Len mulai berjalan, menyusuri ruangan yang kelewat luas ini. Ia melangkah hati-hati, takut terjadi sesuatu di luar ekspetasi.

Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Pertama, ia melihat dirinya sendiri bersimbah darah di tengah jalan, sementara ia yakin ia baru saja melakukan aksi heroik menyelamatkan seorang gadis yang cantik ―tapi sinting― kemudian dikejar oleh makhluk entah apa. Len merasa mual tiba-tiba.

Kedua, ia dibawa ke sini. Ke sebuah tempat yang tidak pernah ia tahu sebelumnya. Dan lagi, gadis-gadis itu mengaku sebagai istrinya. Heloh, Len masih perjaka! Ia tidak sedang menikah dan berencana menikah dalam waktu dekat. Baiklah, Len, tarik nafas dalam-dalam, lalu keluarkan perlahan―

Emangnya gue mau lairan, thor?!

Maap, juragan.

Len menyusuri tempat ini dengan sedikit gugup. Ya wajar dong dia agak takut, ia tidak tahu apakah ia bisa pulang atau tidak.

Len menuju ke bagian tangga kiri dan mulai menapakinya. Api-api di dinding menyala begitu saja ―tolong, Len mencoba mengabaikan hal-hal aneh. Ia dapat mendengar gema langkahnya sendiri. Setelah menapaki tangga, ia berbelok ke kiri pula, menganggap ini tak lebih hanya rumah hantu semata. Hahahaha.

Len tidak begitu tahu, kapan netranya mulai asyik memandangi berbagai lukisan di dinding pada jalur yang dilewatinya. Lukisan-lukisan itu sangat indah, dimana menggambarkan sosok Rin yang ―ehem, cantik?

Dan ketika Len mengalihkan pandangan ke depan, ia temukan sebuah lukisan besar yang menggantung. Api dinding membantu memberi penerangan, dan membuat Len ingin pulang sekarang juga.

Di lukisan yang paling besar itu, terpampang wajahnya dengan wajah wanita sinting bernama Rin itu. Mereka berpose saling bersisian dan menggenggam sebuket bunga di tengah bersama-sama. Keduanya tersenyum, seakan itu adalah hari paling bahagia mereka.

Ini tidak mungkin...Len pasti sekarang sedang bermimpi. Ya, ini pasti hanya mimpi! Ia harus bangun sekarang juga!

Len lalu berbalik, namun jalurnya mendadak berubah sekejap mata. Bukan seperti jalur yang dilalui Len tadi meskipun Len sangat yakin baru saja melewatinya. Tempat ini tiba-tiba berubah menjadi labirin.

Pintu di sisi kanan Len terbuka dengan sendirinya, tanpa pikir panjang, Len masuk ke sana. Jalan yang mana saja boleh selama ia bisa ke luar.

Ajaibnya, Len kembali ke lantai dasar, tempat ia pertama kali menginjakkan kaki.

"Kau sekarang mengerti, Len?"

Wanita itu berdiri di hadapannya, dan memandang sendu padanya.

Len menggeleng cepat. Enggak, mbak.

"Aku terkena kutukan, bahwa jiwaku tidak akan tenang sebelum―"

Len berkeringat dingin,

"―mendapat pernyataan cinta dari titisan kekasihku di masa lalu."

"Ke-kenapa aku? Aku bukan titisan kekasihmu...kan?" Len memberanikan diri bertanya.

"Kau sudah melihat lukisan itu, bukan? Maaf jika kau memang tidak mau. Tetapi, bisakah kau membantuku? Aku tidak seharusnya tetap hidup, aku sudah lelah sendirian..." Rin memohon.

Len tidak tahu harus melakukan apa. Len tidak tahu harus berbuat apa.

Len...tidak tahu apa-apa.

"Lalu, kenapa kau dikutuk...R-Rin-san?"

Rin memutar raga, menyebabkan Len hanya dapat melihat punggungnya.

"Ketika kekasihku meninggal, aku berdoa pada iblis agar menghidupkan kembali suamiku dengan bayaran nyawaku. Namun, tubuhnya menolak dan mantranya beralih kepadaku. Kau tahu, sangat melelahkan hidup sekian lama..."

"...iblis itu berkata agar dapat terbebas dari kutukan keabadian ini, aku harus mendapat pernyataan cinta dari titisan suamiku..aku mencari selama ribuan tahun hingga akhirnya aku bertemu denganmu, Makuto Len..."

Len tidak paham. Iblis? Kutukan? Jadi, Rin itu makhluk apa?

"Awalnya aku juga manusia. Dosaku sendiri meminta hal mustahil pada makhluk terkutuk seperti iblis. Para malaikat maut mengejarku, tapi aku selalu menghindar karena aku tahu mereka takkan bisa mencabut nyawaku selagi aku berada dalam kutukan. Aku..aku hanya ingin mati...dengan tenang..."

Kenapa wanita itu ingin mati? Bukankah enak mendapat hidup abadi? Len tak pernah tahu rasanya hidup ribuan tahun menurut penuturan Rin, tapi pasti menyenangkan hidup lama ―menurutnya.

"Karena itu maukah kau membantuku, Makuto Len? Kau hanya harus mengatakan suka padaku dan kau akan kembali." Rin berbalik menghadapnya lagi.

Eh, kembali? Jadi Len bisa pulang dan memakan pisang kesukaannya?

"H-hanya harus bilang begitu?" Tanyanya memastikan.

Rin mengangguk antusias.

"B-baiklah. Akan kucoba." Len menarik nafas dalam sebelum mengucapkannya. Meski hanya sekedar kata, tapi Len merasa malu. Seumur-umur, tidak pernah ia menyatakan cinta ―apa kalian lihat-lihat, hah.

"Rin, a-aku suka padamu."

Nothing happens.

"Sekali lagi, Len." Pinta Rin. Len lalu mengganti kalimatnya.

"Rin, aku cinta padamu."

Nothing happens (2)

"Coba lagi, Len. Coba pakai nama lengkapku."

Wajah Len terasa memanas. Memalukan sekali mengatakan suka berulang-ulang! Ukh!

"K-Kagamine R-Rin..a-aku..jatuh cinta pada..padamu.." Len menggaruk pipi.

Hening.

Sunyi.

Senyap.

"Kenapa tidak terjadi apa-apa, ya?" Rin heran sendiri.

"M-mana aku tahu! Sudah aku kabulkan permintaanmu, jadi pulangkan aku!"

"Pulang ke mana, Makuto Len?"

"Y-ya ke rumah lah!"

"Kau lupa habis mengalami kecelakaan tadi? Kau pikir kau masih hidup?" Rin berkacak pinggang.

EEEEH? APALAGI COBA ―Len terkejut.

"Jiwamu saat ini ada di sini, karena kau berada di ambang kematian. Waktu itu kau melihat tubuhmu sendiri, kan? Kau pikir ada yang selamat dari kecelakaan seperti itu?"

Waktu itu? Waktu ia menolong Rin?

Tunggu. Hidup? Selamat?

"Tadi katamu aku akan kembali setelah mengatakan suka padamu."

Rin mendengus, "Siapa yang bilang kau akan kembali hidup?"

"Ja-jadi, aku sudah―"

Rin mengangguk ketika Len mengucapkannya.

"―mati?"

Len tidak bisa makan pisang lagi, dong?

.

.

.

.

Tuberkulosis eh to be continued!

.

.

Balesan review:


Go Minami Asuka Bi : gpp mb biar greget #NDA
m.a : yap betul betul betul
Cherry Monochrome : aku sudah ebrusaha memanjangkannya, tapi..HIKS #APAKAMU
PX-20 Neko Len-chan : oke terima aksih ya udah mampir~~~ UvU
Vanilla Latte : iya ku juga ngaqaq di bagian itu kok UwU

.

a/n : maap ya lama banget apdetnya mana pendeq lagi orzorz UwU

thanks for read!

siluman panda