.

.

_(^_^)_

.

.

Tak lama kemudian ia dipanggil masuk oleh Kakashi, saat masuk ke ruangan itu mata Hinata tertuju pada pria berambut kuning jabrik yang tadi pagi memegang tangannya, dan sekarang ia berteriak pada Hinata nyaring.

"woahh... Hinata-chan kita sekelas!"

.

.

_(^_^)_

.

.

Setelah perkenalan didepan kelas Hinata dipersilahkan duduk oleh Kakashi menempati bangku paling belakang sebelah jendela, sejujurnya Hinata sedikit risih dengan tatapan para teman-temanya, meskipun Hinata sudah terlalu sering diperhatikan akan tetapi ia sama sekali belum bisa untuk terbiasa, karena ia tahu tatapan teman-teman barunya kepada dirinya ialah tatapan kagum sekaligus iri kepadanya.

Hinata sama sekali tidak pernah suka jika dipandang seperti itu, yang ia inginkan adalah orang-orang disekitarnya memandang itu adalah dirinya sendiri, bukan karena kesempurnaan fisiknya atau sebagai seorang noblelord ataupun sebagai calon lordkage, sekalipun itu adalah saudaranya sendiri bahkan juga tou-samanya ia amat sangat tidak menyukainya.

Srekk..

"eh.." Hinata terkejut saat Naruto menggeser tembat duduknya untuki lebih merapat pada Hinata.

"ini, kau butuh buku ini untuk belajar." Kata Naruto menyodorkan sebuah buku kepada Hinata sambil tersenyum lebar

Seketika itu pipi Hinata merona, baru kali ini ia diperlakukan sebegitu tulusnya tanpa embel-embel penghormatan dan tanpa memandang siapa dirinya yang sebenarnya.

"a-arigatou." Jawab Hinata sambil menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang merona dibalik poni tebal miliknya.

"woah.. rupanya kau juga bisa berbahasa jepang juga Hinata-chan?" kata Naruto dengan sorot mata berbinar.

Hinata suka pria ini, semua yang Naruto lakukan tampak begitu tulus padanya, akan tetapi Hinata samar-samar merasakan energi kehidupan Naruto tidak seperti manusia pada umumnya ataupun bangsanya.

Energi misterius milik Naruto yang Hinata rasakan sangat tipis sekali seolah energi miliknya tertutup oleh energi milik manusia normal pada umumnya, sehingga itu membuatnya ragu. Bahkan Kakashi yang seorang manusia modifikasipun dapat Hinata kenali energi kehidupanya.

Mungkinkah dengan tertidur sedemikian lamanya membuat kekuatan yang Hinata miliki melemah? Hinata mulai yakin jika kekuatanya melemah, buktinya ia sama sekali tidak mengerti dengan penjelasan Kakashi di depan kelas soal pelajaran matematika, sekalipun ia dapat terhubung dengan pikiran Kakashi, ia tetap tidak mengerti. Ia harus bertanya pada Tsunade, ada apa dengan dirinya ini.

"Hinata-chan, jangan melamun" suara Naruto memecahkan lamunan Hinata.

"kau sedang memikirkan apa?" tanya Naruto sambil menggeser posisi duduknya agar lebih merapat pada Hinata.

Hinata hanya menggeleng pelan sambil berusaha menggeser posisi duduknya agar sedikit menjauh dari Naruto.

"oh ya Hinata-chan, setelah ini kau harus ikut aku. Akan aku kenalkan kau pada teman temanku, Hinata-chan mau kan?" tanya Naruto semangat.

Hinata menganguk, mengiyakan pertanyaan Naruto barusan.

"ckk.. Hinata-chan, kenapa kau hanya menganguk dan menggeleng saja? Katakanlah sesuatu, aku ingin mendengar suara milikmu yang indah itu." Kata Naruto jengkel pada Hinata sambil menarik kursi yang Hinata duduki agar merapat padanya.

Sekali lagi pipi Hinata merona, bahkan ronanya kali ini lebih hebat dari yang pertama kali tadi, apalagi Hinata dapat merasakan hembusan nafas Naruto yang hangat, membuat ia tidak bisa mengendalikan diri seperti biasanya.

"Namikaze, tolong jangan berisik, pelarajan masih berlangsung." Kata Kakashi nyaring dari depan kelas.

"hehe.. gomen-ne sensei." sahut Naruto nyengir sambil menggosok belakang kepalanya.

Dalam hati Hinata sangat berterima kasih pada Kakashi, jika bukan karena Kakashi Hinata pasti akan ditanya macam-macam oleh Naruto dan Hinata sungguh bingung harus menjawab apa.

Kringgg...

Bel sekolah berbunyu nyaring, Hinata bingung. Ada apa ini?

Srekk..

Naruto berdiri dari bangkunya, kemudian menghadap pada Hinata dan mengulurkan tanganya.

"ayo, Hinata-chan ikut aku waktunya istirahat. Kukenalkan kamu pada teman-temanku. Dan juga mumpung aku sedang banyak uang akan kutraktir kamu makan ramen" kata Naruto.

Hinatapun mengangkat tanganya dan menerima uluran tangan Naruto. Sekali lagi Hinata samar-samar merasakan energi misterius milik Naruto yang tidak asing baginya, mungkinkah Naruto seorang werewolft? Sepertinya tidak, jika Naruto seorang werewolft kelas rendah pun akan mengetahui siapa dirinya dan pasti akan langsung menghindar jika bertemu dengannya.

Ctak..

"aduh.." keluh Hinata sambil memegang dahinya yang baru disentil Naruto.

"Hinata-chan melamun lagi. Hehe,, maaf Hinata-chan tadi kusentil. Habisnya aku memanggilmu dari tadi tapi kau tidak mendengarnya." Kata Naruto cemberut sambil menyilangkan tanganya didepan dada.

"kyaaa...itu Naruto-kun"

"Naruto-kun lihat kesini"

"tunggu dulu, siapa gadis yang sedang bersama Naruto itu? Cantik sekali, aku jadi merasa kecil."

"ckk.. berisik sekali, tak usah kau hiraukan ya Hinata, mereka itu para fansku, ayo kita lanjutkan perjalanan kita." Kata Naruto sambil menggandeng tangan Hinata.

Hinata hanya menganguk untuk menanggapi Naruto.

Degg..

Tiba-tiba Naruto merasakan bahwa ia sedang diawasi seseorang. Meskipun ia sudah terlalu sering diperhatikan, akan tetapi kali ini sengguh berbeda. Naruto merasakan energi yang sangat gelap, mungkinkah itu energi milik kaumnya? Ah.. sudahlah itu tidak penting.

"Hinata-chan, kita sudah sampai, inilah yang disebut sebagai kantin, surganya para pelajar seperti kita." Kata Naruto sambil menoleh ke belakang melihat Hinata.

"Naruto-kun,, sini sini" kata salah satu teman Naruto sambil melambaikan tangan.

"nah.. itu dia teman-temanku Hinata-chan." Kata Naruto menunjuk-nunjuk bagku tempat teman-temanya berada.

Narutopun berjalan menuju bangku yang teman-temanya tempati dan diikuti oleh Hinata dibelakangnya.

.

.

_(^_^)_

.

.

Naruto dan Hinata duduk bersebelahan di hadapan teman-teman Naruto yang akan ia kenalkan pada Hinata.

"nah teman-teman, kenalkan ini Hyuga Hinata, ia berasal dari luar negri sama sepertiku" kata Naruto nyengir ceria "oh ya,, tunggu sebentar ya Hinata-chan aku akan memesankan ramen untukmu, karena aku sudah janji untuk mentraktirmu"

"Naruto curang,, aku juga mau." Kata salah satu teman Naruto.

"tidak bisa Tenten-chan, kau sudah sering aku traktir." Sahut Naruto gemas sambil bergegas pergi.

"huh.. dasar pelit, oh ya Hinata aku Liu Tenten, panggil saja aku Tenten-chan. Boleh aku memanggilmu Hinata-chan kan?" kata gadis bercepol dua pada Hinata

Seperti biasa, Hinata hanya menanggapi dengan sebuah anggukan. Sungguh, kehidupan seperti inilah yang Hinata idam-idamkan. Tanpa embel-embel kekuatan dan kekuasaan, hanya ada kebersamaan dan kepedulian satu sama lain.

"aku Akasuna Sasori." Sahut salah satu teman Naruto yang bersurai merah darah.

Hinata hanya tersenyum simpul menanggapi mereka semua, tapi ia merasa aneh dengan pria bersurai merah darah, energi yang ia rasakan sama seperti milik Naruto. Akhirnya Naruto datang membawa makanan yang ia sebut sebagai ramen, sepertinya tidak buruk baginya untuk mencoba makanan buatan manusia, terlihat menggiurkan untuk dimakan.

"nah Hinata-chan makanlah." Kata Naruto menyodorkan semangkuk ramen pada Hinata, kemudian duduk dibangku samping Hinata.

Hinata hanya menanggapinya dengan anggukan, aneh kenapa ia merasakan energi manusia yang begitu gelap. Hinatapun menoleh dan mendapati gadis bersurai buble gum menghampiri bangku tempat ia duduk, energi gadis ini sungguh berbeda dengan manusia yang lain, penuh dendam dan ambisi yang besar.

"maaf teman-teman, tadi aku ada sedikit urusan" kata gadis itu, kemudian duduk di bangku kosong samping Naruto.

"kau kemana saja sih Sakura-chan? Oh ya kenalkan dia Hyuga Hinata." kata Tenten sambil menunjuk Hinata.

"oh hai.. aku Sakura Haruno, permisi sebentar aku mau memesan makanan." Kata Sakura sambil beranjak pergi.

Hinata hanya memperhatikan Sakura dari jauh, energi kegelapan milik Sakura sungguh membuatnya bertanya-tanya, tapi Hinata yakin dibalik itu semua Sakura memiliki sisi yang lembut dan kasih sayang yang ia miliki sungguh luar biasa besarnya.

"Hinata-chan, jangan melamun makanlah selagi masih hangat." Kata Naruto sambil menarik hidung Hinata.

Hinata hanya menganguk, kemudian menunduk menyembunyikan rona merah dipipinya.

"kyaa.. Hinata-chan manis sekali jika malu." Sahut Tenten gemas.

Pipi Hinata menjadi semakin merah seperti buah tomat, sesaat kemudian Hinata menyadari bahwa ada yang memperhatikan dirinya dengan tatapan benci yang teramat dalam.

.

.

_(^_^)_

.

.

Sepulang sekolah Hinata bergegas untuk menemui pelayan setianya mencoba menanyakan beberapa hal yang mengganjal dihatinya. Sepanjang perjalanan ia sesekali tersenyum mengingat kejadian tadi saat bersama Naruto dan teman barunya.

Hinata membuka pintu ber cat biru laut kemudian masuk kedalamya, di sana ia melihat Kakashi sedang bersama Tsunade.

"nona Hinata, bagaimana rasanya sekolah?" kata Tsunade saat melihat nonanya.

"menarik, aku suka tempat ini." sahut Hinata riang menampakkan senyum manisnya.

"sudah lama saya tidak melihat anda seceria ini." kata Tsunade

"Kakashi, apa ada yang ingin engkau tanyakan? Sepertinya ada yang mengganjal dihatimu" kata Hinata sambil duduk di sebuah sofa di sudut ruangan.

"sebelumnya maaf nona, apa yang anda maksud kalau hanya nada seorang noblelord yang tersisa?" kata Kakashi kemudian berdiri disamping Hinata.

"dahulu, sebelum manusia sekuat sekarang ada 5 orang noblelord, nona Hinata salah satunya. Aku sudah pernah bilang padamu kan Kakashi, jika semakin banyak noblelord memakai kekuatanya maka umurnya semakin memendek, itu yang mereka lakukan sehingga banyak noblelord yang mati. Para noblelord memakai kekuatan mereka untuk melindungi kaum bangsawan dan manusia dari para iblis yang menyerang, saat itu nona Hinata masih terlalu muda untuk berperang, meskipun nona Hinata yang terkuat diantara mereka semua. Para noblelord terdahulu melarang nona Hinata ikut berperang dengan para iblis karena nona Hinata juga merupakan calon lordkage di masa yang akan datang, karena itu para noblelord sangat melindungi nona Hinata, begitupun aku. Nyawa nona Hinata sangatlah berharga di banding para nyawa noblelord yang lain. Sudah mengerti kan engkau Kakashi" jelas Tsunade sambil menyodorkan secangkir teh pada Hinata dan ikut berdiri disamping Hinata.

Kakashi hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan.

Kling..

"Tsunade-san, apa kau merasakan energi aneh yang dimiliki oleh Naruto dan Sasori, energi mereka terasa sangat familiar dan sedikit memabukkan" kata Hinata sambil meletakkan gelas tehnya di meja menimbulkan sebuah bunyi.

"maksud nona?" jawab Tsunade bingung.

"entah mengapa aku merasa energi mereka berbeda dengan manusia pada umumnya." Sahut Hinata.

"mohon maaf, saya sama sekali tidak bisa merasakanya nona." Kata Tsunade sambil menunduk.

"mungkin karena energi mereka sangat tipis, mangkanya engkau ataupun Kakashi tidak bisa merasakanya."sahut Hinata sambil melihat Tsunade dan Kakashi bergantian.

.

.

_(^_^)_

.

.

Naruto pov..

Gadis bernama Hinata itu sungguh manis sekali, aku sungguh sangat tertarik denganya. Mungkin akan seru bila aku mengikat kontrak dengannya, akan ku jadikan dia mainan pribadiku.

Tapi aku merasakan energi Hinata sungguh sangat berbeda dengan yang lainnya, tapi sangat tipis sekali sehingga sangat susah untuk dirasakan.

"Naruto!"

Ah.. dia lagi, aku sedang malas bermain dengannya.

"Naruto! Dengarkan aku, Hinata itu siapamu? Kenapa kau begitu dekat dengannya? Apa dia juga bangsa iblis sepertimu?" kata gadis ini sambil berteriak kepadaku.

Ckk sepertinya ia harus kuberi pelajaran karena bebicara sembarangan disini.

"shh! Sakura-chan, jangan keras-keras. Nanti ada yang dengar, memangnya kenapa?" kataku sambil mendorongnya ke dinding dan menutup mulutnya dengan tanganku.

"aku majikanmu Naruto, kau harus menurutiku, kau tidak boleh dekat dengan gadis selain aku!"

"kau majikanku karena kita terlibat sebuah kontrak, bukan urusanmu jika aku dekat dengan siapapun. Malam ini bulan purnama tiba persiapkan dirimu karena sudah waktunya aku memakan energi dan tubuhmu."

Akupun bergegas meninggalkanya seorang diri yang sedang menangis. Persetanan, untuk memperdulikannya. Dari awal aku memang terlahir sebagai iblis yang tidak punya hati.

Ckk.. jika saja bukan karena kontrak sudah pasti kuserap energi kehidupannya, gadis itu sungguh merepotkan sebentar lagi akan aku selesaikan tugasku dengannya dan akan kubunuh dia, yap tinggal sebentar lagi, bersabarlah Naruto. Tidak ada yang kubutuhkan darinya selain tubuh dan energi kehidupannya yang lumayan nikmat.

Tbc...

.

.

_(^_^)_

.

.

Hallo semua~

Yang bilang cerita ini mirip noble**** yap, memang betul. Karena saya terinspirasi dari cerita itu dan beberapa cerita lainnya.

Buat Fk Treks makasih udah ngasih saran, nanti di chapter yang akan datang bakalan dijelasin satu-satu tentang kenapa peti Hinata ada di tempat itu dan siapa yang mindahin. Pertanyaan anda yang kedua sudah saya jelaskan kan? Hehe sekali lagi makasih ya saya seneng banget karena review anda membangun sekali. Jangan bosan ya Fk-san buat nge review saya, begitupun yang lainnya.

Oh ya marganya Tenten bener kan? Saya sedikit lupa.

Oke segitu aja cuap-cuap dari saya

Arigatou.

Jaa~ne