Betrayal

Disclaimer : Naruto Selalu menjadi milik Masashi Kishimoto, Saya hanya memiliki plot cerita dalam fanfict ini saja.

Warning : Gaje, aba, OOC, Typo dan Miss Typo seperti biasa nya mereka masih enggan meninggalkan saya sendirian.

Warning : Aneh, abal, Gaje, OOC, typo dan miss typo seperti biasa masih menolak untuk meninggalkan saya. DLDR

Todai University, Tokyo Japan

Dengan anggun gadis cantik bersurai merah jambu itu memarkirkan mobilnya diantara mobil-mobil mahasiswa todai yang lainnya. Ia membenahi letak bowl capnya sekali lagi dan memastikan shall rajutan ibunya melingkar dengan benar di sekitar lehernya sebelum meraih sketch book dan tas tangannya lalu keluar dari mobil VW kodok tua berwarna kuning kenari miliknya itu.

Alas sepatu ankle boot miliknya menginjak lapangan parkir yang tertutup salju. Ia berpindah pelan-pelan lalu menutup pintu mobilnya lalu melangkah dengan hati-hati meninggalkan lapangan parkir. Ini sudah memasuki musim dingin, ia hanya berharap kalau hari ini hujan salju tidak akan lebat dan menghambat kegiatannya hari ini. Ini hari pertamanya bekerja dan musim dingin bukanlah sahabat baik bagi mobil tua miliknya. Sakura menghela nafasnya dan terus melangkah menaiki undakan demi undakan yang ada didepannya, undakan-undakan yang akan membawanya ke pintu masuk gedung fakultas dan memulai harinya hari ini.

Sementara itu, sebuah mobil sport berwarna biru tua berhenti di depan gedung fakultas design. Seorang pria bersurai raven dan seorang wanita bersurai indigo keluar dari dalam mobil itu bersamaan. Sasuke menekan tombol kunci otomatis pada kunci mobilnya lalu mengikuti Hinata dari belakang, kalau bukan karena gadis itu minta di jemput pagi ini dan ibunya berpesan untuk mengantarnya sampai kedalam gedung fakultas ia pasti enggan untuk berlama-lama di sini.

"sebenarnya apa yang terjadi padamu?" suara baritone itu terdengar menyapa indra pendengaran Hinata

"Ayahku pasti mengirim mata-matanya lagi Sasuke-kun, aku sudah tidak pulang kerumahnya selama dua hari ini dan memutuskan untuk tinggal dengan okaa-san." Ujarnya, Sasuke menghela nafasnya, menjadi anak broken home memang bukan status yang cocok untuk gadis indigo yang tengah berjalan beriringan dengannya itu,

"Hinata, bagaimanapun juga paman Hiazhi adalah ayahmu. kau harus bicarakan ini dengannya baik-baik dan cobalah mencari jalan keluar. Kau bilang kau hanya ingin membantu teman mu kan?" ujarnya, Hinata memutar kedua bola mata lavendernya

"kau tidak akan mengerti. Ayahku bukan tipe seorang ayah yang bisa di jadikan panutan seperti ayahmu." Sasuke menghela nafasnya berat, mereka sudah ada dilobby fakultas design,

"Kita sudah di Lobby, sesuai perjanjian aku akan pergi sekarang, aku ada kelas sepuluh menit lagi." Ujarnya sambil melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya,

"hm.. tidak apa-apa lagi pula sudah ada temanku di sana." Ujar gadis indigo itu, Sasuke menaikkan sebelah alisnya lalu mengikuti arah kemana jari Hinata menunjuk,

"Sakura!" Gadis itu, gadis merah jambu itu menoleh saat Hinata memanggil namanya, Sasuke tersentak dan mengedipkan matanya beberapa kali secara tak sadar. Dia tidak bermimpi. Dan gadis yang di panggil Hinata dan sedang berjalan mendekat kearah mereka sekarang adalah gadis yang sama. Gadis yang ia lihat di café dan secara tidak sengaja tertangkap lensa kameranya waktu itu.

"Hinata." Mereka berdua berpelukkan seperti kawan lama yang sangat akrab, ketika melepaskan pelukannya secara reflek gadis merah jambu itu mengarahkan sepasang iris emerald green miliknya dan memandang Sasuke yang sialnya masih membeku di tempat dengan pandangan bertanya.

"Ah… dia temanku. Ingat orang yang ingin ku kenalkan dan pesta selamat datang yang akan ku gelar hari ini di bar milik Chouji-senpai?" gadis itu terlihat terkejut dan menepuk dahinya,

"Aku ingat, ah… apa kabar? Aku Haruno Sakura." ia tersenyum kearahnya, dan mengulurkan tangannya

"Sasuke Uchiha." Ujarnya, akhirnya dua kata itu bisa terlontar dengan sempurna dari bibirnya dan sebelah tangannya terulur untuk menyambut uluran tangan Sakura.

"Nah, Sasuke-kun kau tadi bilang kalau ada kelas sebentar lagi kan? Kau bisa pergi. Sakura sudah bersama ku jadi tidak apa-apa." Ujar Hinata, Sasuke melepaskan jabatan tanganya dengan Sakura tapi sepasang onyx miliknya masih enggan untuk melepaskan pandangannya dari sepasang emerald green milik gadis merah jambu di hadapannya itu.

"Hn. Aku pergi sekarang. Jam berapa pestanya nanti malam?"

"Jam delapan malam tepat. Aku sudah membooking barnya jadi hanya akan ada kita dan beberapa temanmu termasuk Naruto-senpai dan beberapa teman-teman ku juga. Neji-nii dan Tenten-nee akan hadir juga." Jawab Hinata

"Baiklah, aku pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik." Ujar Sasuke lalu bungsu Uchiha itu melangkah keluar dari gedung fakultas design meninggalkan kedua gadis berbeda warna surai itu sendirian.

"Nah, Sakura kalau aku tidak salah ingat hari ini kau ada kelas Kurenai-sensei." Sakura menepuk kening dan mengumpat kesal saat menyadari itu.

"Dia bisa membununhku kalau aku terlambat. Ayo Hinata, kau ada kelas juga bukan pagi ini?" gadis indigo itu menggeleng

"tapi aku akan ada di studio design untu mengerjakan tugas design interior pagi ini." Sakura mendesah kecewa

"Beri tahu aku kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu, atau kalau gadis-gadis menyebalkan itu mengganggumu lagi hari ini. Mengerti?" Hinata mengangguk,

"Baiklah aku duluan." Ujarnya, Hinata mengehela nafasnya lalu melambai kearah Sakura sebelum meninggalkan lobby fakultas dan naik kelantai empat menggunakan lift.

Architecture building, Todai, Tokyo Japan

Professor Yamato tengah asik menekan remote control otomantis yang sejak tadi ada dalam genggaman tangannya dan gambar rancangan bangunan ikut berganti setiap kali ia menekan tobolnya. Naruto, pria pirang dan putra tunggal keluarga Namikaze itu masih asik mencatat dan memperhatikan kedepan tepat dimana podium kecil tempat sang professor itu berdiri dan menjelaskan kepada dua puluh mahasiswa yang mengikuti kuliahnya pagi ini. Sementara Sasuke Uchiha, ia masih asik duduk di sudut ruangan, sebuah buku sketch berukuran A5 masih terbuka dan tangan kanannya sibuk menggambar bidang tak beraturan yang seharusnya sudah berbentuk gambaran kasar sebuah bangunan yang ada di dalam benaknya. Gadis pink itu berhasil mengacaukan fikirannya. Naruto menoleh kesamping tepat saat sang professor memberi mereka waktu untuk istirahat selama lima belas menit, putra tunggal pasangan Namikaze itu berniat mengajak sahabatnya ke kedai kopi di lantai satu gedung fakultas Arsitektur hari ini tapi ia justru di buat heran saat melihat Sasuke yang masih asih menggambar hal tak beraturan diatas lembaran Sketch booknya.

"Bukannya gambar itu seharusnya sudah menjadi sebuah bangunan seperti biasanya, eh Sasuke?" Bungsu Uchiha itu tersentak kaget lalu memandang kertas tak berdosa dihadapannya dengan sedikit kesal lalu merobeknya.

"Aku tahu. Isi kepalaku rasanya berantakan saat bertemu dengan dia hari ini." Ujarnya, Pria itu memasukkan buku dan alat gambarnya kedalam tas ranselnya lalu meraih tabung berisi kertas gambar miliknya dan berdiri dari tempatnya duduk.

"Setelah ini apa professor Yamato lagi yang mengajar?" Naruto menggeleng lalu membuka ipadnya, mengecek jadwal berikutnya

"bukan dia, tapi asistennya. Kenapa?" tanya pria pirang itu.

"Aku ingin keluar, kau mau ikut?" tanyanya,

"Makan siang? Kita akan ada kelas lagi sekitar jam empat sore hari ini." Ujar Naruto

"kita bisa kembali sebelum jam empat. Kita ke apartement mu saja, ada yang ingin aku tanyakan." Naruto menghela nafasnya lalu mengangguk, ia ikut merapihkan alat gambar dan buku sketsanya lalu meraih tabung gambarnya sebelum keluar.

Design Departement, Todai, Tokyo Japan

Sakura Haruno. Gadis itu duduk di barisan paling depan ruang auditorium gedung fakultas design dan mendengarkan kuliah umum yang di berika Hana Uchiha hari ini. Gadis itu duduk dengan santai dan fokus memperhatikan bos sekaligus designer idolanya itu berbicara selama kurang lebih satu setengah jam. Mencatat apa yang perlu ia catat dan bertanya jika ia perlu bertanya dan bersyukurnya ia karena Hana memiliki kepribadian yang luar biasa ramah dan tidak ragu untuk membagi ilmunya dengan mahasiswa lainnya jadi ia bisa mendapat ilmu tambahan dari designer ternama itu.

"Jadi, kira-kira itu adalah inti dari kuliah umum hari ini. Apakah masih ada pertanyaan yang lainnya?" Suara lembut Hana mengalun lembut melalui microfone yang ia gunakan. Sementara suasana hening kembali menyelimuti ruang auditorium yang di isi kurang lebih enam ratus mahasiswa dari jurusan fashion design.

"Baiklah kalau begitu, jika tidak ada yang bertanya lagi maka kuliah kita sampai disini. Selamat pagi dan terimakasih." Suara tepuk tangan meriah bergemuruh saat istri dari Itachi Uchiha itu menutup sesi kuliah umumnya dan satu persatu mahasiswa meninggalkan ruangan auditorium itu menyisahkan Sakura dan Hana.

"Sakura?" gadis itu baru akan melangkah pergi saat Hana memanggilnya.

"Ya, Hana-sama." Ujarnya, Hana tersenyum dan menggeleng

"Panggil Hana-senpai saja. Aku lebih suka di panggil begitu. Hari ini tolong gantikan aku untuk mengatur gaya berpakaian ibu mertuaku. Dia akan menghadiri acara amal hari ini, dia sebenarnya memintaku tapi aku ada keperluan mendadak untuk Tokyo Fashion Week minggu ini. Kau tidak keberatan bukan?" Sakura terbelalak tak percaya, ia tahu benar siapa klien pertamanya.

"Tapi saya masih pegawai baru dan beliau adalah Mikoto Uchiha, bagaimana jika saya justru mengacaukan semuanya?" Hana tertawa pelan,

"kalau aku menunjukmu itu berarti aku percaya kepada kemampuanmu. Jam satu tepat. Kau tidak ada kelas setelah ini bukan?" Sakura mengangguk

"Bagus, Mikoto-kaasan akan tiba di boutique jam satu tepat. Tolong jangan terlambat acara amalnya di mulai jam 7 malam dan kau hanya punya sedikit waktu untuk membantunya." Sakura mengangguk

"Aku akan berangkat sekarang juga. Tokyo dan musim dingin bukan kombinasi yang sempurnya." Hana tertawa,

"Lakukan dengan sebaik-baiknya ya." Sakura mengangguk lalu meninggalkan Hana sendirian di ruang auditorium itu.

Area parkir Todai

Sakura berani bersumpah demi Kami-sama ia sudah membawa semprotan pencair esnya tadi, tapi kemana perginya botol kecil itu sih? Ia kembali meruntukki kebodohannya saat botol kecil itu tidak ada didalam tas tangannya. Ia menendang lapisan salju yang menutupi jalanan beraspal lapangan parkir Todai dengan kesal, dan nyaris tergelincir karena kecerobohannya itu. untungnya seseorang menahan berat tubuhnya dari belakang dan menangkapnya agar ia tidak terjatuh tersungkur di atas tumpukan-tumpukan salju dingin itu.

"Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf." Ujarnya sambil membungkukkan badannya berkali-kali

"Tidak apa-apa, lain kali hati-hati." Sakura dengan cepat menoleh begitu menyadari suara baritone yang rasanya tidak begitu asing baginya.

"Sa…Sasuke-san." Pria itu hanya memasang wajah datar kepadanya, tapi ia tahu sepasang iris onyx itu tengah berusaha berbicara padanya.

"hn. Kau mencari sesuatu?" Sakura mengangguk

"Ano, Aku sepertinya meninggalkan cairan pencair es ku dirumah dan lubang kunci sialan ini membeku lagi." Sakura menghela nafasnya berat.

"Kau sedang terburu-buru?" Tanya pria itu lagi, Sakura bersandar kepada mobil VW kodok kuning kenarinya itu dan mengangguk pelan,

"Ini hari pertamaku bekerja dan Hana-sama memintaku untuk menata gaya berpakaian Mikoto-sama hari ini." Sasuke mengangkat sebelah alisnya saat mendengar nama ibu dan kakak iparnya di sebut

"Kau bekerja di boutique kakak iparku?" Sakura memandangnya dengan tatapan terkejut, lalu menepuk dahinya sendiri. Benar. Nama belakang pria ini adalah Uchiha dan sudah pasti dia adalah adik ipar bosnya. Dasar bodoh.

"Ya, bisa di bilang seperti itu. aku hanya tidak ingin terlambat di hari pertama bekerja dan membuat Hana-sama dan Mikoto-sama kurang nyaman dan merugikan mereka." Sasuke tersenyum tipis, atau setidaknya seperti itu yang Sakura lihat sekilas saat ini.

"Aku dan Naruto akan pergi makan siang di luar," Sasuke melirik jam tangannya sebentar

"Jam berapa kau punya janji dengan ibuku?" ia bertanya sekali lagi.

"Jam satu tepat?" Sasuke menggerutu dan berdecak kesal, ia merogoh saku celana jeans mahalnya dan mengeluarkan sebuah gadget keluaran terbaru milik Aple dan menempelkannya di telinganya.

"Okaa-san, apa Hana-nee sudah memberi tahu mu kalau ia akan mengirim seorang stylist baru untuk menggantikannya hari ini?" Sasuke diam sebentar dan melirik Sakura sesekali sambil mendengarkan ibunya berbicara

"Aku tahu. Undur pertemuannya setengah jam. Stylist yang di kirim Hana-nee adalah juniorku, kami berencana makan diluar bersama teman-teman yang lainnya baru nanti aku akan mengantarnya ke boutique." Ujarnya, kali ini Sakura melihat bungsu Uchiha itu memutar sepasang iris onyxnya.

"Tidak Okaa-san tidak ada hubungannya sama sekali dengan hal itu. lubang kunci mobil antiknya membeku dan gadis ini lupa membawa semprotan pencair esnya. Aku hanya berusaha membantu, lagipula kami pergi dengan Naruto dan Shion, jadi jangan khawatir." Sakura memandang cemas pria Uchiha dihadapannya yang kini meliriknya sekali lagi.

"Baiklah, sampai bertemu lagi di boutique kaa-san." Ujar pria itu akhirnya sebelum ia mengakhiri panggilan.

"Mobil ku masih muat untuk satu orang lagi. Ayo ikut, aku akan makan siang dengan Naruto dan Shion lalu aku akan mengantarmu ke boutique sebelum berangkat kembali ke kampus jam tiga sore ini." Sakura tersenyum minta maaf

"Aku bisa naik taksi. Terimakasih untuk tawarannya." Sasuke menghela nafasnya mendengar penolakkan wanita merah jambu itu.

"Aku hanya berusaha untuk berteman dengan mu jadi, aku tidak menerima penolakkan." Ujarnya lalu pria itu menggenggam tangan Sakura dan membawanya melewati jejeran mobil-mobil mewah di parkiran universitas ternama itu.

Sasuke membuka pintu penumpang di sebelah kursi pengemudi dan meminta Naruto pindah ke kursi belakang bersama Shion sementara ia meminta Sakura masuk kedalam mobilnya sebelum ia sendiri masuk kedalam mobil sport mewahnya dan mengemudikannya meninggalkan are kampus. Sementara itu dari kejauhan seorang gadis bersurai indigo mengamati mereka dengan raut wajah yang sulit untuk di jelaskan. Hinata. Gadis itu memandang kosong mobil milik Sasuke yang sudah melewati gerbang utama kompleks universitas Tokyo itu dan tersenyum miris, Sasuke tidak pernah memaksanya sampai seperti itu hanya untuk membuatnya setuju pergi dengan bungsu Uchiha itu. tapi, yang ia lihat kali ini berbeda. Gadis merah jambu yang tidak lain adalah sahabatnya itu bisa membuat Sasuke merubah sikapnya. Hinata menghela nafasnya dan menggeleng pelan. Sakura sahabatnya, ia tidak akan membiarkan fikiran buruk apapun tentang Sakura meracuni fikirannya. Tidak akan pernah.

Hinata memakai bowl cap miliknya sebelum melangkah keluar gedung fakultas ke lapangan parkir lalu masuk kedalam mobilnya. Ia akan mengunjungi ibunya, ibunya itu sudah berjanji akan mengajarinya untuk membuat cake coklat yang akan ia bawa saat pesta selamat datang nanti malam.

H&G boutique, Tokyo Japan

Shion dan Naruto sudah melangkah keluar dari mobil dan masuk kedalam boutique itu terlebih dahulu sementara Sasuke dan Sakura berjalan di belakang mereka. Shion bilang ia sekalian akan membeli gaun baru, Sakura tidak mengerti dengan pola pikir kekasih Naruto Namikaze itu. Yah, sebenarnya ia sedikit mengerti, ketika perusahaan ayahnya masih berjaya dan ayahnya masih hidup gaya hidupnya tak jauh berbeda dari mereka, tapi semuanya berubah. Tepat setelah ayahnya tertipu triliunan Yen dan meninggal dua tahun yang lalu. Sakura menghela nafasnya lalu ikut melangkah masuk kedalam boutique mewah dan ternama milik Hana Uchiha itu. Gadis cantik itu meletakkan tas dan perlengkapan kuliahnya di meja kerja miliknya setelah bertanya kepada salah satu pegawai disana sebelum membawa katalog design milik Hana dan melangkah menemui Mikoto yang sudah menunggunya di dalam ruangan bosnya itu.

Sasuke sudah ada disana, bungsu Uchiha itu terlihat seperti anak berusia empat tahun jika sedang bersama ibunya, Sakura tersenyum melihat pria itu tengah tiduran di sofa letter u yang ada di tengah-tengah ruangan dan menjadikan paha sang bunda sebagai bantalan yang menyangga kepalanya.

"Hm… selamat siang." Sakura membuka suara, Sasuke bangkit dari posisinya dan duduk bersandar pada sandaran sofa sementara Mikoto berdiri dan tersenyum ramah kearahnya.

"Saya Haruno Sakura." Sakura mengulurkan tangannya yang di sambut oleh Mikoto saat itu juga.

"Mikoto Uchiha. Kau tidak perlu setegang itu, nak. Aku tidak semengerikan yang media beritakan." Sakura tersenyum mendengar gurauan Mikoto.

"Sasuke kau masih ada kelas setelah ini?" tanya Mikoto, putra bungsunya itu melirik jam tangan mahal miliknya lalu menghela nafas panjang sebelum berdiri dari sofa letter u tempatnya berbaring tadi.

"hn. Aku sudah hampir terlambat." Ia menghampiri ibunya dan memberikan kecupan di kedua pipinya

"Aku pergi dulu Okaa-san, Sakura pastikan kau datang di pesta nanti malam, Hinata sudah bersusah payah menyiapkan semuanya." Sakura menaikkan kedua bahunya

"Pesta itu di buat untukmu." Sasuke memandang gadis itu sebentar

"Karena itu aku Ingin kau datang, sampai jumpa nanti. Kau perlu ku jemput?" Sakura menggeleng pelan

"Aku bawa mobil…" ia terdiam sesaat dan menepuk dahinya. Pencair salju sialan.

"Mobil mu ada di todai dan lubang kuncinya membeku, kalau aku tidak salah ingat kau tidak membawa cairan pencair esmu." Itu dia, keberuntungan tidak berpihak padanya hari ini,

"Baiklah. Terserah kau saja, Sasuke." Sasuke tersenyum mendengar jawaban wanita itu,

"Aku jemput jam enam. Sampai jumpa nanti, kaa-san aku pergi dulu." Mikoto hanya membalas lambayan tangan putranya dan tersenyum penuh arti membuat Sakura menoleh kearahnya.

"Ada apa Nyonya?" Mikoto menghentikan senyumannya,

"well, kau bisa membanggilko basan, atau Mikoto saja. Tidak perlu terlalu formal Sakura." Ujarnya Sakura tersenyum, gadis itu mengikuti Mikoto duduk di di sofa panjang letter u di tengah ruangan

"jadi, aku sempat berfikir kalau putra bungsuku itu adalah seorang gay. Dia tidak pernah membawa teman perempuan kerumah sama sekali atau menunjukkan ciri-ciri dia tertarik pada seorang gadis, tapi hari ini rasanya aku salah. Kau. Dia hanya melakukan itu semua padamu." Wajah Sakura memerah mendengarnya

"Mikoto-basan aku hanya berteman dengan putramu dan aku baru bertemu dengannya hari ini, lagi pula dia sangat dekat dengan Hinata jadi, sangat tidak mungkin kalau dia hanya melakukan hal seperti itu untukku." Mikoto memandang Sakura sebentar lalu tersenyum lembut

"Sakura, aku mengenal kedua putraku lebih baik dari pada orang lain." Ia menyesap teh twinning English nya lalu melirik jam tangan mewahnya

"kita mulai saja sekarang waktuku tidak banyak." Sakura mengangguk dan memulai pekerjaannya, ia hanya berharap Mikoto menyukai setiap pakaian yang ia pilih untuknya dan Hana tidak akan menendang pantatnya keluar pada hari pertamanya bekerja.

D'stello bar

Hinata sibuk mengarahkan para pekerja EO untuk mendekor tempat itu agar sesuai dengan keinginannya. Ia sudah menyewa bar mahal milik Chouji ini untuk semalam suntuk. Ia melangkah kearah jejeran botol botol anggur dan memeriksanya. Memastikan sekali lagi kalau yang ia pesan adalah anggur terbaik dan merupakan favorite Sasuke. Dalam hatinya ia meruntukki kemana perginya Sakura. Gadis itu seharusnya sudah tiba pukul lima sore hari ini untuk membantunya menyiapkan segalanya, tapi sekarang sudah hampir jam enam dan gadis merah jambu itu belum juga datang. Hinata menyentak kasar sepatu hak tingginya dan duduk di atas kursi bar, Sai ada disana.

"berikan aku segelas vodka." Ujar gadis indigo itu

"Well, Hinata ini masih terlalu sore untuk mabuk." Gadis itu memutar bola matanya saja

"senpai, aku hanya minum satu gelas bukan satu botol." Pria bersurai Eboni itu menghela nafasnya lalu menyodorkan satu gelas vodka kepada gadis indigo itu.

"jam berapa pestanya mulai?" tanya Sai, Hinata memandangnya

"Bukannya kau seharusnya tau kapan pestanya mulai." Ia meneguk minumannya hingga tandas dan membakar tenggorokkannya,

"Aku keluar sebentar, harus menelfon seseorang." Sai menganguk saat gadis indigo itu melangkah keluar bar.

Hinata menekan tombol panggilan cepat pada layar ponselnya begitu ia ada di depan pintu masuk bar milik Chouji itu. biasanya Sakura tak pernah menunda menjawab panggilan masuk darinya tapi kali ini ia harus menunggu lebih lama dan bahkan harus menelfon dua kali sebelum Sakura mengangkat telfonnya.

"Hinata, aku benar-benar minta maaf. Hana-senpai memintaku menggantikannya untuk menjadi stylish Mikoto-basan hari ini." Hinata menghela nafasnya,

"Baiklah Sakura, tapi kau bisa datang hari ini bukan?" tanya gadis itu,

"ya, tentu saja. Aku akan datang jam enam tepat. Jam berapa pestanya di mulai… oh… tolong yang ini juga, kalau bisa temukan yang berwarna peach. Terimakasih kate. Maaf Hinata, aku sedang tidak punya banyak waktu jadi, jam berapa pestanya." Hinata memutar bola matanya

"Jam delapan tapi kau butuh setidaknya lebih dari dua jam untuk sampai di bar ini." Ujarnya,

"aku tahu, aku harus tutup telfonnya." Ujar Sakura sebelum memutus sambungan telfonnya. Hinata memutar bola matanya lalu menghela nafasnya, ia tak bisa menyalahkan Sakura untuk ini. Gadis itu berusaha keras untuk menghidupi ibunya dan membayar cicilan apartement barunya jadi, ia tak bisa memaksakan Sakura untuk mengikuti kehendak egoisnya. Hinata terkejut saat Neji dan Tenten datang dari arah berlawanan, Tenten membawa kotak karton persegi berwarna putih di tangannya dan menghampiri Hinata.

"Kau melupakan yang satu ini, young lady. Ibumu mengirimnya ke rumah kami." Hinata menepuk keningnya.

"Kami-sama! Terimakasih Nee-chan." Ia mengambil alih kotak itu dari tangan tenten.

"ayo masuk kedalam sebentar lagi pestanya mulai." Ujarnya lalu menuntun mereka masuk kedalam bar mewah itu.

H&G boutique

Sasuke melirik jam tangannya, ini sudah hampir setengah jam. Dalam hati ia bertanya kenapa seorang gadis memerlukan waktu lama hanya untuk hadir dalam sebuah pesta di bar. Ia sudah siap disana dengan kemeja berwarna gelap dan vest abu-abu miliknya, menunggu di ruang tunggu boutique milik kakak iparnya bersama Itachi. Sakura sudah akan ikut dengannya kalau saja Hana tidak datang dan menahannya dengan alasan dia butuh 'gaun pesta', demi Kami-sama ia tidak paham apa yang ada di dalam benak istri dari kakaknya itu.

"Kau berkencan dengannya?" Ia melirik itachi yang sudah menuangkan red wine untuk kedua kalinya kedalam gelasnya

"Kau pasti bercanda. Aku baru mengenalnya hari ini." Itachi bersandar dan menyodorkan gelas wine yang lain kepada adiknya

"kalau begitu kau sedang berusaha untuk mengajaknya kencan." Sasuke memutar bola matanya,

"nii-san jangan memulai perdebatan lagi." Itachi tertawa

"Sasuke, seluruh keluarga besar kita bahkan mengira kau seorang gay. Jadi patahkan saja pandangan itu, lagi pula Sakura gadis yang cantik dan cerdas. Dia pantas menjadi salah satu wanita Uchiha yang baru." Sasuke menghela nafasnya

"hentikan omong kosong mu. Yang benar saja." Ia meletakkan gelas wine nya dan berdiri Saat Hana membawa masuk Sakura kedalam ruangan.

"bagaimana?" Sasuke hanya bisa terdiam, gadis itu terlihat cantik dengan mini gown beraksen ombre hijau toska dan keemasan yang melekat mengikuti lekuk tubuhnya, surai merah jambunya di tata ala wind blow dan tanpa makeup yang berlebihan ia pasti akan terlihat menonjol malam ini.

"Sasuke kita hampir terlambat." Pria itu tersentak dari lamunannya.

"Ya, tentu saja. Kita berangkat sekarang." Ia meletakkan gelas winenya lalu meraih tangan Sakura dan menuntunnya masuk kedalam mobil sport mewahnya.

"Sasuke, pastikan kau membawanya pulang kerumah ibunya dan bukan ke apartementmu alam ini." Sasuke mengacungkan jari tengahnya kepada Itachi tepat sebelum ia masuk kebangku pengemudi sementara ayah dari seorang bayi mungil bernama Meiko itu tergelak melihat tingkah adiknya.

"Jangan dengarkan dia. Otaknya terkadang hanya separuhnya saja yang berfungsi." Sakura tertawa

"Dia pria yang menyenangkan, aku tahu one night stand bisa terjadi kapan saja." Sasuke tertawa rendah

"Kau mengharapkan itu terjadi?" Sakura tediam salah tingkah

"Bu…bukan begitu maksudku, aku hanya… yah, biasanya kan hal seperti itu yang terjadi kalau kau sedang mabuk. Aku bahkan belum mengenalmu bagaimana kau bisa berfikir kalau aku akan melakukan one night stand dengan mu." Sasuke tersenyum

"aku tidak bilang kau akan melakukannya dengan mu. Lagi pula bisa saja aku bukan pria baik-baik." ujar Sasuke

"Seperti apa? Pembunuh berantai?" Sasuke tergelak

"Apa kau sering menonton serial CSI atau semacamnya?" Sakura hanya tersenyum malu,

"Tidak Sakura, aku bukan seorang pembunuh berantai. Aku laki-laki baik-baik dari keluarga terhormat, hanya saja alkohol terkadang bisa merubah lelaki terhormat menjadi bajingan sialan." Sakura mengangguk mengerti

"dan aku percaya itu." ujarnya, Sasuke memarkirkan mobilnya dengan anggun di sebelah mobil-mobil mewah teman-temannya lalu melangkah keluar dari dalam mobilnya, baru saja ia akan membuka mobiln ya Sasuke sudah memberinya tanda dan berjalan memutari mobil sport mewahnya sebelum membuka pintu penumpang untuknya.

"Aku tidak pernah tau kau tumbuh sebagai seorang gentlemen." Ujar Sakura, Pria itu tertawa dan menawarkan lengannya, Sakura menautkan lengannya kepada Sasuke

"Percayalah Sakura, ibuku benar-benar membesarkan putra-putranya sebagai pria-pria terhormat." Sakura tersenyum,

"Aku percaya." Mereka melangkah masuk, seorang pelayan bar berpakaian minim membantu mereka melepas mantel musim dingin mereka dan menyimpannya sebelum mereka melangkah masuk kedalam bar.

Hinata yang melihat Sasuke masuk pada awalnya memasang senyum lebar di wajahnya tetapi saat melihat siapa yang datang bersamanya, senyuman itu seakan lenyap dari wajanya. Gadis indigo itu berbalik dan memeluk Shion saat ia dan Naruto juga tiba dari pintu masuk yang lain.

"Itu dia Sasuke, Teme!" pria pirang itu langsung berlari menghampiri Sasuke dan Sakura yang kini tengah membaur dengan teman-teman mereka yang lainnya

"Kau tidak mau kesana?" suara lembut shion menyapa indra pendengarannya.

"aku akan kesana, tapi harus mengurus kuenya." Ujarnya, Shion tersenyum lalu mengangguk

"Kalau begitu aku duluan." Ujarnya, gadis pirang itu ikut pergi menyusul kekasihnya. Sementara Hinata berbalik dan menyiapkan kue coklat buatannya. Sasuke tidak menyukai Sakura, karena ia yakin apa yang ia lakukan selama ini, sudah cukup membuktikan perasaannya kepada Sasuke. Gadis itu meletakkan kuenya di tengah-tengah ruangan dan mulai berbicara.

"Aku ingin semuanya berkumpul disini." Seluruh teman-temannya datang menghampiri nya saat ia membuka suara

"Aku dan Naruto-senpai sudah menyiapkan pesta ini untuk menyambuk kedatangan Sasuke-kun. Dan dia sudah disini sekarang, kembali bersama kita lagi dan akan menyelesaikan studynya di Todai bersama kita. Dia berarti lebih dari seorang sahabat bagiku." Gadis itu terdiam sesaat saat suara gaduh di timbulkan oleh teman-temannya, katakan Hinata kau pasti bisa. Ia terus meyakinkan dirinya untuk itu, tapi saat sepasang iris lavendernya bertemu dengan onyx milik Sasuke, mendadak keberanian itu hilang begitu saja.

"Dia sudah seperti seorang kakak bagiku. Kami tumbuh bersama, dia banyak mengajariku banyak hal dan melindungiku. Dia sudah seperti seorang kakak bagiku, jadi saat paman Fugaku mengatakan kalau dia akan kembali, aku langsung menyiapkan pesta kecil-kecilan ini. Aku harap kau menyukainya Sasuke-kun." Bungsu Uchiha itu dan mengatakan terimakasih padanya sambil mengangkat gelas winenya, Sasuke memotong kue buatan Hinata itu lalu setelah membagikan semua kue itu kepada sahabat-sahabatnya ia memerintahkan DJ untuk memutar musiknya dan mulai menghilang diantara kerumunan lantai dansa. Tak hanya dia, Sakura bahkan sudah takada di sekitar Hinata. Gadis Indigo itu memandang potongan pertama yang di berikan Sasuke kepadanya. Ia tidak menginginkan kue ini, ia menginginkan hati pria Uchiha itu.

TBC. Telat banget updatenya, maafkan saya. Huhuhu…. Kemarin sibuk sama praktek dan tugas yang gak ada abisnya, untungnya udah mau libur natal. Hehehehe jadi bisa curi-curi waktu. Saya harap kalian suka, dan maaf untuk fanfict regret yang saya hapus, saya rasa udah stuck total sama fict itu, tapi fict ini akan tetap lanjut. Dan mungkin aka nada fict baru juga nanti, mohon di tunggu.

Aphrodite girl 13