Gundam SEED Destiny: Path of Future

By Magus-15IchiGo

Phase 02

Gundam SEED/Destiny

Rated: T

Language: Indonesia

Genre: Drama, Friendship, Romance, Family & a lil bit of Humor (maybe...)

Main Character Pairing: Kira Y. X Lacus C.

Hwallow mellow! This is Magus-15IchiGo! Let's begin the story! Enjoy!

Dislaimer: I do not own Gundam SEED nor Gundam SEED Destiny. It was owned by Sunrise and BANTAI! ... I mean, BANDAI. Hehehe...

With Shinn

Seorang pria berambut hitam sedang berdiri di depan sebuah kamar. Dia adalah Shinn Asuka. Nafas yang keluar dari mulutnya terasa berat. Setelah berlari untuk beberapa saat dari kejaran pacarnya, Lunamaria Hawke, akhirnya dia sampai di tempat tujuannya. Kamar yang ada di hadapannya merupakan kamar milik seniornya, Kira Yamato. Kamar ini akan menjadi tempat persembunyiannya untuk sementara ini.

Dengan nafas yang masih terengah-engah, dia masuk ke dalam kamar tersebut setelah sebelumnya menggesekkan kartu ID milik Kira, yang tadi diberikan oleh seniornya itu saat berpapasan dengannya di ruang santai pesawat, ke mesin yang terdapat di dekat pintu. Dilihatnya perabotan yang terdapat di dalam kamar tersebut dengan takjub. Semua perabotan sangat elegan dan mewah, sangat berbeda dari perabotan yang terdapat di kamar-kamar lain. Bahkan lebih keren daripada kamar-kamar yang disiapkan untuk para komandan-komandan yang lain.

"Komandan Kira pasti sangat dihormati di ORB. Sampai-sampai kamar yang disiapkan untuknya seperti kamar seorang tuan muda kaya raya," ucapnya sambil berjalan kearah King's bed untuk istirahat. "Ah ... kasurnya empuk sekali!" direbahkan tubuhnya dikasur tersebut. "Andai kasurku juga begini ... pasti tidurku akan lebih nyenyak lagi ... hahh ... nyamannyaa~"

Saat dia sedang asyik berputar-putar di kasur, tiba-tiba kepalanya terbentur meja kecil di dekat kasur. "Aw!" rintihnya sambil memegang dahinya. Dilihatnya meja kecil itu. Sebuah benda kecil berwarna emas dan selembar kertas menarik perhatiannya. Diambilnya benda kecil tersebut. "Hm? Cincin...?" Shinn mengangkat sebelah alisnya. "Kira-kira untuk siapa, ya? Ukurannya kecil, jadi pasti bukan untuk dirinya sendiri, kan?" Diraihnya kertas yang tadi ada didekat cincin. "Yang ini ... kertas kwitansi pembelian cincin ini ya?" dilihatnya lekat-lekat harga yang tertera di kertas tersebut dan membuatnya shock. "Hah! US$ 55.000?" teriaknya histeris. "Ba ... bagaimana bisa? Apa Komandan Kira itu sebenarnya seorang Millioner?"

Untuk sesaat, Shinn terdiam dalam shock. "padahal kupikir Komandan Kira itu dari keluarga sederhana, sama sepertiku ... Ternyata ... memang seorang tuan muda dari kalangan kaya raya, ya...?" Shinn bangkit dan duduk di bagian samping dari King's bed. Diangkatnya cincin tersebut ke udara dan diperhatikannya keseluruhan bentuk dan ukiran yang terdapat di cincin tersebut. Cincin itu memiliki sebuah permata berukuran standard berwarna azure yang diletakkan di tengah hiasan berbentuk bunga mawar yang dibentuk dengan untaian benang emas yang disatukan dengan sangat detail bersama dengan butiran-butiran permata pink yang kecil dan halus. Di bagian sisi luar cincin yang tidak ditempatkan hiasan terdapat ukiran-ukiran indah yang dibuat dengan detail dan sangat rapi. "Wah! Indahnya!" ucapnya dengan mata yang bersinar. "Pantas saja harganya mahal!"

Selama beberapa menit lamanya dia terus memperhatikan cincin yang ada di tangannya. 'Hmm ... apakah Luna akan memaafkanku jika aku memberikan sebuah cincin kepadanya?' pikirnya dalam hati sambil terus memperhatikan cincin itu. "Yah, tentu saja cincin yang harganya pas dengan uang sakuku ... hehe...," ucapnya sambil sweatdrop. Pandangan matanya kembali menelusuri bentuk cincin yang sedang dipegangnya sekarang. "Engagement ring?" ucapnya seraya mengangkat salah satu alisnya ke atas.

Cincin itu terus diputar-putarnya dengan jarinya hingga matanya melihat sebuah ukiran di bagian dalam cincin yang berbentuk hati dengan dua huruf balok di tengah-tengah ukiran tersebut. "K ... L...," diejanya satu-satu kedua huruf tersebut. "K-nya mungkin Kira, ya ... Hn ... Tapi L-nya siapa, ya?" dimiringkan kepalanya hingga menyentuh bahu. 'L ... L ... Luna? Tidak, tidak mungkin dia. Mereka baru kenalan tadi sebelum berangkat jadi tidak mungkin Luna,' batinnya dalam hati. Lagipula Luna selalu berada di dekatnya, jadi tidak mungkin. 'Hmm ... orang yang selalu dekat komandan Kira sejak terakhir aku melihatnya di memorial ... itu sih Lacus-sama. Tapi, walaupun Lacus-sama memiliki nama dengan awalan L, dia adalah tunangannya Athrun. Benar, kan?' tanyanya dalam hati. "Ah, terserah deh! Itu kan bukan urusanku!" teriak Shinn. "Yang jelas, wanita ini sangat beruntung mendapatkan pria seperti koma-"

Knock. Knock. Knock.

Shinn terdiam. Dengan seketika wajahnya menjadi pucat. 'Si, siapa itu? Luna kah?' tanyanya dalam hati dengan wajah yang semakin memucat. 'Apakah dia sudah tahu aku ada disini?'

With Kira and Athrun

Derapan kaki terdengar di sepanjang koridor. Kira terus berlari menuju ke kamarnya. Di belakangnya Athrun mengikutinya dengan wajah yang kebingungan. Keduanya berlari tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Athrun yang tidak merasa nyaman dengan kesunyian di antara keduanya mulai berbicara.

"Hey, Kira," panggil Athrun. Namun yang bersangkutan tidak menoleh ke arahnya. Kesal karena tidak diperhatikan, Athrun mencoba memanggilnya sekali lagi dengan nada sedikit membentak.

Mendengar namanya dipanggil, Kira menoleh ke belakang dan terkejut melihat Athrun yang ada di belakangnya. "Athrun? Sejak kapan kau mengikutiku?"

"Hah?" Athrun melotot. Dia tidak percaya pada apa yang didengarnya barusan. "KAU INI KEJAM SEKALI! AKU INI SUDAH MENGIKUTIMU SEJAK TADI! MASA KAU TIDAK SADAR SIH?" teriak Athrun dengan sedikit air mata tergenang di pelupuk mata kirinya.

"Ah ... begitu kah?" tanya Kira dengan polosnya. Athrun hanya terdiam mendengarnya.

"Hmph! Sudahlah. Itu bukan hal yang harus dipermasalahkan...," ucap Athrun dengan sedikit nada kesal. Kira tertawa kecil.

Keduanya terus berlari hingga sampai di tempat pemberhentian mereka. Kamar Kira. Perlahan Kira mengetuk pintu kamarnya namun tidak ada sahutan dari dalam. Kira yang kebingungan lalu menoleh ke arah Athrun.

"Nah, kalau menurut sifatnya ... mungkin dia hanya takut kalau-kalau yang mengetuk itu Luna," ujar Athrun menjelaskan. "Coba kali ini panggil namanya. Mungkin dia akan membukakan pintu."

Kira mengangukkan kepalanya dan perlahan berjalan mrndekati mesin yang ada di dekat pintu untuk menekan tombol yang dapat menyalurkan suaranya ke dalam kamar.

"Baiklah ... akan kucoba untuk meyakinkannya."

Dalam Commander Suit Room milik Kira

Shinn terdiam di kasur dengan wajah pucat pasi. Matanya terus menatap ke arah pintu dengan waspada. Jantungnya berdegup dengan kencang. Keringat dingin meluncur dari dahinya, membasahi baju yang sedang dipakainya.

"Shinn," terdengar suara laki-laki dari depan pintu. "Ini aku, Kira. Tolong buka kan pintunya!"

Mendengar suara Kira, Shinn menjadi sedikit rileks. 'Ah ... Ternyata itu hanya komandan!' Shinn mendekat ke arah pintu untuk membukakannya namun baru setengah jalan dia mendadak berhenti. 'Tapi ... bagaimana kalau Luna juga ada disana? Bagaimana kalau-'

"Luna tidak akan menghajarmu," ucap Kira dari balik pintu, seolah dia tahu apa yang sekarang sedang dipikirkan Shinn. "Aku hanya berdua dengan Athrun. Jadi tolong bukakan pintunya, Shinn!"

"Be, benarkah?" tanya Shinn ragu. Dia menjawab dengan menekan tombol yang ada di meja kerja Kira yang letaknya berada di antara kasur dan pintu.

"Benar, Shinn!" jawab Athrun menggantikan Kira.

"B-baiklah kalau begitu...," ucap Shinn pelan.

Secara perlahan Shinn kembali berjalan menuju pintu. Digesekkannya kartu pengenal Kira ke mesin scanner yang ada di sebelah kanan pintu. Pintu terbuka dan tertutup kembali setelah Kira dan Athrun masuk ke kamar.

"Hahh ... kupikir kau tidak akan membukakan pintu untuk kami...," desah Athrun.

"Ma, maaf! Kupikir Luna ada bersama kalian. Jadi...," ucap Shinn sambil menundukkan wajahnya, menatap lantai.

"Hahaha ... tidak apa-apa Shinn. Tidak perlu meminta maaf. Itu normal. Aku sudah biasa," Shinn hanya melihat Kira dengan tatapan bingung. Kira tersenyum melihatnya dan mencoba menjelaskan maksud ucapannya. "Athrun sudah sering bersembunyi dari Cagalli di kamarku. Dia sangat susah untuk diyakinkan bahwa aku sedang tidak bersama Cagalli. Jika sudah begitu, aku tidak akan bisa masuk ke dalam kamarku hingga tengah malam," Shinn melihat dengan tatapan takjub. "Intinya, Athrun itu lebih parah dari dirimu. Mengerti, kan?" Shinn mengangguk dengan cepat.

"Hey! Kenapa kau memberitahu Shinn hal itu? Kau ingin mempermalukanku ya?" tanya Athrun dengan rona merah di pipinya.

"Tidak. Tidak ada maksud seperti itu kok!" goda Kira sambil melihat sekelilingnya, mencari sesuatu. Athrun hanya mendengus kesal. 'Dimana 'itu' ya? Rasanya tadi pagi aku menaruhnya di dekat kasur deh...,' ucap Kira dalam hati dengan resah. 'Apa aku menyimpannya di tempat lain ya?'

"Apa yang sedang kau cari, komandan?" tanya Shinn yang melihat Kira yang kebingungan mencari sesuatu. "Mau kubantu mencarinya?" tawar Shinn.

"Ah ... Tidak apa-apa. Mungkin aku menaruhnya di tempat lain. Aku akan mencarinya sendiri," Kira tersenyum untuk meyakinkan Shinn. "Satu-satunya yang kuinginkan darimu hanyalah agar kau berhenti memanggilku dengan sebutan komandan. Aku lebih suka jika kau memanggilku dengan nama depanku saja. Tanpa embel-embel –san, -kun, -chan, -sama, maupun embel-embel yang lain."

"Baik, koman-, err ... I mean ... Ki-Kira!" Jawab Shinn terbata-bata. Senyum Kira makin melebar setelah mendengarnya.

With Luna

Luna terus berlari menuju ke kantin. Matanya menelusuri jalan dengan tatapan yang menusuk dan sangat penuh dengan kemarahan. Orang-orang yang berpapasan dengannya langsung menyingkir, merasa takut dengan tatapannya.

Ketika dia hampir sampai di depan pintu kantin, perlahan pintu itu terbuka dan memperlihatkan sosok seorang anak perempuan berambut merah yang dikuncir dua. Keduanya berhenti di tempat.

"Onee-chan? Kenapa terburu-buru?" tanya gadis berambut merah.

"Meyrin. Apakah Shinn ada di kantin?"

"Shinn?" tanya Meyrin kepada kakaknya, yang hanya dibalas dengan anggukkan cepat dari yang bersangkutan. "Tidak. Dia sejak tadi tidak datang ke sini."

"Are you sure...?"

"100% sure!"

"Oh, dammit!" teriak Luna frustasi. "Athrun dan komandan Kira berbohong padaku!" teriaknya kemudian mulai berlari menjauhi kantin.

Meyrin hanya terdiam dan melihat sosok kakaknya yang mulai menjauh dengan wajah kebingungan.

"Strange," ujarnya singkat.

With Kira, Shinn, and Athrun

Selama beberapa menit, Shinn dan Athrun hanya memperhatikan Kira yang sibuk mencari 'sesuatu' di seluruh kamar. Tiba-tiba Shinn teringat akan cincin yang sedang ia pegang sejak tadi.

"Umm ... komand-ah ... ng, Kira!" panggil Shinn yang masih kurang terbiasa memanggil atasannya itu dengan nama depannya saja.

"Ya?"

"Ung ... apakah benda yang Anda cari itu benda ini?" dibukanya telapak tangannya dan terlihatlah benda kecil berwarna emas di sana.

"Aaa ... a, ah, iya...," ucap Kira. 'Shit! Sudah ketahuan duluan deh! Padahal aku tidak ingin mereka mengetahuinya ... Oh my ... how embrasing ...,' pikirnya dalam hati.

"Cincin?" tanya Athrun sambil tersenyum jahil ke arah Kira. "Kau akan melamar Lacus, ya?"

"Eh? Lacus-sama? Jadi, cincin itu untuk Lacus-sama, ya?" tanya Shinn ke Kira, namun yang bersangkutan hanya terdiam dengan wajah merona. Kemudian dia menoleh ke Athrun untuk mendapatkan penjelasan dan hanya dijawab dengan anggukkan oleh seniornya itu. "Tapi ... bukankah Lacus-sama itu tunanganmu, Athrun?"

Athrun tertawa terbahak-bahak mendengarnya, sedangkan Kira wajahnya menjadi merah padam namun disaat bersamaan menjadi pucat pasi. Shinn hanya dapat melihat keduanya dengan tatapan kebingungan. Athrun yang sudah sedikit tenang menjelaskan perihal hubungannya dengan Lacus yang hanya seperti kakak-adik.

"Oh," ucap Shinn singkat dengan wajah takjub.

"Jadi ... kapan kau akan melamarnya?" tanya Athrun ke Kira yang sedang pundung di sudut kamar.

"... Secepatnya...," jawab Kira dengan tegas. Kira menoleh ke arah keduanya. "Bisakah kalian meninggalkanku sendiri?"

"Baiklah," ucap keduanya secara bersamaan.

Shinn mengembalikan kartu ID ke Kira saat mereka bertiga berjalan ke dekat pintu. Kira kemudian menggesekkannya ke mesin yang ada di dekat pintu dan pintupun terbuka. Athrun dan Shinn melangkah keluar kamar.

"Ah ... Shinn!" panggil Kira.

"Ya, Kira?"

"Maaf mengambil alih tempat persembunyianmu."

"No prob."

"Ah! Aku pikir akan lebih baik jika kau mencoba meminta maaf kepadanya," saran Kira kepada Shinn, namun yang bersangkutan hanya beku di tempatnya berdiri dengan wajah pusat pasi. "Kau tahu...," lanjutnya. "Permintaan maaf yang tulus akan mencairkan hati orang yang dingin sekalipun ... Kurasa Luna akan memaafkanmu jika kau meminta maaf kepadanya secepatnya bukannya bersembunyi darinya."

"Ehm ... akan kupikirkan...," ujar Shinn agak sedikir ragu. "Bye, Kira!" ucapnya kemudian dengan cepat berjalan menjauh.

"Bye, buddy," ucap Athrun sambil menepuk pundak Kira lalu mulai melangkah menyusul Shinn.

"Bye!" balas Kira, tersenyum.

Kira tetap berdiri di pintu hingga keduanya menghilang dari hadapan sepenuhnya. Dia mendesah dan kembali masuk ke kamarnya. Saat ini pikirannya hanya tertuju pada sosok gadis berambut pink yang ada di angannya. Kira berjalan ke arah kasurnya dan merebahkan tubuhnya. Dipejamkannya kedua matanya dan kenangan beberapa hari sebelum Lacus pergi ke PLANT berputar di kepalanya.

Flashback

Kira dan Lacus duduk di kursi yang menghadap ke jendela dengan Lacus duduk di antara kedua kaki Kira. Keduanya memandangi pemandangan lautan yang terpapar di luar jendela kamar mereka. Sebutir air mata muncul di pelupuk mata Lacus. Wajahnya yang sendu tidak luput dari pandangan Kira.

"Ada apa? Sepertinya kau sedang tidak senang?" tanya Kira sambil melingkari pinggang Lacus dengan kedua tangannya dan mencium pipi Lacus.

"A, ah ... Bu, bukan apa-apa...," jawab Lacus, memalingkan muka.

"Kau tidak perlu berpura-pura kuat di depanku," Kira mulai meninggalkan kecupan-kecupan di bahu dan leher Lacus kemudian ke pipinya lagi. "Aku akan terus berada di sisimu untuk mendengarkan seluruh keluh-kesah yang ada di benakmu..."

"Benarkah kau akan selalu ada di sisiku?" tanya Lacus pelan.

"Tentu saja..."

Keheningan menyelimuti keduanya. Melihat Lacus yang hanya terdiam membuat Kira semakin khawatir. Dia lalu memutar tubuh Lacus untuk berhadapan dengannya. Setelah berhadapan, dilihatnya air mata yang merembes dari kedua mata biru Lacus yang indah.

"Lacus..."

Pada awalnya Lacus hanya menangis tanpa bersuara, namun beberapa saat sesudahnya, Lacus menghempaskan tubuhnya ke kira dan mulai terisak-isak. Kira mengelus kepala Lacus dengan lembut.

"Lacus ... Apakah ada sesuatu yang mengusik pikiranmu?" Lacus hanya terdiam dan mempererat pelukannya ke Kira. "Lacus?"

"Tidak ... Bukan apa-apa...," jawab Lacus pelan. "Hanya berjanjilah bahwa kau akan selalu mencintaiku..."

Kira terdiam untuk beberapa saat lalu mulai menjawab. "... I will, my princess. I will...," Kira perlahan menurukan wajahnya ke Lacus dan menutup jarak di antara mereka dengan ciuman lembut di bibir merah Lacus.

Flashback end.

Kira membuka kedua matanya kembali. Dia bangkit dari kasurnya dan berjalan ke arah meja kerjanya. Dibukanya laci kecil yang ada di meja itu. Di sana terlihat sebuah bingkai foto kecil di atas tumpukan kertas dan buku-buku laporan yang akan diberikannya ke PLANT Council perihal kepindahannya ke PLANT.

Diangkatnya foto tersebut. Foto itu memperlihatkan gambar Lacus dan dirinya yang sedang bergandengan tangan dengan latar kebun bunga yang indah. Dikecupnya gambar Lacus dengan penuh perasaan cinta dan rindu. Kemudian dibawanya bingkai foto itu ke dadanya.

"Lacus...," ucapnya dengan pelan hingga seperti berbisik. "... tunggu aku. Aku akan segera kembali ke sisimu."

To be continue...

Ara ara? Gomen ne minna-san~ ... Sorry for the very late update! I've

been busy with school thing lately. So ... GOMEN NASAI! *bow*

Ah ... and gomen jika ceritanya kurang memuaskan.

Yosh! Walaupun aku kurang pandai berbicara, tapi ... SAATNYA KITA MEMULAI SESI MEMBALAS REVIEW LOG AND NON LOG-IN!

Agnes BigBang: waa ... senangnya ... *nangis gaje* Thanks karena sudah repot-repot review dan bilang kalau cerita ini menarik ... *bow*

Seiba Artoria: Sankyu karena sudah membagi sedikit ilmu ke diriku yang masih newbie ini! Tenang saja. Fic ini akan ku update terus! Tapi nggak janji kalau update-nya bakal cepat ya ... hehehe ... *laugh shyly* *didepak*

Ritsu-ken: Seperti yang kukatakan ke Seiba-chan, terima kasih sudah sudi membagi ilmu kepadaku! *bow* Dan ... tenang saja. Penjelasannya mudah dimengerti kok! (^u^)d *thumb up*

yuan: Nih. Sudah di update! Semoga memuaskan! Doain aja supaya otakku bisa buat cerita yang lebih romantis lagi. Maklum belum pernah pacaran ... hehehe ... *curhat* *didepak*

Jimi-li: Salam kenal juga! *bow* Aku nggak bisa janji bakal cepat meng-update fic ini. Tapi akan kuusahakan untuk tidak terlalu lama. Ok. Sampai jumpa lagi!

Holmes950: ini lanjutannya udah ada gan! Hope you enjoy it (even just a little).

AND WITH THAT THE REVIEW SEASON IS CLOSED.

Err ... By the way ... apakah menurut kalian harga cincin itu terlalu mahal? Hehe...

Alright! *meniru gaya Date dari Sangoku Basara* *ditebas Date* How 'bout this chappie? Is this turn good or bad? Sorry if there is any wrong grammar or typing in it. Hwalah! Cukup dengan penggunaan bahasa inggrisnya. Uhm! Kritik dan saran diterima. Jika kalian ada request, mungkin aku akan mempertimbangkannya.

Arigatou minna-san! Arigatou gozaimashita! Thank you for willing to take your time to read this fanfic! I'll see you in the next chapter! Jaa ne!

Mind to give me a review, friends? Please review if you can! Onegai shimasu!