tau perempuan atau laki-laki"
"Waah apa artinya kita akan dapat teman baru ?" Jaejoong selalu bersemangat dengan apapun, apalagi menyangkut teman baru. Salahkan keempat pemuda ini yang terlalu protektif oh ditambah si cantik Tae Hee ibunda jaejoong yang juga mendukung keempat pemuda itu.
"Mungkin saja." Seunghyun menyahut acuh "Kurasa tidak ada pilihan lain untuk menerima siapapun itu dalam geng kita. Melihat ayahku begitu senang menyambut kedatangan mereka, kurasa beliau tidak akan suka kalau kita membuat siapapun itu tidak nyaman" Yihan menambahkan, melirik Jaejoong yang mneyeruput jus miliknya
"Aku tidak masalah menerima siapapun, kalian saja yang terlalu pilih-pilih, dan Jin Yihan berhenti menyebut kita sebagai geng, itu terdengar seperti gerombolan anak badung tukang bully kau tau" Yoochun menambahkan
"Hahaha kau benar chun, tapi memang seperti tiulah kelihantannya kita"
"Ayolah kalian terkadang terlalu mengerikan. Apa kalian ingat saat kita pergi ke festival tahun lalu? Kalian bahkan menatap laki laki malang dengan pandangan membunuh hanya karena tidak sengaja menyentuhku. Maksudku ia bahkan sudah minta maaf"
Seunghyun menyernyit tidak suka "Laki-laki yang kau bilang tidak sengaja itu memandangimu dengan mesum Jaejoongie"
"Tetap saja bukan alasan bagi kalian untuk menakutinya. Kalian selalu saja membuat laki laki yang mendekatiku lari ketakutan. Kalau begini caranya kapan aku punya kekasih ?" jaejoong kemabli menggerutu.
Kelima pemuda yang duduk bersamanya serentak duduk tegak
"Yaa.. sejak kapan kau mengerti tentang pemuda hah ?"
"Apa ada yang mendekatimu ?"
"Kau harus berutahu kami, atau kami senidri yang akan mencari tau dan percayalah kau tidak akan suka"
"Apa dia pemuda di sekolah ini Jaejoongie ?"
"Katakan pada kami manis, jangan sembunyikan apapun !"
Jaejoong menghela nafas "lihat.. kalian selalu menakuti mereka yang mendekatiku. Aku adalah gadis remaja normal kalau kalian lupa. Aku berjanji tidak akan menyembunyikan apapun dari kalian, tapi kalian juga harus menghormati keputusanku untuk diriku sendiri"
Jawaban Jaejoong membuat kelima pemuda itu melongo dengan tidak elit sebelum memberondong Jaejoong dengan perrtanyaan lain
"Astaga kau sehat ?"
"Katakan pada kami mana yang sakit"
"Apa kau terbentur manis ?"
"Kim Jaejoong, berhenti bicara menakutkan"
"YAA…DIAM !" Jaejoong tidak tahan
"Aish…kalian menyebalkan. Sudah aku mau ke kelas" meninggalkan meja sambil mengehentakkan kaki sebal, meninggalkan pemuda yang masih asik dalam dunia mereka sendiri mengenai 'siapa pemuda itu' dan 'apa yang akan kita lakukan untuk membunuhnya'. Hah…
.
.
.
.
.
Yunho membuka mata, mendapati keadaan kamarnya yang gelap. Ia bangkit, mencuci muka, gosok gigi lalu turun ke bawah.
"Ah yun, kau sudah bangun duduklah, kau pasti lapar" tersenyum ramah membungkuk sopan pada keempat manusia yang sepertinya sudah memulai makan malam terlebih dahulu
"Maafkan aku samchon, sepertinya jet lag masih belum hilang. Aku tidak pernah tidur selama itu sebelumnya"
"Hahaha santai saja" pria itu mengibaskan tangannya acuh "Ah kenalkan ini istri samchon, Kim Taeyeon imo dan disana adalah putra tunggal samchon Jin Yihan"
"Anyeonghaseo, Jung Yunho imnida" Yunho kembali berdiri dari duduknya untuk membungkuk sopan pada dua orang yang baru saja dikenalkan padanya
"Aigoo..tidak perlu seformal itu Yunho-ya, imo senang rumah kami kedatangan keluarga baru" wanita mungil itu menjawab dengan senyum ramah.
"Anyeonghaseo hyung, Jin Yihan imnida. Aku setahun lebih muda dari hyung"
"Senang mengetahui aku akan punya teman sebaya" Yunho menjabat tangan Yihan
Aku akan melihat seberapa baik laki laiki ini
Yihan tersenyum misterius "Tentu."
Makan malam berjalan nyaman, Yunho dan ayahnya disambut dengan sangat baik. Malamnya Yunho duduk dengan nyaman di teras belakang kediaman Jin. Ditemani teh ginseng ia duduk menikmati malam yang dingin diatas ayunan berbentuk bangku dilengkapi kanopi mungil.
"Malam semakin dingin, hyung tidak ingin masuk" Yunho menoleh untuk menatap Yihan yang berjalan kearahnya
"Aku suka menghabiskan waktu diluar ruangan, dingin bukan masalah untukku" menggeser duduknya memberi Yihan tempat
"Wah apa aku mengganggu ?" Yunho melepaskan tawa
"Tidak tentu tidak, maksudku aku terbiasa sendiri karena memang tidak punya saudara"
"Hah..kenapa laki-laki tampan seperti kita tidak punya saudara hyung" Yihan menghela nafas dramatis, membuat Yunho tergelak
Sesaat Yihan menatap Yunho yang tengah tertawa, bahkan sebagai seorang lelaki Yihan mnegakui dengan sadar bahwa Yunho adalah pemuda tertampan yang pernah ia temui. Pemuda itu tertawa dengan mengagumkan. Khas seorang Jung Yunho. Yihan tersenyum tipis,
Yunho hyung bukan orang brengsek,dia aman
"Kau tampan sekali hyung, apa hyung tidak punya kekasih ?" tak tahan Yihan menyuarakan pikirannya
"Tidak Yihan" Yunho berdehem "Aku belum pernah berpikir untuk memiliki kekasih, mungkin karena sibuk dengan sekolah,kegiatan klub,juga merawat ibuku yang sakit-sakitan. Beliau menderita kanker, jadi aku lebih memilih menghabiskan waktu bersamanya"
"Aku minta maaf hyung, turut berduka untuk aunty. Boleh aku memanggilnya begitu ?"
"Hahaha tentu, apapun yang membuatmu nyaman"
Yihan tersenyum, ia tau semuanya perihal kehidupan Yunho sebelum ini. Pemuda hebat, Yihan mengakui.
"Oh ya hyung, hyung sudah memutuskan akan kuliah dimana? Kudengar dari abeoji hyung baru saja lulus high school saat memutuskan pindah kesini"
"Aku tertarik dengan salah satu sekolah yang ada tapi belum yakin juga. Kau punya saran ?"
Binar di mata Yihan membuat Yunho tertawa "Kau harus masuk Toho Academy hyung, itu sekolahku. Sejujurnya universitasnya memang masih baru, tapi tidak kalah baik dengan sekolah lain. Dulunya hanya elementary,junior dan senior high school tapi dengan alasan yang entah apa elementary dihapus lalu gedungnya di renovasi untuk menjadi universitas."
"Sejujurnya sekolah itu juga yang ku pertimbangkan Yihan"
"Bagus, akan kukenalkan dengan teman-temanku. Itu kalau hyung tidak keberatan berteman dengan anak sma seperti kami"
"Hahaha aku akan sangat senang dapat teman baru, umur bukan masalah. Lagipula kau memang harus menjadi guide ku selama disini bukan" Yunho merangkul akrab bahu Yihan, menghadirkan senyum lebar dari pemuda itu
"Aku senang hyung adalah orang yang baik. Aku sempat bertanya-tanya dan membayangkan sebrengsek apa anak teman abeoji"
"Kalau begitu hyung minta maaf karena tidak bisa mengabulkan keinginanmu dengan melihat pemuda brengsek Yihan"
Menghadirkan tawa diantara mereka. Yunho bukan orang yang kaku, tidak sulit mengakrabkan diri dengan pemuda itu. Dan Yihan mengakui, meskipun baru mengenal Yunho ia merasa nyaman dengan pemuda yang beberapa senti lebih tinggi darinya ini.
"Ayo masuk, besok adalah hari Sabtu. Hari itu hanya ada senam pagi dan olahraga semacam refreshing dalam seminggu pembelajaran kami. Setelah itu kami bebas ah atau aku dapat membolos , aku akan menemani hyung berkeliling area Toho, tapi jangan bilang pada abeoji hyung atau uang jajanku akan dipotong."
"Aku bisa menunggu Yihan, tidak perlu membolos. Bagaimana kalau setelahnya kau temani aku mencari keperluanku yang lain, aku juga butuh laptop baru sekalian saja kau temani aku keliling seoul." Yunho menawarkan
"Ide bagus. Baiklah selamat malam hyung, selamat tidur" Mereka berpisah di tangga. Kamar keluarga Jin ada di lantai 3 sedangkan kamar Yunho di lantai 2.
Yunho memasuki kamarnya, lalu membongkar tas punggung berniat menata barangnya. Hal yang belum sempat ia lakukan. Juga koper besar berisi barang pribadinya, karena koper pakaian sudah ditata pelayan.
Mengeluarkan kotak-kotak sepatu dan banyak lagi, Yunho menyibukkan diri. Sampai matanya menangkap sebuah kotak sedang berwarna biru. Membukanya, Yunho disuguhi foto-foto lamanya. Tersenyum tipis Yunho membawa kotak itu lalu membuka laci bawah meja nakas untuk meyimpannya disana.
Namun, matanya menangkap sebuah buku agenda berwarna hitam dengan sticker hello kitty disana. Sebelah alisnya terangkat lalu mengambil buku itu, dibukanya halaman pertama Yunho mendapati tulisan rapi namun tertulis asal-asalan Kim Jaejoong disertai foto seorang gadis dengan seragam sma berlogo Toho dengan pose peace sign. Matanya besar, bercahaya. Hidungnya mungil,bibirnya merah merekah, kulitnya putih. Cantik sekali. Terbiasa memandang wajah dengan hidung mancung dan bintik diwajah khas orang barat Yunho mendapati dirinya terpaku menatap kecantikan khas wanita Asia. Astaga wanita Asia memang yang terbaik. Tersenyum tipis Yunho membiarkan tangannya dengan tidak sopan membuka lembaran demi lembaran buku itu.
Secara keseluruhan buku itu berisi foto gadis bernama Jaejoong dengan keluarganya, lebih tepatnya sang ayah. Pose pose manis dan tambahan kata-kata konyol dibawah setiap foto membuat Yunho melupakan kegiatannya dan malah asyik menjelajahi isi buku. Sampai pada halaman terakhir Yunho melihat foto yang melenyapkan senyumnya berganti dengan kerutan dahi.
Foto gadis itu dengan senyum yang sama cantiknya dengan wajah yang lebih muda berbalut seragam smp. Berangkulan mesra dengan seorang laki-laki sebayanya. Laki-laki tampan dengan senyum lebar.
Benak Yunho bertanya-tanya, siapa kiranya gadis ini dan siapa lelaki disampingnya ? kenapa bisa ada di kamar ini? Apakah kekasih Yihan? Tapi Yunho tidak mendapati satu pun foto Yihan bersama gadis itu.
Seakan tersadar Yunho mengembalikan buku itu ke laci dan melanjutkan kegiatannya. Setelahnya melemparkan diri ketempat tidur , Yunho memejamkan mata. Menghilangkan bayang-bayang gadis entah siapa yang bernama Kim Jaejoong itu. Sial, Yunho tidak percaya pada paham love at first sight dan tidak akan pernah percaya. Jadi ia memutuskan untuk membiarkan mimpi menjemput, diselingi bayangan senyum gadis manis dengan mata berkilau.
TBC
Bagaimana ? apakah membosankan sekali ? maaf ya kalo iya –bow- tinggalkan jejak kalian, kalo respon bagus akan saya lanjut. Khamsamnida –bow deep-
See you next chap~
