I LOVE YOU

.

By : Minki ARMY

.

Vkook

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tidak ada yang tahu isi kepala seorang jeon jungkook. Wajah polos dan ekspresi tanpa dosa yang senantiasa terpatri di wajah tampannya merupakan kekuatan utama untuk mengelabui semua orang. sikap Straight yang selalu ia tampilkan-pun cukup jelas membuat siapapun tidak bisa menyangkal tentang jiwa kelelakian sejati yang dimilikinya.

Ia-pun mengakui itu. jungkook straight. Normal. Meskipun di luar sana banyak orang tengah senang-senangnya memasangkan dirinya dengan beberapa hyung di grupnya. Ia tak ambil pusing. Karena baginya ia dan hyung-hyungnya adalah sudara; sudah seperti keluarga. Namun Jungkook yang notabenenya adalah seorang yang cuek dengan jurus meng-ignore ter-ampuh itu mengaku memiliki satu hyung yang sangat ia sayangi bahkan melebihi dari yang lain. tapi tetap dalam batas yang wajar 'sebagai seorang kakak' –sampai seseorang datang mengacaukan julukan abadi yang telah ia berikan untuk sang hyung.

Malam itu, dibalik pintu kayu berwarna coklat ia menyudahi langkah cerianya secara tiba-tiba didepan pintu yang ujungnya sedikit terbuka. langkah ceria yang baru ia tapakkan di atas lantai setelah berjam-jam bergelut dengan gamenya menghilang bersama sorakan bahagia (karena berhasil memenangkan sebuah game yang jadi kegemarannya akhir-akhir ini bersama seorang hyung) yang rencananya akan diteriakkan didepan pintu ini hilang begitu saja. Bahkan kedua sudut bibirnya yang tadinya terangkat amat tinggi juga turut tenggelam disana bersama perasaan aneh yang menghujamnya secara tiba-tiba

" aku gila karena menunggumu hyung.. "

Jungkook mengatup bibirnya rapat-rapat, sedikit bergeser mengintip di celah pintu yang ujungnya sedikit terbuka untuk memastikan pemilik suara yang begitu akrab ditelinganya –sampai kedua matanya membulat sempurna melihat pemandangan mengejutkan tak jauh didepannya.

Taehyung meremas bahu Yoongi, seolah meyakinkan sesuatu yang sama sekali belum bisa jungkook pastikan seperti apa itu. namun yang tengah berdiri membatu ini cukup tahu tentang perasaan berkecamuk di dalam dirinya melihat kedekatan dua orang didalam sana

" aku tidak pernah berusaha sekeras ini untuk membuat oranglain selain orangtuaku bahagia... "

Lagi, suara itu hinggap ditelinga jungkook. Membuatnya menelan saliva susah payah kemudian menunduk sebelum sempat membuat rautnya sesantai mungkin. yah meskipun kedua matanya tidak bisa berbohong tentang mendung yang ada disana.

Jungkook meremas gedget berukuran 5 inchi-nya. Mengarahkan pandangannya ke tempat yang lebih tinggi untuk mencegah liquid panas nan keruh yang sebentar lagi turun menyapa pipi mulusnya. Bibir yang seharusnya membentuk senyum bahagia itu tanpa ia sadari tersenyum miris. Merasa kasihan dengan sisa waktu yang ia lewati sejak dulu sampai saat ini bersama seseorang.

deretan kejadian yang lalu berlabel kenangan–pun perlahan muncul, terpampang jelas didepan matanya layaknya sebuah drama yang terputar dari awal sampai akhir, dimana ia masih tertawa dan bercanda dengan sang hyung beberapa jam yang lalu.

" Dengarkan baik-baik Yoongi hyung, aku menyukaimu! Sejak dulu- "

Pemuda itu menggeleng pelan. Demi apapun, ia tidak mengira semuanya akan sejauh ini. hyung yang sejak awal sudah membuatnya nyaman, selalu memanjakannya, melindunginya bahkan terlihat sangat menyayanginya memunculkan perasaan yang seharusnya ia persembahkan untuk seorang wanita. 'Ini tidak benar'

" tapi kenapa aku jadi sesakit ini hanya karena mengetahui DIA menyukai oranglain?"

Perlahan liquid keruh itu turun, melewati satu demi satu pori-pori kecil di wajah jungkook yang sedih. Rentetan kejadian lalu yang lain-pun turut muncul, saat ia menyaksikan secara langsung bagaimana taehyung menunjukkan perasaannya pada yoongi diberbagai kesempatan. memeluk yoongi di atas panggung, membisikkan kata-kata cinta, berdiri disampingnya, memenuhi semua permintaannya, berbagi botol minuman dengannya, menyandarkan dagu di bahu yoongi dan lain-lain yang membuat pemuda bertubuh tinggi ini meremas rambut gelapnya frustasi.

Jungkook menangis. Merasa bodoh di balik pintu yang tengah memperlihatkan adegan kissing seorang yang disukainya bersama oranglain. Hatinya yang tadi utuh seolah hancur berkeping-keping dan jatuh berserakan didepan pintu coklat ini. darahnya membeku, wajahnya pucat. Entah kesedihan yang mana yang tengah diresapinya hingga cairan yang begitu sulit jimin keluarkan itu malah mampu dikeluarkannya hanya dalam hitungan detik.

" –Hiks"

.

.

.

.

.

" Kookie-ah.. sedang apa disitu ?"

.

.

.

.

.

Seperti biasa, Jungkook selalu bisa menyimpan pikirannya rapat-rapat tanpa di ketahui oranglain yang tidak dikehendakinya. Berperang dengan batinnya sendiri sejak malam kemarin membuat harinya serasa menyebalkan. Ia jadi sensitif, mudah tersinggung dan marah, meskipun semua itu lagi-lagi tidak ia tampakkan.

Bersembunyi di balik senyum kelinci dan mata bulat lucu tiap kali hatinya terluka adalah kegemarannya, karena sungguh meskipun ia berniat untuk mengeluarkan semuanya tidak akan ada gunanya. Bahkan dirinya sendiri, Tidak akan ada yang mengerti dengan teka-teki tak terpecahkan ini.

Tidak ada !

Mungkin.

.

.

" hei"

Jungkook menoleh, setengah mati menahan emosi juga kepalan tangan besarnya agar tidak meluncur di wajah sang pemilik suara yang sudah seenak jidat mengganggu aktifitas bermain game-nya. Matanya membulat sepolos mungkin seolah bertanya dalam tatapannya "ada apa Jin Hyung?"

Jin terkekeh kecil, sedikit puas melihat raut aneh sang adik termuda karena kegiatan wajibnya terganggu oleh tepukan tangan cantiknya di bahu jungkook. "apa aku mengganggu?"

Bodoh! itu pertanyaan bodoh!

" ku pikir kau tahu jawabannya hyung" kembali membawa pandangannya pada gedget canggihnya, jungkook meraih headset putih yang tergantung di pundaknya, memasangnya dengan tenang satu-persatu hingga kedua telinganya tertutup, menghalangi suara lain yang kemungkinan akan membuat kepalanya pening kembali, Atau lebih tepatnya menghindari serbuan pertanyaan terprediksi dari Jin hyung.

" Matamu bisa rusak kalau melihat gedget terus kookie!" –suara jin terdengar samar di balik dentuman lagu keras yang di nyalakan jungkook beberapa detik sebelumnya. "YAK MAGNAE, KAU HARUS MENDENGARKAN KALAU HYUNGMU BERBICARA !"

Jungkook menggoyang-goyangkan kepalanya menikmati lagu, sedikit mengulas senyum kecil saat di ujung matanya ia melihat Jin memijat pelipis sehabis meneriakinya. Jin yang dewasa dan memiliki sikap ke-ibuan terkenal dengan Jiwa Pahlawan yang tinggi itu selalu merangkul semua adik-adiknya dalam keadaan apapun. Ia yang paling dewasa menyikapi segala hal diakui jungkook adalah teman berkeluh kesah yang terbaik hingga tak jarang masalahnya ia ceritakan pada sang hyung. Yeah meskipun terkadang masalah itu harus bocor karena beberapa lubang yang tidak bisa Jin hyungnya tutupi.

" aku menyerah!" –Jin membuang tubuhnya di lantai ruangan. Mengatur nafasnya yang sempat tersenggal sehabis latihan ditambah lagi meneriaki adik durhaka imut ini.

Yang mendengarkan tersenyum licik. Mengedarkan pandangannya pada hamparan ruang latihan yang sunyi oleh member lain. Hanya ada tulisan BIG HIT besar yang terpampang jelas di dinding putih itu yang membuat jungkook menghembuskan nafas gugup.

" hyung !" panggilnya.

Melepaskan headset, menghentikan permainan, dan bergeser beberapa derajat menghadap Jin yang sudah terbaring lemas di lantai. Jungkook duduk bersila menyingkirkan semua benda yang sejak tadi jadi pelampiasan kekesalannya karena melihat taehyung berlalu bersama Yoongi sehabis latihan.

" apa kau pernah merasakan jantungmu berdetak cepat hanya dengan melihat, berdekatan atau sedikit bersentuhan dengan seseorang?"

Jin memutar bola matanya, bukan karena malas. Hanya sedikit berpikir tentang jawaban yang tepat untuk sang adik. Dahinya sempat berkerut samar sebelum menampilkan senyum terhangatnya yang mempu membuat siapapun luluh "Tentu! Dan kurasa siapapun pernah merasakannya "

Jungkook mengulum bibirnya, mengangguk sekali pertanda paham. "tapi kalau detakan gila itu muncul karena orang yang tidak tepat bagaimana hyung?" –tanyanya lagi dengan nada rendah. Pandangannya fokus pada Jin yang mulai beralih dari posisi berbaringnya menjadi duduk.

" Oh ayolah uri kookie..kau pasti pernah mendengar ini, kalau perasaan suka itu bisa terjadi kapanpun dan dimanapun? Tidak perduli pada siapa? Iya kan?''

Sang adik mengangguk, kali ini tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Terlampau paham dengan maksud kakak tertuanya. Seperti biasa, Jin tetap jadi teman sharing yang berguna dengan segala penjelasan logis dan sederhananya.

" termasuk sesama Jenis, hyung?''

Uhukk~

Jin tersendak oleh salivanya sendiri dan mengeluarkan suara batuk sebagai responya. Sebelah tangannya masih menempel di permukaan bibirnya pasca batuk kering tiba-tiba. Demi boneka super mario kesayangannya, Jin tahu betul maksud pertanyaan sang adik Karena ia-pun mengalami kejadian yang sama –sebenarnya.

" gwaenchana hyung?"

" Oh..! kurasa seekor nyamuk berhasil masuk kedalam tenggorokanku. Aku baik-baik saja"

Jungkook kembali menyamankan duduknya. Mengembuskan nafas pendek menghadap cermin besar yang terpampang jauh didepan sana. ia pernah menolak kenyataan itu meskipun akhirnya harus menyerah dan pasrah pada kenyataan.

Kenyataan bahwa ia memang menyayangi Taehyung, 'lebih dari seorang kakak'

Ia bahkan berpikir untuk memilikinya sebelum nyalinya kembali ciut melihat taehyung begitu bahagia menyandarkan dagu di pundak yoongi dengan mesranya.

" Dia menyukai oranglain hyung.. mereka bahkan melakukannya didepanku"

Jin mengerutkan dahi "melakukannya?''

" sesuatu yang pernah Tae-hyung lakukan padaku " –jawabnya polos sambil menggigit bibir bawahnya. Hangat menjalar di pipi jungkook mengingat kejadian ciuman pertamanya bersama-

" jadi kau menyukai taehyung?"

" sepertinya hyung"

" aku sudah memperingatkanmu berkali-kali kookie. jangan sering bermain dengan alien itu! "

" itu sebabnya aku gila hyung. Aku sendiri tidak tahu kenapa semua jadi terlalu jauh sekarang. aku menyukai orang gila yang ternyata menyukai oranglain, bahkan ia rela merubah dirinya jadi bentuk apapun untuk membuat seseorang yang disukainya itu tersenyum dan Bodohnya aku malah mengira kalau semua itu untukku... Argh!"

Jin tersenyum bangga seraya mengusap pelan bahu adiknya; menyalurkan kehangatan lewat sentuhan kecil dan lembutnya. "aigo..kookie kami tumbuh dengan baik ternyata. Aku tidak salah memberinya makan setiap hari " –ujar Jin dengan nada mengejeknya

" hyung.. apa-apaan? Itu tidak lucu !"

" hahaha mian. Habisnya kookie serius sekali ''

" Tck..tertawa? heh? ok.. silahkan! Tertawa sepuasmu hyung!"

Jungkook bangkit dengan kesalnya menyambar seluruh gedget kesayangannya lalu berjalan menuju pintu meninggalkan Jin yang masih terkekeh puas mengerjainya.

" JUNGKOOK-AH.. TENANG SAJA, TAEHYUNG LEBIH MENYUKAIMU DARIPADA HOSEOK!"

Menggeleng kecewa, jungkook bisa mendengarkan suara pekikan ala princess itu dengan bersih di telinganya. sayangnya ia terlanjur tidak tertarik bahkan untuk sekedar berbalik memberi bantahan bahwa yang telah membakar kecemburuannya bukan Hoseok melainkan Yoongi.

' tunggu.. jangan bilang hoseok hyung masih menyukai taehyung hyung? Argh... Omma! '

BRAKK

.

.

" Tae- hyung?!"

O_O'

.

.

" hm...

.

.

–Saranghae !"

Muuaachhh~ ^/^

.

.

.

.

.

.

END


Annyeong!

Bagaimana ? ada yang sudah bisa move on dari butterfly-nya Magnae Line ? TT_TT aku nggak huwee~

Bangtan memang kurang ajar! Butuh pelajaran tambahan mereka. Wkwkwk /dihajar PD-nim

-dan Vkook masih OTP dengan poin tertinggi di korea sana mengalahkan Yoonmin di posisi kedua. Iyyyaaayyyy... siapa sih yang tidak kenal couple unyu-unyu ini. yeokshi !

Chapter depan mau siapa chingu?

YoonMin? Jikook? Vhope? Namjin? Atau Vkook ini dilanjut? Ayo ngomong sama tante! wkwkwk

.

-SAY SOMETHING ABOUT THIS FANFICT-

Saya akan lebih bersemangat menulis kalau penyemangatnya banyak. Tentunya! Hehe ^_^

Salam Vkook Hard Shipper !