.

WARNING!
GS!
Underage drug use!

.

Title: Cloud Nine

Author: magikarpsan

Trans: Myka Reien (with change)

Main Cast: YoonMin

Genre: AU, Rate T, GS

Note: No bash, no flame, no copycat. Let's be a good reader and good shipper.

HAPPY READING

Ppyong~

.

.

.

Cloud Nine

.

.

.

Tak ada yang lebih menyenangkan bagi Yoongi selain bercinta dengan Jimin ketika dia dan gadisnya tersebut sama-sama sedang mabuk.

Itulah yang selalu mereka lakukan. Berbagi sebungkus heroin lalu bercinta. Jika keberuntungan tengah datang memihak keduanya, bandar Yoongi akan dengan senang hati memberikan bungkus tambahan secara cuma-cuma yang dapat membuat pasangan kekasih itu menikmati obatnya masing-masing tanpa harus bergantian. Berdua mereka akan memanasi benda memabukkan tersebut di apartemen sederhana Yoongi. Asap akan tercium hingga ke sudut terkecil kamar dengan cepat. Dan meski mereka tahu jika aroma menyengat tersebut akan tersisa dan menempel di serat baju mereka setidaknya hingga 24 jam ke depan, tak ada satu pun dari keduanya yang peduli.

Tidak butuh waktu lama bagi Jimin untuk mulai tersenyum, terkekeh, dan akhirnya tertawa tanpa kontrol. Pun dengan Yoongi yang kemudian akan menyeringai dengan mata menatap lekat, menginginkan belahan indah bibir kekasihnya lebih dari biasanya.

Dan kemudian Jimin akan bersikap demikian manja, menempelkan badannya pada Yoongi, memeluk lengannya, bergelayutan sambil tidak berhenti mengatakan lelucon tidak lucu yang akan dia tertawakan sendiri. Dia bahkan tertawa untuk semua hal, apapun dapat membuatnya tergelak seperti anak kecil. Jika sudah begitu, Yoongi hanya akan mendiamkannya. Membiarkan Jimin melakukan yang dia suka karena Yoongi tahu, kekasihnya tengah larut di dunianya sendiri.

Namun bukan berarti Yoongi juga tidak mabuk, setiap kali Jimin tertawa dia akan ikut tertawa. Entah karena apa. Entah bagian mana yang lucu. Tetapi, efek yang dialami namja tersebut tidak pernah setinggi Jimin. Dia selalu hanya menghisap beberapa kali, cukup untuk membuat kepalanya ringan dan badannya melayang, setelah itu memberikan sisa dosis untuk dihabiskan oleh gadisnya. Bukan karena Yoongi ingin menjadi satu-satunya yang tidak terkena efek tertinggi, dia hanya berpikir jika salah satu dari mereka harus cukup sadar untuk dapat menjaga yang lain. Selain itu, karena dia sangat mencintai Jimin makanya dia bermaksud untuk selalu memberikan yang terbaik bagi gadis tersebut.

Sering Yoongi berpikir, tidak seharusnya dia menghabiskan uang hanya untuk mendapatkan kesenangan sesaat dari heroin. Sering dia berpikir jika tindakannya yang mengajak dan melibatkan Jimin ke dalam kebiasaan buruknya itu adalah tindakan yang salah. Sering dia berpikir, tidak seharusnya dia membiarkan Jimin bermain-main dengan benda berbahaya seperti narkoba terlalu lama. Namun Yoongi selalu dibenturkan pada satu kenyataan jika dia tinggal di apartemen sederhana-nyaris-kumuh, bekerja serabutan untuk sekedar mengisi perutnya dengan beberapa suap nasi, dan yang lebih penting adalah dia tidak memiliki anggota keluarga yang tersisa yang dapat menjadi alasannya untuk bertahan hidup maupun menjalani hidup dengan lebih baik. Jadi tak ada yang salah baginya jika sesekali dia mencari sedikit kebahagiaan dan kesenangan dengan caranya sendiri.

Sedangkan kehidupan Jimin sebaliknya. Gadis itu dibesarkan di keluarga yang harmonis, dilimpahi banyak curahan kasih sayang, dan memiliki sifat bawaan yang sopan serta sedikit pemalu. Dia juga punya banyak teman yang selalu mengelilinginya, berbagi cerita, dan tertawa bersamanya. Jimin dikenal sebagai pribadi yang menyenangkan. Hanya satu sifat buruknya, dia terlalu berani. Keberaniannya tidak sesuai dengan tubuhnya yang mungil dan wajahnya yang cantik. Sifat itu pula yang kemudian mempertemukannya dengan Yoongi dan membuatnya tanpa ragu menjatuhkan hati walau dia tahu seperti apa latar belakang kehidupan Yoongi. Hubungan mereka baik-baik saja awalnya, meskipun Yoongi harus selalu menahan diri setiap kali penyakit high class Jimin kambuh dan gadis tersebut mulai mengomel ini itu sambil membereskan tempat tinggal kekasihnya yang berantakan. Pun dengan Jimin yang harus rela mengganti miniskirt serta high heels favoritnya menjadi stelan jeans serta sepatu converse supaya dapat lebih nyaman berdiri di bagian belakang sepeda gunung Yoongi.

Pertama kali Yoongi menyebut nama heroin, Jimin terlihat takut (tentu saja!). Bukan tidak mungkin gadis itu mempelajari tentang betapa berbahayanya obat terlarang tersebut di sekolahnya yang berasrama. Namun rasa penasaran Jimin lebih besar dari rasa takutnya dan pada akhirnya dia memutuskan untuk mencoba.

"Aku akan baik-baik saja selama aku bersama Oppa," ujarnya kala itu yang berhasil membuat dada Yoongi sesak seketika, antara merasa senang karena dianggap penting dan merasa bersalah karena sejatinya dia tahu jika apa yang dia lakukan itu salah.

Bagian paling favorit Yoongi dimulai ketika tawa Jimin perlahan mereda, diikuti oleh bulan sabit yang memudar dari wajah cantiknya yang memerah. Sorot bahagia di kedua matanya menghilang berganti dengan tatapan sayu yang menginginkan Yoongi, seluruh bagian tubuh Yoongi.

"Oppa...tidakkah kau kepanasan?" tanya Jimin sambil mulai membuka kancing bajunya dan bergerak mendekat pada kekasihnya yang sudah menunggu.

Pertama kali mereka mabuk bersama, tidak ada yang Yoongi ingin lihat kecuali tawa melengking Jimin dan bagaimana matanya akan berubah menjadi sepasang bulan sabit yang menggemaskan ketika tergelak sampai lemas. Tapi di tengah-tengah reaksi obat mendadak gadis itu berhenti tertawa, menatap dalam pada Yoongi, dan mulai menciumnya. Jimin membiarkan bibirnya dilumat habis oleh Yoongi dan sama sekali tidak melawan ketika kekasihnya tersebut mendorongnya hingga berbaring lalu menindihnya. Jimin bersyukur dia tidak terlalu ingat pengalaman pertamanya bercinta di bawah pengaruh obat karena ketika dia bangun yang dia rasakan hanya sakit di sekujur badannya. Dia yakin jika mereka bercinta tidak seperti yang selalu dia impikan.

Namun sekarang hal itu seolah sudah menjadi kebiasaan. Bedanya, kini mereka lebih dapat menguasai diri. Meskipun Jimin terkadang lepas kontrol karena dosis yang tinggi, masih ada Yoongi yang dengan pelan bisa memaksanya untuk sedikit bersabar, menikmati ciuman dan jamahan lebih lama. Baru ketika gadis itu memohon, Yoongi akan tersenyum dan memberikan apa yang dia mau tanpa banyak alasan lagi.

-o0o-

Dan perlahan masa-masa menyenangkan pun beranjak pergi seiring dengan keberanian Jimin yang mulai menapak satu jengkal melewati batas yang diberikan oleh Yoongi.

Kesenangan itu tak lagi ditemukan oleh Yoongi ketika suatu hari dilihatnya Jimin masuk ke dalam apartemennya dengan mata memerah dan ekspresi wajah tidak dapat ditebak antara panik dan bingung. Yoongi tidak bisa tidak mempedulikan keberadaan garis putih samar yang tersisa di bawah hidung Jimin dan di detik yang sama dia ingin menikam dirinya sendiri dengan gunting terdekat karena dia tahu—kali ini—dia sudah benar-benar merusak gadis polos itu.

Jimin terlihat berusaha untuk bersikap biasa saja. Dia berkeliling di dalam apartemen Yoongi, memunguti pakaian kotor untuk dimasukkan ke keranjang cucian sambil terus tersenyum cerah tanpa sadar jika kekasihnya tengah menatapnya dengan mata pedih yang berkabut. Sebab senyuman Jimin kali itu sama sekali tidak terbias di matanya. Senyuman cerah tersebut bukanlah senyuman yang selama ini disukai oleh Yoongi. Bukan senyuman yang selalu dan akan terus membuatnya jatuh cinta lagi pada sosok Park Jimin.

Perlahan Yoongi berjalan mendekati kekasihnya yang masih menyibukkan diri dengan baju kotor yang memenuhi keranjang. Disentuhnya bahu sempit itu dan dibaliknya tubuh mungil tersebut hingga berhadapan dengannya. Yoongi merendahkan kepala dan mencoba mempertemukan pandangannya dengan pusat mata Jimin yang sudah kesulitan menentukan fokus.

"Dari siapa kau mendapatkannya?" tanya Yoongi, sebisa mungkin untuk tetap tenang dan lembut sebab dia tahu emosi Jimin sedang tidak stabil saat ini. Bersikap kasar dan memaksanya hanya akan membuat gadis tersebut histeris. Walau pada kenyataannya, dibandingkan dengan perasaan takut membuat Jimin lepas kontrol, Yoongi lebih tidak siap pada apapun jawaban kekasihnya nanti. Dia tidak ingin Jimin mengiyakan kecurigaannya. Dia tidak ingin Jimin mengangguk pada kecemasannya. Dan dia tidak mau mimpi buruknya menjadi kenyataan.

Jimin nampak terkejut sesaat, kedua matanya langsung memandang ke arah lain mencoba untuk menyembunyikan kegugupannya, sedangkan di sisi lain sikapnya itu malah menyempurnakan kecurigaan Yoongi jika gadisnya tersebut tengah berada di bawah pengaruh obat.

"A-apa maksud Oppa?" suara Jimin terdengar gamang dan bergetar. Yoongi tidak menjawab dan hanya menatap dalam ke kedua mata kekasihnya.

Mendadak Jimin tertawa.

"Aku baik-baik saja, Oppa," ujarnya lalu memeluk leher Yoongi dan menghabisi jarak di antara kedua bibir mereka. Ciuman Jimin sangat berantakan. Tidak dapat menemukan harmoni yang baik dengan mulut Yoongi. Sangat tidak seperti dirinya yang biasanya.

Dengan sedikit memaksa, Yoongi melepaskan diri.

"Jiminie, tenanglah. Sudah berapa jam sejak terakhir kau melakukannya?"

"Melakukan apa, Oppa?" balas Jimin masih dengan senyuman mengembang di wajahnya dan ketika dia kembali mencoba untuk mendekatkan diri pada Yoongi, tangan namja itu mencengkeram kedua lengannya supaya dia tetap berada di tempatnya.

"Kenapa kau melakukan ini, Jiminie? Kenapa kau melakukannya tanpa bertanya dulu padaku?" cengkeraman tangan Yoongi terasa kuat di lengan Jimin, nada suaranya terdengar tegas, namun kedua matanya nampak terluka dan dipenuhi oleh rasa bersalah.

"Oppa, sakit..." gadis mungil itu menggeliat di dalam kungkungan tangan Yoongi, sepasang matanya berair yang mana langsung dapat melelehkan sikap kekasihnya. Yoongi melepaskan pegangannya dari lengan Jimin, mengusap sejenak tangan kurus itu sebelum akhirnya menariknya ke dalam pelukan erat.

"Maafkan aku..." bisik Yoongi di ceruk leher Jimin. "Ini semua salahku. Maafkan aku, Jiminie..." isakan samar menyertai kalimat terakhirnya seiring dengan dekapan di tubuh Jimin yang semakin menguat.

-o0o-

Seolah satu hukuman saja belum cukup untuk Yoongi.

Esoknya, Yoongi tidak dapat menemukan sosok Jimin di sebelah tempatnya tidur. Gadis yang seharusnya tetap berada di pelukannya itu sudah lenyap bahkan sebelum Yoongi benar-benar dapat membuka mata. Begitu dia sudah konek kembali dengan dunia, tidak butuh waktu lama baginya untuk menyadari ada sesosok mungil tengah duduk di lantai menghadap kloset toiletnya. Dua lengannya nampak susah payah berpegangan di tepi kloset, menahan tubuhnya untuk tidak tersungkur terutama untuk tidak membiarkan kepalanya terbenam ke dalam lubang kloset.

Jimin tidak menyadari kedatangan Yoongi karena dia tengah sibuk mengeluarkan seluruh isi perutnya ke dalam kloset.

"Apa kau sakit?" tanya Yoongi khawatir sambil memijat pelan bagian belakang leher Jimin. Gadis tersebut terbatuk sesaat dan ketika dia mengangkat wajah untuk memandang Yoongi, keadaannya membuat jantung namja tersebut melumer dan turun hingga ke kantung diafragmanya.

Jimin terlihat sangat kacau. Wajahnya pucat dan nampak letih luar biasa. Dia muntah hingga kedua matanya menangis tanpa sadar. Dan saat gadis itu mencoba untuk berdiri, dia hanya berakhir dengan terjatuh kembali ke pelukan Yoongi. Jimin menenggelamkan wajah di dada kekasihnya. Sebelah tangannya meremas kuat kain baju Yoongi sedangkan tangan lain mengepal di atas perutnya, seolah sedang menahan sakit dari dalam sana.

Bibir Yoongi kelu. Melihat sikap Jimin, berbagai macam persepsi muncul di dalam kepalanya diikuti oleh ketakutan demi ketakutan yang membuat tangannya gemetar bahkan ketika gadisnya semakin mendekatkan diri padanya untuk mencari perlindungan.

"Berapa garis?" bisik Yoongi nyaris tanpa suara, tapi masih cukup dapat didengar oleh Jimin. Terbukti dari bagaimana gadis itu memperkuat pegangan tangannya pada pakaian Yoongi dan menariknya supaya semakin dekat padanya. Tidak sampai sedetik kemudian, tangisan Jimin pecah.

Jimin meraung putus asa di pelukan Yoongi, bahkan bisikan penenang dari namja tersebut tidak dapat menghentikan sedu sedannya. Gadis itu terasa begitu rapuh di dalam dekapan Yoongi yang juga tidak dapat melakukan apa-apa kecuali hanya terus berusaha untuk membujuknya.

"Tenanglah. Aku di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu, Jiminie."

-o0o-

Setengah mati Yoongi mencoba meyakinkan Jimin untuk berhenti menggunakan heroin. Berkali-kali menghalanginya pergi ke pesta yang mana selalu berakhir dengan dia mabuk di kamar mandi, menguarkan bau obat yang dibakar. Dan bukannya Jimin tidak pernah mencoba. Terkadang gadis itu menuruti permintaan kekasihnya setiap kali diingatkan kalau bandar Yoongi sudah masuk dalam daftar buronan polisi dan tidak menutup kemungkinan jika ada detektif yang sedang membuntutinya. Bukan hal yang lucu seandainya Jimin ikut tertangkap saat melakukan transaksi dengannya. Dan senjata paling ampuh yang paling sering digunakan Yoongi untuk mengancam Jimin adalah kehamilannya. Kalau sampai gadis tersebut tetap nekat menuruti candunya pada narkoba dan kalau sampai hal itu mempengaruhi bayi mereka, Yoongi tidak akan segan-segan meninggalkannya. Dan tentu saja, Jimin tidak mau hal itu terjadi.

Yoongi tidak dapat memilih mana yang menurutnya lebih menghancurkan hatinya; Jimin yang terjebak di lingkaran narkoba hingga tidak lagi dapat membedakan antara kesenangan dan kecanduan, atau Jimin yang bermandikan keringat dingin, sekujur tubuhnya menggigil dengan napas pendek-pendek dan kelopak mata nyaris tidak pernah berkedip, lalu dia akan terlonjak kaget pada setiap suara bahkan yang paling pelan sekalipun di saat dia sedang mencoba untuk menghentikan dirinya sendiri dari keinginan menghisap heroin.

Dan tak ada yang lebih membuat seorang Min Yoongi ketakutan ketika dia sadar jika Jimin terlalu lemah untuk melepaskan diri dari narkoba. Tiga kali dia mencoba untuk memaksa Jimin melakukannya dan hanya berakhir dengan membawa gadis itu ke UGD. Rasa sakit di seluruh badannya ditambah dengan keadaannya yang masih sering muntah karena ngidam membuat kondisinya drop. Dokter bahkan mengatakan jika hal itu diulangi lagi kemungkinan bayi Yoongi juga tidak akan bisa bertahan.

Yoongi terpuruk, kondisinya—secara mental—mungkin lebih menyedihkan daripada Jimin sendiri. Terlebih ketika dia tahu kalau ternyata kekasihnya memaksakan diri untuk tidak menyentuh heroin bukan karena dia murni ingin berhenti, ataupun karena memikirkan bayi mereka. Jimin melakukannya hanya karena dia takut jika Yoongi meninggalkannya.

-o0o-

Kematian sahabat baiknya dikarenakan overdosis, menjadi alasan kuat Jimin untuk menghentikan ketergantungannya pada obat-obatan.

Malam itu Yoongi terburu-buru minta ijin ke bosnya untuk menjemput Jimin setelah sebelumnya gadis tersebut menelponnya dengan suara panik luar biasa bercampur dengan tangisan. Tak banyak yang dapat Yoongi tangkap karena Jimin bicara sangat cepat dan tidak terkontrol, namun kata-kata yang didengar oleh namja itu semuanya merupakan kata-kata yang menakutkan. 'Penggerebekan', 'polisi', 'overdosis', dan 'mati'.

Yoongi tiba di lokasi yang ternyata memang sudah dikelilingi oleh banyak mobil patroli polisi serta ambulans. Untungnya dia dapat lebih dulu menemukan kekasihnya yang berhasil menyelinap kabur dan tengah duduk memeluk lutut di sebuah sudut gelap gang di antara tumpukan kardus bekas dan rongsokan. Yoongi berlutut di sebelah Jimin, mengusap kepala pelan sekedar untuk memberitahu jika ada orang di sekitarnya, mencoba untuk tidak mengagetkan gadis itu meski tetap saja Jimin tersentak dan menoleh menatapnya dengan wajah tidak karuan.

"Oppa—!" Jimin mencengkeram kedua lengan Yoongi dengan sangat kuat. Kedua matanya nanar, pipinya basah, hidungnya beringus, dan bibirnya bergetar pun dengan seluruh tubuhnya. Sinar gugup, panik, dan takut nyata menguar dari pupilnya. Mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu—atau mungkin banyak hal—pada Yoongi namun tak ada sedikitpun suara yang keluar. Jimin terlalu ketakutan hingga tidak dapat menguasai dirinya sendiri.

Yoongi menangkup pipi chubby kekasihnya dan mengusap lembut jejak air mata yang tersisa dengan kedua ibu jarinya, namja itu tersenyum sambil menganggukkan kepala.

"Tenang saja, aku sudah di sini." Yoongi menarik Jimin ke dalam pelukannya, mendekap erat gadis tersebut, merasakan bagaimana tubuh mungil itu menggigil hebat di dalam kutatan lengannya. Untuk yang kesekian kalinya, dada Yoongi ngilu, jantungnya bagai dicacah menjadi potongan halus demi menyaksikan kondisi Jimin yang seperti ini.

"Tak ada lagi yang perlu kau takutkan, Sayang. Semua akan baik-baik saja. Kita pulang, ya? Hm?" bisik namja tersebut sambil mengusap rambut hitam Jimin yang tergerai sedada. Terasa sebuah tangan kecil meremas kuat kain baju Yoongi di dalam pelukannya dan sebentar kemudian kepala bulat itu bergerak mengangguk disertai oleh suara pelan isak tangis.

Yoongi tersenyum. Menundukkan wajah untuk mencium sebelah telinga kekasihnya dan mempererat pelukannya.

-o0o-

"Dia mati, Oppa. Dia mati. Dia mati. Dia mati. Dia mati. Dia mati. Jungkook mati, Oppa." Jimin mengoceh tidak karuan ketika tubuhnya diturunkan ke tempat tidur oleh Yoongi. Tangannya memegang lengan jaket namja itu dengan kuat seolah seluruh hidupnya sekarang bergantung pada Yoongi.

"Aku melihatnya sendiri, Oppa. Dia meminum semuanya. Dia membakar semuanya. Dia bilang dia tidak akan apa-apa. Dia bilang dia masih belum mabuk. Tapi matanya sudah merah. Dan dia sudah mabuk. Tapi dia masih minum lagi. Dia masih minum lagi, Oppa. Jungkook...hiks..." kalimat Jimin berakhir dengan tangisan, semakin lama semakin keras hingga akhirnya dia meraung meratapi nama teman dekatnya yang setahu Yoongi juga menjadi kekasih salah satu junior-nya di tempat kerja.

Gadis itu sama polosnya dengan Jimin—saat Yoongi pertama melihatnya. Namanya Jeon Jungkook. Sangat cantik, dengan fashion berkelas dan pembawaan sedikit sinis hingga berkesan dia gadis elegan yang sombong meski nyatanya dia hanyalah seorang tuan putri yang begitu polos di tengah-tengah dunia yang keras—sama seperti Jimin.

Pertama kali melihat Jungkook ketika dia datang menemani Jimin untuk menemui Yoongi di tempat kerjanya dan pertemuan kedua mereka ketika gadis tersebut sedang berkencan dengan Kim Taehyung, seorang namja yang lebih muda 2 tahun dari Yoongi, sedikit aneh, dan merupakan rekan Yoongi di tempat kerja meski mereka beda shift. Entah bagaimana legendanya kedua orang itu bisa berkenalan hingga berkencan, Yoongi pernah menanyakan hal tersebut pada Jimin tapi Jimin sendiri juga tidak tahu karena menurut dia, Jungkook bukanlah orang yang terbuka mengenai perasaannya.

Sudah sangat lama Yoongi tidak bertemu lagi dengan Jungkook dan mendengar berita tentang dia yang seperti ini, Yoongi tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Tidak mengherankan jika Kim Taehyung memiliki pergaulan yang sama seperti dia. Rata-rata orang yang ada di tempat kerjanya memang pemakai. Baik sejak awal mereka masuk maupun karena terpengaruh oleh yang lain. Namun melihat ada orang lain yang terjerumus hingga menjadi korban—seperti Jimin—entah kenapa membuat Yoongi merasa marah. Marah pada Taehyung yang membiarkan Jungkook mengikuti jalan hidupnya, maupun marah pada dirinya sendiri karena merasa jika orang-orang seperti dia—dan Taehyung—tidak seharusnya ada di dunia ini, tidak seharusnya mengotori dunia ini dan mengotori orang lain, merubahnya hingga sekumuh mereka.

Memikirkan nasib Jungkook yang malang, memikirkan akan seterpuruk apa Taehyung nanti jika tahu tentang hal ini, memikirkan keadaannya sendiri yang tidak jauh beda dari mereka, membuat Yoongi ingin mengakhiri hidupnya saat itu juga. Namun tangan Jimin yang meraih tangannya, menghentikan langkahnya yang menjauhi tempat tidur, melihat bagaimana gadis itu bersusah payah merayap untuk mendekatinya, menatapnya dengan kedua mata yang dipenuhi oleh serpihan kristal bening dan permohonan padanya untuk tetap tinggal, sekejab membuat Yoongi terpaku. Namja tersebut seolah baru saja ditampar dengan sangat keras oleh kenyataan. Kenyataan jika dia masih memiliki tanggung jawab. Masih ada Jimin yang harus dia kembalikan lagi senyuman cerahnya juga matanya yang akan menghilang menjadi bulan sabit yang menggemaskan setiap kali dia tertawa. Dan masih ada bayi mereka, separuh dirinya yang bersatu dengan Jimin, orang pertama yang akan memiliki pertalian darah dengannya dan orang kedua yang akan menjadi dunianya.

Seketika Yoongi seperti menemukan kembali kekuatan di kedua kakinya untuk terus berdiri. Menemukan keberanian untuk menyambut tangan Jimin dan menggenggamnya. Menemukan keinginan untuknya bertahan hidup, meraih gadis tersebut, dan memeluknya. Menemukan alasan untuknya harus menjalani hidup dengan lebih baik. Itu adalah Park Jimin dan anak mereka.

"Oppa..." suara Jimin terdengar bergetar.

"Tolong aku, Oppa. Tolong. Aku tidak mau mati, Oppa. Aku tidak mau mati seperti Jungkook. Aku masih mau hidup, Oppa. Tolong aku..." isakannya terdengar pedih memenuhi setiap sudut kamar.

Yoongi melepaskan pelukannya, memegang wajah Jimin dengan sebelah tangannya. Diusapnya air mata kekasihnya yang terus mengalir seperti tidak akan pernah kering di pipinya yang sudah memucat.

"Tentu saja, Sayang. Kau pasti bisa melakukannya. Aku akan membantumu. Kita akan berjuang bersama. Ne?" dengan lembut Yoongi mencium pipi Jimin sebelum kembali memeluknya. Dalam hati dia bersyukur karena akhirnya gadis itu mau dengan sukarela menghentikan ketergantungannya terhadap obat-obatan.

-o0o-

Jimin tidak bisa tidur malam itu.

Candunya akan obat dan keinginannya untuk mendapatkan mereka sangat besar, begitu besar hingga berkali-kali terbersit pemikiran di alam bawah sadarnya untuk mengambil seluruh uang simpanan Yoongi dan menukarnya dengan berapapun heroin yang bisa dia dapatkan di bandar. Namun kemudian dia kembali teringat pada Jungkook, pada senyuman manis sahabatnya itu, suaranya yang merdu ketika mereka bernyanyi bersama, dan bagaimana dia tidak akan pernah melihatnya lagi, tidak akan pernah bisa mendengar suaranya ataupun bertemu dengannya lagi. Mengingat itu semua membuat keinginan Jimin akan narkoba seketika buyar, berganti dengan isak tangis yang menyayat hati.

Esoknya, Yoongi terbangun dengan Jimin tepat berada di sebelahnya. Berbaring melingkar dengan kening dan pakaian basah karena keringat dingin. Napasnya nampak terengah-engah, bibirnya memutih dan kantung matanya menghitam. Jimin terlihat sangat menyedihkan. Namun setidaknya dia bisa memejamkan mata, tertidur, dengan tangan yang mencengkeram kuat pakaian Yoongi.

Yoongi menggeser badan, membawa dirinya untuk semakin dekat dengan Jimin, supaya dapat memeluk tubuh mungil itu dan mengusap rambutnya, berharap apa yang dia lakukan dapat sedikit menenangkan kekasihnya yang sedang berperang melawan keinginan kuat di dalam dirinya.

Yoongi tidak bisa memutuskan mana yang lebih tepat disebut sebagai mimpi buruk; melihat Jimin yang tersiksa dan kesakitan karena ingin lepas dari ketergantungannya akan obat terlarang, atau membiarkan gadis itu tetap menjadi pecandu hingga datang hari dimana dia tidak akan pernah merasa cukup dan akhirnya overdosis.

-END-


Cloud nine adalah sebuah kondisi dimana seorang pemakai narkoba sedang mabuk di titik tertinggi, biasa juga disebut nge-fly. Secara harfiah, cloud nine diartikan sebagai surga (heaven) atau utopia.