A KaiHun Fanfiction

.

.

.

standard disclaimer applied

.

.

.

Lee TaeRin presents:

.

.

.


A Little Wish

Chapter 1


Busan, 8 Februari 2011

.

"Hei, SeHun, JongIn!"

"Eoh, JongDae hyung!" aku dan JongIn bergegas menghampiri JongDae hyung —kakak JongIn—yang sedang menunggu di depan gerbang sekolahku.

"Selamat atas kelulusan kalian!" kata JongDae hyung sambil merangkul JongIn dan memberikan buket bunga padaku. "Kudengar kau mendapat beasiswa kedokteran di SNU, benarkah?"

"Ne, persis seperti yang kuimpikan, hyung." jawabku sambil mengangguk antusias. Bagaimana tidak, beasiswa di Seoul National University—universitas terbaik di Korea Selatan. Aku bahkan masih belum percaya kalau aku berhasil mendapatkannya. Rasanya senang luar biasa, melupakan fakta bahwa aku harus pindah ke Seoul, meninggalkan Busan—kota kelahiranku, dan sahabat-sahabatku.

"Whoa, daebak! Lulusan terbaik dan beasiswa SNU, kau hebat SeHun! Tidak seperti JongIn yang hanya bisa menari, membual, dan berlagak sok seksi." kata JongDae hyung sambil melirik JongIn.

"Sahabatku memang paling hebat, hyung! Dan berhenti mengolokku atau akan kutenggelamkan bebek ungu jelekmu kedalam kloset!" balas JongIn sambil merangkul bahuku. aku hanya tertawa melihat pertengkaran tak penting mereka.

Kim JongDae dan Kim JongIn, tetangga sebelah rumahku. Kakak beradik paling absurd sedunia—setidaknya menurutku. Mereka berdua sama sekali tidak ada mirip-miripnya. Kau bahkan mungkin tak akan percaya kalau mereka berdua bersaudara. Kim JongDae yang —wajahnya—kotak dan Kim JongIn yang —kulitnya—hitam. Kim JongDae yang pendek dan Kim JongIn yang tinggi. Kim Jong—ah sudahlah, faktanya mereka memang saudara kandung. Kim Jong Bros.

Kim JongDae hyung, sudah kuanggap kakaku sendiri. Dulu, saat umurku masih lima atau enam tahun, dia sering menyanyikan lagu pengantar tidur untukku. Sungguh, suaranya luar biasa indah, kecuali saat dia berteriak. Percaya padaku, kau tak akan mau mendengar teriakannya. Ia selalu mentraktirku bubble tea, mengajakku main ke pantai, membantuku mengerjakan PR, dan yang paling kusuka adalah JongDae hyung selalu membelaku saat aku bertengkar dengan JongIn. Kurasa JongDae hyung lebih menyayangiku daripada adiknya yang hitam itu. Kkkkk...

Kim JongIn. Ah bagaimana aku harus mendeskripsikan dia..

Kim JongIn, namja berkulit tan—yang menurutnya—seksi dengan bibir tebal menawan, garis rahang tegas, dan tatapan mata bagai elang. Ketua dance club Kyungnam High School, kelewat jahil, populer tapi sangat tidak peka.

Kim JongIn, selalu memaksaku untuk memanggilnya 'hyung'. Ayolah, kami hanya berbeda usia 3 bulan, dan aku harus memanggilnya 'hyung' serta berbicara formal padanya? Lupakan, tidak akan pernah!

Kim JongIn, teman pertamaku. Dia yang pertama mengajarkan dance padaku, mengajakku ke pantai dan mengajariku berenang. Orang pertama yang kuberitahu tentang cita-citaku. Orang pertama yang memelukku ketika eommaku meninggal, dan orang pertama yang kulihat saat aku bangun setelah semalaman menangis hingga tertidur. Orang pertama yang mengucapkan selamat saat aku menerima beasiswa SNU. Orang pertama yang membuatku merasakan cinta.

Kim JongIn, tak pernah tahu kalu aku menyukainya. Sudah kubilang 'kan kalau dia tidak peka dan hanya menganggapku sebagai sahabat. Aku tak pernah mengatakan perasaanku padanya. Entahlah, aku takut kalau akhirnya dia menghindariku. Ya, ya,ya terserah kalau kau mau bilang aku pengecut. Memang itulah aku.

Kim JongIn—

"..Hun. Ya! Oh SeHun!" teriak JongIn sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku.

"Eoh, apa?" tanyaku bingung sambil mengerjapkan mataku. Ah, aku melamun.

"Ayo kita pulang, LuHan hyung dan MinSeok hyung sudah menunggu. Katanya mereka akan mengadakan pesta untuk kelulusan kita. Kajja!" kata JongIn sambil berlari menuju halte bus. Semangat sekali dia.

Aku dan JongDae hyung berjalan mengikuti dari belakang. JongDae hyung tersenyum dan merangkul pundakku.

"Hey, katakan saja. Sampai kapan kau akan mencintainya dalam diam?" kata JongDae hyung. Ya, dia tau kalau aku menyukai JongIn. LuHan hyung dan MinSeok hyung juga. JongIn saja yang bodoh tidak menyadarinya.

"Aniyo, hyung. Dia hanya menganggapku sahabat. Lagipula sebentar lagi aku harus segera pindah ke Seoul." jawabku sambil tersenyum getir.

"ya sudahlah. Kalian berdua memang bodoh, terutama si kkamjong itu." balas JongDae hyung. Aku tertawa mendengarnya. Bodoh.

—aku hanya ingin dia bahagia.

.

.

.

Sorenya, kami mengadakan pesta bakar daging di halaman belakang rumahku. Kalau kau tanya dimana appaku, aku pun tak tahu dia dimana. Semenjak Eomma meninggal, appa jarang ada dirumah. Appa lebih menjadi workaholic, mengurus bisnisnya daripada mengurusku. Mungkin appa ingin melupakan kesedihan karena ditinggal eomma, entahlah. Akupun tak masalah, selama aku punya JongDae hyung, LuHan hyung, MinSeok hyung, dan yang pasti JongIn disisiku.

LuHan hyung, namja cantik mirip rusa asal China—sangat menyukai daging—terus makan tanpa henti sampai kekenyangan. Aku tidak tahu, sejak kapan rusa makan daging? Dia mahasiswa di Busan National University jurusan fisika tahun keempat. Dia 23 tahun, tapi wajahnya terlihat seperti anak 13 tahun. Awal bertemu dengannya, kukira dia seorang yeoja. Tapi setelah melihat lehernya yang berhiaskan jakun dan dadanya yang rata, aku baru yakin kalau dia namja. Luhan hyung, tetangga seberang rumahku sekaligus hyung kesayanganku setelah JongDae hyung.

MinSeok hyung, namja manis berpipi bulat—sampai aku ingin menggigitnya— sedang membakar daging sambil sesekali merona digoda JongDae hyung. Mereka sepasang kekasih kalau kau mau tahu. MinSeok hyung seperti eomma bagiku, sosok yang hangat, melindungi, kadang galak dan cerewet sekaligus. MinSeok hyung yang paling ribut mengurus berkas-berkas dan keperluanku untuk pindah ke Seoul, benar-benar tipikal eomma yang perhatian dan cerewet. Dia mahasiswa jurusan seni tahun keempat di Seoul National University. Tak jauh beda dengan LuHan hyung, wajah dan umurnya tidak sinkron.

.

.

.

Jam menunjukkan pukul 01.23. Aku duduk di balkon kamarku memandang langit berhiaskan bintang. Entahlah, rasanya banyak yang mengganjal dipikiranku hingga membuatku tak bisa tidur.

"Kau sedang apa? Kenapa belum tidur?" kata JongIn tiba-tiba membuatku terlonjak dari kursiku.

"Ya! Kau ingin membuatku mati jantungan? Sedang apa kau disini?" jawabku sambil mengelus dada. Kaget.

"haha mian. LuHan hyung selalu menendangku, aku jadi tak bisa tidur." kata JongIn sambil mempoutkan bibirnya lucu. Aku tak tahan untuk tidak menggusak surai hitamnya. Kebiasaan LuHan hyung tidak pernah berubah, menendang orang yang tidur disebelahnya.

"Jadi kapan kau berangkat?" tanya JongIn sambil mendudukkan dirinya di sebelahku.

"Minggu depan, tanggal 15."

"Hmm. Tinggal satu minggu." kurasakan kepala JongIn menyandar dibahuku. "Aku pasti merindukanmu, sahabat terbaikku."

Aku terdiam. Kami diam. Sampai kudengar dengkuran halus, JongIn tertidur.

'ya, kami hanya sahabat.'

.

.

.

Busan, 14 Februari 2011

.

SeHun POV

Sehari sebelum keberangkatanku ke Seoul. Aku membereskan baju-baju dan barang yang harus kubawa ke Seoul, dibantu JongIn.

Beberapa hari lalu kami lewati seperti biasa. Bermain ke pantai, memancing, menggoda burung camar, minum bubble tea, bermain sepak bola bersama para hyung. Tapi entah kenapa hari ini berbeda. Begitu hening dan canggung. JongIn lebih banyak diam sambil memasukkan bukuku ke dalam kardus. Kami hanya berbicara seperlunya. Aku mencoba mencairkan suasana dengan melempar lelucon, kami tertawa, kemudian diam kembali. Entahlah, kami larut dalam pikiran masing-masing.

SeHun POV end

.

JongIn POV

Aku tak bisa tidur, ada perasaan aneh yang mengganjal dihatiku sejak tadi siang saat aku membantu SeHun membereskan barang-barangnya. Aku memilih keluar kamar menuju ruang tengah, mendudukkan diriku di sofa panjang kemudian menyalakan televisi mencari acara yang menarik.

"kenapa kau belum tidur?" tanya JongDae hyung sambil berjalan menuju dapur, mengambil segelas air kemudian duduk di sebelahku.

"Entahlah hyung, rasanya aneh." JongDae hyung mengubah posisinya menghadapku. "Saat membantu SeHun membereskan barang-barangnya tadi, aku jadi tidak ingin dia pergi." lanjutku sambil terus menatap televisi.

"Kau menyukainya?" tanya JongDae hyung sambil menusuk pipiku dengan telunjuknya.

"Mwo?" tanyaku bingung sambil menoleh kearah JongDae hyung.

"kau menyukai Sehun?" tanyanya lagi. Aku diam kembali menatap televisi.

"Kuberitahu kau, adikku yang bodoh. Sehun menyukaimu sejak kalian masuk SMA—" aku menatap JongDae hyung kaget, "—dan kau terlalu bodoh untuk menyadarinya." kata JongDae hyung sambil berjalan kembali menuju kamarnya.

Aku masih terdiam. Benarkah SeHun menyukaiku? Dia menyukaiku sejak SMA? Selama itukah? Kenapa dia tidak pernah mengatakannya? Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya? Dan sekarang perasaan apa yang kurasakan ini? Apa aku juga menyukai SeHun? Tidak mungkin, SeHun itu sahabatku, kami bersama bahkan sejak kami bayi. Ya, aku tidak mungkin menyukainya. Tapi kenapa dadaku berdebar aneh sejak tadi siang? Bahkan aku hampir tak tahan untuk meneriaki SeHun agar tak pergi dari sisiku. Apa ini yang disebut 'menyukai seseorang'?

Aku mengacak rambutku, mengerang frustasi. "Ini membuatku gila!"

JongIn POV end

.

.

.

Busan, 15 Februari 2011. 12.45 KST

.

Oke, ini mulai menyebalkan. 15 menit lagi keretaku datang dan aku tidak melihat JongIn dari pagi tadi. Bahkan JongDae hyung tak tahu dia kemana. Telepon dan smsku tak dibalasnya.

"Aish, kemana kkamjong itu? Apa dia tak ingin mengantar keberangkatan sahabatnya ke Seoul?" kata LuHan hyung sambul melongokkan kepalanya berusaha mencari keberadaan JongIn.

"Entahlah, aku tak melihatnya dirumah sejak pagi tadi. Aku tak mengerti apa yang ada dipikirannya" balas JongDae hyung sambil terus mencoba menghubungi JongIn.

"Mungkin dia ada keperluan penting, chagi. Tunggu sebentar lagi mungkin dia akan datang." kata Minseok hyung sambil mengamit lengan JongDae hyung dan tersenyum kearahku.

Aku hanya bisa membalas dengan senyum manis agak dipaksakan. Sungguh aku tidak tenang. Ada apa dengan JongIn, dia bertingkah aneh sejak kemarin. Apa aku berbuat salah padanya? Apa dia sengaja menghindariku? Lima menit lagi keretaku datang JongIn bodoh!

Berbagai pertanyaan berkecamuk di otakku sampai—

"SeHun! Oh SeHun!"—dia datang. Berlari kearahku seperti orang kesetanan, menubrukku dan memelukku erat tak peduli dengan pertanyaan yang dilontarkan LuHan hyung dan JongDae hyung.

JongIn melepas pelukannya, "kemarikan tanganmu!" perintah JongIn. Aku mengulurkan tanganku sambil menatapnya bingung. Ia memasangkan gelang perak di pergelangan tanganku.

"apa ini?" tanyaku bingung sambil melihat JongIn yang sedang memasangkan gelang padaku.

"Gelang. Aku juga memilikinya." jawabnya sambil menunjukkan gelang yang sama persis di pergelangan tangan kirinya, ada ukiran 'S&J' disana.

"aku tahu kalau ini gelang, Jong. Kukira kau tak datang dan melupakanku. Kukira kau—" kalimatku terhenti ketika JongIn menangkup kedua pipiku, menatapku lekat dan berkata—

"Aku tak mungkin melupakan orang yang kusuka—ah, ani. Orang yang kucintai.

Aku menatapnya bingung. JongIn mengecupku sekilas dan kembali memelukku, "maaf aku terlambat menyadarinya." bisiknya tepat ditelingaku.

JongIn melepas pelukannya, menatap mataku dan memberi kecupan dan lumatan kecil di bibirku, "Saranghae, SeHunna. Jeongmal saranghae."

Aku menatap matanya sejenak sebelum memeluknya erat. "Gomawo. Nado saranghae, JongIn-ah." jawabku sambil mengeratkan pelukanku. Suara kereta terdengar dari kejauhan. 'Sial, kenapa keretanya harus datang di saat yang tidak tepat seperti ini.' batinku kesal.

"Ya! Cukup ber-lovey dovey-nya, kalian pikir stasiun ini milik kalian? Lihat kalian jadi tontonan!" gerutu LuHan hyung. Sontak aku melepaskan pelukanku dan menunduk malu, JongIn menggaruk tengkuknya sambil tersenyum canggung. Benar saja, orang-orang berbisik-bisik dan tersenyum melihatku dan JongIn.

"Ayo SeHun, kita harus berangkat. Dan kau ternyata hebat juga JongIn, kukira kau akan terus-menerus bodoh." kata MinSeok hyung padaku sambil menepuk bahu JongIn kemudan memeluk JongDae hyung. "Aku berangkat chagi, jaga dirimu." yang disambut anggukan oleh JongDae hyung.

"Aku akan sering mengunjungimu." kata JongIn. Aku mengangguk kemudian melambaikan tanganku kearah JongIn dan hyungdeul sebelum masuk ke kereta. Aku terus melambaikan tanganku sampai kereta bergerak meninggalkan stasiun. Senyum terus menghiasi wajahku. Hatiku senang luar biasa. Cintaku terbalas. Cinta yang selama ini kupendam sendiri, sekarang terbalas.

.

Tapi

.

Saat aku menatapnya tadi, kulihat setitik keraguan di mata JongIn.

.

JongIn-ah, apa kau benar mencintaiku?

JongIn-ah, apa kita bisa menjalani hubungan ini?

.

.

.

.

.

.

TBC


Q&A Corner

.

Q: Ini KaiHun 'kan, bukan HunKai?

A: Yap, ini KaiHun, sekali lagi ini KAIHUN. Saya nggak bisa bayangin gimana kalau si Kai jadi Ukenya SeHun. Secara sii kkamjong tampangnya sangar begitu.

.

Q: Sehun uke, berarti dia yang menderita kan?

A: Wahh, belum tentu. Bisa jadi Kai yang menderita, bisa jadi juga dua-duanya, atau malah semua cast ikut menderita. hahaha #ketawasetan

.

Q: Bisa happy ending 'kan?

A: Saya ga bisa jamin ini bakal happy ending atau sad ending. Tapi saya akan berusaha bikin endingnya mengena di hati para readers. #eciehh

.

Q: Yang masuk kedokteran SeHun, 'kan?

A: Yap, anda benar! #SodorinKaiHun Gatau ya, JongIn ga cocok buat masuk kedokteran #eh

.

Q: Disini orang ketiganya KyungSoo, 'kan?

A: Waahh, kalau itu masih rahasia negara.. #AuthorSokMisterius


.

Big Thanks To:

rainrhainyrianarhianie, SilverPearl03, Mr. Jongin albino, daddykaimommysehun, Oh Jizze, BaixianGurls, sayakanoicinoe, .7, ixolucky, asdindas, jung yeojin, Bubbletea94, bbuingbbuingaegyo, barbiegrawl, ttaxoxo, Sehun Lover, Kaihun, Guest, jung oh jung, dhee, kahunxo, SehunBubbleTea1294

.

A/n: Annyeonghaseyo.. Lee TaeRin kembali membawa chapter pertama dari FF abal ini. Gimana? Mengecewakan kah? Apa updatenya kurang cepet? Hhaha

Terimakasih banyak untuk para readers yang sudah membaca dan dengan sukarela memberikan review untuk teaser gagal kemarin. Saya ga nyangka kalau responnya bagus, padahal saya author yang baru sekali ini nulis fiction. Saya bener-bener ga nyangka kalau ada yang mau baca fiction pertama saya ini. kamsahamnida readers-nim. saya akan selalu berusaha membuat FF ini semakin menarik. #SalaminReadersSatuSatu

Sebenernya saya pingin balesin review satu-satu, tapi berhubung waktunya terbatas, jadi saya rangkum aja di Q&A Corner diatas. Seneng banget kalau baca review dari kalian, walaupun cuma satu kata tapi rasanya kayak terbang ke langit ketujuh bareng KaiHun dan jadi semangat buat ngelanjutin fiction ini. Dan saya masih terus berharap para readers tercinta bersedia untuk memberikan kritik dan saran lewat kotak review dibawah.

so, mind to review?

bagi bagi gelang S&J.