Title : Sherlock Holmes Untuk Scorpius

Summary : Demi menyenangkan Scorpius, James memaksa Albus menjual novel-novel Sherlock Holmes yang dimilikinya.

Disclaimer : Harry Potter hanya milik JK Rowling. Novel Sherlock Holmes yang disebutkan adalah kepunyaan Sir Arthur Conan Doyle.

.-.-.

Chapter 2

.-.-.

Albus tidak beranjak dari anak tangga yang didudukinya. Bocah lima belas tahun itu mendengar bunyi jaringan floo berdesir, menandakan ada tamu di rumah mereka. Menilik gelagat James yang sedari tadi mondar-mandir di depan perapian, Albus bisa menebak siapa yang dinantikan kakaknya itu. Rupanya James tidak perlu menunggu sampai beberapa hari sebelum bisa bertemu sahabat Albus.

"Hai, James," sapa Scorpius begitu dia muncul di perapian. Dengan mudah dia melangkah menuju ruang santai itu.

"Hai, Scorp," balas James riang.

Albus melongokkan kepala. Dia melihat sang kakak menyambut Scorpius, wajahnya berseri-seri. James tidak perlu menunduk ketika bicara dengan Scorpius. Mereka berdua nyaris sama tingginya. Scorpius memang termasuk jangkung, seperti ayahnya.

"Aku sudah baca dua dari empat novel Sherlock Holmes yang kau kirim kemarin," kata Scorpius. Dia berjalan melewati James dan duduk di salah satu sofa. Bahkan ketika bocah pirang itu menghempaskan diri di manapun, Scorpius masih terlihat anggun. Mungkin itu aura asli bangsawan, batin Albus, sedikit iri.

"Cepat sekali," sahut James. Dia ikut duduk.

Scorpius nyengir. "Ceritanya bagus. Bikin penasaran. Omong-omong, bagaimana kau mendapatkan novel-novel itu?" tanyanya.

James berdehem.

Albus mendengus. Ternyata James tidak bercerita tentang asal-usul barang paksaan yang kini sudah berpindah tangan pada Scorpius. Padahal mintanya sambil memelas. Albus geleng-geleng sendiri.

"Aku dapat dari loakan," tutur James ringan.

Albus mendelik. Loakan! Awas kau, James!

Scorpius tersenyum samar. Albus mengenal makna senyum itu. Itu menandakan Scorpius tahu tentang sesuatu.

"Masa? Kondisinya 99 persen bagus, ada sampulnya pula," tunjuk Scorpius.

"Barang baru mungkin," tukas James. Dia mengangkat bahu, acuh.

Scorpius mengangguk. "Mungkin," sahutnya. Dia mengerling James.

James tidak teliti. Scorpius menemukan nama Albus di halaman paling belakang tiap novel yang dikirim lewat burung hantu kemarin. Sahabatnya itu memang tidak menamai novelnya pada halaman paling depan.

Scorpius senang mendapat paket buku itu. Dengan antusias anak tunggal Draco dan Astoria itu langsung membaca dua seri pertama. James tidak menyebutkan secara detil darimana dia mendapat novel-novel itu tapi Scorpius bisa menerka asal muasalnya. Bocah itu jadi bersimpati pada Albus.

"Kita jadi latihan membuat ramuan?" tanya Scorpius.

James bangkit. "Jadi, dong," serunya bersemangat. Ginny tidak mengijinkannya meracik ramuan jika tidak ada dia atau Harry di rumah. Kemampuan James sama hebat dan dahsyatnya dengan kemampuan Neville dalam hal ramuan. Lain lagi jika Scorpius ada di rumah mereka. Ginny sangat percaya bahwa Scorpius bisa menghindarkan malapetaka, misalnya peledakan Grimmauld Place gara-gara ramuan James.

"Sebelum itu makan es krim dulu, yuk," ajak Scorpius.

James mendadak pucat pasi. Dia mengerang dalam hati. Alamak! Buku saja didapatkannya dengan memaksa Albus. Kalau es krim? Sepertinya dia harus berhutang dulu pada sang adik. Scorpius memang tidak minta traktir, tapi dia kan sudah sering membantu James? Masa nanti bayar sendiri-sendiri?

Scorpius ikut berdiri. Dia hendak menuju dapur, yang letaknya setelah tangga. Albus merapat ke dinding.

"Aku bawa dari rumah," tukasnya. Di belakangnya James menghembuskan napas lega. Dompetnya yang gersang masih selamat. "Kita ajak Albus juga."

"Eh?" James protes. "Tapi-"

Albus melompat, girang. Dia mengabaikan bahwa kemunculannya yang mendadak membuat James kaget dan Scorpius hanya cengar-cengir. "Great!"

"Kau menguping!" tuduh James, baru menyadari keberadaan adiknya sepanjang Scorpius di rumah mereka.

Albus menatap kakaknya galak. "Tidak. Suara kalian yang keras. Scorp, mana es krimnya? Untung kau yang bawa. Kau tidak bisa mengharapkan James disaat seperti ini, soalnya dia lagi ke-Humph!" James sudah membekap mulut Albus sehingga bocah itu tidak bisa bilang 'lagi kehabisan uang.'

Albus meronta-ronta.

Scorpius hanya mengangkat alis. "Sudah, dong, jangan bertengkar," lerainya kalem. "James, kalau kau tidak melepaskan Albus, es krim bagianmu jadi milik Albus."

Bocah laki-laki pirang itu menghampiri Albus ketika James mengeluarkan sendok dari lemari. "Well, Al, aku tidak tahu bagaimana cara James memintamu memberikan bukumu untukku, tapi, trims," bisik Scorpius.

Albus terkejut. "Bagaimana kau tahu?" balasnya.

"Tahu, dong. Omong-omong, jangan menjahili James dulu. Aku kasihan melihat tampang kusutnya," usul Scorpius. "Nanti saja, kalau ujian akhirnya sudah beres."

Albus menyeringai. "Jangan kuatir."

James beruntung punya adik dan kawan yang baik.

.-.-.

The End