Chapter 2 : Kei Deeply Secret
Jum'at pagi, Hikari merasa sangat gelisah. Pasalnya, jika ia tak ikut, mereka pasti tak akan mengajaknya di kali lain. Belum lagi Sakura pasti akan mencemoohnya. Tapi ia benar-benar takut untuk mengikuti perlombaan itu. Belum lagi jika meminjam bahasa Megu, "Perlombaan konyol!, mengapa kalian tak pulang dan mengerjakan pr?".
Saat istirahat siang, Mereka sepakat makan di atap sambil membuka rapat kecil. Hikari berjalan dengan gontai ke atap, ia merasa kakinya sangat berat untuk di angkat, sementara pikirannya melayang, tentang bagaimana sosok hantu yang akan mereka temui di sana nanti. Tanpa di sadarinya, kakinya tak berhasil menginjak tangga berikutnya, dan ia terjatuh. Beruntung, Kei dengan sigap menangkap tubuhnya sehingga Hikari tidak terluka.
"Apa yang kau lakukan? Hentikan berjalan sambil melongo begitu!", baru kali ini ia mendengar Kei berbicara dengan suara keras.
"Maafkan aku.", Hikari menunduk.
"Sudahlah, asalkan kau tak terluka. Sudah, bangun dan cepatlah ke atas, mungkin mereka sudah menunggu kita, aku duluan". Setelah berkata begitu, Hikari mempercepat langkahnya, menapaki tangga yang tersisa, meninggalkan Hikari yang masih terduduk.
Hikari setengah kesal dengan sikap Kei, "Ugh, mengapa dia tak membiarkanku jatuh saja?, dengan begitu aku tak perlu berterima kasih pada orang menyebalkan itu..", ia berkata dalam hati.
Saat Hikari tiba, ia tak mendapati siapapun kecuali Kei. Kei berdiri di pinggir atap, ia memegang jeruji yang membatasi pinggir atap ―agar tak ada siswa yang jatuh-. Jadi Hikari menghampirinya dan menepuk lembut bahunya, untuk mengucapkan terima kasih.
"Kei, te..".
Kata-kata Hikari terputus, ia melihat Mata Kei basah.
"Kau kenapa Kei? Kau terluka?".
Kei memalingkan wajahnya "Tidak."
"Lalu?"
"Tidak ada apa-apa."
"Baik, aku percaya, tapi jika kau punya masalah nanti, maukah kau menceritakannya pada ku?", Hikari tersenyum, berusaha menghiburnya, sementara Kei terdiam, terlihat berpikir.
"...aku punya adik, yang selalu menutupi keberadaannya demi diriku. Padahal, jika dia ingin, dia bisa lebih hebat, bahkan lebih pintar dariku. Untuk menghindari terjadinya perselisihan dalam keluarga, ibuku sempat memasukkan kami ke sekolah yang berbeda." Kei berhenti sebentar, menghela nafas, lalu ia melanjutkan, "Tapi, Yahiro tetap memendam bakatnya demi aku yang tak memiliki apa-apa. Bahkan ia melakukan hal itu hingga akhir dia mati dengan senyuman di wajahnya."
"Tentu saja dia tersenyum Kenapa kau tidak yakin?"
"Aku tidak melihat jasadnya, polisi hanya datang ke rumahku, dan memberitahu bahwa mereka menemukan jasad, yang...setelah di identifikasi, adalah...Yahiro."
"Tidakkah kau berpikir, bahwa jasad itu...mm, bukan Yahiro, Kei?"
"Aku sangat mengharapkan hal itu, tetapi jika jasad itu memang bukan Yahiro..mengapa dia belum juga pulang hingga sekarang?" Setelah itu Kei dan Hikari terdiam.
"Err...Apa adikmu di bunuh?", Hikari bertanya hati-hati, memecah kesunyian.
"Kata polisi, ia bunuh diri. Namun aku yakin ―sangat yakin, ia telah di bunuh", Kei meninju kawat pembatas itu dengan keras, "Andai saja aku dapat menemukan pembunuhnya, aku juga akan membunuhnya." Kei terduduk lemah, wajahnya menunduk.
Hikari memeluk Kei dan menenangkannya.
"Andai saja aku dapat menemukan orang itu...Bukan! Andai saja aku dapat mencegah orang itu membunuh Yahiro..."
"Tenanglah, orang yang sudah pergi tak dapat di panggil kembali, tapi bukankah membalas dendam bukanlah pilihan yang tepat?"
"Kau benar."
Tiba-tiba pintu menjeblak terbuka,
"Ah, maaf kelihatannya kami mengganggu...", Akira terlihat salah tingkah.
Hikari melepaskan pelukannya, dan Kei dengan cepat kembali mengenakan kacamatanya.
"Ah, tidak. Ini tak seperti yang kalian lihat!", hikari berusaha menjelaskan, namun Kei hanya diam.
"Ku rasa itu sudah cukup menjelaskan semuanya, ufufu", Sakura tersenyum jahil.
"Wah, pasangan baru..", Tadashi ikut-ikutan mengejek.
Megu hanya bisa melongo, tak percaya terhadap apa yang di lihatnya,Kei sang pangeran es di sekolah...berhasil direbut hatinya,oleh Hikari! Namun ia jelas-jelas tak dapat menyalahkan penglihatannya, karena selama ini, matanya tak pernah salah.
"Sudah, cukup. Bisakah kita langsung membahas rencana malam ini?" Iori terlihat kesal.
"Ya, rencananya, kita tak akan pulang dari sekolah, ingat? Kalian sudah mengabarkan orang tua kalian bukan?", Megu berusaha setenang mungkin,namun suaranya sedikit karena Jun berdiri di sampingnya, tersenyum manis.
"Ya.", mereka menjawab serentak. Kecuali Hikari.
"Bagus, apakah benda-benda yang bisa membantu kita menjelajahi sekolah malam ini telah kalian siapkan?"
"Ya, aku bahkan membawa dua senter untuk cadangan.", Sakura berkata yakin.
"Aku membawa kamera!", Tadashi menjawab dengan antusias.
"Ah, aku membawa lampu dengan tenaga baterai...", Hikari menjawab pelan.
"Ayolah Hikari, kita bukan ingin piknik."
Semua tertawa sangat keras, bahkan Hikari juga ikut tertawa.
"Kau benar."
"Apa yang kau bawa Iori?", Megu menanyakannya karena sejak tadi Kyu terlihat tak fokus. Seolah pikirannya menerawang entah kemana, namun matanya beberapa kali melirik Toshiro.
"Hah, aku? Oh aku... Apa?", Iori terlihat terkejut.
"Kau bawa apa untuk nanti malam Iori?", kali ini Hikari yang bertanya.
"Oh, aku membawa denah sekolah, makanan ringan, botol air, tiga senter, lima lilin-jika bateraiku habis, aku bisa menggunakannya-, buku bacaan, dan Handphone ―jika terjadi sesuatu, setidaknya kita bisa menghubungi seseorang-."
"Wah?Ternyata ada yang lebih parah dari Hikari!", Megu menghela nafasnya.
"Whoaaa! Pasti menyenangkan menjadi pasanganmu. Kau bahkan membawa makanan ringan", Tadashi melirik Hikari, "Aku rela bertukar kapan saja".
Megu dan Iori memberinya tatapan tajam. Tampak benar, mereka tak rela jika Hikari harus berpasangan dengan Tadashi. Jun menangkap gelagat ini.
"Megu-chan? Matamu...ehm...menakutkan."
Megumi kaget dan langsung menutup matanya."Oh!Ma-ma-ma-maafkan aku..."
Akira langsung melotot pada Jun, yang kini sedang sibuk menenangkan Megumi.
"Maksudku...matamu sangat indah, jadi kau tidak perlu menutup matamu..."
Megumi pun menjadi lega, dan kembali memberi tadashi tatapan maut.
"Haha, aku hanya bercanda.", Tadashi menjawab dengan suara bergetar.
"Kei, kau bawa apa untuk persiapan nanti malam?", Sakura berusaha bersikap ramah pada Kei.
"Handphone.", jawabnya singkat.
Megu diam-diam mengaguminya, ini yang dia suka. Kei benar-benar orang pintar yang tenang dan tidak suka membesar-besarkan masalah. Lihat! Saat semua orang membawa banyak peralatan, dia hanya membawa satu barang. Benar-benar mengagumkan.
"Kalau begitu, aku juga hanya akan membawa Handphone", Iori tak mau kalah.
"Apa? Jangan konyol Iori, bagaimana Hikari bisa hidup tanpa teknologi dan persediaan makananmu?", Megu dan Tadashi berteriak bersamaan.
"Ah, tak perlu seperti itu, lagipula bagaimana aku dapat makan nanti? Aku akan sangat ketakutan di dalam sana, lagipula kita hanya pergi semalam", Hikari berusaha membela Iori.
"Tidak, mereka benar Hikari. Hanphoneku kulengkapi dengan senter dan air", Kei merogoh sakunya, dan mengeluarkan benda berbentuk tabung seukuran jempol, "Hanphoneku juga kulengkapi dengan radar yang akan kalian pakai nantinya, dengan begitu, jika kalian berada dalam bahaya, nyalakan tombol merah, maka aku akan segera datang".
"Handphoneku juga di lengkapi dengan tiga baterai cadangan,dan akan terus menyala hingga satu bulan dengan pemakaian yang maksima.l", Kei terdiam sebentar, "Sedangkan handphonemu, tak selengkap itu. Jadi, tetaplah membawa fasilitas yang telah kau siapkan, kalau tidak bagaimana kau akan bertindak sebagai ksatria bagi Hikari?", Kei menatap tajam ke arah Iori, seolah menantangnya.
"Kau benar, aku akan mengikuti nasihatmu", Iori berusaha tersenyum, namun yang tampak adalah seringai yang menyeramkan, seolah ia ingin berkata "Kau ingin perang? Baik tunggulah, akan ku berikan kau perang!".
Semua melongo melihat hal itu, tapi Hikari yang tak peka dengan keadaan, berusaha tampak semangat, "Yeah!, ayo kita bertualang ke dunia lain malam ini!", sebenarnya Hikari sudah merasa sangat ketakutan, namun ia tak ingin mengecewakan teman-temannya.
"Ya!", semua orang berkata serentak. Mereka tahu benar Hikari berusaha keras untuk tersenyum, padahal hatinya bergetar hebat, membayangkan apa yang akan menunggunya nanti.
To be continued...^_^
