Matsuzaki Yuu hanya ingin menikmati hidup sebagai orang sederhana dan biasa. Ingin merasakan kebahagiaan orang lain pada umumnya. Juga melihat dunia yang indah sentosa.

Ia masih menunggui Yan He, gadis yang tadi diantarkannya ke Rumah Sakit lantaran mengalami patah kaki. Yuu tak henti mengusap wajahnya karena lelah, lelah akan sikap Yan He.

Mengapa?

.

.

.

I Will Show You

Vocaloid : sampe kiamat bukan punya saya *cry

.

.

.

.

.

Yang Yan He lihat ketika ia membuka mata adalah sebuah langit-langit berwarna putih. Ia merasa berbaring di tempat yang sangat empuk. Matanya menyipit kala mendapati sinar lampu menyambangi. Perlahan, ia berusaha mengingat rentetan kronologis sebelum tersadar.

Ah, ia patah kaki.

Tunggu, kenapa ia bisa ke mari?

Yan He menolehkan kepala, melihat Yuu tertidur lelap di sisi ranjangnya. Sepertinya menunggunya. Yan He tidak tahu lagi harus apa, kali ini ia tertangkap basah oleh Yuu. Bagaimana caranya agar ia mengelak?

Yan He tidak ingin Yuu terseret dalam arusnya. Mereka berbeda.

Yuu sangat baik dalam segalanya, sementara ia hanyalah sampah masyarakat yang tak kunjung dibuang ke tempat semestinya.

Yan He sebenarnya tidak tahan bersekolah di sana, meski ia sering menyekoki pikirannya sendiri bahwa semua akan berakhir ketika ia lulus nanti. Ia hanya ingin menjadi siswi biasa.

Yuu mungkin tidak tahu penyebab mengapa Yan He sering dibully sebenarnya. Ia orang sibuk yang tak tahu gosip yang berseliweran di kanan kirinya, karena semua berawal sejak lama, sejak ia dilahirkan di kota ini. Matsuzaki Yuu hanyalah pendatang, tidak tahu apa-apa.

Dulu, ibu Yan He meninggal ketika melahirkannya. Pamannya, Zhiyu Moke akhirnya mengambil alih menjadi walinya. Pamannya adalah seorang penjudi, dan Yan He tidak pernah bisa menasihatinya. Bagaimanapun, pamannya lah yang mau menerimanya, ia punya hutang budi yang teramat besar karena ia juga disekolahkan. Jadi, Yan He memilih bungkam dan menganggap itu adalah hal yang biasa meski salah.

Suatu hari, menginjak usia empat belas, pamannya ditangkap polisi. Yan He yang panik langsung menuju kantor polisi dan bertanya bagaimana membebaskan pamannya. Ia tahu pamannya salah, tetapi ia akan berusaha.

"Kau baik sekali, Yan He." Kata pamannya yang sedang diinterogasi sewaktu Yan He ke sana.

"Aku sudah bebas, tenang saja."

Bagaimana caranya?

"Kau boleh membawa Yan He, Longya."

Seorang pria berjas di sisi pamannya hanya melempar senyum ke arahnya. Yan He bingung. Pria itu membawanya ke sebuah mobil di luar. Dan itu adalah terakhir kali ia bertemu dengan sang paman.

Yan He baru tahu jika pamannya menjualnya kepada Longya setelah pria itu menjelaskannya. Yan He tidak menyangka pamannya akan melakukan tindakan itu. Tapi, ia bisa apa?

Yan He dibawa ke rumah Longya setelah itu. Longya mengenalkan setiap seluk beluk rumah mewahnya pada Yan He, yang membuat Yan He terpana karena belum pernah melihat rumah seperti ini.

Pria bernama Longya itu begitu baik. Yan He diberi kamar berukuran besar, pakaian bagus dan makanan yang enak-enak. Ia juga bisa bersekolah karena jaraknya cukup dekat dari Longya. Longya mengatakan akan memenuhi semua kebutuhan Yan He. Walau Longya terkadang jarang pulang.

Yan He sempat lupa, ia sebenarnya adalah barang yang dijual.

Akhirnya hari di mana Longya meminta balasan atas itu semua pun tiba. Ia meminta Yan He bersedia menikah dengannya ketika akan beranjak ke SMA. Yan He menolak dan kabur dari Longya, lalu berlari entah ke mana asal pria itu tak berhasil mengejarnya. Ia berhasil lari dan akhirnya kembali ke rumah lamanya yang tak berpenghuni.

Namun Longya tetap tidak terima Yan He kabur darinya. Dengan pengaruhnya yang besar, ia selalu berusaha membuat Yan He tertekan di sekolah menengah atasnya. Ia membuat siswa-siswa di sana membullynya agar ia tak tahan dan kembali padanya. Yan He tahu, tetapi ia tak akan membalas. Ia sudah lelah, lagipula ia hanya menganggap Longya seperti keluarganya, tidak lebih.

"Kalau kau masih lari dariku, lihat apa yang terjadi saat kelulusan nanti."

Mungkin ini akan berakhir ketika ia lulus. Longya akan memaksanya di saat usianya telah legal. Pria busuk yang gigih rupanya.

Yuu tidak ada hubungannya dengan ini, ia tidak seharusnya terlibat.

"Yan He?" Yuu terbangun, mengerjapkan matanya. Ia melihat Yan He sudah siuman dan tampak memikirkan sesuatu.

"Matsuzaki..."

"Ya?"

"Kumohon menjauhlah dari hidupku."

Yuu tertegun. Irisnya mencari kebohongan dalam netra gadis itu, tetapi ia tak menemukannya.

"Kenapa?"

"Kau mungkin akan berakhir sama sepertiku. Dibully, dihina. Aku tidak mau itu terjadi kepadamu."

Yuu menggeleng, "Harusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa mereka semua-"

"Aku tidak akan menceritakannya."

Yuu bungkam. Ia mengangguk paham.

"Tapi ijinkan aku membantumu-"

"Tidak perlu, kau hanya buang-buang waktu." Potong Yan He.

"Kenapa?" Tanya Yuu lagi. Ia tidak mengerti apa maunya gadis itu. Seenaknya saja bilang tidak apa, bukankah kakinya sampai patah?

"Selamat pagi, Yan He."

Itu bukan Yuu, melainkan seseorang lagi. Pria berjas dengan rambut hitam-putih muncul dari balik pintu. Yan He melotot horor, berusaha mencabut selang infus dan lari. Yuu yang bingung hanya menatap mereka bergantian.

"Kau pikir kau bisa lari dariku, Yan He?"

"Ukh.." Yan He berhasil, namun kakinya terasa begitu sakit, bahkan ketika digerakkan sedikit.

"Longya...pergi kau!"

"Begitukah caramu berterima kasih kepadaku?" Longya tertawa. Pria itu melirik pada Yuu yang ada di sana.

Yuu bahkan tidak sempat mengeluarkan sepatah kata pun ketika pria itu menatap penuh arti padanya.

"Menjauhlah dari Yan He jika kau tak ingin ia berakhir di pemakaman."

Yuu tersentak, terkejut dengan pernyataan Longya. Ia merapal tangannya erat, menyebabkan kuku-kukunya memutih karena tekanan.

Yan He lebih memilih opsi pemakaman sebenarnya.

"Tidak akan. Aku akan menolongnya dengan kedua tanganku ini. Darimu." Yuu ganti menatapnya nyalang penuh keyakinan. Ia tidak tahu apa hubungan antara Yan He dengan pria itu, tapi sepertinya telah terjadi sesuatu di antara mereka dan Yan He tidak menyukainya. Lihat saja ia yang berusaha kabur tadi.

Longya tersenyum miring,

"Itu pun jika kau bisa."

.

.

Te

Be

Cehhhh!

.

.

.

Yagitarou Arisa : akhirnya terungkap alasan sebenarnya orzorz #mavok# ehehe makasih udah baca...

Thanks for read!

siluman panda